Disclaimer: All Character in Naruto belong to Masashi Kishimoto© 1999.

Story and Chara OC © Yahiko namikaze, 2011.

~oOo~

Title: Konoha Kiiroi Senko

Rated: T (semi M) ^^V

Genre: Adventure and Romance

pair: Naruto U. x Ino Y.

~oOo~

Backsound:

Menatap Langit by Peterpan

Powerless by Linkin Park

(Original Soundtrack: Abraham Lincoln, Vampire Hunter)

~oOo~

Summary: dirinya amat sangat mirip dengan sosok 'dirinya' yang telah rela mengorbankan dirinya sendiri demi Desa dan orang yang dicintainya.

~oOo~

Warning: OOC, OC, AU, CANON, TYPO(s), GAJE, ANEH, JELEK, EYD berantakan, dsb.

.

.

.

.

~oOo~

''Ada lebih dari Dua belas Shinobi,'' ucap Naruto dengan mode Sannin yang kini tengah berdiri di atas sebuah dahan pohon, tangannya merapal segel Chakra alam dengan kepala menunduk. Lalu kemudian menoleh kearah Ino yang berdiri disebelahnya, ''mungkin ada lebih banyak lagi di depan sana. Entahlah, teknik sensorku belum sempurna, Ino-chan''

''Lalu kita harus bagaimana, Naruto?'' Tanya Ino yang tengah memegang sebilah Kunai Jikkukan Naruto, dia sudah tidak perlu lagi mementingkan efek samping jurus Hiraishin itu, toh Naruto sudah menanamkan segel padanya, kalau terjadi apa-apa Naruto pasti merespon dan menemukannya dengan mudah.

''Apa perlu kita habisi mereka semua?''

Ino menggelengkan Kepalanya pelan, membuat poni yang selama ini menutupi mata kirinya jadi terlihat.

''Kurasa Itu tidak perlu Naruto-kun,...'' Jawab Ino yang kini siap melompat. ''Ujian ini bukan hanya bagaimana cara kita mengatasi serangan mendadak dan yang lainnya, tapi kita juga harus belajar mendeteksi tanpa di deteksi.'' Mata biru Ino menatap berikade di bawah sana dengan serius, bahkan keningnya berkedut tanda sedang berpikir keras.

Naruto melirik kekasihnya singkat dengan senyum kecil yang mengembang, kalau sudah begini dia tidak yakin yang di sebelahnya adalah kekasihnya yang hobi bergosip dan cekikikan sewaktu belanja. Ah, dasar perempuan, susah sekali untuk di tebak.

Kecil-banyaknya ucapan Ino ada benarnya, tapi kalau harus melewati berikade itu tanpa harus di deteksi sangatlah sulit, yang ada di sana adalah kumpulan Joonin dari iwa dangabungandaribeberapadesal ainnya, dimana Desa itu terkenal dengan sistem pendeteksi tingkat tinggi.

''Kalau ketahuan bisa gawat,'' ucap Ino seraya menoleh kearah Naruto. ''Kenapa tidak menggunakan Jikkukan saja sih?''

Naruto Terdiam sejenak terlihat tertarik dengan usul Ino, sebelum kemudian memasukan Kunai Jikkukan kedalam tas pinggangnya yang bagian kanan. ''Akan kita coba''

''Aku hanya berpendapat, jangan dianggap serius, tapi kecepatan Jikkukan juga pasti mereka tidak akan bisa mengelak,''

Naruto terdiam sejenak saat pertanyaan itu terlontar dari mulut Ino, kini keduanya sama-sama mencoba untuk menacari jalan keluar yang tepat. Kalau salah langkah, mereka bisa dipastikan gagal. Dan Naruto tidak tahan harus jadi Chuunin selamanya, tidak ada dalam sejarah Hokage Konoha yang masih berstatus Chuunin.

Mata Naruto tiba-tiba berkilat, ekspresi seriusnya membuat Ino terdiam beberapa saat sebelum ketika dia melihat Naruto bangkit dengan bersembunyi di dahan pohon yang paling tinggi. Dapat dia lihat Naruto yang tengah merapal segel Kagebunshin.

''Disaat seperti ini?'' Gumam Ino seraya kembali melihat kedepan untuk memastikan bahwa memang tidak ada yang menyadari keberadaan mereka.

Ino segera menoleh saat tekanan Chakra Naruto menunjukan bahwa sinkronnya sudah selesai dengan banyaknya kembaran Naruto yang berdiri tak jauh darinya, masing-masing dari Bunshin itu memegang sebilah Kunai Jikkukan dengan erat.

''Naruto, apa yang akan kau lakukan,'' bisik Ino.

Naruto menoleh, lalu melemparkan senyum kecilnya yang menenangkan. ''Kau diam saja di sini dan perhatikan kalau tidak mau ketinggalan aksi 'kilat orange','' tuturnya dengan bangga lalu kembali mengintip berikade Bunshin dari sela-sela dedaunan. ''Kita coba dengan teknik Hiraishin no Jutsu, kalau tidak berhasil, berarti kita gagal, poinnya lima puluh-lima puluh.''

Dia sudah mencoba ini sebelumnya, setidaknya di sana ada tiga puluh orang lebih dan cukup untuk memusnahkan mereka semua tanpa harus ketahuan lalu di labrak dengan berbagai Jutsu yang nanti hanya akan merepotkannya. Setelah menarik nafas dalam, Naruto memerintahkan Busnhinnya untuk melemparkan Kunai Jikkukan yang mereka pegang ketika dia sudah merapal segel Hiraishin Level B.

Ino yang tidak cukup memahami maksud dari Naruto hanya berdiam diri dengan lebih baik memantau berikade di sana dengan cara merasuki seekor burung elang yang kebetulan melintas di atas mereka. Sintenshin no jutsu dapat memudahkannya melihat jumlah bunshin-bunshin di sana, kurang lebih tiga puluh, dan Bunshin Naruto juga ada tiga puluh. Dan bahkan ada anggota klan Hyuuga yang juga berjaga di sana, tentunya hanya Bunshin.

''Siap, sekarang!'' Teriak Naruto setelah dia merapal segel lalu bersiap menyerang ketika Kunai Jikkukan dilemparkan kearah Berikade dengan cekatan oleh para Bunshin yang berdiri tak jauh darinya.

Naruto dapat merasakan keterkejutan mereka saat melihat puluhan kunai 'aneh' melayang di udara kemudian menukik tajam kearah mereka dengan bidik, formasi Kunai yang sulit untuk di hindari itu membuat pasukan di sana kelabakan.

Bunshin dari Kotaru Hyuuga hanya dapat menganga selebar yang dia bisa saat melihat beberapa Shinobi menghilang dalam kepulan asap setelah sebelumnya mereka berteriak kesakitan seperti di tikam benda tajam. Byakugannya hanya dapat melihat sepintas bayangan Chakra yang datang menyerang namun tidak dapat memastikan siapa itu.

''Apa ada yang melihatnya!''

''Da-dari mana asalnya, cepat jawab pertanya—Ahk!''

''Uwaaaghh!''

''Doton: Doryu—Arhhkkk!''

''Apa-apaan ini! Tunjukan siapa diri—Uaghh!''

Beberapa dari mereka ada yang mencoba untuk membendung serangan cepat itu dengan membangun pelindung tanah namun gagal dan menghilang saat seseorang menyerang dengan hanya meninggalkan bayangan orange atau bahkan di sela waktu tidak meninggalkan bayangan, menebas mereka dengan tanpa ampun. Ada yang hanya bisa pasrah karena kecepatan serangan asing itu dan berteriak kesakitan saat serangan kembali di lancarkan.

