Random
Disclaimer © Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata (TO-TO)
Rate K+
Friendship
…
..
.
oOo
Drabble (?) seven
Bosan
oOo
.
..
…
:Bosan:
Mello menguap—sangat lebar. Yang terlebar untuk hari ini. Dari lima kali membuka mulut. Ia menggigit cokelat di tangannya dengan perasaan kosong, entah harus melakukan apa. Tidak ada tugas perkamen, maupun teka teki dari kawan yang bisa ia kerjakan. Tidak ada. Tidak ada target yang bisa dijahili. Tidak ada keinginan untuk menerobos keluar Wammy dan bertindak liar. Tidak ada. Ia sedang malas—dan nganggur luarbiasa. Ia garuk pipinya. Tidak gatal, cuma sekedar mengisi waktu luang.
Matanya menyipit, kemudian mendengus ke arah dimana seonggok laki-laki berambut kemerahan sibuk mematung di depan layar komputer super bagus.
Mello mencelos—
"Pada akhirnya, kau bisa membeli komputer baru, huh?"
"Yup."
Yang menjawab pertanyaan Mello tidak berpaling dari layar. Lehernya seperti batangan besi yang kaku—tidak berputar atau bergeser sedikitpun. Sibuk dengan dunianya sendiri. Mello merasa ditinggal. Sendiri. Kesepian—are? Kesepian?
"Matt—kau punya sesuatu yang bisa kukerjakan?"
"Tidak."
"Mau jalan keluar?"
"Tidak ah. Malas."
Matt masih fokus di depan komputernya. Mello menggeram.
"Oh yeah—kau punya teman baru sekarang. Teman lama dilupakan," Mello memutar bola matanya. Ia hempaskan tubuhnya diatas sofa. Cokelatnya terlempar kesamping, "Mana ucapan terimakasihmu?"
"Terimakasih—untuk?"
Matt terdengar bingung, tapi tak membuat dirinya repot untuk menatap Mello dan menjengitkan alis.
"Kau dapat uang untuk membeli komputer dari hadiah lomba yang kuberitahukan saban lalu kan?"
Tangan Matt berhenti menari liar diatas keyboard. Ia putar kursinya menghadap Mello, melepas goggle yang sejak tadi melindungi matanya dari sinar layar.
"Um, maksudmu kontes game itu? Tidak tuh."
"Ha?"
Sekarang Mello yang bingung.
"Jangan bilang kau tidak bisa menang di perlombaan itu?"
Matt mengedikkan bahunya. Ia sisir rambutnya dengan jemari dan menarik poninya ke belakang. lalu tertawa—kemudian.
"Jangankan menang, ikutserta saja tidak bisa."
"Kenapa?"
Pertanyaan itu refleks.
"Aku tidak lulus syarat," Matt membuat jeda untuk mengambil napas, "Mereka membuat peraturan diatas selembar kertas, bahwa anak-anak dari panti Wammy dilarang ikutserta. Terutama yang namanya Matt dan Mello."
Alis Mello terangkat sebelah.
"Serius? tertulis begitu? 'terutama yang namanya Matt dan Mello'?"
"Yup." Matt mengangguk.
"Pasti ulah Roger."
Matt tertawa di sana. Mello juga tak dapat menampik perasaan geli yang menjalar di perutnya secara mendadak.
"Konyol ya. Memangnya kita ini apa sih? Maskot kriminal dari Wammy?"
"Entahlah. Mungkin karena kita terlalu sering melanggar peraturan sampai tersohor begitu—" Mello menimpali.
"Enak saja 'kita'. Aku kan cuma korban yang dipaksa ikut ke jalan sesat!"
Kamus bahasa Perancis-Inggris menabrak dahi Matt.
"AW—Mells! Itu sakit!"
"Jadi, bagaimana caramu mendapat uang? Itu—" Mello menunjuk komputer Matt, "Merk mahal kan?"
Matt menjawab pertanyaan Mello sambil mengusap-usap dahinya yang benjol.
"Yah, pada akhirnya aku tetap mencuri satu atau dua penny dari seribu rekening nasabah."
"Coba lihat, siapa yang sebenarnya paling kriminal diantara kita—"
"Hei! Aku kan terpaksa!"
Ekspresi wajah Mello nampak mengejek. Berusaha menghiraukan, Matt hanya mendesah. Ia putar kembali kursinya, menatap layar komputer dan kembali mengeras seperti batu disana.
