Disclaimer : All Character in Naruto belong to Masashi Kishimoto© 1999.
Story and Chara OC © Yahiko namikaze, 2011.
~oOo~
Title : Konoha Kiiroi Senko
Rated : T (semi M) ^^V
Genre : Adventure and Romance
pair: Naruto U. x Ino Y.
~oOo~
Backsound : No Boy No Cry by Stance Punks
and
one liness by Toushiro Matsuda
~oOo~
Summary : dirinya amat sangat mirip dengan sosok 'dirinya' yang telah rela mengorbankan dirinya sendiri demi Desa dan orang yang dicintainya.
~oOo~
Warning : OOC, OC, AU, TYPO(s), GAJE, ANEH, JELEK, EYD berantakan, dsb.
.
.
.
.
~oOo~
Hari ini adalah hari pertama ujian tahap Joonin, dimana seluruh Shinobi yang mengikuti ujian tersebut diharapkan untuk berkumpul segera di pintu gerbang untuk melepas para Shinobi tersebut yang akan mengikuti tahap ujian ini. Mulai dari Shinobi Kirigakure, Kumogakure, Sunagakure, Iwagakure dan yang terakhir adalah desa yang menjadi tuan rumah dalam perhelatan akbar tersebut—Konohagakure.
Kali ini, ujian ini akan berbeda dari ujian manapun. Tahap Survival dalam Individu seorang Shinobi sangat di andalkan ditambah dengan berbagai trik dan teknik dalam hal bertarung akan disajikan dalam tahap ujian ini. Tidak ada kebohongan—terlebih kecurangan. Semua tau akan itu, semua peserta memahami peraturan itu. Dengan berbekal ilmu yang mereka pelajari selama ini, ditambah dengan latihan privat pada Joonin pembimbing membuat mereka siap dengan mental yang luar biasa baja.
Dan kini, salah satu Shinobi Konoha yang identik dengan rambut kuning sebahu itu tengah melompat dari atap satu ke atap yang lain dengan hanya satu tujuan yang pasti—gerbang Konohagakure.
Setiap tapak Ninja muda tersebut tidak terdengar sama sekali, peredaran Chakra pada kaki itu teratur sehingga memberikan keleluasaan dalam melompat—bahkan lima rumah yang terlewati dalam sekali lompatan.
Mata birunya menatap kedepan dengan antusiasme yang luar biasa, degup jantungnya tidak bisa ditahan lagi untuk bertahan dari uporia ajang tahunan ini. Sesaat setelah melewati gedung tempat penjualan senjata Shinobi, mata Naruto dapat dengan jelas melihat bukit Hokage. Dimana pahatan wajah Hokage terpampang dengan jelas, matanya menatap salah satu pahatan tersebut.
Kontras dengan model wajah pahatan Shinobi Hokage Shodaime, Nidaime, dan Sandaime Hokage.
Mata Naruto menatap antusias pada salah satu pahatan wajah Hokage yang paling dikenang sepanjang masa. Pahatan wajah Hokage dengan ras Namikaze tersebut, ditatapnya dengan antusiasme yang luar biasa tinggi.
Naruto mengangkat tangan kanannya, menunjuk tepat pada pahatan wajah almarhum Yondaime Hokage— sang Konoha no Kiiroi Senkou. ''Lihat saja! akan kudepak status Hokage termuda dari mu, Yondaime-sama!'' seru Naruto bersemangat. Mata birunya berbinar, memancarkan tekat yang hanya bukan cuap-cuap bocah belaka.
''Cih! Sampai mati pun, jika kau hanya bisa berteriak seperti orang gila seperti tadi. Jangan pernah untuk mendapatkannya!'' ucap sesosok Shinobi berambut biru kehitaman dari bawah atap rumah warga tempat Naruto berdiri sekarang.
Mata Naruto membelalak mendengarnya, dia segera mencari asal suara, dan mata birunya beradu pandang dengan malam tanpa bintang milik keturunan terakhir klan Uchiha. ''Teme? Sejak kapan kau disana?'' tanya Naruto.
Sasuke hanya ber'Hn' ria di bawah sana. ''Sejak kau berteriak kesetanan seperti tadi.''
Gigi Naruto bergemeletuk tidak suka. ''Ini aku, Naruto Uzumaki! Akan ku wujudkan mimpiku Dattebayooo!'' seru Naruto seraya menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari tangan kanan seperti biasanya.
Karin hanya menganga melihat semangat Shinobi yang dipanggil Naruto itu, jarang dia menemukan Shinobi dengan tekad luar biasa seperti sosok berambut kuning tersebut. Mata merahnya menatap Naruto lekat-lekat, kulit kuning langsat, mata biru, dengan rambut sebahu. Tanpa sadar, pipi Karin merona hebat, membuat Suigetsu mendengus dan Juugo yang entah kenapa tidak suka.
Sasuke hanya terdiam sesaat lalu bergumam. ''Hn, terserah apa mau mu.'' ucapnya lalu melenggang pergi dari sana dengan diikuti anggota tim Hebi yang lainnya.
Naruto hanya mengedikan kedua bahunya, sekilas dia melirik lagi pahatan wajah Yondaime Hokage. Dia tersenyum, lalu melompat lagi. ''Akan kuperlihatkan kemampuanku.'' ucap Naruto sambil mengeluarkan Kunai Jikukan. Dia genggam erat Kunai tersebut, lalu tangannya melakukan beberapa segel dengan kecepatan yang lura biasa.
''Elemen Angin : Jurus teleportasi!'' gumam Naruto.
Whusss...
Beberapa warga sipil dibawah sana langsung menganga melihat sosok Naruto yang tadinya masih di udara, kini menghilang dengan meninggalkan sirkulasi udara yang sempat meningkat.
Warga sipil dengan baju warna merah, menganga. ''Me-menghilang? Tidak mungkin!'' ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
''Ju-jurus apa itu barusan?''
''Dia menghilang?''
~oOo~
Entah sudah berapa lama para Shinobi tersebut menunggu komender untuk mengarahkan beberapa hal penting pada mereka, berdiri diam dihadapan gerbang Konohagakure sudah mereka lakukan sekitar sejam yang lalu, tapi masih nihil. Sosok Komender yang mereka tau bernama Hatake Kakashi tersebut belum juga datang. Membuat sebagian dari mereka merasa bosan.
Sosok Shinobi dengan lambang awan melirik sosok Shinobi berlambang pusaran ditambah anak busur disebelahnya. ''Kau tau siapa itu Kakashi Hatake?'' tanyanya.
Sosok Shinobi yang ternyata adalah Sai hanya tersenyum. ''Dia Joonin pembimbing kami, Tim 7.'' jawab Sai ringan.
Shinobi Kumo itu mengerutkan dahinya. ''Joonin pembimbing? Berarti kau tau segala sesuatu tentangnya?'' tanya lagi dengan rasa bosan yang luar biasa.
Lagi-lagi Sai tersenyum sebelum menjawab. ''Dia adalah Mantan ketua Anbu devisi penyerangan, mantan Komender Anbu Black ops, dan sosok yang diberi gelar kepahlawanan dengan title Copy Ninja of Kakashi,'' jawab Sai dengan senyum seperti biasanya. Tidak mengindahkan Shinobi yang bertanya yang kini tengah berkeringat dingin dengan bahu yang sedikit gemetar.
Matanya membelalak tak percaya. ''Di-dia bilang Copy Ninja Of Kakashi? Sosok yang ditakuti di perang Ninja ketiga setelah Yondaime Hokage?'' gumamnya ngelantur. Keringat dingin makin mengucur saat dia mengingat kembali tentang legenda Konoha di perang rahasia dunia Ninja ketiga, dimana Shinobi asal Konoha yang dijuluki Konoha No Kiiroi Senkou beserta muridnya yang berambut Silver. Berhasil membantai sekian ribuan musuh dalam kurun waktu sembilan menit. ''Untung datang kemari dalam rangka mengikuti ujian.'' ucapnya sambil menghela nafas.
Boofff...
''Yo... Maaf aku terlambat, aku sempat bertemu dengan Nenek tua dijalan kehidupan.'' ucap sosok Shinobi berambut Silver sesaat setelah asap yang membumbung menghilang, menampakan seorang Komender dengan warna rambut Silver, ditangan kiri terdapat sebuah buku berwarna orange, sebagian wajahnya yang tertutup sebagian lagi hanya meninggalkan beberapa senti dari wajahnya. Matanya menyipit saat tersenyum sambil menggaruk belakang kepala.
Semua Shinobi— kecuali Shinboi Konoha—melongo saat sosok itu datang tiba-tiba ditambah dengan alasan yang terdengar konyol.
Shikamaru hanya menguap dibagian kiri Chouji. Sedangkan Chouji sendiri hanya memberikan senyum menenangkan pada Komender yang ternyata adalah sosok Kakashi Hatake. Ino yang berdiri di dekat Saskura hanya memutar bola mata bosan, dahinya berkedut saat sosok itu datang dengan alasan konyol. Sedangkan Sakura hanya menggeram kesal.
Kakashi dapat dengan jelas melihat berbagai emosi wajah mereka—kecuali Sai yang memang minim Ekspresi.
Dia menghela nafas sejenak. ''Kalian sudah tau aturannya?'' tanya Kakashi malas.
Semua peserta ujian ini mengangguk dengan semangat. Sebagian sudah bersiap dengan melonggarkan sedikit otot lengan, kaki bahkan otot leher.
''Aturan mainnya adalah,'' ucap Kakashi sambil membelakangi mereka, menatap keluar gerbang. '''Siapa yang cepat, dia yang dapat'. Dalam ujian kali ini, kalian diharuskan menemukan barang yang penting bagi desa, diawali dengan rute, pertarungan sampai pada tahap teknik kalian tersendiri dalam bertarung melawan penghadang.'' ucap Kakashi datar.
Seluruh Shinobi bergidik karena aura pekat yang berasal dari Kakashi.
''Yang perlu kalian ingat adalah... Keberhasilan misi, kegagalan adalah suatu hal terburuk bagi Shinobi manapun.''
'Menjebak, kau pikir bisa menipu ku? Prioritas misi memang utama. Tapi, Shinobi yang merelakan temannya yang tengah terluka, adalah contoh Shinobi yang tak tau diri.' batin Naruto yang entah sejak kapan berdiri tegak di dekat Ino—kekasihnya.
Ino menghela nafas sejenak, masih tidak sadar kalau Naruto sudah berdiri disebelahnya dengan mengisi barisan yang kosong melompong. Alisnya bertaut saat mendengar ceramah Kakashi.''Aku rasa, itu perkataan yang dipaksakan.'' gumam Ino.
