Title

Ya, Aku Mencintainya (Ye, Naneun Geureul Sarang)

Writer

Fou Kanalikuli

Summary

Meskipun kini aku telah sukses, tetap saja latar belakangku tak akan berubah. Akulah Lee Sungmin, gadis pulau miskin yang tak pantas bersanding dengan putra seorang duta besar –Min

Gadis itu sangat manis. Pertemuan kami yang buruk itu membawa kami pada kisah cinta yang penuh perjuangan –Kyu

Aku tidak tahu kenapa dia begitu berkeras hati. Dia bahkan membohongi perasaannya sendiri. Memangnya kenapa jika marga kami sama? –Hae

Di Korea, dua orang dengan marga sama, tidak boleh menikah. Tapi, itu bukanlah satu- satunya alasan kenapa aku menolak Lee Donghae –Eun

Genre

romance, family, hurt/comfort

Rating

T (teen) / PG-13 (parental guide, over 13 years old)

Characters

Lee Sungmin (27)

Cho Kyuhyun (25)

Lee Donghae (17)

Lee Eunhye (Eunhyuk) (16)

Dan Karakter- Karakter Lainnya yang Muncul Silih Berganti (DKKLyMSB)

Length

Multi chapters (ch. 3 : 1302 words)

Disclaimer

This is a real person fanfiction. Characters in this story are not mine, and in reality, I don't personally know them. The plot is pure from my imagination and not realy happened in reality as in reality, Lee Sungmin is male, not female. I will make no financial gain as I publish this fiction. Thankyou for understanding.

Warning

genderswitch, newbie writer, boring –sure, little bit out of character, alternative universe

Musim dingin tahun 2013, Manhattan –New York City : Aku.. pulang..

Dewasa dan tampan. Itulah dua kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan Kyuhyun saat ini. Sepuluh tahun tinggal di New York, Kyuhyun, remaja yang harusnya emosional dan egois itu, berubah menjadi laki- laki tampan yang penuh tanggung jawab. Bahkan, dia akan mengajak wanita yang semalam tidur dengannya untuk sarapan di restoran hotel dan memberikan kartu namanya untuk berjaga- jaga jika terjadi masalah dengan wanita itu. Terkena AIDS, misalnya.

"Kau mengagumkan." Gadis Amerika Utara yang tadi malam menghabiskan waktunya bersama Kyuhyun angkat bicara."Bagaimana mungkin, putra duta besar Korea Selatan, setampan dan sehebat dirimu?"

Kyuhyun tertawa kecil. "Entahlah, Sweety. Aku tak pernah memikirkannya. Oh, ya! Setelah ini, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku harus ke DC untuk bertemu ayahku," katanya.

"Bertemu ayahmu? Apa ini pertemuan keluarga?" tanya gadis bernama Clara itu.

Kyuhyun mengangkat bahu. "Mungkin. Ayahku hanya mengatakan ingin bertemu."

"Oh, aku tahu. Lagi pula, hari ini aku akan menghadiri sebuah konverensi pers. Aku harus membuat ibumu kagum, kau tahu? Aku ingin menjadi wartawan hebat agar bisa seperti dia."

Kyuhyun tersenyum kecil. "Tentu. Setelah kau tidur dengan putranya, kau akan mewarisi kehebatannya."

~*~ Fou Amora Kanalikuli ~*~

Sepuluh tahun tinggal di Seoul cukup membawa perubahan yang signifikan pada Sungmin. Gadis pulau miskin yang penuh rasa tanggung jawab dan pekerja keras itu kini cukup sukses dengan berdirinya sebuah restoran Korea dengan konsep tradisional miliknya yang menjual aneka olahan abalon, tofu, dan kimchi. Bahkan, sekarang ini gadis berusia 27 tahun itu sedang berencana membuka sebuah kedai kopi di dekat restoran miliknya ini. Dan sekarang, dia sedang mencari resep kopi yang pas.

"Menurutmu, bagaimana kalau capucino dengan sentuhan rasa mint dan teh? Bukankah itu ide yang brilian, Donghae-ya?" tanya Sungmin, meminta pendapat pada adiknya yang telah beranjak remaja itu.

Donghae tertawa kencang. "Ide bodoh, Nuna! Kenapa tidak sekalian capucino rasa kimchi saja?" tanyanya bercanda.

Sungmin mendengus kesal."Yak! apa maksudmu? Kalau begitu, aku akan membuat capucino dengan rasa sup abalon dan bau bawang putih yang menyengat saja! Seriuslah sedikit, Lee Donghae!" seru Sungmin kesal sambil melempar pensil yang ia pegang ke arah Donghae.

"Aw! Itu menyakitkan, Nuna!" keluh Donghae sambil mengusap kepalanya yang terkena lemparan pensil.

