Title: Evening Sky
Rated: T
Genre: Angst, Hurt/Comfort
Author: Wind Saseum
Cast: Sehun (EXO), Luhan (EXO), Other Cast
EVENING SKY
Chapter 4; Forgiveness?
Kelopak-kelopak bunga sakura yang berguguran seperti hujan pink itu menjadi salah satu hiburannya selama Luhan dirawat di rumah sakit. Dua iris nut-brownnya memperhatikan kelopak demi kelopak yang terbang dibawa angin kemudian mendesah pelan. Sudah enam hari Luhan menempati ruangan putih berbias biru muda itu, dan selama itu Sehun tak pernah datang menjenguknya. Hanya Jongin dan Kyungsoo yang selalu berusaha menyempatkan menengoknya disela-sela kegiatan kedua temannya itu. Luhan kemudian tersenyum miris, ia sangat berharap Sehun mau datang walaupun hanya sekedar menengoknya tanpa berkata apapun, tetapi Luhan tahu harapannya itu tak akan mungkin terkabul. Sehun Membencinya—mana mungkin namja itu peduli pada keadaan luhan saat ini?
Luhan masih hanyut dalam lamunannya sebelum seseorang membuka pintu dan langsung membuyarkan pikirannya. Mata sendunya menangkap sosok wanita berambut cokelat yang berjalan menghampirinya seraya tersenyum sendu.
"Luhan, bagaimana keadaanmu?" wanita itu duduk di samping luhan, jari-jari lentiknya mengelus tangan kurus nan pucat milik luhan—anaknya.
"baik, mama."Luhan tersenyum lebar, berusaha menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
Mrs. Lu menunduk sejenak sebelum akhirnya menatap mata Luhan dalam. "Empat bulan lagi." suara wanita itu terdengar lirih, air mata terlihat menggumpal di mata wanita itu.
luhan masih tersenyum, jari-jari kurusnya diselipkan diantara jari-jari lentik sang mama. " mama, aku sudah siap apapun yang akan terjadi padaku empat bulan kedepan. Mama tenang saja." Nada suara luhan terdengar getir. sesuatu menggerogoti hatinya saat itu.
"mama belum siap kehilanganmu, Luhan." Tangis Mrs. Lu pecah seketika. Air matanya membasahi pipi wanita itu dengan derasnya, dan itu membuat air mata luhan ikut menetes. Entahlah, belakangan ini air mata luhan seperti tidak pernah absen membanjiri pipi tirus nan pucatnya.
"aku tahu mama, aku tahu." Luhan mendekap tubuh sang mama. Namja itu berusah menghentikan air matanya, tetapi sialnya Luhan tak pernah berhasil. Air matanya semakin deras ketika bayangan Mama, baba, dan Sehun terlintas di pikiran Luhan. Sebenarnya Luhan juga belum siap meninggalkan ketiga orang tersebut—terlebih Sehun. ia belum siap 'pergi' jika sehun belum memaafkannya.
"Luhan, Mama akan berusaha mencari orang yang mau mendonorkan hatinya untukmu." Perkataan sang mama membuat luhan terkesiap. Ia melepaskan pelukan sang mama lalu menatap wanita itu dengan tatapan terkejut.
"mama, itu sudah tidak mungkin lagi. aku sudah tidak mungkin menerima transplantasi dengan keadaanku yang seperti ini." luhan menggigit bibir bawahnya yang bergetar.
"Masih bisa, walaupun kemungkinan akan berhasil hanya 15%, tetapi sekecil apapun kemungkinannya, itu berarti masih ada kesempatan untuk sembuh."
Luhan tertegun. Jari-jarinya mengelus bagian kiri atas perutnya, ia tidak yakin akan apa yang dikatakan oleh sang mama, tetapi bayangan Sehun kembali muncul. Luhan tertegun beberapa lama.
"kau mau 'kan, sayang?"
Luhan kembali menatap sang mama sebelum akhirnya memutuskan untuk mengangguk pelan. ia ingin sembuh, ia ingin bersama dengan orang-orang yang ia sayangi lebih lama lagi.
"mama, boleh aku minta satu hal?"
Sehun hanya menatap spagettinya tanpa menyentuhnya sama sekali dan itu membuat jongin dan kyungsoo mengernyit heran.
"Sehun-ah.."kyungsoo menepuk bahu sehun pelan. namja berambut soft pink itu melirik kyungsoo sejenak sebelum kembali menatap spagettinya kembali.
Sesuatu mengusik pikiran sehun beberapa hari ini dan sesuatu itu adalah dia—Luhan. sehun semakin tak mengerti apa yang ia rasakan kala itu, di satu sisi ia mengakui kalau sebenarnya ia mengkhawatirkan luhan, tetapi di sisi lain rasa bencinya seolah memaksa sehun untuk tidak mempedulikan namja chinese itu.
"Luhan akan keluar dari rumah sakit hari ini. kau tenang saja." Jongin tersenyum lebar. Sontak sehun langsung menoleh ke arah si pemilik velvety itu dengan mata membulat diikuti dengan senyum lebar kyungsoo.