Naruto yang mendengar gumaman kekasihnya hanya tersenyum. ''Memang, prioritas misi memanglah utama. Dan bagi yang melanggar akan dianggap sampah, tapi... Shinobi yang membiarkan temannya terluka dalam bahaya, akan lebih rendah daripada sampah.'' ucap Naruto sambil memandang kedepan.
Membuat Ino tersentak seketika, alisnya bertaut saat mendengar ucapan Naruto. Setelah mencerna apa yang dimaksud sosok kekasihnya, dia pun tersenyum bahagia.
Entah mengapa Shikamaru merinding saat mendengar ucapan Naruto barusan, dia sadar perasaannya sekarang. Dia merinding karena antusiasme teman Blondienya tersebut, dan dia setuju, misi memang yang utama. Tapi jika tanpa teman dan kelompok, apa bisa Shinobi tersebut berhasil dalam menjalani tugas tersebut. 1.0% untuk iya dan 99.99% untuk tidak.
Kiba langsung menyeringai saat mendengar ucapan Naruto, tanganya mengepal kuat. 'Kau dengar Akamaru? Shinobi yang tidak membela temannya akan di anggap sampah,' batin Kiba sambil mengelus kepala Akamaru.
Dibalik kerah Jaket yang dikenakan Shino, dia tersenyum senang. Yah, dia tersenyum karena bersyukur punya teman dengan prinsip yang benar-benar Friendly. 'Kita buat ini semakin seru, Naruto.' batin Shino.
Senyum Hinata melembut saat mendengarnya. 'Naruto-kun.'
''Hn.'' gumam Sasuke dengan bibir yang sedikti demi sedikit terangkat.
Karin dan Suigetsu menganga saat mendengar gumaman Naruto.
Dibalik maskernya, Kakashi menyeringai kemenangan. Dia menengadah. 'Kau dengar Obito? Kau dan dia memang mirip.' batin Kakashi.
~oOo~
Tsunade tengah berdiri diatas pahatan wajah Shodaime Hokage sekarang, dengan ditemani beberapa Anbu beserta Jiraiya.
''Pastikan tidak ada penyusup!'' perintah Tsunade.
Anbu dengan jubah warna hitam ditambah topeng model Kucing mengangguk patuh. Dengan segera dia melesat pergi saat mendapat perintah untuk kedua kalinya dari Jiraiya.
''Dan kau..., Pastikan tidak ada 'tumbuhan' yang 'berperan' dalam ujian ini!''
''Ha'i.'' setelah menjawab, sosok Anbu devisi medis segera melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan Tsunade dan Jiraiya yang terdiam sambil memperhatikan gerbang Konohagakure.
Jiraiya terdiam sesaat, lalu menatap Tsunade. ''Daerah utara dekat perbatasan dengan Sunagakure, apa sudah di 'bersihkan'?'' tanya Jiraiya.
Tsunade mengangguk. ''Gaara sendiri yang pergi dan datang melapor, dia bilang di dekat perbatasan hanya ada desa kecil bernama Yume no Sato, dan desa itu 'bersih' dari dulu.'' jawab Tsunade sambil menghela nafas. Kemudian dia merapal segel.
''Segel angin : Jurus mata angin!''
''Bagaimana?'' tanya Jiraiya.
Tsunade memejamkan kedua matanya dengan tangan membentuk segel rusa, alisnya bertaut karena terlalu fokus. ''Memang tidak ada.'' jawabnya sambil membuka kembali matanya.
Jiraiya hanya tersenyum. ''Jangan terlalu memaksakan dirimu.'' ucapnya sambil melangkah dan berdiri didekat Tsunade dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Tsunade hanya tersenyum sekilas. ''Lalu, sekarang apa kau akan melanjutkan perjalanan mu?'' tanya Tsunade sambil menatap langit.
Jiraiya hanya mengangkat sebelah alisnya. ''Mungkin juga iya, ah! sepertinya tidak untuk beberapa saat. Soalnya aku lupa mentraktir Kitsuchi,'' jawabnya setelah mengingat pertemuan beberapa hari yang lalu.
Tsunade juga mengangkat sebelah alisnya. Lalu menoleh kearah Jiraiya. ''Apa yang kau maksud adalah master elemen tanah dari desa Iwagakure?'' tanya Tsunade, karena kalau iya, mungkin mereka bisa berjudi lagi ditengah misi atas perintah Sandaime seperti di masalalu.
Jiraiya hanya mengangguk. ''Yah... Dia sudah tidak terlihat seperti dulu lagi.'' jawab Jiraiya sambil menengadah. ''Kita memang tidak seperti dulu lagi, pasti ada perubahan.''
~oOo~
Tapp...
Trapp...
Dahan demi dahan Naruto lompati bersama sosok Ino disebelahnya. Benar, dia tidak peduli peraturan yang ada, memang peraturan itu menjamin keselamatan kekasihnya?
Tidak, bukan?
Ino melirik Naruto sekilas, Rompi Joonin yang Naruto kenakan entah kenapa membuatnya bertambah keren. Hanya saja, lambang klan Uzumaki kini tercetak jelas dikerah rompi Jooninnya* dengan dalaman baju kaus lengan panjang sampai ketengah jari-jari tangannya. Celana Baggy dengan banyak saku itu juga turut bergibar karena pergerakan Naruto yang luar biasa cepat.
Dia memandang kedepan lagi, dia menggeleng singkat. Tidak, dia tidak boleh sampai merepotkan kekasihnya.
Tanpa sadar, perjalanan mereka sudah memakan waktu Lima-jam. Langit di sore hari sudah nampak jelas dengan burung merpati yang berterbangan kesana kemari.
Trapp...
Trap..
''Ada apa, Naruto-kun?'' tanya Ino pada Naruto yang tiba-tiba memilih berhenti. Padahal menurut yang tercantum di dalam peta, perjalan masih membutuhkan waktu dua jam.
Naruto memandang menyeluruh dengan mode sage, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka berdua—tentunya tak mengindahkan pertanyaan Ino. Setelah memastikan dia celingukan kesana kemari.
''Naruto-kun... Ada apa sebenarnya?'' tanya Ino lagi saat tidak mendapat jawaban dari Naruto yang sepertinya repot sendiri dengan kegiatannya.
Kali ini Naruto menoleh—saat mendengar pertanyaan Ino—dengan senyum yang biasanya ia tampakan. ''Kita istirahat dulu semalam, besok baru kita lanjutkan lagi.'' jawabnya sambil melompat turun dari dahan besar tersebut.
Ino turut melompat turun—setelah mengangguk patuh. Jubah putih khas Rookie dua belas miliknya berkibar lagi-lagi dan lagi.
Trapp...
Trapp...
Setelah memastikan tempat yang cocok, maka Naruto membawa Ino tepat dibawah Pohon besar yang terlindung dari sinar matahari sore.
''Duduklah dulu,'' Tuntut Naruto pada Ino.
Ino hanya mengangguk patuh. Dia lepas jubah putih itu, kemudian dia nyamankan posisinya di dekat pohon besar tersebut.
''Kagebunshin no Jutsu!'' seru Naruto setelah merapal segel.
Bufff...
Sekitar Dua orang kembaran Naruto kini berdiri dengan pasti dihadapan Naruto dan Ino.
''Kalian!'' Naruto menunjuk kedua kembarannya. ''Pergi berjaga, mengerti? Segera beritahu kalau ada pergerakan yang mencurigakan!'' Perintah Naruto pada kedua kembarannya.
Kedua kembaran Naruto hanya mengangguk patuh kemudian pergi darisana dengan berakhir bunyian 'boofff'.
Sesaat setelah kembarannya pergi berjaga, maka Naruto berbalik arah dengan berdiri dihadapan Ino yang duduk dengan nyaman. Dia tersenyum sejenak.
Ino balas tersenyum, dia sebenarnya merasa aneh dengan Naruto yang memilih untuk bermalam padahal perjalanan sudah hampir sampai. ''Kenapa kita harus bermalam?'' tanya Ino pada Naruto yang mengambil tempat duduk disebelahnya.
Setelah dirasa tenang, Naruto duduk bersandar pada batang pohon besar itu, dia menghela nafas sejenak. ''Itu karena kita butuh istirahat, kau mengerti?'' jawab Naruto sambil menatap Ino yang duduk disebelahnya.
Mata Ino mengerjap beberapa saat, kemudian dia mengangguk. ''Ohya, bagaimana kalau kita terlambat?'' tanya Ino sambil menatap beberapa daun yang jatuh dari rantingnya. ''Apa itu tidak apa-apa?'' lanjutnya sambil beralih menatap Naruto yang kini menengadah.
Naruto hanya terdiam sesaat. Kemudian dia menjawab. ''Kita tidak akan terlambat, karena tanpa kau sadari, chakra mu menipis selama perjalanan tadi bukan?'' jawab Naruto ngasal.
Bibir Ino mengerucut, tidak terima dengan alasan Naruto yang sepertinya menyindirnya. ''Tapikan, ini ujian. Ini sama saja dengan malas-malasan!'' Hardik Ino sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
Naruto hanya tersenyum, dia kini menoleh menatap Ino yang tengah merenggut dengan bibir mengerucut, pipi gadis itu sedikit menggembung. ''Kemarilah!'' ucap Naruto sambil melipat kedua kakinya dan menepuknya. Memberi isyarat agar Ino duduk disana.
Seketika itu juga pipi Ino merona, dia bukannya tidak mengerti maksud Naruto. Hanya saja ini pertama kalinya dia duduk dipangkuan Naruto—terkecuali disaat mereka tengah berbagi kehangatan di apartemen Naruto, saat malam hari—setelah menimbang-nimbangnya, dia menurut, beranjak dari tempatnya duduk dengan menghampiri Naruto. Setelah sampai di depan Naruto, Dia tatap sejenak bola mata yang senada dengan warna lautan dalam tersebut, tidak, tidak ada niatan untuk menjahili atau semacamnya disana. Yang ada hanyalah rasa ingin melindungi satu sama lain, maka dengan itu, perlahan, Ino duduk dengan anggun dipangkuan Naruto dengan disertai degupan jantung yang menggila.
Setelah Ino duduk di pangkuannya Naruto menghela nafas. ''Tenangkan dirimu.'' ucap Naruto sambil memeluk Ino yang tengah terkejut dengan reaksi Naruto yang tiba-tiba memeluknya.
