Yo, minna! chapter 3 update! cuma mau ngingetin, beberapa bagian awal chapter ini aku pindahin ke chapter 2 bagian akhir. jadi jangan lupa baca chapter 2 dulu ya, karena kalau langsung baca chapter ini nanti ga nyambung .-. enjoy!
Bleach Original Character by Tite Kubo
This Fanfiction by Ichikia
Chapter 3 : Toushiro's Confession
Kediaman Hitsugaya, jam 11
Toushiro membuka-buka lemarinya. Ia masih belum menemukan baju yang cocok untuknya. Sementara Ggio dan Yukio yang datang sama sekali tidak membantu. Ggio berbaring di kasur Toushiro sambil sms-an dengan pacar barunya, Apache. Yukio bermain dengan pacar lamanya, PSP yang sudah ketinggalan jaman tiga generasi.
Ggio mendudukan pantatnya di kasur Toshiro. Ia memperhatikan Yukio yang masih sibuk dengan Poppy —PSP kesayangan—nya.
"Oi, Yukio. Bukankah kau orang kaya? Kenapa PSP butut itu masih kau pakai? Kenapa kau tidak membeli yang baru saja?" seru Ggio pada Yukio. Yukio mendecih tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kau lupa? Seluruh uang tabunganku hampir habis karena membeli makhluk mengerikan bernama kelinci itu. Kartu kredit dan gadgetku juga disita saat Tou-san tahu uang tabunganku habis. Tapi Tou-san menganggap aku sudah terlalu bosan dengan Poppy, makanya ia membiarkan Poppy bersamaku. Nah, Ggio, ini membuktikan bahwa Poppy setia padaku bahkan ketika aku tak punya uang lagi," jelas Yukio —sok menasihati.
Ggio mendecih. "Kau mengencani PSP-mu? Apa kau sudah gila karena ditolak Riruka senpai?! Yukio, lihat aku! Walaupun aku ditolak Soifon, aku bisa mendapatkan Apache! Kau jangan putus asa begitu!"
Yukio mem-pause game-nya lalu menengok pada Ggio. "Aku tidak putus asa Ggio. Lagipula, daripada aku ribet dengan makhluk bernama perempuan itu, lebih baik aku terus bersama Poppy yang setia padaku. Setidaknya, Poppy tak akan membuatku patah hati," cetusnya, lalu kembali pada Poppy.
Ggio menghela nafas, menyerah pada kegilaan Yukio. "Terserah kau saja."
"Hei, bantu aku! Kalian datang ke sini bilang ingin membantuku, kan? Kalian hanya menghabiskan makanan saja!" omel Toushiro. Di sekitar Toushiro, selain baju-baju yang berantakan, bungkus-bungkus makanan juga tergeletak begitu saja. Ggio hanya menampakkan gigi-giginya dengan seringai kuda, lalu menyahut omelan Toushiro.
"Kau ini seperti perempuan yang baru pertama kali diajak kencan saja. Padahal kan kau yang mengajak kencan! Kau hanya perlu mandi seperlunya dan pakai baju yang mana saja, perempuan kalau sudah suka menerima apa adanya," usul Ggio asal. Bletak! Sebuah buku —yang entah darimana— mendarat di kepala Ggio. Ggio mengelus-elus kepalanya.
"Yang dikencaninya itu bangsawan, bodoh!" cela Yukio yang masih setia memandangi Poppy sambil memencet-mencet tombolnya.
Toshiro membuka-buka lemarinya sekali lagi. Dia mendesah dan duduk di samping kasurnya. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah celana jins dan kaus hitam. Juga sebuah jaket putih. Hm, tinggal ditambah sepatu sport putih. Gotcha! Toshiro tersenyum puas. Ia bergegas masuk ke dalam lemari klosetnya, dan mengganti bajunya dan mencocok-cocokkan potongan baju dan celana yang dipilihnya tadi. Toushiro keluar dari klosetnya, dan segera memakai kaus kaki dan sepatu sport-nya, lalu bergegas turun. "Aku berangkat!" serunya dari bawah.
Dua orang di kamar Toushiro terdiam. Tiba-tiba Ggio teringat dengan buku yang membuatnya sakit kepala. "Yukio, kau yang melemparkan buku ini ya?" selidik Ggio sembari mengacungkan buku panjang hitam yang tadi mengenai kepalanya. Yukio mempause game-nya dan menoleh, dia mengambil buku itu lalu menatap Ggio.
