Setelah mendengar pernyataan gurunya, Naruto dan Hinata keluar dari ruang guru dengan hati yang sedikit kecewa. Khususnya Hinata. Mereka harus rela berbagi waktu berdua sepanjang hari ini. Namun dihati keduanya merasa bersyukur setidaknya dengan kebersamaan mereka suasana antara keduanya jadi cukup membaik. Ya, sedikit lebih baik dari sebelumnya.

GROWL!

Suara yang sangat tidak elit keluar dari perut Naruto. Maklum, hari ini ia memang tak sarapan pagi. Bagamana mau sarapan, bangun pagi saja sudah beruntung. Pria blonde itu mengelus-elus perutnya yang belum dimasuki makanan sedikitpun.

Hinata melirik pria yang ada di sampingnya kini. Dari raut wajahnya, Naruto memang terlihat sangat kelaparan, "Naruto-kun, sebaiknya kita makan dulu. Aku tak tega mendengar perutmu terus berbunyi."

Naruto menoleh ke arah Hinata. Ia senang sekali ternyata gadis disampingnya ini sadar kalau dirinya memang sangat lapar, "Baiklah, ayo kita ke kantin," Naruto langsung menarik tangan Hinata yang kini dalam genggamannya ke arah kantin. Namun gadis itu nampaknya menolak. Ia menghentikan langkahnya.

"A-ano, kita makan di kelas saja," ucap Hinata.

"Iya, aku tahu. Tapi bukankah kita harus membeli makanannya dulu?"

"Ka-kalau kau mau, kau bisa memakan bekal yang kubawa hari ini. Aku membawa banyak," tawar gadis indigo tersebut.

Langsung saja Naruto mengeluarkan cengiran mautnya. Ia benar-benar senang. Sudah bisa berduaan dengan Hinata, ditambah bisa memakan bekal yang dibawanya, "Yatta! Bagus kalau begitu. Aku tak perlu mengeluarkan uang untuk beli makanan. Ano, kau yang membuatnya?"

Gadis beriris lavender itu mengangguk malu-malu. Terlihat dari pipinya nampak sekali kalau ia sedang tersipu. Mereka berdua pun akhirnya memutar arah. Kembali ke kelas mereka.


NARUTO FANFICTION

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning : Typo and OOC

Pairing: NaruHina

goGatsu no kaze present

-THIS IS HANDCUFFS FAULT!-


Nampaknya Naruto dan Hinata makin menambah tatapan heran teman-teman sekelasnya. Anak-anak kelas XI-2 berpikir, bagaimana dalam hitungan jam mereka bisa berbaikan? Sangat cepat bukan? Mereka tahu benar kalau kedua orang itu sudah tak saling bicara selama satu minggu. Bisik-bisik misterius diantara anak-anak kelas XI-2 mulai terjadi. Namun sang dua tokoh top issue sepertinya tak menyadarinya.

"Wuah! Sepertinya enak. Ittadakimasu!" Naruto langsung menyumpit makanan yang ada di kotak makan Hinata. Sebelum memakannya, ia memperhatikan bentuk makanan itu, "Ini apa?"

"Telur dadar gulung," jawab Hinata.

Wajah Naruto bagaikan anak kecil yang baru menemukan sesuatu hal yang baru. Sangat polos dan menggemaskan. Ia mengangguk-angguk lalu memakan telur dadar gulung yang tadi ia ambil. Mulutnya mengunyah makanan itu perlahan. Matanya mengerjap sebentar lalu ia tersenyum, "Oishi!" hanya satu kata yang bisa ia ungkapkan untuk masakan Hinata yang kini ia makan.

Pria blonde ini memang tak banyak mengoleksi kata-kata. Hanya kata-kata singkat yang bisa ia lontarkan. Bahkan terkadang karena terlalu senangnya, ia tak akan memuji. Ia justru akan melakukan tindakan aneh untuk mengekspresikan tingkat kesenangannya. Mungkin kalau diibaratkan kamus, dirinya hanyalah kamus setebal lima halaman. Itupun sudah terhitung dengan sampulnya.

