Yosh...! Yahiko balik lagi dengan chapter tiga ini, gomen kalau mengecewakan, oea adakah yang mau memberikan refrensi Naruto saat pertama kembali? soalnya Yahiko mau buat sampai Naruto shippuden yang melawan Pain, tapi sebelum melawan Pain masih banyak petualangan dan pertarungan yang harus dia lewati. Itu spoilernya *BLETAK!
Special thank's to :
el Cierto, Sukie 'Suu' Foxie, Vaneela, Ridho Uciha, Mikaela Williams, Yamanaka Chika.
Thank's before at reading, gomen kalau chapter kali ini mengecewakan. ^^V
Disclaimer : Naruto and All Chara belong to Masashi kishimoto © 1999
Story and Chara OC by Yahiko Namikaze (Author)
© 2011
Backsound : Kangen by Dewa19
and Everytime by Britney Spears
(lebih asyik lagi kalau baca fic ini, sambil dengerin dua lagu yang judulnya tertera diatas)
Pair : Naruto x Ino
Title : Konoha kiiroi senko II.
Rated : T ( semi M) ^^V
Genre : Adventure and Romance, bloody scene and chara dead!
Warning : Gaje, OOC, OC, CANON, AU, Abal, Typo/ mistypo dsb (dan sebagainya).
.
Don't Like! Don't Read!
.
Jus't enjoy this!
.
Summary :dirinya amat sangat mirip dengan sosok 'dirinya' yang telah rela mengorbankan dirinya sendiri demi Desa dan orang yang dicintainya
.
.
.
.
.
.
Deru pelan angin musim semi berurak di sana-sini, membawa serbuk bunga yang telah rapuh berhamburan di udara, membuat musim semi makin kentara akan gugurnya bunga sakura dari rantingnya dan deru anginnyapun membelai wajah seorang Ino di taman Konoha dikala sore. Dia duduk diam di bangku taman itu, sambil mendongak menatap langit senja yang terlukis di sana.
Wwhhuuss...
Kali ini bukan hanya deruan pelan angin, tapi angin kencang yang cukup untuk membelai rambutnya yang juga ikut berliuk riang di udara. Dengan tenang Ino menyematkan helaian Mahkota pirang pucatnya di belakang telinga, sambil sedikit menunduk, dan menengadah setelahnya.
Terukir senyum di paras itu, dia tersenyum akan sosok yang terbesit dibenaknya saat ini. Sosok laki-laki berambut kuning tersebut tersenyum dalam lamunannya, membawa Ino juga tersenyum akan itu.
..o.O.o..
'Sebentar lagi, sebentar lagi kita pasti akan bertemu Ino-chan! Dan setelahnya, aku takkan pernah lagi berpikir untuk pergi,' batin Naruto mantap, sambil melompat dari satu ranting ke ranting yang lain. Helaian rambut pirangnyapun ikut berkibar seiring tubuhnya membelah udara, pandangannya tetap intens ke depan dan tak menoleh, baik ke kiri ataupun ke kanan.
..o.O.o..
Dalam sunyi Ino beranjak dari bangku itu, menyeret kaki jenjangnya menuju rumah untuk pulang. Di perjalanan sesekali Dia menoleh kanan-kiri, untuk melihat pemandangan rumput hijau yang terhampar di dataran rendah. Setiap sudut jalan dihiasi dengan gugurnya bunga sakura yang berserakan di pinggir jalan. Cuaca sore ini memang sangat dingin, awan mulai menjingga di langit sana, menandakan hari sudah terlampau sore dan waktunya juga dirinya pulang.
Tap..
Langkahnya berhenti di dekat bangku yang berada di bawah pohon sakura, sekali lagi dia menoleh ke kanan, memandang rumput hijau nan luas yang tengah bergoyang tertiup angin, tak luput pula rambutnya yang terurai itu juga jadi sedikit berantakan akibat ulah angin nakal tersebut. Dia menoleh ke kiri dan di situlah tempat biasa mereka mengobrol, bersenda gurau, dan tempat yang selalu menjadi tempat pertemuan dua insan ini.
Flashback : On.
