Disclaimer: All Character in Naruto belong to Masashi Kishimoto© 1999.

Story and Chara OC © Yahiko namikaze, 2011.

~oOo~

Title: Konoha Kiiroi Senko

Rated: T (semi M) ^^V

Genre: Adventure and Romance

pair: Naruto U. x Ino Y.

~oOo~

Backsound:

Regret message by Rin kagamine(Vocaloid)

Castle of Glass by Linkin Park

Sweet Dreams by Emely Browning

~oOo~

Summary: dirinya amat sangat mirip dengan sosok 'dirinya' yang telah rela mengorbankan dirinya sendiri demi Desa dan orang yang dicintainya.

~oOo~

Warning: OOC, OC, AU, CANON, TYPO(s), GAJE, ANEH, JELEK, EYD berantakan, dsb.

.

.

.:Chapter VIII: Mahadewi:.

.

.

~oOo~

Jika ada yang bilang cinta datang dengan romansa yang indah bak dawai lama, maka anugerah adalah jembatannya. Namun nampaknya, pertemuan keduanya tidak sebagaimana yang dikira.

Terlalu banyak klise yang dangkal, tak begitupun dengan anugerah cinta yang menyertainya.

Dalam sebuah hasrat yang tersembunyi, hati mereka bahkan mampu terkoneksi. Saling menghangatkan satu-sama-lain, lewat sebuah sentuhan dan buaian, lewat tatapan maupun ucapan.

Manik biru yang terpancar dari indahnya paras seorang gadis, menatap penuh tanya, mencari jawaban dari sosok yang terlelap.

Di padang rumput sabana itu, mahkota pirang indahnya tergerai, menari riang bersama sang dewi mahligai.

Ino Yamanaka, putri sulung Yamanaka Inoichi, bersenandung tenang seraya mengusap kepala seseorang di pahanya. Terkadang dia bersenandung, terkadang bersiul, menyanyi riang bersama indahnya senja.

Selembut awan yang menjadi teman.

Hembusan angin lembut, membuatnya memejamkan mata sejenak. Lantas untuk kesekian kalinya, pandangannya teralih pada sosok yang terlelap damai.

Rambut pirang panjangnya sedikit bergoyang diterpa angin, untuk kesekiankalinya, paras tenangnya membuat Ino tersenyum lembut. Tangan kecilnya membelai pipi kekasihnya, memberikan sentuhan hangat yang gemulai.

Satu pergerakan berarti, membuat gadis berparas cantik itu kembali mengerjap.

''Naruto?''

''Engh,...''

Senyumnya mulai nampak, bagaikan rekah bunga mawar yang indah nan harum. Riang dan ceria.

''Naruto kau dengar aku?''

Hal pertama yang manik biru laut itu lihat, adalah samar-samar wajah seorang gadis yang menghalangi datangnya sinar matahari senja. Yang menerjang mereka berdua.

Kepalanya masih terasa sakit dan pusing luar biasa, dia hanya mampu mendesah pelan di pangkuan gadis pirang pucat itu, karena pusing yang kembali mendera saat dia akan bangkit.

Ino tersenyum kecil melihat Naruto merespon panggilannya, dia pikir Naruto akan lama pingsan karena serangan Itachi tadi. Dan Ino masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin bisa mereka berdua terperangkap Genjutsu Itachi?

Gadis Yamanaka itu menggeleng singkat, dia bisa membahas itu nanti setelah Naruto sadar sepenuhnya. Senyumnya makin kentara saat sadar Naruto memeluk pinggang rampingnya, dan menyesap wangi tubuhnya.

''Geli, Naruto,'' ucap Ino seraya memegang kening Naruto, setelah melepas Hitai atte-nya, hanya untuk memeriksa suhu tubuh Naruto.

Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya, saat sadar suhu tubuh Naruto biasa-biasa saja, padahal tadi sewaktu masih pingsan Naruto menunjukan gejala-gejala demam parah.

Naruto tersenyum kecil, sedikit mengeratkan pelukannya pada pinggang gadis itu. ''Aku baik-baik saja selama masih ada Kyuubi dan,...''

''Dan?''

Ino kembali memiringkan kepalanya, seraya menatap Naruto yang balik menatapnya dengan senyum kecil. Pipinya sedikit bersemu saat tangan Naruto mengusap pipinya, dan menyibakkan poni yang menutupi mata kanannya.

Untuk beberapa saat, posisi itu tetap bertahan. Tatapan mata kedua insan itu memancarkan sinyal-sinyal kecil penghantar saling takjub akan keindahan mata setiap pasangannya.

''Selama ada kau dan Kyuubi, aku pasti akan baik-baik saja.'' Mata Naruto menyipit, seiring senyum tulusnya kian melebar.

Ino terkekeh pelan seraya membenarkan posisi duduknya, tanpa harus mengindahkan kepala Naruto yang bersandar di pahanya.

''Ohya, sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?''

Ino sedikit mendongak menatap langit, pipinya sedikit mengembung ketika otaknya memproses kembali ingatannya dengan cepat.

''Sekitaran dua jam. Kupikir?'' Ino sedikit mengangguk, sangat yakin dengan jawabannya. Sementara itu, Naruto yang tadinya bertanya hanya menghela nafas. ''Lagipula, apa kau yakin baik-baik saja?''

Naruto mengangguk pelan, seraya kembali memeluk pinggang ramping Ino dan membenamkan wajahnya di perut datar kekasihnya, yang sengaja tak tertutup kain.

Sialnya lagi, dia tidak suka jika Ino memakai pakaian yang sedikit terbuka seperti ini, apalagi di depan umum. Kalau cuma di depannyasih ngga apa-apa, ehehehe...

... Sadar dengan pikiran konyolnya, dia sedikit menggeleng dan kembali menghirup wangi tubuh Ino.

Ah, semenjak bertemu Ino kembali, dia sangat mirip dengan kumbang yang telah menemukan madu, yang tak pernah habis walau sudah berapa kali di ambil. Dia sangat suka wangi tubuh Ino yang memang khas sekali, wangi yang menenangkan perasaannya.

Ino bagaikan bentuk magis yang sempurna, dengan kepribadian yang mencolok. Membuatnya tidak ingin jauh-jauh dari Ino.

Pelukan laki-laki itu kian erat.

''Ada apa, Naruto?'' Mata biru langit Ino sedikit mengerjap, nada lembut suaranya bagikan belaian indah sang angin. ''Apa ada yang terlupa?'' Dahi gadis tujuh belas tahun itu sedikit mengerut saat mendapati jawaban berupa anggukan kepala dari Naruto.

Memangnya ada apa ya?

''Aku hanya terpikir sesuatu.''