"Kau suka?" Hinata tersenyum melihat Naruto yang lahap memakan masakannya. Langsung saja Naruto mengangguk dengan antusias dan kembali memakan makanan yang ada dihadapannya, "Kalau begitu habiskan semua," lanjut gadis itu.

Mendengar perkataan Hinata, Naruto berhenti menyumpit makanannya, "Lalu, kau?"

"Aku masih punya satu lagi," Hinata mengeluarkan satu kotak makan lagi dari dalam tas ranselnya. Ya, Hinata memang sengaja membawa dua bekal hari ini. Ia tahu sekali kebiasaan Naruto yang tak bisa bangun pagi. Ia juga tahu kalau pemuda itu tak akan ada waktu untuk sarapan, jadi ia membawa dua bekal. Aneh memang, dilihat dari hubungan mereka yang selama seminggu ini renggang. Namun entah mengapa Hinata masih saja membawa dua bekal.

"Baguslah kalau begitu. Ayo kita makan bersama," Naruto kembali menyuap makanan ke dalam mulutnya. Namun lagi-lagi kegiatannya terhenti karena ia melihat Hinata yang tak kunjung mulai memakan bekalnya, "Nani?"

"Ah..A-ano, aku belum lapar. Kau makan saja dulu. Nanti aku-"

GROWL!

Kali ini suara itu datang dari perut Hinata. Gadis itu benar-benar malu. Untung saja teman-temannya tak mendengar suara perutnya. Ia menundukkan kepalanya, tak berani menatap sapphire-nya Naruto. Pipinya benar-benar semerah apel.

"Hahaha," Naruto tertawa. Suara perut Hinata ternyata didengar olehnya, "Kau juga lapar, Hinata. Kenapa tak makan saja?"

Hinata melihat tangan kanannya yang terborgol dengan tangan kiri Naruto. Kedua tangan itu ada di atas meja. Naruto mengerti apa yang Hinata pikirkan. Pria itu tahu, kalau gadis lavender itu pemalu hingga tak bisa mengatakan yang ingin ia katakan.

"Buka mulutmu," ucap Naruto tiba-tiba.

"Mulutku?" Hinata bingung.

"Iya. Cepat buka."

Hinata membuka mulutnya. Dengan cepat lalu Naruto memasukkan makanan yang ia sumpit ke mulut Hinata. Gadis itu sangat terkejut. Terlalu terkejut hingga ia ingin menyemburkan makanan yang tadi disuapkan oleh Naruto. Naruto hanya bisa terkikik melihat reaksi Hinata yang menurutnya lucu.

"Na-Naruto-kun," Hinata menutup mulutnya yang berisi makanan dengan tangannya.

"Sudah, tak perlu malu. Bukankah kau juga lapar? Dengan begini aku dan kau bisa makan bersama. Bagaimana?"

"Ta-tapi aku-"

"Sudahlah, Hinata," sambar Naruto, "Kau tak boleh egois dengan perutmu. Kalau kau sakit, aku juga yang kesulitan," perkataan Naruto tak bisa dikembalikan Hinata.

Hinata kembali menundukkan kepalanya, "Aku bisa minta tolong dengan temanku," ia lalu menoleh ke kanan dan kirinya, meminta bantuan. Teman-temannya tak ada yang bisa dimintai tolong. Semuanya menolak untuk membantunya makan. Bahkan ada pula yang pura-pura tidak dengar ketika Hinata meneriakkan namanya. Sangat kebetulan atau memang disengaja?

"See, teman-temanmu semuanya sibuk. Yang sedang tak ada kesibukan hanya aku dan kau. Sudahlah, ayo," Naruto mengacungkan sumpitnya ke arah Hinata. Sudah bisa ditebak kalau Hinata kalah. Ya, dia memang selalu kalah atau lebih tepatnya mengalah pada Naruto.

