Ohayou~ ah akhirnya update juga. Terima kasih buat yang sudah review! Aku gak nyangka aku bakal dapet sambutan yang baik dari penikmat . terima kasih! Arigatou! Hatur nuhun!
oke oke, mari kita lanjutkan ceritanya.

Bleach Original Character by Tite Kubo

This Fanfiction by Ichikia


Chapter 2 : First Date?

Jam masih pukul 06.45. Tidak seperti biasanya, Toushiro sudah berada di sekolah. Dengan santai, Toushiro berjalan menyusuri lorong menuju kelasnya. Tidak terburu-buru seperti kemarin-kemarin.

"Oi, Toushiro!"

Toushiro menghentikan langkahnya dan memutar badannya saat Ggio dan Yukio berjalan ke arahnya.

Toushiro mengerutkan keningnya bingung. "Kalian darimana?" tanya Toushiro.

"Kami dari…"

"Ruang kesehatan," potong Yukio.

Toshiro mengalihkan pandangannya pada perban yang terbalut di tangan kiri Ggio.

"Kenapa Ggio?" tanyanya.

"Eh, i-itu, hm…" Ggio menengok kanan kiri, berusaha mencari alasan.

"Dia dihajar Soifon," potong Yukio -lagi. Ggio melempar tatapan tajam pada Yukio. Yang ditatap hanya membetulkan letak topi hitamnya –salah satu benda yang jadi trademark-nya selain PSP.

"Kenapa dia bisa dihajar Soifon?" tanya Toushiro penasaran.

"Dia mengendap-endap ke bangkunya."

"Untuk apa?"

"Menaruh cokelat di loker mejanya."

"Yukio!"

"Lalu?"

"Soifon memergokinya dan mengira Ggio akan melihat tugas kimianya, dan dia menjatuhkan Ggio dari lantai dua."

Toushiro bergidik ngeri. Tetapi kemudian ia berusaha menahan tawa. Wajah Ggio memerah menahan malu.

"Awas kau Yukio, aku akan membocorkan rahasiamu," ancam Ggio.

Yukio mengangkat sebelah alisnya, "Rahasia apa?"

Ggio menyeringai licik. "Hehe, kau harus bersyukur. Hanya aku yang tahu soal ini, Yukio Hans Vorarlberna. Tentang Riruka-senpai." Kedua sudut bibirnya membentuk seringai licik.

Kedua mata Yukio membulat. "Hei, apa maksudmu−"

"Riruka-senpai? Gadis Seribu Boneka yang galak itu? Bagaimana ceritanya?" sela Toshiro penasaran.

"Khekhekhe… sayang sekali, kau tidak tahu Toushiro. Waktu itu kau belum pindah ke Karakura. Saat SMP, Yukio pernah memberikan hadiah ulangtahun untuk Riruka-senpai. Hadiah itu adalah sepasang kelinci mahal yang Yukio beli dengan mengorbankan seluruh tabungannya untuk membeli PSP baru. Tapi kau tahu? Riruka-senpai takut kelinci! Ia juga alergi pada bulu kelinci! Selama seminggu ia harus dirawat karena alerginya tidak sembuh juga. Dan dia mengancam Yukio, jika Yukio mendekatinya lagi maka ia akan patahkan PSPnya."

Ggio tertawa jahat melihat wajah Yukio memerah padam. Toushiro juga tidak sanggup lagi menahan tawanya. Sudut bibir Yukio membentuk lengkungan ke bawah, alisnya menukik tajam.

"Dasar rambut kepang!" geram Yukio. Ggio memandang Yukio tajam.

"Siapa yang kau maksud rambut kepang, eh? Dasar maniak game!"

"Kau! Sepatu buluk!"

"Topi buluk!"

Toshiro menghentikan tawanya dan sweatdrop melihat kedua sahabatnya adu mulut. Tiba-tiba ia mendengar suara manis memanggilnya namanya. "Shiro-kun!" Toshiro berbalik dan melihat Rukia melambaikan tangannya dari arah kelas Toshiro. Sedang apa Rukia-senpai di kelasku? Tanya Toshiro dalam hati. Rukia berlari menghampiri Toshiro.

"A-ada apa, s-senpai?" tanya Toshiro terbata-bata. Rukia menaruh kedua tangannya di pinggangnya.

