Disclaimer: All Character in Naruto belong to Masashi Kishimoto© 1999.
Story and Chara OC © Yahiko namikaze, 2011.
~oOo~
Title: Konoha Kiiroi Senko
Rated: T (semi M) ^^V
Genre: Adventure and Romance
pair: Naruto U. x Ino Y.
~oOo~
Backsound:
Sakura Biyori by Hoshimura Mai
and
Love you to death by Lee minho
~oOo~
Summary: dirinya amat sangat mirip dengan sosok 'dirinya' yang telah rela mengorbankan dirinya sendiri demi Desa dan orang yang dicintainya.
~oOo~
Warning: OOC, OC, AU, CANON, TYPO(s), GAJE, ANEH, JELEK, EYD berantakan, dsb.
.
.
.
.
~oOo~
Namanya adalah Shino Aburame, keturunan seorang Shinobi kelas S bernama Shibi Aburame yang merupakan ketua klan Aburame bersama Istrinya Hakume Aburame.
Shino Aburame adalah anak paling muda di antara dua saudaranya, Muta Aburame, Miku Aburame.
Pribadinya sangat tertutup, menurut Kiba, membuat dia mendapat predikat bahwa satu-satunya dialah anggota Rookie 12 yang paling irit dalam berbicara mengalahkan rekor Neji Hyuuga dan Sasuke Uchiha.
Semua tidak ada yang tau, kalau pribadinya yang mereka tau itu adalah salah besar, dia bahkan sangat iri dengan teman-temannya yang mampu berceloteh ria mengenai apapun yang mereka ingin perdebatkan. Sungguh, dia sangat iri dengan mereka, kenapa?
Ada beberapa kekurangan dan kelebihan bagi anggota klan Aburame, yang pertama adalah kenapa mereka jarang berbicara, itu adalah karena tuntutan serangga yang berdiam dalam diri mereka. Kalau mereka terlalu banyak bicara, serangga yang ada di dalam tubuh mereka akan berontak dan keluar secara brutal melalui mulut dan itu akan merobek mulut mereka. Dan itu akan sangat menganggu fisik.
Sebuah kesunyian sangat dibutuhkan bagi serangga-serangga Shino.
Namun, Kurenai dan Hinata menyadari itu, walau Shino jarang bicara, tapi dia sangat setia kawan dan sangat loyal terhadap perintah yang diberikan kepadanya.
Contohnya saja saat ini, dengan nafas menderu, dia berdiri kokoh dihadapan kedua rekannya yang kini tengah sekarat lebih parahnya lagi adalah Akamaru yang kini tergeletak tak berdaya.
Hinata menarik nafas panjang sebelum kembali memasang kuda-kuda bertarung, urat-urat disekitar mata dan leher kini nampak dengan jelas seiring dengan aktifenya Byakugan sebagai penanda kalau dia bukanlah Kunoichi yang bisa diremehkan. Matanya melirik Kiba, laki-laki dari Inuzuka klan itu dengan sempoyongan berusaha berdiri.
''Hei Shino! Jangan sok belaga seperti itu!'' Ucap Kiba seraya berdiri dengan susah payah, namun matanya menyorotkan pandangan teguh dan serius. Matanya kini berbulir kearah musuh mereka yang kini berdiri santai di depan mereka, nafasnya mulai teratur. ''Sialan!'' Umpat Kiba.
Shino sangat paham kalau laki-laki dari Inuzuka itu sangat tempramen dengan segala hal namun dia adalah kawan yang sangat setia, keadaan yang genting seperti ini membuatnya harus berpikir dengan cepat sebelum kelompok ini gagal melaju ketahap berikutnya, tentunya dengan mengalahkan Mizubunshin yang kini berdiri angkuh di depan mereka.
''Jangan sok Kiba, apa kau tidak sadar kalau keadaan kita sedang genting, huh?'' Itu tak lebih dari ucapan ketimbang sebuah pertanyaan.
Hinata yang mendengar debat mereka mulai berpikir untuk melerai, namun sungguh tidak ada waktu untuk itu karena musuh mereka bisa kapan saja menyerang dengan tiba-tiba. Disaat seperti ini kebiasaan mereka bisa-bisanya kumat, Hinata tak habis pikir dengan mereka berdua.
''To-tolonglah jangan berdebat dulu, selesaikan ini b-baru tunaikan debat ka-kalian,'' ucap Hinata, memang, dia adalah Kunoichi satu-satunya di kelompok ini, berarti dia juga harus bertanggung jawab dengan keadaan mereka dan memahami kebiasaan mereka.
Kiba dan Shino nampak terkejut dengan ucapan Hinata yang tak seperti biasanya, sejenak mereka berpandangan. Lalu disusul dengan seringai yang muncul dari kedua anak Adam itu.
Kiba melirik Shino yang kini berdiri dibagian depan. ''Hei Shino, bukankah kau juga jago dalam mengatur strategi?'' Tanya Kiba. ''Apa kau punya rencana untuk ini? Kalau ada sebaiknya cepat kau katakan!''
Shino hanya terdiam beberapa saat, mata dibalik kacamata hitam miliknya memperhatikan Ninja di depan mereka dengan seksama. 'Dia sudah beberapa kali mengeluarkan elemen mata air dan air beracun, kalau aku tidak salah, seharusnya jurus itu memiliki efek samping terhadap pengguna. Jadi kalau itu tidak berefek padanya, berarti dia adalah salah satu Bunshin dari Shinobi yang mendapat pelatihan mengenai medis,' batin Shino yang kini mulai menganalisa keadaan lawan. 'Namun ada juga Shinobi yang sepertinya, Hyuuga? Ya, Hyuuga punya salep untuk mengantisipasi efek Byakugan yang berlebihan, jadi mungkin, kalau tidak salep, dia pasti menggunakan pil seperti Chouji. Kalau dia menggunakan pil itu berarti kita hanya punya rentang waktu selama satu menit pengobatan setelah itu efek dari obat itu akan habis..., ah, itu dia!'
Kiba yang melihat ekspresi Shino tengah berpikir keras untuk merakit strategi jadi merasa bersalah, di sini bukan hanya Shino yang punya 'otak', tapi masih ada tiga orang yang juga punya 'otak' untuk merakit strategi. Namun sungguh, Kiba juga harus mengakui kalau setiap idenya tidaklah bagus untuk 'kehidupan' teman-temannya karena dia sedikit tidak paham mengenai poin-poin apa saja yang akan dia kumpulkan dan akhirnya memecahkan misteri itu.
Mereka bukanlah Shikamaru atau Kakashi-sensei yang punya sejuta cara jitu untuk merakit strategi dengan cepat, namun dalam keadaan genting seperti ini, apapun akan terjadi.
''Kiba.''
Ucapan Shino sukses mengalihkan perhatiannya dari debatnya dengan pemikiran yang silih berganti dalam otak, dia sedikit menoleh kearah Shino yang kini berdiri di bagian depan, yang terlihat hanya punggung yang terlapisi jaket abu-abu.
''Ingat strategi yang pernah diajarkan Kurenai-sensei?''
Mata coklatnya terbelalak seketika kala mendengar pertanyaan dari Shino, dia dengan segera menoleh kearah Hinata berdiri, dan Hinata juga sama sepertinya, tengah terbelalak ditengah fokusnya kuda-kuda bertarung ala Hyuuga Souke.
''Hei, kalian terlalu lama. Apa sudah selesai dengan debatnya?''
Kali ini bukan hanya Kiba yang tersulut, namun juga Shino, tapi dia sangat sadar, ego sangatlah tidak penting untuk keberhasilan timnya saat ini. Dia sedikit menyeringai kembali, namun kali ini terlihat lebih mengerikan daripada biasanya.
''Kalian siap Kiba? Hinata?''
Kiba mengangguk patuh begitupun dengan Hinata. Masing-masing dari mereka mengeluarkan kunai dari dalam tas ransel yang diikat kuat pada paha.
''Kapanpun kau siap.''
Shinobi asal Kirigakure itu seketika kembali memasang kuda-kuda bertarung yang sama seperti saat dia pertama berhadapan dengan sekelompok Chunin ini. ''Sialan, bocah berjaket itu ternyata berbakat masuk Shinobi Divisi Strategi, sialan!'' gumamnya.
Shino sedikit melirik kedua rekannya sebelum kembali fokus. Dengan sekali tarikan nafas... ''Sekarang!''
Kiba yang berdiri dibagian kanan Shino segera berlari cepat kearah enam puluh derajat dari target yang seharusnya menjadi titik serang, ditengah berlarinya dia menyeringai kemenangan dengan menampakan kedua taringnya yang tajam. Dia sedikit berlari Vertikal dengan melewati beberapa pohon sebelum meloncat jauh, tepat kearah Bunshin yang kini terbelalak melihat gerakanmya.
''Tsuggaaa!'' Teriakan itu membahana dari Kiba lalu disusul dengan gerakan berputar di udara bagaikan roket.
Mata Shino langsung memicing ketika melihat Bunshin itu merubah arah pijakan kakinya menjadi...,
''Hinata sekarang!''
''Ha'i!''
Dengan itu, Heiress Hyuuga segera berlari menerjang musuh dengan berbekal kemampuan bertarung Houke yang dia dapat dari Ayahanda disetiap paginya dia berlatih bersama Neji, Hinata akui dia tidak sehebat Hanabi dalam menguasai Twin lion fist, merupakan jurus manipulasi dari Juho shousiken yang memiliki efek mematikan bila tersentuh, namun dengan tekad yang kuat, dia akan mencoba jurus yang baru dia kuasai lima hari yang lalu ini.
Hanabi menguasai jurus itu perlu waktu sebulan untuk mendapatkan hasil yang sempurna, dia masih sangat ingat dengan instruksi dari Ayahanda mengenai jurus itu, tapi disaat seperti ini, hanya jurus inilah yang tidak memakan banyak Chakra— setidaknya itu pendapat Hinata.
Maka dengan itu, Hinata dengan sigap berlari menerjang musuh. Matanya menatap kedepan tanpa berkedip sekalipun. Di setiap tapak lari kaki jenjangnya, dia sudah bertekad untuk menyelesaikan ini semua, dengan tangannya sendiri, dia akan membuktikan kalau bukan hanya Hanabi dan Neji yang bisa membuat Ayahanda tersenyum.
''Twin lion fist!'' Teriakan itu keluar sempurna dari bibir mungil Hinata saat di jarak satu meter dari Shinobi yang kini berdiri mematung dengan pandangan horor.
Tsukk...
Shino hanya terdiam melihat pemandangan itu, matanya membelalak horor dibalik kacamata yang dia kenakan, di depan sana, berdiri seorang Kunoichi yang selama ini mereka kenal pendiam dan lemah lembut. Namun sekarang, pantaskah Shino menepis semua persepsi itu? Pasalnya, tubuh sang Bunshin langsung terbelah dua ketika tersentuh jari-jari mungil Hinata di beberapa bagian yang mengakibatkan fatal bagi sang Bunshin sehingga harus lenyap dalam sebuah kepulan asap yang sangat tebal.
Grsskkk...
Kiba mendarat sempurna di atas tanah dengan tumpuan dua kaki ditambah kedua tangan untuk memperlambat kecepatan gesekan permukaan sepatunya pada tanah, namun matanya menatap Gadis bersurai Indigo itu yang hanya mematung dalam keadaan yang masih memasang pose ketika serangannya mengenai musuh secara telak.
'Dia sudah berkembang,' batin Kiba seraya tersenyum, sedikit dia usap darah yang mengalir melalui celah bibirnya yang tergores kunai. ''Itu dia kekuatan Souke, kau berhasil Hinata,'' gumam Kiba, lalu mencoba untuk berdiri namun sepertinya Chakranya tidak mau berkompromi, dan dengan itu, tubuhnya limbung sesaat lalu jatuh dengan santainya bagaikan tanpa perlawanan menghadapi tarikan gravitasi.
Bruk...
Pandangan Kiba untuk sesaat mengabur bersama buramnya pandangannya, langit biru di atas sana sudah seperti jalanan yang penuh kerikil saja dipandangan. Nafasnya sedikit memburu, turut pula detak jantung yang menggila dalam memompa darah keseluruh tubuh, sedikit dia teguk ludahnya sendiri sebelum matanya melihat refleksi dua orang yang bisa dia tebak kalau mereka adalah Shino dan Hinata, soalnya dia barusan mendengar pekikkan sang Heiress.
''Kiba-kun, kau tidak apa-apa?''
Gukkk... Gukkk...
