Aaa...Yahiko telatagaindalamngepublishfic.GomenMinna-san., Hontou ni Gomenasai, terlebih untuk semuanya yang bertanya-tanya mengenai Fic ini dilanjut apa tidak? Tentu di lanjut dong, cuma rentang waktu untuk mem-publish dan gejala WB itu yang mengganggu. Sungguh Yahiko minta maaf, Minna-san.

Eitss! Satu lagi, untuk memudahkan kalian membaca lirik lagunya, Yahiko pakai tanda .(titik) sebagai panjang pendeknya nada dalam menyanyikan lagu tersebut, (Contoh panjang nada : akuuu #tanda nya : ...) paham kan? Moga aja paham, ;^^V dan selamat membaca.

Disclaimer : *cekik leher Yahiko* Siapa yang punya Naruto?

Yahiko : Bu-bukan punya Yahiko, ugh... Su-sungguh, *Puppy eyes no jutsu*

Lalu punya siapa? *ngencengin cekikan*

Yahiko : Pu-punya Masashi Kishimoto... *Tepar*

...

.

~oOo~

Story and Chara OC by Yahiko Namikaze © 2011.

~oOo~

.

...

Pair : Naruto U. x Ino Y.

Title : Konoha kiiroi senko II.

Rated : T ( semi M) ^^V

Warning : Gaje, OOC, OC, CANON, AU, Abal, Typo/ mistypo, dsb (dan sebagainya).

Backsound : Hikari Niwa by Saori Hayami.

.

Don't Like? Don't Read!

.

Summary :dirinya amat sangat mirip dengan sosok 'dirinya', yang telah rela mengorbankan dirinya sendiri demi Desa dan orang yang dicintainya.

.

.

.

.

.

.

...

''Aku merindukanmu,'' ucap Ino sambil memeluk Naruto erat, wajahnya kini terpoles warna merah sempurna.

''Apa kau pikir aku juga tidak merindukan, mu?'' tungkas Naruto sambil balas memeluk Ino, tak pernah disangka akan bertemu lagi dengan gadisnya kini. Dia juga tidak tau akan itu, tapi dia mensyukurinya.

Kini mereka berdua tengah berpelukan tepat dibawah pohon Sakura, dimana pohon indah itu tengah mengorbankan bunga cantiknya untuk tandas dari ranting. Bunga merah muda lembut itu jatuh perlahan ke permukaan Bumi, dimana dua insan ini tengah berpelukan. Benar-benar seperti Background Anime, dimana setiap kali mereka jatuh cinta, maka backround mereka akan berganti. Akan tetapi ini kasual dan alami, alami akan perwujudan alam yang menggambarkan perasaan mereka sekarang, dan yang dua insan ini ketahui hanya perasaan dan cinta mereka yang kini menggebu, salahkah itu?

Kuharap tidak.

''Naru-kun?'' tanya Ino sambil mengeratkan pelukannya. Tak dapat dia pungkiri kalau hanya dengan pelukan ini dia merasa nyaman, dengan hanya pelukan ini dia tenang. Tenang bak aliran sungai yang lembayu.

Begitu tenang hingga aku tak sadar akan dirimu yang kini memeluk-ku dengan erat.

''Hmmm?''

''Boleh aku tidur sejenak... di pelukanmu?'' tanya Ino gugup, tak dapat dia pungkiri kalau dia menginginkan itu. Dia letih, letih akan penantian yang berlangsung lama walau kini letih itu terbayar, dia ingin tidur sejenak, yah... Tidur. Tertidur di pelukan orang yang dia sayangi sangatlah berbeda dengan tertidur di atas ranjang yang hanya di temani selimut dan guling, tertidur di pelukan orang yang dia sayangi melebihi rasa hangat, tapi juga hangat ini berbeda.

Bisakah kau Presentasikan hangat ini untukku, bisakah kau memberi contoh lain yang lebih hangat dari ini untukku.

''Tidurlah, tidur yang nyenyak Hime!'' bisik Naruto tepat di sebelah kanan kepala sang gadis Blondie, yang mana bagian itu terdapat pahatan Kami-sama yang di gunakan untuk merespone getaran suara, dan suara yang di keluarkan oleh Naruto itu lembut, yah... lembut bak kain sutra yang begitu lembut. Bahkan lebih lembut.

Cupp...

Kecupan lembut di ubun-ubun itu begitu membius seorang Ino Yamanaka, begitu lembut seakan dirinya adalah Jeli yang begitu rentan akan kekerasan. Mata itu menutup, tersembunyi di balik kelopak mata yang terdapat bulu-bulu lentik, Aquamarine itu kini tersembunyi bak harta karun di balik kelopak mata ini.

Naruto tersenyum, tersenyum lembut pada gadis Blondie yang kini mengeluarkan dengkuran halus, rambut Blondie kekasihnya kini terhuyung kesembarang arah akibat ulah nakal sang penguasa angin, sehingga menutupi pahatan wajah nan elok itu dalam sunyi dan dia tidak tau harus bersyukur bagaimana lagi. Naruto tidak tau harus bersyukur sebagaimana lagi, haruskah dia berteriak pada angin. Bahwa selain memiliki cita-cita untuk menjadi Hokage, dia juga bercita-cita menjadikan Ino kekasihnya... Kekasih, dan sebagian dari keinginan itu tercapai. Tercapai walau terasa bagai mimpi tapi itu nyata.

.

.

...

Semua ini tercapai walau terasa bagai mimpi, semua ingin itu terwujud walau berasa hanya permainan konyol. Tapi itulah kenyataan, dimana apa yang dinginkan tercapai walau bagai mimpi. Tapi juga berbalik walau perih menanti.

...

.

.

Dan Naruto yakin akan itu, bahwa semua ingin ini tercapai walau bagai mimpi.

Flashback : On.

''Forehead! kau ini bagaimana sih! Begitu saja murung,'' Omel gadis Yamanaka itu sambil berkacak pinggang di hadapan Gadis bermarga Haruno yang tengah memeluk lipatan kedua kaki mungilnya.

''Beda Pig, kalau kau aku sudah terbiasa. Tapi tidak dengan mereka, itu perih,'' Kini isak gadis mungil itu makin menjadi, dia tidak suka itu. Dia tidak suka bila dia di kata-katain jidat lebar, dia tidak suka dan tidak ingin.

Tanpa keduanya ketahui, ada seorang bocah laki-laki yang tengah memperhatikan mereka dengan senyum yang terkembang. Blue Sapphire itu tertumpu pasti pada gadis yang tengah berkacak pinggang sambil menowel-nowel jidat sang Gadis bermarga Haruno yang kini tengah terisak. Dan bocah itu makin mengembangkan senyumnya saat melihat tawa gadis poni tail itu, tawa gadis itu bagai seirama dengan musik harpa yang paling merdu sekaligus. Dan bocah itu suka, dia suka suara gadis itu dan dia menginginkannya. Yah... Dia menginginkan keceriaan gadis itu juga karenanya.

Flashback : Off

.

.

...

Wo.. takaku noboru hi...kari,

wakitachi taru omo hi...

mamo...ru beki, yuno... michi yo,

shi na... hasha tsu, sora wo... aogi. Suna, kaze, a..ra koto mo,

sagi kokoru, koko no hi yo hana... ni ma ichira..., Hasenu ni.. tsutayu hi...kari,

yu no te wo.. tatsu, ni wa e~,

ha..gi...shiki... no omo ka...ge~ yo,

towa... no uta wo, kokoro.. tsunaii...

...

.

.

Kini alunan musik harpa itu bergaung di telinga mereka bergema dari arah hutan, tak dapat mereka pungkiri bahwa musik dan alunan suara itu begitu merdu. Memikat keduanya kedalam dunia yang mana hanya mereka yang merasa, bahkan suara merdu itu meluluhkan Ino yang terpejam. Petikan harpa tiap irama itu kini benar-benar membuat Naruto menenggelamkan kepalanya di antara bahu dan leher jenjang Gadisnya.

Harum bunga Dandelion menyeruak dalam indera penciumannya, memaksa Naruto hanyut dalam keindahan yang paling dalam dari yang pernah dia rasa. Dan gadisnya pun makin menenggelamkan kepalanya di dada bidang itu kini, tak dapat dia pungkiri kalau dia rindu pelukan ini, dia merindukan rasa ini. Dan oleh karena itu pula dia mengeratkan pelukannya.

.

.

...