Keduanya tampak sangat serasi. Itulah yang ada dipikiran teman-teman sekelasnya saat ini. Bahkan mereka semua bisa melihat kalau background bunga bertebaran diantara Naruto dan Hinata. Terkesan berlebihan memang, namun mereka semua kompak akan mendukung usaha Naruto untuk berbaikan dengan Hinata.

Disisi lain Hinata pasrah dengan keadannya saat ini. Urat malunya sementara ia simpan demi kelaparan yang melanda perut kesayangannya. Sedangkan Naruto, ia dengan telaten menyuapi Hinata. Bahkan tak jarang ia mengajak Hinata bercanda dengan cara menarik kembali makanan yang akan ia suap ke mulut gadis bermata lavender itu. Sontak saja pipi si gadis sedikit menggembung karena cadaan Naruto. Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang terus saja mengamati kebahagiaan mereka.


-THIS IS HANDCUFFS FAULT!-


"Hinata, tak bisakan kita berbaikan?" perkataan Naruto membuat Hinata menghentikan kegiatannya saat ini, menggantung hiasan di dinding kelasnya.

"Tak bisa semudah itu, Naruto-kun."

Jawaban Hinata membuat Naruto benar-benar kecewa. Nampaknya kesalahan yang ia buat memang sangat besar sehingga Hinata enggan memaafkannya. Namun yang paling membuat ia kesal adalah ia tak tahu kesalahan apa yang ia perbuat pada gadis itu.

"Kau harus menyadarinya," perkataan Hinata membuat Naruto bingung.

"Sadar? Apa yang harus aku sadari, Hinata?"

"Kau harus menemukan jawabannya sendiri. Baru aku akan memaafkanmu."

"Setidaknya berikanlah aku petunjuk. Apapun itu," Hinata tak kuasa melihat tatapan memelas dari Naruto. Tatapan itu bagaikan tatapan seorang anak kecil yang memohon pada ibunya untuk dibelikan permen, sangat menggemaskan.

"Perkataanmu seminggu yang lalu. Ada hubungannya dengan Kiba-kun," Hinata kembali mengacuhkan Naruto yang kini lagi-lagi menatapnya bingung.

"Seminggu yang lalu? Kiba?" Naruto memejamkan matanya. Saat ini ia harus benar-benar menjalankan mesin otaknya yang telah berkarat.

Suara dehaman memecahkan suasana tegang antar Naruto dan Hinata. Keduanya lalu menoleh ke arah pemilik suara. Ternyata itu adalah Uchiha Sasuke. Naruto dan Hinata menatap pemuda raven itu. Sedangkan dirinya, masih menatap keduanya –khususnya Hinata- dengan wajah datarnya.

"Ada apa, Teme?"

"Aku tak ada perlu denganmu, Dobe. Hinata, setelah borgol ini terlepas bisakah kita bicara?" Hinata tak bereaksi, ia hanya menatap Sasuke. Bukan tatapan terpana, melainkan tatapan bingung. Kemudian, gadis itu mengangguk.

"Kalau mau bicara, bicara saja. Aku tak akan mendengarkan percakapan kalian," Naruto tiba-tiba menjadi kesal. Entah mengapa ia tak suka kalau Hinata didekati dengan lelaki selain dirinya. Walaupun Sasuke adalah sahabatnya sendiri, ia tetap saja kesal.

"Aku tak mau," perkataan Sasuke membuat Naruto sedikit tertohok, "Hinata, aku minta nomor ponselmu," pria bermata onyx itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Lalu ia memberikan ponselnya ke Hinata.

Hinata melirik Naruto sebentar, lalu meraih ponsel itu. Ia lalu memencet tombol angka yang tertera di ponsel Sasuke. Setelah selesai, ia mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya. Naruto tak bisa berbuat apa-apa ketika sahabatnya dengan jelas di hadapannya menunjukkan ketertarikannya pada Hinata. Tanpa sadar ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Hinata. Hinata menyadari itu. Bahkan ia menyadari perubahan raut wajah Naruto yang jadi suram.

