Title: Evening Sky

Rated: T

Genre: Angst, Hurt/Comfort

Author: Wind Saseum

Cast: Sehun (EXO), Luhan (EXO), Other Cast


EVENING SKY

Chapter 6 [Final Chapter] :"You Leave me?"

Bau alkohol langsung menyeruak di indera penciuman Luhan sesaat setelah ia sadar dari pengaruh obat bius yang membuatnya tertidur selama hampir dua belas jam. Namja berambut merah itu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sembari berusaha menggerakan tubuhnya yang terasa sangat kaku, tetapi kekuatannya belum mampu untuk bergerak lebih leluasa.

"aish.." Luhan meringis ketika ia merasakan perih di bagian kanan atas perutnya. Bukan perih yang biasanya ia rasakan tetapi kali ini lebih seperti—Luka jahitan.

"Luhan, kau sudah sadar nak?" Tanya seseorang dengan suara berat yang sangat familiar di telinga Luhan. Luhan tersenyum ketika mendapati sang baba berdiri di sampingnya dengan senyum sumringah di wajahnya.

"Operasinya berhasil. Bahkan dokter yang menanganimu pun terheran-heran. ini sungguh keajaiban, Luhan." ucap seorang wanita berambut cokelat yang muncul dari belakang sang baba dengan mata berkaca-kaca.

Luhan termenung selama beberapa saat sebelum kembali tersenyum, setetes air mata mengalir melalui pelipisnya. Gembira—ya itulah yang dirasakan Luhan kala itu. ia tak henti-hentinya berterima kasih kepada Tuhan karena Dia memberikan kesempatan untuk Luhan menikmati hidup lebih panjang, dan Dia memberikan Luhan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya pada sahabat masa kecilnya—Sehun. Tetapi sesuatu mengusik batin Luhan kala itu, entah mengapa perasaannya menjadi sedikit aneh setiap kali ia mengingat Sehun—seperti...ada sesuatu yang terjadi pada namja pemilik hazel itu yang tidak diketahui oleh Luhan.

"Luhan, kau harus beristirahat selama satu minggu disini sebelum dokter memperbolehkanmu pulang."perkataan sang mama memawa Luhan kembali tersadar akan lamunannya. Luhan mengangguk pelan tanpa membalas, ia terlalu lelah untuk berbicara saat itu.

Satu minggu—dia hanya perlu menunggu selama satu minggu dan setelah itu ia akan memberanikan dirinya meminta maaf pada Sehun meskipun Luhan tidak yakin Sehun akan memaafkannya nanti.


Luhan melahap buburnya dengan lahap, sementara mrs. Lu terkekeh pelan melihat Luhan yang terlihat sangat kelaparan akibat berpuasa selama beberapa hari setelah operasi pencangkokan hatinya. Luhan melirik sang mama yang duduk tak jauh dari tepat tidurnya kemudian ikut terkekeh lalu melanjutkan kegiatannya menghabiskan buburnya.

"mama.."

"ya, Luhan?"

"apa mama masih memengang janji itu?"

pertanyaan Luhan tersebut membuat Mrs. Lu terdiam sebelum akhirnya mengangguk cepat sembari mengeluarkan senyum tipis. "Ya, tentu saja. Mama tidak mengatakan apapun pada Sehun dan Mrs. Oh tentang penyakitmu."

Luhan mengangguk sebelum kembali berkutat dengan buburnya. Mrs Lu mendesah pelan. ya, wanita itu memang tidak berkata apapun pada Sehun dan Mrs. Oh, tetapi mereka sudah mengetahui semuanya tetapi... Luhan-lah yang saat itu tidak tahu apa-apa.

"Luhanie!" tiba-tiba seseorang—lebih tepatnya dua orang membuka pintu dan langsung berjalan cepat menuju tempat tidur Luhan dengan wajah berseri-seri. Satu diantara kedua orang itu membawa keranjang buah kemudian diletakkan diatas meja di samping tempat tidur Luhan.

"Jongin, Kyungsoo!" Luhan tersenyum lebar ketika melihak kedua sahabatnya itu.

"bagaimana keadaanmu? Ah aku sangat senang ketika tahu operasinya berhasil."oceh kyungsoo semangat.

"aku baik-baik saja. bagaimana kabar kalian berdua?"