"Jangan bodoh. Mana mungkin dengan jarak kita sedekat ini, aku yang melempar buku ini padamu? Lagipula, aku lebih berminat memainkan Poppy daripada memukulmu dengan buku," sanggah Yukio.
Ggio mengerutkan keningnya. "Toushiro?"
"Dia sibuk memilih-milih baju di klosetnya, mana mungkin ia menaruh buku ini di lemari klosetnya!"
Mata Ggio membulat. "Lalu, siapa yang melempar ini…"
Ggio dan Yukio mendengar sebuah suara berat berdeham. Mereka mendongakkan kepala pada asal suara berat itu. "Hm, maaf, kurasa buku itu milikku." Seekor, sebuah – atau apalah namanya, makhluk raksasa, dengan wajah seperti topeng badut dan tubuh dari kerangka tulang. Ia menyeringai menampakan giginya yang tajam.
"Huwaaaaa!" pekik Ggio dan Yukio. Mereka membuka pintu dan langsung lari terbirit-birit. Makhluk itu mengerutkan keningnya, dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Apa mereka tidak pernah mendengar cerita shinigami? Apa mereka tidak pernah membaca komik yang tokohnya aku? Ah, masa bodoh, aku hanya ingin mengambil buku ini," ujar makhluk itu. ia mengetuk-ngetukan pulpennya pada dagunya. "Gara-gara dua bocah itu, aku jadi lupa siapa yang akan kubunuh," keluhnya.
Rukia berdiri di dekat sebuah pohon besar. Terusan ungunya berkibar-kibar mengikuti arah angin. Sudah limabelas menit Rukia menunggu, tapi Toushiro belum juga datang. Ia mengetuk-ngetukan kakinya pada tanah.
'Shiro-kun mengatakan kalau akan mengatakan sesuatu yang penting? Apa ya?' tanya Rukia dalam hati. Ia melihat jam tangan putih yang melingkar manis di pergelangannya. Rukia mulai gelisah. Tepat setelah ini, ada janji yang tak kalah penting untuknya.
Toushiro berlari terburu-buru. "Rukia-senpai!" Rukia refleks menoleh pada suara yang memanggilnya. Ia melambaikan tangannya pada Toushiro. Toushiro menghentikan larinya saat sampai di depan Rukia. Ia berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah. "Maaf, aku terlambat, senpai."
Rukia tersenyum maklum. "Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, hari ini kau keren, Shiro-kun," puji Rukia. Toushiro menyengir dan memegang tengkuknya. Kebiasaan yang tak pernah hilang saat ia gugup. Pipinya juga ikut berpartisipasi menambah tanda kegugupannya, memerah.
"Jadi… apa yang ingin kau bicarakan? Kuharap cepat, aku ada urusan lain setelah ini." Toushiro menarik nafas dalam, mempersiapkan kata-kata yang akan ia katakan. Kau pasti bisa, Shiro! Batin Toushiro. Rukia melipat tangan di depan dadanya, menunggu.
"Rukia-senpai, aku…"
"... Ya? Kau kenapa, Shiro-kun?"
"Aku... aku menyukaimu, senpai." Rukia terkejut, tapi dengan rapi ia menyembunyikan ekspresi terkejutnya dengan tersenyum. Toushiro mendongakkan kepalanya, kini ialah yang menunggu. Rukia memainkan jari-jarinya, berusaha menemukan kata-kata yang pas agar Toushiro dapat mengerti. Ia menggigit bibirnya gugup. "Hm, maaf, tapi Shiro-kun, aku hanya menganggapmu sebagai adikku." Wajah Toushiro yang semula penasaran dengan jawaban Rukia, kini menunduk lemah, dan mengalihkan pandangannya.
"Begitu ya," gumamnya lesu. Rukia tersenyum sambil memainkan jari-jarinya. Ia memandang awan yang berarak di langit.