Kotaru yang siaga dengan formasi Hyuuga Hake hanya menganga untuk kesekian kalinya hari ini saat tiba seseorang yang dia kenal sebagai bocah Kyuubi tiba-tiba berdiri di depannya tepat ketika Kunai yang melayang kearahnya mengenai tanah, dan dia sama seperti yang lain, hanya tak berkutik ketika serangan berupa tusukan dileher membuat Bunshinnya menghilang.

Ino yang melihat itu hanya membelalak ketika seluruh Shinobi berguguran satu persatu dengan teriakan pilu mereka, ketika sesosok bayangan orange datang dengan kecepatan yang luar biasa dan memporak-porandakan berikade mereka yang solit, di akhir penyerangan itu Ino dapat melihat Bunshin yang masih dapat bergerak dan berusaha menyentuh lonceng yang menandakan kalau mereka di serang dan markas pusat dapat mengetahuinya.

Ino berusaha untuk tidak melihat adegan dimana Naruto membunuhnya dengan cara menusukan Kunai pada kepala Bunshin itu sedetik sebelum jari tangannya menyentuh lonceng emas dengan ukiran naga itu.

~oOo~

''Katon: Gouka mekyaku!''

Bummm...

''Mereka banyak sekali.''

''Tenanglah Suigetsu, dan jangan berisik!''

''A-apa kau bilang? Jangan berisik! tidakkah kau lihat kedepan dan hitung berapa banyak jumlah mereka mereka?!'' Suigetsu berteriak kesetanan seraya menebas musuh yang datang dengan pedang andalannya, serangan musuh yang mengenainya hanya tembus karena bantuan elemen air yang dimilikinya.

Sasuke mencoba mengambil nafas panjang setelah sebelumnya menggunakan elemen api dengan jangka luas yang lebar. Dia rasa itu cukup menghancurkan sepuluh Bunshin sekaligus, bagaimana mungkin mereka bisa masuk perangkap seperti yang Karin bilang? Padahal tidak ada benang sensor di sekitar sini, akan lain cerita bila di sana ada anggota Yamanaka.

Sialan!

''Masih ada dua puluh Bunshin di depan sana, dan mereka setara dengan Joonin Konoha,'' ucap Karin sambil manikkan posisi kacamatanya kemudian menengok kedepan. Kini mereka tengah bersembunyi di selubung yang dibuat Juugo dari elemen tanah dan, jadi kecil kemungkinan pertahanan mereka akan ditembus.

''Kita harus cari rencana, kita tidak bisa bertahan selamanya seperti ini.''

''Elemen air: Teknik Naga Air!''

Mereka semua menunduk ketika ada hantaman keras di perisai besar itu, Karin menutup telinganya saat suara hempasan antara elemen air dan perisai dari elemen batu membuat suara bak petir di siang bolong, sementara Suigetsu tengah berkeringat dingin sambil memegang pedangnya dengan erat seperti akan terjatuh dari jurang kalau dia sampai melepaskan pedangnya.

Sasuke tidak habis pikir dengan semua Bunshin di sana, level mereka masing-masing setara manusia yang menciptakannya. Bahkan dia sempat berpikir bahwa sekelompok Bunshin yang datang menyerang itu adalah Shinobi asli.

Matanya yang memasuki tahap Mangekyo itu, dengan sigap melihat keseliling medan tempur, mencoba menganalisa setiap Bunshin yang berdiri di sana. Dan giginya bergemeletuk saat sadar ada dua anggota Hyuuga yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berlindung.

''Sekarang bagaimana?'' Juugo yang tetap terlihat tenang sama dengan Sasuke itu hanya bersandar pada perisai yang dibuatnya untuk mereka, itupun dirasa belum cukup untuk melindungi mereka, dia bukanlah Shinobi dengan basis Kekkei Genaki. Dia segera merubah posisi tubuhnya saat sadar ada yang datang mendekat, dahinya berkerut.

''Ada apa?'' Tanya Karin yang melihat reaksi Juugo.

''Ada yang datang.''

''Hyuuga.''

~oOo~

Inoichi yang mendeteksi itu di markas pusat hanya berkeringat dingin bersama tiga puluh Chuunin yang merupakan gabungan dari empat desa, dia bisa merasakan kehadiran sosok itu namun tidak bisa menerka siapa gerangan yang mempunyai kecepatan seperti itu yang bahkan hampir tidak bisa di deteksi, untung saja dia berasal dari garis keturunan Yamanaka yang spesial, tapi tetap saja sosok itu seperti hantu, kecepatannya hanya meninggalkan bayangan berupa warna orange.

Seluruh Shinobi yang berada di belakang Inoichi tersadar dengan nafas terengah-engah sesaat ketika Bunshin mereka gugur dengan mudahnya oleh sosok yang datang menyerang, Kotaru yang berada di tengah barisan hanya menggeram kesal seraya memukul lantai dengan keras, Byakugannya bahkan tidak bisa membaca kecepatan Shinobi itu.

Tapi, bagaimana bisa 'dia' punya jurus dengan gerakan dan reflek sebegitu cepatnya? Apa itu bantuan dari Chakra Kyuubi? Kotaru menggeleng singkat, Chakra Kyuubi pasti terasa ketika akan menyerang, dan ini murni gerakan yang dihasilkan oleh Chakra manusia.

''Sialan, Sialan! Dia cepat sekali!''

''Berikade kita bahkan tidak hancur sama sekali, darimana dia bisa masuk?''

''Kunai itu.''

Semua mata langsung tertuju kearah Ibiki morino yang duduk di sebelah Inoichi, dia terlihat seperti baru selesai lari maraton puluhan kilometer tanpa tenaga Shinobi. Matanya berkilat tanda sedang mencoba menerka. Namun Inoichi tetap tidak tau siapa sebenarnya 'si kilat orange' ini. Setahunya hanya mendiang Yondaime yang mempunyai kecepatan yang sama dengan Shinobi yang datang dengan serampangan dan menyerang mereka dengan kecepatan yang luar biasa.

''Ibiki, mungkinkah itu dia?''

''Ya, aku melihat lambang itu di bahu kanan dan kirinya.''

Semua peserta di ruangan itu hanya beradu pandang dengan pandangan bingung akan siapa yang dimaksud oleh dua orang yang duduk di depan sana.

Muta Aburame yang berada di pojok ruangan hanya bisa diam, dia juga melihat lambang itu di bahu sebelah kiri si penyerang itu, serangganyapun samar-samar menyadari Chakra dari Kunai itu sangat mirip dengan Chakra teman adiknya, siapa lagi kalau bukan si 'Dia'.

Tapi bagaimana mungkin dia punya jurus yang sama dengan Almarhum Youndaime? Bahkan Jiraiya yang dikatakan sebagai Sensei dari Youndaime pun tidak mampu menguasai jurus elemen angin level SSS keatas itu. Jikkukan technic: Hiraishin no jutsu,... tidak mungkin dia mampu menguasai jurus itu. Batin Muta Aburame seraya kembali menatap kedepan, bahkan serangganyapun berdengung tanda setuju. Mungkin dia akan tau sendiri lebih jelasnya nanti.