Sialan, giliran dia yang tepar, Akamaru baru sadar. Yah, tidak bisa menampik kalau Anjing yang dia rawat sejak kecil itu juga turut berkorban dalam pertarungan. Buktinya, kalau tidak ada Akamaru, mungkin dia sudah tepar sejak tadi saat menerima serangan Kunai, dan sekali lagi, dia dan Hewan peliharaannya sedikit tertolong oleh salep ajaib yang Hinata bawa.
''Huhhh... Apa sudah selesai?''
Shino hanya mengangguk walau dia yakin kalau Kiba tidak melihat gerakan kepalanya yang naik turun untuk mewakili jawabannya. Sementara disebelah Shino, Hinata sedikit membungkuk untuk melihat mata Kiba, menurut yang pernah guru medis Hyuuga ajarkan padanya, ada kalanya dimana mata juga bisa menandakan kalau pasien tengah mengalami masalah yang cukup rumit selain memeriksa detak urat nadi.
''Kiba-kun a-akan baik-baik saja, dia hanya kehabisan Chakra, juga terlalu memaksakan diri dalam bertarung,'' ucap Hinata seraya menghela nafas singkat, sebelum kembali menegakkan tubuhnya. Lalu tersenyum lembut tanpa peduli kalau anak rambutnya berkibar tertiup angin yang dengan nakal mengenai wajahnya yang kotor akibat debu yang dia dapat saat bertarung.
''Yah, dia akan baik-baik saja,''
~oOo~
Ruang pusat pengontrol pengirim Bunshin
The Death Forest
barat daya Konohagakure
''Hotaru?'' Tanya seorang Shinobi pada Shinobi Kirigakure yang perlahan membuka matanya setelah sekian lama meditasi dan fokus pada Bunshin yang dia kirim untuk mengetes kelompok Shino.
Di dalam ruangan itu, hanyalah terdapat penyinaran lilin yang temaram, sangat minim walau tanpa melihat, para Jooninpun pasti tau pergerakan yang ada di dalam ruangan pusat pengontrolan pengirim Bunshin tersebut.
Seorang Shinobi Konoha berjalan santai menghampiri Hotaru dengan papan kecil dan pensil yang tergenggam ditangannya, dimulutnya tersemat sebuah lidi.
''Hotaru dari Kirigakure, bisa kau jelaskan kenapa Bunshinmu bisa kalah?''
''Ada seorang Shinobi dari klan Aburame yang pandai dalam membuat strategi penyerangan, dia mengetahui kalau aku menggunakan pil untuk menahan efek samping dari jurus-jurus elemen yang aku keluarkan. Lalu Inuzuka yang berduel tanpa pikir panjang, dia bersama Anjingnya melakukan serangan ganda yang sebenarnya mematikan tapi dia sedikit ceroboh namun pandai berkelit. Lalu,... Hyuuga, seorang Kunoichi dari Hyuuga yang mampu menguasai jurus mematikan yang dia sebut, twin lion fist.''
Penjelasan panjang lebar dari Shinobi tersebut dengan segera Genma salin dalam sebuah data statistic mengenai individu Shinobi dan Kunoichi secara menyeluruh, dia sedikit tersenyum saat tau siapa-siapa saja yang dimaksud. Setelah menyalin dan menulis beberapa data tambahan, dia menoleh kesana kemari, barang kali ada lagi Shinobi yang Bunshinnya berhasil dikalahkan.
Dan tugas seorang Shiranui Genma, adalah menyalin data bagaimana cara para Chunin itu mengalahkan Bunshin level S yang dikirim oleh pusat untuk menambah tekanan dalam misi mereka agar bisa maju kebabak selanjutnya dalam ujian naik ketahap Joonin ini. Dia sempat tidak percaya dengan data yang dia terima dari Akatsuchi, saat bagaimana Bunshin level S milik Shinobi Iwagakure itu dikalahkan oleh Naruto Dalam hitungan detik.
Namun mau bagimana lagi, guru si bocah rubah itu'kan Jiraya no Gama Sannin, jadi pastilah dia belajar banyak dari Sannin yang berteman akrab dengan Nona Tsunade itu. Tapi, sepertinya ada yang Shinobi itu sembunyikan, masa' hanya dengan serangan Rasengan level satu Bunshin level S langsung terkapar tak berdaya, seingatnya waktu Naruto melawan musuh di ujian kenaikan Chunin tempo hari, Rasengan level satu tidaklah mengakibatkan kematian secepat itu. Itupun kalau sampai meninggal.
Dan rasanya baru kemarin Jiraiya menjelaskan kekuatan Rasengan level satu pada Nona Tsunade dan seluruh Shinobi Joonin Konoha lainnya, kalau kecil kemungkinan musuh akan tewas dalam waktu dua menit atau bahkan hanya mengakibatkan kelumpuhan pada target, tapi kenyataan yang dia dapat dari Akatsuchi bahwa Bunshinnya dikalahkan dalam kurun waktu tak sampai satu menit.
Apa itu tidak mencurigakan?
''Yoo, Genma!''
Genma hanya memutar matanya bosan saat mendengar sapaan yang sangat terdengar tidak ikhlas dari Kakashi, ya ampun, kapan kebiasaan seniornya itu akan hilang? Padahal sudah diberi gelar Pahlawan, tapi tetap saja tidak berubah. Dan bacaan itupun masih anteng ditangannya.
''Apa ada yang tidak beres?'' Tanya Kakashi saat sudah berdiri santai disebelah Genma yang kini kembali berkutat pada papan mungil yang dia pegang. Kakashi memang bertanya, tapi matanya tetap tertumpu pada lembar buku yang bersampul orange.
Genma hanya melirik sekilas. ''Tidak juga,'' jawab Genma. 'Kau yang tidak beres Senior,' batin Genma setengah dongkol.
Alis Kakashi sedikit naik sebelah saat mendengar jawaban dari Kouhainya, 'Tidak juga?' Batin Kakashi, lalu dia hanya mengedikan kedua bahunya seolah tanpa peduli. ''Kalau ada apa-apa, kami ada diluar,'' ucap Kakashi seraya berbailk badan tanpa peduli tatapan membunuh yang dilayangkan Genma untuknya.
Ada satu lagi hal yang tak pernah Genma mengerti tentang Seniornya itu, walau tidak melihat jalan, sekalipun itu dalam keadaan temaran seperti saat ini, Kakashi masih luwes saja berjalan tanpa peduli takut tersandung atau menabrak tiang yang tidak dia lihat karena terlalu asyik dengan bacaan pornonya. Maka dengan itu, dia hanya mampu menggelengkan kepala.
Pertama hanya seberkas cahaya yang masuk melalui pintu, dan setelah melewati pintu masuk, cahaya terik menyambutnya. Diluar, Kakashi langsung berjumpa dengan sosok serba hijau yang mengakui dirinya sebagai rival abadi Hatake Kakashi, siapa lagi kalau bukan Guru Maito Guy?
''Yoo Kakashi!'' Seru Guy seraya mengangkat tangan kanannya, tanpa peduli tatapan para Shinobi padanya.
Kalau di dalam ruangan tadi keadaan tampak temaram karena hanya diterangi lilin. Disini terang benderang karena cahaya dari Matahari masih bersinar dengan teriknya, dan di Balkon inilah para Senior Joonin Konoha tengah berjaga seraya menatap pemandangan hijau Hutan yang diberi gelar The Death Forest atau hutan kematian.
Kakashi hanya melirik sekilas. ''Yoo, Guy, kau tetap seperti biasanya, ya,'' ucap Kakashi, 'Selalu aneh.' Batin Kakashi.lalu kembali melanjutkan membaca buku 'indah'nya tanpa peduli angin yang menerpa karena mereka tengah berdiri di Balkon menara. Tangan kirinya memegang pembatas Balkon.
Guy hanya memamerkan deretan gigi putihnya ketika menerima sapaan balik dari rival abadinya.
Tak jauh dari mereka, berdiri Kotetsu seraya menatap pemandangan hutan, matanya menatap teduh, sudah bukan rahasia lagi kalau Ninja dengan plaster melintang di hidungnya ini adalah pecinta keindahan alam. Bahkan sangking cintanya pada keindahan alam, Izumo pernah dia ajak ke timur laut Konoha hanya untuk melihat landscape indah Konoha di kala sore.
Matanya melirik sekilas pada Kunoichi yang berdiri diam di sebelahnya, ayolah, juga sudah rahasia umum kalau Kotetsu menyimpan perasaan pada Heiress Inuzuka ini. Bayangkan, tatapan teduhnya sang nona Inuzuka saja sudah membuatnya hampir kena serangan jantung, apalagi berdiri bersebelahan seperti ini.
Dahi Kotetsu langsung berkerut saat melihat ekspresi wajah Hana Inuzuka yang sedang gusar entah karena apa.
''Hana, ada apa?''
Kunoichi yang dipanggil Hana hanya menoleh singkat, namun dari tatapannya saja Kotetsu sudah mengerti kalau dia sedang khawatir. Apa mungkin si tomboy manis ini sedang khawatir pada adiknya, Kiba? Ini seperti bukan dirinya saja.
''Tenanglah Hana, mereka pasti bisa,'' ucap Kotetsu pada Hana sambil memberikan senyum teduhnya.
Hana hanya tersenyum kecut. ''Bukan itu,'' gumam Hana seraya menunduk, sedikit dia selipkan anak rambutnya ke telinga bagian kanan. Tangan mungilnya memegang erat pembatas balkon. ''Hanya saja, fisik Kiba sedang tidak fit sewaktu ingin berangkat,'' jawab Hana seraya menatap kedepan, menatap hamparan daun hijau milik beribu pohon hutan kematian di bawah sana.
''Tidak fit katamu?'' Tanya Kotetsu seraya mengulang perkataan Hana, dapat dia lihat kalau wanita itu mengangguk singkat sebagai jawaban. Walaupun Kiba itu pembangkang, tapi walau bagai manapun dia sangat mengerti tentang bocah itu, selalu ceria dan semangat, selalu sigap dengan segala misi. Tapi kalau sedang tidak fit seperti itu, apa dia bisa seceria seperti biasanya. ''Lalu, kenapa kau mengizinkannya untuk ikut ujian?'' Tanya Kotetsu lagi untuk kedua kalinya.
Hana hanya mengangkat kedua bahunya. ''Kau seperti tidak kenal dia saja,'' ucap Hana.
~oOo~
Di hutan itu terdapat sebuah mulut gua yang berada tepat sebagai dinding sungai, aliran sungai nampak tenang sebelum ada sedikit gelombang yang berarti menandakan ada pergerakan pada permukaan atau di di dasar sungai.
Tak berapa lama, terlihat dua orang keluar dari dalam gua dengan mengenakan penutup kepala dan berjubah hitam dengan beberapa gambar awan merah di beberapa bagian. Satu dari mereka berjalan bungkuk atau boleh dibilang seperti merangkak dengan ekor yang sekilas terlihat seperti buntut Kalajengking, pemilik buntut itu juga mengenakan masker hitam, dengan pandangan kosong dia berjalan dan menatap kedepan tanpa menoleh kiri kanan.
Satunya lagi terlihat seperti manusia biasa, berjalan santai dengan kedua kaki. Rambut kuningnya sedikit mencuat hingga menutupi mata kirinya, dari hidung hingga tumit tertutupi oleh jubah, yang terlihat hanyalah mata birunya dan sebagian pipinya yang tak tertutupi oleh kain, sekilas memang nampak seperti perempuan sebelum...
''Sasori-danna,'' Sebelum suara khas laki-laki miliknya memecah keheningan mereka yang kini tengah berjalan santai di atas air.
''Panggil aku Hiruko ketika aku memakai Boneka ini, Deidara,'' ucap sang sosok yang berjalan sangat bungkuk di sebelah laki-laki yang dipanggil Deidara, walau begitu dia tidak menoleh.
Deidara hanya memutar matanya bosan. ''Baiklah, Hiruko, un. Kalau boleh tanya, apa Jinchuriki Shukaku langsung kita bunuh saja, un?'' Tanyanya sambil sedikit mendongak menatap langit biru, mereka baru beberapa menit meninggalkan markas rahasia mereka berdua, sebelumnya sempat mengadakan kontak ilusi dengan anggota yang lain mengenai segala kemampuan dan kekurangan dari Bijuu yang akan mereka tangkap.
Merekalah satunya-satunya Organisasi hitam yang paling berani mengumpulkan kesembilan Bijuu, dengan hanya beberapa anggota. Di sepanjang sejarah Shinobi, belum ada yang mengetahui tentang visi dan misi kelompok ini, karena memang mereka belum menampakan teror mereka terhadap sejumlah Jinchuriki yang dimiliki oleh berbagai Desa.