"Waktu kecil, aku sangat ingin punya adik. Apalagi adik laki-laki. Tapi Tou-san dan Kaa-san sangat sibuk dengan pekerjaan. Aku sangat senang ketika aku kelas enam SD, Kaa-san bilang Kaa-san sedang mengandung adikku. Tapi sayang, Kaa-san keguguran, dan dokter mengatakan Kaa-san takkan bisa mengandung anak lagi." tutur Rukia. Toushiro terkejut dengan cerita Rukia. "Makanya, saat aku bertemu denganmu, aku senang sekali. Sejak kita bertemu aku telah menganggapmu sebagai adikku."
Toshiro tersenyum pahit. Lalu dia teringat dengan pembicaraan Rukia di telepon tempo hari.
"Hm, Rukia-senpai… aku tahu aku tidak sopan, tapi waktu itu kau menyebut dirimu nee-chan dengan seseorang di telepon, saat pentas drama waktu itu. Kau juga menyebut kejuaraan karate. Apakah dia… juga orang yang kau anggap sebagai adik laki-lakimu?" tanya Toushiro. Senyum Rukia mengembang sekali lagi.
"Oh, itu… itu adalah Karin-chan. Aku menyuruhnya untuk datang juga ke pentas dramaku. Saat aku ke kelasnya, dia bilang ia akan datang. Tapi ternyata, pentasku bentrok dengan kualifikasi turnamen karatenya yang dimajukan."
Toushiro mengangguk mengerti. Jadi benar dugaannya. "Lalu, sebenarnya apa hubungan senpai dengan Kurosaki?" tanya Toshiro hati-hati. Rukia masih tersenyum manis.
"Karin-chan adalah… calon adik iparku!"
Toushiro mengangguk. Tapi, tunggu dulu! Mata Toushiro membulat, keningnya berkerut. Karin? Calon adik ipar? Bukankah Karin hanya mempunyai satu kakak laki-laki? Dan dia adalah…
"Rukia!" Toushiro dan Rukia mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu. Seorang pemuda berambut orange berlari menghampiri Rukia. Kebingungan Toushiro terjawab.
"Kurosaki-kaichou?"
Ichigo menghirup nafasnya dalam lalu menghembuskannya. Ia tersenyum pada Rukia. "Aku pikir aku datang terlalu awal. Ternyata kau sudah duluan." katanya pada Rukia. Ichigo menoleh pada Toushiro di samping Rukia. "Eh, ternyata ada Toushiro juga," ujarnya sambil tersenyum ramah. Kebiasaan ramahnya -walaupun kerutan yang menyeramkan dikeningnya- tak pernah hilang. Toushiro hanya mengangguk lemah.
"Kita jadi kan ke Karakura Wonderland-nya? Stand Chappy akan tutup jam setengah empat sore, kata Ishida. Kita harus cepat-cepat," jelasnya pada Rukia. Rukia mendongakkan kepalanya pada Ichigo dan mengangguk, lalu menoleh pada Toushiro.
"Shiro-kun, aku pergi dulu." Toushiro tersadar dari keterkejutannya lalu menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung. "Iya, Baiklah… Rukia-nee. Bolehkah aku memanggilmu begitu?" tanya Toushiro. Rukia tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja boleh."
"Baiklah, Toushiro. Aku dan Rukia pergi dulu. Jaa naa" Pamit Ichigo. Ia dan Rukia melambaikan tangannya pada Toushiro. Toushiro membalas lambaian tangan Ichigo dan Rukia dengan lesu. "Jaa naa, Kurosaki-Kaichou, Rukia-nee."
Toushiro memandang lesu pada punggung kedua orang yang saling berangkulan itu. Raga mereka semakin jauh dari pandangannya. Toushiro menghempaskan tubuhnya pada rumput di bukit taman Karakura lalu mendengus keras.
"Cintamu ditolak, eh?"
Toushiro menengok pada pemilik suara itu. Seorang gadis berambut hitam dan berkuncir satu, Kurosaki Karin. Ia mendecih dan berusaha tidak peduli pada gadis itu. "Cih, bukan urusanmu, Kurosaki. Lagipula apa yang kau lakukan disini?"
Ia menatap Toushiro yang sedang berbaring. "Aku disuruh oleh si Baka Oyaji itu untuk mengawasi mereka. Ini giliranku untuk mengawasi setelah Yuzu bulan lalu."
"Cih, berkencan sambil diikuti? Itu menyebalkan."
Karin menghampiri Toushiro dan duduk di samping Toshiro yang terbaring. Sesaat hening diantara mereka sebelum Karin membuka percakapan.
