Title: Evening Sky
Rated: T
Genre: Angst, Hurt/Comfort
Author: Wind Saseum
Cast: Sehun (EXO), Luhan (EXO), Other Cast
Summary:
Luhan meninggalkan Sehun tanpa mengucapkan selamat tinggal, dan selama delapan tahun menghilang tanpa kabar akhirnya ia memutuskan untuk kembali. Tetapi, semuanya telah berubah, termasuk Sehun—sahabat masa kecilnya yang sangat ia sayangi.
Note:
Annyeong, i'm back with another HunHan fanfic. ^^ karena ini fanfic multichapter pertama saseum, jadi maaf ya kl ceritanya gaje kayak authornya. LOL
Happy reading ^^
Evening Sky
Chapter 1; Apologize
"Luhan.." Gumam Sehun tanpa melirik luhan yang duduk disampingnya, matanya sibuk memperhatikan ribuan bintang diatas kepalanya. Luhan menatap sehun sembari tersenyum, "Ne, Sehun-ah?"
"berjanjilah padaku, kau tak akan pernah meninggalkanku." Sehun akhirnya mengalihkan pandangannya pada Luhan yang masih tersenyum padanya.
Luhan tertawa kecil kemudian menengadahkan kepalanya keatas, menyaksikan bintang-bintang yang membentuk gugus-gugus yang unik. "ya, aku berjanji." Ucapnya pelan. sehun tersenyum tipis sebelum ikut menatap bintang-bintang bersama luhan. Kedua anak laki-laki itu larut dalam keheningan, hanya suara angin dan jangkrik yang terdengar samar-samar di pendengaran kedua sahabat itu, sementara pikiran mereka melayang-layang dalam dunia mereka masing-masing.
Normal POV
Sehun terbangun dari tidurnya, ia berusaha membuka matanya yang masih terasa berat kemudian menggosoknya pelan. jam masih menunjukan pukul 05.40 pagi, dan tak biasanya Sehun terbangun sepagi ini dihari minggu kalau bukan karena 'mimpi' itu.
"aish! Jinja.."gumam sehun pelan sambil memegang kepalanya yang pening kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi kemudian segera membasuh mukanya dengan air dingin lalu menatap bayangan dirinya di depan cermin. Tiba-tiba mimpi itu kembali berputar-putar di otak sehun—mimpi yang membawanya kembali mengingat masa kecilnya bersama Luhan. kenapa tiba-tiba mimpi itu datang padanya? Pertanyaan itu terus Sehun tanyakan dalam hati.
Sehun baru saja menuruni tangga ketika mendengar suara sang eomma dari luar rumah. Ia mengerutkan dahinya heran, tumben sekali eommanya sudah berada diluar rumah sepagi itu. Dengan raut waja penasaran, Sehun pun akhirnya memilih untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi melalui jendela rumahnya dan mendapati sang eomma sedang berbicara dengan seorang ahjuma berambut cokelat. Sehun mengerutkan dahinya ketika melihat ahjuma tersebut, sepertinya sosok sang ahjuma sangat familiar dengan sehun tetapi ia tidak bisa mengingat apapun tentang ahjuma tersebut sebelum seorang namja berambut merah muncul dibalik pungung sang ahjuma. Sehun tersendat kaget, jantungnya berdegup kencang ketika melihat sosok namja itu. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali seolah masih tidak percaya akan sosok yang dilihatnya itu dan seketika ia langsung teringat akan mimpinya semalam—mimpi yang mungkin adalah pertanda pertemuan sehun dan namja itu...
"Luhan."
Luhan POV
Udara yang dingin menyapaku ketika kakiku kulangkahkan menuju luar rumah. Aku tersenyum tipis sembari menatap sekelilingku, semuanya masih sama seperti dulu sebelum aku meninggalkan tempat ini, tak ada yang berubah. pandanganku kualihkan pada rumah bercat cokelat muda yang berada tepat di samping rumahku. Aku terdiam sejenak sebelum memutuskan untuk berjalan menuju rumah tersebut. hanya sekitar satu menit aku sudah berada di depan rumah itu dan mendapati eomma sedang berbicara dengan seorang ahjuma yang kukenal. Tanpa aba-aba, akupun langsung mendekati eomma kemudian membungkukan bada pada ahjuma itu sembari tersenyum.
"Annyeonghaseyo, Mrs. Oh!" sapaku yang langsung disambut senyum sumringah dari ahjuma itu—mrs. Oh.
"Annyeonghaseyo, Luhan! Astaga, aku tak menyangka kau sudah sebesar ini." mrs. Oh menatapku dengan tatapan tidak percaya sebelum menepuk-nepuk lenganku pelan diikuti dengan cengiran eomma. aku membalasnya dengan senyum lebar andalanku.