Ino mulai tidak mengerti. Dia menaruh kedua telapak tangan mungilnya di atas wajah Naruto, bermaksud untuk menghalangi sinar yang menerpa leluasa wajah kekasihnya, namun malah kedua tangannya di pegang Naruto dan di arahkan di dada bidang kokoh laki-laki pirang itu seraya tersenyum.

''Kau mengerti?''

Ino tersenyum lembut seraya merasakan debaran tenang jantung Naruto, sesaat misinya sudah terlupakan karena dentuman tenang jantung kekasihnya yang juga tersenyum lembut padanya. Senyum yang amat jarang Naruto perlihatkan, yang bahkan pada dirinya pun jarang menemui senyuman itu.

Dan Ino sangat menyukai senyuman itu.

''Ya, tentu aku mengerti,'' jawab Ino seraya memejamkan matanya dengan sebuah senyum yang masih membekas di wajah putihnya yang laksana susu.

Seakan baru sadar, Naruto tersentak pelan. Ino yang menyadari itu segera menunduk menatap Naruto. ''Ini sudah sore, kita harus mencari tempat yang pas untuk bermalam,'' jawab Naruto ketika tatapan bertanya di berikan oleh Ino.

Laki-laki itu segera bangkit dari rebahannya dan merenggangkan tubuhnya dengan sedikit menggeliat.

Ino hanya menggelengkan kepalanya lalu menyusul berdiri di sebelah Naruto dan mengait lengan kekar itu. Kemudian mendongak menatap wajah Naruto yang menatap ke arah matahari terbenam di tengah rerumputan hijau di bagian barat Negara HI ini. Entah kenapa di suasana seperti ini, dia jadi teringat masalalu yang sudah mereka jalani, di awali dengan sebuah pertemuan yang tidak menyenangkan bahkan konyol malah, lalu berteman dan merajut benang kasih dan harus di terpa ujian berupa jarak dan waktu yang terpaksa mereka lalui sendiri-sendiri.

Ini'kah sebuah jawaban untuknya yang selalu sabar menunggu Naruto? Apakah ini yang namanya imbalan untuk seseorang yang dengan setia menunggu sosok spesial baginya?

Ino sedikit menunduk, lalu menyandarkan seluruh lelahnya pada bahu Naruto yang hangat seperti biasa, membuatnya merasa nyaman dan tidak mau bergerak bahkan sesentipun, dia terlanjur menyukai posisi ini. Wajahnya dia benamkan disana, pelukan pada lengan kiri Naruto kian di pererat.

''Kau kenapa?'' Tanya Naruto seraya menunduk menatap Ino namun yang dia lihat hanyalah helai-demi helai mahkota kuning pucat milik kekasihnya. Naruto hanya menatap bingung ketika Ino makin mempererat pelukan pada lengan kirinya, agak keram sih, tapi tak apalah.

''Ohya, aku hampir lupa,'' Naruto menepuk pelan jidatnya, Ino mendongak menatap Naruto yang tengah mengernyit seakan baru teringat sesuatu.

''Ada apa?'' Suara pelan gadis itu ketika bertanya mengalun indah bersama deru angin sejuk di senja hari.

Naruto hanya menggeleng singkat seraya nyengir rubah seperti biasa. ''Sepertinya aku harus berburu, perbekalan kita sudah habiskan?'' Tanya Naruto seraya melirik tas mereka berdua yang tergeletak di dekat sebuah pohon besar yang turut menjadi muara hutan yang lebat di dalam sana.

''Ah, iya, kau benar.'' Jawab Ino seraya menunduk pelan, ''dan itu sudah jadi tugasmu ya,'' hardik Ino seraya melepaskan pelukannya.

''A-apa?''

''Apa? Kau mau aku yang berburu?'' Ino berkacak pinggang seraya menunjuk hidung Naruto, kedua alis indahnya membingkai raut tidak terima di wajah oval gadis Yamanaka itu. Tubuhnya sedikit membungkuk namun tetap dengan sikap menghakim, terlebih jari telunjuk yang lentik itu.

Ada benarnya sih ucapan Ino. Sebenarnya Naruto sadar kalau alasan utamanya gadis tulip ini adalah tidak tega membunuh binatang, beberapa hari yang lalupun Ino menyatakan dirinya sebagai vegetarian, rada ngga nyambung sih tapi kalau di pikir lagi benar juga.

Naruto menggeleng singkat, seraya menghela nafas.

Merasa tersindir, raut tidak suka Ino kian kentara. ''Kalau ngga mau ya sudah,'' tegas Ino seraya berjalan menuju tas mereka, di sela langkah gadis itu di ikuti beberapa kali hentakan dan berbalik badan hanya untuk meleletkan lidahnya pada Naruto.

'Shikamaru,... Temanmu itu cerewet sekali.' Batin Naruto seraya meratapi nasibnya yang sudah terlanjur terpikat pesona Yamanaka Ino dengan segala tingkahnya, agaknya kali ini Naruto sedikit kebal dengan tingkah Ino.

''Ayolah, Ino. Iya aku akan berburu untuk malam ini,'' ucap Naruto seraya menyusul Ino yang tengah mengenakan tas punggungnya sambil menggerutu kecil, hingga tidak terdengar apa itu yang dia gerutukan.

''Tidak perlu!''

''Ayolah sayang, jangan bilang kau ngambek,'' Naruto nyengir rubah hingga akan membelah wajahnya. Merasa menang karena berhasil memojokan kekasihnya yang kadang emosian.

Langkah Ino terhenti, perempatan di jidat semakin terlihat. Gadis ponytail itu berbalik badan seraya mengumpulkan suaranya.

''Aku tidak ngambek seperti anak kecil!''

''Hm?''

''Naruto!''

Dan saat itu yang terlintas di pikiran Naruto hanyalah untuk segera mengamit tasnya dan segera kabur daripada harus menerima serangan Ino, kalau tidak salah tadi Ino punya tanduk ya?

Mungkin salah lihat saja. Ingat, otak bisa menipu pandangan, contohnya saja fatamorgana,...

,... Di tempat yang rindang seperti ini?

~oOo~

Gadis berambut merah itu sedikit membetulkan letak bingkai kacamatanya yang sedikit melorot—dan itu sedikit mengganggu konsentrasinya di saat mengambil lompatan di antara rerimbunannya pohon yang tinggi besar menjulang dan kokoh.

Sebentar, mata merah ruby-nya melirik sosok berambut biru yang juga tengah melompati setiap dahan dengan ekspresi dingin tak terbaca. Entah sedang memikirkan sesuatu, ataukah melamun sambil melompat seperti ini—dan itu sangat berbahaya kalau tidak ingin menikmati kerasnya pohon ketika tersandung.

''Sasuke.''