"Nanti kutelepon," Sasuke meninggalkan mereka berdua setelah perkataan super singkat itu.

Hinata terus menatap Naruto yang kini matanya terus melihat ke arah perginya Sasuke. Ia merasakan adanya tatapan persaingan diantara kedua lelaki itu. Namun ia tak mau berpikir yang tidak-tidak. Pikirannya saat ini saja sudah runyam berkat Naruto. Tidak mungkin 'kan ia tambah lagi dengan pikiran yang lain?

Jantung Naruto entah mengapa tiba-tiba bergemuruh. Sama seperti satu minggu yang lalu. Ah, ia baru ingat. Petunjuk yang diberikan Hinata mungkin saja mengarah ke peristiwa itu. Peristiwa dimana jantungnya merasakan panas yang luar biasa dari seorang Hyuuga Hinata.


-THIS IS HANDCUFFS FAULT!-


FLASHBACK ON

Beberapa hari yang lalu...

Naruto sedang berjalan-jalan di pusat kota sendirian. Ia sedang menenangkan pikirannya yang saat ini sedang kacau karena kicauan maut ibunya. Sudah beberapa hari ibunya terus berkicau tentang nilai-nilainya yang terus menurun. Ayahnya tak bisa membantu banyak, paling hanya menjadi penengah dan itu tak begitu efektif.

Ia heran, mengapa nilainya terus menurun padahal Hinata tiap hari selalu membantunya mengerjakan soal. Ia baru ingat. Pikirannya kacau setelah pertandingan karate minggu sebelumnya. Ia melihat Hinata yang makin sering berduaan dengan Kiba. Ia tak mengerti mengapa ia tak rela kalau Hinata berduaan dengan Kiba. Naruto benar-benar tak tahu dengan perasaannya.

Tak sengaja ia melihat dua orang yang sangat ia kenal baru saja keluar dari salah satu toko yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Mereka adalah Hinata dan Kiba. Mereka berdua tampak senang sekali. Senyuman terus terukir di masing-masing wajah mereka. Naruto menggeram, ia mengepalkan tangannya erat.

Pria blonde itu terus saja mengikuti keduanya hingga mengarah pada suatu taman. Taman itu letaknya tak jauh dari rumah Hinata. Ternyata Kiba dan Hinata berbelok lalu menuju taman tersebut. Mereka berdua duduk di sebuah bangku di pinggir taman dan sepertinya sangat asyik memperhatikan kegiatan orang-orang yang ada disana. Sedangkan Naruto, ia bersembunyi dibalik pohon tepat di belakang kursi yang Hinata dan Kiba duduki. Samar-samar pria bermata sapphire itu mendengar percakapan mereka.

"Apa kau menyukainya?" tanya Kiba.

"Bukankah ini bagus? Bagaimana menurutmu, Kiba-kun?" Hinata tersenyum manis sekali dan itu membuat hati Naruto makin panas. Ingin rasanya pria itu keluar dari persembunyiannya dan merusak acara 'kencan' keduanya.

"Ya, bagus sekali. Pilihanku tak akan salah," jawab Kiba.

"Arigatou telah menemaniku hari ini," Naruto sudah tak tahan lagi. Ia tak mau mendengarkan percakapan mereka lebih jauh. Ia memilih pulang dan memendam kekesalan tak beralasannya sendirian.

Keesokan harinya, demi mendapatkan kebenaran, Naruto menggoda Hinata yang tempat duduknya berada disampingnya, "Sepertinya ada yang sedang berbunga-bunga hari ini," ucap Naruto.

Hinata yang tak sadar kalau dirinyalah yang dimaksud Naruto malah bertanya, "Siapa, Naruto-kun?"

"Seseorang yang kemarin kulihat bersama Kiba di taman," Hinata jadi mengerti maksud Naruto. Ia paham sekarang, orang yang Naruto maksud adalah dirinya.