Tena..., na wa..., na.. to uto mo,

koe sa..garu, mane no hi yo yami... wugirisa ga..., Wo.. takaku no...boru hi...kari,

dakaruru.. toki, kioku...

haya... mubeki.. ikiru... michi wo.. yume.. ni ikiru, sora wo... aogi.

...

.

.

Alunan harpa bak musik surga itu kini makin menenggelamkan keduanya yang tengah membagi kehangatan di bawah pohon sakura yang menggugurkan bunga indahnya, musim gugur adalah musim paling berharga bagi kedua anak manusia itu. Kedua pasang mata indah milik keduanya tersembunyi dalam kekangan lembut sang penjaga Kornea mata, (Kelopak mata).

Tangan kekar dengan beberapa otot dibagiannya itu makin mengeratkan pelukannya akan tubuh mungil indah dalam pelukannya, perut datar Ino yang ter-Ekspose itu tersembunyi dalam jubah merah tua sang pemilik rambut Blondie. Mengekang sang gadis untuk menghindari dinginnya suhu, dan dia mengeratkan pelukan itu.

''Terpejamlah, tidrulah! Ada aku di sini, ada aku yang akan selalu menjaga mu disaat terlelap. Dan ada aku yang akan selalu bersamamu disaat terjaga,''

Dan dengan bisikan lembut itu, Ino makin terlelap. Terlelap akan mimpi indah yang mengantarnya, membawa mimpi indah mengenai pangerannya yang berbisik lembut bagai mantra tak terpatahkan akan dirinya. Dan dia terpejam, terpejam akan tidur dalam pelukan kasih sayang kekasihnya yang hangat. Dan dia bermimpi, bermimpi bahwa kisah cinta ini akan terukir dalam benak sanubari yang terdalam, terukir dalam tiang suci yang bertahtakan jiwa dan raga, dan dia bermimpi, bermimpi akan cinta suci yang ter toreh akan bagaimana cinta suci ini berbentuk. Dan dia percaya akan itu.

Sangat percaya.

~oOo~

''K-kau... Sasuke Uchiha, apa yang kalu lakukan disini?'' Gelagapan, lantas Izumo mengamit pisau Chakra dan menodong empat orang yang kini berlalu tanpa masalah berarti, dia hanya mematung sesaat setelah Sasuke memberikan senyum akan kerinduannya pada Desa daun tersembunyi.

''Kurasa dia sudah berubah,'' gumam Kotetsu sambil kembali ke pos penjagaan, dan menoleh kearah Sasuke yang tengah membungkuk memberi salam pada salah seorang warga yang tercengang akan kedatangan Missing-nin paling dicari dengan tingkat level 'S'-rank. ''Kuharap, pengorbanan Uchiha tidak sia-sia. Dan kau pasti akan menyesal telah menorehkan luka itu Itachi,'' lanjutnya sambil menyesap teh.

''Bukankah itu Sasuke-Uchiha?''

''Apa yang dia lakukan di sini?''

''Siapa ketiga orang yang bersama Sasuke itu?''

Bisik pedas antara menghina dan ketidak percayaan itu berbalas satu sama lain saat empat orang remaja berbeda gender itu semakin jauh dari pandangan mereka, dapat dengan jelas mata mereka lihat gambar kipas yang khas lambang Uchiha itu tecetak jelas dipunggung Kimono putih seorang Uchiha Sasuke.

''Kita akan kemana Sasuke-kun?'' tanya Karin, mata merah Ruby miliknya berhasil mendapati Ekspresi tidak senang akan kedatangan atau malah bagi Sasuke pulang.

''Hn. Kita akan pergi ke kantor Hokage,'' jawab Sasuke sambil terus menatap ke depan tanpa menoleh baik ke kiri maupun ke kanan.

''Ingin sekali aku menebas mereka,'' desis Suigetsu saat mendapati warga yang memandang jijik padanya.

Juugo hanya diam sambil mengikuti kemana leader mereka membawa, sesekali dia menengadah menatap siang yang berganti akan sore. Awan putih polos itu kini ternoda akan warna jingga, dan pandangannya beralih kembali menatap ke depan.

Tapp...

Tapp...

Tapp...

Tappp...

Seiring langkah mereka menuju gedung Hokage, maka begitu banyak pula Ekspresi warga yang mereka dapati, ada yang mendesis ada yang prihatin dan lainnya. Seolah-olah mereka tidak pernah menginginkan kembalinya Uchiha terakhir itu ke Desa tempat dia lahir, apa mereka tidak tau kalau Uchiha adalah satu-satunya Clan yang beraliansi dengan Senju demi terbentuknya Desa Ninja terkuat ini?

Sasuke tau kalau akan seperti ini jadinya jika dia kembali, dia mengerti akan tatapan kebencian itu dan dia paham. Mereka kecewa padanya yang pergi hanya demi kekuatan semata, mereka kecewa akan dirinya yang hanya memikirkan harga diri itu, tapi apa mereka mengerti akan dirinya? Pernahkah mereka merasa melihat orang yang mereka sayangi dibunuh di depan mata oleh orang yang mereka sayangi pula?

.Mereka tidak mengerti akan diriku. Dan mereka tak-akan pernah mengerti akan siapa diriku. Karena memang aku takan pernah mau mengerti akan mereka.

Sasuke tidak butuh belas kasihan mereka, dia kembali demi pertemanan mereka (Rookie 12). Dia kembali karena misinya sudah tersampaikan-Membunuh Orochimaru-, dia kembali karena seseorang dan dia pun sudah berjanji akan segera pulang kembali setelah misi itu selesai. Dia Uchiha, Uchiha tak akan pernah ingkar janji.

Tidak barang sekalipun!

Flashback : On.

''Kau tetap saja menjengkelkan,'' ucap Sasuke disertai senyum dingin, dan menoleh pada Sakura yang tengah terbelalak akan ucapan Sasuke, terlebih lagi laki-laki Raven itu kini berpindah cepat dan berdiri kokoh di belakang gadis pink itu.

Brukk...

''Maaf Sakura,'' gumam Sasuke lirih sembari menggendong Sakura ke bangku taman.

Setelah dengan pasti menidurkan Sakura di bangku kosong yang dingin itu, dia beranjak, menoleh sejenak pada tubuh tak berdaya itu dan kembali melanjutkan langkahnya. 'Tak perlu Sakura, kau tak perlu ikut campur dalam urusan ini. Aku tak sanggup membawamu,'

''Sa-Sasuke-kun?''

Tapp...

Langkah laki-laki Raven itu terhenti, membatu ditempat akibat seruan lembut yang pasti membuatnya selalu luluh. Dan dia tidak sanggup jika harus melakukan hal yang sama seperti pada Sakura. ''Hinata?'' gumam Sasuke tanpa menoleh barang sebentar.

''Sasuke-kun, kumohon...tinggalah bersama kami di sini!'' pinta gadis Hyuuga yang kini tengah menahan air matanya. Kedua tangannya besedekap di dada, iris Amethys itu meredup seiring air mata menggenang.

''Dan aku mohon... jangan hentikan aku Hinata!'' kali ini Sasuke berbicara agak panjang dari biasanya. Tapi tetap saja, dia tidak menoleh barang sebentar untuk menatap iris Lavender itu yang kini terluka akan tindakannya yang lebih memilih dendam dari pada kebersamaan.

''Sasuke-kun... Hiks... Jangan pergi Sasuke-kun!'' kini tangis itu menggema di dinginnya malam, bahu mungil itu bergetar hebat. Di remasnya ujung jaket, digigitnya bibir bawah agar isak itu tak keluar lagi.

Flasback : Off.

''Apa tidak sebaiknya kita ke Mantion Uchiha dulu?'' usul Karin sembari mengembalikan posisi letak kacamatanya.

''Hn.''

'''Hn' itu iya atau tidak? Lagi pula aku tidak tau tempatnya,'' bentak Karin jengkel, sesekali membentak Sasuke-kan ngga apa-apa. Lalu pandangannya beralih melihat awan dan kembali menatap kedepan.

''Hn. Kita akan ke Kantor Hokage dulu,'' jawab Sasuke singkat, di setiap jalan mereka selalu berpapasan dengan Shinobi yang memakai hitai ate berbeda. 'Kumo, Suna, Iwa, dan Kirigakure. Ada apa sebenarnya, kenapa mereka begitu sering aku jumpai, apa akan ada sesuatu?' batin Sasuke sambil terus berjalan, dalam hati Sasuke mempresentasikan apa yang dia lihat setiap kali berpapasan dengan Shinobi dari luar desa.