Matanya beralih dari Sasuke, ke arah laki-laki berambut silver yang tengah memanggul sebuah pedang besar di punggungnya. Mata sipit laki-laki itu menatap intens ke arah Sasuke dari belakang, seolah Sasuke juga sedang menatapnya.

''Kau tidak lupa dengan misi kita kemari'kan?'' Tanya Suigetsu seraya menatap langit lalu kembali menatap kedepan. ''Aku tidak tahan dengan tatapan seluruh penghuni desa sialan itu.''

''Hn.''

Suigetsu mendengus keras, kalau bukan karena sudah lama 'kenal' dia pasti menganggap Uchiha terakhir ini cacat bicara atau kalau tidak salahsih tuna rungu?

''Andaikan misi ini selesai, kalau dibolehkan aku ingin sekali menebas si Hatake itu.''

''Sudahlah,'' Juugo sedikit menimpali gerutuan Suigetsu, walaupun dia tidak cukup tertarik dengan gerutuan Suigetsu. Lagipula tugasnya di sini hanya ingin tau sampai mana kemampuan Sasuke, dari yang dia analisa sepertinya Sasuke sangatlah hebat dari Kimimaro.

Dan pria berambut kuning senja itu tertarik ketika fakta mengatakan kalau Sasuke adalah Uchiha terakhir, apa yang akan dia lakukan sekarang?

Tap...

Tappp...

Tapp...

Tapp...

''Ada apa?''

''Sasuke?''

''Dengar, kini kita ada di wilayah Negara HI, apapun akan terjadi dan tutuplah mulutmu Suigetsu.''

Karin sedikit meneguk ludahnya, keringat dingin mengalir pelan dari sela pori-pori kulitnya. Tekanan Chakra ini membuatnya merinding, bahkan ketika Orochimaru mengamukpun tidak sepekat ini tekanan Chakra-nya. Dari waktu kewaktu Chakra Sasuke terasa semakin kelam, yang menyamai kelamnya energi Sasuke hanyalah laki-laki bertopeng konyol yang dia temui dulu ketika di negeri batu—saat mereka menjalankan tugas bersama dari Orochimaru.

'Sasuke,...' Batin Karin.

''Aku tidak ingin tugas ini gagal hanya karena ulah mulut busukmu itu, ingat itu Suigetsu.''

''Ba-baiklah, aku mengerti.'' Jawab Suigetsu terbata saat ledakan energi itu begitu pekat mengenainya, sebelumnya dia tidak pernah merasakan energi sepekat dan sekelam ini.

Whusss...

''Dia kenapa?''

''Itu karena ulahmu,'' jawab Karin singkat seraya menyusul Sasuke yang sudah melanjutkan perjalanan, sekarang dia mengerti kenapa Sasuke mengikuti ujian ini.

Bidak catur tengah mengambil langkah.

Tanpa mereka ketahui, puluhan meter jauh di belakang mereka seseorang tengah menyeringai, tubuh sosok itu bergidik entah kenapa seakan menahan ledakan tawa yang ditahan. Tawa rendahnya tidak bisa dia tahan, namun tidak untuk memecahkan tawanya yang sejak tadi dia tahan agar tidak ketahuan.

sosok berjubah hitam dengan kupluk itu sedikit menghela nafas seraya mengamit pedang besar di belakangnya, yang terdapat ukiran lambang desa Konoha. Ukiran di bagian tengah pedangnya yang berwarna hijau terang, semakin bersinar oleh aliran Chakra.

'Kudapatkan kau. Kita tunggu tanggal mainnya,... Uchiha.'

~oOo~

Iruka tertunduk pelan seraya menatap sendu pada lantai. Hatinya serasa ingin menolak kenyataan ini, namun, dilain sisi misi ini menuntutnya untuk membutakan matanya pada fakta yang sebenarnya, tidak, Iruka adalah Ninja yang loyal baik tugas kelas A ataupun kelas S selalu ia laksanakan dengan baik seperti biasanya.

Tapi sepertinya tidak untuk kali ini, untuk kali ini sepertinya dia sulit untuk menerima tugas yang baru saja diberikan oleh nona Tsunade. Memang, dia sudah mendengar sistim ini beberapa waktu yang lalu saat menghadiri rapat bersama para tetua desa dan Hokage dari kelima desa, tapi dia tidak terpikir kalau yang akan menerima tugas ini bukan hanya rekannya tapi dia juga! Lebih parahnya dia harus berhadapan langsung dengan bocah yang dulu di anggap pembuat onar di desa.

''Iruka, aku mengerti perasaanmu, ini hanya misi ketika ujian, aku tidak segila itu untuk menyuruhmu membunuh 'adik' angkatmu sendiri.'' Tsunade menatap prihatin pada Iruka yang tertunduk lesu ketika dia memberikan tugas berat ini. ''Dengar, bagian akhir dari misi ujian ini adalah mental, kita tau mereka semua yang tengah mengikuti ujian ini secara sepihak adalah Ninja berbakat dan potensial, tapi bagaimana dengan mental mereka? Kau bisa menjaminnya?''

Shizune yang berdiri di sebelah Jiraiya hanya menatap Iruka dalam, dia mengerti bagaimana perasaan Shinobi level S itu. Kalau dia ada di sisi Iruka, mungkin juga dia akan mengalami guncangan yang sama, fakta bahwa Iruka teramat menyayangi Putra mendiang Hokage ke empat itu tidak bisa di tampik lagi. Iruka dan Naruto sudah bagaikan Saudara sedarah daging, yang satu tersakiti yang satunya lagi akan merasa tersakiti.

Tapi bukannya inilah tugas seorang Ninja, tugas apapun itu harus diterima tanpa pengecualian? Bahkan kalau boleh menghidupkan rumor lama, Itachi Uchiha bahkan rela membantai seluruh klannya dengan tangannya sendiri karena perintah seseorang, itu yang Jiraiya katakan.

Bagi seorang Shinobi, misi itu mutlak, tapi bagaimana cara kita menjalankan misi itu, itu kembali pada diri kita sendiri.

''Kau dengar aku?''

Suara Tsunade mengalihkan lamunan Shizune. Gadis itu sedikit berjengit di kesunyiannya ruangan kantor Hokage, sangat tidak biasa mendapati Jiraiya yang sejak tadi hanya memperhatikan seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

'Kalau seandainya Iruka saja tidak bisa menghentikan Naruto,...' Jiraiya menatap langit cerah dari balik jendela dengan tenang, pandangannya terfokus pada segumpal awan yang tinggi dan putih. '...dan ketika Akatsuki datang menghancurkan desa untuk mencari Naruto di kondisi yang lemah, siapa lagi yang bisa menghentikan bocah itu ketika dia menerima tantangan Akatsuki?' Jiraiya membatin sunyi seraya kembali menatap Iruka yang tengah mengepalkan tangannya kuat-kuat, dilihat darimanapun juga sudah pasti bisa ditebak kalau laki-laki itu berusaha melawan egonya, ketika dihadapkan pada logika nyata bagaimana kamuflase itu bergradasi memilukan hati.