"Naruto-kun, itu-"

"Sudahlah, kalau kau berpacaran dengan Kiba kenapa tak mengaku saja?" perkataan Hinata langsung saja dipotong Naruto.

"Bu-bukan seperti itu. Aku-"

"Ya ampun, jangan-jangan kau memiliki cinta terpendam terhadap Kiba?" lagi-lagi perkataan Hinata dipotong olehnya, "Hey, Hinata. Kenapa kau tak utarakan saja? Sebelum Kiba menyukai orang lain."

Hinata yang telah menebak kalau dirinya tak akan bisa membalas perkataan Naruto memilih diam. Sebenarnya ia sangat marah. Bagaimana tidak? Yang ia sukai itu pria bodoh yang saat ini terus-terusan menggodanya. Sekarang, pria bodoh itu justru menggodanya dengan sesuatu yang tidak ia sukai.

Dan mulai saat itu Hinata mendiamkan Naruto sebagai tanda kalau ia marah atas godaan yang terus diluncurkan Naruto tanpa henti. Namun, pria bodoh dengan otak berkarat itu baru menyadari beberapa hari kemudian. Ia baru sadar ketika Hinata tak merespon perkataannya setiap hari semenjak itu.

FLASHBACK OFF


-THIS IS HANDCUFFS FAULT!-


Tanpa mereka sadari kalau berjam-jam telah mereka lalui bersama. Kegagahan matahari nampaknya ingin digantikan oleh kelembutan sang rembulan. Cahaya senja mewarnai langit Konoha saat ini. Hinata melihat jam tangannya, sudah pukul 17.30, itu tandanya kunci yang dijanjikan guru Gai telah selesai dibuat.

"Naruto-kun, sepertinya kita harus ke ruang guru. Gai-sensei bilang kuncinya selesai ketika petang. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Jadi, sepertinya kunci borgol ini telah selesai dibuat," Naruto tak menolak, juga tak mengiyakan. Ia hanya terdiam menatap Hinata, "Naruto-kun?"

"Hinata, bagaimana kalau aku tak menginginkan kunci itu?" Hinata menatap Naruto bingung.

"Mengapa?" tanya Hinata.

"Aku sudah menyadari kesalahanku. Dan karena hal itu pula aku menyadari satu hal yang selama ini membuatku sulit bernafas."

"Maksudmu?" Hinata memiringkan sedikit kepalanya. Ia benar-benar bingung.

"Kesalahanku adalah perkataanku tentang perasaanmu terhadap Kiba. Apa aku benar?" tanya Naruto. Hinata menunduk, beberapa saat kemudian ia mengangguk pelan, "Sebenarnya, ada alasan dibalik semua itu," lanjutnya.

"Alasan? Apa itu?" tanya Hinata.

"Akan kujelaskan. Tapi kumohon jangan ada pertanyaan ketika aku sedang menjelaskannya padamu."

Hinata mengangguk. Ia menatap sapphire Naruto lekat-lekat. Naruto menghela nafasnya sebentar, memejamkan matanya singkat dan memulai penjelasannya.

"Dua minggu yang lalu, aku melihatmu bersama Kiba keluar dari sebuah toko. Aku mengikuti kalian dan mendengar percakapan kalian. Maaf, tapi itu langsung kulakukan tanpa pikir panjang," Naruto mengeratkan genggamannya pada tangan Hinata, "Hinata, setelah pertandinganku beberapa minggu yang lalu. Kau terlihat begitu akrab dengan Kiba. Aku tahu seharusnya hal itu tak ada hubungannya denganku. Tapi, disini terasa sakit. Entah apa sebabnya," Naruto memegang dada sebelah kirinya. Wajahnya menampakkan kalau ia sedang terluka, "Itulah sebabnya aku terus menerus menggodamu agar aku tahu reaksimu. Aku hanya ingin tahu apakah kau menyangkalnya atau tidak. Tapi kau justru mendiamkanku."