"Kau ini, kenapa suaramu terbata-bata begitu? Kau pikir aku ini youkai yang menakutkan?"

Toshiro menggeleng cepat. "Bu-bukan, bukan begitu senpai. Aku hanya tak menyangka senpai akan mencariku."

"Aku hanya ingin memberi ini padamu," Rukia menyodorkan sebuah tiket pada Toushiro. Toushiro menerima tiket itu dengan bingung.

"Selasa nanti, akan ada pentas drama di Gedung Kesenian Karakura. Aku menjadi pemeran utama, lho! Jadi kau harus menonton dramaku. Ini tiket eksklusif, dan pentas dimulai jam tiga. Baiklah, aku akan kembali ke kelas, Matta Ashita, Shiro!"

Toushiro masih terpaku di tempatnya. Ia memandang tiket di tangannya. Tiba-tiba Ggio dan Yukio sudah muncul di samping Toushiro. Pertengkaran mereka berhenti seketika.

"Wah, senangnya dihampiri senpai idaman…" goda Yukio.

"Hm, sampai mencari ke kelas lagi… apa yang sudah kau lakukan, Shiro-kun~" Ggio tersenyum lebar-lebar. Toushiro terbelalak kaget melihat ekspresi menakutkan Ggio dan refleks meninju Ggio sampai terpental.

"Tanganku… wajah imutku… kau sudah merusaknya, Shiro~ kau harus tanggung jawab!" ujar Ggio dengan tangis bombaynya.

"Salah sendiri! Kau mau menyaingi death smile milik Ichimaru-sensei? Kau mengangetkanku!" bentak Toshiro pada Ggio.

"Yukio~ Shiro jahat padaku! Hiks… hiks…" Ggio berusaha memeluk Yukio, sebelum terjatuh karena Yukio sudah keburu pergi sebelum Ggio berhasil memeluknya.

"Hiks, kenapa semua jahat padaku! Kami-sama tidak adil…" Ggio merengek sambil berguling-guling tidak jelas, membuat siswa-siswa di sekitarnya sweatdrop seketika.

Di kediaman Ichimaru

"Hatsyiii!" Gin mengusap hidungnya. Sup miso yang baru saja disuapkan ke mulutnya menghambur keluar.

"Gin, kau sakit?" tanya sang istri, Rangiku Ichimaru yang mengintip dari pintu dapur. Gin menoleh pada Rangiku yang tampak khawatir.

"Tidak apa-apa, Ran-chan. Aku sehat," jawab Gin.

"Hm, baiklah~ kalau begitu bersihkan sup miso itu, dan cepat berangkat!" perintah Rangiku sambil kembali ke dapur. Ini flu atau ada yang membicarakanku ya? Fikirnya sambil mengusap-usap hidungnya.


Hari yang ditunggu tiba. Toushro datang paling awal dan duduk di bangku paling depan. Sebenarnya ia tak pernah suka drama. Tapi daripada ia menerima ajakan Momo untuk datang ke konser musik dengannya dan Kira, maka ia akan lebih memilih menonton drama Rukia. 'Ini demi pendekatanku dengan Rukia-senpai!' pikirnya. Toushiro memperhatikan sekitarnya. Teater masih sepi, baru beberapa orang yang datang. Toshiro pun memutuskan untuk menemui Rukia di belakang panggung.

"Kau tidak bisa datang? Ah, ayolah~ apa kau benar-benar tidak bisa melihat nee-chan tampil?" Rukia tampak sibuk mendengar penjelasan orang yang di telepon. Toushiro mengerutkan alisnya. Apa Rukia-senpai punya adik? Tanya Toushiro dalam hati.

"Pertandingan karate? Ah ya, maaf aku lupa. Gomenasai. Ya sudah, semoga sukses dengan pertandingan karatenya. Dan doakan nee-chan juga ya! Jaa!" ucap Rukia sambil menutup teleponnya.

Toushiro mengingat-ingat tentang pertandingan karate yang pernah dibicarakan Hanatarou, teman sekelasnya. Sekolahnya juga mengirimkan beberapa kontingen untuk turnamen itu. Dan yang paling diunggulkan di turnamen itu adalah Karin Kurosaki. Ya, tidak percuma sikap kasarnya itu, toh sikapnya itu bisa menjadi kelebihan untuknya. Dia memang gadis yang menyebalkan, selalu membuatnya marah, tapi dia he… hey! Kenapa aku jadi memikirkannya! Toushiro menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran aneh yang masuk ke dalam otaknya.

