Forbidden?
By: Latitude1420
a.k.a
Ismi amalia
.
YAOI AREA! DONT LIKE? DONT READ!
.
EXOtics cinta damai, jadi jangan ada flame atau bash, oKai? :)
.
Happy reading!
...
Chapter.3
.
Sehun menatap potret hitam putih appa nya dengan airmata berlinang. Bukan ini yang dia inginkan. Bukan ini yang seharusnya terjadi. Kenapa semua lari dari jalur? Bagaimana semuanya bisa lepas dari kendalinya?
Di depan Sehun, istri dari kolega-kolega appa Sehun berusaha menenangkan ummanya yang sedang menangis, di sampingnya, Kai sedang mengusap-usap pundak Luhan yang juga sedang menangis. Semua bersedih.
Tapi apa yang bisa dilakukan seorang Oh Sehun?
Para kolega bisnis appa Sehun tak berhenti berdatangan sampai pukul sembilan malam. Mereka semua ikut bersedih atas kejadian ini. karangan bunga terus bertambah di depan foto appa Sehun.
'ini salahku?'
Nasi sudah jadi bubur, tak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikannya lagi.
.
.
.
.
Forbidden?
.
.
.
.
"hyung. Aku sangat menyesal." Sehun menggenggam jemari luhan erat. Matanya bengkak karena sedari tadi terus menangis. Luhan mendekatkan tubuh mereka dan memeluk sehun erat.
Upara pemakaman appa mereka sudah selesai. Sekarang mereka sedang berada di salah satu bilik toilet yang ada di gedung tempat upacara pemakaman berlangsung. Tepat setelah acara pemakaman selesai, sehun langsung menarik tangan Luhan menuju ke toilet. Awalnya Luhan merasa takut kalau-kalau Kai melihat mereka, tapi setelah mengetahui sehun yang begitu sedih semua ketakutannya sirna.
"Sehunnie... jangan begini..."
Ini membuatku semakin merasa sedih dan bersalah...
Luhan makin mempererat pelukannya pada punggung Sehun dan mulai menangis dalam diam. Ingatannya kembali pada saat-saat terakhir appa nya, dia mengatakan sesuatu. Tentang sehun.
..'jangan biarkan anakku sehun berada di luaran sana.. akh-.. setidak-nya.. beritahu ummamu siapa dia seben-...'
"apa yang harus kulakukan sekarang?" lirih sehun. Luhan menggigit bibir bawahnya, apa yang harus dia lakukan? Apa dia beritahu saja sehun tentang kata-kata terakhir appanya semalam? Tapi Luhan tak sepenuhnya mendengar apa yang dikatakan appa nya.
"appa.." luhan menggeleng.
Jangan, ini semua akan semakin rumit..
Sehun melepaskan pelukannya dan menatap Luhan. "waeyo hyung?"
Luhan menggeleng lemah. "appa.. dia sangat menyayangimu.." Luhan tertunduk
Sehun menggenggam tangan kanan luhan. "..ada apa dengan kita hyung? Kenapa tak ada sedikit pun kebahagiaan pada hubungan kita? Kenapa tuhan juga seperti menentang hubungan ini? bukankah semua hanya tentang cinta? Kita saling mencin-..hmmpph..
Chuu~
Luhan langsung membungkam mulut sehun dengan bibirnya. Melumat lembut bibir sehun. Sehun memejamkan kedua matanya, menikmati bibir Luhan yang mendominasi ciuman mereka. Sehun melingkarkan tangan kanannya di pinggang ramping Luhan dan tangan kirinya mendorong tengkuk Luhan, memperdalam ciuman mereka.
Tangan Luhan maupun tangan Sehun-yang berada di tengkuk Luhan-saling bergerak liar meremas surai pasangannya. Suara kecipak saliva terdengar jelas di dalam toilet yang sudah sepi itu.
