Aaa... Gomene baru apdet. Yahiko tau kalo Yahiko telat apdet, mohon maaf sekali lagi. Uhm.. Untuk para Readers, Reviewers dan Senpai sekalian yang memberikan saran and Concrit, Yahiko sangat bereterimakasih sekali. Arigatou na hontou arigatou. Uhm.. Tanpa banyak bacot lagi, kita langsung aja ke storynya. Cek this out.!

Disclaimer : Naruto and All Chara itu milik Masashi kishimoto, tapi Fic ini asli milik Yahiko.

Author: Yahiko namikaze.

Pair : Naruto x Ino.

Title : Konoha kiiroi senko II.

Rated : T ( semi M) ^^V

Genre : Adventure and Romance

Warning : Gaje, OOC, OC, CANON, AU, Abal, Typo/mistypo.

DON'T LIKE, DON'T READ !

.

Just enjoy this

.

Summary :dirinya amat sangat mirip dengan sosok 'dirinya' yang telah rela mengorbankan dirinya sendiri demi Desa dan orang yang dicintainya.

.

.

.

.

Kaki jenjang itu melangkah pelan keluar dari rumah tersebut, mengantarkan sang empunya kaki ketengah keramaian yang melanda Pasar Konoha dipagi hari yang cerah seperti biasa. Dengan tenang gadis itu mengedarkan pandangannya keseleruh penjuru dan memperhatikan hiruk-pikuk pasar itu, seulas senyum terpatri di wajahnya setelah mata Blue skynya bertemu pandang dengan mata Onyx sang Nara Shikamaru dan dibalas pula senyum itu walau dengan tampang malas.

''Pagi Ino-san!'' sapa seorang pria berkulit putih pucat yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sai dan tetap tersenyum seperti biasa, palsu.

''Ah, Sai. Sedang apa sepagi ini ada disini?'' tanya Ino sambil berjalan sama arah dengan Sai.

''Aku dipanggil oleh Godaime-sama, Kau sendiri?''

''Seperti biasa, ke Rumah sakit Konoha,'' ucapnya sambil tersenyum manis kearah Sai yang juga dibalas dengan senyuman palsu seorang Sai.

Sempat terbesit dipikiran gadis ini mengapa seorang Sai selalu tersenyum palsu. Tapi semua itu langsung dijawab oleh sang Godaime Hokage saat dia dan Sakura berlatih tempo hari.

''Uhm.. Kalau begitu sampai jumpa lagi, ya Ino-san!'' ucap Sai setelah itu dia menghilang dengan di akhiri dengan bunyi 'Poff' setelahnya.

Ino hanya bisa menghela nafas setelahnya, entah kenapa perasaannya hari ini tidak seperti biasanya. Kalau biasanya dia akan berjalan riang, nah sekarang? Dia lebih mirip Neji atau Sasuke yang selalu memasang wajah Stoic 'Tidak! itu itu tidak boleh terjadi. Kalau sampai Naru-kun tau aku selalu memasang wajah datar seperti Neji bisa-bisa dia kira aku marah. Itu tidak boleh trjadiii...' triak Inner Ino yang dari tadi entah kenapa tidak bisa diam.

..o.O.o..

Dan disinilah tokoh utama kita, dia tengah melompat dari satu dahan kedahan lain. Jubah merah tua yang dikenakannya- dengan aksen bergambar api hitam di ujung bagian bawah jubahnya- berkibar bak bendera karena saking semangatnya dirinya untuk cepat sampai di Desa kelahirannya.

Entah kenapa dari tadi dia merasakan kalau mereka diikuti, dengan perlahan dia memelankan gerakannya agar sejajar dengan Jiraiya yang ada dibelakangnya. Setelah dia sejajar dengan gerakan Jiraiya, dia memberi kode pada Jiraiya seolah Kau-merasakan-nya? Dan Jiraiya hanya menganguk.

TRAP...

Trap..

Keduanya berhenti bersamaan tepat disebuah dahan besar yang ada ditengah hutan itu, perlahan Naruto menoleh kebelakang dan yang didapatinya hanya sebuah kesunyian yang amat kentara.

Dengan sigap Jiraiya melakukan seal jutsu dan begumam Guruai no jutsu. Setelah itu dapat Jiraiya lihat segerombolan Ninja setara Joonin bersembunyi dibalik pohon sekitar delapan ratus kilo meter dibelakang mereka.

''Bagaimana?'' tanya Naruto untuk mendapat kepastian Dari Jiraiya yang memantau keadaan sekitar.

''Ada sekitar delapan Shinobi setara Joonin, dan posisi mereka berada diarah Timur dengan jarak Delapan ratus kilometer dibelakang kita,'' jawabnya sambil menegapkan kembali tubuhnya dan menghadap kearah belakang dan diikuti oleh Naruto.

''Bersiaplah!'' ucap Naruto sambil melakukan seal jutsu.

''Futon, kaze no puru no Jutsu!'' teriak Naruto sambil menghentakan kedua telapak tangannya kedahan pohon besar tersebut. Dan setelahnya angin kencang melanda segerombolan Ninja penguntit tersebut dan tertarik kearah Naruto dan Jiraiya yang menunggu 'kedatangan' mereka.

'Bocah sialan!' umpat salah seorang Ninja dari antara mereka yang tertarik paksa oleh jutsu angin Naruto.

Dengan sigap dia mengambil Kunai dibalik tas pinggangnya, sedangkan salah satu dari mereka melakukan seal Jutsu.

''Katon, Honoo no Jutsu!'' teriak dari salah seorang dari mereka, dan setelahnya Api besar menyembur dari mulutnya dengan bermaksud mengarahkannya pada Jiraiya dan Naruto yang tengah menanti mereka.

'Makan tuh Api! ' batin Ninja berhaitai ate gunung. Tapi dengan sigap Jiraiya mampu menghindari serangan api tersebut, sementara Naruto hanya diam seolah menanti serangan itu.

'Apa dia sudah bosan hidup?' batin salah seorang dari mereka tapi setelah itu mereka hanya bisa mangap saat mereka melihat sekelebat cahaya kuning menghindari serangan dahsyat tersebut.

Setelah itu angin yang menarik mereka langsung berhenti dan suasana kembali sunyi seperti sebelumnya, tapi kali ini yang terdengar hanyalah suara bagian dahan pohon yang terbakar akibat jutsu barusan.

''Kemana perginya?'' gumam salah seorang dari mereka sambil mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru.

Dengan sigap mereka melakukan formasi dengan sang pemimpin dibagian tengah yang sedang berjongkok sambil menyentuh bagian permukaan tanah sembari terpejam.

