Title: Evening Sky
Rated: T
Genre: Angst, Hurt/Comfort
Author: Wind Saseum
Cast: Sehun (EXO), Luhan (EXO), Other Cast
EVENING SKY
Chapter 5; The Reason
Luhan—namja pemilik nut-brown itu menatap bayangan dirinya yang dipantulkan oleh cermin besar di depannya. Ia tersenyum miris—miris melihat keadaannya saat itu. wajahnya yang pucat serta tubuhnya yang semakin kurus terlihat sangat mengenaskan di matanya sendiri, tetapi ia semakin miris ketika melihat keadaan di 'dalam' dirinya—penuh luka dan Sehun adalah penyebab semua luka itu.
Luhan pernah mencoba membenci Sehun, tetapi sekuat apapun ia mencoba untuk membenci Sehun ia tak akan pernah berhasil. Ia tak mempunyai alasan yang kuat untuk membenci Sehun karena ia tahu, apa yang dirasakan sehun lebih sakit dari apa yang ia rasakan.
"aku akan segera pergi...?"
Perasaan Luhan menjadi kacau ketika kata-kata itu terlontar dari bibir pink pucatnya. ia akan segera pergi—ya pergi ke tempat yang sangat jauh, meninggalkan semuanya—meninggalkan sehun untuk kedua kalinya. Itulah yang membuat Luhan tak mau berjanji pada sehun lagi. Luhan Pasrah, ia pasrah harus menerima kenyataan bahwa Sehun akan lebih membencinya setelah itu—setelah ia pergi.
Hari itu adalah hari pertama Luhan kembali ke sekolah setelah pulang dari rumah sakit dan sekaligus merupakan hari terakhirnya disana. Luhan menggenggam erat secarik surat bersampul putih di tangannya seraya berjalan pelan menuju ruangan kepala sekolah. Sebenarnya Luhan merasa sangat berat hati ketika akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah. Ia baru saja merasakan kembali bagaimana menjadi siswa selama tiga bulan dan semuanya akan berakhir hari itu.
Mrs. Lu merangkul pundak Luhan kemudian tersenyum pada anak satu-satunya tersebut sebelum memasuki ruangan kepala sekolah bersama Luhan.
Ekspresi Jongin dan Sehun berubah seketika ketika mendengar perkataan kyungsoo.
"ji-jinja?" jongin mengguncangkan tubuh kyungsoo pelan dan langsung disertai anggukan cepat dari kyungsoo sementara sehun hanya diam.
"aku mendengarnya dari Mr. Choi." Jawab kyungsoo.
Sejenak mereka terdiam—sibuk dengan pikiran mereka masing-masing sebelum jongin memecah keheningan diantara mereka bertiga.
"sudah semakin dekat, ya?" jongin tersenyum tipis.
Sehun mengerutkan dahinya lalu menatap jongin dengan tatapan bingung. "apa maksudmu?"
Pertanyaan sehun tersebut sontak langsung membuat Jongin dan kyungsoo kalap. Kedua namja itu memandangi satu sama lain kemudian mengalihkan pandangan mereka ke arah sehun yang masih memasang wajah bingung.
"uh, maksudku..."jongin kembali terdiam dan itu semakin membuat sehun bingung. Sehun bukanlah seseorang yang bodoh, ia tahu kedua sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu darinya.
"Anak-anak." Seru mr. Choi yang entah sejak kapan sudah berada di depan kelas bersama Luhan. Kyungsoo langsung kembali ke tempat duduknya sementara jongin bisa bernafas lega karena Sehun mengalihkan perhatiannya pada sang wali kelas.
"mungkin sebagian dari kalian sudah mendengar bahwa Luhan hari ini akan berhenti dari sekolah ini." Mr. Choi melirik luhan yang tersenyum disampinya sebelum melanjutkan kata-katanya. " karena itu, aku akan memberikan kesempatan untuk kalian semua memberikan salam terakhir untuk luhan."lanjut Mr. Choi kemudian menepuk pundak luhan lalu keluar dari kelas yang seketika berubah menjadi sangat ribut. Hampir semua murid di kelas itu langsung mengerumuni Luhan—ya hampir semua, kecuali sehun yang memilih untuk meninggalkan kelas sementara luhan hanya mendesah pelan.