"Kau tidak takut disidang Roger apa? Kalau ia menanyai soal komputer barumu?"
"Perhatian sekali Mells," goggle sudah terpasang kembali menutupi kedua bola mata Matt, "Tapi jangan khawatir, temanmu ini pandai bersilat lidah—"
"Yeah—terserah."
"..."
"Jadi intinya, kau tidak bisa menemaniku?" tanya Mello sekali lagi, sekedar mengklarifikasi.
"seratus persen iya."
Oke, mungkin Mello kena batunya karena dulu ia juga pernah mengabaikan Matt dan mengusirnya dengan cara yang tidak menyenangkan. Ah—mendadak ia ingin pergi ke perpustakaan untuk mencari sedikit hiburan.
Setidaknya, masih lebih baik daripada menggeliat di sofa karena kebosanan menyaksikan Mail Jeevas yang sedang bercinta dengan alat elektronik. Oh, gross. Mello membanting pintu kamarnya.
.
..
...
:Bosan 2:
Menara kartu berbentuk huruf L sudah roboh untuk yang ke tiga kalinya. Tangan pucat yang membangunnya mulai kebosanan untuk menyusun dan menyusun lagi. kalau saja ada sedikit tantangan yang membuatnya kesulitan dalam membuat prototipe istana dari susunan kartu itu.
Near—terdiam. Matanya beralih pandang pada tumpukan lego yang menggunung seperti jerami di ladang. Tidak—pikirnya. Menyusun menara dengan lego terlalu kekanakkan. Terlalu simpel—malah levelnya dibawah kesulitan membuat menara kartu.
Ia beringsut dari tempatnya dan mengambil beberapa dart yang tergeletak di dalam peti harta karun—disamping ranjang. Di lemparkannya satu dart menuju sasaran yang menggantung dinding.
Bulls eyes.
Near tak geming menatap target yang ia tembak.
Astaga, bosan merayap di batinnya.
"Oper padaku! Oper!"
Samar-samar terdengar teriakan serius yang berasal dari luar jendela kamarnya. Perhatian Near teralihkan sejenak.
"Jangan biarkan Mello mendapat bola! Ke kanan! kanan!"
Pemandangan hijau lapangan Wammy yang biasanya suka dipakai anak-anak untuk bermain bola nampak segar di matanya. Ah—seseorang sedang menendang bola dari sudut lapangan dan Mello melakukan salto ke gawang.
Gol tercipta—sesuai prediksi Near.
Anak-anak dari tim Mello mengepalkan tangannya ke udara sambil menjerit senang. Papan skor di pinggir lapangan berubah menjadi 3 – 0.
Near berkedip-kedip. Tangannya kembali sibuk menggelung rambut dan punggungnya berputar membelakangi jendela kamar.
"Waaa! Cegat Mello! Jangan sampai kecolongan—"
Dengan tenang ia sebar ratusan kartu—yang keadaannya tertutup—di sekeliling tempatnya duduk. Permainannya sederhana. Near punya kesempatan untuk membuka dua kartu dan mengingat posisinya untuk kemudian di pasangkan dengan kartu yang gambarnya sama. Anak-anak pada umumnya, suka bermain dengan kartu bergambar buah-buahan, makanan, tokoh favoritnya atau gambar bendera negara.
Tapi yang Near miliki saat itu adalah kartu khusus—yang dibuat oleh Roger untuknya seorang. Sebuah pack kartu yang membantunya untuk mengingat nama—
Flip—
Near mengambil satu kartu dan membukanya—tampaklah gambar seorang laki-laki dengan wajah yang disamarkan oleh huruf K. Tertera keterangan di bawahnya.
'Still alive. best serial killer—who can killed people without laying a finger hand'
"Tackle Mello! Back mundur semua cepaat!"
Near menatap datar. Ia tutup kartu itu, dan mencari kartu lain—berharap bahwa pilihan kartu yang selanjutnya matching dengan kartu pertama.
"AAAAAA! Alfonso! Oper padaku, cepat!"
Suara Mello terdengar jelas dari balik punggungnya. Memerintah anak-anak dengan arogan—meskipun yang ia lakukan tidaklah salah karena Mello terbilang sempurna di atas arena pertandingan.
B.
Died on heart attack. Crazy murderer—Voodoo case.
Ah—kartu yang berbeda.
