"Kim Kibum. Akhirnya,"
.
.
.
"Kibummie, tolong. Dia terlibat masalah lagi."
Teriakan salah seorang temannya sekelasnya itu membuat Kibum dengan sangat terpaksa mengalihkan tatapannya dari buku yang berada dihadapannya saat ini.
"Tenangkan dirimu JongHyun-ah. Dia ada dimana sekarang?"
Namja yang dipanggil dengan nama JongHyun itu menumpukan kedua pergelangan tangannya untuk menyangga tubuhnya sambil sesekali menarik napas dalam untuk menetralisir detak jantungnya yang memburu paska berlari-lari dari taman sekolah yang terletak dibagian selatan hingga perpustakaan dilantai tiga dengan menggunakan tangga karena lift yang bisa digunakan sudah bisa dipastikan penuh sesak oleh para mahasiswa dan tentu saja itu akan semakin memperlambat.
"Dia ada ditaman belakang sekolah sebelah selatan."
Kibum mengehela napas berat. "Kali ini apa lagi yang sebenarnya dia perbuat." Herannya.
Disclaimer : SMEnt
Main cast : Kim Jaejoong. Jung Yunho. Kim Kibum. Shim Changmin.
Gendre : Drama, Romance.
Theme : summer.
Rating : PG-17
Leght : 1 of
Warning : Garing. Penuh typo. Alur berantakan. Bikin sarap kepala jadi tegang. Dan, DON'T LIKE DON'T READ. NO BASH my character in my fic.
Flame jangan tapi kalu konkrit sangat boleh. ^^
Shin SeounRa| Choco Momo
[Sweet Apple]
Presented
An Alternative Universe Fanfiction
Hug!
Never leave you alone.
Story presented by © Sora Yagami
Inspired by © No Other_ Super Junior
Cast and anything in this story © They self and they parent
Chapter 1: Forever Love
"Changmin," Kibum berteriak histeris dan kemudian berlari terburu-buru kearah dua orang pemuda yang sedang adu urat dalam keadaan berguling ditanah yang penuh lumpur.
Kondisi keduanya sama sekali tidak bisa dibilang baik.
"Hentikan! Aku bilang hentikan kalian berdua." teriaknya.
Kibum menarik paksa tubuh Changmin hingga cengkramannya pada tubuh yang berada dibawah cengkramannya terlepas begitu saja, memaksa namja bertubuh tinggi itu berdiri dari posisinya menindih sesosok tubuh pemuda yang telah tidak berdaya dengan keadaan babak-belur.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan? Tidak puaskah kau membuat masalah selama ini. Hah?"
Changmin menepis kasar lengan Kibum yang masih setia memegang tangannya hingga terhempas. "Peduli apa kau? Kau sama sekali sekali tidak berhak mencampuri urusanku."
"Kalau kau memang tidak ingin aku mencampuri urusanmu, sebaiknya jangan membuat masalah. Setidaknya jangan disekolah ini." bentak Kibum.
Changmin berdecih merendahkan. "Jangan disekolah ini kan? Baik kalau itu maumu."
Namja tampan bergelar food monster itu mengambil handphone keluar terbaru dari dalam saku jas seragam sekolahnya dan kemudian dengan sengaja melemparkannya sekuat tenaga keudara hingga mengenai jendela kaca milik kantor kepala sekolah.
Terdengar suara pecahan kaca menggema diudara.
Semua orang tercengang dan suasana yang semula dipenuhi suara hiruk-pikuk gerutuan para siswa seketika menjadi hening.
Tidak lama setelahnya terdengar seseorang mengumpat dengan kata-kata kasar.
Seperti tersambar petir Kibum tersentak dari keterkejutannya. "Kenapa kau melakukan semua itu?" pekiknya.
Senyuman iblis tersungging dibibir Changmin. "Kau pikir aku akan menurutimu begitu saja. Jangan bodoh kim Kibum."
Saat Changmin hendak melangkah pergi, Kibum buru-buru mencekal pergelangan namja tinggi itu dan dihadiahi tatapan penuh aura membunuh.
"Mau kemana kau? Urusan kita sama sekali belum selesai."
"Jangan ikut campur."
"Berhentilah bertingkah seperti seorang pengecut Jung Changmin."
Sedetik setelah kalimat itu meluncur bebas dari mulut Kibum, segera saja hantam yang dilayangkan kepalan tangan Changmin mendarat diwajah putihnya hingga namja pemilik senyuman membunuh itu jatuh tersungkur sambil mengusap permukaan bibirnya yang berdarah.