Selama hampir tiga menit, mereka saling memagut dan mengecup bibir masing-masing, kenyataan bahwa mereka manusia yang butuh oksigen, menghentikan adegan kissing yang mulai memanas itu. Akhirnya Luhan memilih 'melepaskan diri'. Sautas benang saliva tipis menyambungkan bibir mereka. Sehun menjilat bibir basah Luhan dan mengecupnya.
"hoh.. hoh.. Sehunnie-.."
Sehun menempelkan bibir basah nya di bibir Luhan (lagi). tapi kali ini dia tak bermaksud mengecup atau pun melumat, hanya menempelkan. Sehun mendorong pelan tubuh Luhan kebelakang sampai punggung Luhan menabrak pintu bilik toilet,
Brukk!
"hyung, aku merindukanmu.. malam ini -..." belum lagi Sehun menyelesaikan kata-katanya, Luhan menggeleng.
Luhan menjauhkan wajahnya, dan menunduk "...Kai. Dia mungkin sudah menungguku. Sehunnie, ayo kita kembali." Luhan berbalik dan ingin membuka pintu bilik toilet, tapi Sehun menahan lengannya,
Grepp!
Sehun memeluk Luhan dari belakang dan mengecup leher bawah telinga Luhan, menghisap nya kemudian menjilatnya, membuat sebuah tanda merah di tempat itu. "Aku bisa menunggu sampai saat dimana kita bisa melakukannya kapan saja, dengan cinta..."
Luhan memutar kenop toilet dan keluar tanpa mengucapkan apa-apa pada Sehun.
Cklek!
Luhan menarik pintu itu dan bermaksud melangkah tapi lagi-lagi, niatnya harus diurungkannya, ketika suara khas milik Kai terdegar jelas di telinganya.
.
Luhan memejamkan matanya yang berair, tangannya terkepal erat.
Kai, berhenti menyakitiku... kau kasar sekali...
Sementara di atasnya, kai yang sudah naked total sedang berusaha memasukkan miliknya ke dalam Luhan. Kai memang tak sekasar semalam, tapi tetap saja. Luhan melakukan ini dengan terpaksa. Tak ada kenikmatan. Sedikitpun...
"ughh... so tight hannie... kau sempith sekalihh... asshh..."
"kai... appo..." ringis Luhan lemah.
"baby-shh... cobalah untuk menikmatinya sed-uhh-kit saja,"
Luhan menggeleng. Rasanya terlalu sakit. Terlebih saat kai langsung bergerak tanpa membiarkan luhan terbiasa dengan kehadiran 'little' kai yang tidak bisa dibilang kecil itu.
"ahh..." satu desahan kecil lolos dari bibir luhan. Luhan tersentak. Apa itu tadi?
Luhan menggigit bibir bawahnya ketika rasa seperti disengat listrik itu menyapa nya lagi. rasanya...
"Ahh,- disini rupanya! Shh..." Kai menyeringai kecil dan berulangkali mengenai spot itu dengan ujung kejantanan nya.
Luhan menggenggam kuat lengan kekar Kai berusaha meluapkan rasa nikmat yang baru kali ini dia dapatkan dari seorang Kim Jong In. "Kai-shh... ahh... ahh... shhtoo-ohh-pphh... ak-hh.."
"cih! Munafik! Bilang saja kau menyukai nya!" teriak Kai menampar bokong kenyal Luhan dan meremas-remasnya, membuat Luhan sedikit melenguh.
Luhan menggigit bibir bawahnya berusaha menahan desahan-desahannya. Perut nya terasa digelitik ribuan kupu-kupu kecil saat Kai terus bergerak brutal dan memompa 'milik'nya. Suhu disekitarnya terus naik dan tubuhnya seperti akan meledak. Seperti ada sesuatu yang memaksa untuk keluar dari dalam tubuh Luhan.
"eunnggh... Kai-hh aku-hh shh... keluar-hh..."
"shit! Together! Akhh!~"
CROTT!
CROTT!
Kai ambruk disamping Luhan tanpa mengeluarkan miliknya yang sudah melemas dari hole Luhan, sementara Luhan masih berusaha mengatur nafas nya yang saling mengejar. Kai mengecup tengkuk Luhan yang sudah basah karena keringat, dan memeluk punggung Luhan erat.