"buruk! Aku mendapat dua nilai merah di ujianku kemarin." Keluh jongin dengan raut wajah kesal yang langsung membuat Luhan, Kyungsoo bahkan Mrs. Lu terbahak.

"kalau aku hanya mendapatkan nila A di semua mata pelajaran." Ucap kyungsoo bangga sementara Jongin hanya memutar matanya bosan. Luhan terkekeh melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.

"lalu, bagaimana dengan Sehun?"

Seketika Jongin, Kyungsoo dan Mrs. Lu tersendat. Wajah mereka terlihat kaget ketika mendengar pertanyaan Luhan tersebut. kedua namja itu saling bertatapan sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Luhan yang masih menunggu jawaban kedua sahabatnnya itu.

"ah! Sehun uhm.. di-dia.. dia baik-baik saja." Kyungsoo sedikit terbata.

"y-ya benar. Sehun baik-baik saja."tambah Jongin.

Luhan mengangguk pelan kemudian menarik ujung-ujung bibirnya sehingga membentuk senyuman. "Syukurlah. Firasatku tidak enak akhir-akhir ini."

Tak ada yang membalas perkataan Luhan tersebut. Jongin, Kyungsoo dan Mrs. Lu memilih untuk diam sebelum Mr. Lu datang dan langsung menghangatkan kembali suasana di kamar itu.


Luhan POV

Aku terduduk di atas ranjang mama dan baba, masih memegang secarik kertas putih dengan tangan yang bergetar. Mataku kembali membaca isi dari kertas itu. Aku menggigit bibir bawahku ketika mengetahui bahwa tidak ada yang salah disana.

Aku menatap mama yang entah sejak kapan sudah berada di kamar itu—menatapnya dengan tatapan seperti bertanya apakah semua yang kubaca adalah benar. mama menghampiriku kemudian duduk di sampingku, tangannya mengelus kepalaku lembut.

"mama, apakah ini benar?"tanyaku lirih, berharap mama akan menjawab bahwa semua yang kubaca itu salah. Tetapi dugaanku meleset, mama mengangguk pelan tanpa berkata apapun.

Hangat malam dimusim panas langsung menyergapku ketika aku berjalan cepat menuju rumah keluarga Oh—tak menghiraukan Mama yang memanggil-manggil namaku—aku tak peduli. Yang ada dipikiranku sekarang ialah mencari tahu alasan dari semuanya. Alasan mengapa Sehun mendonorkan hatinya untukku—untuk orang yang ia benci.

Kutarik nafasku dalam sebelum mengetuk pintu rumah keluarga Oh dan tak berapa lama sosok Mrs. Oh terlihat dibalik pintu. Ahjuma itu menatapku dengan tatapan kaget sebelum ia mempersilahkanku masuk. Aku mengambil tempat duduk di samping Mrs. Oh yang kini menatapku sendu—seperti sudah mengetahui alasanku datang kesana.

"kenapa, mrs. Oh? Kenapa Sehun mendonorkan hatinya unutkku?" suaraku bergetar, air mataku seperti ingin keluar tetapi aku berusaha menahannya.

Mrs. Oh terdiam sejenak sebelum kembali menatapku dengan tatapan sendunya. "Luhan, sebenarnya aku tak ingin menceritakan ini padamu." Mrs. Oh berhenti sejenak. "aku sudah berjanji pada Sehun, tetapi kurasa kau harus tahu semuanya."

Aku hanya diam, mempersilahkan Mrs. Oh memulai ceritanya.

"Sehun mengalami kecelakaan ketika ia hendak pergi menjengukmu di rumah sakit."

Batinku seperti dipukul sangat kuat ketika mendengarkan kalimat Mrs. Oh tersebut. air mataku tak bisa kutahan lagi, aku mulai terisak di depan Mrs. Oh. Sedih, Kaget, dan juga Takut bersatu padu dan membuat air mataku semakin membanjiri pipiku. Sejujurnya aku tak ingin lagi mendengar apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh Mrs. Oh—aku Takut. Takut jika aku akan mendengar sesuatu yang lebih buruk lagi.

"Sehun koma, tetapi sebelum ia tidak sadarkan diri ia meminta agar hatinya didonorkan untukmu. Dia juga meminta agar semua ini dirahasiakan darimu, baik soal kecelakaannya dan juga soal donor hati itu."