Ino hanya terkejut sekilas. Kemudian dia terdiam dengan menyandarkan bahunya pada bahu bidang Naruto. Perut datarnya yang terekspose kini tidak lagi terasa dingin seperti tadi. Melainkan hangat yang menjalar saat tangan kekar itu melingkar disana. Setelah mendengar ucapan Naruto, Ino hanya mengangguk.
Naruto hanya tersenyum saat Ino mengangguk. ''Apa kau pernah mendengar nyanyian alam?'' tanyanya pada Ino disela keheningan yang sempat melanda.
Alis Ino terangkat sebelah sesaat, kemudian dia menggeleng. ''Sejujurnya sih belum. Memang kenapa?'' tanyanya.
''Apa kau ingin mendengarnya?'' bisik Naruto lembut didekat telinga kiri Ino. Setelah itu di kecup leher itu singkat.
''Ahn... Naruto, kau ini.'' ucap Ino sambil mencubit tangan Naruto. Pipinya merona padam saat Naruto mencium lehernya.
Naruto meringis sesaat, sakitnya cubitan Ino tetap tidak berubah. Tetap sesakit yang dulu. Sesaat setelah mengusap daerah yang menjadi korban pencubitan Ino, Naruto menengadah. ''Kalau begitu, coba kau pejamkan matamu.'' ucap Naruto sambil berbisik pelan.
Ino terdiam sesaat. Setelahnya dia memejamkan matanya dengan tenang. Dapat dia rasakan angin tengah membelai wajahnya.
Naruto tersenyum lembut. ''Kemudian, tarik nafas dari hidung dengan santai, setelahnya, hembuskan lewat mulut. Tetap dengan tenang.'' bisik Naruto.
Kali ini Ino menghirup nafas dari hidung kemudian mengeluarkannya dari mulut dengan tenang. Dapat dia rasa debaran jantungnya kian tenang dan nyaman.
''Setelahnya, coba kau dengarkan aktivitas sekitar. Cukup dengar saja, jangan artikan dari suara itu.'' lanjut Naruto sambil menyandarkan kepalanya pada bahu mungil Ino, pelukannya makin erat, dapat Naruto rasakan kalau kulit kekasihnya ini begitu mulus walau pada kenyataannya aktivitas seorang Ninja tidaklah membuat kulit menjadi lembut. Tapi inilah watak gadisnya, selalu merawat diri.
Desir angin yang tenang, suara jangkrik, pergerakan gesekan antara dedauan. Tenang, Ino tenang. Dia belum pernah merasakan ini sebelumnya, perasaanya semakin tenang saat angin membelai wajahnya dengan nyaman. Makin dia nyamankan posisi duduknya pada Naruto yang tengah memeluknya—juga memangkunya. Dia sepertinya baru menyadari apa itu nyanyian alam. Ternyata seindah ini, batin Ino sambil tersenyum dengan mata yang masih terpejam.
''Tak perlu mendengarkan lantunan musik apabila kau ingin merasa nyaman. Cukup dengan pejamkan matamu, dan tenangkan dirimu. Maka, rasakanlah setiap kali angin membelai wajahmu, maka kau akan merasakan hal yang belum pernah kau rasakan,'' ucap bisik Naruto lagi.
Kali ini mata Ino terbuka, menampakan iris yang senada dengan lautan dangkal tersebut. Dia tersenyum. ''Kau tau? Kadang aku merindukan saat-saat yang seperti ini. Bersamamu dengan suasana yang seperti ini,'' ucap Ino yang entah sadar atau tidak kalau dia baru saja membongkar permohonannya setiap ingin tidur—didepan kekasihnya seperti ini. Sesaat setelah sadar apa yang baru saja dia ucapkan pipinya merona hebat.
Senyum Naruto makin lebar. ''Kau merindukannya? Kenapa tidak bilang...,'' ucapan Naruto menggantung saat kepalanya menyusup diantara leher dan bahu Ino. ''Kalau kau rindu, apa sekarang sudah terobati?'' tanya Naruto sambil menyesap wangi tubuh Ino.
Gadis itu terdiam sesaat. Lalu tersenyum. ''Yah... Aku rasa sudah terbayar.'' jawab Ino sambil menyandarkan kembali bahunya pada dada bidang Naruto.
~oOo~
Shino kini tengah memperhatikan bintang yang bertabur dilangit sana—beserta sinar bulan yang indah. Kedua tangannya menelusup kedalam saku Jaketnya yang hampir menutupi seluruh wajahnya. Lalu matanya bergulir menatap Hinata dan Kiba yang sudah tertidur dari tadi. Setidaknya, sebagai leader dia bisa menjaga mereka sampai saat ini.
Kini dia duduk bersandar pada tubuh Akamaru yang juga terlelap, kadang dia heran dengan Akamaru. Kenapa anjing ini seolah-olah mempunyai pola hidup seperti majikannya.
Shino tersenyum sejenak saat bayangan Ibu, Kakak, dan Ayahnya terselip dalam lamunannya. Lalu entah kenapa dia jadi teringat ucapan Naruto tadi siang saat berada digerbang.
''Meninggalkan teman dalam kondisi bahaya, adalah tindakan seorang sampah, ya?'' gumam Shino sambil menengadah. Entah kenapa perkataan Naruto saat itu begitu menohok. Perasaan, dia tidak pernah meninggalkan rekan-rekannya dalam misi. ''Apabila temannya yang menyuruh untuk pergi disaat temannya itu sendiri tengah kesusahaan, dan kalau menuruti apa kata temannya itu, apa itu juga masih bisa dibilang tindakan seorang sampah?'' lanjutnya sambil menghela nafas. Setidaknya itu bisa jadi moto yang tepat untuk sebuah pertemanan.
Lagi, matanya bergulir menatap Kiba dan Hinata yang tengah tertidur. Pertemanan, dia adalah sosok yang kadang termasuk dalam jajaran Shinobi anti sosial, tapi entah kenapa jika bersama mereka, dia merasa tenang. sudut bibirnya terangkat. ''Terimakasih atas segalanya. Aku takan pernah membuat kalian kecewa,'' lanjutnya sambil tersenyum, lalu dia lepaskan beberapa serangga Kekaichu-nya untuk melakukan penjagaan sensor level A.
''Ini akan menjadi hal yang sulit.''
~oOo~
Naruto tersenyum saat mendengar dengkuran halus dari Ino yang tengah tertidur sambil duduk dipangkuannya. Dia, kekasihnya, Yamanaka Ino. Adalah sosok wanita yang benar-benar membuatnya repot. Yah, repot karena gadis ini selalu merepotkan detak jantungnya apabila dia mendapat misi keluar desa seorang diri. Bukan berarti dia tidak percaya kalau Ino pasti bisa menyelesaikan tugasnya. Hanya saja, dia tidak sanggup apabila mendengar kabar kalau Ino terluka dalam misi sementara dirinya hanya bermalas-malasan di desa.
''Benar kata Shikamaru, wanita selalu merepotkan.'' gumam Naruto sambil mendongak menatap bintang-bintang dilangit malam ini. Sedikit banyak dia bersyukur karena memiliki gadis ini, dia adalah segalanya bagi Naruto, dan takan pernah dia lepaskan.
Tidak akan pernah!
Kini dia cium pipi Ino dengan lembut. ''Kau adalah milikku—segalanya bagiku. Milik Uzumaki Naruto seorang.'' bisik Naruto lembut sambil membelai pipi Ino kemudian mengelus bibir tipis yang kepink-pink-ngan itu.
Ino meringsuk kesamping sejenak, lalu memeluk tangan besar Naruto yang digunakan Naruto untuk memeluk gadisnya. Gadis itu sedikit mengigau sejenak lalu terlelap lagi. Senyum Naruto merekah lagi. Yah... Dia suka gadis Yamanaka ini.
''Ohya, apa pendapatmu mengenai bulan malam ini? Apakah indah?'' tanya Naruto pada Ino yang tengah terlelap. Tubuh mungil dalam dekapannya itu sedikit meringsuk kembali. Dan Naruto tersenyum.
''Kau akan selamanya milikku, Hime.''
~oOo~
Dan pagi pun datang terasa lebih cepat bagi mereka yang sempat bermalam ditengah perjalanan. Cuaca memang terlihat mendukung hari ini, mulai dari cerahnya awan dan siklus peredaran angin yang teratur membuat mereka makin bertambah semangat untuk melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda tentunya.
Perlahan, mata indah seorang gadis Yamanaka yang tertidur dipangkuan kekasihnya mulai terlihat. Iris senada dengan lautan dangkal itu perlahan membuka kembali. Disaat pendengarannya mulai fokus, yang pertama kali dia dengar adalah suara deruan nafas seseorang yang tengah menjadi tempat bersandarnya semalaman.
Ino menoleh kebelakang dengan perlahan, yang dia lihat adalah paras Naruto yang tengah terpejam bersama mimpi indah. Bibir Ino terangkat dengan senyum yang terkembang diwajah cantiknya walau pada nyatanya dia belum 'menyentuh air', pagi ini. Dia menunduk melihat jubah putih yang semalaman menjadi pengganti selimut baginya. Lalu melirik Naruto lagi.
''Sepertinya kau kelelahan,'' gumam Ino seraya mengelus garis-garis halus yang ada diwajah Naruto. Dia tersenyum lembut. ''Naruto-kun, bangun. Ini sudah pagi.'' ucap Ino seraya menempelkan dahi mereka satu sama lain. Senyumnya terkembang lagi saat kelopak mata Naruto mulai membuka.
Perlahan Naruto membuka matanya, sedikit mengerjap untuk menyesuaikan penglihatan disekitar. Lalu Blue Sapphire mendapati pemilik iris Blue sky tengah menatapnya dengan senyum manis. ''Ino? Apa kau sudah lama bangun?'' tanya Naruto sambil kembali mengerjapkan matanya.
Ino hanya menggelengkan kepalanya. ''Tidak, baru saja.'' jawab Ino.
Naruto tersenyum. ''Kurasa disini ada sungai, sebaiknya kau mengaca dulu di air.'' ejek Naruto seraya terkekeh jahil.
Senyum manis Ino langsung hilang saat mendengar ucapan Naruto barusan. ''Memang kenapa!'' ketusnya sambil mencoba untuk bangkit—kekasihnya ini tidak peka, ya?
Naruto yang melihat reaksi Ino hanya tersenyum, segera dia peluk erat gadis ponytail tersebut. ''Jangan mudah cepat sensi seperti itu. Nanti kau tambah jelek,''
''Biarin! Aku marah!'' ketus Ino sambil menggembungkan pipi Chubynya. Lalu mendengus.
Naruto makin gemes dibuatnya, kini pelukan lembut itu, makin Naruto eratkan. Dia hirup aroma tubuh gadisnya kala pagi ini. Tetap seperti biasanya, wangi.