~oOo~

''A-apa?'' Tsunade berkoor dengan nada tidak percaya setelah membaca surat dari Ibiki. Dia tidak mungkin salah baca dan tidak mungkin berpikir Ibiki sedang bercanda. Mata Hazelnya mengulang kembali untuk membaca isi dari surat itu.

''Ada yang salah?'' Jiraiya merasa perlu mengetahuinya. Tangannya dia lipat di depan dada, konsentrasinya untuk memikirkan edisi terbaru novelnya rusak sudah akibat teriakan Tsunade. Alisnya naik sebelah.

''Kau benar.''

''Hmmm?''

''Dia sudah menguasai jurus itu.''

Jiraiya tersenyum sambil menatap langit dari balik jendela dengan tatapan bangga yang mengarah ke langit biru. Dia sudah lama tidak merasakan hal yang seperti ini semenjak kepergian mendiang muridnya sehabis melawan Kyuubi yang tersegel padanya.

''Yah, dia'kan anaknya, walau kecil kemungkinan dia bisa menguasai jurus itu. Tapi toh, dia sudah benar-benar bisa melampaui ayahnya sekarang, apa aku berhasil, Tsunade?''

Tsunade tersenyum kecil seraya menoleh kearah Jiraiya. ''Kau memang bisa mendidiknya dengan caramu sendiri, makanya aku mempercayakannya padamu, dulu.'' Jawab Tsunade dengan sedikit decakan di sini.

~oOo~

''Haaa!''

Brakkk...!

''KAU PIKIR BISA MENGALAHKANKU ANAK MUDA?!'' Shinobi dengan ikat kepala bentuk gunung itu berteriak kesetanan saat sebuah jurus berhasil mengenai bahu kirinya. Dan dia sukses memuntahkan darah, ''SI-SIALAN! HYUUGA SIALAN!''

Neji menyeringai puas sementara Shikamaru masih mengikat musuh dengan jutsu pengikat bayangan dari belakang dengan dilindungi oleh Chouji.

''Jurus itu akan menutup saluran Chakra pada bagian tubuh yang terkena sentuhannya, kau sudah tamat.'' Ucap Neji dengan datar, dahinya sedikit berkerut saat melihat Bunshin di sana masih bisa berdiri, ingatkan dia untuk memberikan pukulan terakhir kali ini. Lagi pula dia sudah bosan dengan permainan ini.

Neji maju selangkah, lalu perlahan dua langkah hingga tercipta langkah-langkah besar lainnya yang membuatnya makin mendekat kearah musuh yang dengan bodohnya terkena perangkap Shikamaru, sekarang Neji harus mengakui kalau Shikamaru memang hebat walau dia satu-satunya Shinobi dengan tingkat Chakra yang rendah seangkatan mereka.

Nafas Neji terhembus perlahan saat dia kini berdiri tepat di depan Shinobi yang entah statusnya Chuunin atau Joonin ini, tapi ,pikir Neji, Dari setiap tekanan Chakra yang dia keluarkan ketika Ninjutsu mode aktif, dia seorang Chuunin.

''Huhh,... Ma-mau apa kau!'' Tanyanya ketika tangan kanan Neji terangkat dengan jari telunjuk dan jari tengah yang mengarah kedahinya. Mata Shinobi itu terbelalak ketika merasakan tekanan Chakra yang besar tengah terpusat pada kedua jari yang tengah mengarah ke dahinya. ''He-hei, hentikan itu!''

''Sudah terlambat,'' ucap Neji pelan tanpa peduli dengan teriakan dan makian Shinobi itu terhadapnya, lagipula dia sudah tidak peduli dan tidak akan pernah peduli siapapun yang kini tengah berdiri di depannya.

''Hakke Hou.''

''Argghhhh!''

Dan teriakan itupun bergema di tengah hutan yang lebat dan gelap, menyisakan serentetan kejadian itu untuk menjadi masalalu bersama penghuni hutan lainnya. Gemerisik dedaunan terdengar jelas, sengatan matahari terlihat menyilaukan.

~oOo~

''Kiba-kun, ka-kau tidak apa-apa?''

''Yah.''

''Kau terlihat pucat.''

Shino hanya melirik Kiba dari balik kacamata, sedikit banyak Kiba memang terlihat pucat, tapi bukankah Hinata tadi sudah mengobatinya. Itu cukup membuat Shino bingung, padahal salep Hinata juga bisa mengatasi luka dalam.

''Shino-kun be-banar Kiba-kun, ka-kau terlihat pu-pucat,'' ucap Hinata seraya berdiri di depan Kiba lalu mendongak, menatap wajah Kiba yang terlihat memucat, setetes keringat mengalir di pelipis laki-laki itu, membuatnya merasa khawatir kalau salepnya tidak bekerja terhadap imun tubuh Kiba.

Padahal, Hinata pikir, salepnya tidak pernah gagal. Kalaupun lambat bereaksi paling jangka waktunya tiga puluh detik kemudian pasti bereaksi, namun apa yang terjadi pada Kiba seolah-olah salepnya terlihat tidak berguna sama sekali.

''Kau tenang saja Hinata,'' ucap Kiba seraya mengusap puncuk kepala Hinata kemudian melanjutkan langkahnya tanpa harus menabrak Hinata yang berdiri di depannya. ''Aku baik-baik saja,'' lanjutnya seraya menoleh kebelakang lewat bahu bidangnya dengan senyum lebar seperti biasa yang dia perlihatkan, sangat berbeda dengan Akamaru yang terlihat murung.

Dan Shino terlihat makin curiga.

Hinata mengulum senyum kecil.

~oOo~

Gaara bersama kedua kakaknya baru saja memasuki ruang rapat Hokage, dan di sambut oleh aura pekat mereka yang tengah memasang wajah datar, dahi mengerut tanda tidak bersahabat. Gaara pikir itu tanda bahwa mereka tidak suka kalau dia terlambat, namun nyata dia salah.

''Kenapa ada Shinobi sehebat dia di sana?''

''Itu akan terdengar ganjil apabila ada Shinobi kelas SSS tengah mengikuti tahap Kenaikan Joonin, apa kau menugaskannya perintah rahasia, Hokage-sama?''

Satuhal yang disadari oleh Kankurou tentang Mizukage cantik yang tengah duduk di sebelah tuan Tsuchikage, mulutnya tajam, lebih tajam dari Temari kalau disaat seperti ini, padahal kemarin Kankurou sempat terpesona karena senyuman manis wanita berambut kuning gelap itu.

''Kita membahas soal apa?''

Suara datar dari seorang Gaara membuat seisi ruangan segera menolehkan kepala mereka kearah sirambut merah yang tengah duduk tenang dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.

Mata hijau gelap itu melirik semua yang menghuni ruangan itu bergantian dengan rautnya yang datar. ''Apa hanya karena masalah itu aku dipanggil?'' Tanya Gaara, ''kupikir itu bukan masalah.''

''Jaga etikamu, Gaara.''

Bisikan Temari bagai angin sepoy yang lewat di telinga Gaara.

''Bukankah dia masih Chuunin?''

''Kau tau apa?'' Gertak Raikage seraya mengepalkan tangannya, menatap Gaara merendahkan.

''Untuk menerima kenaikan jabatan atas predikat Chuunin, harus melalui tes, tes itu kini tengah berlangsung, sebenarnya ada apa dengan kalian?''