"Kau beruntung, kakakku bukan tipe orang overprotektif dan posesif terhadap Rukia-nee. Dia juga tak pernah marah walaupun Rukia-nee menceritakanmu setiap hari."
Toushiro mendelik pada Karin, "Kau bohong." Karin membalas pandangan Toushiro dengan pandangan bosan andalannya, "Tentu saja tidak, bodoh. Kau bisa tanya pada Oyaji, Kaa-chan, atau Yuzu bahwa Rukia-nee selalu menceritakan 'adik barunya' saat makan malam bersama kami."
"Rukia-nee dan kaichou, mengapa mereka tidak pernah terlihat bersama saat di sekolah? Hubungan mereka juga tidak ada yang tahu," tanya Toushiro. Karin menengok pada Toushiro, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Tentu saja tidak akan. Fans Rukia-nee dan Ichi-nii kan banyak. Mungkin untuk Ichi-nii, fans Rukia-nee tidak jadi masalah. Tapi untuk Rukia-nee, fans Ichi-nii akan membawa bencana. Mereka fans yang sadis. Dan yang tahu hubungan ini hanya keluarga kami, keluarga Rukia-nee, dan sahabat dekat mereka saja."
"Bahkan orangtua mereka juga sudah tahu?"
"Tentu saja. Sejak awal mereka memang dijodohkan. Dan kebetulan, mereka ternyata saling menyukai sebelum perjodohan ini. Dan setelah tahu perjodohan ini… mereka jadi berpacaran. Orangtuaku dan orangtua Rukia-nee juga sudah setuju, untuk langsung melaksanakan pertunangan mereka bulan depan dan melangsungkan pernikahan mereka, saat mereka sama-sama lulus dari Uiversitas."
Toushiro menghela nafas kecewa. Terlalu banyak hal yang ia tidak tahu tentang Rukia. Toushiro mengira satu bulan dekat dengan Rukia, ia akan mengetahui semua tentang Rukia. Ternyata, tidak. Ia menatap kosong awan yang berarak di langit, dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia sempat lupa, kalau anak tengah Kurosaki disampingnya tidak beranjak sama sekali. Mereka sama-sama terdiam, menikmati langit cerah hari ini.
"Kau tidak mengikuti mereka?" tanya Toshiro akhirnya.
Karin masih memandang langit, membalas, "Tidak, aku malas mengikuti mereka. Aku bosan melihat mereka selalu bergandeng tangan."
Toushiro menyeringai. Ia mengayunkan kakinya untuk duduk, "Kau iri ya?"
Karin menatap tajam pada Toshiro, "Tidak, aku tidak iri!" kilah Karin.
"Oh ya?" Toshiro mendekatkan wajahnya pada Karin, membuat wajah Karin memerah. "Ap-apa yang kau lakukan!" hardik Karin.
Toushiro menyeringai misterius. "Kau manis juga ya ternyata," sahutnya membuat wajah Karin seperti kepiting rebus. Karin semakin terbata-bata, "U-urusai!" balas Karin ketus dan mengalihkan pandangannya pada awan di langit. Toushiro ikut menatap langit. Hening, dan terlalu banyak hening yang mereka ciptakan daripada obrolan.
"Kau suka vanilla?" tanya Toushiro, berusaha memecah keheningan.
Karin mengalihkan pandangannya pada Toushiro, "Tidak, aku suka cokelat."
Toushiro bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Karin, "Bagaimana kalau makan es krim?"
Karin mendongakkan kepalanya, "Bukan ide yang buruk." Karin tersenyum lalu menyambut uluran tangan Toshiro. Tiba-tiba Karin berlari menjauhi Toushiro.
"Hey!"
"Kau harus mentraktirku kalau kau tidak bisa menangkapku!" tantang Karin. Toushiro mendengus kesal, tapi sesaat kemudian tertawa dan mulai mengejar Karin.
"Kalau aku bisa menangkapmu, kau yang harus traktir ya!"
"Coba saja!"
Ichigo dan Rukia sedang mengantri masuk di Karakura Wonderland. Ichigo menoleh dan melihat Karin dan Toushiro yang sedang berkejar-kejaran dengan ceria. Ichigo mengerutkan keningnya.
"Bukankah itu Shiro dan Karin, Rukia?" Rukia menoleh pada arah yang ditunjukan oleh Ichigo, lalu tersenyum dan mengangguk.