Jiraiya tentu mengerti perasaan bocah bercodet di hidung itu, bahkan mungkin diapun merasakan hal yang sama walau dalam konteks guru dan murid. Melawan murid ketika latihan bersama itu sangatlah berbeda dengan melawan murid karena misi. Jiraiya mendongak lagi, menatap langit-langit ruangan.

Sebenarnya sistim ini dulu sekali ketika dia masih di barisan Chuunin yang merangkap Joonin, dia pernah hampir mengikuti peraturan yang sama persis seperti ini, tapi dia tidak pernah tau kenapa bisa-bisa peraturan dalam ujian waktu itu di tentang oleh para tetua klan dan aparat desa. Tapi ketika ada di posisi ini, barulah pria yang sudah berumur kepala lima ini mengerti, tes mental ternyata tak semudah yang dibayangkan, bahkan mungkin menghadirkan problema mendalam.

Mungkin Iruka masih bisa mengerti kenapa dia bisa berhadapan dengan Naruto nantinya sebagai ujian terakhir di tahap ini, tapi bagaimana dengan pihak Naruto? Jiraiya bisa membayangkan kalau Naruto lebih memilih untuk mengundurkan diri.

Itu seperti pedang bermata ganda.

~oOo~

Hinata yang ada di posisi tengah formasi tim hanya terdiam saat Shino tiba-tiba berhenti melangkah, laki-laki pendiam itu tak bergeming sama sekali seolah-olah patung. Tangannya masih tetap dia masukan kedalam saku jaket.

''Bau ini,...''

Hinata melirik Kiba yang tengah mengerutkan keningnya, begitupun dengan Akamaru yang tengah menyalak kecil seolah-olah tidak berdaya karena sesuatu yang tidak dia ketahui, anjing putih besar itu kian menunduk pelan disertai lengkingan kecil, pertanda hewan itu sedang benar-benar ketakutan.

Merasa risau keadaan seperti ini, gadis keturunan Hyuuga Souke itu serta merta mengaktifkan Byakugan-nya dengan jarak pandang lima ratus kilo meter kedepan dengan putaran tiga ratus enampuluh derajat.

Deg...

''Itu,...''

''Uchiha Sasuke.''

'Sa-Sasuke-kun.'

''Apa-apaan ini, sejak kapan dia mengikuti ujian ini!?'' Kiba menggeram pelan, pantas saja Akamaru ketakutan seperti itu, bahkan selama ini Akamaru tidak pernah ketakutan seperti ini. Ini karena tekanan dari Chakra Sasuke, sama seperti Chakra Naruto ketika dia mengamuk dan berubah menjadi sosok misterius yang berekor. Kelam dan pekat, Kiba meneteskan keringat dinginnya.

Tap...

''Kalian,...'' Sosok itu berjalan pelan dengan di iringi oleh beberapa orang di belakangnya, salah seorang di antaranya adalah laki-laki besar bertubuh atletis bertelanjang dada, berdiri santai di sebelah perempuan berambut merah berkacamata tanpa bingkai.

Laki-laki dengan mata dihiasi tiga titik itu menatap lama sosok gadis berambut indigo yang tengah berdiri di tengah-tengah Shino dan Kiba. Matanya menatap intens tak berkedip.

''... Tim Kurenai, bukan?'' Tanya Suigetsu seraya menyeringai kecil. Matanya menatap meremehkan kearah Kiba dan Shino, terlebih pada gadis manis berambut ungu itu. ''Hooo, jadi kau putri kecil yang membuat Hizashi Hyuuga tewas karena mengorbankan diri itu?''

Mata Hinata terbelalak lebar mendengarnya.

''Padahal, aku ingin sekali bertarung dengan mata elang Konoha. Yah, walaupun aku mengetahui 'legenda'nya dari tuan Kabuto.'' Lanjut Suigetsu seraya mengedikan kedua bahunya keatas di iringi seringainya yang kian lebar. 'Bertemu dengan seorang Hyuuga ternyata seperti ini jenis Chakra dan Doujutsu mereka yang di idamkan oleh orang banyak.'

''Apa yang kalian lakukan di sini?''

Karin menatap laki-laki berperawakan misterius yang sedang berdiri paling depan, dahi gadis itu mengkerut mendengarnya. ''Mana kami tau, di peta dijelaskan bahwa jalan ini yang memang harus kami lalui.''

''Atau jangan-jangan kita diminta untuk bertarung dengan mereka di tengah perjalanan?''

Karin dan Shino segera menatap Suigetsu yang meminum air dari sebuah botol kecil yang memiliki sedotan.

''Mungkin Suigetsu benar.''

Sasuke melirik Juugo sebentar lalu kembali menatap Hinata, perhatiannya sejak tadi hanya tertuju pada Hinata yang tengah menunduk. Tekanan Chakra Hinata yang begitu menenangkan membuatnya teringat tekanan Chakra ibunya. Desau angin berderu di antara dua kelompok ini, suasana sunyi menyergap seketika saat Juugo melontarkan argumennya yang menguatkan pendapat Suigetsu, bahwa mereka memang harus bertarung di sini sekarang juga.

Kaki Sasuke seakan terpaku di tempat, tidak bisa digerakan sejak awal pertemuan dua kelompok ini secara tidak disengaja. Ada sisi lain dari jiwanya yang ingin menemui Hinata dan memeluk gadis itu, namun sisi lainnya terlalu kuat untuk dilawan hingga dirinya sendiri tidak mampu melawannya. Tugasnya datang kemari bukan untuk menemuinya yang dulu dia tinggalkan, melainkan mencari tau tentang sesuatu yang harus dia ketahui.

Tapi, betapapun dia mencoba membutakan dirinya, hatinya tetap saja ngilu begitu kesadaran menamparnya. Bahwa lubang dihati mulai terobati. Melihatnya saja sudah membuat Sasuke bersyukur kalau gadis itu tidak lagi suka murung seperti dulu.

Dia rindu senyum manis gadis itu, laki-laki sedingin batu es ini mulai menunjukan emosinya saat mata indah lembut Hinata menatapnya sendu. Laki-laki dengan sejuta pesona itu menatap Hinata dengan sorot mata menerawang, mencoba untuk menyelami lautan ungu pucat gadis lugu itu yang dulu mengisi hatinya, gadis lugu yang menorehkan warna di hitam-putih hidupnya, gadis Hyuuga yang selalu menemaninya ketika sendiri.