"Hannie, saranghae. Jeongmal saranghae." Ucap kai pelan. Luhan hanya diam tak tahu harus menjawab apa. Dia menyayangi Kai, tapi Luhan mencintai Sehun-Adiknya.
"nado..." gumam Luhan akhirnya, kemudian menyusul Kai ke alam mimpi.
.
Sehun menegak alkohol itu langsung dari botolnya, dan itu sudah botol keempat. Suasana meriah serta berisik dari diskotik itu tak juga bisa melumpuhkan ingatannya tentang hidupnya yang menurutnya terlalu berat. Inilah Sehun. seorang namja berumur 19 tahun, yang bahkan belum bisa bersikap dewasa. Masih terlalu labil. Dia tidak berusaha mengatasi masalah nya, dia hanya ingin melupakannya dan kembali mengingatnya saat dia kembali tersadar dari mabuknya.
Sehun meletakkan botol alkohol nya dan berjalan terhuyung menuju lantai dansa. Matanya yang tak membuka sempurna-dan sedikit lebam-serta kemeja nya yang berantakan dan kusut membuatnya terlihat keren sekaligus menyedihkan.
Sehun mulai bergerak-gerak liar mengikuti irama musik yang menghentak-hentak di telinga. Tak perduli dengan orang-orang disekitarnya yang memandangnya dengan tatapan aneh. Dipikrannya hanya satu. Yaitu bagaimana cara dia melupakan masalahnya.
=flashback!=
.
Sehun memeluk Luhan dari belakang dan mengecup leher bawah telinga Luhan, menghisap nya kemudian menjilatnya, membuat sebuah tanda merah di tempat itu. "Aku bisa menunggu sampai saat dimana kita bisa melakukannya kapan saja, dengan cinta..."
Luhan memutar kenop toilet dan keluar tanpa mengucapkan apa-apa pada Sehun.
Cklek!
Luhan menarik pintu itu dan bermaksud melangkah tapi lagi-lagi, niatnya harus diurungkannya, ketika suara Kai terdegar jelas di telinganya.
"Hannie...?" Luhan mungkin tak bisa melihat, tapi dia tahu Kai sedang marah sekarang. Nada suara datar Kai cukup menjelaskan semuanya.
"K-K... Ka-Kai? Sejak ka-pan kau... disini?" tanya Luhan terbata. "ak-aku..."
Kai menghiraukan Luhan yang berdiri bergetar di hadapannya dan melewati tubuh mungil itu-kasar.
BRAKK!
Ditendang nya pintu toilet itu kuat, membuat pintu yang terbuat dari plastik itu sedikit lecet dan menatap namja yang berdiri di dalamnya dengan tatapan datar. "OH SEHUN! Keparat kau!"
BUGH!
"akh!"
"SEHUNNIE?" Luhan yang tak bisa melihat apa-apa hanya mampu berteriak ketika mendengar Kai memukul Sehun. "KAI? WAEYO?! AKU BISA JELASKAN! JANGAN SAKITI SEHUN!"
Plakk!
"akh!" luhan mengerjap cepat ketika dirasakannya telapak tangan itu menampar keras pipinya.
"SIAL!"
BUGH!
Satu tonjokan telak melayang ke pipi Kai sesaat setelah Kai menampar pipi Luhan. Bisa ditebak siapa pelakunya, tak lain dan tak bukan adalah Sehun.
"bastard! Siapa yang memberimu izin menampar hyung ku hah?" tanya Sehun menarik kuat kerah baju Kai, memaksa manik coklat gelap itu beradu dengan obsidian nya.
"LEPAS!" teriak Kai sambil mendorong kuat tubuh Sehun ke dinding toilet. "SIAPA KAU? HAH? BUKANNYA HAK KU MELAKUKAN APAPUN PADANYA? DIA ISTRIKU TOLOL!"
"hiks... geumanhae, Kai-ah, tolong berhenti... kami tak melakukan apa-apa kam-..."