''Naruto-kun?'' tanya Ino sambil berjalan menghampiri Naruto yang tengah tiduran di padang rumput dengan berbantalkan kedua tangan, dan kaki kanannya tertumpu di atas kaki kiri yang tertekuk.
Merasa ada yang memanggil, Naruto membuka kelopak matanya, menampakkan Blue sapphire yang indah di dalam mata itu. Naruto menoleh pelan pada asal suara, dan tersenyum setelah tau siapa yang menyapanya.
''Yoo... Ino-chan, sedang apa?'' tanya Naruto pada gadis Yamanaka yang tengah berdiri di sebelahnya, dan terlihat di matanya kedua tangan mungil itu menggenggam keranjang kecil.
''Aku kebetulan lewat, tadinya mau pulang.'' Ucap Ino sambil mengistirahatkan kakinya dengan duduk di sebelah Naruto. ''Tapi kupikir... aku sudah lama tidak main kesini, Naruto-kun sendiri?''
''Kalau Aku sih.. Sudah sering kemari. Setiap kali aku menyelesaikan misi pasti aku kemari,'' jawab Naruto sambil memejamkan matanya.
''Mau buah?'' tanya Ino sambil menyodorkan buah jeruk, yang dia tahu kalau kekasihnya ini paling suka dengan jeruk.
Naruto menghela nafas sebentar, dan menoleh pada tangan mungil Ino yang menyodorkan buah jeruk. ''Jeruk?''
''Naruto-kun tidak suka?'' tanya Ino pelan, sambil menarik lagi buah itu tapi pergerakannya langsung ditahan oleh lengan kekar Naruto.
''Darimana kau tau, kalau aku suka jeruk?'' tanya Naruto sambil mengupas buah jeruk itu, sambil sesekali mengelap air mata perih yang di dapatnya dari cairan kulit jeruk yang dengan indah menjiprat matanya.
Ino tersenyum sekilas dan merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan bahu Naruto. ''Aku rasa kau memang menyukai jeruk,''
''...''
''Bagaimana! Jeruknya enakkan?'' tanya Ino sambil menengadah, menatap wajah Naruto yang sedang merem-melek.
''Tidak ada enaknya Ino-chan, yang ada malah masam,'' jawab Naruto sambil susah payah menelan jeruk itu.
Ino terkekeh pelan dalam dekapan kekasihnya, mendongak sedikit dia menatap Naruto yang masih bergelung dengan masamnya jeruk muda itu. ''Itu masih muda, kenapa kau malah memakannya?'' ucap Ino, Innocent.
Naruto mengerutkan alisnya, merasa dipermainkan oleh kekasihnya membuat otak Naruto mencari cara untuk membalasnya. ''Lalu... kenapa kau menawarkannya padaku?''
''Yang kutawarkan barusan bukan yang itu Naruto-kun, tapi yang itu!'' jawab Ino -yang masih dalam dekapan Naruto dengan posisi telentang- sambil menunjuk buah yang tengah tergeletak di dekat keranjang.
Naruto menyeringai sedikit, sekilas menampakan senyum rubah menakutkan untuk siapa melihatnya sementara Ino bergidik ngeri. ''Aduh.. Ino-chan, perutku sakit..,'' rintih Naruto lirih, sembari memegang perutnya.
Ino yang tadi lagi asyik memejamkan matanya sambil berbaring berbantalkan bahu Naruto kini mendongak, menatap wajah Naruto yang kini menampakan wajah menahan perih akibat sakit perut.
Flashback Off.
Lagi-lagi Ino tersenyum mengingat kenangan itu, kenangan dimana sore itu berakhir dengan aksi kejar-kejaran, akibat ulah Naruto yang dengan liciknya membohonginya dengan dalih 'Sakit perut akibat jeruk muda itu!' walau begitu dia tetap senang akan itu. Justru kenangan itu yang masih melekat di otaknya, dia merindu 'sentuhan' kekasihnya, dia merindu belaian kekasihnya. Tak sadar Ino memegang dadanya, mengigit bibir bawahnya hanya untuk menahan rasa rindu yang melebihi rasa dan asa di dalam hatinya.
Tap... Tap... Tap..
Ino kembali menyeret kakinya untuk pulang ke rumah orang tuanya, kedua tangan mungilnya masih menggenggam erat keranjang yang berisikan jeruk. Dia berjalan dalam diam, sesekali dia tersenyum mengingat tingkah konyol kekasihnya.
