Title: Evening Sky
Rated: T
Genre: Angst, Hurt/Comfort
Author: Wind Saseum
Cast: Sehun (EXO), Luhan (EXO), Other Cast
Evening Sky
Chapter 2; Whisper
Sehun POV
Aku berjalan pelan menyusuri koridor sekolahku yang masih sunyi sembari sesekali memijat kepalaku yang berdenyut-denyut. Aku tak menyangka pertemuanku dengan Luhan kemarin bisa membuatku tak bisa tidur semalaman. wajahnya yang getir itu selalu muncul setiap kali aku berusaha menutup mata dan perkataannya selalu terngiang-ngiang di otakku. Ah, kenapa aku tak bisa melepaskan orang itu dari pikiranku? Kau membencinya, sehun. dia telah membohongimu, ingat itu!
"sehun-ah!" seseorang menepuk pundakku sesaat setelah aku duduk di kursiku. Aku menoleh kearah orang itu sebelum tersenyum tipis padanya—Jongin. "ada apa dengan lingkaran hitam dibawah matamu itu?" Jongin terkekeh pelan lalu duduk di sebelahku.
"aku tidak bisa tidur."
"Aneh, biasanya kau tidak pernah seperti ini."ujar jongin yang masih terkekeh. Aku meliriknya sejenak kemudian mendesah pelan.
"aku tidak bisa menceritakannya padamu, mianhae." Gumamku sembari kembali tersenyum tipis. Jongin mengnggukkan kepalanya lalu menepuk-nepuk punggungku pelan.
Aku tak pernah menceritakan masalahku dengan Luhan pada siapapun—termasuk Jongin, sahabatku. Aku tak ingin orang-orang tahu kalau aku dan Luhan—si pembohong itu 'pernah' bersahabat.
"kau sudah tahu kalau hari ini kelas kita akan kedatangan murid baru?" tanya jongin disela-sela kegiatannya bermain psp.
"belum."balasku singkat sembari terus memijat kepalaku yang berdenyut-denyut.
"kalau tidak salah dia pindahan dari Cina." Kata jongin yang masih sibuk dengan pspnya.
Dengan cepat aku segera melirik jongin dengan ekspresi kaget. "cina?" Seketika pikiranku langsung tertuju pada sosok Luhan. apa mungkin dia adalah anak baru yang dimaksud jongin? Ah, jangan sampai itu terjadi. aku tak ingin melihat dia berkeliaran di sini.
"ya, kalau tidak salah namanya—"jongin tak meneruskan kalimatnya ketika Mr. Choi memasuki kelas kemudian berdiri di depan kelas dengan kaca mata bergagang hitamnya.
"seperti yang kalian ketahui, hari ini akan ada siswa baru di kelas kita." Ucap yang langsung disambut riuh oleh seisi kelas—kecuali aku. aku menatap pintu kelas yang terbuka dengan seksama, menunggu seseorang muncul dari balik pintu itu dan kuharap orang itu bukan
"Luhan" bisikku pelan.
Normal POV
"Annyeonghaseyo, cheoneun Luhan imnida." Luhan tersenyum lebar sesaat setelah memperkenalkan dirinya di depan kelas. Namja berambut merah itu senang karena teman-teman barunya menyambutnya dengan hangat, tetapi semuanya seketika berubah ketika ia mendapati sehun yang menatap Luhan dengan tatapan dingin—tatapan yang tidak disukainya.
"Luhan, kau boleh duduk di samping Kyungsoo." Ujar mr. Choi kemudian menunjuk ke arah kursi kosong di samping seorang namja bermata bulat yang tersenyum pada Luhan. ia pun mengangguk pelan dan berjalan kearah namja bernama Kyungsoo itu sementara mata Luhan masih menatap sehun yang sudah mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Luhan mendesah pelan sebelum duduk disamping kyungsoo.
'sehun, apa kau bisa tersenyum padaku sekali saja?' batin luhan.