Aku semakin terisak. Tubuhku bergetar hebat, seperti semua tulang-tulangku sudah tidak bisa lagi menahan tubuhku. Sehun, kenapa? Kenapa kau melakukan ini semua untukku?

"Lalu, bagaimana keadaan Sehun sekarang? Dia baik-baik saja kan?" tanyaku ditengah isakanku. Aku tak bertanya alasan Sehun melakukan itu semua, yang ada di pikiranku saat itu adalah keadaan Sehun. Mrs. Oh kembali terdiam, air mata terlihat menggumpal di ujung mata hazelnya dan membuatku semakin tidak tenang. Tiba-tiba sesuatu melintas di pikiranku yang langsung kutepis jauh-jauh—sehun, kau tidak meninggalkanku bukan?

"mrs. Oh, tolong katakan padaku, Sehun baik-baik saja kan?" suaraku meninggi. aku tahu kelakuanku memang tidak pantas, tetapi ketakutan telah menguasaiku—ketakutan jika sesuatu yang melintas di pikiranku itu benar-benar terjadi.

Air mata mrs oh akhirnya menetes dan itu membuatku mengetahui bahwa hal buruk terjadi pada Sehun. tolong, jangan katakan bahwa dia—bahwa dia meninggalkanku. "Luhan, akibat kecelakaan dan Luka parah yang Sehun alami, dia—"

Aku tersendat, mataku membulat dan sekujur tubuhku seperti beku kala itu. kala mataku menangkap sosok berambut soft pink dan bermata hazel itu—Sehun. aku mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa yang kulihat adalah benar-benar dirinya. Aku tidak salah, itu benar-benar Sehun! dia... tidak meninggalkanku.

"Luhan..."gumamnya pelan.


Aku dan Sehun duduk bersebelahan di pekarangan rumah keluarga Oh. Kami sama-sama menatap langit malam dalam diam. Aku melirik Sehun yang duduk bersandar di kursi rodanya kemudian menunduk dalam. Rasa bersalah menggerogoti hatiku kala itu. Sehun lumpuh dan itu semua karena aku, ya aku yang menyebabkan dia menderita seperti ini. Tetapi aku tidak mau munafik, jujur aku senang karena ternyata ia tidak meninggalkanku seperti apa yang kupikirkan beberapa saat lalu.

"maafkan aku, Sehun. maafkan aku karena telah menyakitimu." ucapku pada akhirnya. Entah sudah berapa kali aku meminta maaf pada Sehun sejak aku kembali ke sini, tetapi aku tak peduli. Kalaupun aku harus meminta maaf padanya milyaran kali sekalipun aku akan melakukannya.

Sehun tidak merespon. Ia hanya sibuk memperhatikan langit malam diatas kepalanya. Aku kembali terdiam, begitu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya tetapi entahlah, aku takut untuk menanyakannya.

"Luhan, kau tak perlu minta maaf padaku." Aku langsung menoleh pada Sehun ketika perkataan itu keluar dari bibirnya. Ia tidak melirikku, matanya masih terpaku pada bintang-bintang di atas sana. "Semua yang terjadi padaku tidak sepenuhnya adalah kesalahanmu."

"tidak, Sehun. semua adalah salahku. Aku meninggalkanmu dulu, aku mengusik hari-harimu, dan aku yang—"

"Aku yang seharusnya meminta maaf padamu..." Sehun memotong kalimatku. Ia akhirnya menatapku sejenak kemudian menundukkan kepalanya. Aku memilih untuk diam—membiarkan Sehun melanjutkan perkataannya. "Aku terlalu egois, hanya memikirkan perasaanku tanpa memikirkan perasaanmu. Aku tahu selama ini kau terluka karena aku, dan aku sama sekali tidak peduli. Kau tahu, aku selalu berusaha untuk semakin membencimu tetapi semakin aku berusaha, semakin aku menyakiti diriku sendiri karena akhirnya aku sadar bahwa perasaan sayangku padamu itu lebih besar dari rasa benciku padamu."