Jinchuriki itu tidak hanya dimiliki oleh Desa-desa besar saja seperti Hachibi dari Kumogakure atau juga Shukaku yang akan mereka buru ini dari Sunagakure. Tapi juga tersebar keseluruh penjuru, seperti misalkan Kunoichi dari kampung halaman Kakuzu, Kusagakure, Jinchurikinya adalah Kunoichi bernama Fuu. Target mereka setelah Gaara, mereka akan mengejar Fuu sang-Jinchuriki Bijuu ekor tujuh itu.
Menurut Pain, dengan berhasilnya mereka mengumpulkan kesembilan Bijuu, mereka akan menguasai dunia dengan hanya tunduk pada satu perintah. Juga mereka akan membangunkan Juubi sang Bijuu ekor sepuluh dengan menyatukan Bijuu yang berhasil mereka tangkap.
Tapi nampaknya, kerja mereka ini akan memakan waktu yang lama, mengingat yang akan mereka tangkap ini adalah Bijuu, monster berekor yang tak pernah habis kekuatan, membuat Deidara sedikit ragu dengan itu, walau nyatanya, Itachi dan Kisame sudah berhasil menangkap Ghobi sang Bijuu ekor lima. Tapi itu'kan dengan bantuan Samehada milik Kisame yang menyerap Chakra dan Genjutsu level dewa Tsukoyomi milik Itachi. Sial, Uchiha memang brengsek, batin Deidara.
''Kalau Shukaku berontak, baru kita serap paksa dari Jinchuriki, mau dia tewas atau tidak, itu tergantung dari kuat tidaknya tubuhnya dalam menahan goncangan itu,'' jawab Hiruko dingin, tanpa peduli.
Deidara sedikit melirik Hiruko atau tepatnya Sasori yang berada di dalam tubuh boneka bernama Hiruko tersebut. Puppet master satu ini memang kadang tidak peduli dengan keadaan sekitar, tapi dia cukup patuh pada perintah ketua.
''Jujur saja, dari semua tugas, baru kali ini aku ikut menangkap Bijuu, un. Apa itu tidak apa-apa, un?'' Tanya Deidara, kini mereka tidak lagi berjalan di atas air. Selang beberapa lama berjalan di bibir sungai, akhirnya mereka memasuki kawasan hutan lebat di timur laut Sunagakure.
Kali ini Hiruko menoleh dengan gerakan patah-patah kearah kirinya, dia mendongak menatap Deidara yang kini berkeringat dingin entah karena apa. ''Lebih baik kau diam, dan tunggu sampai tugas berlangsung,'' ucapnya seraya kembali menatap kedepan lagi.
Dan untuk kesekian kalinya suasana hening tercipta diantara kedua Master tersebut.
~oOo~
''Dia Bunshin, Sakura,'' ucap Sai seraya tersenyum palsu padahal dibelakangnya sudah berdiri lima monster mengerikan yang berasal dari kertas yang dia gambar. Mata hitamnya memperhatikan Bunshin itu dengan seksama, setidaknya enam tahun menjadi anggota satuan NE ANBU membuatnya memiliki intuisi yang cukup tinggi untuk menganalisa semuanya.
Dari tersenyum saja saat Bunshin itu seperti tidak hidup, mau ngaku-ngaku kalau dia bukan Bunshin? Memang, dia punya Chakra yang setimpal dengan Manusia pada umumnya, tapi Bunshin tetaplah Bunshin. Perbedaan antara Sai dan Bunshin itu adalah, Bunshin mati, Sai hidup, karena memang hanya itu yang bisa Sakura pikirkan sekarang. Sai benar, dari cara tersenyum saja dia sudah terlihat seperti tidak hidup.
Bunshin itu sedikit menderakan lehernya, memiringkan kepala ke kiri dan ke kanan dengan diiringi suara tulang leher yang bergemeretak sebelum menatap Sakura dan Sai dengan pandangan sinis.
''Bagaimana kita akan memulai ini?'' Tanya Shinobi Sunagakure itu dengan santai. ''Bagaimana dengan ini saja,'' gumamnya seraya merapal segel dengan cepat.
Sai dan Sakura segera melakukan posisi bertarung ala Tim 7, namun sayangnya disini yang ada hanya mereka berdua dengan ditemani Bunshin musuh yang akan menyerang mereka.
Shinobi itu selesai merapal segel dengan mulutnya yang tiba-tiba terlihat penuh sehingga menggembung, sedikit mendongak sebelum berteriak dengan lantang. ''Elemen angin: Jurus bola angin!'' Teriaknya.
Sekitar sepuluh bola angin transparan dengan diameter tiga puluh centimeter melesat kearah Sai dan Sakura yang terbelalak saat melihat sepuluh bola itu membuat sebuah lubang besar pada pohon yang terlewati.
Sai dengan cepat menggambar tembok di kertasnya sebelum berteriak. ''Ninpou: Chouju Giga!'' Seru Sai seraya membentangkan kertasnya kedepan dengan memposisikan bagian gambar di depan seolah-olah menyambut serangan yang akan datang.
Mata Sakura dan Shinobi Bunshin itu terbelalak lebar saat melihat sebuah tembok dengan tinggi Lima kaki menjulang dihadapan mereka, kesepuluh bola angin milik Shinobi Bunshin itu lenyap tak berdaya saat membentur tembok besar yang awalnya hanyalah sebuah gambar hasil goresan tinta Sai.
''A-apa? D-darimana datangnya tembok itu?'' Gumam sang Shinobi sebelum ingatannya pulih dari syok sesaat yang di alami.
Flashback: On.
''Ninpou: Chouju Giga!''
Bumm...
Seluruh pohon langsung tumbang seketika, namun juga ada yang tertindih oleh sebuah tembok besar yang awalnya hanyalah sebuah gambar dari goresan tinta milik Shinobi Konoha berkulit putih pucat.
Flashback: Off.
''Oh, begitu,'' gumam sang Bunshin sebelum menyeringai kemenangan. Dia berdiri kembali dengan tegak sebelum mengigit jari jemarinya hingga berdarah dan menghentakan telapak tangannya kepermukaan tanah, sebuah relief tulisan kanji kuno kontan nampak ditanah saat telapak tangan itu menyentuh permukaan tanah.
''Elemen tanah: Tapak naga tanah.'' Gumamnya.
Krtt...
'Jadi jika memang dia bisa membuat gambar menjadi senjatanya. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menunggu jurus itu memudar, serangan berikutnya mungkin akan datang dari Kunoichi itu.' Batin sang Bunshin sambil tersenyum di tengah berjongkoknya dengan kedua telapak tangan yang masih menyentuh permukaan tanah.
Mata sang Bunshin langsung berkilat saat melihat refleksi tembok besar itu yang mulai memudar sebelum mencair menjadi tinta. ''Kau akan melihat kolam tinta bocah. Wahai Naga tanah, tunjukan agungnya telapakmu!'' Teriak Bunshin itu sebelum tanah di sekitar mengalami keretakan pada beberapa bagian dan pada akhirnya tanah merembes masuk kedalam perut bumi dengan meninggalkan bentuk tapak besar.
Debu masih berhamburan di udara sehingga sedikit menutup pandangan, namun Bunshin Shinobi Kirigakure itu sangat yakin kalau kedua Chunnin Konoha terkena serangannya walau tidak telak.
Dia tersenyum seraya menegakkan tubuhnya, senyumnya makin lebar saat debu-debu yang menutupi pandangan sudah lenyap terbawa angin yang menampakan lahan kosong tanpa adanya kehidupan yang berdiri disana. Namun senyumnya seketika memudar saat dia melihat sebuah bayangan di tanah.
Mata sang Bunshin membelalak lebar sebelum dia mendongak, mendapati seorang Kunoichi berambut merah jambu yang dengan semangatnya melompat dari seekor burung raksasa seraya berteriak kesetanan di udara.
''Shanarooo!''
Dhuar...
Dan disusul dengan sebuah ledakan besar yang menghancurkan hutan itu seketika, juga turut merubuhkan beberapa pohon terdekat.
Sai yang melihat itu dari atas burung hanya mampu meringis melihat tindakan Sakura, tidak habis pikir dengan Taijutsu Sakura yang sebenarnya bahkan lebih mengerikan dari amukan Nona Tsunade saat lagi depresi atau Frustasi dengan tingkah Naruto.
Yah, Sakura adalah murid Godaime Hokage, secara tidak langsung Sakura juga menuruni sifat sang Medic-nin yang terkenal hingga keseluruh penjuru negeri Shinobi.
Siapa yang tidak kenal dengan Tsunade Namekuji atau Senju Tsunade? Salah satu anggota Sannin yang paling ditakuti pada masa perang dunia Shinobi ketiga yang dijuluki The Greet Ninja Warr. Bahkan Chyio no Akasuna dari Sunagakure yang tersohor dalam membuat racun tanpa vaksin semasa perangpun dapat Tsunade patahkan dengan kejeniusannya dalam meracik obat-obatan.
Selain di bidang medis, menurut yang Sai dengar dari Yamato Taichou dan Kakashi-san, dengan sekali jentikan jaripun, satu rumah akan tersapu rata oleh Tsunade. Barang tidak mungkin Sakura juga akan seperti itu, mengingat satu pukulan saja, seratus meter persegi hutan saja langsung gundul hanya karena satu pukulan, jadi bisa kau bayangkan kalau dia melayangkan berkali-kali pukulan dengan intensitas yang luar biasa, bisa-bisa setengah Konoha porak poranda hanya karena ulahnya seorang.
Jika mengingat Sakura, maka Naruto dan Sasuke pasti terbersit dalam benak Sai. Sebenarnya ada apa dengan tiga orang ini sampai mereka berpisah dan Tim tujuh harus Vakum? Padahal, formasi mereka sangatlah elit.
Bayangkan saja, di posisi terdepan ada Naruto dengan Rasenggan yang dipelajari dari Jiraiya. Itu sudah cukup untuk menetralisir area depan, di belakang akan ditambah dengan Kakashi dan Sasuke yang masing-masing dari mereka memiliki Sharinggan yang mampu menjadi back-up terbaik. Selain itu, tim tujuh akan ditambah basis medic handal yang merupakan murid dari Hokage. Tim tujuh sudah sempurna, bahkan se-batalyon Shinobi pun hanya akan menjadi bulan-bulanan mereka saja kalau kelompok ini kembali.
Tapi daripada itu, Sai lebih baik memilih untuk tidak angkat suara, dia belumlah genap satu tahun dengan kelompok elit ini, jadi lebih baik pahami dulu baru mencoba untuk menengahi mereka, lebih baik seperti itu.
''Hei! Sai!''
Teriakan dari bawahsana sukses membuat Sai melongok kembali kebawah untuk melihat sang pemilik suara, Sai sedikit memamerkan senyumannya pada Sakura yang tengah berkacak pinggang. Gadis itu memang nampak tidak berubah walau bagaimanapun semenjak mereka pertama bertemu.
Burung raksasa yang dia tunggangi menukik tajam kebawah, tepat mengarah satu meter di belakang Sakura sebelum berubah menjadi tinta kembali. Sai melompat.
Tapp...
''Nah, sekarang bagaimana?'' Tanya Sai setelah menyimpan gulungan kertas yang menjadi media Ninjutsunya.
Sakura hanya mengerjap beberapa saat sebelum membuang muka dengan pipi merona. Tangan kiri berkacak pinggang. ''Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan, jarak tempuh masih jauh dan kita harus bergegas,'' Jawab Sakura namun sesekali melirik laki-laki mantan NE ANBU itu dan reaksi Sai tetap saja sama, tanpa ekspresi laki-laki itu tersenyum.
Sai hanya tersenyum singkat sebelum mengeluarkan peta dari ranselnya. Sesaat setelah membentangkan peta besar itu Sai terdiam. ''Uhm... Saku, ini arahnya kemana, ya?''
Ingin rasanya Sakura menghadiahi Sai dengan tinjunya kalau tidak mengingat ini tengah dalam misi, urat-urat di dahinya berkedut menampakan perempatan yang tak nampak jelas di jidat ehemlebarehem miliknya.
''Kemarikan peta itu,'' ucap Sakura seraya mengambil paksa peta malang itu dari tangan Sai. Kini giliran Sakura yang membentangkan peta lebar itu di depan wajahnya. Matanya mengerjap, sesekali celingukan kesan-kemari sebelum menggulungnya dan memasukan peta itu kedalam wadah dan menyegelnya.