~oOo~

Jemari putih mulus itu berhenti memetik dentingan nada, duduk bersimpuh Heiress Hyuuga itu menengadah menatap awan polos yang terpoles warna jingga di langit. Warna lavender yang menggantikan warna mata pada umumnya itu menatap sendu arak-arakan awan.

Perlahan tapi pasti, gema suara musiknya menghilang dari pendengarannya. Tubuh mungil berbalut jaket putih ungu itu menghela nafas rendah, lalu menoleh menatap Hanabi dan Neji yang entah kapan tertidur. Dia tersenyum, tersenyum lembut melihat Ekspresi damai mereka yang biasanya datar kini polos dalam alunan mimpi.

Hinata, gadis penerus klan Hyuuga itu merubah duduk-nya jadi bersila di atas rumput hijau. Percayalah, di dalam hutan kematian yang paling ditakuti itu pun terdapat padang rumput hijau yang tersembunyi di tengah hutan, dan Hinata suka. Dia suka sebuah ketenangan di campur dengan harmoni alam, mau mengelak bagaimanapun dia tetap suka.

''Sasuke-kun...''

Kau percaya yang namanya kerinduan berbaur dengan nafas?

Dan itulah yang di alami Hinata, setiap hari dia duduk bersimpuh sambil bermain alat musik Jepang kuno sambil melantunkan irama indah demi mengusir rindu, dan itu tetap saja merasuk, melesak melalui pernapasan yang dia tidak tau kenapa terasa menyatu.

Helaian Indigo itu menari riang di udara akibat belaian angin, memberi sejuk akan pemilik raga bernama Hinata Hyuuga.

Perlahan dia menoleh menatap bunga Lavender yang tumbuh sendiri di tengah hutan ini, aneh memang. Mengingat bunga ini tumbuh sendiri, di tengah hutan pula. Tapi, apa yang tidak mungkin bagi Hinata? Dia suka bunga Lavender dan akan menyimpan semua kenangan tentang bunga berwarna ungu itu selalu.

Ah, dia ingat sesuatu.

Flashback : On

''Hina~ta, kau disana sayang?''

Gadis mungil yang tengah memperhatikan bunga Lavender sambil berjongkok itu berjengit saat suara yang dia kenal memanggilnya. Iris senada bunga lavender itu mendapati sosok ibu dan ayahnya berjalan kearahnya dengan tampang cemas.

Gyyuutt...

''O-Okaa-cama...''

''Apa yang kau lakukan disini, sayang?''

''Hina cuma mau liat bunga itu,''

Percayalah, jika saat ini Megumi ingin sekali menangis menatap replikanya yang mungil tengah berbicara dengan tampang watados. Seluruh Mantion Hyuuga gempar akan menghilang-nya Hinata karena pergi tanpa pamit seperti biasanya.

''Lain kali jangan pergi tanpa pamit, Hinata! Kau membuat kami khawatir...''

Walau nada suara Hiashi terdengar datar tapi Megumi tau ada nada kelegaan yang terselip di antaranya. Dan kembali, iris lavender itu menatap Hinata yang dalam pelukannya. ''Hina suka bunga Lavender?''

Gadis mungil dalam pelukannya mengangguk mantap, membuat segurat senyum terpatri di wajah cantik sang ibu yang tadi kelabakan karena mengira Hinata di culik.

Hiashi diam, berdiri diam layak patung pahlawan yang mengalahkan model monumen pahlawan yang di bangun di distrik Konoha. Untuk kesekian kali dalam hidupnya dia mensyukuri Karena memiliki dua orang yang ada di hadapannya. Hinata dan Megumi, mereka hampir tidak bisa di bedakan, mulai dari warna kulit sampai warna rambut merekapun sama. Sifat? Yang belum nampak dari kesemuannya adalah sifat Hinata, apakah mirip Hiashi atau mirip ibunya yang pemalu dan lugu? Semua tidak ada yang tau, tapi karena dia tidak ingin tau maka jangan pernah mengungkit-nya agar dia tau.

Lalu pandangannya kembali pada anak dan istri-nya.

''Okaa-cama, ini bunga Lavenderl?'' Hinata kecil dengan tenangnya menowel-nowel bunga yang senada dengan warna rambutnya. Mata besarnya menatap bunga aneh itu lekat-lekat seolah ada kertas peledak yang tersembunyi di balik bunga yang tertanam sempurna di hadapannya.

Lalu menoleh pada ibu-nya.

Megumi tersenyum lembut melihat Ekspresi berpikir anak-nya yang makin terlihat imut. ''Ya, sayang. Apa kau suka?'' tanya Megumi sambil mengacak-ngacak helaian rambut anaknya, gemas.

Hinata mengangguk, lalu menoleh pada Hiashi. ''Tou-cama, Apa itu bunga Lavenderl?''

Hampir saja Hiashi terpeleset saat mendengar pertanyaan yang menurutnya aneh dari Hinata kecil, dia menulan ludah paksa karena tidak tau apa yang harus di jawab. 'Ayolah! Jangan buat anakmu tak mengerti apa itu bunga Lavender!' batin Hiashi meraung-raung tak menentu antara berusaha ingin menjawab, tapi apa yang mau dia jawab? Bahkan bunga Tulip pun dia baru dengar dari Inoichi dan Minato. Dan sialnya, Fugaku juga tau.

Cih, apa-apaan itu!

Dia menoleh menatap Megumi, ah, sepertinya dia tau apa itu bunga Lavender.

''Hmmm... Bunga itu cantik, lemah-lembut, baik. Indah tentunya, dan terkadang kau lupa diri jika kau melihat hamparan bunga itu,'' jawab Hiashi yang entah benar atau tidak, tapi pandangannya dari tadi tidak mau mencari objek lain selain menatap Megumi yang tengah merona karena jawabannya. Lalu menatap Hinata.

Hinata mengerjapkan matanya berkali-kali saat menatap warna merah aneh yang melekat pada wajah putih Ibunya, lalu menoleh pada ayahnya.''Jadi, Lavenderl itu baik?''

''Ingat Hinata, semua bunga itu baik. Tergantung dari sebuah persepsi yang kau dapat dari 'fisik dan luar' mereka. Kau paham sayang?''

Hinata kecil mengangguk mantap, lalu kembali menatap bunga Lavender di depannya yang tengah bergoyang karena tertiup angin. Matanya tak mau lepas dari bunga itu, lalu menoleh menatap ayahnya. ''Tou-cama, kenapa walna bunga itu milip walna lambut Hina?''

GUBRAKKK...!

Flashback : Off.

''Hinata-sama,''

''Ah... Neji-nii, kau mengagetkanku,'' ucap Hinata saat sebuah telapak tangan menyentuh bahu mungilnya, dia memiringkan kepalanya saat menatap Hanabi yang masih tertidur. Lalu menatap Neji yang kini seperti biasanya.

''Kita pulang sekarang?''

Percayalah, walau nada datar, terkadang Neji menyesali perkataannya yang begitu melejit. Dan tak kadang dia merasa bersalah pada Hinata yang memang lugu dan pemalu. Apa dia salah? Salahkah dia jika itu caranya menjaga adik perempuannya?

Tolong katakan salah, bila aku salah dalam berperilaku padanya.

Hinata mendongak sejenak, menatap arak-arakan awan. Lalu mengangguk.

Neji tetap diam dengan wajah datar seperti biasanya, lalu menghampiri Hyuuga mungil yang tengah tertidur. Perlahan dia angkat gadis mungil itu dan beralih dengan gendongan bridle style.

Di perjalanan pulang, dua Hyuuga yang berbeda tingkatan itu tetap diam. Hinata yang pendiam dan Neji yang terbiasa dengan kesunyian, maka lengkaplah kesunyian yang mereka buat. Entah kenapa, tapi yang pasti, Hinata merasa di perhatikan. Bukan berarti dia pemberani karena tidak mau menoleh untuk mencari asal sensasi itu, tapi ada yang aneh.

Perlahan Hinata mengangkat wajahnya, berusaha menatap Neji yang berdiri di sebelahnya. Jantungnya hampir saja berhenti saat mengetahui kalau laki-laki yang dia anggap seperti kakak sendiri itu, tadi tengah memperhatikannya. Helaian rambut berwarna coklat itu bergoyang mengikuti arah pandang Neji, memberi tau Hinata kalau sepersekian detik yang lalu bahwa yang memperhatikannya adalah Neji.