Perlahan Ino kembali mengembangkan senyumnya, dia balas pelukan hangat pagi ini dari Naruto. Hangat, embun pagi memang membuat dingin, tapi dengan pelukan ini, mampu mengusir dingin itu hanya dengan pelukan ini.
''Sebaiknya kita bergegas, kau pahamkan, maksud ku.'' ucap Naruto seraya mengecup ubun-ubun gadisnya. ''Ohayoo Hime.''
Ino tersenyum makin lembut dalam pelukan Naruto. ''Ohayoo yo, Naruto-kun,'' balasnya.
~oOo~
Sementara itu, dipagi yang seharusnya di awali dengan nyaman kini hanya sebuah mimpi bagi sebuah tim Shinobi yang mengikuti ujian tahap Joonin. Tim Hebi yang dipimpin langsung oleh Sasuke Uchiha tengah bertarung melawan sekelompok Bunshin level SSS yang dikirm untuk menjadi batu penghalang kesuksesan para peserta ujian.
Sasuke pun baru sadar, apa yang dimaksud oleh mantan Senseinya itu. Ternyata, yang dia maksud dengan pertarungan sampai permainan teknik kalian sendiri untuk bertarung melawan penghadang adalah, kepiawaian dalam memainkan teknik dalam kurun waktu yang tidak bisa dibilang singkat. Jika Chakra hanya habis disini, mungkin mereka tidak akan bisa melanjutkan perjalanan hanya untuk memulihkan Chakra.
Mata kelam Sasuke menatap Bunshin Shinobi Joonin dari Kirigakure itu dengan datar, lalu dia memperhatikan Suigetsu dan Juugo yang tengah berdiri disebelahnya. Lalu dia melirik sosok Kunoichi satu-satunya di Tim mereka—Karin.
Sejenak dia melirik Suigetsu. ''Suigetsu, apa kau mengenalinya?'' tanya Sasuke pada Suigetsu yang berdiri dibagian kiri.
Suigetsu mengernyit saat mendengar pertanyaan Sasuke. ''Mana aku tau, memang kau pikir aku ini ladang informasi khusus untuk mantan desaku?'' jawab Suigetsu sinis karena sudah menjadi kebiasaannya apabila mulai terdesak, pasti tidak memperdulikan title apapun sekalipun itu yang bertanya adalah almarhum Kakaknya sendiri—Mangetsu Houzuki.
''Sial,''
Sosok Shinobi dari Kirigakure itu merapal segel dengan cepat—membuat Sasuke memfokuskan kembali dirinya pada Shinobi tadi.
''Elemen air : Teknik tarian air!'' seru Shinobi tadi sambil menapakan kedua tangannya kepermukaan tanah dengan keras.
Tapp...
Brusshhh...
Sekitar tiga Pusaran air berbentuk menyerupai badai melayang kearah mereka yang masih bergelut dengan pemikiran masing-masing.
Sasuke Cs dengan sigap menghindari serangan air itu dengan cara melompat kesamping seraya berkelit.
Traapsss...
Taappp...
Tapp...
Trapp
Sasuke dengan cekatan mendarat sempurna diatas pohon tua yang menjadi penghalang sinar matahari secara langsung tersebut. Matanya memperhatikan pergerakan jurus barusan dengan seksama. Hanya terfokus pada satu arah, batin Sasuke. Setelah itu dia mengeluarkan pedang Kusanagi dari sarungnya yang tersemat di pinggangnya.
Karin berdiri tepat di depan batu besar yang menjadi tempat mereka untuk beristirahat tadi malam. Dia kembali memfokuskan penglihatannya. 'Serangan itu hanya terfokus pada satu arah, apa mungkin itu hanya tipuan?' batin Karin sambil mengembalikan kembali posisi kacamatanya.
Suigetsu mendarat beberapa meter dari lokasi Karin mendarat. Giginya bermeletuk tanda tidak suka, ini bukan permainan, tidak boleh ceroboh pastinya. Lalu matanya menatap Bunshin Shinobi itu dengan alis yang bertaut. 'Jurus air barusan tidak hanya mampu melukai, tapi juga memiliki racun yang terkandung di dalamnya. Untung saja aku sempat menghindar,' batin Suigetsu. Dia pegang pedang besar milik almarhum Zabuza itu dengan erat. ''Dan jika dia hanya seorang Ninja spesialis elemen air, akan aku coba. Sehebat apa teknik airnya.'' gumam Suigetsu sambil memposisikan Kubikkiribocho kedepan dengan pose yang menantang.
Juugo hanya terdiam diatas pohon. Matanya menatap Shinobi itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Lalu dia menoleh saat mendengar gumaman yang lebih tepat disebut teriakan dari Suigetsu. Lalu mendesah. ''Ada apa lagi dengan dia.'' gumamnya sambil menghela nafas.
Suigetsu menyeringai. ''Kita lihat, sehebat apa sekarang Shinobi-Shinobi mantan desaku!'' seru Suigetsu seraya berlari menerjang Shinobi Kirigakure itu dengan cepat.
Mata Shinobi tersebut membelalak saat melihat Suigetsu berlari kearahnya dengan pedang besar milik almarhum Zabuza. Shinobi itu dengan sigap memasang kuda-kuda bertarung. ''Suigetus Houzuki, kau sudah besar ternyata.'' ucapnya sambil mengambil Kunai dari kantong yang berada dibalakang celananya.
Setelah jarak mulai dekat dengan Shinobi tersebut, Suigetsu langsung menebaskan pedangnya dengan cara Hosizontal. Berharap sosok Bunshin—yang sok kenal—itu melompat mundur karena kalau melompat mundur, maka pasti dengan mudah dia akan mengubah arah serangannya. Tapi nyatanya, Shinobi tersebut malah menghilang dalam kepulan asap. Meninggalkan Suigetsu yang berada dalam kabut tebal.
Boofff...
Kini Suigetsu benar-benar berada dalam inti kabut tebal dari jurus Shinobi barusan. Dia memandang sekeliling, masih memandang dalam jarak Lima meter. Setelahnya nol besar. Lalu Suigetsu menyeringai penuh kemenangan. ''Teknik dunia kabut. Kau pikir aku akan terkecoh?'' ucap Suigetsu sambil kembali memasang kuda-kuda bertahan.
Sesosok bayangan berdiri dijarak lima meter dari Suigetsu berdiri. ''Kau benar, ini adalah teknik dunia kabut. Memastikanmu tidak dapat melihat bahkan merasakan pergerakan chakra dalam radius sepuluh meter dari lokasi Ninjutsu. Mirip dengan teknik kabut Zabuza Momochi, bukan?'' ucap sosok itu.
Sasuke yang berada dibagian luar dapat dengan jelas mendengar percakan antara Suigetsu dan Bunshin Shinobi tersebut. 'Mirip dengan teknik kabut Zabuza?' batin Sasuke. Lalu matanya menatap Juugo yang berada diatas pohon. ''Lakukan apa tugasmu,'' Perintah Sasuke.
Juugo hanya mengangguk walau diam. Dia melompat dari atas pohon tersebut. ''Sehebat apapun kabut itu, kabut tetaplah kabut!'' seru Juugo seraya merubah tangan kanannya menjadi sebuah kipas raksasa. ''Dan akan kubuat kalian merasakan angin ini, Suigetsu! Berubahlah menjadi Air!''
Suigetsu yang mendengar teriakan itu lantas merubah tubuhnya menjadi genangan air. ''Apa yang akan dia lakukan?'' gumam Suigetsu.
''Perhatikan ini baik-baik! Heeaa!'' seru Juugo seraya berputar seperti badai di udara, berputar tepat diatas Suigetsu yang tadi mencair. Tato aneh di pipi dan tangannya menyala warna merah terang.
Whusss...
kraak-krakkkk...
Dhuarrr...
Sekitar lokasi langsung hancur porak-poranda dengan pohon yang tumbang sana-sini akibat angin dahsyat yang dihasilkan oleh Juugo yang tengah berputar di udara dengan membentuk sebuah tornado kecil. Perputaran yang semula cepat itu kini melambat seiring Juugo mengendurkan tingkat perputarannya.
Sasuke hanya diam ditempat saat Juugo berputar dan melayang di udara seperti tadi, kini kabut itu tidak ada lagi. Yang ada hanya menyisakan Suigetsu yang masih mencair. 'Kemana perginya?' batin Sasuke sambil melirik Karin. ''Karin, apa kau melihat pergerakan yang terjadi di dalam kabut itu saat serangan Juugo berlangsung?'' tanya Sasuke pada Karin yang berdiri disebelahnya.
Karin menggelengkan kepalanya. ''Tidak ada, Shinobi Kirigakure itu memang sudah pergi dari kabut itu sesaat setelah Suigetsu mencair.'' jawab Karin sambil memperhatikan Juugo yang kini berdiri dihadapan Suigetsu.
Setelah mendarat, Juugo memperhatikan kawasan sekitar. Tidak ada peredaran Chakra. ''Kemana perginya?'' gumam Juugo.
Sasuke terdiam sesaat. Lalu menatap keseluruh jarak pandang yang dia lihat. Walau begitu dia masih tetap berjaga dengan kuda-kudanya.
Mata Karin mendapati bayang aneh didekat bayangannya ditanah, jika itu memang bayangannya. Seharunya hanya ada satu kecuali ada penerangan tambahan selain sinar matahari pagi ini. Seketika matanya membelalak, dengan cepat dia mendongak, benar! Ninja itu berada tepat diatasnya.
Ninja itu menyeringai menatap Karin yang mendongak menatapnya. Lalu dengan segera dia melakukan segel. ''Elemen Air : Jurus Hujan Kunai!'' serunya.
Sasuke langsung mendongak saat mendengar seruan lantang dari atas mereka. Matanya membelalak saat ribuan Kunai dari atas sana melayang turun tepat mengarah kearah Karin. Dia segera membentuk segel. ''Jurus api : teknik pagar api!'' seru Sasuke sambil menapakan kedua tangannya ditanah.
Tap...
Busshhh...
Jarak pandang Karin kini hanya tertutup oleh Api yang entah dari mana datangnya. Keringat mengucur dari dahinya, kakinya kaku, cepat. Gerakan itu terlalu cepat, sampai dia sendiri tidak ingat berapa lama dia tidak menghirup nafas.
Greepp...
Brusshhh...
Dia menunduk, menatap tangan besar yang tengah memeluknya. Lalu mendongak menatap siapa yang berani memeluknya, dan matanya membelalak saat tubuh kekar Juugo melindunginya dari serangan air panas dari arah belakang yang mereka tidak menduganya. ''Ju-Juugo?'' mata Karin mulai berembun.