Sakura berbalik badan memunggungi Sai, menghadap tepat ke arah barat namun selisih sedikit dua puluh derajat, tangannya menunjuk kearah barat. ''Arahnya kesana,'' ucap Sakura, lalu berbailk badan. ''Butuh waktu dua belas jam perjalanan, kita akan istirahat setelah menempuh tiga jam perjalanan,'' Tambah Sakura sambil sedikit mendongak menatap Sai yang berdiri di depannya.
Sai tidak habis pikir dengan semua ini, Sakura memang spesial dari Kunoichi manapun, dan..., du-dua belas jam? Untung dia bukan Naruto, kalau iya, mungkin saat ini laki-laki itu akan menjerit minta istirahat dengan sedikit tambahan 'Dattebayooo'. Mengingat itu Sai jadi tidak ingin 'mencicipi' bogem mentah dari tangan mungil sang Heiress Haruno, bisa K.O sebelum bertarung dia.
Maka dengan itu, Sai hanya mengedikan kedua bahunya dengan sedikit senyuman palsu karena mau bagaimanapun dia belumlah bisa menguasai ekspresinya, terakhir kali dia menunjukan ekspresinya Naruto hampir menermkamnya—padahal Naruto sendiri yang bilang kalau kita harus selalu jujur dalam berkata—karena dia menyebut Ino adalah Kunoichi terseksi yang pernah dia temui 'en sukses ngebuat ntu Kunoichi tersenyum malu-malu. Itu benar'kan, Ino memang yang terkseksi di angkatan Rookie 12, ada yang salah? Kenapa Naruto malah berniat sekali ingin menerkamnya waktu itu?
''Sai, kau mau aku tinggal?'' Ucap Sakura yang kini sedikit jengah pada laki-laki berkulit putih pucat yang tengah bengong sendiri di bekas medan tempur mereka beberapa saat yang lalu.
Sai sedikit tersentak saat mendengar nada bosan yang keluar dari bibir mungil Sakura, dia sedikit mengangguk lalu berjalan menyusul Sakura yang kini sudah berdiri tepat di depan hutan lebat Hi no Kuni. Ternyata, memang sulit untuk jujur, b Sai.
~oOo~
''Baiklah, bagaimana dengan ini?'' Tanya Chouji seraya memamerkan pahatannya pada Shikamaru yang kini berbaring di dahan pohon besar tempat mereka beristirahat sejenak.
Shikamaru hanya sedikit melirik bosan, sejak kapan laki-laki pecinta kuliner ini bisa memahat? Shikamaru hanya sedikit menggelengkan kepalanya, lalu beralih pada langit biru yang sedikit nampak di antara rerimbunan daun hijau yang menghalangi Matahari untuk menyinari mereka secara langsung.
Neji yang berada pada ranting paling atas hanya memanfaatkan keadaan senggang untuk bermeditasi, mencoba untuk menyatukan diri pada alam sekitar seraya memejamkan mata. Di Konoha, kalau sedang tidak ada misi, ini bisa dia lakukan seharian, secara tidak langsung, dia menyukai kegiatan ini apalagi di dekat air terjun.
Mengingat Konoha dia jadi ingat Kunoichi bercepol dua di tim mereka, pipi Neji sedikit bersemu mengingatnya sebelum sedetik kemudian rona itu menghilang.
Dia masih ingat bagaimana senyum wanita itu, namun entah kenapa ehemTentenehem selalu mudah putus asa. Kalau Guy-Sensei tidak memaksanya mungkin Kunoichi itu tidak akan ikut, mengingat ini dia jadi teringat dengan Hinata. Sedang apa sekarang putri malu itu? Apa dia terluka? Apa dia baik-baik saja?
Shikamaru berani bersumpah atas jenggot guru Asuma kalau tadi dia sempat melihat rona merah di pipi Neji. Apa yang sedang Chunnin kelas S itu pikirkan?
~oOo~
Sekejap, kalian hanya akan melihat bayangan berwarna hijau dan putih yang tengah melesat dengan melompati dahan-dahan pohon itu. Namun jika ditilik lebih dalam, ternyata mereka adalah Shinobi dan Kunoichi dari Konoha.
''Lee, apa masih jauh?'' Tanya Tenten yang kini ikut berlari di belakang laki-laki yang dia panggil Lee.
Shinobi dengan pakaian serba hijau sedikit menoleh dengan cengiran lebarnya. ''Kau mau aku jujur apa tidak Tenten?''
Tenten berpikir sejenak disela loncatannya pada ranting-ranting pohon. Tidak dia hiraukan teriknya Matahari yang menembus rimbunnya dedauanan. ''Kenapa? Perjalanan kita masih jauh, ya?'' Tanya Tenten berusaha menebak sendiri.
Dan jawaban yang diberikan oleh Lee lewat sebuah anggukan cukup membuatnya merasa sebal.
~oOo~
Iruka duduk dengan resah di ruangan Tsunade sang Godaime-Hokage, sesekali dia menghembuskan nafasnya singkat juga dengan sesekali melirik takut pada sang Hokage walau Tsunade yang kerap di panggil Namekuji Tsunade itu dengan segan.
Sedangkan Tsunade hanya menyangga dagunya dengan kedua telapak tangannya yang di lipat. Alisnya sedikit naik sebelah melihat Iruka yang keadaannya seperti di interogasi.
''Ada apa Iruka?'' Tanya Tsunade seraya memecah kesunyian, semenjak Iruka masuk ingin menyampaikan pendapatnya entah kenapa ruangan terasa dingin.
Iruka memberanikan diri untuk menatap Tsunade. ''Maksud kedatangan saya, saya hanya ingin mengusulkan pendapat saya mengenai Ujian ini,'' jawab Iruka dengan penuh nada hormat.
Tsunade hanya tersenyum singkat begitupun dengan Shizune yang kini berdiri di samping mereka dengan memeluk seekor babi kecil.
''Mengenai Ujian atau mengenai Naruto?''
Iruka membeku seketika saat mendengar pertanyaan Tsunade, wajahnya seketika memucat. Tadinya dia sempat mengira kalau Tsunade tidak akan tau maksud kedatangannya yang tiba-tiba. Iruka menunduk, mungkin namun sesaat kemudian kembali menatap Tsunade.
''Iya,'' jawab Iruka. ''Saya hanya ingin mengusulkan pengawasan terhadap Naruto.''
Tsunade tersenyum singkat disela fokusnya pada lembar dokumen yang ada di atas meja. ''Adakalanya ego itu menjadi hal yang berguna Iruka,'' ucap Tsunade seraya menggulung kertas dokumen dan menaruhnya. ''Dan untuk saat ini, kau mengajukan perihal apapun tidak akan dapat diterima.''
Iruka menghela nafas kecil. Dia sudah mengira semua akan berjalan tidak lancar seperti yang dia inginkan, sebenarnya dia sedikit khawatir pada Naruto yang baru datang dari perjalanan jauh bersama Jiraiya dan kini malah ikut perlombaan ujian naik ketahap Joonin. Kalau saja Naruto bukan Jinchuriki, Iruka berani bertaruh kalau Naruto akan berteriak kesetanan untuk minta istirahat.
Dia sedikit menunduk untuk tidak menatap langsung kearah mata cokelat manis milik Godaime-sama karena itu tidaklah sopan.
''Tapi kau harus yakin, kalau dia akan bisa. Kau menjaganya waktu kecil dan orang pertama yang dia kenal bukan? Jadi secara tidak langsung kau sudah dia anggap sebagai Ayah. Dan sebagai Ayah, sepatutnya kau memberinya semangat, bukan pengawasan yang sama saja kau meragukan kemampuannya.''
Kalimat bijak dari Tsunade membuat Iruka sedikit tersentak kaget, apalagi sosok di depannya ini menyinggung masa kecil Naruto yang dimana pada masa itu hanya dia seorang yang mau merawat Naruto dengan tulus tanpa ikut mencemooh atau mengucili bocah itu, hingga Naruto kecil masuk Academy Shinobi of Konohagakure no sato. Berpikir begitu senyum Iruka sedikit terkembang.
Ya. Tsunade-sama benar, sebagai sosok yang di anggap Ayah, aku harus mendukungnya. Batin Iruka, sesaat kemudian dia berdiri dari duduknya, memberi salam sopan dan beranjak meninggalkan kantor Hokage dengan rasa bangga. Tentu saja, walau Naruto bukanlah anaknya, tapi entah kenapa bocah itu selalu bisa membuatnya tersenyum.
~oOo~
''Bagaimana Juugo?''
''Burung ini bilang, kalau kuil kematian masih sangat jauh. Butuh waktu seminggu untuk sampai tujuan walau kita berlari seperti biasanya.''
''APA!''
''Hn, berarti peta yang kau pegang, Karin, hanya sebuah taktik mereka.''
''Bisa jadi begitu, ujian macam apa ini!''
Suasana kelompok Hebi kini tengah heboh sesaat setelah menerima informasi letak kuil kematian dari seekor burung yang kebetulan melakukan Migrasi hingga kebetulan melewati kuil kematian.
Juugo hanya terdiam sementara Sasuke mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih.
~oOo~
''Bagaimana Ino?''
''Memang benar, peta yang kita pakai ternyata palsu. Elang yang barusan mengatakan kalau darisini menuju kuil kematian membutuhkan waktu seminggu dan itupun belum dihitung istirahatnya kita di perjalanan. Itu berarti akan lebih dari seminggu,'' Jawab Ino panjang lebar sesaat setelah dia melepas jutsu andalannya pada burung elang yang tadi sedang meliuk-liuk di udara. Dari burung itu Ino mendapatkan informasi nyata mengenai letak dan jarak tempuh menuju ke kuil kematian.
Dugannya memang tepat. Kalau hanya memakan waktu dua-jam terasa ada yang mengganjal untuk jarak tempuh ke target yang dirasa terlalu dekat. Dan nyatanya memang benar! Peta sialan itu ternyata memang peta palsu.
Ngomong-ngomong mengenai peta palsu, Naruto langsung berkeringat dingin saat mata Ino melirik kearahnya dengan diiringi hawa-hawa pekat. Dia kenal hawa apa ini, dia sudah sering menerima perlakuan apa selanjutnya setelah hawa ini keluar dari Kekasihnya. Dan benar saja, sedetik kemudian tangan mungil Ino melayang untuk memberikan sebuah 'sentuhan' di kepalanya. Tapi berhubung dia bisa menghindar dengan cepat, usah Ino hanya sia-sia.
Dengan cepat Naruto berpindah tempat kebelakang Ino yang mana gadis itu tengah sempoyongan karena pukulan maut dengan penuh tekanan, meleset jauh dari target sementara Naruto hanya menyeringai kemenangan.
''Aeh, Ino-chan. Begitu saja kau tidak bisa,'' ucap Naruto dengan nada mengejek seraya memijit pelipisnya dengan menggunakan dua jari. Kepalanya sedikit menggeleng.
Ino yang mendengarnya merasa tersulut, Ino sudah biasa dengan tingkah Naruto yang kadang pamer kekuatan padanya. Dia akui sekarang Naruto tidak seperti dulu, maksudnya, kekuatanya tidak seperti dulu tapi tingkahnya tetaplah sama, kadang kekanakan kadang dewasa. Membuatnya jadi bingung.
Ino berdiri, sedikit berkacak pinggang dihadapan Kekasihnya yang tengah menyeringai kemenangan. Melihat itu Ino punya cara jitu. ''Baiklah, tapi kau harus ingat satu hal,'' ucapnya dengan nada yang tak kalah mengejek disertai seringai.
Senyum Naruto langsung memudar melihat seringai Ino, dia sedikit meneguk ludah dengan mengambil beberapa langkah mundur dengan waspada. ''A-apa yang akan kau lakukan Ino-chan?''
''Tenanglah, ini tidak akan menyakitkan. Shintensin no Jutsu!''
Naruto mangap selama beberapa detik sebelum tubuhnya tiba-tiba lunglai dan ambruk kepermukaan tanah seolah tanpa perlawanan macam orang mabuk yang overdosis. Tak berapa lama tubuhnya kembali menunjukan pergerakan yang menandakan kalau Naruto sudah siuman.
''Nah~ sekarang bagaimana?''
Ada yang sedikit aneh, cara bicara Naruto menjadi kemayu.
'I-Ino-chan, jangan ambil alih tubuhku!'
''Berisik ah, kan' hanya sebentar!'' Ucap Naruto atau lebih tepatnya Ino yang merasuki tubuh Naruto. Sumpah serapah dari dalam tubuh itu tidak dia hiraukan seraya bangkit dan menepuk beberapa bagian yang kotor.
Mata biru milik Naruto itu kemudian mengarah pada sesosok tubuh yang kini terduduk seraya menunduk tepat dibawah pohon. Dia mengambil langkah mendekat dan menyibakan helai rambut yang berwarna kuning pucat untuk tidak mempersulitnya melihat wajah gadis yang kini tengah terpejam.
