Title
Ya, Aku Mencintainya (Ye, Naneun Geureul Sarang)
Writer
Fou Kanalikuli
Summary
Meskipun kini aku telah sukses, tetap saja latar belakangku tak akan berubah. Akulah Lee Sungmin, gadis pulau miskin yang tak pantas bersanding dengan putra seorang duta besar –Min
Gadis itu sangat manis. Pertemuan kami yang buruk itu membawa kami pada kisah cinta yang penuh perjuangan –Kyu
Aku tidak tahu kenapa dia begitu berkeras hati. Dia bahkan membohongi perasaannya sendiri. Memangnya kenapa jika marga kami sama? –Hae
Di Korea, dua orang dengan marga sama, tidak boleh menikah. Tapi, itu bukanlah satu- satunya alasan kenapa aku menolak Lee Donghae –Eun
Genre
romance, family, hurt/comfort
Rating
T (teen) / PG-13 (parental guide, over 13 years old)
Characters
Lee Sungmin (27)
Cho Kyuhyun (25)
Lee Donghae (17)
Lee Eunhye (Eunhyuk) (16)
Dan Karakter- Karakter Lainnya yang Muncul Silih Berganti (DKKLyMSB)
Length
Multi chapters (ch. 4 : 989 words)
Disclaimer
This is a real person fanfiction. Characters in this story are not mine, and in reality, I don't personally know them. The plot is pure from my imagination and not realy happened in reality as in reality, Lee Sungmin is male, not female. I will make no financial gain as I publish this fiction. Thankyou for understanding.
Warning
genderswitch, newbie writer, boring –sure, little bit out of character, alternative universe
~*~ Fou Amora Kanalikuli ~*~
Musim dingin tahun 2013, Hongdae –Seoul : Sedikit Jorok, tapi Namanya Pussy..
Jam digital yang terpasang di dasbor mobil Kyuhyun telah menampilkan angka 01.34 am, dan salju kembali menyelimuti Seoul. Tapi, laki-laki tampan itu masih melajukan mobilnya melewati jalan yang membelah Hongdae. Hongdae, daerah yang terkenal sebagai pusatnya dunia malam Kota Seoul. Bar dan tempat karaoke ramai menghiasi kanan dan kiri jalan. Dan Kyuhyun, dia baru saja keluar dari salah satu bar yang ada. Dia keluar sebelum dirinya mabuk dan tak sanggup mengemudi lagi.
~*~ Fou Amora Kanalikuli ~*~
"Pussy, kau di sana?" seru Sungmin ketika melihat kucing persia milik sahabatnya sedang bersembunyi di bawah meja restoran. Sedikit kesulitan, Sungmin menggapai kucing mahal itu.
Heenim, sahabat lamanya itu kini bertemu kembali dengannya. Gadis cantik dengan mulut setajam belati itu memang tinggal di Seoul dan selalu menghabiskan libur musim panasnya di Pulau Ulleung. Tapi, semenjak Sungmin pindah ke Seoul, mereka lepas kontak dan baru bertemu kembali seminggu yang lalu di sebuah pameran barang elektronik. Dan meski baru bertemu kembali, Heenim tak segan- segan menitipkan Pussy padanya. Gadis itu kini sedang pergi ke Toronto setelah mendapat kabar kalau kucing dengan ciri- ciri seperti yang dia inginkan ada di sana. Dia akan membelinya, berapapun itu.
"Kita akan pulang ke apartmenku, Puss. Ayo cepat, sebelum salju yang turun bertambah lebat," kata Sungmin sambil menggendong Pussy dan berjalan keluar restorannya. Dia menurunkan Pussy sebentar ke lantai karena harus mengunci pintu. Tapi, tanpa Sungmin sangka, kucing itu berlari menuju jalan raya.
"Pussy!" pekiknya. Sungmin langsung menyusul Pussy. Begitu menggapai kucing itu, Sungmin langsung menggendongnya. Dia tidak sadar kalau sekarang sudah di tengah jalan sampai sorot lampu sebuah mobil menyadarkannya.
CKIT!
Mobil sport merah bermerk Ferrari itu berhenti mendadak. Menatap mobil itu, lutut Sungmin bergetar dan hampir tak kuat menopang berat badannya sendiri.