..o.O.o..
''Hei, Sugetsu!'' geram Karin.
Suigetsu menoleh sesaat, sambil terus menyedot air dari dalam botol minuman kesayangannya. ''Ada apa?'' tanyanya Innocent setelah menyimpan botol air minumnya.
BLETAK...
''I-Ittai..'' Gumam Suigetsu sambil mengelus kepalanya yang di jitak Karin. ''Kau ini, apa-apaan hah!''
''Makanya, jangan senak jidatmu main istirahat!'' seru Karin, dia heran dengan Suigetsu kadang berhenti sejenak hanya untuk meminum air? Apa dia Kappa.
''cepatlah! Sebentar lagi kita akan sampai di Konoha!'' ucap Sasuke dingin, seraya melanjutkan perjalanannya tanpa menghiraukan Karin dan Suigetsu yang masih bertengkar.
Juugo hanya menurut dalam diam, dia berjalan di sebelah Sasuke yang juga cuma diam, maka lengkap sudah kesunyian yang mereka buat di sore ini.
''Sasuke,'' ucap Karin sambil mengambil posisi di bagian kiri Sasuke.
''Hn,''
''Kalau kita sampai nanti, apa kami juga akan diterima disana?'' tanya Karin sambil menoleh kearah Sasuke.
''Hn, akan aku usahakan,'' jawab Sasuke singkat, padat dan jelas.
''Memang Konoha itu seperti apa?'' tanya Suigetsu sambil terus menatap kedepan.
Sasuke memutar Bola matanya bosan. ''Nanti juga kau akan tau!''
'Bagaimana denganmu? Apa kau juga merindukanku,' batin Sasuke sambil terus menatap kedepan dan sesekali menatap awan sore.
..o.O.o..
Dalam diam Hinata menatap langit malam yang berhiaskan bintang, sesekali tersenyum dan mengeratkan pelukkannya pada boneka di dekapannya.
'Bagaimana denganmu? Apa kau juga merasakan apa yang kurasakan saat ini, Sasuke-kun,' batin Hinata.
Malam beribu bintang memang indah untuk di pandang, tapi malam jika tanpa bulan seakan hidup dalam kegelapan. Begitulah Hinata, kelamnya warna mata seorang Uchihalah yang memberitahunya bahwa hidup ini bukannya hanya untuk hidup dan bertahan belaka, tapi juga memberi tahu kita bahwa kita tidak sendiri.
Flashback : On.
''Hiks.. Hiks.. Ka-kaa-san.'' Gadis kecil berambut indigo itu hanya bisa menangis dengan memeluk erat tekukan kakinya di padang lavender, mata lavender lembutnya kini mengeluarkan cairan bening nan masam dalam lirih. Yang dia lakukan saat ini hanya bisa menangis, menangisi sosok ibu yang telah pergi dan tak kembali, sosok ibu yang teramat dipuja olehnya dan disayang, kini di panggil Kami-sama untuk pulang ke Nirwana dalam damai. Sosok ibu yang meninggalkan bejuta sayang, sosok ibu yang meninggalkan beribu rindu tak tertahan, seakan menohok relung hati -gadis mungil itu- paling dalam hingga menuju inti dari jiwa sang gadis indigo.
Megumi Hyuuga
lahir -27-08-1974
Meninggal -25-09-2013
Angka dan nama yang tertera di batu nisan itu seakan sudah tercatat di buku kematian- bagi gadis mungil itu. Di padang lavender ini dia menengadah menatap awan yang menjingga, dalam diam pula dia menangis.
''Apa yang kau lakukan disini?'' suara berat itu membuyarkan lamunan Hinata-gadis indigo.
Dia terkejut, gadis mungil beriris lavender itu hanya mampu membelalak dalam keterkejutan. Tak terbesit dan tak terpikirkan dalam benaknya bahwa dia akan disapa atau mungkin mengobrol dengan orang lain selain Hyuuga.
''A-aku tidak apa-apa!'' Kilahnya sambil menundukkan kepalanya. Dapat dia lihat melalui ekor matanya, kaki bersepatu ala Ninja berbalutkan perban sedang berdiri di sebelahnya.