Juugo meringis saat air panas itu menghempas kulitnya yang tak terlapisi kain. Matanya terbuka perlahan saat mendengar bisikan itu. Dia tersenyum saat melihat tubuh mungil Karin yang masih dalam dekapannya. ''Huuuh... Kauh, tidak-h, apa-apa, Karin?'' tanya Juugo sambil menatap mata merah Ruby itu yang tengah berembun.
Mata Karin mulai meneteskan air sucinya. Tidak, kumohon tidak lagi! Seru Karin dalam hati saat melihat Ekspresi Juugo yang meringis kesakitan demi melindunginya dari serangan air panas itu. Lalu Karin menggeleng. ''A-aku tidak apa-a-apa,'' jawab Karin. Panas akibat pagar Api buatan Sasuke kini tidak lagi terasa dikulitnya. Yang dia pikirkan kini hanya Juugo, kenapa laki-laki itu selalu menjaganya dan selalu menolongnya tepat pada waktunya? Karin mulai bingung dengan perasaannya.
Kini mereka berdua terkepung oleh pagar air panas milik Shinobi kirigakure tersebut. Sedikit lebih panas dari air yang tadi mengenai sukses tubuh belakang Juugo. Sasuke berdecih. ''Sudah cukup! Suigetsu, kau urus mereka berdua!'' seru Sasuke sambil menusukan pedang Kusanagi ketanah. Kemudian dia memejamkan mata kirinya.
Suigetsu hanya mengangguk. ''Ini pasti sulit.'' gumamnya sambil berlari mendekati pagar air tersebut. ''Dan akan aku pastikan ini akan berlangsung dengan cepat.'' ucapnya seraya menambah pegangan gangang pedang Kubikkiribocho. Dengan sekuat tenaga dia memukulkan pedangnya pada permukaan tanah.
Sedang Sasuke masih dengan mata terpejam. Kemudian, setelah cukup lama dia memejamkan matanya, mata itu terbuka kembali. ''Amaterasu!'' gumam Sasuke.
Tubuh Shinobi yang berdiri tidak jauh dari Sasuke menggelepar saat Api ghaib warna hitam membakar tubuhnya dengan brutal tanpa ada celah dari tubuhnya. Sasuke cukup yakin jurus ini hanya akan memakan waktu pemulihan selama beberapa jam. Lagipula, dia hanya menggunakannya sekali. Dan ini adalah jurus baru yang dia pelajari dari kitab tetua Uchiha di Uchiha Mansion.
Kini asap membumbung tinggi akibat pertarungan mereka, hawa panas itu kini menghilang sudah sesaat setelah Bunshin Shinobi Kirigakure yang tewas terbakar oleh api hitam yang berasal dari kekuatan mata kiri Sasuke.
Sementara Karin, dia masih sedikit tersedu-sedu didalam pelukan Juugo. Sesaat setelah Suigetsu melumpuhkan pagar air panas, mereka masih saja berdiri seperti saat Juugo datang menyelamatkan Karin. Dia sendiri tidak tau darimana kenekatan itu datang, tak mengindahkan rasa sakit yang ada, Juugo segera berlari melindungi Karin. Dia sendiri tidak ingat kenapa kenekatan itu muncul. Hanya saja, dia sadar. Dia harus menyelamatkan wanita itu, dengan sedikit berkorbanpun tidak apa-apa.
Suigetsu kini terengah-engah dengan duduk bersandar pada dahan pohon besar yang tertanam tegak di belakangnya, kepalanya menunduk dengan masih nafas yang terngah-engah. Kini dia mendongak, keringat mengucur dari dahi kewajahnya. ''Ini... Menyusahkan,'' gumamnya sambil menutup mata, membiarkan semilir angin membelai wajahnya.
Sasuke hanya terdiam seraya menutup mata bagian kirinya. Darah yang tadi hanya mengintip dari mata kirinya, kini mengalir perlahan dan berubah menjadi seperti anak sungai. Tapi anehnya, sesaat kemudian, aliran darah itu berhenti. Lantas mengering seketika. ''Untung saja, kalau tidak. Aku pasti mengalami kebutaan,'' gumam Sasuke sambil mendongak dengan tangan kiri yang menutupi mata bagian kiri beserta wajahnya. Sasuke menoleh kebelakang, melihat adegan mesra antara Juugo dan Karin, lalu Suigetsu yang tengah memejamkan matanya.
Timnya, Tim Hebi. Adalah suatu Tim pusat yang sengaja dia bentuk ulang saat mereka sudah sah menjadi Shinobi Konoha. Berfokus pada devisi penyergapan dengan mereka yang menjadi—menggantikan Tim Genma—tim inti. Tapi tetap saja, mereka hanya setara Chunnin dimata akademis. Dan Sasuke, setelah ini. Akan berjanji untuk menjaga mereka, mereka adalah tanggung jawabnya. Semenyebalkan apapun itu Suigetsu, dia tetaplah anggota pemegang pedang terbaik di Tim mereka. Sementara Juugo dan Karin, mereka sudah di akui oleh Inoichi kalau mereka berdua adalah tangan kanan Ibiki Morino dan Inoichi Yamanaka dalam hal pengintaian.
Tapi tetap saja, status akademis tidak bisa diganggu gugat. Chunnin tetaplah Chunnin.
Sasuke menatap Juugo dan Karin yang kini berjalan ke arahanya. Juugo sedikit kesusahan untuk berjalan dengan dibantu Karin. Suigetsu bangkit dengan pedang besar itu yang sudah tersemat dipunggunya seperti sebelumnya.
''Sekarang bagaimana Sasuke-kun?'' tanya Karin saat jarak berdiri mereka dekat. ''Apa akan kita lanjutkan?''
''Hn. Akan kita lanjutkan, tapi, setelah Juugo kembali pulih.'' jawab Sasuke singkat sambil melirik Juugo.
Suigetsu mendengus. ''Jadi bagaimana? Kita tidak punya banyak waktu. Rute yang kita lewati ini akan mengantar kita—bahkan yang lainpun—pada serangan selanjutnya yang bahkan belum kita ketahui,'' ucap Suigetsu sambil mengambil botol minumannya.
Sasuke terdiam. Dia tatap anggota timnya satu-satu. Lalu berbalik badan. ''Kita ambil rute baru. Mungkin kita akan bertemu dengan Dobe. Kebetulan kekasihnya adalah Kinoichi medis, kita bisa meminta pertolongannya untuk mengobati luka melepuh Juugo.'' jawab Sasuke sambil melompat tanpa menghiraiukan Suigetsu yang berteriak kesetanan untuk minta istirahat—padahal dia tadi yang memilih untuk melanjutkan perjalanan.
Juugo hanya menghela nafas singkat. ''Walau bagaimanapun. Dia tetaplah kapten, dia memimpin,'' ucap Juugo. ''Cepatlah!'' ucap Juugo sambil mencoba berdiri sendiri.
''Apa bisa?'' tanya Karin saat membiarkan Juugo berdiri sendiri. Dia menghela nafas saat Juugo bisa berdiri tegak dan berjalan lebih dahulu dari mereka. Dia tersenyum. ''Terimakasih.''
Suigetsu berjalan menyusul Juugo. Langkahnya terhenti seketika seolah baru mengingat sesuatu, dia menengok kebelakang. Benar saja.
''Kapan kau akan berjalan? Mau kami tinggal?'' tanya Suigetsu dengan sinis pada Karin yang terdiam, dapat dia lihat mata gadis itu sedikit mengerjap. ''Dasar Kacamata.''
''SUIGETSUUU!''
~oOo~
Trapp...
''Neji, kau melihat asap itu?'' tanya Shikmaru sambil menunjuk asap yang membumbung tinggi—setelah dia berpijak pada salah satu dahan pohon.
Neji yang diberi pertanyaan hanya menatap arah tunjuk Shikamaru. ''Kenapa?''
Shikamaru menguap. ''Setahu ku, tidak boleh ada warga sipil yang keluar dari desa saat ujian berlangsung.'' jawab Shikamaru.
Chouji hanya terdiam, tidak dia indahkan lagi keripik kentangnya. Matanya menatap asap tebal itu dengan seksama. ''Asap itu tebal sekali,'' gumam Chouji.
Shikamaru melirik Neji. ''Bisakah kau gunakan Byakugan untuk memastikan?'' tanya Shikamaru pada Neji yang berdiri disamping kanannya.
Neji terdiam sesaat, lalu menggeleng. ''Aku bukan dari Souke, jarak pandang penglihatan Byakugan milikku hanya mencapai 295 meter.'' Jawab Neji datar. Matanya menatap asap itu dengan pandangan yang sulit di artikan.
''Mungkinkah itu hasil dari sebuah pertarungan?'' tanya Chouji yang entah pada siapa. Dia berkeringat dingin.
''Mungkin juga iya,'' gumam Shikamaru. 'Dan jika memang hasil pertarungan, pasti tidak salah lagi. Itu ulah pengguna element Katon, tapi siapa?' batin Shikamaru sambil menatap asap itu. 'Dan jika ada pertarungan, maka, tugas ujian ini akan semakin sulit. Kita tidak tau siapa dan apa yang akan kita hadapi kedepannya, dalam masalah ini. Yang kita lakukan hanyalah bertahan sampai pada kepastian yang akan menjawab, siapa dan apa lawan kita,' lanjutnya sambil mendongak menatap awan putih polos yang beraka-arakan dilangit kala pagi itu. ''Membosankan.''
Chouji hanya tersenyum saat mendengar gumaman Shikamaru—sahabat terbaiknya.
~oOo~
''Ke arah Timur, Sai.'' perintah Sakura pada Sai yang juga turut melompat di belakangnya. Mata hijaunya menatap denah peta yang di berikan oleh Mantan gurunya saat mereka akan melangkah keluar gerbang.
Sai hanya mengangguk. Rambut hitamnya berkibar seiring dia mengikuti tapak Sakura yang meloncat dari satu dahan, Kedahan yang lain. Mata hitam yang senada dengan warna rambutnya itu menatap Sakura lekat-lekat. Lalu dia mendongak, alisnya bertaut saat matanya menatap asap tebal dilangit sana.
Trap...
Sakura mengangkat sebelah alisnya saat Sai tak lagi melompat. Maka dia juga memilih untuk bertahan.
Trappp...
''Sai, Daijobu?''
''Koko ka ...,'' gumam Sai tanpa menjawab pertanyaan Sakura. Dia mendongak menatap asap itu.