"Yak! Kau gila?!" umpatan kasar keluar dari bibir pengemudi mobil itu, Kyuhyun, bersama dengan terbukanya jendela mobil. Lalu, kepala laki-laki itu menyembul dengan ekspresi marah, membuat Sungmin begidik ngeri.
"Eum, sa-saya minta maaf," kata Sungmin sambil membungkukkan badan. "Kucing sahabat saya berlari ke tengah jalan," lanjutnya sambil mengangkat tinggi-tinggi Pussy.
Kyuhyun keluar dari mobilnya, lalu berjalan mendekati Sungmin. Lampu jalan yang berada di belakang Sungmin membuat wajah gadis itu terlihat samar. "Semudah itu kau meminta maaf?" desisnya dingin. "Kau sudah membuang- buang waktuku dan membuatku hampir melakukan tindak kriminal karena menabrakmu!"hardiknya. Sebenarnya, marah- marah dan terlihat menakutkan di hadapan para wanita bukanlah sifat Kyuhyun. Tapi, dengan keadaannya yang sudah sedikit mabuk, semuanya berubah.
"Aku benar- benar minta maaf. Aku memang ceroboh," kata Sungmin.
"Kau sadar, rupanya," kata Kyuhyun datar sambil tersenyum kecil.
"A-apa?" tanya Sungmin terkejut. Kedua alisnya bahkan hampir bertautan. Dia sudah kesal sebenarnya karena laki-laki tampan di hadapannya itu tampak membesar- besarkan masalah. "Aish, begini saja, Tuan. Bagaimana kalau sebagai permintaan maaf, aku membuatkan makan malam untukmu?" tawarnya.
Kyuhyun mengernyit. Dia melirik jam tangan yang melilit lengannya. "Sudah dini hari. Makan malamku sudah kuhabiskan tujuh jam yang lalu, Nona. Dan.. membuatkan makan malam untukku? Kau akan membawaku ke rumahmu?" tanya Kyuhyun dengan senyum meremehkan.
Sungmin tertawa kecil. "Tidak. Aku tidak ingin ada laki-laki asing masuk rumahku. Tapi, aku bisa memasak di restoranku. Jadi, bagaimana?" tawarnya lagi sambil menunjuk restoran miliknya.
Kyuhyun mengangguk paham. "Bukan hal yang buruk."
Sungmin tersenyum mendengar komentar Kyuhyun. "Yah, ada baiknya kau menepikan mobilmu. Aku akan membuka pintu restoran lagi."
~*~ Fou Amora Kanalikuli ~*~
"Jadi, kau ingin aku memasakkan apa untukmu, Kyuhyun-ssi?" tanya Sungmin sambil memasang celemek merah muda miliknya.
"Aku ingin steak, tapi tidak ada di menu," kata Kyuhyun sambil mengangkat menu di tangannya.
Sungmin terkekeh. 'Tentu tidak ada. Ini restoran Korea, Tuan Amerika!"
"Yah, aku tahu. Kalau begitu, bagaimana dengan sup abalon? Terlihat enak," kata Kyuhyun.
Sungmin mengangguk. "Baiklah, tunggu sebentar."
~*~ Fou Amora Kanalikuli ~*~
"Ini enak, Sungmin-ssi. Kau memasaknya dengan baik," kata Kyuhyun setelah menyuapkan sup abalon itu ke mulutnya.
Sungmin hanya tersenyum. Dia bisa melihat perubahan kelakuan Kyuhyun. Di jalan tadi, dia sangat menakutkan. Tapi, sekarang, di sini, Kyuhyun terlihat bersahabat.
"Terimakasih, Kyuhyun-ssi. Ngomong-ngomong, kalau kau mau, kau bisa makan di sini setiap waktu dengan gratis," kata Sungmin. "Setidaknya, ini berlaku dua minggu," lanjutnya.
Kyuhyun terkejut senang. Dia tak bisa memasak, dan tawaran Sungmin ini sangat menarik. "Baiklah, aku setuju. Tapi kenapa?" Bodoh! Kenapa dia harus bertanya?
"Entahlah, rasanya senang melihatmu menyukai masakanku."