Luhan terdiam ketika kyungsoo membawanya ke salah satu meja di kantin itu. ia menggigit bibir bawahnya ketika namja berambut soft pink yang duduk disamping namja berkulit gelap itu menatapnya dingin seperti biasa dan dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa namja itu tidak suka akan kehadiran Luhan disana.
"Luhan, ini Jongin dan ini Sehun." kyungsoo tersenyum lebar pada luhan.
"ah, n-ne. Salam kenal." Ucap luhan sedikit terbata kemudian duduk disamping kyungsoo—berhadapan dengan Sehun yang masih memasang ekspresi tidak sukanya.
"kudengar kau pernah tinggal di korea beberapa tahun lalu." Gumam jongin sebelum kembali mengunyah spagettinya. Luhan tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan.
"ya, delapan tahun lalu." Balas luhan dengan suara pelan.
"lalu, apa disini kau bertemu dengan teman-teman lamamu?" pertanyaan kyungsoo tersebut membuat luhan tersendat. Ia kembali menggigit bibir bawahnya lalu melirik sehun yang juga terlihat kaget dengan pertanyaan Kyungsoo.
"tidak." Jawaban luhan itu membuat sehun menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca oleh Luhan.
"hm mungkin saja mereka juga bersekolah disini." Kata jongin yang langsung diikuti anggukan cepat dari kyungsoo.
Luhan menatap jari-jarinya yang kurus sebelum kembali mengeluarkan senyum tipisnya. "ya, mungkin saja."
Tak berapa lama sehun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Kyungsoo dan jongin yang menatap sehun heran, sementara luhan hanya menarik nafasnya pelan.
"dia kenapa?"
"entahlah, dia aneh sejak tadi pagi."
Langit sudah berwarna jingga ketika luhan menyusuri jalanan sunyi menuju rumahnya. mata cokelatnya memandang kosong ke depan sementara pikirannya kembali melayang-layang ke masa lalunya yang indah bersama Sehun. Namja Chinese itu kemudian tersenyum miris ketika akhirnya ia menyadari semuanya telah berubah—termasuk Sehun.
Luhan mendesah pelan lalu mendongakkan kepalanya keatas. Langit jingga tadi perlahan mulai berubah menjadi gelap. segurat senyum tipis terukir di wajah tirusnya ketika dua iris mata cokelatnya menatap bintang-bintang yang mulai bermuculan dan tiba-tiba sosok itu kembali lewat di pikiran Luhan.
"sehun-ah, apa kau juga masih menyukai langit malam seperti dulu?" suaranya bergetar kemudian setetes cairan hangat jatuh dari ujung mata indahnya. Namja itu langsung menepis cairan hangat itu lalu mempercepat langkahnya tetapi entah apa yang terjadi dengan tubuhnya kala itu. sesuatu dalam tubuhnya membuat Luhan sulit untuk mengontrol keseimbangannya dan akhirnya namja itu terjatuh, badannya yang kurus menyentuh aspal jalan yang dingin.
"tidak lagi..." Luhan berusaha bangkit tetapi otot dan tulangnya seperti tak mampu lagi bergerak, pandangannya mulai buram dan sebelum pandangannya menjadi gelap, ia melihat sosok itu—Sehun.
Cahaya terang dari lampu kamar langsung menyapa luhan ketika namja itu membuka matanya. Ia menatap ke sekeliling dan mendapati dirinya telah berada di kamarnya. Luhan kembali mengingat apa yang sebenarnya terjadi padanya beberapa saat lalu, dan sosok sehun yang menatapnya dengan tatapan dingin langsung hinggap diotak Luhan.
'Apakah Sehun yang membawaku kesini?' Luhan bertanya dalam hatinya sembari berharap bahwa itu benar-benar sehun.
"Luhan, kau sudah sadar? Ah syukurlah." Gumam wanita berambut cokelat yang langsung mengelus kepala luhan lembut.