Baru saja Sungmin akan membalas, tiba- tiba pintu yang membatasi restoran dengan ruangannya terbuka. Kim Taeyeon masuk dengan membawa dua kantong tas dengan label butik miliknya.

"Hai, Kim Ahjumma!" sapa Sungmin sambil bangkit berdiri. Dia berjalan ke arah Taeyeon, memeluknya, dan memberi ciuman angin.

"Hai, Yeppeo. Sedang sibuk, huh?" tanya Taeyeon sambil melepas pelukan Sungmin dan duduk di sofa yang terletak di pinggir ruangan kecil itu.

Sungmin ikut duduk di sofa. "Tidak juga. Hanya sedang mencoba mengajak ikan bodoh itu berpikir," kata Sungmin sambil menunjuk Donghae –yang duduk bersila di atas meja– dengan dagunya. "Tapi sepertinya gagal."

"Yak! Nuna, kau jahat sekali!" seru Donghae sebal. "Nuna-ku yang sudah tua itu sedang memikirkan menu spesial untuk kedai kopi yang akan segera dia buka. Menyebalkan sekali mendengar ide- ide bodoh yang dari tadi keluar dari otaknya," kata Donghae sambil menatap Sungmin, penuh sarkasme.

Taeyeon tertawa. "Kalian selalu begitu. Sepuluh tahun yang lalu kalian adalah anak- anak pulau yang polos dan manis. Tapi sekarang, kalian sudah menjadi anak- anak Seoul yang lebih lincah," kata Taeyeon.

"Bukankah itu bagus, Ahjumma? Aku punya restoran besar, sekarang," kata Sungmin bangga.

"Dan aku.. aku bersekolah di sekolah seprestisius SMA Mapo. Bukankah itu keren, Ahjumma?" tanya Donghae kelewat percaya diri.

"Ah, benar. Kalian hebat. Karena itu aku membawakan kalian beberapa potong baju terbaru di butikku sebagai hadiah," kata Taeyeon sambil menunjukkan kantong- kantong tas yang dia bawa.

"Ah, kau baik sekali, Ahjumma! Kami hampir tak pernah membeli baju lagi karena ada dirimu," kata Sungmin senang sambil membuka sebuah tas kantong yang Taeyeon berikan untuknya. "Aigo! Ini indah sekali! Aku akan memakainya saat tidur nanti," kata Sungmin sambil mengangkat sebuah gaun santai.

"Kau gila, Nuna? Sejak kapan kau mengganti lingirie- lingirie-mu itu dengan gaun seperti itu?" tanya Donghae sinis.

"Yak! Donghae, aku tak punya lingirie! Kenapa hari ini kau menyebalkan sekali!" teriak Sungmin kesal.

"Aish, sudah! Kalian sudah dewasa, tapi masih saja bertingkah seperti anak kecil," lerai Taeyeon. "Ah, Donghae, bagaimana sekolahmu? Apa kau pernah mendapat nilai buruk?" tanya Taeyeon.

Donghae menggeleng. "Nilaiku selalu di atas sembilan," katanya, hampir jujur.

"Ya, tapi belakangan nilainya menurun, Ahjumma. Kemarin aku melihat nilai delapan puluh tujuh di ulangan fisikanya," kata Sungmin.

"Benarkah? Bagaimana bisa?"

"Yah, pada usia seperti ini, Donghae sedang melewati fase- fase tertarik pada lawan jenis. Dia sedang jatuh cinta. Bahkan, dia selalu menggumamkan nama gadis yang di sukainya. Uh, siapa, ya?" Sungmin tampak berpikir. "Ah, Eunhye! Dia selalu bergumam Eunhye-ya, jadilah kekasihku.. aku sangat mencintaimu.. aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku," kata Sungmin dengan nada meledek.

"Yak! Nuna! Kau ini kenapa?!" teriak Donghae kesal bercampur malu. Bahkan, sekarang wajahnya sudah bersemu merah.

~*~ Fou Amora Kanalikuli ~*~

Seusai sarapan bersama Clara, Kyuhyun langsung mengarahkan mobilnya untuk keluar dari New York, menuju Washington, DC. Ayahnya yang meminta bertemu sudah mengatakan dimana mereka akan bertemu. Sebuah restoran mewah di Massachusetts Avenue, jalan yang sama yang melalui kantor kedutaan Republik Korea.

Seorang pelayan mengantar Kyuhyun menuju kursi yang telah dipesan sang ayah. Di sana, sang ayah dan ibu telah duduk dan terlihat sedang berdiskusi. Kyuhyun bisa melihatnya dari jarak sepuluh meter.

"Silahkan, Tuan Cho," suara pelayan yang mempersilahkan Kyuhyun duduk, menyadarkan sepasang suami istri itu. Dengan senyum yang mengembang di bibir kedua orang itu, mereka menyambut sang putra semata wayang.

"What will you say, Dad?" tanya Kyuhyun ketika mereka sudah duduk.