"sudahlah sehun, kau jangan menyiksa diri lagi seperti ini. aku tahu kau mengkhawatirkan Luhan—sahabat masa kecilmu itu."ucap jongin. Aneh, biasanya emosi sehun akan segera terpancing jika ia mendengar kata-kata Luhan—sahabat masa kecilmu, tetapi kali ini berbeda. ia merasa...senang?
Sehun menghela nafasnya panjang tanpa membalas perkataan jongin. "kami tau masalahmu dengannya, sehun. Luhan menceritakannya pada kami kemarin." Gumam kyungsoo dengan nada lembut.
"apa yang dia katakan pada kalian berdua?"akhirnya sehun bersua.
"semuanya.."jongin menjeda perkataannya sebelum melanjutkannya lagi."...termasuk janji di masa kecil itu."
Sehun kembali diam. Luhan telah menceritakan semuanya pada kedua sahabatnnya itu, tetapi ia sama sekali tidak protes akan hal tersebut, dan saat itu juga sehun menyadari satu hal—ia kembali membuka hatinya untuk Luhan. ia membenci Luhan—sangat membenci luhan, tetapi entah sejak kapan rasa rindu dan sayangnya perlahan mulai menghapus kebencian itu meskipun belum sepenuhnya terhapus. Setetes air mata keluar dari ujung matanya—mewakili kepedihan serta kerinduannya selama bertahun-tahun.
"sehun, kami tahu kalau 'janji' itu sangat berarti besar untukmu dan orang yang sangat kau sayangi yang mengingkarinya. Tetapi kau lihat sekarang, dia telah kembali bukan? Harusnya kau senang akan hal itu karena dia sudah membayarkan kesalahannya dengan kembali lagi ke sini."ujar kyungsoo panjang lebar. Namja bermata bulat itu memang adalah orang yang paling bijak diantara Sehun dan Jongin.
Sehun tersenyum getir, ia menatap Jongin dan kyungsoo secara bergantian kemudian tersenyum lebar—senyum tulus yang kemudian menggantikan senyum getirnya. "ya, kalian benar. terima kasih" setetes air mata kembali menetes tetapi segera ditepis oleh tangannya.
Langit malam telah menggantikan tahta sang jingga. ribuan bintang kembali membentuk gugus-gugus unik yang indah, sementara sang rembulan membagikan cahaya lembutnya. Luhan berdiri di balkon kamarnya, sweater merah tebal membungkus tubuh ringkih nan pucatnya. Angin musim semi menerpa wajah Luhan lembut—ia tersenyum. Kedua iris nut-brownya menatap rumah bercat cokelat muda di samping rumahnya. luhan mendesah pelan ketika melihat kamar sehun yang gelap tanpa cahaya apapun di dalamnya—sehun pasti tidak berada di rumah. Ia mendesah lagi sebelum mengalihkan pandangannya kearah langit malam diatas kepalanya. Kali ini langit malam terlihat lebih indah dari malam-malam sebelumnya—seperti sedang tersenyum pada luhan? luhan terkekeh pelan ketika ia mulai berfantasi seperti anak kecil.
"Luhan.." fantasi luhan terhenti ketika suara itu menyeruak di indera pendengarannya. Suara yang sangat ia kenal—suara yang sangat ia rindukan. Dengan cepat luhan langsung menoleh ke arah suara itu dan mendapati sosok namja berambut soft pink dengan kulit putih porselen berdiri di ambang pintu kamarnya—Nut-brown dan hazel bertemu. Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan sosok yang mulai mendekatinya itu adalah 'dia'—Sehun.
"uhm.."Sehun mengelus tengkuknya canggung. Aneh, ia tak pernah secanggung ini sebelumnya. Semburat merah terlihat di pipi namja bertubuh tinggi itu ketika menyadari jaraknya dan Luhan hanya sekitar beberapa meter, sementara luhan masih terdiam—bingung,kaget, bercampur gembira menggerogoti hati dan pikiran Luhan. ia tidak bermimpi 'kan? Oh Sehun—orang yang membencinya kini berada di depannya?
"y-ya Se-sehun-ah?"luhan terbata. Kecanggungan Sehun seperti tertular pada namja berambut merah itu.
"uhm.. bagaimana keadaanmu?" sehun berjalan mendekati luhan dan tak berapa lama namja itu telah berdiri di samping Luhan.
"sudah lumayan membaik."jawab Luhan dengan suara pelan. Sehun mengangguk sebelum keduanya hanyut dalam diam, hanya suara angin yang samar-samar terdengar.
"Sehun-ah" "Luhan" ucap keduanya secara bersamaan, Nut-brown dan hazel kembali bertemu. Sorot mata keduanya memancarkan kerinduan yang tertahan.
"kau duluan saja." Sehun tersenyum tipis.
Luhan menggigit bibir bawahnya sejenak. "Aku minta maaf. Aku tahu kau tak akan memaafkanku semudah itu tapi.." "Aku sudah memaafkanmu, Xiao Lu." Luhan tersendat ketika sehun memotong perkataannya. Nafasnya tiba-tiba menjadi tak beraturan, apa ini mimpi? Sehun memanggilnya dengan nama kecilnya, lalu...namja itu berkata bahwa dia sudah memaafkan Luhan? Luhan masih terlihat kaget—ia masih sedikit tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar.