Near menutup kembali kartu bergambar wajah laki-laki dengan huruf B di mukanya. Matanya menerawang langit-langit kamar. Entah kenapa, ia tidak punya gairah sama sekali untuk menyelesaikan permainan ini dengan segera.
"AH, Sialan!"
Diluar jendela kamarnya, suara Mello kembali terdengar.
Near berbalik badan, menatap jendela sekali lagi. Sekedar membunuh waktu. Saat ini ia sedang tidak minat dengan segala jenis permainan. Jadi, duduk memtung dan mengobservasi permainan sepak bola Mello mungkin takkan terlalu menyakitkan.
.
..
...
:Bosan 3:
SLAM.
Mello beruntung, yang punya kamar tidak pernah mengunci pintunya. Debaman yang kedua menandakan bahwa pintu kamar telah ditutup kembali. Mello tidak berlari bergaduhan menuju sasarannya. Hanya sekedar jalan biasa—tapi langkahnya sungguh memekakkan telinga Near yang sensitif.
"Oi."
"Selamat sore."
Sapa Near, membalas 'oi' milik Mello tanpa beralih pandang dari dua papan puzzle di depannya. Mello berjengit, melihat Near yang tidak bermain puzzle seperti biasa. Tangan kanan sibuk mencari kepingan-kepingan untuk puzzle putih disisi kanan yang ukuran papannya dua kali lebih besar dari puzzle kiri. Tangan kiri untuk mengurusi papan puzzle di kiri—tentu saja. Kedua puzzle sama-sama berwarna putih—dengan kepingan yang sengaja di campur untuk menciptakan tantangan tersendiri.
"Kau sedang melatih keterampilan tangan atau apa?"
"Mengisi waktu senggang, Mello." ralat Near.
Mello menyipit. Ia jongkok tepat di samping Near yang duduk kalem menyelesaikan puzzle-puzzlenya dengan tangan dingin.
"Jadi, apa kau perlu sesuatu?" tanya Near to the point.
"Ya—tadinya aku mau mengajakmu main ABC—"
Hening tiba-tiba.
Kedua tangan Near berhenti kompak. Kepalanya menoleh kepada Mello, matanya tetap bulat seperti biasa, namun sorotnya dipertajam.
"Apa kau sakit, Mello?"
"Kau tidak usah komentar bodoh begitu dong!" Mello emosi luarbiasa, "Memangnya seaneh itu ha!"
"Jujur saja, iya." Near berpaling, kembali dengan puzzlenya, "Saya pikir, Mello membenci saya."
Si pirang mendecak. Dilemparnya kelereng mata itu keluar jendela.
"Memang benci kok. Tch—" dalam keadaan jongkok, Mello menopang pipinya dengan kedua telapak tangan, "Tapi aku sedang bosan—tidak ada kerjaan."
"Hm."
Near hanya bergumam, pendek. Sungguh irit reaksi—dan Mello benar-benar membenci itu. Tidak ada ubahnya dengan Matt—yang saat ini begitu acuh karena sebuah komputer sialan yang menggeser posisi Mello begitu saja.
"Bagaimana kalau ABC nama-nama negara dan binatang?"
"Saya tidak bilang setuju untuk bermain—"
"Kita tanding, siapa yang bisa menyebutkan tiga nama negara dan binatang tercepat, dia yang menang."
"Maaf, saya tidak tertarik untuk berkompetisi."
"Kau tidak perlu merasa sombong begitu. Aku tidak akan menahan diri di permainan kecil seperti ini."
"Kemana Matt yang biasanya sering mengikutimu?"
"Sibuk. Mau pakai kertas atau main jari saja?"
Mello tak mengindahkan pertanyaan Near dengan sungguh-sungguh rupanya.
"Lalu yang lain?"
Dan Near rupanya juga tak mengindahkan pertanyaan Mello. Terlalu sibuk bertanya dan menyusun kedua puzzle-nya.
"Yang lain siapa? Baiklah. Pakai jari saja." Mello memutuskan sebelah pihak.
"Alfonso dan lain-lain. Yang sering mengajakmu bermain bola."
"Oh—mereka. Aku sedang tidak ingin bermain bol—" tunggu. Seperti ada yang janggal di pendengaran Mello, "Kau tahu aku sering bermain bola dengan mereka?"
"Ya. Kelihatan dari jendela."