'Jika kalian masih menginjak tanah, maka kupastikan kalian akan kutemukan,' gumam sang pemimpin dari team itu sambil tetap fokus pada jutsu pelacak miliknya.

Bak gayung bersambut, sosok yang dicarinya sudah berdiri diatas ranting pohon dengan jarak satu meter dari arah mereka mereka.

''Bagaimana Kapten Kitsuchi?'' tanya salah satu dari mereka yang berada diposisi di bagian kanan belakang. Yang lain juga melirik kearahnya sambil tetap terfokus, takut kalau datang serangan tiba-tiba lagi seperti tadi.

''Sepertinya aku kenal Chakra ini,'' gumamnya sambil bangkit dari jongkok dan mengahadap kearah Timur.

'Tidak salah lagi, ini pasti Chakra Kyuubi,' batin Kitsuchi sambil menoleh kearah Tonba yang berada diposisi belakang arah Kiri.

''Bersiaplah! Ini akan semakin sulit, karna yang akan kita hada..'' ucapannya terputus karna sesuatu tengah mencengkram erat lehernya.

Anggota yang lain begitu shock dengan serangan tiba-tiba yang dibuat oleh Naruto yang langsung mencengkram erat leher sang kapten.

''Kenapa kalian membuntuti kami?'' tanya Jiraiya sambil melompat dengan jarak Dua meter dari lokasi perkara-Naruto mencengkram leher Kitsuchi.

yang lain makin shock ketika menyadari kalau sosok yang mereka kejar ternyata ada seorang Gama sannin no Jiraiya.

Kitsuchi juga terbelalak melihatnya, bedanya ada tersirat kegembiraan dalam terkejutnya sedangkan yang lain sudah mulai bergetar ketakutan karna membayangkan bertarung dengan seorang sannin.

Jiraiya yang melihat sosok yang tengah dicengkram Naruto itu terasa Familiar dengan sosok itu. Maka diputuskannya untuk mendekat kearah Naruto dan sekali lagi dia dapat mendengar nada tenang tapi tajam dari Naruto. ''Katakan! Apa alasan kalian mengejar kami?''

''Karena kalian sudah membuat keonaran di Iwagakure!'' teriak salah satu dari mereka.

''Dan tak akan kami biarkan kalian pergi sesuka hati kalian,'' timpal yang satunya lagi.

Diam, Naruto hanya mampu diam untuk beberapa saat demi mencoba mengingat kesalahan apa saja yang dibuatnya bersama gurunya sampai mereka dikejar sampai segitunya.

''Bisakah kau.. Ugh, menyuruh muridmu untuk melepaskan cengkraman ini Ero Jiraiya?'' Sindir Kitsuchi sambil melepas kesunyian yang berlangsung.

Jiraiya untuk beberapa Detik hanya mampu cengok, Naruto Sweatdrop dan rekan Kitsuchi yang lain hanya mampu dongkol mendengar kata-kata yang lepas dari mulut Kapten mereka.

Dan untuk sepersekian Detik berikutnya Jiraiya langsung tersenyum dan menepuk pelan pundak Naruto- yang masih mencengkram leher Kitsuchi- sambil tersenyum.

Dengan perlahan Naruto melepaskan cengkramannya pada leher Kitsuchi yang langsung berusaha mencari oksigen dengan wajah merah karna sesak napas. Dan setelahnya dia dan Jiraiya langsung berjabat tangan seolah teman lama yang baru berjumpa setelah sekian tahun terpisah.

''Ejekanmu padaku tetap tidak berubah ya? Kitsuchi,'' ucap Jiraiya sambil tersenyum dan dibalas dengan senyum oleh Kitsuchi.

''Ku Jamin, kau masih Ero seperti dulu,'' ucapnya Keduanya langsung tertawa lepas sembari berpelukan. Mencoba untuk melepas ketegangan yang tadi sempat melanda dua kubu yang berhadapan.

Naruto untuk kesekian kalinya cengok mendengarnya dan tak luput pula tampang bodoh dari rekan-rekan satu tim Kitsuchi.

''Huhh.. Jadi, apa ada masalah?'' tanya Jiraiya lagi tapi dengan senyum terkembang diwajahnya.

Sebelum menjawab, Kitsuchi malah tersenyum. Yah.. Walau bagaimanapun teman tetaplah teman bukan? ''Iya, dan kalian pasti ingat tentang keributan di Kedai kemarin?''

''Ohh.. Ninja Kumo itu?'' tanya Naruto seakan baru menyadari kesalahan dan keonaran yang dia buat kemarin siang di Iwagakure.

''Iya, dan kalian langsung lari saja seolah itu sudah selesai,'' timpal tonba sengit.

Untuk beberapa saat suasana sekitar seolah menurun beberapa derajat sampai Tabu merinding berdiri disebelah temannya yang menatap intens kearah Naruto yang juga menatapnya sengit.

''Jadi... kau menganggap kami pengecut begitu?'' tanya Naruto santai. Walau terbesit dihatinya ingin sekali menghajar wajah sombongnya.

''Menurutmu?''

''Baiklah.. Kalian boleh pergi!'' perintah Kitsuchi santai sedangkan yang lain sangat terkejut dengan keputusan yang dibuat sepihak oleh Kapten mereka.

''Kenapa mengambil keputusan sendiri Kapten?'' seru Kako.

Yang lain mengangguk seolah setuju dengan perkataan Joonin mereka. Sedangkan Kitsuchi malah tersenyum dan berjalan menghampiri Jiraiya yang juga tersenyum.

''Karna aku percaya padamu sobat,'' ucapnya sambil menepuk pundak Jiraiya sedangkan Naruto cuma menyeringai. ''dan jangan lupa! traktir aku sake saat aku datang mengantar Jooninku ke Konoha dalam tahap mengikuti ujian Joonin,'' lanjutnya sambil berlalu dan meninggalkan sisa Timnya yang tengah dongkol.

''Keputusan sepihak, tapi tak apalah. Semoga kita bertemu di Ujian nanti, Naruto-san,'' ucap Tonba sambil berlalu dan menyempatkan untuk melirik Naruto yang tengah mengangguk tanpa menoleh sedikitpun.

..o.O.o..

Dan untuk kesekian kalinya Sakura merasa pusing gara-gara mendengar celoteh tanpa jeda dari Ino.

''Cukup!'' perintah Sakura sambil mengurut keningnya frustasi. Seketika itu pula Ino langsung bungkam dan merenggut karna perkataannya dipotong oleh Sakura.

''Apa kau tidak ada hari tidak menggosip Ino?'' tanya Sakura sambil menatap warna Blue sky dimata sahabat kecilnya.

Ino menggeleng mantap dan tersenyum cerah seolah itu adalah jawaban atas pertanyaan sahabatnya. ''Tentu saja tidak, karna aku Ratu Gosip ehehe...'' ungkapnya narsis sementara Sakura hanya mampu menggelengkan kepalanya.