"Shiro-kun?"

Toushiro tersentak kaget. Ia mengelus dadanya. "Rukia-senpai membuat aku kaget saja."

Rukia tertawa. "Kau yang membuatku kaget! Tahu-tahu ada di belakangku. Apa yang kau lakukan?" tanyanya sambil melipat tangan di depan dadanya.

Toushiro mengusap lehernya dan menggeleng. "Tidak. Aku hanya bosan. Aku datang terlalu awal sepertinya. Jadi aku putuskan untuk menemuimu untuk mengobrol sebentar, sambil menunggu pentasnya dimulai," jelas Toshiro. Rukia menepuk kursi di sebelahnya. "Duduklah."

Toushiro duduk di samping Rukia. Hening menghampiri di antara Toshiro dan Rukia. Rukia yang mulai merasa tidak nyaman berusaha memecah keheningan dengan berdeham. "Kau bilang mau mengobrol kan? Kenapa diam saja?" tegur Rukia.

Toushiro berusaha mencari-cari topik untuk memulai pembicaraan. Aha! Toushiro akan menanyakan tentang telepon yang tadi diterima Rukia. "Rukia-senpai, apa—"

"Kuchiki! Cepat ke sini! 10 menit lagi kita akan tampil!" teriak sesorang di ruangan lain.

"Ah, baiklah, Youruichi-dono! Shiro-kun, sebaiknya kau cepat kembali. Sepuluh menit lagi aku akan tampil," Toushiro mengangguk. Rukia bangkit dan segera menghampiri Youruichi-dono. Toushiro lalu bangkit dan kembali ke tempatnya. 'Padahal baru saja aku akan menanyakannya,' batin Toushiro.

Ia duduk di kursinya tadi. Sudah banyak orang yang memenuhi gedung ini. Lampu di gedung itu meredup, lalu mati. Tirai panggung mulai terbuka dan pentas drama pun dimulai.


"Tidak! Jangan bunuh aku!" mohon seorang pemuda pada seorang wanita berkimono putih. Wanita itu mendekatkan wajahnya pada pria di depannya. Ia terdiam sejenak.

"Baiklah, aku tak akan membunuhmu. Tapi kau harus menuruti syarat ini. Jangan pernah menceritakan hal ini kepada siapapun. Kalau kau melanggarnya, maka kau akan langsung kubunuh."

Toushiro terpukau dengan akting Rukia yang berperan sebagai wanita salju. Rukia-senpai menakjubkan! Puji Toushiro. Ia terhanyut dalam cerita juga akting Rukia yang kelihatan begitu natural. Seakan-akan dia adalah Yuki-onna yang sebenarnya.

Tepuk tangan riuh menggema saat pentas drama selesai. Semua aktor dan aktris membungkuk hormat pada penonton. Rukia mengedipkan sebelah matanya kearah Toushiro, membuat Toushiro merona. Tirai pun ditutup. Perlahan-lahan lampu mulai hidup lagi, dan orang-orang mulai berjalan keluar. Toushiro berjalan menuju ruangan persiapan tadi, untuk menemui Rukia. Ia menunggu di depan pintu ruang persiapan.

Rukia membuka pintu dan menemukan Toshiro sudah menunggunya. Ia tersenyum. "Shiro-kun," sapanya. Toushiro menengokkan kepalanya dan tersenyum pada Rukia. Mereka pun berjalan keluar bersama.

"Rukia-senpai, aktingmu tadi sangat bagus," puji Toshiro. Rukia ia tertawa pelan sambil tersipu malu.

"Terima kasih, Toushiro-kun," jawabnya. Toushiro mengalihkan pandangannya lalu mengusap lehernya. Lagi-lagi senyuman manis Rukia membuatnya gugup. Ia benar-benar merasa ia bukan dirinya lagi saat bersama Rukia. Rukia dan Toushiro tetap berjalan bersama, dengan suasana hening di antara mereka.

"Kau bilang tadi ada yang ingin kau tanyakan, Shiro-kun?" Toushiro mengalihkan pandangannya lagi menghadap Rukia. Ia menerawang, mengingat apa yang tadi akan ia tanyakan. Tapi Toushiro hanya meringis pada Rukia.