"Namaku Shim Changmin. Dan jangan pernah memanggilku dengan nama itu lagi." teriaknya menggelegar hingga urat-urat kemaraha bermunculan dilehernya.
"Ada apa ini?"
semua orang lantas menoleh kearah sumber suara dan mendapati seorang Kwon Jiyong sedang berdiri diantara mereka sembali tangannya menggenggam sebuah penggaris panjang yang terbuat dari besi.
Semua orang lantas serentak meneguk ludah.
Matilah mereka semua kalau tidak segera melarikan diri dari tempat kejadian saat ini juga.
Changmin dan Kibum saling menatap.
Dan seperti mereka memikirkan hal yang sama.
Siapa yang tidak mengenal seorang kwon jiyong atau lebih sering dikenal dengan nama G-Dragon, istri sah dari kepala ketua yayasan sekolah mereka. Choi SeungHyun atau T.O.P.
.
.
.
Kedua namja muda itu tersentak kaget kalau seseorang didepan mereka menggerakan tangan untuk menggebrak meja yang berada didepan mereka dengan sangat keras.
"Kalian ini. Apa kalian tidak bosan bertemu denganku?"
keduanya hanya dia menanggapi kemarahan sang namja dewasa.
"Kau Kibum. Kau adalah ketua komite kedisiplinan siswa. Bisa-bisanya kau hingga terlibat perkelahian."
Kibum menundukkan kepalanya, tidak sanggup menatap wajah sang ketua yayasan.
Choi seunghyun menghela napas panjang dan kemudian mengalihkan tatapannya menatap namja yang sedang duduk disamping Kibum sambil memasang wajah angkuh.
Benar-benar mirip seperti ayahnya. Pikir SeungHyun.
"Kau Changmin. Apa yang harus kukatakan pada ayahmu? Kelakuamu sungguh sudah tidak bisa ditolerir lagi."
Changmin memutar bola matanya bosan. Diceramahi oleh ketua yayasan dengan penampilan nyentrik itu sama sekali bukan yang pertama kalinya baginya. Dia sudah kenyang.
"Ahjussi tidak perlu repot-repot menasehatiku. Aku sudah bosan, dan appa tidak akan perduli padaku."
kata-kata Changmin membuat Kibum mengangkat kepalanya dan menatap namja yang duduk disampingnya dengan raut wajah kaku.
Sepertinya SeungHyun memang harus banyak-banyak bersabar dalam menghadapi anak didiknya yang satu ini. Namja berjulukan T.O.P itu meletakkan sepucuk surat yang sudah diketahui dengan jelas apa isinya oleh Changmin, dan sudah bisa dipastikan akan berakhir sama dengan surat-surat peringatan lainnya, yaitu ditempat sampah.
"Sekali ini pastikan bahwa surat ini akan sampai ditangan ayahmu, Changmin-ah. "
Changmin tiba-tiba saja beranjak dari duduknya dan kemudian keluar dari dalam ruangan dengan dibarengi suara hempasan daun pintu.
Seunghyun menatap Kibum dalam. "Cobalah untuk lebih sabar menghadapinya Kibum-ah."
Kibum mengangguk. "Semua ini salahku ahjussi."
"Bukan. Tidak ada yang bisa disalahkan dengan kondisi kalian saat ini. Changmin hanya belum bisa menerimanya."
.
.
.
Hanya duduk diam sambil sesekali memperhatikan para pengunjung yang silih berganti memasuki caffe dengan tatapan tanpa minat.
Berjam-jam hanya duduk dengan wajah datar sambil ditemani secangkir kopi hitam yang sama sekali bukan kesukaannya dan juga sepotong chese cake dengan hiasan beruoa buah stroberi utuh diatasnya.
Sesekali jemarinya bergerak untuk memasukan kream yang seharusnya terasa enak itu kedalam mulutnya.
Segalanya terasa hambar.
Bahkan hujan yang terus turun mengguyur bumi pun seakan ikut menangisi keadaannya yang begitu menyedihkan.
Merasa begitu sepi dan hampa.
Dia bahkan tidak yakin apakah tempat selama ini dia tidur dan bernaung masih layak disebut rumah.
Sunyi.
Dia tidak memiliki siapun yang menyambutnya ketika dia pulang.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tanya penuh kekhawatiran mengapa dia pulang terlambat atau bercerita tentang apa saja yang telah dia lakukan selama disekolahnya.
Changmin tetap tidak mengangkat kepalanya yang tertunduk lemas bahkan ketika seseorang mendekat kearahnya-terdengar dari suara derap langkah kaki- dan kemudian duduk tepat diseberangnya sambil menumpukan kedua lengannya diatas meja.