Tsunade menatap Gaara tak percaya, wanita yang awet muda itu hampir bertanya berapakah umur pemuda itu ketika dia sadar kalau Kazekage di depannya ini adalah temannya Naruto, dia pikir Kazekage Gaara juga awet muda sepertinya.

Wibawa dan ketegasannya, entah kenapa mirip sekali dengan aura kakeknya dari apa yang pernah dicirikan oleh Gurunya.

''Dia Shinobi kelas SSS, tidakkah aneh mengingat dia mengikuti tes?'' Ucap Oonoki dengan tenang, kakek tua itu melipat kedua tangannya seraya bersandar di bangkunya. ''Bukankah untuk Shinobi seperti itu, ada pengecualian untuk menapaki tahap Joonin?''

''Harus menjalankan misi level SSS minimal dua tahun, atau menjadi Anbu selama kurang dari dua tahun,'' tambah Mei Terumi seraya menatap Tsunade.

Gaara menatap Tsunade dalam diam, hembusan nafas tenang laki-laki itu memikat kaum hawa di dalam ruangan itu tidak terkecuali Tsunade dan Mei, kedua wanita dewasa itu menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut Kazekage muda itu.

''Sunagakure sudah beraliansi dengan Konoha selama Lima tahun,'' ruangan sunyi membuat suara datar Gaara semakin jelas dipendengaran mereka. ''Nama Naruto Uzumaki ada dalam daftar barter Ninja untuk menjalankan misi level SSS yang tidak bisa ditangani oleh pihak Shinobi kami, selama dua tahun itu dia diberi misi yang levelnya sama, karena dia Shinobi terlatih yang pernah kami temui, yang mana itu membuatnya harus tinggal selama dua tahun di Sunagakure.''

Mei Terumi hampir saja menjerit tidak percaya mendengar itu, apa laki-laki yang tengah mereka bahas ini Hantu, Monster atau semacamnya? Lepas dari fakta bahwa ia seorang Jinchurikki.

Raikage membelalak.

Oonoki tetap dengan ekspresinya yang tak terbaca sementara Tsunade mulai tersenyum, dia terlihat sulit menahan senyumnya.

''Mungkin dia bodoh hingga tidak mau diangkat menjadi Joonin melalui cara itu, dia juga menolak proposal sebagai warga kehormatan di Sunagakure.'' Lanjut Gaara, ''dia bahkan mengancam untuk membakar proposal itu ketika aku memaksanya.''

Kurotsuchi yang tengah berdiri dibelakang Kakeknya hanya menganga mendengar penuturan dari Kazekage tampan di depannya, apakah benar Shinobi yang jadi topik utama ini sehebat itu? Selama tiga tahun menjalankan misi Level SSS itu sama dengan bunuh diri, dan Shinobi yang dimaksud malah mengikuti tes kenaikan Joonin?

Mungkin dia memang bodoh.

''Namun dari tes IQ yang kami lakukan padanya untuk menunjang dan memperkokoh statusnya di desa kami, kami mendapati bahwa IQnya lebih di atas rata-rata, standar IQ yang diterima oleh majelis adalah 150, dan IQ yang aku miliki adalah 158 dan Temari 159, sementara dia melibihi aku sendiri dan kakak perempuanku.''

Yang bagian ini Temari tidak mengetahuinya, kipas mungil ditangannya hampir jatuh karena kaget, dia menoleh cepat kearah Gaara, dia tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang di ucapkan adiknya.

Mungkin Temari sedikit setuju dengan kamuflase ucapan Gaara tadi, siapapun dia, dia sedang berpura-pura bodoh di depan yang lain termasuk pada orang-orang di depannya ini.

''Dia sendiri yang memilihnya, dia ingin diakui dengan caranya sendiri.''

Senyum Gaara mulai mengukir di wajahnya.

''Aku tidak tau apa yang ada dipikirannya, tapi dia bersikeras untuk mengikuti ujian ini,'' ucap Tsunade seraya menatap mereka semua. ''Asalkan anda semua ketahui, dialah calon penggantiku di dua tahun yang akan datang.''

''Rokudaime.''

Tsunade mengangguk mendengar ucapan Gaara, dia sekarang sadar kenapa Sunagakure tiba-tiba saja mengadakan aliansi antar desa pada Konoha. Seperti yang dipertanyakaan Tsunade pada dirinya, apakah bocah di depannya ini tengah menyembunyikan umurnya yang sebenarnya? Jujur saja, untuk pemuda seusianya, belum pernah Tsunade temui mereka dengan aura dan pesona yang seperti Kazekage ini miliki.

Mungkin ini adalah salah satu kenapa Sunagakure menerima Gaara sebagai Kazekage di umur yang sangat belia, di umur enam belas tahun itu pastilah belum memiliki banyak pengalaman tentang kepemimpinan.

Jadi, siapakah sebenarnya Sabaku no Gaara ini?

~oOo~

''Kau tau, aku paling benci apabila harus menunggu,'' gerutu seseorang yang tengah berjongkok di bawah pohon, di depan orang itu kini terhampar luas padang pasir yang terlihat panas dan gersang. ''Cepatlah sedikit Deidara.''

Laki-laki yang tengah menutup sebelah mata dengan tangan kiri yang membentuk segel, hanya terus diam dan seolah tanpa perduli pada seniornya yang menggerutu. Sementara itu Deidara terus berkonsentrasi pada maha karyanya yang berbentuk burung namun dari tanah liat, kini dia sedang memantau Sunagakure, memantau apakah sang target ada di lokasi atau tidak.

Dahi laki-laki pirang panjang itu berkedut dibalik pelindung dahinya, perasaan jutsu yang aku kirim juga bisa mendeteksi jenis Chakra, tapi kenapa Chakra Jinchuriki itu tidak terasa sama sekali?

''Deidara?''

Sebenarnya Deidara sudah habis cadangan kesabaran dan ingin sekali menyerang orang yang sejak tadi mengganggunya itu, tapi daripada dijadikan Kugutsu nantinya, lebih baik diam saja.

Pikir itu solusi yang tepat.

Merasa sudah tidak ada gunanya mencari lokasi sang Kazekage dan juga sudah mengitari Sunagakure untuk memeriksa jejak Chakra, yang ada malah jejak Chakra terakhir kali yang Kazekage tinggalkan malah keluar desa, agak mengherankan sebenarnya.

Deidara mulai berpikir kalau si Jinchuriki ekor satu itu sedang tidak ada di desa. Menurut data yang dia terima tentang Sabaku no Gaara, dia adalah orang yang pendiam dan agak dingin, mana mungkin orang yang punya sifat seperti itu akan pergi keluar mencari angin atau jalan-jalan seraya memamerkan senyum palsu menyebalkan pada setiap warga seperti penjilat-penjilat di desanya, maaf, mantan desanya maksudnya.

Dan kalau sedang tidak di desa, kemanakah tujuan Kage muda itu sekarang.

Untuk mendapatkan info lebih akurat, Deidara merubah burung besar itu menjadi Shinobi yang pernah dia kalahkan, tidak percuma dia selalu membanggakan seni tanah liatnya, maka seringai tipispun terukir di wajah putih itu.

~oOo~

Ino kini sedang melompat tenang dari dahan pohon ke dahan yang lain, tubuhnya agak condong kedepan karena bagimanapun dia tidak mau sampai membentur dahan yang ada di atasnya, mata biru langitnya menatap punggung lebar Naruto dari belakang, kokoh dan tangguh, dia tidak habis pikir dengan semua yang telah mereka lalui selama ini, maksudnya, semua hal itu lepas dari misi yang kerap kali mereka lakukan bersama dulu sekali sewaktu Gennin, dan di sinilah mereka, untuk kedua kalinya mengikuti sebuah ujian yang akan menampangkan nama mereka sebagai Joonin, itupun kalau berhasil lulus dari semua tes yang ada.