Tok.. Tok.. Tok..

Suara ketukan pintu itu langsung meredam kekeh Ino dan digantikan dengan seruan Sakura yang menyuruh masuk.

''Masukk..!''

Dan tampaklah seorang Shizune yang memakai yukata hitam seperti biasa dengan Ton-ton didekapannya. Shizune hanya tersenyum sambil melangkah mendekat kearah Ino yang juga memandangnya.

''Ada apa Shizune-san?'' tanya Sakura saat Shizune berdiri tepat disebelahnya Ino yang menatap heran Kearah Shizune yang tengah tersenyum dari tadi.

''Ada berita bagus untukmu Sakura-chan dan mungkin juga untuk Naruto-kun kalau dia ada,'' ungkapnya Basa-basi sambil menatap Ino yang tengah menundukkan kepalanya.

Sakura langsung menoleh kearah Ino yang tengah menundukan kepalanya, setelah itu dia menoleh kearah Shizune dengan pandangan bertanya.

''Kabar bagus apa Shizune-san?'' tanya Sakura yang mulai melangkah untuk mendekat kearah Ino yang dari tadi bungkam suara.

''Sasuke-kun akan pulang, dan akan sampai di Konoha esok hari,'' ungkapnya sambil berlalu meninggalkan Sakura yang tengah membatu ditempat gara-gara berita tersebut sedangkan Ino tetap pada diam.

''Kau dengar itu?'' tanya Ino disela isak pelannya, Dia mengadah dan langsung mengerutkan kening ketika tak sedikitpun kegembiraan diwajah sahabatnya yang berambut merah jambu itu.

Sakura diam, untuk beberapa lama dia cuma diam untuk mencerna perkataan Shizune barusan dengan seksama. Dia akhirnya sadar, bahwa tidak ada yang di cintainya dari seorang Uchiha Sasuke, melainkan hanya sebuah rasa. Setitik rasa kagum akan fisik maupun batin yang dimiliki seorang Sasuke.

Ya, bagaimanapun Sakura adalah wanita biasa. Dan wanita biasapun pasti akan jatuh pada sosok Sasuke yang tampan nan keren, tapi selepas itu Sakura tidak merasakan hal special dalam dirinya. Sesuatu yang ditunggunya selama ini seharusnya membuncah tapi entah kenapa rasa itu tidak ada, melainkan hanya rasa lega akan kepulangan sahabatnya.

''Sakura?'' panggil Ino yang entah kapan sudah tidak terdengar lagi suara isak tangisnya. Dia menatap Sakura lekat-lekat tanpa melewatkan sedikitpun pergerakan yang ada di fisik seorang Haruno Sakura.

''Ah, ya Ino. Ada apa?'' tanya Sakura setelah dia sadar dari lamunannya dan berbalik arah kembali kebangkunya.

Sakura POV.

Aku tidak tau akan perasaanku saat ini, antara lega dan senang. Tapi dibalik itu tidak ada setitikpun rasa sayang yang kumiliki seperti saat aku masih satu Team dengannya, perasaan ini berlebih kearah lega.

Dulu aku begitu mencintainya, menyayanginya dan entah kenapa saat mendengar kabar dari Shizune barusan tidak sedikitpun rasa yang kumiliki seperti saat Gennin dan satu kelompok dengannya.

Aku mengerti rasa ini, rasa ini lebih kearah kelegaan dan bukan kearah cinta yang seharusnya menjadi-jadi saat mendengar dia akan pulang.

Normal POV.

..o.O.o..

''Jyuuken!'' seru Neji sambil menyerang Rock Lee yang tengah berlari kearahnya dengan semangat berlebih.

''Konoha senpuu..'' seru Lee yang tak kalah sengit dari Neji, peluh bercucuran di seluruh tubuh atletisnya yang sekarang terekspose jelas tanpa sehelai benang pun yang melindungi tubuh bagian atasnya (tentunya tanpa baju hijau itu).

Sedangkan Ten-ten dari tadi hanya memperhatikan jalan latihan Neji dan Lee secara seksama. Maito Gai yang dari tadi push up di pohonpun hanya diam sambil terus push up tanpa henti sejak sejam yang lalu. Dan dia menoleh kearah satu-satunya Kunoichi di Timnya.

''Kau tidak latihan Ten-ten?'' tanya Gai sambil mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak dibawah pohon maple, tempat dia biasa bersantai.

Ten-ten menoleh, dia tersenyum sambil menggelengkan Kepalanya perlahan dan kembali melihat kearah Lee yang tengah fokus pada pergerakan Neji.

''Apa kau tidak melakukan pemanasan, sebelum ujian Joonin nanti?'' tanya Gai lagi sambil menutup matanya dan melipat kedua tangannya dibelakang kepala, bermaksud menjadikannya bantal.

''Itu masalah nanti,'' jawab Ten-ten sambil melirik gulungan senjatanya yang tergeletak tak berdaya disebelahnya.

''Apa Gai sensei tau?'' tanya Ten-ten sambil menghilangkan keheningan yang tadi sempat melanda.

''Hm?'' Gai hanya menggelengkan kepalanya pelan, tapi masih dengan posisi yang seperti tadi.

''Apa Sensei yakin, bahwa kami bisa lolos hingga akhir?'' tanya Ten-ten pelan.

Gai merasa terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ten-ten. Pertanyaan itu terkesan seolah dia putus asa dan tanpa semangat sedikitpun. Perlahan, Gai menoleh kearah Kunoichi kesayangannya dan yang dia dapati hanya sebuah ekspresi yang jarang diperlihatkan seorang Ten-ten. Ten-ten terlihat tertekan akan hal ini batin Gai. Perlahan Gai bangkit dari berbaringnya, duduk didekat Ten-ten yang tengah menundukan kepalanya dalam diam.

''Aku tak peduli, kalian berhasil ataupun gagal. Dengan menyandang gelar Chunnin saja aku sudah bangga pada kalian,'' ucap Gai seraya membelai rambut kecoklatan milik Ten-ten lembut.

Ten-ten mengadah, menatap wajah tua seorang Maito Gai yang sudah mereka anggap sebagai ayah kedua.

Dia tetap diam dan kembali memperhatikan jalan latihan Rock Lee dan Neji.

''Gomene, kalau nanti aku membuat kalian kecewa,'' gumam Ten-ten sambil duduk bersandar pada pohon tua di belakangnya. Dia mengadah untuk menatap awan yang berarak arakkan dilangit pagi diatas Konoha saat ini.

''Ayo, semangat Ten-ten! Jangan putus asa begitu,'' seru Gai seperti biasa sambil menyodorkan Jempolnya sambil memamerkan deretan gigi putihnya.