"Kyuhyun!" seru sang ibu. "Sudah eoma bilang berapa kali, huh? Gunakan bahasa Korea saat kita bersama," katanya dengan tatapan tajam. "Sekarang, lebih baik kita makan siang dulu. Kalian pasti sudah lapar."

Selesai makan siang, Kyuhyun mulai menanyakan kembali apa yang ingin ayahnya sampaikan. Sang ayah hanya menghela napas sebelum kembali berpandangan dengan ibunya. Dan karena itu, Kyuhyun menjadi jengkel.

"Come on, Dad! Quickly! I don't have much time for you!" serunya.

"Kyu!"

"Sudahlah, Sayang. Kyuhyun sudah hidup di New York selama sepuluh tahun. Wajar jika bahasanya seperti ini," kata ayah Kyuhyun sambil mengelus punggung istrinya. "Oh, sebenarnya ayah ingin menyampaikan kabar gembira," kata ayah Kyuhyun, beralih pada putranya.

"Kau sudah dewasa, Kyu. Carilah istri."

"Aku sedang melakukannya, Ayah," gumam Kyuhyun malas.

"Carilah di Korea, Kyu. Pulang. Kau akan dibebas kerjakan selama di sana," kata ibunya.

"Apa? Bebas kerja? Kalian bersungguh- sungguh?" tanya Kyuhyun terlihat sangat tertarik.

"Ya, tapi, tugasmu adalah mencari istri. Mencari menantu untuk kami, yang bisa memberi kami cucu secepat mungkin."

~*~ Fou Amora Kanalikuli ~*~

Sebuah Korean Air yang lepas landas 14 jam yang lalu dari Bandara John F Kennedy, New York, baru saja mendarat di Bandara Incheon. Dari gerbang kedatangan internasional, Kyuhyun berjalan sambil menyeret sebuah koper hitam. Di bibirnya, sebuah senyum tersungging. Musim dingin di Korea adalah salah satu dari daftar hal yang paling Kyuhyun rindukan, bersama dengan musim- musim lainnya.

~*~ Fou Amora Kanalikuli ~*~

Donghae sudah mendengarkan nasihat Sungmin. Jika mencintai seseorang, ada baiknya kita langsung menyampaikannya. Karena, jika terus menunda- nunda, bukan tak mungkin, ada orang yang mendahului kita. Dan hari ini, dia akan mengatakan semuanya pada Eunhye.

"Eunhye-ya!" panggil Donghae pada seorang gadis yang sedang menunggu jemputan di depan gerbang sekolah.

Eunhye menoleh dan menemukan Donghae yang sedang berlari sambil membawa dua cangkir kertas espress. "Sunbae, ada apa?" tanya Eunhye bingung.

"Ah, Eunhye, kau lucu sekali," kata Donghae sambil tersenyum grogi. "Di luar gerbang sekolah, kau cukup memanggilku Donghae Oppa. Jangan sunbae, OK?"

"Kenapa, Sunbae?"

"Yak.. panggil aku Donghae Oppa saja. Ehm, aku ingin mengatakan sesuatu," kata Donghae.

Ketika itulah sebuah sedan hitam berhenti di depan mereka. Seorang laki- laki turun dari bagian kemudi dan membuka pintu bagian penumpang. "Silahkan, Nona Lee," kata laki- laki itu.

Eunhye mengangguk. "Maaf, Donghae Oppa. Aku sudah dijemput. Sampai jumpa," kata Eunhye sambil membungkuk kecil, lalu masuk mobilnya.

Sementara mobil itu sudah pergi, Donghae masih terpaku di tempat. Eunhye telah pergi, dan dia belum menyatakan perasaannya. Bahkan, espresso yang dia beli untuk Eunhye pun belum jadi dia berikan.

TBC

Yak! Aku malu! Kalian tau? Chapter 2 kemarin ada yang ganjil. Itu karena ada yang belum diganti. Yang Cheongdam sama Lotte Mall itu loh. Itu sebenernya mau diganti jadi COEX Mall di Samsung. Tapi yaudah, deh. Eh, jadi maap ya kalo aneh, kekeke~

Oyeah, saya juga mau bilang, saya publish bukan berdasarkan review, ya~ Jadi bisa aja cepet, bisa aja lama~ Abisnya mengandalkan koneksi wi-fi di sekolah, sih. Dan sekarang kan juga udah lulus, jadi udah jarang berangkat. Oh ya, by the way, minta doanya ya, moga- moga saya bisa diterima di Padmanaba /wink/.

Terimakasih sebesar- besarnya untuk .1 , hapsarikyuku , InnaSMl137 , Miss Key , dan parkhyun yang udah sudi membaca, dan mereview chap 2 fanfic ababil saya. Terimakasih juga yang udah sudi nge-follow dan nge-fave. Ah, kemarin belum diucapin terimakasih karena lupa. Jadi, sekarang double big thanks, yah :D