''Apa yang kau tangiskan Hinata?''
Hinata mendongak, menatap sosok yang berdiri disebelahnya dalam diam. ''Sasuke-kun?''
''Hn,'' Sasuke menoleh, sedikit menundukan kepalanya karna saat ini Hinata tengah duduk, dan Sasuke tersenyum.
''Kau menangisi Okaa-sama mu?'' tanya Sasuke sambil mengambil tempat duduk di sebelah gadis indigo itu.
Hinata hanya mampu menganggukan kepalanya, dia diam tanpa menoleh sedikitpun pada sosok Sasuke di sebelahnya. Dan andaikan Hinata menoleh barang sebentar pada Sasuke, dia pasti akan membelalak kaget karena Sasuke tengah tersenyum lembut padanya.
Gyuut..
Untuk sepersekian detik jantung Hinata memompa darah dengan cepat hingga berdesir kewajahnya, bahkan mungkin saat ini debaran jantungnyapun dapat didengar.
''Tenanglah! Ada aku disini,'' suara lembut itu menggelitik telinga Hinata, memaksa gadis mungil itu menengadah Untuk menatap wajah Sasuke yang tengah tersenyum, tersenyum untuknya dan akan terus tersenyum untuknya dan juga berusaha untuk membuat Hinata tegar dengan apa yang diberinya.
Yang bisa Hinata lakukan saat ini, hanya menyandarkan kepalanya di dada bidang Sasuke demi melepas bebannya, dan menangis dalam lirih di pelukan Sasuke yang juga cuma diam, karena dia tahu, kalau saat ini Hinata butuh menangis. Begitu miris kisah Hinata, walau tak semiris keluarganya yang dibantai oleh kakaknya sendiri. Sasuke tahu, gadis mungil di dekapannya saat ini selalu dijahili, dan entah sejak kapan Sasuke berjanji untuk selalu menjaganya.
''Menangislah Hinata, karena mungkin itu yang terbaik untukmu saat ini. Menangislah dan besok kuharap kau tidak menangisi Okaa-sama mu lagi, karena dia juga tidak ingin dirimu menangisinya,'' ucap Sasuke seraya mengusap bahu kiri Hinata yang terekspose sehingga berasa hangat untuk gadis mungil yang berada di dekapannya.
Flashback : Off.
Entah karena apa, tiba-tiba wajah putih itu merona. Perlahan Hinata memegang kedua pipinya yang terasa hangat. Ya, dia tau apa penyebabnya setiap kali dia memikirkan masalalunya bersama Sasuke, pasti pipinya selalu merona.
..o.O.o..
Pagi ini cuacanya seperti biasa, mentari masih malu menampakan sinarnya, burung saling bersahut dalam kicauan merdunya dan tak luput pula angin pagi yang segar akan selalu membuat warganya semangat untuk menyongsong hari ini.
Uhm.. Nampaknya pengecualian untuk seorang gadis Yamanaka yang satu ini, Matanya sekarang layaknya Panda. Kantung mata menghitam disana dan tak luput pandangan sayunya, memberitahu Kaa-sannya kalau putri semata wayangnya tengah begadang semalam.
''Ino. Mandi sana, kau seperti hantu kalau seperti itu!'' seru ibunya dari ruang tengah, memaksa sang putri tercinta menuju kamar mandi dalam langkah gontai.
''Iya.. Iya, bawel!'' berjalan gontai, hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang, tak peduli pada ibunya yang tengah menahan marah.
Cliing.. Cliing..
Bell rumah yang sengaja di gantung di atas pintu itu berdering, memberi tanda pada sang empunya rumah bahwa ada tamu atau pembeli dipagi buta seperti ini.
'Ada pembeli..!' batin Yumiko Yamanaka, girang.
Dia melangkah tergesa-gesa ke teras rumah, demi menyambut pembeli pertama di pagi buta seperti ini. Tapi langkahnya langsung terhenti tak kala matanya membulat sempurna, menatap siapa pelanggan pertama mereka di pagi buta seperti ini.
''Pagi, nyonya Yamanaka!''