Hinata sebenarnya ingin menanyakan banyak hal. Namun ia ingat permintaan Naruto untuk tak menginterupsinya ketika ia sedang berbicara. Jadi, ia hanya diam dan mendengarkan penjelasan pria yang ada disampingnya itu dengan seksama.

"Aku memang sangat telat dalam berpikir. Aku juga bukan orang yang peka terhadap perasaan. Namun yang aku tahu, aku tak bisa melihatmu dengan pria lain. Contohnya hari ini. Sungguh aku tak suka melihatmu berbicara dengan Sasuke. Ditambah lagi Sasuke memperlihatkan ketertarikannya padamu," Naruto menundukkan kepalanya, ia ingin menyembunyikan semburat merah yang kini mewarnai pipi tan-nya, "Mungkin ini terdengar aneh atau bahkan konyol buatmu. Tapi Hinata, sepertinya aku menyukaimu."

Pernyataan Naruto sontak membuat Hinata mengeluarkan air mata. Cairan bening itu mengalir di pipi putihnya. Naruto panik dengan reaksi yang dikeluarkan Hinata. Ia tak menyangka kalau Hinata akan menangis. Padahal dalam bayangannya reaksi Hinata hanyalah dua. Pertama tertunduk malu, dan kedua membuang muka. Namun reaksi yang sekarang gadis itu tunjukkan benar-benar diluar perkiraannya.

"Hi-Hinata, ka-kalau perkataanku tadi membuatmu takut lupakan sa-"

CUP!

Hinata dengan cepat mencium pipi Naruto singkat. Terang saja itu membuat pipi Naruto memerah luar biasa. Ia bagaikan tersengat listrik sebesar satu juta volt. Tapi kalau aliran listrik itu berasal dari ciuman Hinata, ia rela tersengat listrik selamanya.

"Baka!" Hinata memukul dada Naruto. Cukup kuat juga tenaganya, "Baka, baka, baka!" lanjutnya seraya terus memukuli dada bidang Naruto.

"Akh, ittai!" Naruto lalu menangkap tangan Hinata yang hendak memukulnya lagi, "Kau ini kenapa?"

"Aku juga menyukaimu, baka!" air mata kembali turun dengan derasnya di wajah cantik Hinata. Gadis itu tak mengira kalau ternyata pria yang selama ini ia cintai memiliki perasaan yang sama terhadapnya.

"Eh?" sekarang yang bingung justru Naruto. Otaknya masih sulit mencerna perkataan Hinata.

"Yang kau lihat waktu itu memang benar. Aku memang pergi ke toko itu dengan Kiba-kun. Tapi aku kesana karena ingin membeli sesuatu untukmu," dengan berlinangan air mata, Hinata mencoba menjelaskan kesalahpahaman Naruto padanya.

"Untukku?"

"Aku ingin memberimu hadiah atas kemenanganmu dalam pertandingan karate. Tadinya aku ingin meminta bantuan Sasuke-kun, namun aku tak mau para siswi sekolah ini salah paham jika melihatku bersamanya. Lalu kuputuskan untuk meminta bantuan Kiba-kun. Bukankah ia juga teman dekatmu?" Naruto mengangguk. Namun ia masih bingung. Sepertinya hanya pelumas dengan kekuatan super yang bisa menggerakkan otaknya yang kondisinya sudah memprihatinkan.

Hinata mengusap air mata yang membasahi pipinya, "Tapi sepertinya kau telah salah paham. Aku tak menyukai Kiba-kun. Ya-yang aku sukai hanya di-dirimu," dengan suara gemetar Hinata mencoba mengutarakan isi hati yang selama ini ia pendam.

Naruto mengusap pipi Hinata yang kini kemerahan karena malu. Ia menatap lavender Hinata lembut dan tersenyum, "Rupanya hanya salah paham. Yokatta ne," Naruto langsung memeluk Hinata hingga membuat gadis itu sangat terkejut.