"Xiao Lu, aku sudah memaafkanmu." Sehun mengulang perkataannya, sorot mata dan ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia mengatakannya dengan Tulus.
Jantung Luhan berdegup kencang ketika sehun menatap kedalam matanya dan mempersempit jarak diantara keduanya dengan perlaha sehingga luhan dapat mendengar dan merasakan deru nafas sehun yang lembut dan tak lama kemudian bibir tipis sehun bertemu dengan bibir pink pucat Luhan.
Luhan POV
Aku membelalakkan mataku ketika merasakan bibir sehun mengecup bibirku lembut. Darahku berdesir sementara degup jantunggku semakin tak terkontrol. Apa ini mimpi? Jika memang benar, maka mimpi ini adalah mimpi yang paling indah yang pernah kualami. Tapi jika tidak, ini adalah kenyataan yang paling indah sepanjang hidupku dan aku tak ingin semua ini cepat berakhir.
Sehun melepaskan ciumannya. Ia kembali menatap mataku kemudian menempelkan dahinya diatas dahiku kemudian mendekap wajahku dengan kedua tangannya. Jari-jarinya yang hangat mengelus pipiku lembut sebelum kembali mengecup bibirku selama beberapa saat. Aku meletakkan tanganku diatas tangannya—tak ingin kedua tangan hangat itu terlepas dari wajahku.
Tetapi rasa gembiraku perlahan mulai menghilang ketika otakku kembali teringat akan apa yang dikataka oleh doker sesaat sebelum aku meninggalkan rumah sakit.
"kemungkinan transplantasi akan berhasil menurun menjadi 10%, dengan kondisimu yang sudah berada di stadium akhir, sangat tipis harapan untuk melakukan transplantasi."
Aku merasakan kehampaan ketika sehun melepaskan ciumannya dan juga tangannya dari wajahku. Iris hazelnya menatapku dalam untuk kesekian kalinya. "Xiao Lu, apa kau mau berjanji satu hal padaku?"
Hatiku berkedut-kedut dan mataku tiba-tiba terasa panas. Entahlah, aku berfirasat bahwa sesuatu akan merenggut kebahagiaan yang baru aku dapatkan ini.
"berjanjilah padaku, kau tak akan meninggalkanku lagi."
Firasatku benar. ya Tuhan, kumohon jangan terjadi lagi.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah langit malam, bintang-bintang yang tadinya bertaburan dengan indahnya kini tertutupi dengan awan abu-abu tebal. Tubuhku bergetar dan air mata kembali mengalir. Ah, Luhan, kau menangis lagi.
"sehun-ah, aku tidak bisa." Suaraku lirih. Aku dapat melihat ekspresi sehun berubah dari ujung mataku—dingin.
Sehun mendecih lalu tertawa paksa. "harusnya aku tidak memaafkanmu dan meintamu untuk berjanji lagi padaku."
Aku masih menangis dalam diam. Sehun-ah, aku tidak bisa berjanji untuk tidak meninggalkanmu lagi,karena aku akan meninggalkanmu—dalam waktu dekat. Aku—tak mau kejadian pahit dimasa kecil kita terulang kembali.
"maafkan aku Sehun-ah. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak meninggalkanmu lagi, tetapi aku punya alasan. Dan aku tahu kau tak mau mendengar alasanku." Aku terisak.
"kau benar." Sehun kembali mendecih sebelum membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu kamarku. Aku menatap punggunya yang semakin menjauh, tetapi ia menghentikan langkahnya sejenak, melirikku dari ujung matanya kemudian membuka pintu kamarku. "Lupakan semua perkataanku tadi—dan ciuman itu. anggap aku tak berkata dan melakukan apapun padamu." Ujar sehun sebelum menghilang di balik pintu.
Isakanku semakin menjadi. Maafkan aku sehun, aku tidak bisa berjanji padamu dan maaf, aku tidak akan pernah melupakan kejadian tadi.
TBC –
Note:
Annyeong~ Gimana chapter 4 yang singkat ini? udah hampir menjawab pertanyaan-pertanyaan chingu2 sekalian kah? Hehehe kayaknya belum ya =="
Smoga di next chapter smua pertanyaan-pertanyaan chingu2 sekalian terjawab ya? hehehe
sebelumnya makasih udah ngikutin ff gaje saseum smpe chapter ini.. saseum terharu hiks hiks /nangis dipelukan Luhan/(?)... review2 chingu2 sekalian it penyemangat buat saseum
Ok, yg brsediah review diterima dengan senang hati kok hehehe
Mian klo chap ini masih banyak kekurangannya..
oh iya, saseum rencananya mau bkin ff BaekYeol Couple.. kl udh saseum publish jangan lupa dibaca ya? /puppy eyes/ wkwk
oke deh~~~ See ya on the next chapter ^^