''Arigatou Shisou,'' gumam Ten-ten sambil menundukan kepalanya.

..o.O.o..

''Gatsuggaaa...'' seru Kiba sambil berputar bak badai bersama Akamaru sang anjing ninja yang menjadi partner setianya.

''Mushidama,'' gumam Shino sambil merentangkan kedua tangannya kearah Kiba yang hampir sampai kearahnya.

Saat ini tim Kurenai latihan seperti biasa, Kiba selalu semangat latihan. Shino yang selalu pendiam tapi jenius. Hinata yang lemah lembut itu tengah 'menghajar' pohon sebagai tempat latihannya, mengingat setiap pukulannya tidak bisa ditangkis dengan tangan kosong. Sedang Kurenai malah duduk diam dibawah pohon sambil memperhatikan Chunnin yang dibawah bimbingannya ini tengah berlatih.

''Hos.. Hosh..'' mendarat dengan salah tumpuan bukanlah suatu spekulasi dari seorang Kiba Inuzuka, tapi jika Kekaichu milik Shino sudah melengket pada tubuhnya -juga Akamaru, itu permasalahan berbeda.

''Sudah lelah?'' tanya Shino, masih tetap dengan kedua tangannya dia rentangkan kedepan, siap menyerang Kiba kapanpun.

''Belum, dan jangan remehkan aku!'' bantah Kiba sambil berlari kearah Shino sambil membawa beberapa Kunai.

Melompat dengan cepat dan melemparkan Kunai itu sebuah pengalihan biasa bagi Shino, tapi jika Akamaru menyerangnya saat terdesak, bahkan seorang Anbupun akan kalah jika dikeroyok.

''Konchu no ugoki'' gumam Shino saat tubuh Akamaru hampir mengenai tubuh Shino yang hanya beberapa centi.

Perlahan tubuh Shino melebur layaknya serangga berterbangan diudara dimulai dari bagian kaki, perlahan merembes bagian lutut. Dan Jutsu itu cukup untuk menarik perhatian Kurenai yang tengah terbelalak melihat Jutsu teleportasi seorang Shino, dengan menghancurkan tubuhnya secara perlahan menjadi ribuan serangga yang berterbangan.

..o.O.o..

''Hhoaahem..''

''Kau tidak melakukan latihan sebelum ujian berlangsung Shikamaru?'' tanya Asuma sambil menyulut rokoknya dan duduk di sebelah Shikamaru yang tengah memejamkan kedua matanya.

Perlahan kelopak mata itu terbuka, menunjukan begitu kelamnya warna mata seorang Shikamaru yang dikenal akan kejeniusannya. Dia menatap awan siang itu dengan tampang malasnya, dan menoleh sesaat pada gurunya yang sudah mereka atau dirinya anggap sebagai ayah kedua.

''Latihan itu sangat merepotkan,'' jawabnya sambil kembali memejamkan matanya.

''Sebegitu merepotkannya?'' tanya Asuma sambil merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan lipatan kedua tangannya.

''Entahlah.. tapi kurasa itu sangat merepotkan,''

''Kau ini Shikamaru,'' gumam Asuma sambil menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan murid jeniusnya yang satu itu.

..o.O.o..

Jika digunung tadi Shikamaru dan Asuma sedang bersantai sambil tidur, maka diruang Kage jauh berbeda. Tsunade sedang beradu argumen dengan Godaime Mizukage.

''Apa kau yakin ingin memasukan bocah Kyuubi itu ke ujian ini Tsunade?'' tanya Mei terumi sambil menyangga dagunya dengan kedua tangannya.

''Ya, ada yang salah dengan itu?'' tanya Tsunade balik, tetap dengan menampilkan kesan wibawanya.

''Apa tidak apa-apa?'' tanya Godaime Kazekage a.k.a Gaara. ''Apa sekarang dia sudah bisa mengendalikan Kyuubi?'' lanjut Gaara masih tetap dengan ekspresi datar.

Tsuchikage menganggukan kepalanya seolah membenarkan pertanyaan Gaara. ''Bagaimana kalau nanti dia lepas kendali?'' tanya Tsuchikage sambil menatap Tsunade.

''Aku tidak yakin,'' ucap Mei terumi sambil menggelengkan kepalanya.

''Tenanglah! Aku yakin dia sudah bisa mengendalikan Kyuubi, walau tak sampai ke ekor sembilan,'' jawab Tsunade sambil memandang langit kala siang itu.

''...''

''...''

''...''

Hening, untuk beberapa saat ruangan itu bagai kuburan. Angin berderu pelan diruangan itu yang sudah cukup menandakan begitu sepinya ruang yang dipakai untuk rapat Kage mengenai ujian ketahap Joonin. Detikan jam dindingpun terdengar jelas diruangan ini.

Perlahan Tsunade menatap wajah-wajah Kage yang tengah berpikir keras dan itu terlihat sekali diwajah tua seorang Yondaime Raikage.

helaan nafas terdengar begitu jelas diruangan itu, dan secara serempak semuanya menoleh kearah Raikage yang tengah berpikir keras.

''Ada apa Raikage?'' tanya Godaime Mizukage sambil menatap Raikage yang tengah menyamankan posisinya di bangku itu.

''Tidak apa-apa,'' jawabnya sambil menggelengkan kepalanya pelan. 'bagaimana kabar Bee sekarang?' batin Raikage sambil menatap langit-langit ruangan itu dengan pandangan menerawang.

''Baiklah, kurasa rapat ini sudah cukup. Dan terimakasih sudah menghadiri rapat ini,'' ucap Shizune sambil berkeringat dingin karna ditatap Empat Kage yang rasanya ingin melahapnya mentah-mentah.

sreg..

Sreg...

Sreg..

Bersamaan para Kage itu bangkit dari kursinya dan membungkuk memberi hormat pada Tsunade sang 'nona Rumah'.

''Aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat jalannya ujian nanti,'' ucap Raikage sambil berlalu keluar ruangan itu terlebih dahulu.

Tsuchikage menganggukkan kepalanya begitupun dengan Godaime mizukage, secara serempak mereka melangkah keluar dari ruangan itu, dan di ruangan itu hanya tersisa Gaara dan Tsunade.

..o.O.o..

THREE MAN POV. (INO)

Disinilah dirimu, duduk termenung disini memang membuatmu merasakan suatu keindahan tersendiri. Merasa tenang, merasa selalu ingin seperti ini terus.

Mengehla nafas sejenak kau selonjoran disini, diatas pahatan Almarhum Sandaime Hokage kau merenung. Menatap arak-arakan awan di sana membuatmu ragamu merasa nyaman dan tenang, deru pelan angin membuat rambut pirang kepucatan milikmu sedikit berantakan karnanya

Tiba-tiba saja kau merasakan Chakra yang kau kenal, yah.. Chakra dari seorang Sakura Haruno.