"Ehehe… sepertinya aku lupa, senpai," gumam Toushiro. Rukia mengalihkan pandangannya pada jalan-jalan yang ramai dengan kerumunan orang-orang.

"Em… Kau suka vanilla, Shiro-kun?" tanya Rukia berusaha memulai percakapan. Toushiro menoleh lagi pada Rukia. Ia mengangguk gugup. "Aku suka, Rukia-senpai."

Rukia tersenyum dan mengacak-acak rambut Toushiro. Toushiro tersenyum dengan terpaksa dengan perlakuan Rukia. Biasanya, ia sudah mengomel jika diperlakukan seperti ini. Sekali lagi, Toushiro tak pernah suka diperlakukan seperti anak kecil. Hei! Walaupun tingginya hanya 133 cm, umurnya sudah 15! Ia sudah dewasa dan tak mau dianggap anak kecil. Dengan catatan. Kecuali untuk Rukia.

"Ternyata selera kita sama. Ayo kita makan es krim!" ajak Rukia. Tanpa bisa diantisipasi, Rukia menarik tangan Toushiro dan berlari. Toushiro yang terkejut hanya mengikuti kemana ia akan dibawa pergi oleh Rukia. Senyum terpaksa Toushiro digantikan dengan senyuman gembiranya. Ah, ia rela menjadi anak kecil lagi, asal Ia bisa bersama Rukia!


Cuaca Kota Karakura sangat cerah hari ini. Musim semi baru saja akan berakhir, digantikan dengan musim yang ditunggu semua siswa, musim panas. Langit cerah dengan beberapa awan menaungi warga Karakura. Tiga remaja laki-laki sedang berdiam di atas atap gedung sekolah, menikmati suasana hangat musim semi.

"Oi, Toushiro. Apa yang sudah kau dapatkan tentang Kuchiki-senpai selama satu bulan ini?" tanya Ggio.

Toushiro menggeleng, "Tidak banyak. Hanya hobinya, makanan kesukaannya, kesukaannya pada kelinci, dan musik favoritnya. Itu saja."

Ggio menggeleng-geleng. "Hanya itu?" Toushiro tidak bisa melakukan apa-apa selain mengangguk.

"Kapan kau akan mengatakannya pada Kuchiki-senpai?" tanya Ggio tanpa beranjak dari posisi sebelumnya. Pertanyaan Ggio barusan menyadarkan Toushiro dari lamunannya. Ia menunduk, dan menghela nafas. "Aku tidak tahu."

Ggio mengubah posisinya menghadapkan dirinya pada Toushiro. Ia menatap sahabatnya penuh tanda tanya. "Bukankah sudah sebulan ini kalian sudah cukup dekat? Jangan fikirkan soal apa yang dia suka, keluarganya, atau lainnya. Sebulan sudah cukup, kenapa kau tidak memberitahunya saja?" desak Ggio. Toushiro menggeleng. Ggio menghela nafas dan kembali ke posisinya yang semula.

"Kau harus segera memberitahunya. Kau lupa, dia itu punya banyak penggemar. Bisa saja ada salah seorang penggemar menyatakan perasaannya duluan sebelum kau. Jangan banyak membuang waktu lagi, apalagi untuk menyatakan cinta."

Toushiro takjub pada kata-kata Ggio. Walaupun diantara ia, Ggio, dan Yukio, Ggio-lah yang paling konyol, tapi kalau sudah serius ia bisa jadi yang paling bijak. Ia juga yang selalu menyemangati Toushiro untuk mendekati Rukia.

Yukio yang sibuk dengan PSP-nya mem-pause game-nya dan ikut campur dalam percakapan ini.

"Hei, Shiro, dengarkan kata-kataku dan Ggio. Cinta itu seperti game. Kau harus berjuang untuk memenangkannya. Kau tidak boleh takut kalah dalam sebuah game. Kalau kau sudah takut sebelum kau menang, maka sebaiknya kau tak perlu memainkan game itu." tambah Yukio. Ia kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda –bermain game.

Toushiro merenungkan kata-kata kedua sahabatnya. Ia lalu tersenyum, lalu bangkit.

"Baiklah, aku akan beritahu ia besok."