'Watashi wa suki desu... Kedo, tearu koto ga dekinai' sebersit kata terucap dalam benak Seorang Neji, membuat kumpulan kata yang dia pendam makin bertambah layak Musium yang menyimpan sesuatu yang berharga. Dia masih kukuh dengan pendiriannya, yah... Dia masih kukuh.

''Kau tidak ada misi, Neji-nii?'' tanya Hinata yang entah kapan tidak gagap seperti biasanya, iris yang senada dengan warna Purple itu mendapati Ekspresi Neji seperti biasa-datar.

''Aa. Tidak ada,'' jawab Neji sambil terus menatap ke depan. Dia paling malas bila harus menatap iris lembut milik anak dari kakak Ayahnya. Semua yang dia tahan bisa saja keluar tanpa sebab bila harus bertatap mata dengan Hinata.

Hinata hanya mengangguk patuh, dia diam sepanjang perjalanan menuju Mantion Hyuuga. Setiap sisi jalan yang dia pandang hanya ada taman bunga, beratus macam bunga terhampar sempurna di hadapannya tanpa terkecuali. Dia menatap lembut ke arah setangkai bunga Lavender. Lalu tersenyum.

~oOo~

''Jadi... Begitu,''

''Ya, Tsunade-hime,'' jawab Naruto setelah menyelesaikan semua tuturnya panjang lebar, tak peduli pada Shizune yang mengantuk. Iris senada lautan dalam itu menatap Tsunade-tenang.

''Lalu... Menurut dari kabar yang sampai, Sasuke akan pulang-atau bahkan sudah sampai-sekarang ini.'' ucap Tsunade sambil memutar bangku-nya, menatap pahatan wajah Hokage Sandaime dalam diam. ''Pastikan kau tidak lepas kontrol dalam tahap ujian ini Naruto, sudah cukup saat ujian Cunnin-tempo hari, Gaara yang lepas kontrol. Dan itu Shukaku, bukanlah Kyuubi. Jadi kau pasti mengerti, apa konsekuensi-nya jika semua itu terjadi,''

Naruto mengangguk. ''Ha'i, Tsunade-hime. Aku mengerti, dan...''

Tok... Tok... Tok...

''...Paham,''

''Masuk,'' seru Tsunade sambil kembali menatap Naruto dan menoleh ke arah pintu.

Deg...

'A-aura ini...'

''Sasuke Uchiha, datang untuk melapor atas kepulangan pada Desa daun tersembunyi dengan membawa rekan, Juugo, Suigetsu, dan Karin.''

''Sa-Sasuke, kau''

''Apa yang bisa kau lakukan Sasuke, dan... Siapa mereka?'' ucap Tsunade yang terkesan meremehkan, lalu matanya mendapati pedang besar yang tersampir pada bahu laki-laki dengan rambut Silver. ''Bukan kah itu... Kubikiribocho?''

''Ah... Anda tepat sekali, ini adalah pedang terkuat setelah Samehada,'' jawab Suigetsu bangga.

Bletakk...

''Ii-itaii... Kenapa kau hobi sekali menjitak kepala ku, Kacamata?'' seru Suigetsu sambil mengusap kepalanya yang baru diberi 'sentuhan lembut' oleh Karin.

Gadis yang dengan warna rambut mencolok itu berkacak pinggang. ''Memang kenapa? Kau bodoh sekali, sih! Bukan berarti Hokage-sama bertanya soal pedang itu bahwa dia tidak tau. Hokage-sama hanya heran, kenapa pedang itu ada padamu yang jelas-jelas bukan pemilik aslinya, yaitu Zabuza Momochi.'' terang Karin panjang kali lebar sama dengan kuah yang bertebaran.

''Jangan pakai kuah Karin,'' Ejek Suigetsu sambil mengelap wajahnya.

''Ka-kau...''

''Sudahlah! kalian tidak hormat sekali pada Hokage-sama... Tolong maafkan mereka,'' ucap Juugo sambil menatap Tsunade setelahnya melirik Sasuke yang masih dengan wajah datar.

...

...

''Kau, kembali Teme?'' ucap Naruto sambil memecah keheningan yang melanda ruangan Hokage, semua menatapnya seolah bertanya memang-kenapa?

''Apa ada masalah?'' jawab Sasuke datar, Onyx itu menatap kedepan. Kedua tanganya terlipat di depan dada.

''Apa misi membunuh Itachi sudah terselesaikan?'' tanya Naruto sambil menoleh kearah kiri, matanya mengerjap saat angin menerpa wajahnya yang kini bisa di sandingkan dengan wajah seorang Gaara. Jubahnya yang berwarna merah tua itu hanya berkibar pada bagian kerah.

''Hn, belum. Tapi nanti, pasti akan aku selesaikan.''

''Lalu, apa yang membuat mu kembali walau dengan misi yang bisa di bilang gagal?'' sengit Naruto sambil menyipitkan matanya.

Sasuke menoleh perlahan, menatap kearah sosok laki-laki bermarga Uzumaki tersebut. ''Kau tidak menginginkan Aku 'pulang'?''

''Bukan itu Teme,'' kilah Naruto, sambil menggelengkan kepalanya. ''Hanya saja kau bukan tipikal yang akan pulang jika itu semua belum tersampaikan, setidaknya... Itu menurut ku.'' jawab Naruto yang kini menatap langit melalui jendela, arak-arakan awan disana menghalangi matanya untuk menatap langit.

Sasuke diam, dia bungkam. Mana mungkin dia bilang kalau dia pulang karena Hinata, bisa di tertawakan si Baka Dobe kalau dia jujur. Ayolah... Bukan berarti dia tidak mengakui Hinata sebagai kekasihnya, hanya saja... Ego Uchiha masih memiliki jangkar dalam hidupnya. Dia lipat kedua tangannya di depan dada, lebih memilih memasang wajah Stoic dari pada harus menjawab pertanyaan itu.

''Hei... Jawab Teme!''

''Diam Dobe! Aku datang kemari hanya untuk memberi kabar kalau aku sudah pulang. Bukan untuk menjawab pertanyaan bodoh mu itu!'' jawab Sasuke panjang lebar.

Karin yang mendapati Sasuke sejak tadi berbicara panjang lebar karena menjawab pertanyaan sosok yang dibilang Naruto, membuatnya ingin memberi penghargaan pada Sasuke-itupun kalau dia suka rela menerima panasnya Amaterasu-. Karena setaunya tidak ada Uchiha yang berbicara panjang lebar seperti barusan, tapi kalau di perhatikan... Terlebih untuk si Naruto. Tampaknya dia selalu menyulut Sasuke untuk berbicara panjang lebar. Dia kembalikan letak posisi Kacamatanya dengan jari tengah, lalu perlahan menatap Tsunade.

''Perkenalkan Hokage-sama, aku Karin... Kunoichi medis sekaligus Kunoichi Type sensor!'' ucap Karin sambil membungkukan badan.

''Saya Juugo, Shinobi Type pengintaian-tahap Joonin.'' ucap Juugo sambi membungkuk patuh.

Suigetsu yang melihat itu untuk sesaat bungkam, lalu menyeringai. ''Aku Suigetsu Houzuki, Ninja pemegang pedang asal Kirigakure. Anggota baru Seven Swordmen of the Mist.''

Alis Naruto bertaut saat mendengar tutur laki-laki bernama Suigetsu Houzuki tersebut. ''Anggota yang baru mencuri pedang milik seseorang yang sudah lama meninggal,'' ralat Naruto enteng sambil melirik Suigetsu yang tengah menggeram.

''Aku tidak mencuri Baka, namun itu sudah takdir ku untuk mewarisinya... Karena dulu aku dilatih mereka untuk jadi anggota baru bersama Choujuro yang kini sudah sah menjadi anggota baru.''

''Lalu... Kenapa kau tidak jadi anggota baru mereka?'' tanya Shizune yang sedari tadi diam.

Sugetsu hanya mengedikkan bahunya, lalu menatap keseluruh penghuni ruangan tersebut. ''Karena elemen Chakra yang ku miliki tidak sanggup untuk mengendalikan Pedang-pedang yang ada. Dan sekarang, karena aku bahan uji coba Orochimaru-sebelum dibunuh Sasuke-yang berhasil. Lebih baik ku gunakan kekuatan yang ada untuk merebut pedang yang telah lama aku impikan-Samehada-dari Kisame Hoshigaki, dan itu pasti akan tersampaikan, Aku yakin itu!'' jawab Suigetsu mantap, sambil menyeringai.