''Ada apa Forehead?'' tanya mu sambil menoleh kebelakang dan benar saja, sahabat merah jambumu sedang berdiri di belakangmu dengan senyum lembut.

''Apa yang kau lamunkan Ino?'' tanya sahabatmu itu sambil mendekat kearahmu. Setelah sampai disebelahmu dia duduk dengan anggun dan perlahan.

Dan jawaban yang kau berikan hanya gelengan perlahan yang membuat rambut pirang pucat milikmu juga terayun seirama dengan gelengan pelanmu.

''Aku tau ada yang kau pikirkan bukan?'' tanya Sakura, sahabat kecilmu ini memang paling tau akan dirimu. Dan juga paling tau segalanya dan apapun menyangkut dirimu.

menghela nafas perlahan dan kau menoleh padanya.

''Aku...'' seolah ada yang mengganjal ditengorokanmu, kau tidak jadi mengucapkannya. Bibir mungilmu kembali menutup seiring dengan perlahan kau menoleh dan menatap arak-arakan awan di langit itu.

''Ya..?'' tanya sahabat Pinkmu seolah tidak sabar dengan lanjutan kata-katamu yang terpotong, dapat kau lihat dari wajahnya dia mulai kesal akan dirimu yang mungkin bertele-tele, tapi itulah kenyataannya. Kenyataan yang membuatmu tak harus membicaraknnya atau mengutarakannya pada sahabat kecilmu itu yang tengah kesal padamu.

NORMAL POV.

Terkadang waktu terasa berlalu begitu cepat, sehingga kita tidak menyadari sesuatu yang sudah berlalu dan tak bisa untuk diulangi. Dan terkadang ada yang menginginkan waktu untuk berputar kembali, ada yang ingin waktu berhenti saat itu juga. Waktu tak akan pernah berhenti sampai kapanpun dan itu terkadang menimbulkan kesimpulan bahwa waktu itu kejam dan juga berharga, kita sudah tau pasti bahwa waktu tak akan pernah berhenti sampai kapanpun karna dari itu kita di tuntut untuk menjalani hidup dengan sebaik yang kita bisa jalani.

Mengingat soal waktu, membuat Tsunade -yang dari tadi mendengar pembicaraan dua muridnya- teringat dengan masa lalunya. Masa lalu akan tim Sarutobi, masa lalu akan romantisnya hubungannya dengan sosok Dan, dan masa lalu akan bahagianya dirinya memiliki sosok adik seperti Nawaki.

Perlahan Tsunade berjalan menghampiri dua muridnya yang tengah bersantai di atas patung pahatan wajah Sandaime Hokage, tanpa sepengetahuan mereka.

''Kau tau, Gaara kan?'' tanya Sakura pada Ino yang tengah menganggukan kepalanya, dan itupun tanpa sepengetahuan mereka bahwa Tsunade sudah berdiri di belakang dua muridnya ini.

''Lalu, kenapa dengan Gaara?'' tanya Tsunade sambil memotong omongan Ino yang tengah terlonjak kaget begitupun dengan Sakura.

''Shisou?'' tanya Sakura sambil bangkit dari duduknya di iringi pula dengan Ino. Keduanya langsung membungkuk secara bersamaan.

''Sudah lah!'' ucap Tsunade sambil mengambil tempat duduk di tengah Ino dan Sakura yang tengah berdiri sambil membungkuk.

melirik sebentar, Sakura dan Ino menghela nafas dengan lega. Dan keduanya langsung duduk mengapit seorang Tsunade.

Tsunade masih menatap langit senja dengan tatapan kosong, seolah dia merasa kembali ke masa lalu dengan sebuah kenangan yang bertumpuk layak gunung.

Ino cuma bisa diam sambil memandang Desa Konoha di kala sore, menurutnya itu suatu keindahan tersendiri dan itu sudah berulangkali dia utarakan dalam hati. Berulang kali pula dia teringat akan kenangannya bersama 'Dirinya' di atas pahatan Sandaime ini.

Begitupun sakura, dia hanya mencoba memperhatikan burung-burung yang berterbangan di atas Desa Konoha kala sore. dia menyadari satuhal saat ini, yaitu keindahan yang terpatri disini sangat menawan dan memang sangat, indah.

''Shisou?'' ucap Sakura, mencoba menghilangkan keheningan yang melanda dirinya.

''...'' Tsunade menoleh dalam diam, dia menatap hijau Emerald yang terpatri indah dalam bola mata murid kesayangannya.

''Bagaimana dengan, kerjaan Tsunade-shisou di kantor Hokage?'' tanya Ino sambil menatap Tsunade yang lagi menoleh kearahnya dengan santai.

''Ada Shizune,'' jawab Tsunade sekenanya, dia kembali menatap awan senja dikala sore itu.

..o.O.o..

Adalah suatu keinginan, mengapa Naruto ingin cepat sampai di Konoha, adalah suatu kerinduan yang membuat Naruto ingin cepat bertemu dengan Gadisnya yang telah dia tinggal di Konoha. Membuat bocah tujuh belas tahun ini melesat bak Kunai yang dilempar dengan tenaga besar sehingga hanya meninggalkan seberkas bayangan dirinya lantai bumi.

Jiraiya yang berada di posisi belakang hanya mampu tersenyum teduh pada muridnya, mengingat dirinya tidak pernah merasakan cinta membuatnya memaklumi akan rasa yang didapatkan oleh murid 'Kuning'nya.

''Kau tidak lelah Naruto?'' itulah satu-satunya pertanyaan bodoh yang pernah terlontar dari mulut Jiraiya, padahal dia sudah tau pasti, kalau Naruto adalah Jinchuriki Kyuubi. Sosok Biju yang tak pernah akan kehabisan Chakra walau dalam keadaan sesulit apapun, jadi jika Naruto adalah Jichuriki Kyuubi lantas bocah satu inipun takan pernah merasakan kelelahan.

Melirik sebentar, setelah itu pandangan Naruto kembali terarah kedepan. Sempat terbesit dipikirannya untuk mengejek Shisounya, yang dengan bodohnya bertanya 'Kau tidak lelah Naruto'. Padahal dia tau bahwa Shisounyalah yang paling mengerti akan Fisiknya yang tak akan pernah lelah.

Satu dahan demi dahan dia loncati, perlahan merangkap tiga pohon terlewati dalam sekali loncat dan begitu seterusnya sampai dirinya sendiri tidak tau sudah berapa ratus dahan pohon terloncatinya yang kesemuanya dia bagi tiga dahan sekali loncat.