Sampai di detik inipun, figure gadis itu tidak pernah tergantikan. Sampai kapanpun. Dulu, baginya Hinata adalah segalanya, menjaga gadis itu dari rasa sedih adalah prioritas utamanya. Tapi, sepertinya dia sadar. Sasuke kini menyadari kesalahan terbesar yang sudah dia pilih. Dengan pergi meninggalkan Konoha hanya akan membuat gadis itu kehilangan pelindung, kehilangan tempat bersandar.

Tidak.

Sasuke menggeleng singkat, seraya menunduk. ini adalah pilihannya. Ini adalah resiko yang dia pilih. Bukankah sejak kecil Hinata selalu mengagumi sosok Naruto? Bukankah Hinata selalu merona bahkan pingsan hanya ketika bertemu Naruto? Rasa cinta Hinata yang begitu besar masih tertuju pada Naruto, bukan padanya.

Ironis memang, tapi itulah kenyataan yang harus dia terima.

''Sepertinya Peta kita di buat sepasang.''

Karin mengerutkan keningnya, lalu perlahan memperlihatkan Peta yang ada padanya lalu membentangkannya. Peta milik mereka memang terlihat seperti di sobek. Gadis itu mendengus pelan ketika melihat Peta yang Shino bentangkan di hadapannya.

''Bagaimana Sasuke?'' Suigetsu bersandar di dahan pohon yang besar seraya meminum kembali air minumnya.

''Hn.''

''Jadi,... Sampai di sini kita akan menuju tempat yang sama secara bersamaan atau kita harus bertarung?'' Suigetsu bertanya pada Karin. Gadis itu mengangguk seraya kembali menggulung peta dan menyimpannya di dalam tas pinggangnya. ''Kupikir kita akan saling bertarung.''

''Memang begitu,...''

Suara itu segera mengalihkan pandangan mereka kearah perempuan berambut ikal warna hitam, dan bermata merah ruby. Wanita itu tengah melipat kedua tangannya sambil tersenyum kearah Hinata yang memandang tak percaya pada gurunya.

''... Bukan begitu, Kakashi?''

''Yah, begitulah.'' Laki-laki yang tengah membaca buku bersampul warna orange hanya menjawab seadanya dengan tatapan bosan yang terlihat sangat menghina bagi Suigetsu.

~oOo~

Shikamaru berdiri diam. Seraya menatap sosok di depannya yang tengah santai merokok, seraya duduk bersila di atas batu besar. Di pinggir jurang yang amat sangat curam itu.

Mata hitam Shikamaru, beradu pandang dengan mata hitam laki-laki bermarga Sarutobi itu. Sosok yang begitu dia banggakan dan kagumi kini, tiba-tiba saja sudah duduk di atas batu itu tanpa terdeteksi oleh Byakugan Neji, yang tengah memasang wajah datar.

Laki-laki yang tengah merokok itu beralih dari Shikamaru, ke Chouji yang tengah memasang wajah tersenyum lebar seraya memeluk keripik kentang ukuran jumbo.

Lalu beralih melihat bibir jurang yang tak jauh dari tempatnya duduk. ''Jurangnya terlihat dalam ya, Shikamaru.'' Tanya orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Asuma Sarutobi, yang juga secara kebetulan adalah gurunya sendiri. Laki-laki itu bersila seraya menghembuskan nafas, dan mengeluarkan asap rokok dari rongga tenggorokannya.

''Aku tidak merasa ada barangku yang tertinggal.''

Asuma melirik Shikamaru yang tengah menatapnya dengan pandangan mengantuk seperti biasa, laki-laki itu hanya tersenyum kecil. Dugaannya memang tepat, intelektual dan insting laki-laki Nara itu memang luar biasa, tidak mudah dikecoh.

''Aku kemari bukan untuk mengantarkan barangmu yang tertinggal, ataupun barang dari salah satu di antara kalian semua.''

''Lalu?''

Sampai disini, Chouji menghentikan makan-makannya, dia merasa ada yang tidak beres disini. Tatapan Shikamaru dan aura Neji tidaklah bersahabat. Sedangkan aura guru Asuma seperti biasa saja, seolah-olah memang tidak ada apa-apa.

Chouji dengan pelan menyimpan keripiknya kedalam tas bahunya, dan menaruh tas itu di dekat pohon yang agak jauh darinya. Seolah mengerti keadaan dan memang sudah bisa di tebak, memang ada yang tidak beres di sini.

''Katakan, kenapa Asuma-san bisa ada di sini.'' Pertanyaan bernada datar di layangkan oleh Neji yang sedari tadi memilih bungkam.

Suasananya kian terasa jelas, kalau kedatangan guru Asuma tidaklah di inginkan disini.

''Jawabannya mudah saja,...'' Asuma membuang puntung rokoknya di jurang. Dengan sekali lempar dan sukses masuk kedalam palung bumi yang terlihat gelap dan pekat.

Dalam keadaan yang seperti itu, gerakan Asuma tiba-tiba saja seperti kilat, membuat yang lain terperanjat.

Tinggg...

Srannnggg...

''Gu-guru?!''

''Kau cekatan, Neji, aku akui itu.'' Asuma tersenyum kecil, sebelum melancarkan tendangan telak hingga membuat Neji jauh terpental kedalam hutan, membuat beberapa pohon tumbang seketika.

''... Aku akan menghentikan kalian, dan membuktikan sendiri sampai mana kemampuan kalian,''

Chouji hanya berdiri diam tak berkutik sejak tadi, matanya masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan telinganya mencoba menulikan pendengarannya ketika mendengar ucapan Asuma.

''Ada apa Chouji?'' Asuma segera berlari ke arah Chouji dengan membusungkan pedang Chakra miliknya kearah Chouji yang tak bergeming sama sekali.

Begitu jarak di antara keduanya semakin terkikis, tidak ada gelagat Asuma yang terlihat akan menunda serangannya, meski Chouji yang berdiri diam seolah menunggu serangannya.

Melihat Chouji yang seperti itu, membuat Asuma tak habis pikir pada murid gendutnya ini. Apa mungkin Chouji sedang menunggu momen yang pas untuk menyerangnnya, dan membuatnya lengah?

Tapi semua pertanyaannya tertepis, ketika ia melancarkan serangannya sedangkan Chouji sendiri tidak bergerak, namun gerakannya terhenti tiba-tiba. Sehingga membuatnya tak bergerak sedikitpun.

''Ini.''

''Ini masih agak siang,'' ucap Shikamaru yang berada di atas dahan pohon terdekat dengan Chouji, lalu matanya menatap Chouji yang tak bergeming. ''Aku punya banyak pasokan cahaya—Chouji, giliranmu.''