Entah kenapa Tsunade langsung ingat seseorang yang bernama sama dengan orang yang memperkenalkan dirinya dengan semangat itu. 'Houzuki?' batin Tsunade. Lalu perlahan menoleh ke arah Sasuke. Kepalanya dia sangga menggunakan tangan bagian kanan.

~oOo~

Tenten duduk sendiri di bawah pohon Pinus itu seorang diri kini, merenung yang entah apa dia pikirkan yang penting dapat menyendiri. Gulungan senjata Jutsu itu tergeletak sembarang arah seolah tidak di perdulikan sama sekali. Pandangan kosongnya dia arahkan pada sang langit yang menjingga. Rambutnya yang biasanya di cepol dua itu dia biarkan tergerai bebas, menari riang saat angin menerpa. Rambut berwarna coklat itu kini mencapai bahu, sungguh semua itu tak terasa. Padahal dulu, rambut itu sangat susah baginya untuk di cepol, tapi kini, sangat mudah. Bahkan mau di cepol tiga pun bisa.

''Otoo-san, apa kabar mu disana?'' gumam Tenten sambil tetap menatap awan, pandangan getir atau lelah itu tetap bertahan lama sampai dia tidak tau berapa lama dia tidak melepas 'topeng' itu.

Whuuss

Gemericik dedaunan dan desau angin inilah yang sering menghiburnya jika dia sudah menyendiri. Setiap kicauan burung di pohon dia anggap penghibur puli pulara dikala sepi, setiap gemericik angin dan dedaunan dia anggap orchestra tesendiri yang menyejukan. Dia suka, dia suka alam. Walau terkadang risau tapi tetap dia suka, setiap nyanyian alam dia suka, bahkan kalau bisa di rekam mungkin akan dia abadikan.

Mungkin.

Tak terasa setitik bening masam mengalir perlahan dari singgasanya. Tak dia pedulikan cairan itu yang penting dia tak peduli, cukup sudah topeng itu, cukup sudah topeng ceria itu. Dia benci untuk terus berpura-pura ceria, dia benci. Dulu, dia memang ceria. Tapi ceria itu luntur tak kala sebuah serangan dari desa Otogakure dan Sunagakure menggempur desa mereka, hancur seketika saat Shinobi berlambang balok Note menyerang mereka.

Data Riwayat hidup : Xiao lung, tewas saat membela Desa dalam sebuah pertarungan dimana desa dalam ke adaan genting. Dan membutuhkan bantuan lebih dari pihak warga Desa.

Secarik kertas yang di berikan oleh Yuugao tempo hari benar-benar masih dia ingat. Dia tidak bisa lupa akan isi dari secarik kertas lusuh itu, pada saat itu pula dia menangis untuk kedua kalinya. Setelah kepergian sang ibu, kini sang ayah pun pergi.

''Ayah mu pergi dengan tekad yang luar biasa baja, Tenten. Maka jangan pernah kau bersedih atas semua yang dia lakukan, walau perih, cobalah untuk menerima,''

Dan perkataan Anbu berambut Violet itupun dia masih ingat. Pada saat itu, mereka sama-sama berdiri di hadapan monumen pahlawan, dia 'menjenguk' ayahnya sementara Yuugao 'menjenguk' Geko Hayate, sang kekasih, itu yang diketahui oleh Tenten.

Yah... Kekasih dan Ayah sama saja. Sama-sama berharga.

Walau begitu, terkadang topengnya bisa lepas kendali. Retak begitu saja saat menerima perhatian dari Tim Guy. Siapa lagi kalau bukan mereka-Neji, Rocke Lee, dan Maito Guy. Tanpa mereka, mungkin Tenten takan pernah mengecap status Chunnin yang dia sandang saat ini.

Mengingat Chunnin dia jadi ingat status di atas status tersebut. Jounnin. Maka, jika dia ingat Jounnin pasti dia ingat ujian itu, ujian yang akan membuatnya naik level. Tapi, dia lemah. Dari semua Ninja hanya dia yang tidak bisa menggunakan banyak Jutsu. Dia bukan Naruto yang akan membunuh musuh dengan Rasengan, dia pula bukan Ino yang bisa mengendalikan tubuh musuh. Dia hanya punya gulungan senjata Ayahnya, gulungan senjata yang dulu sering digunakan oleh ibunya sebelum meninggal.

''Okaa-sama...'' gumamnya lagi setelah sekian lama berkutat dengan pikiran yang begitu membebani dirinya.

Hey! Bisakah kau pahami perasaan wanita saat mereka merasa kesepian? Bisakah kau mengerti kehidupan mereka jika tanpa ke Dua orang tua mereka?

Se-dewasa apapun Wanita, se-tegar apapun wanita. Tetaplah pada awalnya mereka rapuh. Mereka wanita, berbeda dengan pria yang yang terbiasa hidup keras. Mereka wanita, lemah-lembut, indah, dan tenang. Jauh berbanding dengan lelaki. Hati mereka rapuh, benar-benar rapuh. Jika terluka mereka tersenyum getir, jika bahagia mereka tersenyu lembut.

Dan itulah mengapa Wanita memiliki derajat tinggi terhadap laki-laki. Mereka adalah bidadari yang akan selalu ada untuk orang yang mereka sayangi, se-terluka apapun orang yang mereka sayangi, tetap mereka akan selalu ada untuk orang tersebut. Bahkan walau sampai Shinigami menjemput pun, mereka rela. Mereka segalanya(maaf, maksudnya)lebih dari segalanya.

Dan Tenten, adalah bagian dari itu. Terdeteksi bagian dari mereka bukanlah hal yang menyenangkan. Setiap pagi bangun sendiri, masak sendiri. Tak kadang dia ber Halusinasi tentang Ibunya yang menunggunya di meja makan, tersenyum lembut sembari mengacak rambutnya adalah kebiasaan rutin sang Almarhum Ibu apa bila dia terlambat bangun pagi.

''Kenapa kalian cepat sekali perginya,'' gumam Tenten sambil menekuk kedua kakinya, lalu dia peluk kedua kakinya itu dengan erat. Berharap kehangatan mengalir kehatinya yang kini mendingin, berharap ada sebuah kehangatan yang mencairkan dingin hatinya yang kini kesepian.

Tenten mendongak kembali, hari sudah sore. Gelap tinggal menunggu datang sesaat jika Matahari tenggelam, bergulir kearah Timur lalu di susul dengan malam. Sebuah siklus alam yang benar-benar abadi.

Whuusss...

Srrkkk...

Cicicit...

Tak pernah Tenten tampik jika musik alam itu indah, tenang dan damai. Dia suka, sejak kepergian orang tuanya, yang dia suka adalah nyanyian alam. Lalu perlahan, bulir mata berpupil sewarna coklat manis itu menatap kedepan, matanya sempat terbelalak sejenak saat mendapati Hinata dan Neji yang tengah berjalan bersama dengan Hanabi yang berada pada gendongannya. Dia tersenyum kecut, pasti bahagia punya sebuah klan, sebuah koloni manusia tertentu yang juga memiliki kekeluargaan yang tinggi.

Kini, dia bangkit dari duduknya. Sedikit menepuk pada bagian yang kotor lalu beranjak memanggul gulungan Jutsunya. Langkahnya sempat terhenti sejenak, perlahan dia tolehkan kepalanya kearah dimana dia duduk barusan, juga sedikit senyum manis yang terpampang dia kembali melanjutkan jalannya. Meninggalkan daerah itu dengan perasaan yang berdebar karena besok adalah sebuah ajang ujian yang akan menunjukan potensinya sebagai Chunnin dan dia pantas untuk menerima gelar baru, yaitu: Jounnin.

Dan dia akan berusaha, terus akan berusaha walau gagal sekalipun dia akan berusaha. Harus, dia harus bisa.

~oOo~

Ceklek

Ruangan yang tadinya sepi kini terang benderang, sebuah ruangan mini menyambut gadis Blondie itu. Pandangannya meneliti keseluruh ruangan yang hanya memiliki ruang lingkup yang tak luas, tapi dia suka ruangan ini, ruangan minimalis yang nyaman dan tenang.

Tap... Tap...