"Kenapa kau sendiri saja?"
Didengarnya suara merdu itu menyapa pendengarannya.
Seseorang yang dia yakininya namja itu melirik kearah cake yang masih utuh terhidang diatas meja.
"Kenapa kau tidak memakan kuemu? Kau tidak lapar?"
masih tidak ada jawaban. Namja yang duduk didepan Changmin itu mengkerutkan keningnya heran. "Atau jangan-jangan, kue buatanku rasanya tidak enak."
Changmin bahkan sama sekali tetap tidak bergeming kala mengetahui seseorang didepannya ini adalah orang yang telah menyajikan makanan untuknya, padahal biasanya dia begitu bersemangat apabila sudah menyangkut soal makanan.
Tapi itu dulu.
Rasanya dulu segalanya begitu indah baginya, setidaknya dulu dia masih bisa makan dengan hati bahagia.
Seseorang itu dengan lancang mencolek kue milik Changmin dan kemudian memasukkannya kedalam mulut. Dia tetap tidak perduli. "Rasanya baik-baik saja."
Namja itu tampak berpikir. "Atau mungkin kau tidak suka chesecake? Kalau begitu akan kuganti yang baru."
Suara itu.
Seharusnya dia mengenalinya.
Changmin mengangkat kepalanya dan tertegun.
Tidak akan pernah dia lupakan suara yang selalu menggema didalam dibenaknya itu meski hanya berupa sekelebatan ingatan.
Wajah itu.
Adalah wajah yang sama dengan wajah yang selalu hadiri disetiap mimpi penuh kerinduannya.
"Eomma," lirihnya. Nyaris hanya sepelan bisikan angin yang berhembus.
Jaejoong membeku.
Wajah itu.
Tidak, tidak mungkin. Saat ini dia pasti telah bermimpi bisa bertemu kembali dengan putra yang telah dia kandung dan dia lahirkan setelah bertahun-tahun yang harus dilaluinya dengan siksaan batin dan penderitaan.
"Changmin," ucapnya tertahan.
Beranjak dari duduknya, belum sempat jaejoong melangkahkan kakinya menjauh, Changmin sudah lebih dulu mencekal lengannya dan kemudian menarik namja cantik itu hingga jatuh kedalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seakan takut kalau melepaskannya, maka ibu yang dia rindukan akan menghilang begitu saja dari hadapannya.
Tidak perduli apakah meja yang menghalami keduanya hingga terjatuh berdebum kelantai dan menarik perhatian para pengunjung yang kebetulan memang ramai mengunjungi caffe ini ketika jam pulang sekolah.
Jaejoong membeku, seluruh saraf ditubuhnya seolah telah berhenti berfungsi.
Jemarinya bergerak perlahan untuk mengusap perlahan punggung putranya yang bergetar, terisak tanpa suara. Tetapi kemudian mengurungkan niatnya kala mengingat bahwa seharusnya mereka tidak pernah bertemu.
"Pulanglah Changmin-ah. Ayahmu pasti akan mengkhawatirkanmu."
Changmin menggeleng dan mengetatkan pelukannya. "Ani. Aku ingin tinggal bersama eomma. Biarkan aku tinggal bersama eomma." pintanya lirih.
Jaejoong melepaskan pelukan ditubuhnya dengan paksa. "Tidak Changmin. Tidak bisa. Kau harus kembali pada appa-mu."
"Aniya. Minnie tidak mau kembali kerumah seperti neraka itu. Minnie mau ikut eomma." Changmin berkeras.
"Changmin!" bentak Jaejoong menggelegar. "Atas dasar apa kau berkata seperti itu. Kau harus kembali sekarang."
Changmin terhenyak dengan wajah tertunduk.
Sakit dan kecewa saat harus menerima penolakan yang dilakukan oleh ibu yang sangat dirindukannya.
.
.
.
Kibum tersentak ketika ada tangan kuat yang menari lengannya hingga tubuhnya terhempas menabrak gundukan kardus-kardus bekas yang tidak terpakai.
Meringis merasakan pinggangnya terasa nyeri dan sesuatu tiba-tiba saja menghantam rahangnya bertubi-tubi hingga sama sekali tidak memberikannya kesempatan untuk sekedar menghindar, apalagi membalas.
Karena memang dia sama sekali tidak berniat untuk melawan, hanya sesekali berusaha menghindar dengan menyilangkan lengan diwajahnya untuk mengahalau sebagai tindakan refleks. Dia tahu siapa seseorang yang sedang berusaha membuat wajah dan tubuhnya babak belur.