'Begitu?'

''Aku, aku tidak bisa melawan guru Asuma.''

Pernyataan itu secara terang-terangan dilontarkan oleh Chouji yang berdiri tepat di depan Asuma yang tengah membelalak lebar, tidak percaya dengan ucapan Chouji.

''Ada apa denganmu, Chouji!'' Teriak Asuma kalap, dia terlihat berusaha terlepas dari jerat jurus bayangan Shikamaru. ''Dengar, ini adalah ujian, apapun yang terjadi semuanya adalah mutlak!''

Neji berdiri dengan susah payah, setelah terpental jauh akibat tendangan guru Asuma. Darah mengalir dari bibirnya. Tatapan matanya tak lepas dari guru Asuma, yang terlihat berteriak pada Chouji.

Neji menyeka darah di sudut bibirnya sebentar, sebelum berlari untuk menerjang Asuma yang terlihat tidak bisa bergerak sama sekali.

''Kalau kau tidak bisa melawan Asuma-san, biar aku yang menyudahi ini!''

Semua mata langsung teralih pada Putra Hizashi Hyuuga itu yang tengah berlari dengan kencang kearah samping guru Asuma.

''Jyuuken!''

Boofff...

''Apa?''

''Apa yang terjadi?''

''Apa-apaan ini!?''

Sesosok bayangan terlihat perlahan muncul dari balik tanah. Sosok itu menatap Shikamaru cs lama, sebelum kembali masuk kedalam tanah setelah sebelumnya menyeringai lebar.

Kilatan dari dalam hutan memaksa Shikamaru untuk segera mengeluarkan Kunai-nya, dan menghadang beberapa Kunai yang melesat kearahnya. Konsentrasi laki-laki itu terbagi, antara Guru Asuma dan Chouji. Sementara Neji di bawah sana mencoba mencari jejak Asuma dengan Byakugan.

''Dimana dia,'' gumam Neji pada dirinya sendiri, matanya tidaklah bisa ditipu apalagi dengan Genjutsu. Setidaknya dia sudah agak kebal terhadap serangan yang menitik beratkan pada ilusi seperti itu.

Tapi sayangnya, baik Genjutsu atau jurus apapun, saat ini Byakugan-nya terasa tidak artinya, karena jejak chakra Asuma benar-benar tidak bisa di deteksi.

Sementara Neji yang sedang bergelung dengan kekuatan matanya yang tidak mendapatkan hasil sama sekali, langit kian menggelincir ke ufuk barat. Shikamari kian merasa kesal karena ini adalah tipe bertarung Gurunya, terlebih lagi fakta mengatakan bahwa Asuma adalah Shinobi yang mematikan bila bertarung dalam kondisi malam hari.

Apalagi kalau menilik dari segi medan tempur, mereka benar-benar terpojok. Shikamaru sendiri tidak habis pikir kalau akan melawan gurunya sendiri.

''Jangan lengah.''

Sontak ketiga Ninja asal Konoha itu mengedarkan pandangan mereka, mencari arah datang suara Asuma yang menggema di dalam hutan. Shikamaru pikir bukanlah tindakan bijak, bila bertarung di dalam hutan saat malam hari.

Benar-benar harus dihindari, agar situasi di dua kubu seimbang. Setidaknya itu yang terlintas di benak Shikamaru untukk saat ini.

Asuma adalah Ninja dengan keahlian sabotase yang di atas nalar, mereka bisa tumbang kapanpun kalau masuk kedalam hutan dan bertarung dengan gurunya dalam gelap.

Dengan kondisi seperti ini, malah membuat Shikamaru jadi serba-salah. Sebenarnya bukan hanya Chouji saja yang tidak menginginkan pertarungan antar murid, tapi demi tugas, dia sudah tidak ingin berlama-lama menjadi Chuunin, sementara temannya yang lainnya akan menjadi Joonin.

''Ada apa Shikamaru.''

Mata hitam itu membelalak, ketika suara Asuma melesak kedalam pendengarannya. Membuat laki-laki tujuh belas tahun itu segera waspada.

''A-ah, Shikamaru, di atasmu!''

Dengan kondisi tanpa istirahat selama perjalanan, membuat Kakinya bergetar tak bergerak. Entah apa yang terjadi, yang dia tau saat ini kakinya tengah keram dan sulit untuk digerakan, merasa tidak akan ada gunanya,...

... Putra kebanggaan Nara Shikaku itu hanya mampu menutup mata. Mencoba menerima kekalahan, walaupun sebenarnya serangan yang dilancarkan seharusnya bisa dia hindari.

Flashback: on.

''Ada apa denganmu?''

Terlihat Shikamaru tengah terlungkup di tanah, dengan tubuh yang kotor tak karuan. Beberapa bagian bajunya robek kentara. Debu-debu melekat setia di sekujur tubuhnya, diiringi dengan nafas yang memburu.

''Kau sudah kalah, Shikamaru Nara?''

Asuma berdiri tegak di dekat Shikamaru kecil yang saat itu masih Gennin, tak jauh dari Shikamaru, terlihat Ino yang hanya mampu berdiri di bantu Chouji yang juga kelampangan. Tim Shikamaru, berantakan dihadapan Asuma.

''Kalian memalukan.''

Ino membelalak, Chouji tertunduk lesu, sementara Shikamaru yang masih tak berdaya, hanya mampu meremas tanah dan menggeretakan giginya tidak terima.

''Ini adalah hari pertama pertemuan kita selepas kalian lulus dari akademi Ninja,'' Asuma memasukan pedang Chakranya kedalam ransel pinggangnya. Menatap raut wajah calon muridnya yang kala itu tidak dapat menerima fakta. ''Inikah murid yang dibanggakan Iruka itu?''

''Tu-tutup mulutmu.''

Asuma sedikit melirik bocah berambut nanas yang merupakan putra sulung dari teman pamannya.

''Kalian tau, sudah rahasia umum kalau Iruka itu adalah Ninja terbaik dan yang paling di banggakan di devisi SSS selain Kakashi Hatake.'' Asuma mendongak menatap langit sore, lalu menoleh kearah Ino dan Chouji yang sudah tak bersemangat. ''Kalian pasti mengerti, bagaimana rasanya ketika ada Senior kalian yang sesumbar, bahwa seluruh muridnya adalah Ninja terbaik yang pernah diciptakan Konoha.

Namun pada nyatanya, kalian tak lebih dari pecundang. Ditambah dengan menghilangnya Sasuke Uchiha, Rookie 12 sekarang hanya tinggal nama, taring kalian sudah patah satu. Apa gunanya binatang buas tanpa taring?''