Perlahan, pemilik kaki jenjang dan putih itu melangkah masuk. Masa bodoh pada aturan sopan santun, toh yang punya tidak akan marah, malah dia diberi satu duplikat kuncinya, yaitu artinya... *Blushing*

... Dia juga pemilik ruangan mini malis ini.

Perlahan dia melangkah masuk lebih dalam. Meneliti ruangan yang tadinya rapi kini berubah jadi seperti kapal pecah. Perlahan, Ino menggelengkan kepalanya seraya berkacak pinggang. Padahal dia sudah capek-capek membereskan segala hal-nya, sampai harus rela kuku tersayang sedikit menerima lecet pada bagian pewarna kuku (Baca : mengelupas).

''Dia tidak berubah, hmmm... Mungkin sedikit pelajaran dia akan mengerti apa itu, 'bersih itu indah','' gumam Ino sambil mengatur siasat untuk sang Kekasih tercinta yang begitu serampangan dalam mengurus apartemen. Ino menyeringai menyeramkan. Lalu mengernyit saat mendapati Objek berupa Kunai aneh dengan tiga bagian yang tajam.

Perlahan dia beranjak dari teritorial tersebut demi menghampiri seonggok Kunai yang sepertinya terlupakan. Setelah sampai dia langsung memungut Kunai malang tersebut, alisnya saling bertaut saat mendapati kertas kuning yang melilit sang Kunai. Dia putar Kunai tersebut beberapa derajat, sehingga tulisan kanji rumit nampak di bagian kertas kuning tersebut.

''Kunai apa ini?'' gumam Ino yang hanya disambut kesunyian, sedikit dia miringkan kepalanya ke kanan. ''Kenapa ada tiga bagian yang tajam? Biasanyakan hanya ada satu, dan... Kertas kuning. Ini...'' gumam Ino, alisnya kembali bertaut saat membaca tulisan kanji rumit yang tercetak pada kertas kuning tersebut. ''Per...pin...da...han... Eh, perpindahan? Apa maksudnya perpindahan?''

Kini kalau boleh jujur Ino bingung, Kunai aneh, hanya itu persepsi yang dia dapat dari sebuah kesimpulan yang dia dapat dari Kunai yang terlilit kertas kuning itu.

''Tiga bagian tajam, sedikit memanjang dengan kertas kuning yang melilit dan kanji yang berarti 'perpindahan'? Aku benar-benar tidak mengerti,'' gumam Ino sambil menimang-nimang Kunai itu. Lalu mengedikan kedua bahu mungil-nya. Kembali dia letakan Kunai aneh tersebut pada letaknya semula, mungkin Naruto sengaja menaruhnya disana, batin Ino. Lalu beranjak ke dapur, ah... Daerah kekuasannya.

''Lagi-lagi gelap, apa dia suka gelap ya?'' gumam Ino setengah jengkel pada Naruto yang meninggalkan apartemen dengan keadaan gelap gulita. Maka dengan itu, perlahan dia meraba-raba dinding, sedikit mengaduh saat menabrak bangku pengganggu-menurut Ino-yang berada pada bagian sudut ruangan.

Ceklek...

Untuk yang satu ini Ino menghela nafas lega, untung daerah kekuasannya tidak berantakan seperti ruang tengah. Karena kalau berantakan, mungkin Kekasihnya akan dia buat berantakan juga. Sadis memang, mengingat Naruto adalah kekasihnya, tapikan, setidaknya cobalah untuk tidak berantakan seperti ruang tengah.

Ck, Protective pada daerah kekuasan itukan biasa bagi Gadis seperti Ino.

''Dapur, tidak perlu di bereskan karena sudah bersih.'' ucap Ino sambil menaruh bangku yang dia tabrak, kembali pada tempatnya. Sedikit menghela nafas dia membalikan badan. Mungkin angin malam cocok untuknya, saat ini.

Maka dengan itu dia beranjak kearah Balkon apartemen Naruto, sejenak dia berhenti melangkah saat melihat Kunai mencurigakan tersebut. Dia masih bingung dengan Kunai itu, dari yang dia ingat belum pernah dia melihat kunai dengan terlilit kertas kuning serta dengan tulisan kanji yang berarti 'Perpindahan'? Mungkin kekasihnya sudah Gila.

'Tidaaaakk!' jerit Ino dalam hati saat memberi cap kurang waras pada kekasihnya yang memiliki Kunai aneh tersebut. 'Bukan berarti memiliki Kunai aneh, lantas Naru-kun juga aneh. yap... Naru-kun tidak mungkin aneh~ tapi tampan~ kyaaa.' batin Ino sambil menghilangkan kecurigaan terhadap Kunai aneh tersebut, juga sekaligus dengan pemikiran yang dengan bodohnya sempat memberi cap kurang waras pada kekasihnya.

Sedikit menggelengkan kepala, lalu Ino beranjak dari sana dengan wajah memerah saat mengingat paras Naruto. Melangkah tenang dia beranjak ke arah balkon Apartemen, sedikit menggeser pintu geser itu lalu mengigil saat kulitnya yang tak tertutupi kain ter terpa angin malam yang begitu dingin. Sedikit menggosokan kedua telapak tangannya lalu beranjak lebih jauh.

''Tidak pernah berubah, selalu indah.'' gumam Ino sambil tersenyum menatap pemandangan Konoha pada malam hari, sebenarnya ini sudah biasa dia lakukan apabila mengalami kejenuhan. Sedikit merenggangkan otot tubuhnya Ino menguap lebar, kadang, kalau suhu begitu dingin ditambah dengan badan letih, tanpa sadar membuat Ino terlelap. Dia tersenyum lembut saat memandang bulan yang bersinar indah di langit malam. Pegangan tangan mungilnya pada pembatas balkon mengerat.

Aquamarinenya terus memandang rembulan yang indah sambil bersenandung ria, sedikit bersiul adalah kebiasaannya. Apalagi kalau ada kicauan burung, beuhh... dia akan lebih suka. Jujur saja, dia sangat suka dengan harmoni alam. Siapapun dan gadis manapun pasti suka dengan nyanyian alam, terkecuali bagi yang mengalami sebuah trauma berlebihan yang sering di sebut Tsunade dengan sebutan... Phobia?

Ino terkekeh pelan, yah... Dia pun Phobia bila Naruto harus pergi jauh lagi. Sungguh dia tidak suka apabila Shinobi kesayangan Almarhum Sandaime Hokage tersebut harus pergi lama seperti dulu, sungguh dia tidak sanggup. Dia tidak sanggup apabila untuk kedua kalinya menunggu lama, dia tidak sanggup untuk kedua kalinya menanti dalam jangka waktu yang tidak pendek. Dan apabila Naruto harus pergi lagi, mau tidak mau, dia juga harus ikut. Tidak peduli pada ocehan sang ayah atau tatapan Jiraiya yang-kau-tahu-apa-itu, yang penting dia dekat dengan Naruto. Peduli setan pada omelan Sakura, bila itu terjadi, maka dia juga harus berangkat bersama Naruto. Dia tidak ingin berpisah lagi, tidak untuk kedua kalinya.

Gyuutt...

Mata Ino membelalak saat sepasang lengan kekar memeluknya dengan tenang dari arah belakang. Seketika rasa hangat menjalar keseluruh tubuhnya, memberi sensasi hangat pula pada jantungnya yang berdebar dengan cepat.

''Apa kau ingin masuk angin?'' bisik Naruto. ''Tidak baik apabila kau berada pada suhu sedingin malam ini, Ino-chan.'' ucap Naruto sambil menyandarkan kepalanya pada puncak kepala Ino. Sedikit jengah karena Ino mengeliat tak menentu.

''Kau mengaget kan ku, Baka!'' ucap Ino sambil menyandarkan bahunya pada dada bidang Naruto. Dia pejamkan sejenak matanya seraya menyesap aroma maskulin tubuh Naruto. ''Kau darimana?''

''Hmmm... Sedikit rapat kecil, dengan Tsunade-Hime.'' jawab Naruto, dipeluknya erat tubuh Ino agar terhindar dari rasa dingin. Sedikit menyembunyikan tubuh Kekasihnya dalam jubahnya yang menjuntai sampai pada pergelangan kaki.

Alis Ino bartaut. '''Hime'? Sejak kapan kau memanggil Tsunade-shisou dengan panggilan Hime?'' tanya Ino yang lebih terdengar sinis.

Naruto menyeringai. ''Kau cemburu, Ino-chan? Apa kau juga mau aku panggil 'Hime'?'' bisik Naruto menggoda, yang sukses membuat wajah Ino senada dengan kepiting rebus yang di beri saus tomat.