Yumiko hanya mampu menutup mulutnya yang tengah menganga dengan kedua tangan mungil dalam keterkejutan. Mengerjap beberapa kali dia lakukan demi mengecek apakah dia sedang bermimpi atau tidak? Entahlah.
..o.O.o..
Hm.. Tak ada yang lebih menyenangkan bagi Ino selain mandi susu di pagi hari, suatu kegiatan yang tak asing baginya atau malah untuk Kunoichi lain? Tapi baginya itu lebih menyenangkan, busa dari riak air itu dengan girang dia mainkan, meniupnya dan meledakkannya adalah kegiatan Ino jika sudah berendam. Kekanakan mungkin, tapi itulah dirinya.
Tok... Tok.. Tok...
Suara ketukan pintu itu untuk selanjutnya membuat Ino yang lagi asyik bermain gelembung di sana berhenti.
''Siapa?''
''Ini Kaa-san ino, ada yang ingin bertemu denganmu!''
''sepagi ini?'' tanya Ino seraya bangkit dari sana dan menyalakan air shower demi menghujani dirinya dengan air hangat.
''Iya, dan cepatlah! Dia tidak suka menunggu lama''
seruan ibunya meninggi dalam volume tingkat dewa di luar sana, membuat Ino yang berada di dalam kamar mandi bergidik ngeri.
''Siapa sih? Yang mencariku pagi-pagi seperti ini,'' Ino hanya mampu mencak-mencak sambil menyiram air hangat keseluruh tubuh mungilnya, tak dia lewatkan bagian-bagian sensitif di tubuhnya yang tak terlindungi oleh sehelai benangpun.
Mengamit handuk, Ino melangkah keluar demi mengambil baju di kamarnya, mana mungkin dia keluar hanya dengan mengenakan handuk? Oh yeah... dia yakin orang itu pasti bakal mimisan karena melihat tubuh sekseh miliknya. Setidaknya itu pikirannya, dia tidak tahu siapa yang sedang menunggunya diluar sana.
Sosok Laki-laki itu bergidik ngeri tak kala mendapat respon berlebih yang kurang wajar dari para Kunoichi, ada yang mengedipkan sebelah matanya, melambaikan tangan bahkan ada yang mengajaknya secara blak-blakkan, bercinta.
Seperti biasa, Ino dengan langkah riang beranjak dari kamar setelah melakukan ritual paginya, pesolek. Langkah riang nan kaki jenjangnya mengantar Heiress Yamanaka ketamu paginya hari ini, mungkin akan ada yang menyatakan cinta? Itusih menurutnya.
Taappp..
Langkahnya terhenti tepat di belakang sosok laki-laki bertubuh tinggi, sosok itu memiliki rambut pirang yang kelihatannya sebahu, dan mengenakan jubah merah dengan aksen api hitam di bagian ujung bawah jubahnya, tengah membelakangi Ino tepatnya.
''Maaf?''
Sosok itu berjengit sedikit, menandakan sosok itu terkejut akan kedatangan Ino yang mengejutkan. Sosok itu berbalik dalam gerakan lambat, dan yang pertama kali aquamarine Ino lihat, adalah tiga guratan di bagian pipi kiri dengan warna kulit kuning langsat.
Ssiingg...
Sesaat setelah laki-laki itu membalikan badanya, keduanya membelalakan mata dalam keterkejutan yang melanda, keterkejutan yang membawa mereka dalam ketidak percayaan.
Sosok gadis yang kau rindukan telah berubah Naruto, dia sekarang sudah dewasa dengan ciri-ciri umum yaitu, buah dadanya yang besar dan tak lupa tubuh tinggi proporsionalnya, bentuk tubuhnya berubah sempurna dari yang biasa jadi luar biasa. Dan kaupun yakin kalau seluruh pria satu Desa denganmu mengincarnya, kecantikkannya seakan membiusmu dalam iris Aquamarine indah itu.
Ino tak kalah terkejut pula karena mendapati sosok yang di nantinya selama dua setengah tahun ini berdiri tegap di depannya, memandangnya tepat kearah mata seolah dirimu tak bisa lepas dari blue sapphire indah yang di milikinya, sekali lagi, apakah ini cuma mimpi? Oh... Kami-sama, jika kau ingin mempermainkan aku seperti ini, maka akan kuturuti permainanmu.