"Kurasa iya, itu mereka."
"Hm, apakah tadi dia menunggu Karin di taman?"
Rukia mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu," sahutnya.
"Ah, kenapa tadi Toushiro tidak bilang kalau dia akan berkencan dengan Karin?"
"Mungkin dia malu. Tapi kurasa mereka cocok."
Rukia menghela nafas. 'Walaupun rencana untuk mempertemukan mereka di teater kemarin batal, tapi mereka ternyata mereka tetap bisa dekat. Mungkin bukan aku yang menyatukan mereka, tapi takdir tuhan,' batin Rukia. Tangan Rukia terangkat dan memegang lengan atas Ichigo. "Ichi, antriannya sudah maju, ayo cepat masuk, nanti stand Chappy-nya keburu tutup" ucapnya manja.
Ichigo yang melihat tingkah Rukia hanya terkekeh. "Kau ini, selalu manja kalau berurusan dengan Chappy," kata Ichigo. Ichigo pun maju dengan tangan yang didekap Rukia. Setelah mereka mendapat gelang sebagai tanda masuk, mereka menikmati kencan mereka di Karakura Wonderland, yang untuk pertama kalinya, tanpa diikuti siapapun.
Kediaman Hitsugaya, jam 3 siang.
Ggio dan Yukio bersembunyi di salah satu lemari di kamar rumah Toushiro. Mereka berpelukan sejak mereka bersembunyi disini. Mereka tidak tahu, kalau makhluk tadi —yang padahal shinigami— tidak mengikuti mereka dan sudah pergi.
"Hei, Ggio, coba lihat keluar. Apa dia masih mengikuti kita?" saran Yukio. Ggio menggeleng-geleng dan tubuhnya masih merinding, "Ti-tidak, aku tidak mau!" tolak Ggio mentah-mentah.
"Hei, Poppy tertinggal di kamar Toushiro!" seru Yukio kesal.
"Masa bodoh dengan Poppy! Nyawa kita lebih penting! Kau pikir Apache tak akan marah-marah padaku karena aku sudah dua jam tidak membalas sms-nya!" seru Ggio tak kalah sengit.
Tiba-tiba lemari tempat mereka bersembunyi terbuka. Mata Ggio dan Yukio membulat, ketika mereka melihat sosok berkimono putih dengan rambut panjang basah yang menutup wajahnya.
"KYAAAAA!" Ggio, Yukio, dan sosok mirip hantu itu saling memekik. Ggio dan Yukio memekik ketakutan melihat hantu, dan si hantu memekik kaget melihat Ggio dan Yukio. GEDUBRAK! Ggio dan Yukio berusaha keluar dari lemari itu, tapi malah terjatuh dengan posisi yang tidak elit. Ggio menungging, sementara Yukio tertindih tubuh Ggio.
"Apa yang kalian lakukan di kamarku!" hardik si hantu yang memperlihatkan sosok yang sebenarnya adalah… Momo!
Glek! Ggio dan Yukio merinding melihat Momo yang biasanya manis kini menatap mereka dengan tatapan haus darah. Momo meraih sebuah sapu, dan aura hitam muncul di sekelilingnya.
"KELUAR KALIAN DARI KAMARKU!"
"HWAAAAAAAA!" Ggio dan Yukio lari pontang-panting keluar dari rumah Toushiro. Mereka melupakan kamar yang berantakan, Poppy si PSP Yukio, juga handphone Ggio. Biarlah, sekarang nyawa mereka lebih penting, daripada harus kembali ke rumah angker yang salah satu penghuninya adalah Momo Hinamori.
- THE END -
Yo, minna-san! tamat juga fic ini~ terima kasih untuk reader dan senpai yang udah RnR fiction ini. gimana endingnya? tidak sesuai dugaan? penghancuran karakter? kenapa tamatnya gak elit gini ya -_- hehehe, maaf ya kalau ga sesuai harapan para reader. yosh! satu fic udah beres. kapan-kapan aku update lagi fic lain dengan pair yang lain. mungkin sekuel, atau part ichiruki-nya? hm aku ga janji, tapi kapan-kapan bakal aku coba. sekali lagi terima kasih minna-san *bungkuk-bungkuk* Review juga ya yang satu ini! Jaa nee!