..o.O.o..

Diam, yang dilakukan Tsunade saat ini hanya diam sambil menatap langit sore di atas pahatan wajah Senseinya- Sarutobi Hiruzen.

Dia terus diam, sampai dirinya sendiri tidak menyadari bahwa dua murid kesayangannyapun masih di sebelahnya, mengapit dirinya dalam diam sambil menatap Desa Konoha kala sore.

''Kalian tau?'' ucap Tsunade, dia bertanya tapi masih dengan menatap langit sore di atas pahatan Sandaime Hokage.

Ino dan Sakura hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap bingung kearah Tsunade yang sedang menghela nafas.

''Aku rasanya ingin sekali kembali ke masa lalu,'' ucapnya dengan pandangan kosong.

Sakura dan Ino hanya menatap Tsunade dengan pandangan bingung dan memiringkan kepala kekanan tanda bingung.

''Waktu ternyata begitu cepat ya,'' lanjut Tsunade sambil menepuk kepala dua muridnya yang tengah menunduk dalam diam.

Sakura dan Ino mengerti, mengerti kemana arah pembicaraan ini, maka dari itu mereka memilih diam sambil menundukkan kepalanya.

''Dulu aku juga seperti ini, duduk bersama Sarutobi-sensei di atas pahatan Nidaime Hokage,'' ucapnya sambil menoleh kearah dimana sebuah pahatan wajah Nidaime Hokage, Tobirama Senju.

Perlahan, semua kenangan yang terekam di otak kecil Tsunade keluar dalam bentuk 'Video' hampa. Dapat dia lihat dirinya yang masih tujuh belas tahun duduk dengan santai di arah kanan, dapat dia lihat pula senyum Jiraiya muda di samping kiri, dan yang paling miris adalah sosok Sensei yang sudah dia nggap ayah, sosok Sensei yang amat teramat sangat dia sayangi- Sarutobi Hiruzen.

Sakura hanya memandang miris pada Shisou kebanggaannya yang tengah mengulas masa lalu dengan cara melamun, dia mengerti akan sosok Tsunade, dia mengerti akan perasaan Tsunade saat ini yang merasa tersakiti akan waktu.

Ya, waktu adalah segalanya. Dengan waktu semua berjalan dan bergulir tanpa kita sadari sudah terlampau terlambat, terlambat untuk menyadari betapa kejamnya bulir waktu yang mengalir. Dan Sakura tau itu, dia tau betapa banyaknya masa lalu yang terpatri di jalan hidup seorang Tsunade Senju. Betapa banyak waktu yang berbulir dan terlewati, mungkin sudah berjuta jam yang dilalui seorang Tsunade, dan waktu itu mengajarkannya akan kehidupan yang sesungguhnya. Sehingga dirinya melalui itu dengan berbeda yaitu, judi.

..o.O.o..

Tap...

Tap...

''Ada apa Jiraiya-sensei?'' tanya Naruto setelah mendarat dengan mulus disebelah Jiraiya.

''Kita harus mengirim surat pemberitahuan pada Tsunade, kalau kita tinggal sedikit lagi akan sampai,'' jawab Jiraiya sambil mengeluarkan secarik kertas dan menggoreskan pena biru tua miliknya.

Naruto hanya diam saja, matanya bergerak liar, antara kekiri dan kekanan. Mencoba untuk memperhatikan suasana sepi kentara di hutan negara HI yang lebat bukan main.

Srregg...

Naruto menoleh refleks kearah Jiraiya yang tengah memberikan secarik surat kepada katak pengirim surat yang entah kenapa Naruto tidak merasakan kehadirannya.

''Berikan pada Tsunade senju! Jangan sampai salah,'' perintah Jiraiya pada katak hijau yang melompat mundur dan hilang dibalik kepulan asap.

''Kenapa harus dengan surat? toh kita hampir sampai,'' ucap Naruto sambil kembali melompati dahan pohon besar dihadapannya.

Jiraiya menoleh sesaat, dan setelahnya dia membisu dalam setiap tapak loncatan yang dibuatnya. Sunyi hutan HI memang tidak diragukan lagi akan kesunyiannya, membuat seseorang yang penakut hantu pasti bergidik ngeri. Yak, walau Naruto sudah dewasa dengan umur tujuh belas tahun, itu tidak menutupi dirinya yang takut akan Hantu. Bagaimanapun juga dia tetaplah manusia yang sebagian besarnya adalah penakut.

Perlahan Naruto merapat kearah Jiraiya, walau dia benci dengan ini tapi dia hanya ingin menghilangkan pikiran itu dengan cara merapat kearah Senseinya yang tengah bingung dengan Naruto yang merapat kearahnya. Tapi perlahan senyum terkembang di wajahnya, dia diam tak menghiraukan Naruto yang merapat kearahnya.

''Ada yang ingin kubicarakan sesuatu padamu saat kau sudah lulus di ujian Joonin ini,'' ucap Jiraiya, dia menoleh dan mendapati suatu kebingungan yang melanda pikiran seorang Naruto.

..o.O.o..

Laki-laki bertampang emo itu hanya diam tanpa bicara menatap lima Shinobi bawahan Kabuto yang tengah menghalangi 'jalur pulang' mereka.

''Ada apa?'' nada dingin keluar dari mulut seorang Sasuke Uchiha, dia menatap satu persatu wajah yang menghalangi jalan pulangnya.

Suuko mendengus kesal dan mendeathglare kearah Sasuke,''Seharunya kau sadar! kau itu bawahan tuan Orochimaru,'' jawab Suuko sambil menyiapkan Kunai yang berada didalam tas pinggang bagian kirinya.

''Dia sudah tidak ada, dan tak ada hubungannya dengan kami,'' bantah Suigetsu bersemangat, karna hari ini hasrat membunuhnya entah kenapa begitu besar.

''Karin, pastikan kalau mereka bukan Bunshin!'' perintah Sasuke sambil menoleh kearah kiri dimana Karin tengah berdiri dan mengangguk setelah mendapat perintah dari sang leader.

Juugo cuma diam sambil memperhatikan wajah-wajah bawahan Kabuto yang tengah keringat dingin ketika melihat tiga tomoe di bola mata merah Sasuke. Pandangan Juugo beralih kearah Suigetsu yang tengah menarik Kubikkiribocho dari punggungnya dan menyempatkan untuk menyeringai pada sekumpulan Shinobi Oto yang berdiri di depannya.

Sasuke melangkah kedepan -dengan santai- dan stop dengan jarak agak jauh dari Karin Cs yang cuma diam. Perlahan Sasuke menoleh kebelakang tanpa menghiraukan Shinobi Oto didepannya. Dan matanya tertuju pada Karin yang tengah berkutat dengan pikirannya.