''Tubuhku memang seksi,'' gumamnya dengan kenarsisan tingkat tinggi, Ino yang kini tengah menggunakan tubuh Naruto memperhatikan dengan jelas paras tubuhnya yang asli yang kini tengah terpejam karena efek dari jurus andalan klannya.
Setelah mengamati tubuhnya yang asli, Ino yang tengah menggunakan tubuh Naruto segera bangkit. Sedikit merenggangkan tubuh lalu dia menghela nafas. Sementara itu jiwa Naruto tengah uring-uringan karena tubuhnya di ambil alih oleh Ino.
Ino menyeringai saat tangannya tidak sengaja memegang tas kecil yang penuh dengan Kunai yang tadi Naruto gunakan untuk berpindah tempat dengan cepat. Sebenarnya sudah sejak lama dia heran dengan jutsu andalan Kekasihnya itu, dan juga, seperti apasih rasanya berpindah tempat dari suatu tempat ketempat yang lain dengan kecepatan yang luar biasa.
Mata Naruto langsung melotot horor saat Ino yang menggunakan tubuhnya tengah memegang beberapa Kunai Jikkukan ditangan kanan. Karena Naruto hanya melihat daerah depan dan tidak bisa melihat ekspresi Ino, maka dia mengigit kuku dengan khawatir. Bagaimana kalau Ino mencoba untuk menggunakan Jutsu andalannya?
''Hmmm... Sebenarnya Naruto-kun, apa penggunaan Jutsu ini menggunakan segel tangan?'' Tanya Ino.
Jiwa Naruto yang kini tengah berdiri di depan kandang Kyuubi masih tidak 'ngeh' dengan pertanyaan Ino karena khawatir. 'Tidak, karena kertas kuning itu adalah segelnya, mempunyai daya respon tinggi bila sudah terlempar. Tapi kalau menggunakannya dalam jumlah banyak, maka pasti akan menggunakan segel tangan.'
...
...
...
'I-Ino-chan! Jangan dengarkan ucapanku yang barusan!'
Ino menyeringai kemenangan saat mendengar jawaban Naruto dari dalam tubuhnya sendiri. Matanya yang merupakan mata Naruto itu menatap sebilah Kunai dengan pandangan ingin tau. Penasaran mengalahkan imannya untuk menuruti ucapan Naruto.
''Akan kita coba jurusmu!''
Dengan sigap dan sekuat tenaga dia melemparkan Kunai yang terlilit kertas kuning itu kearah timur dengan lemparan jarak jauh semacam lempar lembing.
Ketika Kunai itu menyentuh tanah di jarak delapan ratus meter. Kontan saja tubuh Naruto yang dirasuki Ino langsung melesat kearah Kunai itu berada dalam kecepatan tinggi hingga hanya seberkas cahaya kuning yang tertinggal.
Whusss...
Brakkk!
Tubuh Naruto langsung berhenti dengan kasar di depan sebuah pohon besar yang daunnya kini tengah berguguran. Tepat dibawah tubuhnya tertancap sebilah Kunai yang tadi dilemparkan.
Semua hening selama beberapa saat. Hembusan angin terdengar jelas disela keheningan yang melanda. Sementara Naruto yang Jiwanya tengah terblokir di depan kandang Kyuubi ikutan terdiam dengan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya.
''Ugh...,''
Dan erangan kesakitan itu memecah kesunyian di tengah hutan Negara HI.
'I-no-chan. Kau tidak apa-apa?'
''Sa-sakit Naruto, perutku bergejolak,'' gumam Ino dengan rintihan seraya memegang perut Naruto yang dia rasuki.
Sakit seketika datang dibagian perut seperti hendak memuntahkan sesuatu di dalamnya. Perih juga menyusup kemudian bersamaan dengan perut yang bergejolak ingin muntah.
Bruukk...
'Ino-chan!'
''Dia tidak tau konsekuensinya bocah! Karena rasa penasaran, dia jadi buta untuk menanyakan efek samping jurusmu walau dia tengah menggunakan tubuhmu,''
'Diamlah Kyuu! Ino-chan, jawab aku. Apa yang terjadi?'
''Ohokk!''
Darah kental keluar dari mulut saat Ino memuntahkan isi perut, darah mengalir dengan deras dari sisi mulutnya. Tangan kiri memegang perut dengan sedikit meremasnya hanya untuk mencoba menghilangkan rasa sakit yang luar biasa dari dalam perut.
''Sa-sakit Naruto, ke-kenapa sesakit ini efek sampingnya?'' gumam Ino.
'Itu tidak penting, sekarang kembalilah ketubuhmu.'
''Kau gila bocah? Jarak jurus Shintensin dari sini ke tubuhnya yang asli sangatlah jauh Jurusnya bisa saja meleset dan itu sangatlah berbahaya!''
'Kalau begitu kau transfer tubuhku kembali ketempat tadi,'
''A-apa? Ck, dasar merepotkan!''
Tiba, timbul cahaya berwarna hijau terang yang menyinari tubuh Naruto dari bawah. Di permukaan tanah tempat datangnya sinar aneh berwarna hijau itu, terdapat beberapa tulisan kanji lalu berputar dengan cepat mirip gansing. Lalu semua menghilang, bagaikan debu yang terbawa angin, suasana tempat berdiri seorang tadi kembali sepi kentara mirip sebelumnya seoalah-olah tidak terjadi apa-apa.
whusss...
Ino memang tengah mem'bajak' tubuh Naruto, tapi dia belum tau mengenai perihal Naruto yang merupakan Jinchuriki Bijuu ekor sembilan. Oleh karena itu pula, dia tidak mendengar debat konyol antara Naruto dan Kurama karena dia belum bertemu langsung dengan Kyuubi no Kurama. Singkatnya, kalau ada seseorang yang bertemu langsung dengan Kyuubi, maka secara tidak sadar dia juga bisa mendengar suara Kyuubi dari dalam tubuh Naruto.
Dan karena itu pula, di tengah rasa sakit yang dia rasakan dia jadi tidak sadar saat Kyuubi mentransfer tubuh Naruto kembali ketempat peristirahatan mereka yang semula.
Ditengah rasa sakit yang luar biasa itu matanya sudah berkunang-kunang atau bisa dibilang pandangannya mulai mengabur. Dia baru sadar kalau efek samping dari jusur ini sangatlah menyakitkan, tapi kenapa Naruto tidak pernah terlihat kesakitan saat menggunakan jurus ini lebih dari satu kali? Sedangkan dia baru satu kali dan efeknya sesakit seperti ini.
'Ino-chan, dengarkan aku! Aku akan mentransfer jiwamu kembali ketubuhmu. Sampai saat itu, tolong kau beri aku pertolongan pertama dengan segera pada tubuhku, mengerti?'
Ino masih belum mengerti dengan ucapan Naruto disela rasa sakitnya. Tapi untuk disaat seperti ini, jangankan untuk menggunakan jurusnya, bergerak sedikit saja rasa sakitnya sangat luar biasa menyakitkan. Maka dengan itu dia menganggukkan kepalanya.
Deg
Tubuh Naruto langsung lunglai sempoyongan seperti orang mabuk untuk kedua kalinya. Sebelum jatuh keras ketanah.
''Arghhh!''
Ino langsung tersadar ketika mendengar erangan Naruto yang kini terbaring dibawah pohon yang rindang. Raut wajah Naruto jelas menandakan kalau dia tengah kesakitan, begitu pucat pasi.
Ino langsung bangkit dan sedikit berlari kecil menghampiri tubuh Naruto yang tergeletak tak berdaya dalam kesatikan. Dia merasa sakit, tadi merasakan sakitnya sampai Jiwanya dikembalikan ketubuhnya, meninggalkan rasa sakit yang masih menyerang tubuh Kekasihnya yang kini tengah meremas rumput untuk menahan rasa sakit.
Mata Ino sedikit berair saat mendengar erangan tertahan Naruto, kalau begini jadinya, dia tidak akan menggunakan jurus itu. Tapi dia masih bingung, kenapa tadi Naruto tidak merasakan efek sampingnya saat menggunakan jurus itu walau lebih dari satu kali, tapi dia yang baru satu kali saja sudah terkena efek yang sakitnya luar biasa seperti itu?
''A-argh!''
Lamunan Ino langsung pecah. ''Te-tenaglah, akan segera aku obati rasa sakitnya.'' Seru Ino kalut. Dengan tangan yang gemetar, segera dia mengambil persediaan obat di dalam tas pinggangnya lalu memberikan obatnya pada Naruto. ''Telan perlahan, kumohon.''
Isak Ino mulai terdengar saat tak mendapat respon yang tak berarti dari obat yang dia berikan pada Naruto beberapa saat yang lalu. Tubuh Naruto masih gemetar menahan rasa sakit karena Ino melihatnya dengan jelas di depan mata kepalanya sendiri kalau Kekasihnya tengah berjuang menahan rasa sakit yang tadi sempat dia rasakan.
''Kumohon, cepatlah obatnya bereaksi,'' gumam Ino. ''Naruto bertahanlah!'' Ucap Ino seraya memangku kepala Naruto kepahanya. Memeluk leher laki-laki itu yang kini masih mengerang kesakitan.
Andai dia tau jika begini jadinya. Mungkin dia tidak akan melemparkan Kunai aneh itu, tapi mau bagaimana lagi, rasa penasarannya sudah tidak tersabar. Tapi sungguh...
''Naruto bertahanlah!''
Nafas Naruto memburu menahan rasa sakit. Berniat untuk tidak berteriak agar menahan rasa sakit karena Ino ada dihadapannya dan tidak mau membuat Kekasihnya terlihat khawatir lebih dari ini. Tapi rasa sakit ditubuhnya benar-benar sakit seperti dikuliti hidup-hidup, dia pernah merasakan sakit ini. Tapi saat itu ada Bunshin Tsunade yang mengobatinya beserta Katsuyu. Naruto akui kalau Ino adalah murid Nenek Tsunade, tapi yang punya jurus paling efektif penyembuhannya hanyalah Nenek Tsunade seorang.
Matanya menatap kearah langit karena tidak mau menatap Ino, karena dia takut terlihat lemah dihadapan Kekasihnya. Dia tidak suka bila pandangan iba itu datang dari Kekasihnya sendiri, dia kuat, dan tidak boleh terlihat lemah dihadapan Ino.
Selang tiga puluh menit, saat-saat yang paling menyiksa itu berhenti. Tapi nafas Naruto masihlah menderu cepat seperti habis berlari maraton jarak jauh. Di dalam pelukan Ino dia masih sempat untuk menghirup wangi tubuh Gadisnya yang kini tengah memeluknya dengan penuh perasaan bersalah.
Garis-garis cahaya yang menyeruak dari sela-sela dedaunan pohon yang rimbun menerpa tubuh mereka yang tengah berada tepat dibawah pohon tua yang besar. Posisi yang sama masih berlangsung hingga beberapa saat kemudian Ino melonggarkan pelukannya.
Dengan diliputi kekhawatiran dia menatap wajah Naruto yang kini juga balik menatap kearahnya dengan deruan nafas yang masih menggila. ''Kau sudah tidak apa-apa?'' Tanya Ino saat senyuman Naruto menyambutnya walau paras pucat Naruto tidak bisa dibantah. ''Apa sakitnya sudah mendingan?''
Mata mereka saling tatap dalam pandangan yang berbeda. Yang satu dengan pandangan teduh dan yang satu lagi dengan pandangan bersalah. Tentu Ino merasa bersalah, karena kalau bukan salahnya, ini tidak mungkin terjadi. Kalau bukan karena rasa penasarannya, Naruto tidak mungkin harus menggelepar ditanah menahan sakit ditubuhnya.
''A-aku sudah tidak apa-apa,'' ucap Naruto, tapi suaranya masih terdengar lemah. Senyumnya mengembang walau bukan sebuah cengiran yang biasanya dia tampakkan.
Dia merasa risih saat tatapan Ino padanya penuh dengan rasa bersalah. Sedikit banyak bisa dia maklumi karena dia memang sadar kalau Ino sangat sulit menahan rasa penasarannya. Tapi dilain sisi dia menyesali keterlambatannya menjelaskan semua efek samping dari jurusnya sendiri.
''Kau yakin?'' Tanya Ino.
Naruto mengangguk walau masih berada di paha Ino.
Ino menunduk menyembunyikan raut wajah bersalahnya, mencoba untuk tidak memperlihatkan bagaimana wajah cantiknya ketika menahan tangis. Ini semua salahnya.