Sudut bibirnya sedikit terangkat dengan pipi yang sedikit merona ketika bayangan Naruto datang padanya tempo hari, dia tidak menyangka kalau Naruto akan datang ke rumahnya setelah sekian lama pergi, pagi buta hanya untuk menemuinya dengan setangkai bunga cosmos, sebenarnya pilihan Naruto sangat tepat karena dia suka bunga cosmos selain tulip, tapi mengingat Naruto bukanlah pria yang romantis seperti yang selalu dia bayangkan, dia jadi berpikir kalau kekasihnya itu meminta tolong pada seseorang untuk membantunya memilihkan bunga yang tepat.

''Ada apa Ino-chan?'' Tanya Naruto seraya melirik kebelakang, ''apa ada yang mengganggu pikirkanmu?''

Ino sedikit terperanjat, namun dengan segera menggelengkan kepalanya singkat, rambut panjangnya yang berkibar sedikit mengganggu pandangannya.

''Tidak Naruto,'' jawabnya. ''maksudku, tidak apa-apa'' Senyum kembali mengukir di wajahnya.

''Pastikan kau tidak lengah yah,'' ucapan Naruto bak semilir angin yang sejuk di pendengaran Ino.

Sunyi kembali menyergap sepasang kekasih itu yang kini tengah bergerak dengan cepat, kecepatan maksimum seorang Ninja tergantung pada tingkat Chakra dan pengontrolan Chakra, untung Ino bisa melakukan itu, karena kalau tidak, dia pasti sudah ketinggalan jauh dari Naruto yang mempunyai Chakra besar dan ketahanan fisik yang diluar nalar.

Seakan baru sadar, Ino tersentak, dia segera menoleh kesegala arah dengan cepat, matanya memicing sesekali saat cahaya matahari membuat silau matanya yang tengah fokus. Ino jadi ingat sesuatu, dan dia tidak akan pernah lupa pada apa yang tengah dia baca semalam saat mereka bermalam di dekat sebuah pohon besar, peraturan yang dia baca dari buku itu tidak mungkin hanya buku bacaan biasa.

Naruto yang tengah melompat dengan gerakan cepat itu sedikit banyak merasakan Chakra Ino yang agak berbeda, memang sudah sejak tadi dia menyadari ada yang aneh dengan peredaran Chakra Ino, seakan-akan ada yang membuat kekasihnya itu berpikir keras dan gelisah, berpikir tidak ingin mengganggu konsentrasi Ino, maka Naruto lebih memilih untuk tutup mulut serapat mungkin, berbicara diwaktu yang tepat.

Naruto sedikit melirik kebelakang untuk kesekian kalinya hanya untuk memastikan Ino masih bersamanya, bukan salahnya juga kenapa dia bisa punya Chakra dan ketahanan fisik yang luar biasa karena pada dasarnya segel yang ditanam di tubuhnya memastikan dia dapat menyerap Chakra Kyuubi yang nyatanya besar kepalang itu, tapi berhubung kekasihnya hanyalah manusia biasa, maka sejak tadi dia memilih untuk sedikit mengurangi kecepatannya.

Mata biru laut dalam yang dia miliki kini tengah dengan jelas melihat raut gelisah di wajah Ino, mata biru langit milik kekasihnya kini tengah melirik kesegala arah, bukan bermaksud mengalihkan kontak pandang, Naruto tau itu, ada yang sedang tidak beres di sini.

Tap...

''Ino-chan dijobu?'' Tanya Naruto seraya berhenti tepat di depan kekasihnya, dia sedikit menunduk untuk melihat wajah Ino.

Ino yang kini tengah berdiri di depan Naruto hanya mencoba menghilangkan pikiran yang tidak-tidak, sedikit menggeleng untuk mengenyahkan pikiran itu, namun ketika matanya melirik kearah pohon bercabang di seberang mereka, matanya membelalak.

''Itu'kan,...''

Ino menutup mulutnya, pikirannya benar.

''Ino, kau dengar aku?''

''Na-Naruto, tidakkah kau menyadari sesuatu?''

Naruto mengerutkan keningnya yang tertutup pelindung dahi, matanya masih menatap Ino yang kini mendongak dengan balik menatapnya.

''Maksudmu?''

''Demi Kami-sama Naruto, benarkah kau tidak menyadari sesuatu?'' Entah kenapa suara Ino agak meninggi pada bagian ini diikuti gerakan gadis itu yang terkadang melirik liar kesegala arah.

Naruto kembali menegakkan tubuhnya sembari melipat kedua tangannya, matanya memicing tanda sedang berpikir, entahlah, Ino tidak tau apa yang Naruto pikirkan tapi semoga saja Naruto menyadarinya.

''Ah, aku ingat'ttebayooo,'' seru Naruto seraya menepuk kedua tangannya, matanya menyipit karena senyum lebarnya yang hampir membelah wajah yang mirip mendiang Yondaime-Hokage itu.

Ino menghela nafas lega.

''Kita belum makan siang'kan?''

Senyum Ino langsung pudar, kalau tidak salah, tadi dia sempat mendengar ada suara retak-retak yang entah darimana asalnya, jidatnya berkedut, astaga Naruto, Ino sebenarnya ingin sekali menjitak Naruto seperti dulu saat tinggi tubuh mereka sejajar, mengingat tubuh Naruto yang kini sangat tinggi. Dirinya yang sekarang hanya mencapai setinggi bahu bidang Naruto, Inopun mengurungkan niatnya.

''Awww!'' Seru Naruto seraya melompat-lompat di dahan pohon yang besar itu, memastikan dia kalau tidak akan jatuh meski melompat kesana-kemari. ''Ino-chan, apa yang kau lakukan?''

''Kau Baka!'' Bibir tipis itu manyun, kedua tangan terlipat di depan dada dan pipi menggembung.

''Kau ini kenapa sih,'' gumam Naruto seraya mengusap pipi Ino dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Ino, dapat dia lihat kalau kekasihnya tengah menekuk wajahnya.

Ino hanya membuang muka, disaat seperti ini, yang ada dipikiran Naruto malah makan siang, tidakkah Dia pikir kalau sejak tadi ada yang aneh? Dan yang terlintas di kepala kekasihnya itu malah Ramen hangat dengan segelas jus jeruk?

''Sejak tadi peredaran Chakramu terganggu, Ino-chan,'' bisik Naruto di depan wajah Ino, wajahnya menampilkan senyum kecil yang lembut, ''katakan padaku, ada apa sebenarnya?''

Naruto mulai mengerti maksud pertanyaan Ino. Ino itu Kunoichi dengan presentase kelulusan paling tinggi di angkatan mereka mengalahkan Sasuke dan Sakura yang jenius di susul oleh Neji, jadi tidak mungkin kekasihnya dengan wajah sebegitu kesalnya hanya memikirkan hal pribadi yang mungkin tidak perlu seperti halnya yang dia lakukan barusan.

Naruto mulai menyesali usulannya barusan.

''Sungguh, kau tidak menyadarinya, Naruto?''