'Mereka bukan Bunshin, dapat terasa jelas melalui perdaran Chakra mereka, dan Chakra ini hanya milik mereka berlima. Setidaknya dalam jarak Lima Kilometer' batin Karin mantap sambil menaikkan posisi Kacamatanya dengan jari tengahnya.

mata merah ruby miliknya tertuju pada sosok laki-laki beryukata putih yang bagian depannya terbuka dan di bagian belakang kerah yukatanya tercetak gambar kipas -yang bagian atasnya berwarna merah, Sasuke.

Dia mengangguk, memberi kode tak terlihat pada sang leader yang tengah beralih menatap para Ninja Oto yang tengah lengah. Suigetsu menaikkan sebelah alisnya, bingung melihat kode yang diberikan pada Sasuke, 'Padahal cuma anggukan, tapi kenapa semua itu seperti kode tak kasat mata ya?' batin Suigetsu -tak peka.

Seakan melihat celah, para Ninja Oto tersebut saling lirik seolah menunggu perintah dan setelahnya. Dengan serempak para Ninja itu langsung melemparkan ratusan atau bahkan ribuan Kunai kearah Sasuke yang tak bergeming.

Suigetsu langsung melotot melihat ratusan, Ah tidak! Ribuan Kunai melayang dengan cepat kearah Sasuke dan menghela nafas setelah melihat Kuchiyosa ular yang dikenalnya dengan Kuchiyose Manda -Ular Orochimaru batinnya, yang tengah melindungi Sasuke sambil berputar.

Para Ninja Oto langsung mangap melihat Kuchiyose Manda menghalangi objek serangan mereka dengan cara berputar dan menepis dengan mudahnya ribuan Kunai yang mereka lemparkan.

'Pooff..'

kuchiyose tadi menghilang dengan berakhirnya kepulan asap, yang berarti juga menutupi tubuh Sasuke yang tadi di lindungi. Setelah asap tebal barusan hilang, nampak sudah pose Sasuke yang tengah menahan nafas dan telapak tangannya saling bertaut.

Juugo menghela nafa sejenak sebelum bergumam, ''Sebenarnya aku tidak ingin membunuh lagi, tapi untuk ini tak apalah,'' ucapnya dan bertransformasi pada level dua yang menunjukan cirinya yaitu, tato hitam yang merambat menuju bagian wajahnya.

''Chikyu no hyuman hakkai..'' seru Juugo sambil mengahantamkan bagian tangan Kanannya -yang entah sejak kapan telah bertransformasi menjadi palu super jumbo- kearah tanah tempat nya berpijak .

Karna masih sayang nyawa, Karin dan Suigetsu langsung menghindar dari lokasi kejadian. Tanah yang tadinya rada rata, kini berhamburan dan melayang di udara dengan serpihan yang tak bisa dibilang kecil.

Juugo melompat keatas, posisinya tepat di bagian paling atas antara serpihan tanah dan merubah tangannya menjadi kipas raksasa.

''hheeyyaa...'' serunya sambil mengibaskan tangannya yang kini menjadi kipas, dan mengarahkan jatuhnya serpihan itu pada lima Shinobi yang tengah membelalak tak percaya terhadap apa yang mereka lihat.

Belum cukup keterkejutan mereka akan kehadiran serpihan batu akibat ulah Juugo, sekarang malah ditambah dengan semburan api dari mulut Sasuke.

''Katon, Goukakyou no jutsu.!'' gumam Sasuke sambil mengarahkan semburan apinya pada serpihan batu yang masih melayang diudara sehingga membentuk meteor dengan api yang berkobar melayang kearah Ninja Oto yang benar-benar mengalami shock berat akibat serangan kolaborasi antara Sasuke dan Juugo.

Jika dimasukan dalam presentase persen, bisa dipastikan serangan barusan memiliki angka Seratus persen kalau saja diantara mereka tidak ada yang bisa menghindar.

Nafas Shinobi Oto itu tersengal-sengal, berjalan terseok-seok dengan luka bakar permanen dibagian tangan kiri dan kaki kiri. Tubuhnya terkapar tak berdaya (telentang) ditanah yang tadinya kecoklatan, kini berubah menjadi merah darah.

Karin cuma bisa tersenyum melihat aksi Sasuke dan Juugo barusan, dan kembali memposisikan kacamata merahnya keposisi awal dengan jari tengahnya. Sedangkan Suigetsu cuma mendengus bosan.

'Aku kira akan seru, tak taunya cuma segitu,' batin laki-laki bertaring panjang itu. Dia berjalan menghampiri sosok Ninja Oto itu dengan santai.

''Tak kusangka kalian selemah ini,'' ucap Suigetsu sambil memposisikan talapak kaki bagian kanan di dada Ninja Oto yang nafasnya tersengal-sengal.

''Lebih baik segera habisi dia!'' perintah Karin sambil berjalan menghampiri Sasuke yang Sharingannya telah digantikan dengan kelamnya Onyx.

Sasuke cuma diam dengan wajah datar, menatap Suigetsu dari belakang yang tengah mencaci maki Ninja Oto itu. Matanya beralih ke Juugo yang tengah 'bercengkrama' dengan burung merpati yang tengah bertengger dijari telunjuknya.

''Kau tidak apa-apa Sasuke?'' tanya Karin sambil mendekat pada sang leader yang tetap membisu.

Mata kelam Sasuke menatap gumpalan awan yang berarak-arakan dilangit, sementara Suigetsu sedang memaki Shinobi Oto yang dia bilang pengecut.

''Ka..u, si.a..lan..'' Shinobi Oto yang mendapat nama Youja itu berbicara dengan nafas tersengal-sengal, paru-parunya memompa oksigen dengan cepat berusaha mencari barang secuil oksigen yang tumpah ruah disekitarnya tapi nihil, seiring waktu tubuhnya melemah. Mati rasa, itulah yang dia rasakan saat ini pada tubuhnya.

''Lebih baik kau ke Neraka!'' gumam Suigetsu sambil menghunuskan Kubikkiribocho tepat kearah dada Youja yang tak bernyawa.

''Kau terluka? Juugo,'' tanya Karin sambil mendongak untuk menatap wajah seorang Juugo yang tengah bertatapan dengan burung merpati.

Juugo menoleh sesaat dan kembali menatap burung itu setelah bergumam..''Aku tidak apa-apa,''

karin mendongak keatas, menatap awan yang tadinya putih bagai kapas, kini berubah menjadi warna putih dengan sedikit berwarna orange. ''Hari sudah mau gelap, sebaiknya kita mencari tempat untuk menginap malam ini!'' ucap Karin sambil menatap Sasuke yang tengah mengangguk seolah mengiyakan perintah Karin.