Langit jingga kembali mengukuhkan tahtanya. Semilir angin menerpa ketiga namja yang duduk berdekatan di ruangan penuh alat musik itu—memandangi hamparan rumput hijau dari jendela-jendela kaca yang terbuka di depan mereka.
"padahal kau dan aku baru saja bergabung dengan klub musik dan aku masih ingin mendengarkanmu bernyanyi." ucap namja berkulit gelap sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"kau juga belum mencicipi masakanku." Tambah namja lain yang memiliki mata bulat.
Mendengar perkataan kedua sahabatnya itu, Namja berambut merah—Luhan terkekeh pelan. "kau masih bisa mendengarkanku bernyanyi, tenang saja." Luhan menepuk punggung jongin seraya mengeluarkan senyum lebarnya, menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya. "dan kyungsoo, kau tidak keberatan kan membawa masakanmu ke rumahku?" Luhan kembali terkekeh.
Tak ada yang membalas perkataan luhan, baik Jongin dan Kyungsoo—keduanya hanya diam. Luhan tersenyum kecil, seolah tahu akan apa yang dipikirkan oleh Jongin dan Kyungsoo.
"kalian akan baik-baik saja begitu juga aku. Jangan khawatir." Suara luhan bergetar.
"Luhan, sampai kapan kau akan menyembunyikan semuanya dari Sehun?" tanya kyungsoo yang langsung membuat hati Luhan berkedut. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum kembali tersenyum untuk kesekian kalinya.
"sampai aku pergi." Jawab luhan pelan tetapi Kyungsoo dan Jongin dapat mendengarnya degan jelas.
Suasana kebali hening selama beberapa saat sebelum Luhan beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati jendela, membelakangi Kyungsoo dan Jongin yang menatap Luhan dengan tatapan sendu.
"kumohon, kalian jangan mengatakan apapun pada sehun" Gumam luhan tanpa menoleh kearah Kyungsoo dan Jongin, ia tak ingin kedua sahabatnya itu melihat air matanya yang kembali mengucur dari mata nut-brownnya.
"ya, kami berjanji."
Sehun mendongakkan kepalanya, hazelnya menatap langit malam tanpa bintang diatas sana. Lagi-lagi awan hitam menutupi keindahan sang langit malam, hanya cahaya bulan yang terlihat samar di balik awan hitam tersebut. namja berambut soft pink itu memejamkan matanya yang terasa berat sebelum suara seseorang yang sedang bernyanyi tertangkap di indera pendengarannya. Sehun langsung membuka matanya lalu memandang ke arah kamar luhan yang berada tepat di samping balkonnya.
I'll let you go
I'll let you fly
Why do I keep asking why
I'll let you go
Now that I found
A way to keep somehow
More than a broken vow
Broken Vow, untuk kedua kalinya Sehun mendengarkan lagu itu dilantunkan oleh Luhan sejak namja chinese itu kembali. entah mengapa tiba-tiba firasat sehun seperti memberitahukannya sesuatu ketika ia mendengarkan lagu itu—seperti... ada sesuatu yang akan hilang sebentar lagi, tetapi ia berusaha untuk tidak mempedulikannya.
Namja berambut soft pink itu mendesah pelan kemudian masuk ke kamarnya dan menutup pintu balkonnya rapat sebelum menjatuhkan badannya diatas kasur berspray putih miliknya dan kejadian beberapa hari yang lalu kembali lewat di pikirannya.
Sehun POV
Luhan, kenapa?
Kenapa ketika aku sudah memaafkanmu kau membuatku kembali membencimu? Kau membuatku menyesal telah membuka hatiku kembali untukmu—Seharusnya dari awal aku tidak membiarkanmu kembali masuk di dalam sana kalau aku tahu semuanya akan seperti ini.
Luhan, Kenapa kau tidak mau berjanji padaku?
Apa kau akan meninggalkanku lagi?
Lalu, untuk apa kau kembali lagi jika akhirnya kau akan meningalkanku untuk kedua kalinya?
Aku menyesal telah memaafkanmu, Luhan.