Wajah Ino makin memerah, ini salah. Sebelumnya si Baka itu belum pernah membuat wajahnya sampai semerah ini hanya dengan kalimat yang menggoda, membuatnya terpaksa untuk mengigit bibir. ''Bu-bukan itu, hanya saja...hanya saja baru kali ini aku dengar ada Shinobi yang memanggil Tsunade-Shisou, dengan Panggilan Hime, Baka!'' seru Ino yang malah sukses membuat Naruto makin terkekeh nakal.

Naruto menunduk sedikit, mensejajarkan wajahnya pada telinga Ino. ''Shikaku-san, Hana Inuzuka, Hiashi Hyuuga, Dan Ero Sannin memanggilnya dengan sebutan Hime,'' bisik Naruto yang makin membuat Ino terdesak dengan wajah yang merona. Kini Naruto tersenyum makin lebar saat rona merah di pipi Ino makin kentara. Kalau diperhatikan, setiap gadis jadi manis kalau pipi mereka memerah, atau mata Naruto yang salah?

Entahlah.

Dia eratkan pelukannya pada tubuh ramping Ino, dia benamkan pula wajahnya pada bahu mungil gadis Yamanaka tersebut.

''Apa kau akan mengikuti ujian tahap Jouninn?'' tanya Ino seraya mengusap pergelangan tangan kekar Naruto yang memeluk tubuhnya. Dia bersandar pada bahu itu untuk mencari sensasi kehangatan yang lebih.

Candu itu susah kau hindari. Benar, bukan?

''Tentu aku ikut, dan ini Individual, apa kau yakin akan mengikuti-nya?'' tanya Naruto balik, jujur, dia lebih memilih Ino bersama Shikamaru dan Chouji bila harus menjalani ujian, ini Individual, segala hal bisa terjadi kapanpun dengan rentang waktu yang tak terduga. Bahkan seorang Anbu pun bisa terbunuh kalau teledor. Dan Ino bukanlah seorang Kunoichi yang pandai dalam memperhatikan daerah sekitar atau bisa dibilang dia kurang waspada. Itulah yang kadang membuat Naruto suka gigit jari bila Ino diberi misi seorang diri, ck, Protective itu terkadang diperlukan, bukan?

Ino tersenyum lembut mendengar kalimat yang keluar dari mulut sang Kekasih, ayolah... Wanita mana yang tidak suka bila orang yang mereka cintai ternyata Oper protective Pada mereka?Tapi terkadang juga bikin sensi. ''Hmmm... Aku juga pasti mengikuti ujian, itu. Tenanglah, aku akan baik-baik saja,'' ucapnya sambil mengusap pergelangan tangan Naruto yang memeluknya. Dapat dia pastikan kini Naruto bergelut dengan pikiran bodohnya itu.

''Tapi, Ino-chan. Kau yakin? Ini tidak seperti yang kau bayangkan, tahapnya itu ada di Hutan kematian dan dan Gunung klan Akimichi, dan hanya para Jonnin yang bisa kembali hidup-hidup dari dua Teritorial mengerikan itu.'' Kini Naruto secara terang-terangan mengkhawatirkan Ino, bodo amat dengan rona merah di pipinya. Yang penting dia tidak suka apabila berbohong bila itu menyangkut tentang keselamatan Ino.

Senyum lembut Ino makin bertambah, lalu berbalik badan menatap Naruto. Dapat dia lihat laki-lakinya sedang berkutat dengan wajah merona, dia bingkai wajah itu dengan kedua telapak tangannya yang mungil. ''Aku, akan baik-baik saja. Tak perlu pikirkan aku, aku pasti akan kembali, aku bisa dan akan kubuktikan, bahwa aku pantas menyandang gelar Jonnin setelah ini,'' Ino berbisik lembut pada Naruto.

Naruto menggeleng. ''Bukan, untuk menjadi Shinobi, gelar hanya kedok, Ino-chan. Untuk menjadi Shinobi yang pantas adalah tekad mereka dan dan kemauan. Tingkatan tidak perlu, bahkan orang biasa pun bisa membunuh Anbu,'' ucap Naruto sambil memandang lirih pada Ino yang tersenyum lembut, dia pegang tangan putih yang merengkuh wajahnya. Sedikit dia cium puncak tangan itu lalu menatap Ino tepat pada bagian mata. ''Aku tidak sanggup melihat mu terluka, Ino-chan,'' bisik Naruto.

Senyum lembut Ino makin bertambah lembut, kedua alisnya terangkat dengan mata yang menatap Naruto dengan lembut. ''Aku terbiasa dengan luka, Naru-kun. Akan kubuktikan, bahwa aku pantas untuk bersama mu, dan tidak peduli kau Jinchuriki, aku akan terus ada untuk mu dan akan aku buktikan bahwa aku pantas bersama mu...'' ucapan Ino terpotong saat bibir mungilnya di interupsi oleh Naruto dengan sebuah kecupan. Untuk kesekian kalinya, dia tidak pernah menampik rasa ini, lembut, manis, dan nyaman. Dia tarik kerah jubah Naruto untuk memperdalam.

Jangan tanya betapa Naruto mencintai seorang Yamanaka Ino, bahkan Jiraiya pun kadang uring-uringan karena ulahnya. Dia pegang belakang kepala Ino untuk memperdalam pagutan mereka. Seiring lidah mereka beradu Naruto mengeratkan pelukannya. Tidak peduli pada dingin malam yang menjadi, tidak peduli pada Anbu dan Shinobi yang berlalu lalang malam ini, yang penting dia tenang. Sudah cukup kecemasan yang menderanya karena Ino mengikuti ujian itu, jujur, Naruto tidak pernah ingin bila melihat Ino terluka, lebih baik dia yang terluka dari pada harus Ino.

Setelah sekian menit yang berlalu, waktu terasa berhenti seolah tau akan perannya. Ino mengelap Saliva-nya lalu mendongak menatap Naruto, nafas Ino sedikit terengah-engah karena paru-paru kekurangan pasokan Oksigen. Dia sandarkan tubuhnya pada tubuh Naruto-Manja mode: On. Wajahnya merona hebat, mengalahkan warna tomat busuk yang tak layak dimakan karena sudah di huni cacing dan kotoran.

U-ughh...

''Naruto,''

''Hmmm?''

''A-aku boleh... menginap?''

Oke, Naruto kira hanya Hinata seorang yang kadang suka tergagap. Ternyata, Ino pun bisa tergagap. Hmmm... Kalau dipikir-pikir, Ino suka mengikuti Trend masa kini. Apa selama dia pergi gagap telah menginterupsi percakapan Shinobi, Kunoichi dan Masyarakatmasa kini? Maka bukan tidak mungkin Ino ketularan. Ck, ini susahnya punya kekasih yang kadang tidak pernah ketinggalan Trend apapun.

Jangan lupa, ingatkan Naruto untuk menghapus Trend itu apabila dia telah menjadi Hokage. Susah untuk berkomunikasi masalahnya!

~oOo~

Jubah putih khas Hokage itu berkibar saat angin malam menerpanya. Pandangannya tetaplah menatap ke depan dengan tenang, sosok Godaime Hokage tersebut menghela nafas sejenak. Dia tidak tau kenapa dia jadi berdiri disini, padahal dokumen-dokumen di mejanya sedang menumpuk. Dia galau kini, untuk kesekian kalinya dia menghela nafas, padahal dia tidak mengidap sesak nafas.

Sejenak dia tersenyum simpul, lalu mendongak menatap langit yang kini dipenuhi oleh pernak-pernik malam. Begitu indah, sungguh begitu indah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia memperhatikan langit malam, langit malam yang dipenuhi dengan bintang dan juga sinar bulan yang indah. Sepertinya dia baru sadar kenapa Kakek dan Nenek nya dulu menyebut bulan itu Dewi malam, mungkin karena keindahan dan eloknya sinarnya.

Dia lalu perlahan menoleh kearah pahatan wajah Hokage Sandaime, senyum lembutnya kini terpampang. Dia genggam pembatas balkon itu dengan erat, lalu menoleh kearah pahatan Shodaime dan Nidaime Hokage. Ada sedikit tetes air mata yang mengalir, tidak dia pedulikan cairan malang tersebut.