"DIAM KAU LU HAN!" bentak Kai kuat yang langsung membungkam bibir Luhan. Luhan tak tahu harus bagaimana, dia buta, dia tak bisa melihat apa yang terjadi di sini. Menangis? Luhan sudah melakukannya sejak Kai menampar pipi nya tadi. Setelah itu apa? Apa dia harus diam dan membiarkan dua namja ini saling membunuh?
"hyung ayo pergi, tak ada gunanya melayani orang gila seperti dia," Sehun mendekati Luhan dan bermaksud menolong nya untuk berdiri.
BUGH! BRUKK!
Kai menepis tangan Sehun yang tadinya sudah akan merangkul bahu luhan sehingga tangan itu menjauh dari tubuh Luhan. Sehun memandang Kai sengit.
"aku masih mempunyai perasaan tidak membunuhmu disini Oh sehun, kuperingatkan kau untuk tidak menyentuh istriku lagi, kalau kau melanggarnya... maka kupastikan hidupmu akan menderita, sama menderitanya dengan orang itu!" Kai segera merangkul Luhan dan membawanya pergi keluar toilet itu, meninggalkan Sehun dengan tatapan marah bercampur sedih nya.
=flashbackEND=
.
Aku dan kita semua tahu, masalah menjadi semakin rumit ketika DENDAM LAMA dan RASA POSESIF beradu...
Dan saat itu kata CINTA kembali terasa HAMBAR...
.
Sehun melenguh pelan ketika dirasanya sinar terang mencoba menembus kelopak matanya. Sehun mengerjap pelan, 'dimana ini?' matanya mengintari seluruh ruangan dan sialnya tak ada yang dia ingat. Dia mabuk berat semalam.
Sehun meraba tubuhnya, ini bukan bajunya. Bajunya yang semalam tak sebagus baju nya sekarang.
Ruangan ini begitu mewah, bahkan lebih mewah dari kamar nya. Obsidian Sehun tak sengaja menangkap sebuah figura besar di samping jendela. Sehun beranjak dari ranjang dan berjalan menuju figura photo itu.
Untuk sejenak sehun terdiam seribu bahasa ketika melihat figura itu. 'orang ini...' sehun menutup mulutnya dengan kedua tangannya,
Cklek!
Refleks Sehun menoleh. Dan sebuah pemandangan yang tak masuk akal dia saksikan.
.
"nama ku, bukan LuHan seperti yang kau bilang. Nama ku Byun Baek hyun. Mungkin kau masih sedikit mabuk. Istirahat lah dulu, ini sarapanmu." Namja manis itu meletakkan nampan berisi bubur hangat itu di atas meja nakas di samping ranjang. Sedangkan Sehun masih tak percaya dengan apa yang dia lihat. Serindu itukah dia pada LuHan? Sampai orang lain yang jelas-jelas berbeda dengan luhan pun dia bilang Luhan. Tapi Sehun bersumpah, dia seperti melihat kembaran Luhan ketika melihat namja manis ini untuk yang pertama kali.
Namja manis yang mengaku bernama baek hyun itu sudah ingin beranjak menjauh dari ranjang sebelum sehun menggenggam pergelangan tangan nya kuat.
Greepp!
"ne?" dia bingung.
"kenapa aku disini? Ini dimana? Dan.. siapa kau? Seingatku...-
"sssttt..." namja manis itu menempelkan jari telunjuk lentik nya di bibir sehun. refleks sehun menghentikan ucapannya. "habiskan dulu sarapanmu, aku akan beritahu setelah kau menghabiskannya. Hmm?"
Baekhyun tersenyum dan mengacak rambut sehun lalu pergi dari ruangan itu. Sehun melirik bubur yang ada di atas meja nakas itu, lalu mendesah pelan. 'sebenarnya siapa dia?'
.
Luhan terjaga dari tidur nya dan meraba bagian ranjang disampingnya. Kosong. Kemana Kai? jam berapa ini? apa sudah pagi? atau... Luhan terbangun tengah malam?