Sinar mentari langsung menyapaku ketika aku membuka mataku perlahan. aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 05.55 sebelum menggerutu kesal—suara sirine ambulans membuatku terbangun sepagi itu. dengan gerakan malas, akupun beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju balkon kamarku dan mendapati mobil ambulans terparkir di pekarangan rumah keluarga Lu. Dua orang pria berbaju putih keluar dari ambulans itu, mereka berdua mengeluarkan sebuah tempat tidur seperti tempat tidur pasien dan segera berjalan cepat memasuki rumah keluarga Lu. tak berapa lama Mrs. Lu keluar dari rumah itu dan disusul oleh kedua pria berbaju putih yang membopong tempat tidur tadi—Luhan berada diatas tempat tidur itu, matanya terpejam, tubuhnya terlihat lebih pucat dan sedikit menguning. aku tersendat, sesuatu terjadi pada Luhan. dan aku semakin yakin ketika mataku memandang mrs. Lu, air mata mengucur deras di pipinya.
"Luhan..." Gumamku pelan sebelum aku merasakan sesuatu yang hangat keluar dari mataku.
NORMAL POV
Sehun menarik jongin dan kyungsoo menuju ruang musik dan kemudian menatap kedua sahabatnya itu sesaat setelah ketiganya sampai ke ruangan tersebut. jongin dan kyungsoo menatap sehun dengan tatapan bingung.
"katakan padaku..." suara sehun terdengar serak. "katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Luhan!"
Perkataan sehun tersebut membuat Jongin dan Kyungsoo terkesiap—keduanya bingung apa yang harus mereka lakukan dan katakan saat itu sementara sehun menatap mereka secara bergantian.
"kenapa kalian diam saja? Apa yang kalian sembunyikan dariku?!" nada suara sehun meninggi. Matanya terasa panas, seperti ada sesuatu yang sebentar lagi menyeruak dari sana.
Jongin dan kyungsoo menatap satu sama lain sebelum akhirnya Jongin menarik nafasnya kemudian menatap dua iris hazel milik sehun. 'maafkan aku Luhan.'
Nafas sehun tersengal. Ia terus mempercepat laju larinya menyusuri jalanan kota yang ramai. Ia tak peduli berpasang-pasang mata yang memandanginya, yang ia tahu saat itu adalah harus segera sampai ke rumah sakit, ia harus segera bertemu dengan Luhan—sebelum semuanya terlambat.
Ia sudah tahu semuanya—ya semuanya.
Air mata sehun membanjiri pipinya ketika perkataan-perkataan jongin kembali berputar di otaknya.
"kanker hati, luhan mengidap kanker hati stadium akhir."
Akhirnya sehun tahu, mengapa luhan tak ingin berjanji padanya untuk yang kedua kali. Namja chinese itu tahu, bahwa ia akan segera meninggalkan sehun—lagi.
"delapan tahun lalu, Luhan meninggalkanmu karena ia tidak ingin kau tahu bahwa ia mengidap kanker. Dan selama delapan tahun, Luhan berusaha untuk sembuh. Dia mengikuti berbagai macam pengobatan agar bisa memperpanjang hidupnya, tetapi semua ternyata sia-sia. Kankernya semakin parah, dan setahun yang lalu dokter memfonis Luhan bahwa Hidupnya tinggal delapan bulan lagi. dia memutuskan untuk kembali, dan alasannya kembali di sisa-sisa hidupnya adalah—bertemu denganmu, orang yang paling dia sayangi dan meminta maaf padamu karena telah mengingkari janjinya. "
Sehun kembali terisak—bukan karena Luhan, tetapi menangisi dirinya sendiri. ia begitu bodoh karena membiarkan ego menguasai dirinya selama bertahun-tahun. Ia begitu bodoh karena ia tak pernah mempedulikan perasaan luhan. ia begitu bodoh karena selalu membohongi perasaannya sendiri. ia begitu bodoh karena ia tak pernah mau mendengar alasan Luhan meninggalkannya. Dan ia begitu bodoh, karena ia menyadari semuanya disaat ia dan Luhan sudah tak mungkin lagi bersama.
