Title: Evening Sky
Rated: T
Genre: Angst, Hurt/Comfort
Author: Wind Saseum
Cast: Sehun (EXO), Luhan (EXO), Other Cast
Evening Sky
Chapter 3; That feeling, hurt
Sehun POV
Aku tak tahu sejak kapan Jongin dan Luhan menjadi sangat dekat seperti sekarang. Bahkan aku lebih sering melihan Jongin bersama Luhan daripada bersama Kyungsoo—sahabat baiknya sejak masih di sekolah menengah pertama. Aku memicingkan mataku ketika melihat Jongin dan Luhan berjalan bersama menuju kantin, mereka berdua terlihat sedang membicarakan sesuatu yang menyenangkan.
Aku baru saja mau mengikuti dua orang itu sebelum seseorang menepuk pundakku kuat dan membuatku kaget. "ya! sehun-ah, kenapa kau hanya berdiri saja disini? Apa kau tidak lapar?" kyungsoo menyegir lebar.
"asih, aku baru saja mau pergi ke kantin." Ujarku lalu berjalan menuju kantin yang berada di ujung koridor sekolahku sementara kyungsoo berjalan di sampingku sambil mengumamkan lagu yang aku sendiri tidak tau lagu apa. "kyungsoo..."panggilku tanpa melirik kearah namja bermata bulat itu.
"hm?"
"akhir-akhir ini kulihat Jongin selalu bersama Luhan." aku berusaha memasang ekspresi cool andalanku.
"lalu?"
Aku memutar bola mataku lalu memukul punggung kyungsoo dan berhasil membuat namja itu meringis kesakitan. "apa ada sesuatu diantara mereka berdua? Maksudku—" tawa kyungsoo pecah dan itu membuatku mengerutkan dahiku bingung.
"sehun-ah, jangan bilang kalau kau cemburu!"kyungsoo masih larut dalam tawanya. Aku mendengus kesal lalu kembali memukul punggung kyungsoo untuk kedua kalinya. Cemburu? Untuk apa? Cih.
"jangan asal bicara!" ucapku dengan nada kesal tetapi kyungsoo seolah tidak mempedulikanku.
"siapa yang kau sukai? Jongin? Atau jangan-jangan Luhan?" lagi-lagi namja disampingku ini membuat darahku mendidih. Aku memberikan deathglare padanya dan itu sukses membuatnya terdiam.
"uh ehm, mereka berdua mengambil klub yang sama untuk semester ini."
"klub?"
"yup! klub musik. Aku bingung kenapa Jongin mau masuk klub musik padahal suaranya itu seperti kodok yang sedang flu kalau bernyanyi." Gumam kyungsoo yang saat itu sibuk mengelus punggungnya, aku terkekeh seraya mengangguk setuju.
sekelebat memori masa laluku tiba-tiba kembali muncul di otakku, ya aku ingat, Luhan memang sangat suka bernyanyi. Suaranya yang lembut selalu membuatku tenang ketika mendengarnya, bahkan dulu aku iri kenapa aku tidak memiliki suara seindah luhan, tetapi sekarang? Jangankan mendengar suaranya, melihat wajahnya saja aku sudah muak—ya, muak.
Aku baru saja menyelesaikan tugas tambahan dari Mr. Choi ketika aku mendengar suara orang yang sedang bernyanyi dari arah ruang musik. suara itu— suara yang kukenal, Suara yang dulu selalu membuatku tenang ketika mendengarkannya tetapi kini menjadi suara yang sangat menggangu bagi indera pendengaranku—suara luhan. Aku berjalan cepat ketika akan melewati ruangan musik, tetapi entah apa yang terjadi padaku, aku malah memperlambat laju langkahku dan berhenti tepat di depan pintu ruangan musik tersebut.
Jongin duduk di salahsatu kursi di samping jendela, ia memperhatikan luhan sembari tersenyum sementara luhan berdiri tak jauh dari namja berkulit gelap itu. Luhan memejamkan matanya, bibir pink pucatnya melantunkan sebuah lagu, Broken Vow—lagu yang sering ia nyanyikan dulu. siluet jingga dari luar jendela membuat wajah luhan terlihat berkilau, dan entah mengapa pemandangan itu membuatku terdiam beberapa saat—menikmati? Ah apa yang kau pikirkan sehun? kau mulai menyukainya? Tidak mungkin!