''Semua berlalu dengan cepat ya, Ooji-sama,'' gumam Tsunade. Dia gigit bibir bawahnya, lalu menggeleng. Tidak! Ini bukan dirinya. Dirinya adalah sosok tegar bagi kedua muridnya yang super keras kepala itu. Tidak! Jangan sampai mereka mengetahui kalau sosok Shisou yang mereka banggakan itu juga seperti gadis umur tujuh belasan.

''Untuk kesekian kalinya, Tsunade. Untuk kesekian kalinya aku melihat mu seperti ini,''

Iris mata yang senada coklat manis itu membelalak kaget. Segera dia hapus bekas anak sungai tersebut, lalu menoleh kearah asal suara tersebut. ''Jiraiya?''

''Hmmm? Apa aku harus bilang 'Kejutannn!', begitu?'' ucap Jiraiya sambil menirukan gaya ala orang yang memberi sebuah kejutan. Sedikit nyengir dia menggaruk belakang kepalanya.

Sudut-sudut keningnya berkedut, membuatnya yang tadi tersenyum manis kini jadi tersenyum iblis. Kedua tangannya kini di aliri sinar hijau yang berarti Chakra itu kini tengah terpusat pada bagian tangan tersebut. ''Kau... Grrr. Kau memang tidak pernah jera ya, Jiraiya no Hentaiiii,'' geram Tsunade sambil melipat kedua tangannya, Death glare mematikannya pun aktiv.

''Ayolah, dengan teman lama masa' seperti itu,'' ucap Jiraiya sambil melipat kedua tangannya, kemudian bersandar pada dinding. Rambut jabrik warna Silver miliknya juga menari riang saat angin menerpanya. ''Kau... Kenapa?''

Tsunade menggeleng sebentar, lalu kembali berbalik dengan memandang langit malam. ''Tidak, hanya saja... Semua sudah berlalu tanpa terasa, ya?'' ucapnya sambil menatap langit malam.

Jiraiya yang melihat itu hanya mengangkat sebelah alisnya. Dia tersenyum sejenak, lalu melangkah perlahan menghampiri Tsunade. ''Memang kenapa? Jangan bilang kau iri pada Almarhum Minato!''

''Ck, bocah itu memang spesial, ya?'' tanya Tsunade sambil memandang menerawang pada bintang yang bersinar terang, mencoba membongkar ingatannya tentang sosok laki-laki yang sampai kini masih menyandang gelar Yondaime sang Konoha no kiiroi senkou walau sudah wafat.

Senyum lembut, rambut Blondie jabrik panjang sampai bahu, dan mata biru.

Dia masih ingat ternyata, dia masih ingat betapa Minato berteriak untuk pertama kalinya sambil menyebut 'Aku akan jadi pemimpin Desa ini' diatas pahatan wajah Shodaime Hokage. Saat itu, Dia, Jiraiya, Minato dan Sandaime Hokage sedang mengadakan piknik di hutan tersebut. Jiraiya-termasuk dirinya-dengan senyum lebar menjitak kepala Minato saat laki-laki Enam-belas tahun itu berteriak untuk pertama kalinya.

Minato Namikaze, adalah sosok laki-laki terbaik yang pernah dia temui. Sikap murah senyum dengan sifat lembutnya selalu membius mereka kaum hawa, belum lagi dengan gelar Kiiroi senkou yang melekat pada dirinya. Siapa yang tidak luntur akan pesonanya?

Mungkin Gadis buta!

''Yah... Dia memang spesial,'' gumam Tsunade sambil tersenyum lembut, lalu menoleh kearah Jiraiya yang tengah mendongak. ''Ya kan, Jiraiya no Hentai?''

Jiraiya hanya mengangguk diam, senyumnya kini terpampang jelas. Rambut Silvernya terhuyung kesembarang arah kini, tapi tetap tidak dia pedulikan, matanya hanya mengerjap saat matanya terterpa rambutnya.

~oOo~

''Mana Tomatnya?'' tanya Sasuke, datar.

Alis Karin bertaut saat mendapati pertanyaan Sasuke mengarah padanya seolah dia wanita pelit. Lantas Karin menghentikan kegiatannya yang mencuci peralatan memasak, lalu berkacang pinggang. ''Dengar ya, Sasuke-kun! Aku tidak sempat untuk membeli Tomat, karena harus membereskan rumah atau Mantion ini. Jadi, bersabarlah sampai besok!'' Omel Karin sambil berkacak pinggang, sedikit dia kembalikan letak posisi kacamata merahnya yang tadinya melorot.

''...''

''Maaf, Karin. Tapi entah kenapa kau terdengar seperti Istri yang mengomeli Suami mu,'' ucap Suigetsu yang langsung di getok Sasuke dengan Kusanagi plus jitakan Karin.

''Bodoh,''

''Hei Juugo, kenapa kau juga mengatai ku?'' tanya Suigetsu sambil mengusap kepalanya yang menjadi korban 'kebaikan' Karin dan Sasuke. Sedikit meringis saat merasakan denyutan di setiap sisi kepalanya. Sepertinya setelah makan malam ini dia harus pergi Ke Konoha Medical Center.

''Sudahlah, lebih baik selesaikan makan malam kalian! Masih mending aku mau membuatkan makan malam, dari pada tidak.'' gerutu Karin sambil kembali berkutat pada tumpukan peralatan memasak yang menimbun, menanti untuk di bersihkan. Celemek warna Purple yang dia kenakan itu sedikit basah dan kotor sana sini.

Sasuke, Suigetsu, dan Juugo diam-diam memperhatikan wanita itu dengan senyum yang terpampang di wajah mereka. Tubuh mungil dan ramping Karin yang mengenakan celemek itu terlihat pas dengan warna kulitnya, kecuali dengan warna rambut. Dari posisi duduk di bilakang dia, mereka dapat melihat gerakan tangan kurusnya yang tengah mencuci piring bolak-balik dengan cekatan. Rambut yang biasanya tergerai itu kini dia ikat kuncir kuda, mengingat rambutnya yang panjang sepinggang mungkin saja akan ikut membersihkan piring. Maka dengan itu dia ikat, menampilkan leher jenjang nya yang putih.

Juugo, yang biasanya hanya memasang wajah tanpa Ekspresi, kini tersenyum lembut. Untuk pertama kalinya dia bertemu dengan gadis seperti Karin. Gadis yang identik dengan rambut warna merah itu mengingatkannya pada sebuah klan Ninja yang kesemuaan rambut anggotanya berwarna merah. Kalau tidak salah Uzumaki, yah... Dia masih ingat tentang klan yang melegenda itu, sebuah klan yang kata Almarhum Ayahnya adalah generasi sekaligus pemilik Gen Dewa Ninja. Rikudou Sannin.

Tapi kalau diperhatikan lebih detail, Karin memang tergolong Kunoichi pemilik Chakra yang identik. Rambut berwarna merah-yang katanya memang sejak lahir sudah berwarna seperti itu-, kulit putih yang menjurus kuning langsat, Chakra yang unik.

Mata Juugo membelalak, sejenak dia menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin, tidak mungkin Karin itu adalah...

''Juugo, kau kenapa?''

... Uzumaki.

.

.

.

...

Minna...*sujud-sujud* gomen, Yahiko updetnya kelamaan. Selama ini Ingin sekali Yahiko untuk mempublish-nya, tapi masih ragu dengan Romancenya yang malah seperti terlupakan. Yahiko sungguh minta maaf.

Untuk Namikaze-chan, ini udah di updet. Jangan paksa Yahiko again ya, Yahiko kelabakan lo saat tau kamu memaksa sampai segitunya. Dan kalau sampau ngga ada yang mereview, kau korban pertama yang aku hantui, ingat itu!*Evil Laught.

~oOo~

Special Thank's for :

NamiKaze DaruL UzumaKi

eight heroes

BlackMoonEdogawa

Master-OZ

Hime Uguisu

Neo-spacian namikazeon

Haru3173

Pink Uchiha

vaneela

Sukie 'Suu' Foxie

FLM

Rey619

el Cierto

Ridho Uciha

Chika Chyntia

And For Sailent Reader, veri thank's for you'll.

Ohya, Apa Sasuke OOC, disini? Gomen Minna-san. Dan untuk yang menanyakan Pair, NaruIno itu pasti. Tapi untuk yang lain aku bingung, jadi ditunggu aja Chap depan, ok!

Yosh... Karena sudah membaca, sudikah agan-agan mengklik tulisan di bawah ini? XD

o

V

o

V

o

V