Sakura yang heran dengan sikap Sai, mencoba mengikuti arah pandang Sai. Dan matanya membelalak. ''Asap?'' gumam Sakura. ''Aku tidak tau kalau ujian kali ini juga ada pertarungannya,''
Sai hanya mengangguk. ''Dan juga, kita tidak menyiapkan perlengkapan yang cukup untuk bertarung dalam kurun waktu yang lama.'' gumam Sai. Dia masih mendongak menatap asap yang tebal itu. ''Siapapun Shinobinya, aku rasa dia pengguna element api terbaik.''
Sakura tersentak seketika, dia menggelengkan kepalanya. 'Sasuke-kun, apa itu kau?' batin Sakura sambil mendongak, tatapan matanya memancarkan kekhawatiran yang tinggi. ''Apa mungkin itu kelompok Sasuke-kun?'' tanya Sakura yang entah pada siapa.
Sai hanya terdiam, lalu menoleh menatap Sakura. ''Mungkin juga iya. Karena hanya api hitam milik Uchiha-lah yang mampu membakar dan menimbulkan asap yang sebegitu tebal.'' jawab Sai yang merasa diberi pertanyaan oleh Sakura yang tengah menatap asap itu dengan cemas.
Sakura menggeleng. ''Jika itu memang benar, apa mereka selamat?'' gumam Sakura.
''Ada kemungkinan mereka selamat, mereka adalah tim yang solid, apa bila yang menyerang hanya Joonin leve S. Maka dapat dipastikan mereka akan dengan mudah membersihkannya.'' jawab Sai. ''Bersiaplah untuk bertarung!'' gumam Sai.
Sakura mengepalkan kedua tangannya, cahaya hijau berpendar kini bersinar seolah-olah menggantikan kegunaan sarung tangan hitam miliknya. ''Siapapun musuh kita, kita harus siap dalam keadaan terburuk.'' gumam Sakura.
Sai hanya tersenyum sekilas, sesaat setelah dia melihat Sakura melanjutkan perjalanannya—melompat dari dahan ke dahan yang lain. Dia pun turut menyusul Sakura, bersama gadis Haruno macam Sakura memang kadang menyulitkan. Tapi dia sadar, wanita itu tetaplah seperti wanita yang lain, kadang butuh tempat untuk mengadu.
~oOo~
''Siapa kau?'' tanya Naruro pada sosok Shinobi asal Iwagakure. Ino yang berdiri dibelakang Naruto hanya merapatkan pegangannya pada Rompi Joonin yang Naruto kenakan.
Shinobi asal Iwagakure itu menyeringai. ''Aku disini untuk menghalangi niat kalian,'' ucapnya. Lalu pandangannya beralih menatap Ino yang memegang erat pergelangan tangan Naruto. ''Kau manis sekali, mau bermain?'' Godanya pada Ino.
Ino bergidik mendengarnya, tidak! Ini bukan dirinya! Dia biasanya akan memaki musuhnya. Lalu menyerang mereka dengan jurus andalannya, tapi kali ini entah mengapa terasa berbeda. Dia balas pandangan sosok Shinobi tersebut, pandangan yang menjijikkan.
Alis Naruto berkedut mendengar Shinobi itu menggoda Ino yang tengah memeluk erat pergelangan tangan besarnya. ''Berani sekali kau,'' ucap Naruto enteng dengan pandangan meremehkan.
Gigi Shinobi itu bergemeltuk. Pandangannya membalas sinis pada Naruto yang menatapnya lekat-lekat.
''Rasengan!''
Mata Shinobi asal Kumogakure itu segera terbelalak saat mendengar seruan musuh. Dia mendongak, dia terkejut saat dua kembaran bocah yang dia ejek tadi tengah melayangkan sebuah serangan Ninjutsu berupa pemusatan Chakra berwarna hijau.
Dhuaarrr...
Gemuruh bunyi Rasengan milik kembaran Naruto itu bergema di kesunyiannya hutan HI ini. Setiap pohon langsung tumbang seketika saat Ninjutsu angin level S itu menghantam sesuatu yang keras.
Naruto masih menatap lokasi tempat terjadinya eksekusi Rasengan dengan pandangan menyelidik. Mata birunya tak hanya menatap satu arah, tapi juga memastikan keadaan sekitar yang mungkin menjadi tempat persembunyian bagi musuhnya.
Ino menegang saat melihat serangan barusan. Serangan itu begitu cepat.
Ketika asap dan debu yang berhamburan di udara mulai menipis, maka sesosok bayangan nampak disana. Berdiri gagah seolah-olah tidak pernah terjadi seuatu padanya.
Dan disana, sosok Shinobi Iwagakure itu berdiri dengan kedua tangan yang mencengkram kerah leher baju kedua kembaran Naruto. Dia menyeringai. ''Serangan mu terlalu lambat bocah,'' ledeknya kemudian dengan gerakan yang tiba-tiba, dia mematahkan leher kedua kembaran Naruto, membuat kedua Bunshin itu berubah menjadi asap seketika.
Ino berkeringat dingin melihatnya, walau pada nyatanya dia adalah seorang Kunoichi, tetapi, tetap saja dia tidak sanggup apabila melihat hal yang barusan. Dan untung saja yang dibunuh sesaat yang lalu hanya Kagebunshin. Lalu Blue sky nya dia arahkan pada Naruto yang masih tak bergeming. ''Bagaimana ini, Naruto?'' tanya Ino.
Naruto terdiam. Mata birunya memperhatikan sosok Shinobi Iwagakure itu dengan seksama. Maka dia dapat menyimpulkan pendapatnya. ''Dia hanya Kagebunshin level SSS, Ino-chan,'' ucap Naruto sambil membelai kepala Ino dengan tangan kanan. ''Jangan takut.'' ucapnya sambil tersenyum menenangkan pada Ino.
Naruto kembali menatap Shinobi tersebut. Kali ini dengan pandangan tenang. ''Kau, bersiaplah.'' ucap Naruto pada Shinobi Iwagakure yang kini mengangkat sebelah alisnya. Dengan perlahan, dia lepaskan cengkraman tangan Ino pada pergelangan tangannya.
Ino hanya mampu terdiam sesaat, sebelum melangkah mundur dari arena pertarungan mereka—Naruto dan Shinobi Iwagakure.
Shinobi yang ternyata adalah Kagebunshin itu hanya menyeringai. ''Baiklah, akan aku ladeni. Bersiaplah bocah.'' ucap Shinobi tersebut sambil merapal segel dengan cepat.
''Jurus tanah: jurus pengapit dua arah!'' serunya sambil menapakan kedua tangannya di permukaan tanah.
Tap...
Entah datang darimana, hanya saja dua belah batu besar kini bergeser dengan cepat, dengan Naruto yang menjadi titik tengah kedua batu besar tersebut. Yang artinya tubuh Naruto akan lumat begitu saja kalau batu itu berhasil mengapit tubuhnya.
Whuusss...
Blarrr...
Mata Ino dan Shinobi itu terbelalak saat melihat sesuatu semacam kilat kuning menghindari serangan dua batu besar tersebut sedetik sebelum batu itu berhasil menghancurkan tubuh yang menjadi titik tengahnya.
''Ti-tidak mungkin!'' gumam Sosok Shinobi tersebut sambil menggelengkan kepalanya. ''Itu barusan, Shunsin no jutsu?'' gumamnya.
Ino menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan kurusnya. Matanya membelalak saat serangan itu dapa dihindari oleh Naruto. ''Bagaimana mungkin?'' gumam Ino yang masih setengah tidak percaya.
Sing...
Kunai yang terbuat dari baja hitam itu berkilat saat melayang cepat kearah Shinobi Iwagakure tersebut. Tapi sayangnya, pergerakan Kunai tersebut masih terlambat untuk menggores tubuh penuh otot itu. Shinobi Iwagakure itu dengan cepat mengambil Kunainya dan menepis Kunai yang melayang cepat kearahnya.
''Keluar kau, Bocah!'' serunya sambil memasang kuda-kuda, matanya memperhatikan daerah sekitar terkecuali gadis berambut kuning itu. ''Kemana perginya?'' gumamnya. Seketika matanya membelalak, dengan cepat dia mendongak.
Disana, Naruto tengah berpijak diatas ranting sambil menunduk menatap mereka yang berada dibawah. Tangannya merapal segel dengan cepat. ''Element angin: teknik dorongan angin!'' ucap Naruto sambil menunjukan telapak tangannya pada Shinobi Iwagakure dibawahnya.
Whuuss...
''Gawat jurus itu,'' gumam Shinobi Iwagakure, setelahnya dia dengan cepat merapal segel. ''Jurus tanah: perisai tanah!''
Sebelum tekanan angin yang luarbiasa tajam dari Naruto sampai, Shinobi itu dengan sukses menciptakan dinding tanah yang kokoh untuk menghalau lajur serangan jurus mematikan tersebut.
Dhuarrrr...
krakk-kraakkkk...
Rushh...
'Serangan barusan sepertinya sengaja dia buat lambat, tapi ada apa?' batin Shinobi Iwagakure sambil bersembunyi didalam pagar tanah yang dia buat.
Naruto terdiam diatas sana, setelah kabut menghilang. Dia dengan segera mengeluarkan beberapa kunai Jikukan. Dengan cepat dia melemparnya dengan teknik berbenturan*.
Mata Shinobi Iwagakure itu membelalak saat melihat Kunai dengan tiga bagian tajam melayang kearahnya dengan kecepatan tinggi.
Trangg...
''Hyuhh... Hampir saja.'' gumamnya.
Naruto menyeringai diatas sana, setelah memperhatikan daerah sekitar dia dengan cepat melompat.
Whuss...
Traappp...
Sesaat setelah Naruto berpijak ditanah dia melakukan beberapa segel. ''Elemen Angin: teknik tusukan jarum angin!'' seru Naruto sambil meniupkan sesuatu kearah tembok kokoh sang Shinobi Iwagakure.
Buskk...
Krakkk...
Blaaarrr...
Hancur, pagar kokoh dari elemen tanah itu hancur berkeping-keping saat sesuatu yang tak terlihat menghantam permukaannya, membuat sosok Shinobi Iwagakure itu kelabakan.
''Ba-bagaimana mungkin?'' gumamnya.
Naruto menyeringai. ''Jurus tusukan jarum angin barusan adalah Jutsu terbaik dari sekian jurus penghancur yang cocok untuk merubuhkan dinding kokoh seperti tadi hanya dalam waktu beberapa detik,'' ungkap Naruto sambil menatap Shinobi yang kini berdiri dihadapannya. ''Dan jurus itu cukup untuk menghemat chakra.'' lanjutnya sambil menyeringai.