Naruto menatap mata biru Ino lama dengan wajah datarnya, dia paling tidak suka apabila harus berpikir keras dan rasional seperti kekasihnya, tapi mengingat kini mereka tengah menjalani serangkaian misi untuk kelulusan ketingkat Joonin, mau tidak mau dia harus menganalisis berbagai prospek.

Matanya bergerak liar kesegala arah seperti yang Ino lakukan sejak tadi, setidaknya selama perjalanan tadi dia tidak merasakan adanya peredaran Chakra finansial yang berarti akan ada yang menghadang mereka, untuk saat ini dia hanya merasakan kesunyian yang kentara lepas dari fakta bahwa sejak tadi burung terus berkicau merdu bersama dedaunan angin.

''Kita sudah menempuh waktu empat jam,'' ucap Ino seraya membelakangi kekasihnya yang juga mulai tampak menyadari pertanyaannya walau mungkin sudah terlambat.

''Dan tidak ada gangguan yang pasti,'' tambah Naruto seraya membelakangi Ino, belakang tubuhnya dia rapatkan pada kekasihnya yang sudah siaga sejak tadi.

''Tidakkah kau berpikir itu terdengar aneh untuk rentang waktu lama seperti itu di ujian ini?''

Mata Naruto menatap sekeliling, memastikan tidak ada celah yang terlewat oleh matanya barang sesentipun, kesalahan kecil bisa menjadi malapetaka bagi mereka berdua.

''Kau ingat Naruto?'' Tanya Ino seraya mendongak menatap langit, ''setiap rentang waktu sejam, aku selalu menggores setiap pohonkan?''

Naruto mengangguk. ''Aku mengerti yang kau maksud, Ino-chan.''

''Dan kita sudah menempuh waktu empat jam dan seharunya kita sekarang sudah di kilometer lima-puluh,'' gumam Ino seraya merasakan punggungnya bersentuhan dengan punggung Naruto, kehangatan yang dia rasakan dari punggung itu membuatnya sedikit terhenyak. ''Lihatlah arah pukul satu lewat sebelas dari posisimu.''

Naruto berbalik arah menatap kearah kordinat yang diberikan oleh kekasihnya, mata birunya menatap kosong pada sebuah bekas gores disebuah dahan pohon yang masih terlihat baru, tangannya mengepal dan rahangnya mengeras bersama dengan suara giginya yang bergemeletuk.

''Sejak kapan?''

Ino menggeleng singkat. Kunainya dia posisikan kedepan dengan kuda-kuda bertarung yang solit. ''Aku juga baru menyadarinya.'' Jawab Ino seraya kembali melirik kesegala arah, ''padahal aku tidak merasakan adanya Chakra sejak kita menghancurkan Berikade itu.''

''Siapapun pengguna Genjutsu ini, dia pasti selevel dengan,...''

Ino tersentak.

''...Itachi Uchiha.''

''Harus ku akui partnermu sangat hebat, Naruto.''

.

.

.

.

.

.

Kedua pasang mata itu membelalak, Ino hanya mampu menutup mulutnya dengan tampang horror menatap sosok yang keluar secara perlahan dan dramatisasi dari sebuah pohon bersama sosok bertopeng orange. Kakinya bergetar, tidak mungkin laki-laki yang sudah membantai keluarganya sendiri itu kini tengah berdiri di depan mereka, dengan jubah hitam dengan bordir awan merah.

Akatsuki.

Naruto segera memposisikan dirinya di depan Ino, dia sangat jelas melihat ekspresi shock di wajah Ino. Dia juga tidak percaya ini, dan sangat tidak percaya bahwa sosok yang selama ini ingin dibunuh oleh Sasuke dengan segenap jiwanya kini tengah berdiri di depannya. Tangannya mengepal dengan erat, gara-gara dia Sasuke berubah jadi pribadi yang dingin, gara-gara Itachi Sasuke menjelma jadi sosok yang hampir tidak mempunyai perasaan.

''Apa yang kau lakukan di sini?''

Mata dengan tiga tomoe itu menatap datar pada dua orang Ninja di bawahnya, separuh wajahnya tersembunyi oleh kerah jubah yang terlalu panjang dan lebar, membuat matanya saja yang terlihat di wajah.

''Apa perlu kita habisi sekarang Itachi?''

Naruto dan Ino tersentak, si gadis malang yang tengah terguncang itu kini sangat tertekan dengan hawa membunuh yang dilancarkan Naruto dan sosok bertopeng sprial itu.

''Tidak perlu, aku hanya ingin bicara dengannya.''

''Apa maksudmu?!''

Teriakan Naruto bergema di hutan yang sepi kentara, mengantar suara untuk terus memantul ke seluruh penjuru hutan, geraman Naruto membuatnya ingin melompat dan menebas wajah datar Itachi.

''Na-Naruto, tenangkan dirimu.''

''Ini tentang Sasuke.''

Untuk kesekian kalinya kedua pasang mata itu membelalak Ino yang tengah mengusap dada Naruto berhenti saat nama laki-laki yang dulu memenuhi hatinya disebutkan, dan sepertinya Naruto mulai meragukan pendengarnnya saat ini. Atau kedatangan Itachi saat ini untuk memenuhi janjinya pada Sasuke untuk mengajak bertarung hidup-mati seperti yang diceritakan Sasuke dulu? Apakah itu yang dimaksud sekarang?

.

.

.

.

.

.

''Apa maksudmu tentang Sasuke?!''

Itachi menatap Naruto lama sebelum helaan nafas terdengar dari sosok berjubah dengan topeng spiral itu. Kedua tangannya terangkat bak tengah berdo'a.

''Kudengar Sasuke sudah kembali ke Konoha.''

''Lalu, apa masalahmu?''

''Ino Yamanaka, Putri tunggal Inoichi Yamanaka,'' ucap Itachi datar, matanya menatap Ino yang kini tengah berdiri di depan Naruto. ''Ku akui kau hebat juga, bisa menyadari Genjutsu-ku.''

''Berhenti mengalihkan pembicaraan!'' Teriak Naruto kalap, kunai dengan dililit kertas kuning itu dia genggam erat seraya matanya memicing. ''Katakan, apa maksud kedatanganmu.''

''Kunai itu,...'' Laki-laki bertopeng itu menatap lama pada sebilah Kunai yang digenggam oleh Naruto, mata dibalik sebuah lubang tunggal dibagian kanan itu mengintimidasi. ''Bukankah pemilik Kunai itu sudah lama mati?'' Gumamnya.

''Aku ingin memenuhi janjiku.''

''Ingin membunuh Sasuke lalu mengambil matanya, eh, itu tidak akan kubiarkan!'' Ino mengangguk setuju atas ucapan Naruto. ''Kau ini kenapa Itachi-san, aku hampir tidak percaya kau melakukan itu semua, membantai keluarga sendiri? Dimana sisi manusiawimu brengsek!?''

Naruto dengan cepat melemparkan seluruh Kunai Jikkukan kesegala arah, lalu melempar salah satu Kunai yang dia pegang ke arah Itachi yang terlihat tidak bergeming.

Itachi yang melihat itu hanya mengerutkan kening, lalu semua bagaikan slow motion, Naruto yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan Itachi dan bersiap dengan satu tusukan dari Kunai membuat Laki-laki bertopeng spiral itu terlonjak kaget.

Mata Sharingan yang sudah dalam mode Mangekyou itu hanya menatap mata Naruto dengan pandangan datar, seolah-olah tidak mengubris kedatangan Naruto yang berarti akan melukainya, bahkan tubuhnya tidak bergerak sejak tadi.