''Aku tidak mengerti apa maksudmu.'' Shikamaru berusaha berdiri, tubuhnya bahkan bergetar hebat, hingga membuatnya sempoyongan untuk berdiri. Tatapan mata itu membuat Asuma sedikit teringat dengan bocah Uchiha. Namun yang ini memancarkan tekad yang baik dan tak dapat di bantah.

''Sekalipun Rookie 12 sudah kehilangan taring, kami masih punya geraham, kami masih punya taring yang satunya.''

Ino terdiam, begitupun Chouji yang sedari tadi hanya membisu bersama angin.

''Sekalipun pada pertemuan kali pertama ini kami kalah, untuk selanjutnya dan kedepannya, kau yang akan kalah, Sensei!'' Gertak Shikamaru seraya menyeringai kecil. Rasa perih dan bau anyir darahnya yang mengalir dari pundak, memaksanya untuk menutup bagian yang terluka dengan talapak tangan ''Aku tidak boleh kalah dari Naruto,...''

Ino membelalak, saat Shikamaru berdiri tegak dan mengambil ancang-ancang untuk kembali bertarung. Chouji hanya menggeleng tidak yakin akan kondisi Shikamaru.

Sementara Asuma, kehabisan kata-kata.

''Naruto?''

''... Dia selalu berjuang, dan akupun begitu. Akan aku buktikan, kalau Nara Shikamaru bukan hanya BOCAH YANG SUKA TIDUR!''

''Kau,...''

''Haaaaaa!''

Duarrrr!

Flashback: Off.

Sebenarnya, Shikamaru sudah yakin tubuhnya pasti akan terasa sakit karena benda tajam, tapi sejak tadi sepertinya dia tidak merasakannya. Tangannya mengepal, kelopak matanya terbuka perlahan dan segera membelalak tak percaya saat melihat Neji melindunginya dengan punggung lebar laki-laki itu.

''K-kau sudah 'bangun'?'' Nada menyindir itu membuat Shikamaru memandang tak percaya.

Neji tersenyum kecil, sebelum ambruk seketika di dekat Shikamaru yang mematung tak bergerak.

''Kenapa?''

Chouji yang melihat itu hanya bisa diam tak percaya, serangan cepat yang dilancarkan oleh gurunya tak bisa dihindari oleh Shikamaru, tapi kenyataannya adalah Neji yang mengorbankan dirinya untuk melindungi Shikamaru.

Neji terbatuk pelan, tangannya bergetar. ''Karena,... Kita teman, teman tidak akan pernah lari ketika temannya dalam kesulitan. Bukankah begitu?''

Asuma hanya diam di atas sebuah dahan pohon, memperhatikan mimik wajah Shikamaru. Lalu tersenyum kecil, saat matanya mendapati Shikamaru mengepalkan kedua tangannya dan mendongak menatapnya.

''Kita sudah ini.''

''Aku ingin cepat pulang,'' ucap Asuma seraya memposisikan pedangnya kedepan, ''tunjukan serangan terbaikmu.''

''Kagemane no jutsu!''

''Pedang angin: teknik ledakan angin!''

~oOo~

Bummmm...

''A-apa itu barusan?''

Naruto mendongak tak percaya, saat melihat segumpal asap yang membumbung tinggi di udara. Dari lokasi kejadian sepertinya itu sangat dekat, dekat sekali sampai getaran akibat ledakan itu sangat terasa.

Ino segera memandang Naruto.

Naruto memandang Ino.

''Jangan pernah lengah, apapun yang terjadi.''

Naruto beringsuk berdiri dengan mengamit Kunai panjangnya. Merubah dirinya menjadi mode sannin, dan langsung tidak percaya terhadap apa yang dia rasakan.

Chakra yang tidak lagi asing baginya, pemilik Chakra itu adalah orang yang begitu dia sayangi.

Ino yang berdiri di belakang Naruto segera mengamit tas pinggangnya beserta gulungan senjata yang di segel di dalamnya. Suara langkah dari dalam hutan yang gelap, membuat mereka segera waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Namun segera setelah sosok itu terlihat jelas di pandangan, dua pasang mata warna biru itu memandang tak percaya pada laki-laki yang mempunyai luka gores panjang melintang di hidung. Ino segera menoleh kearah Naruto, mendapati Naruto yang tengah memasang mimik wajah bingung dan waspada.

''Iruka,... Sensei?''

''Naruto,'' gumam Iruka seraya tersenyum kecil seperti biasanya.

Berdiri dibawah terangnya sang bulan, membuat Iruka dengan samar melihat penampilan Naruto dan Ino. Keduanya menatap Iruka dengan pandangan bingung sekaligus bertanya-tanya.

Iruka tersenyum kecil, ketika matanya menatap Naruto yang balik menatapnya.

''Apa yang guru Iruka lakukan di sini?''

Iruka terdiam, tidak tau harus menjawab bagaimana. Disela pikirannya, ada banyak pertanyaan yang juga ingin di lontarkan oleh guru dengan luka gores di hidungnya itu.

Bayangan gemulai dedaunan yang menari, bersembunyi dibalik kegelapan malam ketika dua sosok itu bertemu. Ino menatap guru Iruka dengan pandangan lembutnya, walau tidak terlalu akrab, guru Iruka pernah membantunya mencarikan pupuk untuk bunga-bunganya.

Sebenarnya si tulip itu masih bingung dengan kehadiran Iruka disini. Ada yang aneh, mengingat ujian hampir selesai, seharusnya tidak ada lagi yang boleh mengirimkan Bunshin kemari.

Andai saja semua itu benar.

Tapi bagaimanapun, Ino memakluminya. Mungkin ada beberapa informasi yang ingin disampaikan oleh Iruka pada mereka berdua.

''Aku kemari,...'' Iruka mengigit bibir bawahnya, haruskah dia mengatakannya?

Naruto mengangkat alisnya, ada yang aneh dengan guru Iruka.

''Aku kemari untuk,...''

BBOOMMM

Sebuah ledakan dengan intensitas tinggi menyela ucapan Iruka. Sebuah ledakan yang mengakibatkan kerusakan parah pada hutan bergema dengan dahsyat hingga ke penjuru Konoha, bahkan tim Lee dan Tentenpun terkena dampaknya.

Dari semua hal yang Naruto ingat, hanyalah berupa ingatan buram sedetik sebelum kejadian. Bahkan untuk menarik nafaspun dia tidak sempat, terlambat mungkin adalah definisi yang tepat.

Bagaikan petasan yang indah, suara ledakan itu sukses mengalihkan perhatian seluruh penduduk Konoha, hingga ke jajaran Hokage yang sedang beristirahat. Gaara menatap ledakan itu dengan tatapan tak percaya, ledakan yang sebesar itu tidaklah masuk dalam daftar jutsu yang di gunakan dalam tahap ujian ini.