Tapi terik matahari pagi itu menyengat kulitnya, panas matahari itu mengakibatkan ruam merah kentara di kulit putih bak porselen miliknya, menarik paksa dirinya dalam keterkejutan. Yang Ino lakukan saat ini hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangan mungil nan ringkih miliknya, Aquamarine itu berkaca-kaca menahan rasa, dia masih belum percaya bahwa ini bukanlah mimpi.
Sosok laki-laki didepannya sangatlah... Tampan. Kulit kuning langsatnya seolah -entah bagaimana- cocok dengan warna kuning mentari di rambut pria itu, padahal Ino yakin kalau dulu kulit Naruto berwarna Tan, bukanlah Kuning langsat.
''Apa ini mimpi?'' gumam Ino dalam ketidak percayaan, sedangkan sosok di depannya menggelengkan kepalanya, seolah membantu dirinya untuk percaya bahwa dirinya bukan di alam mimpi.
''Kau tidak bermimpi Ino! Aku kembali karena dirimu,'' ucap Naruto sambil mengambil langkah pertama untuk menghilangkan jarak antara dirinya dengan Gadis Yamanaka atau lebih tepatnya pacarnya.
''Apa buktinya kalau ini bukan mimpi?'' tanya Ino menuntut, dia tidak mau terjebak dalam dunia Genjutsu yang menyiksa tubuh dan jiwanya.
Naruto tidak menjawab, dia terus melangkah dalam pasti, mendekat dalam rindu, bergerak atas asa. Dia tidak mampu menyembunyikan keterkejutan di wajahnya ataupun di jiwanya karena Gadisnya tengah jauh berbeda seperti dua setengah tahun yang lalu.
Ketika jarak telah tiada, digantikan dengan dekapan hangat, hanya mampu membuat Ino mendongak, menatap wajah yang kini terlindungi oleh cahaya matahari, tapi Ino menyadarinya, dia menyadari kalau wajah itu tengah tersenyum padanya.
Naruto menunduk, karena memang Ino rendah beberapa centi darinya. Sepasang permata Blue sapphire bertemu pandang dengan Blue aqumarine dalam tatapan yang tak bisa di artikan oleh orang lain, yang tahu hanya mereka dan yang merasa hanya mereka.
Terpaan nafas hangat Naruto mengelitiki wajah ayu Ino, membuat pemilik wajah itu merona dalam diam, Ino sudah tahu kalau mereka berdua ada di depan toko bunga Yamanaka. Tapi, peduli setan dengan warga Konoha yang menyaksikannya. Apakah mereka selama ini tahu apa yang dia rasakan selama ini jika tanpa kekasihnya? Tahukah mereka kalau dia merindu selama ini? Tahu kah mere...
Cupp...
Semua spekulasi dalam benak Ino hancur berantakan dengan di gantikan oleh sapuan lembut di bibir peach miliknya, membuat matanya untuk speresekian detik membelalak dalam keterkejutan yang melanda. Tapi untuk selanjutnya, Ino menikmati kecupan hangat ini.
Kecupan ini sudah lama dia rindukan, harum khas buah jeruk menguar dari tubuh tinggi tegap yang sedang mengecupnya saat ini, dan dengan ini dia percaya akan siapa yang tengah mengecupnya. Tapi, cairan bening itu tak tertahan, kini mengalir deras dalam sunyi, dan menangis dalam haru. Perlahan Naruto menegapkan lagi tubuhnya, menatap Aquamarine Ino yang mengeluarkan cairan bening nan masam dalam bahagia.
Brruuk...
''Kenapa kau lama sekali Naru-kun?'' lirihnya dalam dekapan kekasihnya, melepaskan semua rindunya selama ini dalam dekapan bahagia. Betapa tidak, hampir setiap malam Ino berdo'a agar semua ini terjadi, agar rasa rindu ini tercapai dia berdo'a dalam lirih tak tertahan, dan sekarang semua do'anya terkabul, semua inginnya tersampaikan dalam dekapan rindu yang hangat dan menenangkan.