"sehun-ah!"suara berat itu membuyarkan lamunanku. Aku kembali tersadar dan mendapati Jongin yang menatapku bingung sementara luhan menatapku dengan tatapan kaget seperti biasa.
"kenapa kau berdiri saja disitu? Ayo masuk. Kau harus mendengar Luhan bernyanyi." Jongin menarik tanganku. Aku mendengus kesal lalu melepaskan tangan jongin yang menggenggam pergelangan tanganku. Namja berkulit gelap itu mengernyitkan dahinya heran.
Mataku bertemu dengan dua iris Nut-brown Luhan. sekelebat ketakutan bercampur keterkejutan terlihat jelas disana. "untuk apa aku mendengarkan dia bernyanyi? Tidak ada untungnya bagiku."
"ya! sehun-ah, kau harus mendengarkannya dulu. kau tak akan menyesal."jongin kembali menarik tanganku namun kali ini lebih kuat sementara aku hanya bergeming sebelum akhirnya aku kembali melepaskan genggaman jongin.
"aku akan menyesal jika mendengarkannya bernyanyi." Ucapku ketus kemudian keluar dari ruangan itu tanpa melirik luhan dan Jongin—meninggalkan mereka bedua disana.
Lagi-lagi sesuatu terjadi padaku—sesuatu yang membuatku memilih untuk berdiri di samping pintu ruang musik tersebut dalam diam—mencoba mendengarkan percakapan Jongin dan Luhan di dalam sana.
"Luhan"panggil jongin.
"hm?"
"apa kau mengenal sehun sebelumnya?" aku membulatkan mataku ketika mendengar namaku disebut oleh Jongin. Luhan hanya diam, tak menjawab pertanyaan Jongin tersebut. "kau mengenalnya. Benar kan, Luhan?"
"ya."
Normal POV
"Ya." Suara luhan sedikit bergetar. Namja berambut merah itu menunduk sejenak sebelum memutuskan untuk mengangkat kepalanya dan menatap jongin lalu tersenyum pada namja berkulit gelap itu.
Sebenarnya Luhan tak ingin mengatakan hal itu pada siapapun karena ia tahu sehun tidak akan menyukainya jika ada orang yang tahu bahwa keduanya pernah saling mengenal sebelumnya. Tetapi namja itu tidak memiliki pilihan lain, batinnya tersiksa jika harus berpura-pura tidak mengenal Sehun.
"Lalu, kenapa kau bersikap seolah-olah kau tak mengenalnya?"
Luhan tersenyum tipis, matanya mulai berair tetapi ia berusaha untuk tidak menangis di depan Jongin. "karena, aku tak ingin semua orang tahu kalau Sehun pernah bersahabat dengan seorang pembohong sepertiku."
Jongin terhenyak, mata velvetynya menatap Luhan yang berdiri satu meter di depannya. Ia dapat menangkap kegetiran di sorot mata dan ekspresi wajah Luhan.
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Luhan termenung, bayang-bayang masa lalunya kembali berputar-putar di kepalanya, sementara jongin masih terhenyak, sebelum ia memutuskan untuk memecah keheningan di ruangan itu.
"Luhan, aku tidak akan bertanya apa masalahmu dengan Sehun, tetapi... yang aku tahu, kau sangat menyayanginya, bukan begitu?" senyum tipis terukir di wajah jongin. Luhan membalas senyuman jongin dengan senyum tipis kemudian menganggukkan kepalanya dalam diam.
Tangan jongin menarik luhan dan membawanya kedalam pelukan namja pemilik velvety itu. Luhan hanya diam kemudian membalas pelukan jongin. "jongin, apa menurutmu sehun akan memaafkanku?"
"ya, tentu saja." Jongin menepuk punggung luhan pelan.
"aku siap mendengarkan ceritamu kapan saja, Luhan."
Angin musim semi yang dingin tak membuat Sehun beranjak dari tempatnya. Namja itu duduk diatas atap rumahnya sembari memeluk kedua kakinya di depan dadanya seolah tak menghiraukan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Kedua iris hazel milikn namja itu menatap kosong langit malam diatas kepalanya—tak ada bintang, hanya awan abu-abu tebal yang menutupi langit malam itu. Sehun mendesah pelan, percakapan Luhan dan Jongin tadi sore terus mengusiknya dan membuat perasaannya semakin campur aduk. Ia tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri, ia berusaha mencari tahu tetapi ia tak pernah menemukan jawabannya.