..o.O.o..

Kangen, yah.. Kangen adalah kosakata yang berada diposisi kedua setelah kata rindu. Satu kata ini mampu menyampaikan semua perasaan seseorang pada yang di tujukan, satu kata ini menyimpan banyak makna, menyimpan berjuta rasa, menyimpan beribu asa dalam hati bagi yang merasakannya.

Kangen adalah kata yang terdiri dari dari enam hurup pokok, enam hurup ini menyampaikan rasa, asa, dan makna. Membuat seseorang yang merasakan suatu rasa kehilangan, suatu rasa hampa dan suatu rasa yang menginginkan semua ini ingin bertemu layaknya awal dari lembaran buku yang terbuka.

Dan Naruto tau itu, dia kangen atau rindu? Dua kata itupun terserah, tapi yang pasti dia merindu dan sebentar lagi rindunya akan terobati. Salahkah Naruto jika saat sampai nanti dia langsung memeluk gadisnya? Salahkah Naruto jika saat sampai nanti dia langsung mengecup gadisnya? Salahkah rasa rindu ini ingin minta lebih saat terobati nanti? Semua itu hanya tergantung padanya dan pada dirinya.

Siang berganti malam, panas diganti dingin. Dan itulah siklus alam, tak pernah siapapun yang tau kalau dua siklus ini tengah berjalan tanpa henti sama dengan seiringnya bergulir waktu? Dan Dewi malampun menampakan sinarnya, dan menampakan kilaunya.

Senyum Naruto terkembang ketika wajah Ino -yang sedang tersenyum- melintas di benaknya, senyum gadisnya memang bisa membuat seorang Naruto jadi kuat, lelah akan hilang jika mengingat senyum gadisnya.

''Belum tidur?'' tanya seseorang disebelahnya.

Naruto menoleh ke asal suara, di bagian kanan ranting itu berdiri seorang Jiraiya yang juga tengah mendongak menatap langit malam yang tersinari cahaya bulan. ''Belum,''jawab Naruto sambil menggelengkan kepalanya.

''Kenapa?'' tanya Jiraiya sambil menoleh ke arah Naruto.

''Belum ngantuk,'' jawab Naruto sekenanya.

''Apa karna memikirkannya?'' tanya Jiraiya sambil tersenyum lembut, mencoba memahami sikap muridnya yang memang rada sama dengan 'Dirinya'.

'Kau tau? Anak'mu' sekarang sudah besar, dan dia tak ada bedanya dengan'mu'. Kalian terlampau mirip, bahkan sesekali aku hampir menyebut nama'mu' pada sosok anakmu ini,' Jiraiya hanya membatin. Menatap sosok Naruto yang tengah mendongak menatap bulan, rambut jabrik yang kini panjang sampai bahunya itu sedikit terhuyung dan teriup kearah angin yang datang.

.

.

.

.

.

.

Hooea.. Gomen kalau chap dua ini masih ada keslahannya. Gomen sekali lagi *Bungkuk-bungkuk*

Uhm.. Namikaze-chan, sebaiknya kau yang mengakhiri ini dan jangan lupa balas Review para senpai dan readers ea! *ngacir*

ohh.. Hai uhm... Baiklah. Oke.. Namikaze tauk kalau chap dua ini abalnya ngga ketulungan, jadi gomene kalau masih ada yang salah. Ok sebaiknya balas Review dulu..!:

Ridho Uciha : kamu suka fic ini? Wuaah arigatou, aku kirain bakal banyak nerima flame karna saking gajenya, tapi syukurlah lo gitu.

Uhm.. Kalo slight NaruSaku keaknya ngga bisa deh, soalnya ngga jago gitu buat yang slight-slight. Tapi tetep r n r yea..!#BLETAK.

Vaneela : ohh.. Pergantian POVnya yang jadi masalah yea? Gomene, tapi dichap ini aku tandain dengan THREE MAN POV (...) jadi yea.. Aku kira sudah cukup untuk memberitahu yang mana POV ke tiga.

Ehehehe...*nyengir kuda* mungkin di chap tiga akan aku buat yang flashback saat mereka jadian, tapi.. RnR lagi ya senpai..!

Harru3137 : yaahh.. Kita sama, aku juga ingin baca saat abang Naru (baca: Naruto) dewasa walau tidak terlalu jenius.. Tapi, untuk pendeskripsiannya aku tidak terlalu jago, maka jadilah fic ini rada atau full deskrip.

Uchiha Kagamie : hee..? Wahh.. Ternyata bukan hanya aku yang suka bilang kalau mereka cocok, ternyata banyak juga yang bilang kalau mereka cocok. Untuk Deskripsi aku sudah berusaha, jadilah chap dua ini rada full deskrip keak chap satu.

hompimpa : emang baru sedikit yang buat NaruIno

.. Sama-sama, dan makasih kalau kamu suka fic nista ini. RnR lagi ea..!

Mikaela Williams :gomene kalau buat senpai sampai bingung, gomenesai*bungkuk-bungkuk*

el Cierto : wajarlah bang *dibakar* Yahiko dan Namikaze-chan masih Nubie, jadi masih kurang bimbingan. Tapi kami berdua akan berusaha sebisanya. RnR lagi yea.. Senpai..!*ditendang

Reader : siipp.. Ini udah updet, RnR lagi ea..*dibuangkesumur

Sukie 'Suu' Foxie: Arigatou atas sarannya senpai, Yahiko udah berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat senpai kecewa tapi, inilah hasilnya. Gomene kalau kesalahan and Typo(s)nya beredar(?) dimana-mana.

Yamanaka Chika: ini udah updet chika-chan, RnR lagi yea.. *BLETAK

Pink Uchiha : wahh sama, Namikaze juga suka NaruIno, Yahiko-kun tuh bener-bener gila NaruSaku. Jadilah aku cuma bisa ngikut aja.

Namikaze Kokyuu :waahh.. Arigatou jikalau kamu suka dengan begitu aku bisa tenang(?) RnR lagi yeaa...

Untuk yang mereview fic abal ini Yahiko sangat berterima kasih, apa lagi jika ada yang memberi saran atau concrit? Yahiko lebih suka itu. Kalau Flame? Takut juga sih.. Tapi tak apalah, toh cuma cara mereka aja yang salah dalam memberi tau kesalahan Yahiko. Yahiko hargain itu.

Untuk yang ngeFAV arigatou sekali lagi, hanya saja Yahiko takut membuat kalian kecewa dengan chap dua ini, gomene sekali lagi jika chap dua ini buat kalian kecewa.

Oke...\d(^_^)b/ akhir kata Yahiko dan Namikaze-chan ucapin...

.

.

.

.

.

.

.

.

REVIEW Pleaseee...