"lalu, bagaimana dengan Sehun? ah aku merindukan anak itu." Balas eomma tak kalah bersemangatnya. Aku kembali terdiam ketika mendengar nama itu—Sehun. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya, dan aku sangat merindukannya. Apakah dia masih sama seperti dulu? atau dia sudah berubah?
"mungkin dia masih tidur."mrs. oh terkekeh pelan kemudian melanjutkan obrolannya dengan eomma.
Aku menerawang keadaan rumah itu, sebelum mataku menangkap sosok dibalik jendela rumah itu. mata kami beradu untuk beberapa lama, sebelum akhirnya sosok itu membalikkan badannya dan menghilang dari pengelihatanku. Sehun, melihat dari tatapannya akupun tahu bahwa saat ini dia membenciku.
Normal POV
Namja berambut soft pink itu menatap lurus ke arah jalanan yang sepi, sementara namja berambut merah hanya menundukkan kepalanya dalam. Sudah sekitar sepuluh menit keduanya tenggelam dalam keheningan tanpa satupun yang memulai percakapan. Namja berambut merah menggigit bibir bawahnya sejenak sebelum memutuskan untuk mengangkat kepalanya dan menatap namja di sampingnya.
"umm, se-sehun-ah.." paggil namja berambut merah—Luhan pada namja berambut soft pink di sampingnya—Sehun. Luhan menunggu balasan dari sehun beberapa saat tetapi tak ada balasan apapun dari Sehun dan itu membuat luhan mendesah pelan sebelum kembali menundukkan kepalanya. "mianhae.."gumam luhan dengan suara pelan lebih seperti berbisik, tetapi sehun dapat mendengarnya dengan jelas. Lagi-lagi sehun hanya diam meskipun ada sesuatu yang berkecamuk dalam hati dan pikirannya. "kuharap kau mau memaafkanku, sehunah."tambah namja berambut merah itu lagi.
Perkataan Luhan tersebut membuat sehun mengalihkan pandangannya pada Luhan beberapa saat sebelum kembali menatap jalanan di depannya. "untuk apa aku memaafkan seorang pembohong sepertimu?"
Luhan tersendat, tiba-tiba sesuatu yang hangat mulai menetes dari mata Luhan tetapi segera ditepis oleh jari-jari kurusnya. Ia tak pernah menyangka perkataan sehun tersebut akan menyakiti hatinya semudah itu. sejahat itukah sehun? atau, sejahat itukah Luhan dimata Sehun sekarang? Pertanyaan-pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepala luhan kala itu.
"ya, aku memang salah karena meninggalkanmu selama delapan tahun, tetapi aku punya alasan kenapa aku meninggalkanmu selama ini dan alasan itu tidak bisa kukatakan sekarang. Suatu saat nanti aku akan mengatakannya padamu. Percayalah padaku, sehun-ah." Suara luhan terdengar lirih, matanya kembali panas tetapi ia berusaha menahan cairan itu agar tidak keluar dari ujung matanya.
"dan berikan aku alasan mengapa aku harus mempercayaimu kali ini!" Nada suara sehun meninggi. Ia menatap luhan dengan tatapan dingin. Luhan mengangkat kepalanya dan menatap sehun dengan mata berkaca-kaca kemudian menarik ujung bibirnya sehingga membentuk sebuah senyum simpul.
"maafkan aku, seharusnya aku tak memintamu untuk percaya padaku, sehun-ah." Gumam luhan masih dengan senyum simpulnya. Sehun mendecih pelan sebelum akhirnya meninggalkan luhan sendirian di teras rumah keluarga Oh tanpa berkata apapun. Air mata luhan tak bisa ia tahan lebih lama lagi, ia terisak dalam diam. "kau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, sehun-ah.." ujar luhan ditengah isakannya.
Sehun berjalan cepat menuju kamarnya tanpa mempedulikan Mrs. Lu dan sang eomma yang menatapnya heran. namja itu membanting pintu kamarnya kuat tanpa mempedulikan sang eomma yang terdengar mengomel dari ruang tamu karena kelakuan sehun tersebut. ia berjalan kearah tempat tidur berspray putih miliknya dan duduk di ujung kasur itu, matanya menatap foto yang ia letakkan di meja samping tempat tidurnya—foto bersama luhan delapan tahun lalu, sebelum meraih foto berbingkai kayu itu dan melemparkannya kearah dinding dan membuat serpihan kaca bertebaran dimana-mana.
"kenapa kau tak menghilang selamanya dari hidupku?"
To Be Continue
Note:
Akhirnya chapter 1 yang gaje bin ajaib (?) selesai juga.. fyuhh
Maaf ya klo alur ceritanya aneh.. saseum udah ngedit chapter 1 ini berkali2 tapi mnurut saseum alurnya ttep aja aneh =="
Maaf juga klo ada Typo, kata2 yg gk masuk akal (?) danl lain sebagainya.. saseum juga manusia biasa TT TT
Okay, buat yang udah baca saseum minta komentarnya ya ^^
Gamsaaa~