Senyum Naruto melembut seiring tangannya mengusap puncuk kepala Ino sehingga membuat perhatian gadis itu kembali padanya. Naruto sedikit mengernyit saat melihat genangan cairan dipelupuk mata Ino. Tidak pernah Naruto melihat Ino yang seperti ini, apa hanya karenanya Ino mampu seperti ini? Entah kenapa dia jadi rindu jitakan dan teriakan dari Ino.
''Kau..., menangis hanya karena aku?''
''Tentu saja, Baka! A-aku khawatir, maafkan aku,''
''Sudahlah Ino-chan. Sekarang semuanya sudah baik-baik saja.'' Ucap Naruto untuk menenangkan Ino.
''Apanya yang baik-baik saja? Nafasmu saja masih tidak beraturan!'' Seru Ino seraya menggenggam erat baju bagian dada Naruto, menahan gejolaknya untuk tidak tersedu lagi seperti tadi.
Dia tidak menyangka semua akan terjadi seperti ini. Ini adalah sebuah kesalahan fatal yang sudah dia lakukan untuk kesekian kali hanya karena tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia akui dia tidak seperti Sakura yang pintar menyimpan perasaan, dia juga akui tidak bisa seperti Hinata yang selalu tersenyum. Dia hanya ingin jadi diri sendiri tanpa harus ada yang disembunyikan di depan Kekasihnya, tapi entah kenapa semua yang dia lakukan selalu berakibat buruk. Contohnya saja, Naruto barusan hampir mati kesakitan hanya karena ulah egonya.
Berpikir begitu, Ino hanya mampu tersenyum pahit. Memang itu dia'kan? Selalu membuat orang terdekatnya merasa repot hanya karena dirinya.
''Maaf, aku tidak bisa jadi yang seperti yang kau inginkan,'' bisik Ino pelan seraya menundukan kepalanya.
Naruto tersentak mendengarnya, senyum lembut yang dia berikan sejak tadi rupanya hanya menambah sesal bagi Ino. Padahal, dia sudah tulus mengatakan kalau semua baik-baik saja. Tapi, kenapa Ino berkata seperti itu seolah-olah dirinya tidak berguna bagi orang yang dia sayangi? Kenapa Ino bisa berpikiran seperti itu. Perlahan, dengan setengah terbatuk Naruto meraih tangan mungil Ino yang tengah meremas Rompi Jooninnya.
''Kau ini bilang apa'sih?'' Ucap Naruto seraya tersenyum saat Ino kembali memberanikan diri menatapnya, pandangannya sedikit terganggu saat angin menerpa wajahnya hingga rambut kuning jabrik sebahu itu ikut menari bersama angin. Pandangan Blue Sky yang tengah menahan air mata itu membuat Naruto merasa sakit di dadanya entah karena apa. ''Harus berapa kali kukatakan kalau aku baik-baik saja?'' Dan senyumnya terkembang kembali.
Senyum itu, Ino menyukainya. Senyum itulah yang selalu membuat Ino rindu dan berat dihatinya saat Naruto pergi jauh darinya ketika Jiraiya berkata akan mengajak Naruto pergi berpetualang sekaligus berlatih menambah kekuatan. Hingga tanpa disadari senyum itu juga yang selalu membuatnya merasa nyaman untuk dekat dengan Naruto.
Di dalam benaknya selalu meminta untuk dekat laki-laki ini. Lebih dari itu hanya sebuah kebahagian tiada tara ketika mampu membuat laki-laki yang dia sayangi itu tersenyum untuknya. Semua akan terasa nyaman ketika dekatnya, hingga semua akan berpendapat kalau ini bak sebuah doramapun Ino tidak akan peduli. Ino sedikit mengusap genangan air di pelupuk matanya, lalu tersenyum manis. Ya, semua akan baik-baik saja selama mereka bersama.
Ino sedikit mengelap cairan itu lalu membalas senyuman Naruto dengan senyum manisnya. ''Syukurlah kalau begitu,'' ucap Ino seraya memeluk leher Naruto.
~oOo~
Hinata sedikit mengelap keringat yang membasahi kening dan pipi Kiba sementara laki-laki Inuzuka tengah terlelap karena ulah Shino. Beberapa waktu yang lalu Kiba tidak mau beristirahat padahal katahanan tubuhnya sudah menurun drastis entah karena apa, tapi yang pasti ada yang dia sembunyikan dari banyak orang, termasuk dua orang yang kini tengah sibuk dengan kegiatannya.
Tangan mungilnya dengan cekatan meremas kain di atas sebuah nampan kecil yang diambil dari pohon oleh Shino beberapa waktu yang lalu, rambut indigonya tergerai indah saat angin membelainya, memberi sececap rasa sejuk dikala kegiatannya mengompres kening Kiba.
Sementara itu, Shino hanya menyandarkan tubuhnya seraya menundukan kepala, kedua tangannya tersembunyi dalam saku jaket. Kaki kanannya sedikit terangkat untuk menginjak permukaan kasar pohon sementara kaki bagian kiri masih setia menjadi penopang tubuh tegapnya. Matanya yang dibalik kacamata terpejam tenang bersama hembusan nafas yang senada dengan degup jantung, pada intinya dia sedang tertidur sambil berdiri, sesuatu yang akan terdengar konyol namun itulah kenyataannya.
Sementara Hinata sibuk dengan kegiatannya dan Shino yang tengah terpejam, hari kiang tergelincir menuju peraduan. Langit mulai menjingga dengan para burung yang kembali pulang kesarang masing-masing dengan membawa sedikit nafkah untuk sang kecil yang tengah menunggu setia di sarang.
Rerumputan bergoyang senada dengan hembusan angin dikala senja hutan Negara Hi. Tak jauh dari lokasi peristirahatan kelompok Shino, hamparan rumput hijau membentang indah seolah menjadi sebuah keindahan yang tersembunyi di balik rerimbunan pepohonan.
Setelah memastikan suhu tubuh Kiba mulai stabil, Hinata mengelap keringat yang mengalir di pelipisnya, lalu duduk dengan bersimpuh di dekat tubuh sahabatnya yang merupakan anggota klan yang berdampingan dengan anjing. Sementara itu, Akamaru tengah terpejam tak jauh dari Hinata yang tengah duduk bersimpuh.
Seulas senyum mengukir paras Hinata, membuatnya tambah cantik bagaikan ratu dalam sebuah dongeng abadi seribu satu malam. Dia sedikit menghela nafas lalu mendongak dengan sedikit menyematkan helai sulur indigonya.
''Sudah sore, ya,'' gumam Hinata seraya menunduk lagi. Menatap paras Kiba sebelum bangkit menuju tas ransel yang dia taruh di dekat Shino yang berdiri sambil tidur. ''Tidak terasa sudah sore begini,'' ucap Hinata, menyulut percakapan temannya yang kini tengah berdiri bersandar pada pohon.
Namun setelah beberapa waktu tak ada jawaban dari Shino, bukannya apa, tapi kalau Hinata, Shino pasti paham kalau gadis lugu itu mencoba mengajaknya bicara dalam keheningan. Tapi diheningnya suasana ini, justru tambah hening ketika tiada sahutan dari Shino.
Hinata sedikit banyak merasa ada yang aneh, sebagai Kunoichi satu-satunya dalam tim, dia juga harus menaruh perhatian pada rekannya agar tidak ada yang terlewatkan untuk sebuah sosialisasi antara anggota tim. Dengan itu, Hinata berdiri, takut-takut memegang pundak Shino.
''Shino-kun?'' Tanya Hinata, setelahnya dia sedikit terperanjat saat tubuh Shino sedikit sempoyongan namun segera tersentak kaget seolah...,
''Ah, ya, Hinata?''
''Ka-kau tertidur?''
Shino sedikit merenggangkan tubuhnya, lalu menghela nafas singkat. ''Begitulah, maaf,''
Hinata tersenyum singkat sebelum menggelengkan kepalanya. ''Se-sebaiknya kau istirahat sambil berbaring, ti-tidak baik kalau tidur sambil berdiri.''
Untuk saat ini Shino sedikit banyak merasa bersyukur karena tengah mengenakan jaket bertudung dengan kerah yang hampir menutupi wajahnya hingga hidung, karena kalau tidak, mungkin Hinata akan melihat rona tipis di pipinya karena merasa malu ketahuan tidur sambil berdiri. Dan sesaat, matanya teralihkan pada sosok yang tengah terbaring seraya terpejam di dekat sebuah pohon besar yang dibawahnya terlihat rindang.
Sejam yang lalu, Kiba jatuh pingsan. Entah karena kehabisan Chakra atau apa, tapi sepertinya keadaan tubuhnya terlihat tidak baik-baik saja. Hingga membuat Hinata harus mengompresnya seperti saat ini, bukan demam memang, tapi suhu tubuhnya perlahan-lahan meningkat, bukan sebuah gejala demam yang biasanya menurut Shino.
Lalu pandangannya beralih pada Hinata yang tengah berjongkok di sebelah kananya yang terlihat seperti mencari sesuatu di dalam ransel. ''Bagaimana dengan Kiba?'' Tanya Shino.
''Di-dia baik-baik saja, Shino-kun. Ketahanan tubuh Kiba-kun sedang menurun drastis, ta-tapi aku sudah memberikannya pertolongan pertama.''
''Apa itu efek dari jurus Shinobi yang kita lawan tadi siang?''
Hinata sedikit menoleh kearah Shino seraya mendongak. Sedikit banyak dia mengerti dengan Shino yang kadang mudah khawatir pada anggota tim, bahkan mungkin, menurut Hinata, Shino tidak akan segan untuk kembali kesarang Naga sekalian kalau yang tertinggal di sana adalah temannya. Berpikir begitu, Hinata sangat yakin kalau hanya ada segelintir orang saja yang seperti Shino di jaman sekarang. Maka dengan itu, Hinata tersenyum, berharap temannya yang satu ini bisa tenang walau secara tidak langsung.
''Bu-bukan, ju-jurus itu memang meiliki efek terhadap tubuh ka-kalau tidak kena secara langsung, namun efek dari jurus itu sudah aku netralisir,'' jawab Hinata dengan kini kembali membongkar isi tasnya. Seingatnya, barang yang dia cari sudah dia masukan ke dalam ransel sebelum menuju gerbang Konohagakure sehari yang lalu untuk mengikuti acara upacara pelepasan para Chunnin untuk ujian Survival di hutan yang kini tengah mereka jelajahi.
Shino memilih diam seraya duduk di dekat pohon tadi yang dia jadikan sandaran dan membuatnya tertidur tanpa sadar. Dia menghela nafas singkat sebelum menyingkap tudung jaket yang menutupi rambut hitam panjang miliknya hingga turut menutupi dahi beserta ikat kepala berlambang desa tanah airnya. Kerah jaketnya dia turunkan hingga ke bawah dagu. Sejujurnya, apa yang dia lakukan saat ini sangatlah langka dia perlihatkan pada teman-temannya. Ibaratkan guru Kakashi yang tidak pernah memperlihatkan wajahnya secara keseluruhan, begitupun dengan dia, hanya segelintir orang yang pernah melihat wajahnya yang berkulit putih susu, hidung mancung, dagu runcing serta garis alis yang benar-benar membuatnya tampan. Hanya saja, yang benar-benar membuat teman-temannya merasa tabu adalah matanya.
Ya, dia tidak pernah sekalipun melepas kacamatanya, jadi, ketidak tahuan dalam artian yang sebenarnya adalah, bagaimana rupa Shino bila tidak mengenakan kacamata? Dan apa warna mata seorang Shino? Jika ingin bertanya pada orang yang tepat, segeralah pergi menemui pemimpin Organisasi Intel Konoha bernama, Shibi Aburame. Atau paling tidak, bertanyalah pada jendral Divisi sabotase, Muta Aburame. Maka jawaban yang kalian inginkan akan kalian dapatkan kalau mereka memang jujur menjawab, pasalnya, selain irit kata-kata, Aburame klan kadang masuk dalam kategori klan dengan data yang masih misterius.
''Segar sekali udaranya,''
Keduannya terperanjat saat mendengar ucapan yang memecah kesunyian diantara Shino dan Hinata. Keduanya menoleh bersamaan kearah dimana Kiba yang kini tengah menyeringai kearah mereka dengan sedikit menaruh kain kompres yang menempel di dahinya ke sebuah kantong plastik.
Kiba sedikit memegang kepalanya bagian kiri dengan sedikit meringis.
''Ka-kau baik-baik saja, Ki-Kiba-kun?'' Tanya Hinata seraya bangkit dan berjalan kearah Kiba yang kini tengah bersandar pada dahan pohon.