Sedangkan Temari dan Kankurou yang melihat itu dari balik punggung Gaara hanya mampu membatu, yang terbersit dalam benak mereka hanyalah berapa banyak korban yang jatuh.

Ledakan kedua sukses membuat mata Kankurou menatap horor, tubuhnya bergetar.

Dilain tempat, Tsunade dan Jiraiya yang menatap ledakan besar itu dengan pandangan tak percaya. Jiraiya hanya mangap melihat ledakan itu.

Kurotshuci bersama dengan Akatsuci menatap ledakan ketiga dengan mata yang hampir melompat keluar dari rongga. Kantong cemilannya Akatsuci terjatuh dari pelukannya. Tatapannya menyiratkan ketidak percayaan.

''Ledakan itu, pastilah penggunanya,...''

''Kak Deidara.'' Sela Kurotshuci seraya meremas kayu jati yang menjadi kusen jendela. Giginya bergemeletuk, menatap nanar pada hutan HI yang kini mulai tak terlihat akibat tebalnya asap yang membumbung.

Sementara Oonoki, sang Tsuchi-kage, hanya menarik napas dalam.

~oOo~

Di direksi yang lain, kedua anggota legenda Ninja dari Konoha hanya memandang itu santai. Terlalu kontras dengan reaksi berantai para penghuni desa Konoha. Namun sang Pemimpin, bertahta Kage, melihat itu dengan pandangan yang terlihat menyelidik. Tatapan mata hazel itu seolah memastikan sesuatu.

Tidak sedang memperhatikan sesuatu, tatapannya menyiratkan bahwa dia sedang berpikir keras, mencoba mengingat sesuatu.

''Jiraiya.''

Suaranya yang khas perempuan mengalun dari bibir ranumnya. Matanya melirik laki-laki yang dia singgung.

''Tiga ledakan,'' jawab Jiraiya seraya melipat kedua tangannya. Laki-laki itu baru saja selesai menggunakan mode Sannin-nya. Lalu menatap hutan kematian yang kini tak lebih seperti medan perang.

''Apa sebaiknya kita kesana?''

''Ya, dia tentu tak seberani itu untuk kemari. Setidaknya kita tau bahwa dia masih sayang nyawa.''

''Apa,... Deidara terlihat ingin membunuh adiknya?'' Tsunade bertanya lagi, namun dengan nada yang santai. Dengan menghela nafas kecil, dia melirik tanggal yang ada tak jauh dari mejanya. ''Ah, lihat, ini hari jadinya rupanya.''

''Berharap saja dia tidak sengaja membunuh adiknya, karena sudah pasti pacar adiknya juga akan tewas bila terkena ledakan itu. Dan Inoichi tatkan pernah senang mendengarnya.''

''Ah, kau benar.''

Lalu hening, tidak ada lagi suara ledakan. Yang ada hanyalah asap yang membumbung tinggi kelangit. Bagaikan kabut hitam di malam yang gelap. Bagaikan pengantar pesan mimpi buruk bagi rakyat Konoha.

Di dalam ruang kerja sang Hokage, suasana hening bagaikan kuburan. Tidak ada lagi suara Tonton, si Babi kecil berwarna merah jambu, yang selalu ada dipelukan Shizune.

Begitupun dengan Shizune, gadis itu sudah menghilang sejak ledakan pertama terdengar. Melesat dalam gerakan yang tak terkira bersama Shiranui Genma menuju pusat ledakan, setelah menerima perintah secara respone dari sang Hokage yang awet muda itu.

Dan begitulah keadaannya. Hening, menjadi teman baik bagi Tsunade dan Jiraiya yang kini tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing, tak begitupun dengan Fukasaku yang tengah duduk santai di bahu Jiraiya, mengabaikan bagaimana mencekamnya suasana ketika itu.

.

.

...

.:To Be Continued:.

...

.

.

~oOo~

Akhirnya...*sujudsyukur* setelah bertapa sekian hari dan sekian bulan, Yahiko kembali menemukan alur cerita fanfic ini. Karena alur cerita ngga Yahiko simpan, jadi lanjutan cerita ini agak lupa, tapi akhirnya Yahiko ingat titik besar dari alur cerita fanfic ini. Dan semoga saja tidak melenceng jauh.

Maaf ya, Minna-san, maaf banget Yahiko terlampau jarang updet. Terlalu banyak cobaan untuk melanjutkan Fanfic, dan pada akhirnya berhasil di updet juga xD

ohya, Yahiko minta maaf banget kalo Typo masih bertebaran dimana-mana, hontou ni.

Nah, special thanks buatan yang udah review. Dan untuk Annonymous Review, aku wakilkan kalian jadi Satu aja ya; ngga apa-apa'kan :D

nn

missingninuzumaki

syidik NH

suriken

Guest

azzaqiyy

riopaul

Uzumaki Otom

asep w c

Ujumaki no gifar

Namikaze frida

Namesephyrot

Tom anpas

Satoshi 'Leo' Raiden

Namikaze Uzumaki Hendrix Ngawi

mendokusai144

Mistic Shadow

Mars LeNoir

el Cierto

Namikaze Haruno

claire nunnaly

Kazehaya Naozumi Laurenfrost

Bocoran next fic:

Deidara terlihat duduk bersandar disebuah pohon, matanya menatap sendu kearah langit malam. Sinar bulan yang lembut, menerpa wajah putih susu laki-laki itu.

Di samping kanannya, terbaring dua sosok pirang berbeda gender. Keduanya terlihat tidak sadarkan diri dan berantakan, luka-luka yang tidak begitu serius tertoreh diseluruh tubuh keduanya.

Deidara menatap salah satu dari kedua orang itu, air matanya mengalir, mata biru langitnya tak kuasa menatap laki-laki pirang yang kini terlelap. Tangan kanannya mengacak-acak rambut pirang laki-laki tujuh-belasan itu, lalu beralih menyentuh dahi berpelindung Ninja itu.

''Kau sudah besar, ternyata.''

Suaranya bergetar, juga bergema di tengah hutan yang sepi kentara, berirama panjang senada dengan gema suara binatang yang lain, bergema lirih.

''Kau benar-benar mirip dengan ayah, kau seharusnya tau itu.''

Lalu melirik kunai yang tergeletak tak jauh dari dirinya. ''Kau,... Sudah bisa menggunakan jurus ini rupanya,'' gumam Deidara seraya meraih Kunai itu. Lalu berdiri, matanya menyiratkan pertanyaan yang tak terjabarkan, dia menunduk.

Bahu bidangnya sedikit bergetar, lagi-lagi air matanya jatuh bebas di atas tanah.

''Maaf.''