"yang bisa menyelamatkanya mungkin hanya transplantasi, tetapi kemungkinan untuk berhasil hanya 10%"
Langkah sehun terhenti ketika ia menatap gedung rumah sakit di seberang jalan. Ia tersenyum piluh—beberapa saat lagi ia akan segera bertemu dengan Luhan—sahabat masa kecilnya, orang yang sangat ia sayangi, orang yang—sangat ia cintai.
Sehun kembali mengambil langkah seribu menuju rumah sakit tersebut sebelum cahaya yang sangat menyilaukan memenuhi indera pengelihatannya.
Luhan memandangi langit-langit kamar itu dengan tatapan kosong. Tubuhnya yang dipenuhi oleh berbagai selang dan kabel tipis membuatnya sulit untuk bergera. Ia kemudian menarik nafasnya sebelum menatap langit malam di luar jendela. sosok itu kembali muncul di benaknya—Sehun.
Apa sehun baik-baik saja? Apa dia merindukan Luhan?
Pertanyaan-pertanyaan itu seolah tidak pernah absen dari pikiran Luhan. sejujurnya, ia sangat ingin bertemu dengan Sehun, memeluk namja itu dan mengecup bibirnya—mencurahkan semua hasrat yang dari dulu ingin ia curahkan pada namja berambut soft pink itu. Karena Luhan tahu, ia tidak akan bertemu dengan Sehun lagi—untuk selamanya.
Kenyataan itu semakin membuat luhan tidak rela untuk segera pergi, ditambah lagi ia belum mendapatkan maaf dari sehun. itu semakin membuat batinnya terpuruk. Hal terbesar yang ia inginkan saat ini selain memeluk dan mengecup sehun adalah mendapatkan maaf dari namja itu.
"Luhan..." Suara Halus itu segera menyadarkan Luhan dari lamunannya.
"mama."balas luhan pelan. tenaganya tak sanggup untuk mengeluarkan suara yang lebih kuat.
Raut wajah Mrs. Lu terlihat lebih cerah dari biasanya. Wanita itu mendekati luhan kemudian mengelus kepala luhan perlahan. "Mama mendapatkan donor hati untukmu.." Luhan membulatkan matanya ketika mendengar perkataan sang mama. "...kau tahu kan kemungkinan donor akan berhasil hanya 10%? Sejujurnya, sekarang mama tidak ingin kau menjalani operasi transplantasi, tetapi.."
"mama, aku ingin dioperasi."
Mrs. Lu terkesiap, kaget akan apa yang ia dengar dari sang anak. Ia menatap luhan dengan tatapan kaget bercapur bingun sementara Luhan menatapnya dengan tatapan yakin.
"tapi luhan.."
"aku ingin dioperasi."
Tekad Luhan sudah bulat. Namja itu ingin segera di operasi—ia ingin sembuh walaupun ia tahu kemungkinannya untuk selamat sangat tipis. tetapi setipis-tipisnya kemungkinan itu, masih ada harapan untuknya. Luhan tidak peduli dengan perkataan dokter padanya dulu, karena Luhan tahu, hidup dan matinya ada di tangan Tuhan. Ia ingin segera sembuh—ia belum mau mati sebelum Sehun memaafkannya.
TBC –
Note:
Annyeong~ chapter 5 datang dengan segala kegajean di dalamnya =="
Mian klo chapter ini masih banyak kekurangannya
Sehun akhirnya benar-benar sadar sm kesalahannya ciee (?) Sementara mamanya Luhan jadi plin plan ==" masa di chap 4 mamanya yang mau luhan dioperasi tapi di chap ini kok jadi mamanya luhan yang gak rela luhan di operasi ya? ah plinplan /oke knpa ini jd nyalahin mamanya luhan? wkwkwk/
Oh iya, sekedari informasi nih, chapter dpan FF ini udh mau End. Hiks hiks...
Sehun bisa bersatu sama luhan ga ya? hehehe yang mau sehun sama luhan bersatu angkat tangannyaaa! (?)
Okok last~! saseum mau ngucapin makasih banyak buat yang udanh ngikutin evening sky smpe sjauh ini TT TT tanpa dukungan kalian saseum gak bklan bisa smangat
Oke deh... see ya on the last chapter ya~ ^^