Sontak Ggio dan Yukio terbelalak kaget. "Hei! Kau terlalu cepat! Kau lupa kalau besok kita akan menonton pertandingan basket bersama-sama?" seru Ggio.

"Bukankah kau yang bilang agar tidak membuang-buang waktu? Dan untuk janji besok, kita batalkan. Kalian harus membantuku besok!" titah Toushiro seenaknya. Ia berjalan santai tanpa memerdulikan Ggio dan Yukio yang terpaku di tempat. Yukio mendelik kesal pada Ggio.

"Ini salahmu, Ggio! Kalau saja kau tidak mengatakan itu pada Toushiro, ia tidak akan membatalkan janji kita besok!" tuduh Yukio.

"Hei! Kau juga ikut berpartisipasi kan? Ini juga salahmu!" elak Ggio.

"Bodoh, ini salahmu!"

"Salahmu!"

"Salahmu!"

"Salahmu!"

"Rambut kepang!"

"Maniak game!"

Toushiro turun dari atap sekolah. Ia berlari menelusuri koridor kelas 11 untuk mencari Rukia. Berawal dari kelas 11-2, kelas Rukia. Rukia tidak ada, tidak ada yang tahu pasti ia kemana. Keringat mengalir dari pelipisnya. Setelah lelah Ia berhenti dan bersandar pada dinding, mengatur nafas. Di setiap sudut yang ia datangi, Rukia-senpai tidak ada. Salah satu temannya bilang mungkin ia ke Ruang Guru. Ia bangkit lagi untuk mencari Rukia di Ruang Guru. Tapi kemudian ia tersenyum, saat melihat Rukia sedang membaca majalah dinding di koridor.

"Rukia-senpai!" Gadis bermata ungu itu menoleh. Rambut pendeknya ikut bergoyang seiring gerakan kepalanya. Ia tersenyum saat melihat orang yang memanggilnya.

"Shiro-kun! Ada apa? Kenapa kau sampai lari-lari begitu?" tanya Rukia. Toushiro membalas senyuman Rukia dengan cengiran lebar.

"Aku mencari senpai. Oh, ya, apakah besok senpai bisa datang ke Taman Karakura? Ada yang harus aku bicarakan." serbu Toushiro tanpa berhenti. Ia takut gugup lagi dan lupa apa yang kan ia bicarakan.

Rukia tampak berpikir mendengar ajakan Toushiro. "Jam berapa?" tanyanya.

"Jam satu siang." tukas Toushiro. Rukia tersenyum dan mengangguk mengiyakan. "Hanya membicarakan sesuatu kan? Baiklah. Aku tak bisa berlama-lama besok."

Toushiro mengangguk. "Baiklah, Shiro-kun. Aku harus kembali ke kelas. Sampai jumpa besok!" Rukia berbalik dan berlari menuju kelasnya sambil melambaikan tangannya. Toushiro tersenyum sumringah menatap punggung Rukia yang semakin menjauh. 'Besok, aku harus berdandan yang tampan,' batinnya sambil mengelus dagu.

TBC


Yosh! chapter 2 edited! atas saran para senpai di fic ini, aku ubah sedikit bagian dari chapter ini. gimana senpai? apa sudah cukup? hehe, maaf ya agak lama gak mampir dan update lagi, habis pulsa modem abis 3 chapter 3 menyusul tak lama setelah ini, insyaAllah. review chapter 2 aku bales lewat pm atau di chapter 3. arigatou!

Balasan review!

Wintersia: terima kasih senpai~ hehe maaf buat typo-nya, aku usahakan di chapter ini ga banyak typo-nya ^_^ hehe kebetulan ya bisa sama pen-name-nya. Terima kasih senpai!

Ririi-chan: tos juga! Makasih ya buat review-nya, fic kamu aku tunggu ya!

NightRin: salam kenal juga! Ohoho masa sih… kalau begitu terima kasih! Semangat buat nulis!

Guest: ini udah update kok! ^^

Hikary Cresenti Ravenia: wah, makasih senpai… senpai yang paling pertama review lho! Tulisannya ke bold ya? Hehe, aku juga ga tau kenapa bisa jadi gitu semua, nih. Tapi aku usahakan tulisannya normal lagi di chapter ini.

Arigatou minna yang udah menikmati ceritaku. Jangan lupa, R&R ya! ^_^