Kebahagiaan mereka nampaknya terinterupsi dengan suara ponsel yang berdering dari saku Hinata. Mau tak mau Naruto melepaskan pelukannya dan membiarkan Hinata mengangkat telepon tersebut. Di layar ponsel tak tertera nama si penelepon. Hinata melirik Naruto sejenak lalu mengangkat telepon tersebut.

"Moshi-moshi."

"Ini Sasuke. Bagaimana Hinata? Apakah masalahmu telah selesai?" pertanyaan Sasuke membuat Hinata bingung. Naruto menguping pembicaraan mereka karena penasaran.

"Apa maksudnya, Sasuke-kun?"

"Aktifkan speakerphone-mu. Biarkan si Dobe mendengarkannya juga," Hinata benar-benar dibuat bingung oleh Sasuke. Ia lalu memencet tombol menu speaker on di ponselnya. Suara Sasuke langsung terdengar oleh keduanya.

"Aku tak tahan dengan kelakuannya seminggu ini. Dia terus mengeluh padaku. Dan itu membuatku terganggu," perkataan Sasuke memunculkan empat kedutan siku di pelipis Naruto.

"Bicaralah yang jelas. Aku masih belum mengerti, Teme," dengan nada kesal Naruto akhirnya mengeluarkan suara.

"Pancinganku tadi sepertinya berhasil. Kulihat hubungan kalian telah membaik. Kalau begitu tugasku selesai," Naruto dan Hinata memperhatikan ke sekeliling tempat mereka. Lalu mereka berdua melihat tak jauh dari tempat mereka telah berdiri Sasuke yang melambaikan tangannya singkat.

"Jadi, maksud ajakanmu pada Hinata tadi-"

"Yup, hanya pancingan saja. Sudah ya," suara koneksi terputus langsung terdengar. Naruto dan Hinata menatap Sasuke yang kini beranjak pergi dari tempatnya berdiri.

Naruto dan Hinata kini saling bertatapan. Antara mengerti dan bingung, namun keduanya lalu tersenyum. Tangan mereka menggenggam makin erat. Mereka lalu melanjutkan langkahnya ke ruang guru. Namun tiba-tiba saja Naruto berhenti.

"Hinata, aku harus menelepon Gai-sensei," kata Naruto.

"Untuk menanyakan kuncinya sudah ada atau tidak?"

"Bukan, bukan itu," sanggah Naruto, ia lalu mengeluarkan seringaian rubahnya. Hinata yang melihatnya meningkatkan status kewaspadaannya terhadap Naruto.

"La-lalu apa?" tanya Hinata penasaran.

"Aku akan memintanya untuk menunda memberikan kunci borgol ini. Aku ingin seperti ini lebih lama lagi."

"Eh?" perkataan Naruto jelas saja membuat Hinata kaget, "Ta-tapi Naruto-kun, ini 'kan sudah malam. Kita sebaiknya-"

"Sebaiknya apa? Bukankah kau sekarang kekasihku?" wajah Naruto makin mendekat ke arah Hinata. Gadis itu hanya bisa pasrah. Sepertinya ia lebih suka sikap Naruto yang biasanya dari pada yang sekarang. Sekarang ia hanya bisa berdoa agar Naruto tak melakukan hal-hal aneh padanya. Siapa tahu?


-THIS IS HANDCUFFS FAULT!-


-The End-


Holla, minna-san! Udah update nih!

Lagi-lagi cerita yang Kaze buat hanya diketik dalam waktu singkat!

Ini bener-bener fresh loh, masih fresh di file laptop Kaze. Sumpeh!

Hmm, sebentar lagi bulan Juli nih.

Itu artinya ada event buat NaruHina lovers!

YUP! Naruto Hinata Tragedy Days (NHTD) dimulai tanggal 1 Juli looh

Buat para readers, reviewers, atau author mohon partisipasinya yaa!

Makasih udah mau dengerin ocehan Kaze yang bawel ini

Tetep kasih semangat Kaze agar bisa menciptakan fic NaruHina yang lebih baik dan lebih banyak lagi yaa!

Adios!