Ino hanya berkeringat dingin saat Itachi yang terkena serangan berubah menjadi burung gagak yang berterbangan liar, dan serangan dari dua buah bola api berukuran besar membuat Naruto harus menghindar dan berpindah tempat dengan cepat bagaikan kedipan mata.

Itachi yang tengah berdiri di dahan tinggi bersama partnernya hanya mengambil nafas sejenak lalu kembali memfokuskan pandangan pada Naruto yang sudah berpindah tempat dengan kembali berdiri di sebelah gadis pirang kuncir ekor kuda itu.

''Tebakanku benar, itu teknik Jikkukan,'' bisik laki-laki bertopeng spiral itu seraya melihat areal sekitar yang dipenuhi oleh Kunai yang menancap di dahan-dahan pohon. ''Kita berada di teritori yang salah, dengan berdirinya kita di tengah areal kunainya, sama saja kita sudah bosan hidup.''

Sementara itu Itachi hanya menatap Naruto yang tengah berdiri di samping Naruto, menatap wajah Naruto yang balik menatapnya dengan tatapan kebencian, membuatnya teringat dengan ekspresi Sasuke terakhir mereka bertemu saat malam pembantaian, malam itu,...

''Kau tidak tau apa-apa, Naruto,'' ucap Itachi datar, Naruto tersentak. ''Aku butuh mata Sasuke untuk menyempurnakan kekuatanku, dan untuk mendapatkan Eternal Mangenkyou Sharingan, aku butuh mata Sasuke.''

''Ka-kau,...'' Naruto kehabisan kata-kata, dia tidak mengerti kenapa Itachi sejahat itu? Hanya demi sebuah kekuatan dia rela membunuh orang-orang yang dia sayangi?

''Tobi, pergilah berjaga, aku tidak mau ada yang tau keberadaan kita di sini.''

Laki-laki yang berdiri di sebelah Itachi terkejut sebentar sebelum menatap Itachi lama, lalu mengangguk dengan beralih menatap Naruto dan Ino dalam diam. ''Baiklah, lain kali aku yang akan melayani kalian, sampai jumpa.''

''Tobi?''

Laki-laki bertopeng itu melambai pelan pada Naruto dan Ino sebelum hilang dipandangan dengan cara masuk kedahan pohon yang dia pijak. Ino hanya membelalak melihatnya, berpindah tempat dengan cara memasuki media pohon? Itu sangat mustahil.

''Aku ingin bertanya padamu, Naruto.''

Ino mengalihkan pandangannya pada Itachi saat laki-laki itu berucap dengan nada datar untuk kesekian kalinya, tatapan dingin mata tajam itu membuat Ino berpikir bahwa sudah berapa nyawa melayang di tangannya, sudah berapa nyawa berharga yang terenggut oleh sosok Uchiha itu.

Sementara itu Naruto hanya diam dengan posisi bertarung sejak tadi, kalau-kalau Itachi akan menyerang mereka, Naruto tidak masalah Itachi menyerangnya saat ini juga, tapi tidak dengan kekasihnya, dia harus mengatur strategi solit dimana dia bisa menyerang sambil melindungi Ino.

Itulah sebabnya kenapa sedikit banyak dia tidak suka apabila harus memiliki partner, sangat merepotkan seperti kata Shikamaru.

''Kenapa kau begitu ingin menghalangiku menemui Sasuke?''

Naruto terdiam sejenak, nafasnya tercekat seolah-olah ada yang mencekiknya dengan tubuh transparan ketika mendengar pertanyaan Itachi.

''Itu,...''

''Karena kami teman Sasuke-kun!''

''Teman?'' Itachi menoleh kearah Ino.

''Ino-chan?'' Bisik Naruto penuh tanya seraya melirik Ino yang berdiri di belakangnya.

''Kau tidak punya teman, itulah mengapa kau tidak mengerti kenapa Naruto-kun berusaha melindungi Sasuke-kun dan menjauhkannya darimu!'' Teriak Ino, tatapan seriusnya membuat Naruto seperti disentil oleh sesuatu. Itu, benar-benar Ino'kan?

''...''

Naruto kembali mendongak, menatap Itachi yang terdiam mendengar kata-kata dari kekasihnya, sedikit banyak Naruto setuju pada apa yang Ino katakan. Itu benar, karena Sasuke adalah teman, itulah kenapa Naruto selalu menjauhkan dan berusaha menghilangkan eksistensi Itachi pada Sasuke.

''Kau merubah Sasuke, kau membuatnya tidak memiliki perasaan lagi seperti dulu,'' ucap Naruto seraya mengangkat Kunai itu yang tersemat di jari kelingkingnya, seluruh jari membuka. ''Hanya karena balas dendam, dia jadi bukan Sasuke yang dulu aku kenal.''

Itachi hanya diam dengan ekspresi datar dan tenang, gangguan seperti Ninja sekaliber Naruto tidak membuatnya terlihat gentar, dia sudah pernah menangkap Bijuu, dari pengalaman pertama, dia sudah mengerti apa yang harus dia lakukan pada bocah Jinchurikki ekor sembilan ini, lagipula dengan Genjutsu saja, Kyuubi no Kurama sudah biasa dia kendalikan.

Tapi, bukan itu maksud kedatangannya kemari, dia harus menuntaskan sesuatu, adalah hal yang nantinya akan membantunya.

''Sasuke, adalah teman pertamaku, hanya dia mau berteman denganku dulu, dan kini, dia bukan seperti Sasuke yang dulu. Itu semua karena kau!''

Jari telunjuk itu menuding dengan telak.

''Karena aku?''

''Ya, karena kau,'' jawab Ino seraya mendongak, tangan kirinya menggenggam erat rompi Joonin bagian belakang Naruto. ''Kau sudah membunuh seluruh keluargamu termasuk ayah dan ibumu, demi tuhan, apa yang sebarnya kau pikirkan? Hanya karena kekuatan kau jadi seperti ini?''

.

.

.

.

.

.

''Kalian berdua sepertinya benar teman Sasuke.''

''Ap-apa maksudmu?''

''Kau harus tau Naruto, setiap kejadian itu pasti ada penyebabnya.''

''Yah, Sasuke-kun jadi seperti itu. Itu karena kau!'' Teriak Ino tidak keras, dia sudah tidak peduli pada sesak nafasnya karena berteriak dengan sekali tarikan oksigen.

''Aku lebih baik membunuh klan, daripada klan Uchiha disebut klan terkutuk.''

''Aku tidak mengerti, apa maksudmu hah, brengsek!''

Tunggu, sepertinya Ino pernah ingat mendengar itu. Yah, sepertinya dia ingat sesuatu, entah apa itu, pasti ada sangkut-pautnya dengan klan Uchiha.

''Klan Uchiha ingin mengadakan Kudeta, dan aku tidak ingin itu terjadi.''

''Itu,...''

''Kudeta?''

''Tetua Konoha menyadari itu, dan mereka memberiku dua pilihan, apakah aku bersedia membunuh keluargaku, atau pihak desa.''

''Pilihan macam apa itu?!''

''Demi nama baik klanku, aku menerima perintah itu,'' ucap Itachi seraya mendongak menatap langit biru. Lalu beralih pada Naruto dan Ino. ''Dan aku rela menanggung aib desa dengan membantai keluargaku dan pergi dari desa,

aku juga mengancam Sasuke untuk membunuhnya setelah Sasuke berhasil mendapatkan Mangenkyou Sharingan.''