Luhan meraba sekitarnya dan mulai berjalan menuju lemari pakaian. Luhan meringis kecil ketika dia merasakan sakit luar biasa di selangkangan maupun hole nya. Luhan membuka lemari itu dan mengambil piyama yang tergantung di bagian paling ujung lemari. Luhan segera memakainya, karena dia tak mungkin mandi dulu tanpa Kai disisi nya.
grepp!
'hah!' Luhan tersentak ketika tiba-tiba lengan kekar terlingkar di pinggang nya. Sesaat kemudian Luhan baru sadar kalau itu adalah Kai. Luhan mencoba menetralkan detak jantung nya yang tiba-tiba bekerja dua kali lebih cepat. Entah karena takut atau ada rasa lain.
"morning Hannie~" Kai menyamankan wajahnya di leher Luhan yang masih sedikit merah-merah. Sementara itu lengannya makin erat terlingkar di pinggang Luhan, seolah ingin meremukkan tulang-tulangnya. 'sudah pagi rupanya...'
"ne, kai." jawab Luhan pelan. Apa lagi yang harus dia katakan? mustahil dia bilang 'pagi juga Kai, kau ingin makan apa sebagai sarapan?' mustahil sekali untuk seorang Luhan yang nyatanya buta.
"Hari ini, hari terakhirku cuti kerja. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kau mau?" Kai mengelus surai caramel Luhan dan memainkan jemari Luhan yang berada dalam genggaman nya.
"..." Luhan diam sebentar, 'kemana Kai ingin mengajakku?' Luhan menggigit bibir nya pelan, "eodiga?"
"pokoknya suatu tempat, aku yakin kau akan suka." Kai membalik tubuh Luhan agar berhadapan dengannya dan mengecup bibir Luhan kilat. "kau mau?"
Luhan mengerjap sebentar lalu mengangguk pelan. "baiklah." ucap Luhan akhirnya, 'mungkin aku harus melupakan semua ini. Kai tulus mencintaiku, apa salahnya untuk ku mulai menerimanya di kehidupanku? Sehun... tapi aku tak bisa melepasnya...'
"kau sudah pakai piyama, aigoo padahal kau belum mandi. Ayo, kumandikan." Kai merangkul Luhan menuju ke kamar mandi yang ada di kamar mereka dan tak lupa menyambar bathrobe Luhan yang tergantung disamping bathrobe nya.
Kemudian...
Drrrrtt...! Drrrrttt...! Drrrrrttt...! Drrrrrttt...!
'Seoul International Hospital'
'memanggil...'
.
.
.
.
.
.
To Be Continued...
Oke jangan bunuh ismi karna apdetnya sangaaaattt lamaa o
ini semua diakibatkan oleh hyung author-_- #ngotot terus dipanggil hyung
dengan mudahnya dia merusakkan lappy ismi dan dengan tak bersalah menyerahkan lappy ismi dengan keadaan yang tidak utuh!
ASTOGEH! ismi harus ngetik ulang jadinya! TTATT
ismi harap readers bisa terima ya,
walaupun sebenar nya da kendala lain, ismi gatau kenapa ismi susah banget kalo mau login ke FanFiction :(
ada yang tau kenapa? kalo tau please PM ismi ya, sekaligus sama solusi nya. :))
Ohya ada yang nanya, ini ff HunHan ato KaiLu, yang jelas INI FF HUNHAN dengan SLIGHT KAILU :)
Ehmm,, last REVIEW please~! :)
beri kritikan dan saran yang membangun ne? ismi bner-bener terimakasih sama reader yang udah kasih saran dan keritik nya di kotak review :)
walaupun ismi gabalas, tapi ismi baca kok :)
BIG THANKS TO:
baconeggyeol, chyshinji0204, baekyeolssi, yantijinki, lisnana1, dian deer, rinie hun, 0312luLuEXOticS, MyJonggie, ohristi95 dan buat yang udah ngefav/follow fic ini, juga semua silence readers! #senyum
review lagi ne~ :)