Kiba memberikan sebuah senyum lembutnya untuk Hinata sebelum terpejam dan menghirup udara dengan tenang, menikmati setiap sensasi sejuk yang membelai wajahnya. ''Begitulah.''
''Untuk malam ini, kita bermalam di sini.''
~oOo~
''Naruto?''
...
...
Krikkk... Krikkk... Kriikkk...
Sebuah keringat dingin menetes di wajah putih Ino saat sadar kalau kekasihnya sudah terlelap sejak tadi. Berarti dia berbicara sendiri sejak tadi. Berpikir begitu Ino jadi niat sekali untuk memberikan souvenir di wajah kuning langsat Naruto.
Dia sedikit menunduk, matanya yang senada dengan lautan dangkal itu kini malah memperhatikan mimik wajah kekasihnya ketika tertidur pulas dipangkuannya. Astaga, dia saja baru sadar atau apa? Guratan di wajahnya Naruto kini terlihat agak menipis dari yang sebelum-sebelumnya.
Ino masih ingat dulu, waktu mereka baru memasuki Academy Shinobi Konoha. Kala itu, guaratan di pipi Naruto masih sangat nampak dan sangat sulit untuk dikatakan terlihat samar karena warnanya hitam diatas kulit kuning langsat miliknya, tentu saja hukum persamaan warna itu sangat sulit dibantah, hitam ya hitam, kuning yang kuning, jadi kalau ada warna hitam yang tertoreh di wajah berkulit kuning langsat seperti Naruto, tentu warna hitam itu akan sangat mencolok. Namun sekarang, nampaknya warna guratan itu benar-benar hanya terlihat samar, bahkan kalau tidak jeli, guratan itu tidak akan nampak diwajah Naruto.
Tapi, ada beberap hal yang membuat Ino bingung dengan warna guratan di wajah kekashinya ini. Kalau guratan itu di akibatkan oleh luka, manamungkin bisa terlihat berubah samar. Dan kalau warna itu hanyalah sebuah tato, tidak ada tinta yang akan memudar segitu rapinya, pasti akan ada bagian yang tebal dan akan ada bagian yang tipis namun kalau memang benar itu sebuah tato, mungkin dia akan menghajar Naruto kalau laki-laki itu bernita menato tubuhnya.
Senyum Ino sedikit demi sedikit terukir saat Naruto dalam tidurnya meluruskan kaki jenjang Ino yang tadi bersimpuh dengan kini berbaring di pahanya, wajah laki-laki itu terbenam diperut datar Ino yang tanpa terhalang oleh kain sementara kedua lengan kekar laki-laki itu memeluk tubuh rampingnya, benar-benar dalam keadaan tertidur, membuat Ino sedikit merasa risih.
Sedikit dia belai helaian kuning jabrik milik kekasihnya. Rasanya ada perasaan berbeda bila dekat dengan Naruto, ada rasa yang membuncah walau hanya berjalan beriringan dengan laki-laki yang kini terlelap di pahanya. Rasa nyaman itu selalu hadir, ketenangan ketika bersama laki-laki itu selalu menyusup dalam relung hatinya, bermain bersama hati kecilnya yang menginginkan hal itu selalu eksis tanpa pernah memudar seiring waktu berjalan.
Walau dia akui bahwa waktu tidak pernah berhenti, setidaknya biarlah cinta itu mengalir dalam hatinya, juga walau dia tau kalau seiring datangnya cinta sejati pasti akan ada rintang abadi, setidaknya dia hanya ingin rasa kasih sayang itu masih bisa dia cecapi walau secuil sebuah simfoni abadi.
Hingga tanpa Ino sadari, itu merubah semua kepribadiannya. Memang, dia memang selalu nampak tegar dan manis di diluar, namun dia selau gundah hingga dia butuh tempat untuk bersandar pada bahu seseorang yang bisa dia jadikan pegangan. Dan keinginan untuk bersandar pada bahu seseorang itu eksis pada seorang laki-laki dengan penuh kejutan nomor satu benama Naruto bermarga suci Uzumaki, klan ketiga yang turut andil dalam pembentukan Konohagakure selain klan Senju dan klan Uchiha.
''Kau tau Naruto? Aku...,'' Pipi Ino merona sebentar sebelum dia kembali melanjutkan ucapannya. ''Mencintaimu,'' bisik Ino seraya membelai pipi Naruto, dia kecup sejenak pipi itu sebelum menyentuhkan dahi mereka berdua.
Dia harus berterimakasih, bersyukur kalau boleh ditambahkan karena semua Do'anya yang dikabulkan oleh Kami-sama. Tidak banyak yang dia inginkan, setidaknya senyum hangat laki-laki yang selalu mengisi hatinya ini hanya untuknya.
Rambut Ino sedikit berkibar tertiup oleh angin. Dia hampir lupa kalau jubah khas angkatan Rookie 12 dia tanggalkan di dekat tas ranselnya yang tergeletak tak jauh dari mereka berdua begitupun dengan rompi Chunnin milik Naruto, hingga kini laki-laki itu hanya mengenakan baju kaus oblong lengan panjang dan berwarna abu-abu, dibagian perut baju itu tergambar sebuah lambang desa daun tersembunyi. Namun tidak ada niatan dalam hati Ino untuk mengusaikan posisi ini, dia terlanjur merasa nyaman. Begitulah sifat alami seorang perempuan kebanyakannya, dan Ino sadari itu, jikalau sudah terlanjur merasa nyaman, maka akan tetap seperti itulah keadaannya, karena memang dia menginginkannya.
Ino sedikit menyematkan helaian rambut kuning pucat miliknya.
''Aishiteru yo, Naruto-kun.''
~oOo~
Gaara kini tengah terduduk nyaman di dalam kamar apartemen yang disediakan oleh pihak Konoha untuk para Kage yang datang untuk turut melihat jalannya prosesi ujian naik ketahap Joonin. Sebenarnya Chiyo sudah mengusulkan untuk turut memasukan Temari dan Kankurou dalam ujian tersebut, namun Gaara sebagai Kazekage berhak menentukan pendapat.
Maka sudah ditentukan, Temari dan Kankurou hanya boleh menerima perintah langsung dari Gaara tanpa pengecualian.
Sudah sejam ini, Gaara hanya terdiam seraya duduk di kusen jendela seraya melipat kedua tangannya. Matanya sedikitpun tak pernah lepas dari hiruk pikuk desa Konoha dibawah sana karena sekarang dia sedang ada di lantai delapan. Matanya yang hampir sama dengan warna gadis berambut yang mirip dengan permen kapas itu kini hanya memandang kosong kebawah tanpa ada rasa ingin tau. Lagipula, apanya yang ingin dia cari tau dari hiruk pikuk Konoha dibawah sana? Apa dia perlu menciptakan Suna Bunshin hanya untuk membuat rasa penasarannya hilang? Konyol!
''Gaara?''
Gaara tak bergeming, dia kenal dengan suara itu karena memang suara itulah yang selalu mengomelinya kalau dia tidak menurut. Siapa lagi kalau bukan temari, kakaknya yang berambut kuncir empat itu.
''Kau tidak pergi kepertemuan Kage di Kantor Hokage?''
''Sudah ada Kankurou,'' jawab Gaara singkat.
Temari yang kini sedang berdiri di depan pintu masuk hanya menggelengkan kepalanya singkat sebelum kembali menutup pintu kamar, pergi dari sana daripada menerima tatapan Gaara yang seolah siap membunuhnya kapanpun.
Kadang dia sedikit heran dengan adiknya itu, bila ada urusan yang menyangkut Naruto, dari tatapan tajam Gaara pasti berubah menjadi tenang. Temari memang mengerti kalau Naruto adalah teman pertama Gaara, tapi'kan tidak segitunya juga bersikap, kakaknya ini lho, bukan teman.
Blam...
Dan suasana kembali sunyi. Sama seperti sebelumnya.
~oOo~
Yang namanya tempat memanjatkan Do'a untuk orang-orang yang sudah gugur dalam perang memang sunyi. Begitupun dengan suasana sunyi yang tengah berlangsung di sekitar tugu monumen peringatan pahlawan Konoha yang sudah gugur di medan perang.
Semua terukir disana, nama siapapun ada di sana tanpa pengecualian.
Di depan tugu monumen itu, berdiri seorang Anbu dengan topeng anjing yang mana juga dibahunya terdapat seekor anjing kecil tipe pelacak berikat kepala Konoha. Anbu yang diketahui berjenis kelamin laki-laki itu hanya terdiam seraya menatap deretan nama-nama yang terukir, di sana sebelum menghilang bersama kepulan asap tebal.
~oOo~
Kini, sekelompok Chunnin itu tengah terduduk nyaman di bawah pohon, mencoba menghilangkan penat akibat terus berlari sejak tadi pagi tanpa henti meski sebenarnya mereka sempat beristirahat sebentar.
Laki-laki dengan rambut panjang berwarna coklat tengah terduduk sepi diatas sebuah dahan pohon sementara teman-temannya di bawan sana, entah apa yang mereka lakukan tapi laki-laki ini tidak peduli.
Matanya menatap beribu binta indah yang gemerlap di langit malam dengan ditemani sunyi. Dialah Hyuuga Neji, laki-laki keturunan seorang Joonin level S bernama Hizashi yang juga merupakan saudara kembar Hiashi Hyuuga.
Seperti Ayahnya, kini Neji benar-benar menjadi Shinobi yang paling dibanggakan di klan mereka bersama Hinata dan Hanabi, kedua saudara sepupunya. Dengan kejeniusan yang setimpal dengan Almarhum ayahnya, dalam kurun waktu satu tahun di Academy dia sudah masuk dalam deretan Chunnin dengan tingkat tiga, setara dengan Nara Shikamaru, temannya yang jenius tapi pemalas.
Neji sedikit menyandarkan tubuhnya pada dahan pohon sebelum menyusupkan kedua tangannya dalam kerah lengan bajunya.
Sementara di atas sana Neji sedang menyendiri, dibawah keadaan terlihat sedikit berbeda dengan adanya percakapan antara Shikamaru dan Chouji.
''Shika, menurutmu, apa kita bisa lolos?'' Tanya Chouji seraya menyuap nasi yang ada di kotak bentonya. Melahapnya dengan kasar bak orang yang benar-benar kelaparan.
Sementara yang di ajak mengobrol hanya menguap singkat. ''Tentu saja, memang kenapa Chouji?'' Balas tanya Shikamaru, alisnya hanya terangkat sebelah saat melihat cara makan Chouji. Dia walau sudah terbiasa dengan tingkah Chouji kalau lagi makan, tetap saja ilfeel itu ada.
Dengan cepat Chouji menelan semua makanannya sebelum menegak air yang ada di dalam botol. ''Tidak, hanya saja, aku merasa tidak yakin,''
~oOo~
''Ada apa Kakashi?''
''Melaporkan hasil pengintaian Godaime-sama.''
''Laporkanlah.''
Kakashi terdiam sejenak, tapi rasanya dia sangat yakin untuk menyampaikan hasil pengintaian langsung pada Godaime sangatlah biasa baginya. Setidaknya, sampai tadi siang dia menemukan ada yang ganjil pada tingkat Chakra seorang Kunoichi yang dia tau sebagai anggota tim Sasuke.
Sebenarnya, dia agak ragu dengan pengamatannya, walau dia juluki si Jenius, tapi kadang kala ada saja sebuah kesalahan yang bisa dia buat. Mungkin dia memang harus menyampaikan perihal ini.
Kakashi sedikit menghela nafas, sedikit dia singkap topeng kode anjing yang dia kenakan sebelum menampakan setengah wajahnya tanpa masker.
''Aku menemukan adanya Chakra Uzumaki—''
''Sudah pasti itu Chakra Naruto, Kakashi,'' sela Tsunade yang kini masih sibuk dengan berkasnya hingga tanpa dia sadari kalau Kakashi kini tengah menatapnya dengan intens.
''Anda masih ingat kalau saya ditugaskan untuk mengintai kelompok mana? Setidaknya itu perintah langsung dari anda.''
Gerakan tangan Tsunade seketika berhenti saat mendengar ucapan Kakashi. Alisnya sedikit berkerut sebelum dia membuka dokumen Misi yang tadi pagi dia simpan dilaci meja kerja. Tangannya membuka dokumen itu sejenak sebelum matanya membelalak lebar lalu dengan cepat menoleh kearah Kakashi.