Tetes demi tetes air mata keluar dari dua iris hazel itu ketika ia kembali menatapku kemudian mendekapku dalam pelukannya dan menyandarkan kepalanya dibahuku. "Aku tak mau kehilanganmu. Karena itulah aku memintamu berjanji sekali lagi padaku, dan karena itulah aku...mendonorkan hatiku untukmu. Aku...tak ingin kau meninggalkanku untuk kedua kalinya, Luhan."

"Se-sehun..."aku terbata. Aku sama sekali tak menyangka bahwa Sehun akan mengatakan semua itu dan semuanya itu akhirnya menjawab pertanyaan-pertanyaan di pikiranku.

Sehun melepaskan pelukannya dan kembali menatapku dalam. Jari-jarinya yang hangat menyentuh pipiku yang basah. "Xiao Lu, maafkan aku." Bisiknya sebelum mencium bibirku lembut. Aku memejamkan mataku, menumpahkan semua kerinduan dan perasaan yang selama ini selalu kupendam. Tuhan, Kau memang selalu baik.

Kami melepaskan ciuman itu ketika pasokan udara semakin menipis. Sehun tersenyum seraya menghapus sisa-sisa air mata di pipiku. "aku sangat menyayangimu."

"tapi kau tidak bisa berjalan lagi dan itu karena—" Sehun meletakkan telunjuknya di bibirku sebelum kembali tersenyum.

"aku tak peduli. Yang penting aku bisa bersamamu." Ucapnya. "dan Xiao Lu, apa kau memaafkanku?"

Aku tersenyum kemudian mengangguk pasti. "ya, aku memaafkanmu." Sehun tersenyum untuk kesekian kalinya sebelum kembali mencium bibirku singkat.

"dan Sehun, apa kau memaafkanku?" tanyaku. Sehun terkekeh pelan lalu membawaku kedalam pelukannya.

"Tentu saja, Xiao Lu." Sehun mengelus kepalaku lembut.

Aku membalas pelukannya kemudian berbisik di telinganya. "terima kasih, Sehun. Terima kasih atas semuanya—terima kasih karena kau telah menyelamatkan hidupku."

"Apapun akan aku lakukan agar kau tidak meninggalkanku lagi."

"Kukira kau yang akan meninggalkanku."

"itu tidak akan terjadi, Xiao Lu."

aku dan Sehun tersenyum lalu menatap langit malam diatas kepala kami.

Seperti de javu, kami berada di sini, di tempat yang sama, di suasana yang sama, dan dibawah langit malam yang sama seperti delapan tahun lalu. tetapi Langit malam kali itu tidak menjadi saksi dari sebuah perjanjian melainkan menjadi saksi akhir dari sebuah penantian yang panjang, menjadi saksi dari arti sebuah pengorbanan, dan menjadi saksi bahwa rasa cinta dan sayang yang selalu mempersatuka.


Cinta dan kasih sayang, dua hal ajaib yang memiliki kekuatan yang sangat besar yang bisa memperbaiki hati yang dikuasai oleh kebencian dan bisa memperbaiki pikiran yang dikuasai oleh keegoisan.

THE END –


Note:

AAAAAAAAAA~ akhrinya ff ini tamat juga dengan ending yang tidak memuaskan hiks hiks.. Mian klo endingnya kependekan trus gak sesuai harapan Chingu-chingu sekalian TT TT sbenarnya saseum jg kecewa sma endingnya hiks knapa endingnya kyk gini? aaaaa /ok lupakan

saseum mau cerita-cerita dikit nih.. hehehe Sbenarnya konsep awal saseum sih, Sehun yang bkalan ninggalin Luhan untuk selamanya /eak/, tapi setelah dipikir-pikir kasian Luhan juga.. kayaknya dia gak pernah bahagia di ff ini hikseu TT TT nah maka dari itu Saseum akhirnya mutusin buat bkin fail Happy ending. Kekeke

oh ya, rencananya Saseum mau bkin sequel dari ff ini... jadi yg masih bingung sm ceritanya/endingnya silahkan review nanti saseum bklan lebih memperjelas di sequel nanti.. ^^

last, thanks buat yang udah ngikutin ff ini smpe final chapter n yg gak capek2 review.. mian saseum gak bisa sebutin satu2 tapi saseum berterima kasih banget buat chingu2 sekalian karena tanpa kalian Saseum gak bkln bisa slesein ff ini... GAMSAAA~ / Bow/

Ok itu aja, sampai jumpa di sequel Evening Sky ^^