Luhan—ia membenci namja chinese itu, tetapi secara bersamaan hatinya selalu menerima rasa sakit yang luar biasa jika ia berusaha mengatakan kata benci itu untuk luhan, dan percakapan Luhan dan Jongin itu semakin membuat sehun bingung.
"...aku tahu, kau sangat menyayanginya, bukan begitu?" pertanyaan itu kembali terngiang di pikiran sehun.
Jauh—jauh sebelum Jongin menanyakan hal itu pada Luhan, Sehun sudah mengetahui jawabannya—ia tahu Luhan sangat menyayanginya. Sehun—batinnya sangat senang akan hal itu, tetapi lagi-lagi Memori menyakitkan yang diberikan Luhan dulu selalu berhasil menghancurkan segalanya—rasa senangnya dan juga—rasa sayangnya terhadap Luhan.
"...apa menurutmu sehun akan memaafkanku?"
Pertanyaan itu juga sering Sehun pertanyakan dalam hatinya. apa dia dapat memaafkan Luhan? entahlah, jawaban untuk pertanyaan itu masih sangat buram bagi Sehun.
Lalu, bagaimana dengan rasa sakit yang ia rasakan setiap kali kata 'benci' itu keluar dari mulutnya? Sehun masih tak mengerti mengapa rasa sakit itu selalu menggerogoti hatinya. apa rasa sayangnya untuk luhan masih tersisa? Ah, entah.
"Luhan..." Bisik sehun pelan. tiba-tiba sesuatu menyeruak dalam hatinya ketika nama itu terlontar dari bibir tipisnya. Pertanyaan baru kembali muncul di pikirannya saat itu "apa aku harus membencimu selamanya?"
Sehun mendesah pelan sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam rumah tanpa menyadari sepasang Nut-Brown memperhatikannya dari kejauhan.
"Luhan."
Luhan menoleh ke arah suara lembut tersebut lalu mengeluarkan senyum simpulnya. "mama.." gumam luhan pelan, tangannya memegang bagian sebelah kanan atas perutnya yang terasa nyeri sembari meringis kesakitan.
"bagaimana keandaanmu, sayang?" tanya Mrs. Lu—si pemilik suara lembut tadi namun hanya dibalas dengan gelengan pelan dari Luhan.
Mrs. Lu mengelus kepala luhan lembut, matanya yang berkaca-kaca memandangi sang anak yang terlihat menahan rasa sakitnya. "Luhan, apa benar tidak apa-apa? Apa tidak sebaiknya kita kembali ke Cina bersama baba?" suara terdengar lirih, tetes demi tetes air mata mulai mengalir membasahi pipi wanita itu.
"mama, percayalah padaku, semua akan baik baik saja." Luhan menyapu air mata sang mama dengan jari-jarinya, kemudian kembali tersenyum. "Aku akan baik baik saja." Lanjut luhan sebelum kembali meringis ketika sakit di bagian atas perutnya semakin menjadi-jadi.
Sehun menatap kursi kosong di samping kyungsoo—kursi yang biasanya di tempati luhan beberapa saat sebelum Mrs. Choi masuk dan berdiri di depan kelas. Pria itu memperhatikan seisi kelas sejenak kemudian mengangguk kecil.
"aku mempunyai kabar untuk kalian semua..." Suara berbisik langsung memenuhi seisi kelas ketika kalimat itu dilontarkan oleh Mrs. Choi. Sehun menggigit bibir bawahnya, saat itu pandangannya langsung tertuju pada kursi kosong disamping kyungsoo.
"Luhan, saat ini dia dirawat di rumah sakit."
Sehun terhenyak kaget. "Luhan?"
Jongin melirik sehun yang masih memasang wajah kaget di sampingnya lalu tersenyum tipis. "kau mengkhawatirkannya 'kan, sehun?" bisik Jongin pelan, sangat pelan hingga sehun tak dapat mendengarnya.
TBC –
Annyeong~ chapter 3 akhirnya selesai kekeke
Mian klo chapter ini kependekan TT TT saseum baru aj pulang dr acara kluarga jd bkin chap ini buru-buru Mian jga kl chap ini membingungkan, saseum sengaja hehehe
Sehunnya knapa? Luhannya sakit apa?
Tungguin aja next chapter yaw wkwk
Oh iya, gamsa buat smua yang udh nympetin Review ff gaje ini /bow/
See u on the next chapter~ ^^)/