Shinobi Iwagakure itu tersenyum angkuh. ''Begitu, ya?'' dia kemudian merapal segel, tapi terhenti saat sesuatu mengenai pahanya. ''Arrghhh...,''
Sesaat setelah Kunai itu menghujam paha lawannya, Naruto hanya berdiri diam dibelakang Shinobi tersebut. Kemudian merapal segel. ''Elemen angin: teknik dorongan angin!'' ucap Naruto dengan nada datar. Kemudian dia arahkan telapak tangan itu pada bahu Shinobi Iwagakure.
Brushhh...
Bahu Shinobi itu hancur seketika sampai pada bagian perut, menampakan sebagian ususnya yang bercecer ditanah. Sosok Shinobi itu roboh seketika, kemudian meledak.
Bofff...
Ino tidak kuat untuk melihat hal yang barusan terjadi pada Kagebunshin yang menjadi lawan Naruto, perutnya terasa mual. Kemudian dia mendongak saat melihat Naruto berdiri dihadapannya. ''Naru?'' alisnya terangkat saat tak mendengar jawaban dari Naruto, dia bangkit dari duduknya sesaat setelah menepuk bagian yang kotor.
Pluk...
''Na-Naru?'' Ino benar-benar kaget saat tiba-tiba Naruto menyandarkan kepalanya dibahu mungil milik Ino—sesaat setelah Ino bangkit dari duduknya.
''Aku lelah sekali, chakra memang tidak terkuras banyak. Tapi fisik akan berlawanan dengan efeknya.'' gumam Naruto yang masih menyandarkan kepalanya pada bahu mungil Ino, dia menunduk karena memang tinggi Ino hanya mencapai bahunya. Kedua tangannya dia biarkan terkulai lemas disamping kiri dan kanan.
Ino tersenyum lembut, kemudian dia usap belakang kepala Naruto beserta tangan kiri yang mengusap tubuh belakang kekasihnya dengan sayang. Dia usap dengan sayang karena dia tau, Naruto kelelahan sekarang. ''Kau pasti lelah, ya?'' dapat dia rasa kepala Naruto yang berada dibahu mungilnya mengangguk. Dia mendongak menatap langit. Masih siang.
''Sebaiknya kita mencari tempat yang cocok untuk beristirahat.'' bisiknya tepat disamping telinga Naruto, kemduian dia peluk lelaki yang selama ini mengisi hari-harinya dengan sayang.
Naruto menghela nafas dengan masih posisi yang sama, dia mengangguk lagi. Kemudian dia peluk gadis mungil itu dalam dekapannya. ''Yah, kau benar. Ohya, Dada mu semakin besar saja, Ino-chan.'' ucap Naruto sambil terkekeh mesum, dia kecup cuping telinga Ino dengan lamban.
Pipi Ino kontan memerah mendengarnya. Dia mendesah seketika saat sesuatu tak bertulang tengah mengecup cuping telinganya. Si baka ini tidak bisa melihat situasi, ya? Batin Ino. Dia cubit pinggang Naruto dengan pipi yang masih merona padam. ''Dengar, ya! Sudah aku bilang, aku tidak suka kau jadi orang mesum!'' Geram Ino sambil melepas dirinya dari pelukan Naruto. Dia lipat kedua tangan didepan dada, lalu pipinya dia kembungkan—kebiasaannya kalau marah, selain mencubit dan lainnya.
Naruto meringis. ''Sa-sakit, auuhh... Tapi itu kenyataan, kan?'' Entah bodoh atau polos, Naruto dengan santainya meminta kepastian sambil menunjuk dada Ino yang memang 'Woww'.
Pipi Ino merona lagi, sepertinya dia akan menarik segala pujiannya pada kekasihnya yang baru saja membunuh bunshin dengan gerakan cepat. ''Tapi tidak secara blak-blakan begitu, Baka no Hentai!'' seru Ino sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya, mencoba melampiaskan marahnya pada tanah malang yang menjadi pijakan setiap manusia. ''Lagi pula, siapa yang meracuni otak mu, hah? Apa guru Hentai mu itu?'' cerca Ino sambil menunjuk hidung Naruto.
Naruto keder seketika melihatnya, ayolah, jangan kau pikir kalau Ino marah tidak sama dengan Sakura. Mereka SAMA SAJA! Matilah kau Naruto. Naruto kelabakan seketika, berusaha mencari alasan yang ada. ''Tidak, kok. Ini baru pertama kalinya, kan, aku blak-blakan seperti tadi,'' ucap Naruto dengan tampang polos. ''Lagipula, kurasa disini cukup sepi.'' ucap Naruto sambil nyengir mesum.
Ino bergidik dibuatnya. Ayolah, tidak enakan kalau di gosipkan dengan judul 'diperkosa pacar', bisa-bisa turun pamornya sebagai wanita tercantik di Konoha. Urat-urat kemarahan seketika berkedut didahinya. ''NARUTOOO!'' seru Ino sambil melayangkan tinju andalannya.
''Huwaaa!''
~oOo~
Krooakk
krooaaakkk
Sesaat Sasuke terdiam melihat burung-burung Gagak yang tiba-tiba berterbangan tak tentu arah, padahal saat mereka melewati burung-burung itu, burung-burung itu seolah menganggap mereka tidak ada.
''Dobe,'' Entah perasaan saja atau memang nasib sial sedang menimpa temannya? Terserahlah, itu pasti akibat kebodohannya.
Karin hanya terdiam sambil sesekali melirik khawatir pada Juugo yang berjalan di samping kirinya. Matanya lalu memperhatikan cara berjalan Juugo, seperti biasanya. ''Kau yakin, masih sanggup berjalan?'' tanya Karin sambil menoleh kearah Juugo.
Juugo masih tetap diam seperti biasanya, dengan wajah tanpa Ekspresi seperti biasanya dia menoleh menatap Karin. Mata mereka beradu pandang sesaat, lalu dia menggelengkan kepalanya. Lalu kembali pandangannya menatap kedepan.
Karin hanya menunduk, mungkin Juugo marah padanya. Tapi nyatanya, dia tidak menyadari kalau sudut bibir itu terangkat.
Suigetsu mendongak. ''Sebenarnya, masih berapa lama perjalanan kita?'' tanya Suigetsu.
Karin menatap Suigetsu yang kini berjalan dibagian Kanannya. Lalu dia mengambil sebuah peta dari dalam tasnya. ''Menurut yang ada dipeta, untuk sampai pada tujuan masih membutuhkan waktu dua-jam atau lebih,'' jawab Karin sambil merentangkan peta itu lebar-lebar di depan wajahnya. Setengah dari tubuhnya tidak terlihat dari depan karena lebar dan besarnya kertas yang menggambarkan letak daerah-daerah dan rute perjalanan mereka.
~oOo~
''Bagaimana Shino?'' tanya Kiba pada Shino yang tengah berlutut sambil memperhatikan sebuah abu hasil pembakaran sebuah pohon.
Mata dibalik kacamata hitam itu memperhatikan dengan seksama. ''Abu hasil dari pembakaran pohon ini bukan dari hasil pembakaran api yang biasa,'' jawab Shino sambil mengambil segenggam abu tersebut. Kemudian dia mengangkat tangannya sejajar dengan wajahnya. Ketika dia membuka telapak tangannya yang menggenggam abu itu, seketika abu itu langsung berhamburan diudara karena terpaan angin.
Hinata memperhatikan sekitar dengan Byakugannya, lalu pandangannya mendapati bahwa sekilas pohon yang berada tak jauh dari mereka baru saja berubah menjadi abu. ''Sesaat sebelum api disana padam...,'' Hinata menunjuk sebuah pohon yang baru saja menjadi debu. ''A-aku melihat adalah api hitam yang membakarnya, mu-mungkinkah yang membakar semua ini adalah api hitam yang barusan?'' tanya Hinata pada Kiba dan Shino yang tengah mengecek daerah sekitar.
Fokus Shino terganggu, dia menoleh menatap arah dimana Hinata menunjuk. ''Kiba, bisakah kau ambilkan segenggam untuk ku?'' Pinta Shino.
Kiba mengangguk. Dia bangkit dari posisi duduknya yang berada diatas Akamaru, melangkah mendekati abu hasil pembakaran tersebut. Setelah sampai, dia dapat dengan jelas melihat abu itu, memang bukan seperti abu hasil pembakaran api yang biasanya. Dia ambil lalu kembali berjalan kearah Shino.
''Ini, abu-nya masih hangat. Benar kata Hinata, sesaat yang lalu sepertinya aku melihat sepercik api hitam yang mungkin membakar kayu ini sampai menjadi abu dengan cepat.'' ucap Kiba sambil menyerahkannya pada Shino.
Serangga yang selalu bersama Shino berkeluaran dari kerah jaket lengan panjangnya. ''Omae areta naneka(bagamana, apakah benar?)'' tanya Shino dengan bahasa serangga pada Kekaichunya.
Seranga-serangga itu bergumul kembali pada abu tersebut, sesaat serangga-serangga itu terlihat seperti terdiam lalu seketika berhamburan di udara. Dan setelah semua serangganya kembali memasuki Jaketnya dia mengangguk seolah ada yang berbicara padanya.
''Jadi?''
''Benar, yang membakar area ini adalah api hitam dari jurus andalan klan Uchiha,'' jawab Shino sambil berdiri ditengah Hinata dan Kiba, lalu dia menoleh menatap Hinata. ''Sepertinya mereka sempat bertarung dengan seseorang, karena Kiba bilang, dia menemukan banyak jejak kaki dan bau manusia disini yang seharusnya belum pernah dimasuki manusia.'' ucapnya.
Hinata mengangguk, raut kekhawatiran diwajahnya tidak dapat disembunyikan lagi. ''Apa dia baik-baik, saja?'' gumam Hinata.
Kiba menghela nafas. ''Bukan untuk membuatmu tambah khawatir. Tapi barusan, Akamaru mencium bau darah Sasuke di dekat kobaran api biasa itu.'' ucap Kiba.
Hinata terbelalak. ''Da-darah Sa-Sasuke-kun?'' tanya Hinata.
Kiba mengangguk. Sebenarnya dia tidak ingin menambah daftar prasangka Hinata, tapi dia tidak tega untuk menyembunyikan segala-sesuatunya dari gadis polos keturunan Hyuuga itu. Maka yang dapat dia berikan hanyalah senyuman yang menenangkan. ''Kau tenang saja, dia Uchiha, pemilik Doujutsu terbaik dengan ditambah kejeniusannya—seperti Uchiha kebanyakannya. Kurasa dia tidak akan meninggal semudah itu.'' ucapnya sambil mengelus puncak kepala Hinata. Dapat dia lihat gadis itu mengaguk patuh, dan dia tersenyum.