''Apa maksudmu?'' Tanya Naruto tidak percaya, ini sungguh membuatnya pusing. Sementara itu di belakang Naruto, Ino menutup mulutnya dengan pandangan tak percaya.

''Karena aku sudah di anggap sebagai pembunuh kelas kakap, aku mengancam Sasuke dan menantangnya untuk bertarung hidup dan mati.'' Ucap Itachi seraya menatap kosong pada Naruto dan Ino. ''Sampai saat itu tiba, kelak, aku ingin dia jadi lebih kuat dariku, dan membunuhku, lalu akan dianggap sebagai pahlawan desa.''

''I-ini,... Rahasia desa level SSS, kenapa kau membicarakannya pada kami berdua?'' Tanya Ino setelah menyadari sesuatu yang terlupa, dia ingat sekarang, dia pernah membaca dokumen rahasia ayahnya sewaktu ayahnya mendapat misi keluar desa.

''Bukankah kalian sendiri yang bilang, kalau kalian adalah temannya?''

''Apa-apaan itu semua, kau pasti berbohong!''

''Aku tidak peduli kau percaya atau tidak, Naruto. Tapi karena kau adalah temannya,'' Itachi terdiam sejenak seraya memejamkan matanya, rasanya ini berat sekali. ''Aku ingin kau dan yang lainnya menjaga Sasuke. Aku mempercayakannya padamu.''

''Tapi. Tapi kenapa kau harus melakukan itu semua Itachi, kenapa!?''

''Aku juga yang mengancam Danzou untuk tidak mengganggu Sasuke sehabis malam itu.

Untuk pertanyaanmu itu. Itu karena,... Kakak, akan selalu ada untuk adik, dan kakak akan rela mati demi adik.''

Ino terenyuh mendengarnya, bagaimanapun dia adalah wanita, dan dia sangat mengerti maksud ucapan Itachi, tapi yang Ino tidak habis pikir, kenapa ini semua harus terjadi? Ini bagai'kan rantai kematian yang tidak akan selesai.

''Dan aku ingin sedikit memberikan kekuatanku padamu,...''

Tiba-tiba saja sebagian dari tubuh Itachi berubah jadi burung gagak yang berterbangan, seekor dari burung gagak itu terbang cepat mengarah pada Naruto. Sangat cepat, membuat Naruto tidak bisa berbuat banyak selain membelalak.

''Hggg...''

''Na-Naruto!'' Pekikkan Ino menggema bersama suara kicauan burung gagak yang mengitari mereka berdua. Ino hampir tidak mempercayai pandangannya saat burung itu menukik tajam dan langsung mengarah pada mulut Naruto, menjeblak masuk dengan paksa.

''Apa yang kau lakukan?!'' Teriak Ino pada Itachi yang sudah menghilang dari pandangannya, kini Ino hanya mampu memegang bahu Naruto erat seraya menatap khawatir Naruto yang tengah memegang lehernya dengan ekspresi kesakitan.

''Ughhkkk...''

''Naruto!''

''Gunakan kekuatanku yang aku titipkan padamu itu Naruto, kalau saja nanti dia berpihak pada Akatsuki dan mencoba menghancurkan desa.''

Suara Itachi bergema dengan tidak adanya eksistensi dari sipemilik suara, dia seperti hantu yang tidak bisa dilihat namun bisa dirasa kehadirannya.

Ino tidak memperdulikan ucapan itu, saat ini fokusnya lebih ke kondisi Naruto yang terlihat seperti di siksa, meraung tidak jelas seraya memegang lehernya, Ino tidak habis pikir bagaimana mungkin gagak itu bisa masuk kedalam mulut kekasihnya, dan itu pasti sakit.

''Naruto, bertahanlah!''

~oOo~

''Ahkk...''

''Sasuke?'' Tanya Karin yang tengah berjalan di sebelahnya. Langkah Karin segera berhenti saat tiba-tiba saja Sasuke menggeram seraya menutupi mata kirinya dengan tangan kiri.

''Sasuke, kau tidak apa-apa?'' Tanya Juugo seraya mendekat.

''Kenapa lagi dia, apa efek samping Amaterasu?''

''Diamlah Suigetsu, Sasuke kau tidak apa-apa?''

''Hn.'' Jawab Sasuke seraya mengambil nafas dalam dengan teratur, tubuhnya kembali tegap setelah beberapa saat, mata kirinya tiba-tiba saja serasa di tusuk dengan jarum.

''Kau yakin tidak apa-apa?''

''Kita lanjutkan perjalanan.''

Karin menghela nafas lega.

Sementara Suigetsu yang berdiri di belakang mereka hanya mengangkat sebelah alisnya seraya menyedot air dari dalam botol yang selalu dia emuto kemanapun dan dimanapun, dan dia mengedikkan kedua bahunya singkat seraya kembali berjalan.

''Ada-ada saja.''

''Sui-get-su,...''

''He-hei... Apa-apaan kau ini, sensi sekali.''

''Tutup mulutmu!''

''Awww!

~oOo~

Dilain tempat, Tenten terlihat mendongak menatap langit sore dari bawah pohon besar tempat spot mereka beristirahat untuk malam ini. Sepi menyergap gadis cepol dua itu, sejak tadi Lee pergi berburu untuk makan mereka malam ini.

Manik kecoklatan itu kini beralih pada sekumpulan kayu yang barusan dia bawa dari tengah hutan, sekumpulan ranting yang banyak, dan mereka membutuhkannya untuk malam ini, karena besok mereka akan berjalan jauh lagi untuk menyelesaikan ujian ini.

''Huhh... Lama sekali dia, apa dia menyempatkan diri untuk adu jotos dengan rusa?'' Tenten terkekeh anggun seraya menggelengkan kepalanya lalu memejamkan matanya seraya mengirup angin segar yang berhembus, memainkan anak rambutnya, gesekan antara dedaunan dan ranting pohon membuatnya tenang.

''Besok, kita akan kembali melanjutkan ini, Lee, Neji-kun, aku tidak akan mengecewakan kalian.''

.

.

.

.

~oOo~

Uwooo... Akhirnya rampung juga chapter ini, Yahiko sangat berterimakasih pada para reviwer yang sudah lama menunggu kelanjutannya, Arigatou, hontou ni*nangisharu*

Dan berhubung Yahiko sudah akan memasuki musim repot(?) di sekolah, Yahiko pikir pasti akan sangat lama melanjutkan fic-fic Yahiko yang lainnya, tapi serius, pasti akan Yahiko updet kalau ada waktu luang.

Yahiko sangat minta maaf atas keterlambatan Yahiko updet mengingat ini sudah hampir setahun ngga di updet dan jarangnya Yahiko nongol di ep ep en, Kalau berkenan sekalian juga tinggalkan review ya, komentar pedas juga bakal Yahiko tampung asalkan bermutu, kritik mungkin? Bantu Yahiko koreksi kesalahan Yahiko lewat Review ya minna-san, arigatou gozaimasu

Special Thank for:

Mistic Shadow

Rizal

namikaze uchiha

rizky d. ace

RyosoraYusuf

Scythe no Shinigami

uzumaki julianti- san

NN

6T9

el Cierto ga login

bintang

Wind Scarlet

holmes950

~oOo~

Thanks for review ^. ~

Sign: Yahiko namikaze

v

v

v

v

v