"apa yang terjadi?"suara luhan terdengar parau sambil menatap wanita berambut cokelat di sampingnya dengan tatapan sendu.
"tadi kau pingsan di jalan dan polisi patroli yang membawamu kesini." Balasan dari wanita berambut cokelat itu membuat luhan terdiam. hatinya berkedut-kedut dan menciptakan rasa sakit yang luar biasa.
'ya, mana mungkin sehun menolong orang yang dibencinya.'
Sehun POV
Angin malam langsung menerpaku lembut ketika aku membuka pintu balkon di kamarku. Aku mendongakkan kepalaku sehingga mataku dapat melihat ribuan bintang diatas kepalaku dan tiba-tiba sosok luhan yang tergeletak di jalan tadi hinggap di pikiranku. Apakah tidak apa-apa aku meninggalkannya di jalan seperti tadi? Apa dia baik-baik saja sekarang? Ah, apa yang kupikirkan! Dia sakit atau mati sekalipun itu bukan urusanku! Sudahlah sehun, jangan memikirkan orang itu lagi. kau membencinya bukan?
Aku baru saja menutup pintu balkon ketika kudengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku mendesah pelan sebelum berjalan menuju pintu kemudian membukanya dan mendapati eomma yang langsung tersenyum padaku.
"Sehun-ah, tolong antarkan sup ayam ini pada Luhan. eomma dengar dia sedang sakit jadi—"
"aku sangat lelah, eomma. Aku ingin istirahat." Aku memotong kalimat eomma cepat kemudian memasang ekspresi malas sementara eomma mendesah pelan lalu menggelengkan kepalanya pelan. tangannya memegang mangkok besar bertutup kaca berisi sup yang sepertinya masih hangat itu.
"cepat antarkan sup ini atau eomma akan memotong uang jajanmu!" ancam eomma. Aku memutar bola mataku malas dan mengambil mangkok besar itu dengan terpaksa.
Bisakah aku tidak bertemu dengan Luhan sehari saja?
Hanya sekitar beberapa menit aku sudah berada di depan pintu rumah keluarga Lu. aku terdiam untuk beberapa lama sebelum memutuskan untuk menekan bel dan tak lama terdengar sahutan dari dalam rumah kemudian seseorang akhirnya membuka pintu rumah bercat putih itu. seorang ajhuma berambut cokelat tersenyum lebar di balik pintu, matanya terlihat berbinar ketika melihat kedatanganku.
"Sehun-ah, ada apa malam-malam seprti ini datang kemari?" tanya ahjuma yang tak lain adalah mrs. Lu—eomma Luhan.
"eomma menyuruhku mengantarkan sup ini untuk Luhan." aku tersenyum tipis sembari menyodorkan mangkok besar yang sedari tadi kupegang pada mrs. Lu dan langsung diraih olehnya sembari membalas senyumanku.
"terima kasih, sehun-ah. Oh apa kau tidak keberatan untuk masuk dan menunggu sebentar? Ada yang mau kutitipkan untuk eomma-mu." Mrs. Lu mempersilahkan aku masuk dengan membuka pintu rumahnya lebih lebar. Aku menarik nafas pelan dan dengan terpaksa meng-iyakan permintaan mrs. Lu.
Suasana hangat dari rumah keluarga Lu itu langsung menyapaku ketika aku melangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Mataku menerawang seisi rumah dengan seksama, ya tidak ada yang berubah sejak terakhir kali aku kesini. Foto-foto yang terpajang rapih di dinding rumah serta perabotan-perabotannya masih di tempat yang sama. aku tersenyum kecil, entah mengapa aku sangat merindukan rumah ini.
"Sehun, apa aku bisa meninggalkanmu sebentar?" pertanyaan mrs. Lu itu langsung membuyarkan pikiranku. aku mengangguk sembari tersenyum padanya, ahjuma itu pun segera pergi meninggalkanku sendirian di ruang tamu.