''Gomen... Gomen Ino-chan, hanya saja..'' Naruto tak mampu lagi menahan asa dalam dirinya, yang dia lakukan saat ini hanya menenggelamkan wajahnya di antara bahu dan leher kekasihnya, memeluk bidadarinya dalam isak tertahan. Sungguh untuk yang satu ini Naruto tak bisa menahan kebahagiaan yang membuncah dalam dirinya, dan pada akhirnya yang dia lakukan hanya mendekap dan memeluk erat kekasihnya, tubuh mungil gadis dalam dekapannya saat ini bergetar hebat menahan tangis.
Perlahan, Naruto melepaskan pelukannya pada kekasihnya yang sudah tenang dari tangis dan tersenyum dalam bahagia.
''Gomen.. Ino-chan, Gomen membuatmu menunggu lama,'' ucap Naruto seraya menghapus aair mata Ino yang menganak sungai disana.
Ino cemberut, mengembungkan pipinya dan mengerucutkan bibir bawahnya, ngambek. Tangannya dia lipat di depan dada dan mendeathglare Naruto dalam intensitas biasa. Sedangkan Naruto hanya terkekeh pelan seraya kembali memeluk tubuh mungil gadis itu dalam pelukan hangat. Ino hanya diam dengan wajah merona, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Naruto dan membalas pelukan itu lebih erat, seakan dia akan jatuh jika pelukan itu terlepas.
Mereka berdua berdiam diri dalam pelukan hangat itu, entah sadar atau tidak kalau mereka masih di depan toko bunga dan tak menyadari ratusan pasang mata yang menonton adegan romance itu secara live di pagi buta.
''Ehm..'' dan suara berdehem itu membuyarkan semuanya, memberi kode agar mereka menyudahi itu semua karna sekarang..
''Heii.. Kalian membuat kami iri tauk!''
''Dasar anak muda,''
''Cari kamar gih!'' dan untuk yang terakhir itu langsung di hadiahi Ino dengan pot yang melayang akurat mengenai dahi sang pemilik suara.
''Oea, aku harus melapor terlebih dahulu ke hokage-sama kalu aku sudah sampai, tunggu aku di tempat biasa ok!'' ucap Naruto seraya melepaskan pelukannya dan beranjak dari sana setelah menyempatkan untuk mengecup bibir kecil nan mungil kekasihnya yang tengah merona padam karena diperhatikan ratusan pasang mata.
..o.O.o..
Tidak ada yang bisa melihat di keramangan ruangan ini, di ruangan gelap itu hanya diterangi oleh dua batang lilin yang apinya bergoyang seiring angin berhembus menerpanya. Dan di bangku itu, duduk sesosok bertopeng spiral dengan menyangga dagunya dengan kedua tangannya, matanya-yang dibalik topeng itu-menatap dingin dua sosok yang berdiri tegap di depannya.
''Issaribi telah tertangkap, sekarang Bijuu yang belum tertangkap tinggal Hachibi, Nibii no Nekomata, Shukaku dan Kyuubi,'' seseorang dengan wajah yang penuh pearching memberi laporan pasti pada sosok yang tengah memandang lilin itu dengan tatapan kosong.
''Siapa selanjutnya?'' kali ini suara itu berasal dari sosok gadis berambut biru dengan bunga Origami di bagian kanan kepala, tepat di atas telinga.
''Sekarang adalah giliran Shukaku, dan bawa dia seperti yang lainnya. Setengah hidup!'' sosok bertopeng spiral itu kini mendongak dan menghela nafas dalam dan menyeringai di balik topengnya.
''Apa aku dan Konan yang akan berangkat?''
''Jangan! Biarkan Deidara dan Sasori yang mengurus makhluk pasir itu,'' ucapnya dingin seraya bangkit dari kursi dan menghilang dari sana setelah melakukan Jutsu Izanagi.
.
.
.
.
.
.To be continued.
Hhuuaahhh... Gajekah? OOC kah Sasuke disini? Mohon kiripk.. Eh, salah jeng, kritik maksudnya.. Gitu..! *BLETAK
eh... Oea, untuk yang menjalani puasa lakukan dengan niat ya..*Namikaze-chan : lho sendiri aja ngga niat keaknya
Yahiko : aku niat kok,
ohh.. Ok lupakan yang diatas, sudikah setelah membaca meninggalkan jejak berupa Review?
Review please*Taboked