Mello melongok kearah jendela besar yang dibelakangi oleh Near. Nampaklah lapangan—tempatnya bermain bola—yang tersiram oleh lembayung matahari senja. dramatis.
"Ah, benar juga."
Mello merentangkan tangannya di udara, seraya menguap tanda kebosanan.
"Baiklah, bisa dimulai? Satu, dua, ABC lima daasar—"
Mello mengacungkan tujuh jarinya sementara Near mengucapkan 'lima'
"Oi. Mana jarimu?"
"Tangan saya penuh mengurusi puzzle. Jadi, saya pakai jari kaki dan anggaplah saya mengacungkan lima jari—"
Sebuah tonjokkan—tidak terlalu keras namun juga tidak lembut terarah pada pipi pucat Near. Merah.
"Yang serius dong! Kau meremehkanku ya!"
Darah menggumpal di wajah Near—mungkin saja ia sedang menahan emosi.
"Sudah saya bilang, saya tidak bisa bermain yang melibatkan gerak tangan—" tangan kirinya mengelus pipi yang ditonjok Mello, sekedar memastikan separah apa bengkaknya. Tangan kanan tetap bekerja menyusun puzzle hingga akhirnya tangan kiri kembali terjun bermain puzzle lagi.
Mello menghela napas. Menggemelutukkan giginya—gemas.
"Cih! Baiklah, baiklah. Kau punya catur?"
"Ada di peti." Near menunjuk sebuah peti di samping kasurnya, singkat.
Mello beringsut dari jongkoknya dan berjalan mengambil sebuah papan besar berwarna hitam-putih. Papan kayu dengan bahan kualitas terbaik, yang bidak-bidaknya memiliki detail ukiran rumit. Oh—betapa irinya Mello. Near bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya karena Roger menganak emaskan dia.
"Ayo main." Pinta Mello kemudian. Ia menyusun pion-pion catur hitam dan putih dengan gerakan yang cepat. namun Near tidak beranjak, samasekali.
"..."
"Oi."
"Kira-kira ada dua ratus keping lagi yang belum saya susun."
Decakkan kembali, dari mulut Mello.
"Tidak bisakah kau hentikan permainan puzzle-mu sebentar?"
"Tidak."
Mello ingin meninju wajah Near lagi—tapi tertahan karena bocah mungil itu melontarkan sebuah penawaran padanya.
"bagaimana jika saya lakukan tanya jawab?"
"Ha?"
"Karena hanya mulut saya yang bebas."
Sungguh. Near suka sekali membuat suatu kondisi nampak rumit. Mungkin saja kegiatan bermain puzzle-nya sesakral kegiatan bermain PSP bagi Matt hingga tidak bisa ditunda.
"Ck. Kau terdengar seperti ingin mencari informasi saja."
"Memang tujuannya begitu."
Dengan kalem, Near menjawabnya. Mello menganga.
"Ha? Untuk apa mencari informasi tentangku segala? Ngefans ya?" sahut Mello—tidak percaya setengah mengejek.
Kedua tangan Near meraih kepingan puzzle yang berbeda dan meletakkannya di dua tempat yang berbeda secara bersamaan. Dan plop—bunyinya yang kompak memecah jeda sesaat.
"Saya cuma ingin mengenal Mello. Apakah berlebihan?"
Freezing di tempat. Mello merasa disengat listrik. Seperti ada sesuatu yang menggelitik perutnya—entah kenapa ia merasa excited. Tenang Mello—tenang. Ia memberi sugesti pada dirinya sendiri.
.
..
...
TuBerCulosis
A/N : yaampun. Ini positif ficlet. Sungguh ga konsistennya saya -_- yasudah, kepalang basah. Itung-itung memperkuat judul fanfic ini—Random. Semuanya serba random #DORR. Dan maaf untuk apdet yang super lama. Chapter 8 adegannya bakal random lagi (jadi ga bersifat nerusin). Buat yang penasaran, fic ini ada side story-nya lho XD. Chapter 6 side storynya MattMello, chapter 7 side story-nya MelloNear. Silahkan kalau ingin tengok XD
P.S : sebenernya fic ini udah di ketik dari sebulanan yang lalu tapi baru sempet ke pablis sekarang gegara MM side story-nya mandet. Ngerasa ga afdol aja gitu kalo ga selesain yang itu dan yang ini pablis duluan (susah emang yang—sok—perfeksionis)
Danke!