''Jika anda menyuruh saya untuk mengintai kelompok lain, maka hanya kelompok itu yang akan saya intai tanpa peduli dengan kelompok lain, Tsunade-sama,''
''Ma-maksudmu, ada Uzumaki lain diluar sana selain Naruto, begitu?'' Ucapan Tsunade bergetar entah kenapa, kedua tangannya membekap mulutnya sendiri seraya menggelengkan kepala seiring ketidak percayaan mulai menjejali pikirannya.
Bukankah garis keturunan Uzumaki berdarah murni sudah wafat beberapa tahun yang lalu? Kushina, Uzumaki Kushina, adalah garis keturunan klan Uzumaki berdarah murni yang telah wafat semenjak teror Kyuubi yang menewaskan kedua orang tua Naruto itu.
Tapi, mana mungkin Kushina selamat dalam keterpurukan desa akibat ulah Kyuubi saat itu. Dia, dengan mata kepalanya sendiri melihat bagaimana prosesi penyegelan Kyuubi yang dilakukan oleh Minato dan Kushina untuk menyelamatkan Konoha yang berujung pada tewasnya kedua pasangan muda tersebut. Oleh karena segel itupulalah, Youndaime sang Konoha no kiiroi senkou di kenang abadi di hati penduduk Konoha, karena tanpa pengorbanannya yang memanggil Shiki Fujin, mungkin Konoha tidak akan seperti sekarang.
Tapi, siapa Uzumaki ini? Tunggu, dia memerintahkan Kakashi untuk mengintai tim Sasuke, jika Kakashi menemukan adanya Chakra Uzumaki pada salah seorang diantara mereka berempat, yang pantas dicurigai hanya satu...
''Karin, wanita berambut merah darah yang merupakan anggota tim baru di Tim Ibiki dan Inoichi.''
Ucapan Kakashi kini membuat Tsunade menjadi gusar. Dia sedikit beruntung karena dari sekian banyak Shinobi, hanya Shinobi terpilihlah yang mampu melihat dan membedakan Chakra Uzumaki yang dibilang suci itu dengan Chakra Shinobi biasa. Beruntung Konoha punya Kakashi, seorang Shinobi pewaris tahta klan Hatake yang terakhir yang memiliki bakat alami dalam membeda-bedakan setiap jenis Chakra. Sebagai rahasia yang perlu ditambahkan, Kakashilah yang pertama kali menyadari bahwa Kushina merupakan anggota klan Uzumaki.
''Lalu, kita harus bagaimana Tsunade-sama?'' Tanya Kakashi seraya menyuruh Pakun sang anjing pendamping untuk kembali menghilang. Sementara itu Tsunade tengah memijit keningnya.
''Mau tidak mau kita harus menjaga mereka, mungkin kalau perkiraanku tidak salah, masih banyak lagi Uzumaki di luar sana,''
''Maksud anda?''
Tsunade mendongak menatap Kakashi, kini laki-laki itu sudah mengenakan masker. Mata sayu Kakashi tidak bisa membuat Tsunade berpikiran sama dengan orang-orang diluar sana yang mengatakan kalau dia terlihat seperti orang idiot, justru orang yang berpikir dia idiotlah yang pantas dipanggil idiot.
Senyumnya merekah, membuat Kakashi jadi risih melihatnya. ''Karena Uzumaki klan salah satu dari tiga klan pendiri Konoha, sebagai gantinya kita harus membuat mereka merasa aman di sini, kau mengerti?''
Kakashi mengangkat sebelah alisnya sebentar, lalu dengan perlahan dia kembali memakai topeng Anbu level Joonin miliknya. Sejenak menghela nafas, lalu mengangguk paham. Setelahnya ruangan kembali sunyi sama seperti saat dimana Kakashi belum datang beberap waktu yang lalu.
Berpikir Uzumaki itu jelas mengingatkannya dengan Naruto, dulu, Jiraiya pernah menyinggungnya untuk mencari Uzumaki yang masih hidup dari pembantaian itu. Tapi saat itu, Tsunade masih belum mengerti duduk permasalahannya, makanya dia menganggap itu adalah hal yang sepele, namun sekarang, semua itu terbukti, yah, mungkin masih ada banyak Uzumaki yang lolos dari pembantaian hari itu.
Tsunade tak habis pikir, orang macam apa yang berani menyerang klan abadi macam Uzumaki? Klan yang bertahtakan gen Rikudou itu bukanlah sebuah klan biasa dengan Ninjutsu yang biasa pula, tapi Ninjutsu-Ninjutsu mereka ada pada tingkat di luar nalar.
~oOo~
''Sakura, kau tidak tidur?''
Gadis dengan rambut merah jambu itu hanya menggeleng singkat, matanya menatap api unggun dengan kosong, kedua kakinya tertekuk lalu dipeluk oleh kedua lengan mungilnya.
''Aku tidak mengantuk, Sai,'' jawab Sakura seraya mendongak menatap langit malam yang penuh dengan bintang dari balik pepohonan. Tubuhnya terbalut jubah khas Rookie 12 sebagai pengganti selimut.
Sementara itu, Sai hanya berdiri diam dibelakang Sakura. Matanya memperhatikan gadis itu dari belakang dengan seksama, seolah tak mau mencari obyek lain untuk peralihan matanya.
Dinginnya suhu malam tak membuatnya merasa kedinginan, karena itu hanyalah hal yang biasa dihadapi oleh setiap Shinobi manapun di dunia ini. Sai melangkah sejenak, berdiri di samping Sakura. Lalu duduk dengan perlahan.
Sakura menoleh, menatap Sai yang kini juga memperhatikan api unggun. Alisnya sedikit naik sebelah. ''Sai, dimana jubahmu?'' Tanya Sakura.
Sai menoleh, menampakan senyum palsunya singkat seraya menggelengkan kepala. ''Bukankah jubah yang kau kenakan itu jubahku?''
Sakura tersentak kaget, tubuhnya seketika membeku dengan pipi yang merona. Dia baru ingat kalau jubahnya tadi sudah tidak bisa dipakai karena terkena jurus musuh yang secara spontanitas menyerang mereka. Berpikir kalau Sai merasa kedinginan juga, Sakura membuka perlahan jubahnya, bagaimanapun, ini bukan miliknya.
Disela kegiatan Sakura yang mencoba membuka setiap kancing jubah, tubuhnya membeku untuk yang kedua kalinya saat kedua tangan Sai memegang bahunya. Pipinya merona sesaat.
''Tak apa, pakai saja,'' ucap Sai yang kembali melayangkan senyum palsunya pada Sakura, dia sedikit banyak mulai bertanya kenapa pipi gadis itu bersemu. Namun dia segera membuangnya jauh-jauh dalam pikirannya, untuk itu dia akan mengurusnya nanti.
Matanya sedikit membelalak. ''Bagaimana denganmu?'' Tanya Sakura. ''Kau juga pasti kedinginan, Sai,'' tambah Sakura.
Dapat dia lihat lagi-lagi laki-laki itu menggelengkan kepalanya singkat dengan disertai senyum yang seperti biasanya. Senyum palsu. Perlahan, senyum Sakura merekah.
''Apa ini hanya trik kau yang dapat dari buku, eh?'' Tanya Sakura sambil terkekeh, lalu memukul bahu Sai singkat sebelum tawa jahilnya mulai menjadi.
Sai terlihat sedikit tidak nyaman. ''Tidak juga, masih banyak yang perlu aku baca setelah ujian ini selesai,'' jawab Sai sesekali melirik Sakura yang tengah tersenyum. Manis, pikir Sai.
~oOo~
''Suigetsu, habiskan makananmu!''
''Malas, ini juga makananku, bukan makanamu, jadi jangan mengaturku,''
Kedua manusia berbeda gender itu kini membuat suasana yang tadinya nyaman saat makan malam malah menjadi ajang adu mulut antara dua orang yang memiki perbedaan sifat.
Karin dan Suigetsu memang jarang baikan, yang menjadi keseharian mereka hanyalah bertengkar dan bertengkar, membuat Sasuke kadang gatal ingin menebas mereka saat itu juga dengan Kusanagi.
~oOo~
''Naruto, kau tidak tidur?''
Laki-laki berambut kuning yang tengah duduk di dekat api unggun kini menoleh perlahan kearah dimana suara itu datang menyapa indera pendengarannya. Matanya yang berwarna biru itu dapat melihat kalau Kekasihnya kini tengah berbaring dengan berbantalkan ransel mereka yang sudah dijadikan satu dan jubahnya yang dia pakai sebagai selimut, sedangkan jubah Naruto dia jadikan alasan.
Naruto memberikan sebuah senyumannya sementara kepalanya menggeleng. ''Aku sudah tidak mengantuk Ino-chan, sebaiknya kau tidur saja, aku akan menjagamu,'' ucap Naruto seraya beranjak dari perapian jadi mengambil tempat disebelah Ino. Dia berbaring miring dengan telapak tangan kanan yang menyangga kepalanya. Kedua alisnya naik bersamaan. ''Sudah tidur saja!''
Ino sedikit memiringkan kepalanya kekiri dengan pandangan bertanya, tidak biasanya Naruto bersikap seperti ini, biasanya sih dia akan langsung menerjang Ino kalau sedang akan tidur bersama. Namun dari tatapan teduhnya, Ino yakin itu laki-lakinya, dia sangat yakin, berarti ada yang Naruto sembunyikan.
''Ada apa? Kenapa kau menata—''
Ucapan Ino terhenti saat tangan kiri Naruto terulur untuk mengusap pipinya yang bagian kanan, dengan posisi berbaring seperti ini ditambah hanya perapian yang menerangi gelapnya lokasi sekitar, membuat mereka hanya mampu melihat sebelah wajah masing-masing.
Pipi Ino sedikit merona, sedikit banyak dia beruntung dengan suasana yang hampir gelap begini, jadi Naruto tidak melihat kondisi wajahnya saat ini.
''Aku tidak bisa tidur,''
Ucapan Naruto untuk yang kesekian kalinya menamparnya kembali kealam nyata. Matanya menatap mata Naruto balik dengan pandangan polos. Nafas keduanya teratur walau degup jantung Ino mulai berpacu. Ini yang dia benci, kalau sikap dewasa Naruto sudah keluar, dia akan jadi sedikit irit kata namun katanya-katanya cukup dapat dilihat dari tatapannya. Beruntunglah dia sempat belajar bahasa isarat.
Ino sedikit kaget saat sadar kalau jarak wajah diantara mereka berdua sudah sangat dekat, bahkan hembusan nafas Naruto yang menghangatkan dapat dia rasa, tatapan mata teduh itu tertuju langsung kearah matanya, seolah mencoba masuk dalam pikiran.
Rasa hangat itu datang lagi, kali ini rasa hangat itu dia rasa akibat elusan tangan Naruto pada pipinya, permukaan tangan kekasihnyanya yang kasar dapat Ino rasa pula. Dan untuk yang kesekian kalinya, dia membatu, hanya mampu terdiam seperti orang bodoh yang diperlakukan seperti ini oleh Naruto.
''Kau..., cantik, suki desu.''
Jantung Ino hampir copot. Apa yang tadi Naruto katakan? Dia tidak salah dengar? Ada angin apa Naruto berkata seperti itu?
''Uhm, suki dayo, Naruto-kun,'' balas Ino sambil memasang senyum manisnya walau dia cukup heran dengan sikap dewasa Naruto. Membuatnya lebih bingung juga karena perubahan emosi laki-laki ini cukup signifikan dari waktu kewaktu. ''E-eh?'' Mata Ino membelalak saat Naruto dengan cepat memberikan sebuah kecupan singkat pada bibirnya, meninggalkan rasa keterkejutan dalam hatinya.
Sedangkan Naruto, dia hanya menyeringai kemenangan.
~oOo~
o
o
.:To Be Continued:.
Aaaa...*jedotin pala ketembok* Yahiko benar-benar telat publish ini penpik, Yahiko benar-benar minta maaf Minna-san, Hontou ni. Akhir-akhir ini Yahiko sangat sulit untuk mempublish fic mengingat ulangan akan di adakan sebentara lagi, mohon Do'anya ya Minna-san.
Ohya, untuk yang menunggu updetan Vampir? Mungkin akan agak lama, tapi ini tinggal di publish aja kok, mesti lirik-sana lirik sini dulu untuk ngecek Typo, dan inipun Yahiko tidak yakin kalau udah bersih dari Typo(s) tapi setidaknya Yahiko harap maklum. Inip fic pun Yahiko pikir masih ada beberapa typo, pokoknya Yahiko harap maklum Minna-san
Yasud, untuk kedepannya, boleh Yahiko minta lagi Reviewnya? Mau saran yang pedas atau tidak yang penting membangun ('o')/
Sign: Yahiko namikaze
click this please?
v
v
v