''Kiba benar, lagi pula, dia tidak mungkin terbunuh semudah itu. Dia jugakan yang berhasil membunuh Orochimaru? Kau tenang saja!'' ucap Shino sambil berbalik badan membelakangi mereka berdua—Kiba dan Hinata. ''Ayo, kita lanjutkan perjalanan ini.''
Kiba dan Hinata mengangguk patuh, Shino bagi mereka adalah pemimpin Tim yang hebat walau pada nyatanya dia salah satu dari sekian banyak Shinobi yang kadang anti sosial. Mereka berdua berpandangan sejenak, lalu mengangguk.
''Yoshh... Ayo lanjutkan perjalanan!'' seru Kiba sambil meninju udara dengan kedua tangannya, disebelah kiri Kiba Akamaru turut menggonggong semangat seolah-olah turut bersemangat bersama tuan majikan.
Hinata tersenyum, dari belakang dia dapat dengan jelas melihat punggung Kiba, dan Shino yang tengah memasukan kedua tangannya kedalam saku jaketnya. Hinata mendongak menatap langit, dan dia tersenyum lembut. 'Semoga apa yang Kiba-kun dan Shino-kun katakan itu benar, semoga kau baik-baik saja, Sasuke-kun,' batin Hinata sambil berjalan kembali, dia lihat Akamaru yang berbalik berlari kearahnya. Dia berjongkok. ''Ada apa Akamaru?''
''Guukk... Guukk!'' Gonggong Akamaru sambil mengeluskan bahunya pada kaki Hinata.
Hinata bukannya tidak tau maksud dari anjing pintar milik Inuzuka ini, tapi dia masih ragu, apakah dia mau menunggangi Anjing ini atau tidak. Tapi sesaat setelah bergelut dengan pemikirannya, terlebih saat melihat mata Akamaru yang menuntut itu, dia jadi luluh sendiri.
''Baiklah, aku akan menunggangi mu.'' ucap Hinata sambil mengelus kepala Akamaru. Kemudian dia duduk menyamping diatas bahu Akamaru yang kini sudah menyalak riang. Sekejap saja Akamaru sudah berhasil membawanya menyusul Kiba dan Shino yang tengah berjalan santai.
Kiba mendelik kearah Akamaru yang dengan riangnya membawa Hinata berjalan bersama mereka.
Shino hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. Lalu tersenyum dibalik kerah Jaketnya. 'Kurenai sensei, lihat, kami bisa bersatu dan bersama, bukan?' batin Shino sambil mendongak.
~oOo~
Ino kini tengah berjalan santai disebelah kiri Naruto yang masih memegangi pipi kirinya. Salah sendiri! Batin Ino sambil melirik Naruto yang tengah mengerucutkan bibir bawahnya sambil mengusap pipi kiri.
''Ohya, Naruto. Kalau tadi aku tidak salah lihat...,'' ucapan Ino menggangtung, kemudian dia menoleh kearah Naruto yang juga menatapnya dengan pandangan bertanya. ''Kau menghindar dengan cepat sampai yang terlihat hanya kilat kuning saja, apa itu tadi jurus mu?'' tanya Ino.
Naruto mengelus dagunya, kemudian mengedikan bahunya. ''Iya, tapi sebenarnya juga tidak.'' jawab Naruto.
Dahi Ino berkedut. ''Jawab yang benar!'' Tuntut Ino sambil menatap Naruto.
Naruto merinding seketika saat melihatnya. ''Bagaimana, ya? Uhm... Sebenarnya itu adalah jurus level SSS yang paling menguntungkan dari sekian banyak jurus dengan level sama didunia ini...,'' jawab Naruto. Ekspresinya berubah serius yang pada akhirnya gantian Ino yang bergidik dibuatnya. ''Aku hanya membutuhkan sedikit gaya dorong dari Elemen angin dan aku padukan dengan teknik segel pemindah dengan seolah-olah membuat jalur 'lubang cacing' dengan menggunakan Kunai khusus yang berbentuk seperti ini.'' jawab Naruto sambil menunjukan Kunai yang kini tak asing lagi bagi Ino.
Ino memandang Kunai itu dengan seksama. ''Jadi kesimpulannya, dimanapun Kunai ini berada, kau pasti akan berpindah tempat dimana Kunai ini akan tertancap?'' tanya Ino sambil mengambil Kunai yang ditunjukan Naruto.
Naruto tersenyum, lalu mengacak-ngacak rambut kuning pucat milik Ino. ''Tepat sekali, tapi untuk penggunaannya, membutuhkan ketelitian yang amat sangat...,'' ucap Naruto.
''Eh? Kenapa?'' tanya Ino sambil menatap Naruto dengan pandangan ingin tau.
''Itu karena jurus ini memasuki ruang dimensi, memotong arah jalur jam dengan kecepatan yang luar biasa, kecepatan gaya dorong itu akan berakhir dengan memasuki sebuah dimensi tertentu yang akan mengantar kita pada tujuan dengan sangat cepat. Oleh karena itu pula aku menamai kertas kuning ini sebagai segel Shunsin no jutsu, karena jurus ini adalah jurus pertama murni buatan ku.'' jawab Naruto panjang lebar sambil menatap kedepan tanpa mengindahkan tatapan Ino padanya.
Ino hanya ternganga mendengar penjelasan panjang lebar Naruto, matanya mengerjap sesaat. ''Jadi, jurus ini juga memiliki resikonya?'' tanya Ino sambil menatap Kunai Jikukan.
''Sedikit, sekitar dua-puluh persennya adalah resiko terlempar ke Dimensi lain, sementara sisanya adalah keuntungan yang kita dapat dari jurus ini,'' jawab Naruto. Lalu menatap Ino dengan senyum menenangkan. ''Tenanglah, aku akan berhati-hati menggunakan jurus ini.'' jawab Naruto sambil merangkul Ino dari samping seolah-olah mengerti tatapan gadisnya.
Ino hanya mampu tersenyum lembut sambil balas memeluk Naruto. ''Aku hanya takut kau pergi lagi.'' Ungkap Ino sambil menyandarkan kepalanya pada bahu bidang Naruto.
Naruto mengeceup ubun-ubun gadis itu singkat dengan meresapinya lebih dalam. ''Aku janji, tidak akan pergi lagi.'' ucap Naruto sesaat setelah mengecup ubun-ubun Ino.
Ino tersenyum saat mendengar ucapan Naruto mengenai dirinya yang tidak akan pergi lagi, jujur saja, dia tidak suka bila Naruto harus pergi jauh dan tak kembali, dia tidak suka! Memang enak jika hari-harimu apabila tidak diisi dengan senyuman dari orang yang menyayangimu? Tidak, bukan?
Ino memejamkan matanya, sesaat langkah mereka berhenti di sebuah mulut tebing yang menampilkan hutan hijau negara HI no kuni. Seluruh hamparan hutan itu yang terlihat hanya warna daunnya yang berwarna hijau, tanpa tau apa yang menanti di dalamnya. Tapi dia sadar, dia tidak sendiri, Ino tidak sendiri. Kini Naruto bersamanya, akan selalu ada untuknya dan dia berjanji akan tidak membuat Naruto kerepotan dalam misi ujian ini.
Semilir angin selatan menghibur mereka. Rambut pirang pucat miliknya, Ino biarkan berkibar, menari bersama sang angin yang nakal. Kemudian dia mendongak, menatap wajah Naruto. Wajah itu, wajah dengan tiga goresan halus itu adalah milik malaikatnya. Tidak boleh ada yang memiliki, tidak boleh, hanya dia yang boleh memiliki laki-laki yang tengah mendekapnya sekarang ini...
... Terdengar egois memang. Tetapi... Masa bodoh dengan itu semua, memang mereka mengerti dia? Tidak, bukan?
''Berjanjilah, untuk tidak membuatku menunggumu lagi, Naruto.'' ucap Ino sambil mengubur wajahnya seketika di dada Naruto, membuat laki-laki itu sedikit terkejut dengan reaksi Ino yang tiba-tiba—terlihat manja.
Naruto tersenyum lebar saat gadis itu tiba-tiba bersikap manja dengan mengubur wajahnya di dada Naruto, membuat laki-laki itu sempat terhuyung kebelakang. Kemudian dia peluk wanita itu erat, tepat dibawah pohon dan dimulut jurang mereka berpelukan dengan erat. Tak mengindahkan dinginnya semilir angin selatan yang menghantarkan rasa dingin dan sejuk disaat bersmaan, hamparan hutan hijau disana kini entah kenapa serasa sama dengan nyamannya hati mereka saat berbagi kehangatan lewat sebuah pelukan.
Ino tersenyum malu-malu dalam pelukan Naruto dengan pipi yang kini merona padam. Sedangkan Naruto hanya mencoba mempererat pelukannya pada tubuh mungil dalam pelukannya, berharap sosok ini tidak kedinginan akibat ulah semilir angin.
~oOo~
Dan aku berjanji, walau jantung ini harus menjadi pemacu dalam berusaha bertahan memiliki dan
menjagamu dan harus berakhir dengan tanpa berdetaknya jantung ini.
Izinkan aku untuk selalu ada dihatimu
Aku akan selalu ada untuk mu
bungaku.
~oOo~
.
.
...
To Be Continue
...
.
...
Huraiii... Akhirnya bisa updet juga Dattebayooo *kibarbendera(?)* setelah sekian hari, sekian minggu bertapa(?) dibawah atap rumah. Akhirnya bisa juga meneruskan cerita ini, walau kadang Kepala Yahiko pusing sendiri karena terlalu lama melek di hadapan Hp tercinta(maklum derita Author yang ngga punya Kompi, jadi bisanya lewat Handphone).
Untuk kedepannya Yahiko masih bingung nentuin tentang Pair, tapi udah ada beberapa yang nongol kan? Ya kan? Ya aja deh*maksa#Buagh* untuk segala kesalahan dan Typo(s) atau semacamnya, Yahiko benar-benar minta Maaf Minna-san. Hontou ni Gomenesai.
Terimakasih untuk yang bersedia mereview, dan juga untuk silent rider. Hope you'll like this fic.
~oOo~
sakara33
Sukie 'Suu' Foxie
el Cierto ga login
BlackMoonEdogawa
Pink Uchiha
Rey619
vaneela
eight heroes
Aiwha
~oOo~
Terimakasih sekali lagi untuk yang bersedia untuk Mereview.