Aku serasa tidak percaya bisa berada di rumah Luhan—orang yang sangat kubenci saat ini. tetapi suasana rumah itu membuatku melupakan kebencianku pada luhan selama beberapa saat.
Mataku masih menerawang isi rumah itu sebelum pandanganku tertuju pada salah satu pintu yang terbuka di samping tempatku duduk—kamar luhan. aku tidak tau apa yang merasukiku kala itu sehingga aku mulai melangkah menuju kamar itu dan mendapati sosok luhan yang sedang tertidur di kasur berspray biru mudanya. aku menatap luhan dalam diam, ternyata dia tak jauh berbeda sejak terakhir kali aku bertemu dengannya, bahkan sekarang dia lebih terlihat tampan walaupun dengan wajah pucat dan pipinya yang terlihat tirus. aku tak menyangka orang berwajah innocent seperti ini adalah seorang pembohong.
"apa salahku padamu, luhan?"bisikku pelan. mataku masih menatap sosok luhan yang tertidur di depanku. "kau membuatku membencimu seperti ini." aku memejamkan mataku sejenak sebelum keluar dari kamar itu dan menuju ruang tamu.
Beberapa saat kemudian mrs. Lu kembali dan memberikanku beberapa dus kue yang telah diikat rapih dengan pita merah. Kami bercakap-cakap beberapa saat sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Mrs, lu mengantarkanku sampai di depan pintu, akupun membungkuk padanya kemudian membalikkan badan berniat untuk kembali ke rumah, tetapi aku membalikkan badan sesaat sebelum mrs. Lu menutup pintu rumahnya.
"ah, mrs. Lu, kalau boleh tau, Luhan sedang sakit apa?" pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulutku. Entahlah, sepertinya tubuh dan otakku memiliki pemikiran sendiri kali itu.
Mrs. Lu tersenyum tipis. "hanya kelelahan saja. Besok dia pasti sudah sehat kembali." Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya berpamitan pada mrs. Lu dan berjalan menuju rumahku.
Apa yang terjadi padamu sehun? bukankah kau membenci orang yang bernama Luhan? lalu kenapa kau bertanya hal itu pada mrs. Lu? Apa kau mengkhawatirkan Luhan?
"aish!" aku mengacak-ngacak rambutku frustasi dengan tangan kananku sementara tangan kiriku membawa kotak kue yang diberikan oleh mrs. Lu. Aku menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan kemudian segera masuk ke rumahku.
Normal POV
Air mata menetes di pelipis luhan ketika ia mebuka matanya perlahan. ia mendengar semuanya—dua kalimat yang dikatakan sehun dengan jelas. Hatinya kembali berkedut-kedut ketika kedua kalimat itu kembali terngiang di pikirannya.
"Sehun-ah.."gumamnya pelan, sangat pelan hingga hanya luhan yang dapat mendengarnya. bibir pucat luhan bergetar, sementara air mata semakin deras keluar dari kedua iris matanya. Ia ingin sekali memeluk sehun dan menceritakan 'semuanya', tetapi ia belum siap. Ia tak ingin sehun semakin membencinya jika luhan menceritakan yang sebenarnya terjadi.
-To be continue-
Note:
Fyuh~ akhirnya chapter 2 selesai juga dengan kegajean dimana-mana =="
Mian ya klo alurnya kcpetan + chapternya kpendekan saseum bkin chapter ini di mobil jd rada ga konsen tambah lg saseum ga smpet edit lg TT TT
Trakhir, gamsa yang udh nyemptin baca sm review ya ^^ saseum terhura krna bnyk yg nungguin ff saseum ini hiks hiks... review chingu2 sekalian bkin saseum smangat buat lanjutin ff ini ^^ oh ya, yg mau ksih ide dipersilahkan kok ^^
Sekali lagi.. gamsaaaaa~~~~ ^^)/