Kyuhyun menangguk. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mengamati arsitektur restoran itu. Dan di bawah meja, dia menemukan seekor kucing persia. "Hey, kau memelihara kucing?" tanya Kyuhyun sambil menunjuk kucing persia itu dengan sendoknya.
Sungmin menggeleng. "Tidak, itu kucing sahabatku. Namanya Pussy, dan dia sangat menggemaskan. Jadi, sementara sahabatku pergi ke Toronto, aku merawatnya."
"Pu.. Pussy?" Kyuhyun bergumam tak percaya.
Sungmin tertawa. "Yah, sedikit jorok, tapi namanya Pussy. Sahabatku memang sedikit eksentrik."
~*~ Fou Amora Kanalikuli ~*~
"Semalam, nuna pulang jam berapa?" tanya Donghae ketika dia dan Sungmin sedang menikmati sarapan di apartment mereka.
"Eum, aku pulang jam lima. Memang kenapa, Hae?" tanya Sungmin.
Donghae menyudahi sarapannya dengan meneguk segelas susu. "Sudah kuduga. Memangnya nuna kemana saja? Apa ada masalah di restoran?"
"Tidak. Setelah tutup, seorang teman berkunjung dan meminta aku membuatkannya sup abalon. Lalu, kami pun berbincang hingga menjelang matahari terbit. Karena itu, setelah kau berangkat sekolah, nuna ingin kembali tidur."
"Aish, baiklah. Eum, apa teman nuna itu laki-laki?" tanya Donghae.
Sungmin diam. "Ayolah, Donghae, ini masalah pribadi nuna. Nuna rasa, nuna tidak perlu menjawabnya," kata Sungmin. Rasa letih benar-benar tergambar di wajah cantiknya, dan Donghae tak tega melihatnya.
"Baiklah, aku pergi, Nuna," kata Donghae sambil berjalan menuju pintu keluar. Tapi, tiba-tiba dia berbalik dan menghambur ke pelukan Sungmin. Dia menangis di sana.
"Ha-Hae, kau kenapa?" tanya Sungmin bingung.
Donghae melepas pelukannya. "Nuna, aku sangat khawatir. Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu. Aku tak ingin ada laki-laki yang melukaimu atau melakukan hal yang tidak seharusnya padamu," kata Donghae lirih.
Sungmin terenyuh. Dia kembali memeluk Donghae. "Maaf karena sudah membuatmu khawatir, Donghae. Tapi, tadi malam, Nuna memang hanya mengobrol. Dia orang yang baik," kata Sungmin.
"Apa dia kekasihmu, Nuna?" tanya Donghae.
"Apa? Tidak, Lee Donghae. Kami tidak terlalu dekat," kata Sungmin. "Sekarang, kau harus berangkat sekolah."
"Baiklah, aku berangkat, Nuna."
TBC
Baru sadar kalau chapter kemarin-kemarin itu banyak banget kesalahan. Yang nggak ada pembatasnya itu, loh, sebenernya ada. Cuma kok pas di-publish jadi menghilang, ya? Udah aku coba benerin, tapi tetep aja gitu. Jadi harap maklum, ya~
Eh, ngomong-ngomong, sekarang aku udah nggak mengandalkan wi-fi lagi, loh~ Sekarang aku udah lulus jadi sekolahnya seminggu sekali. Kemarin ayahku baru ngisiin pulsa ke modem, jadi bisa internetan kapan aja dan di mana aja. Intinya, publish fanfic-nya jadi makin sering.
Selanjutnya, aku mau mengucapkan terimakasih untuk review- review yang teman- teman berikan. I love it, dah! Dan jujur, aku seneng banget pas dapet kritik dan saran dari Pearl Park. Ah, aku juga pengennya fanfic-ku bisa bener- bener sesuai EYD. Tapi kadang nggak tahu ini aturannya gimana. Oh ya, sebenernya, seingatku ini yang bukan Bahasa udah aku miringin, kok. Tapi mungkin beberapa kelupaan. Nggak pake jasa beta reader, sih, hehe.
Ah, aku juga mau mengucapkan terimakasih lagi untuk yang follow dan fave. Kalian baik banget .
Mungkin sekian dulu kali ya? Ah, sampai jumpa sodara-sodara sekalian ^^
p.s. : kalo jalan ceritanya nggak sesuai dengan yang kalian inginkan, maap, yah (^~^)