"...Tapi KENAPA? Kenapa dia meninggalkanku sendirian? KENAPA dia lebih memilihmu dan tidak membawaku bersama kalian?" teriaknya menggelegar.
Suara kemarahan menggema memantul diudara. Bergetar dipenuhi oleh rasa sakit dan kecewa.
"JAWAB AKU KIM KIBUM! Atau harus kupanggil Jung Kibum. Hah? Jawab aku."
Melihat Kibum hanya diam saja tanpa berniat membalas pukulannya sama sekali, Changmin justru malah semakin kalap dan mulai mencengkram kerah kemeja Kibum hingga namja berkulit salju yang berada dibawah himpitan tubuhnya itu mengerang kesulitan bernafas.
Kibum membuka kedua orb beningnya perlahan ketika merasakan tetes-tetes air berjatuhan mengenai wajahnya yang terasa sakit.
Dan Kibum terhenyak.
Changmin menangis.
Menangis yang benar-benar menangis dengan sorot wajah terluka,
bahkan mungkin jauh lebih sakit daripada luka yang harus dia terima akibat pukulan-pukulan penuh kemarahan yang dilayangkan Changmin padanya.
Menangis pilu tanpa ada isakan yang keluar.
Cengkraman kelima jemari Changmin pada lehernya perlahan mulai mengendur hingga terlepas begitu saja.
Tubuhnya melemas.
Kibum menggigit bibir bawahanya kencang hingga tidak sadar darah semakin banyak merembes keluar membasahi kemeja seragamnya yang berwarna putih. Ini sama sekali tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kesakitan yang harus Changmin tanggung karena terpisah dari ibu yang sangat dicintainya, kalau perlu dia rela menerima pukulan yang lebih menyakitkan.
"Dia bilang. Dia mencintaiku, tapi kenapa dia bahkan tidak ingin aku tinggal bersamanya. Dia membuangku begitu saja." isak Changmin tertahan. "Aku hanya ingin bisa bersama eomma."
Kibum menggerakan perlahan tangannya yang terkulai lemas dan kemudian menarik tubuh Changmin hingga terjatuh menghimpit tubuhnya. Memeluknya begitu erat untuk menyalurkan rasa sakit yang harus mereka tanggung.
Changmin menyurukan wajahnya diperpotongan leher Kibum dan menangis semakin keras.
Biarlah dia buang semua keangkuhan dan wajah bertopeng ketegaran yang selama ini dia jadikan tameng menghadapi orang-orang yang tentunya akan merasa simpatik akan rasa sakitnya.
Dia tidak membutuhkan para munafik yang berusaha memanfaatkan kelemahannya.
Air mata menganak sungai dipelupuk mata Kibum dan membiarkannya jatuh begitu saja membasahi kedua pipinya. Dia bisa merasakan kesakitan itu karena sesungguhnya diapun masih begitu terluka atas rasa sakit yang harus menimpa mereka diusia yang bahkan ketika mereka masih membutuhkan kasih sayang para orang tua.
Namja yang berbagi rahim dengannya selama didalam kandungan itu terlihat begitu rapuh dan hampa.
Dia bisa merasakan semua itu. Kesakitan. Kekecewaan dan luka yang masih berdarah bercampur menjadi sebuah isakan yang dipenuh rasa pilu.
Mereka adalah satu.
Dia mengetahui segalanya. Saling terhubung tidak perduli meski seberapa jauhpun terpisah.
Semua isak tangis.
Permohonan yang tidak pernah terucap.
Setiap rasa sakit.
Tetapi satuhal yang tidak pernah Changmin ketahui adalah sang ibu bahkan tidak pernah sekalipun berhenti memikirkannya.
Tidak sedetikpun.
"Eomma sangat mencintaimu." ucapnya bergetar. "Appa bahkan memilihmu sebagai penerusnya karena dia tahu aku lemah dan tidak akan mampu."
Kibum tersenyum getir setiap kali memory itu terlintas dikepalanya. "Waktu tahu kau dan appa tidak lagi menempati rumah lama kita. Eomma mencarimu kemana-mana. Dia seperti orang yang telah kehilangan pikirannya. Dia tidak mau menatapku."
Kibum menatap kosong langit-lagit gudang yang dipenuhi sarang laba-laba. "Eomma bahkan lebih mencintaimu daripada aku, Changmin-ah."
Kali ini giliran Changmin yang membeku. Dia lupa fakta itu.
Sejak dulu.
Dia selalu lebih dekat dengan sang Ibu sedang Kibum dengan Appa karena Kibum memiliki pembawaan yang tenang. Mirip dengan appanya, berbeda dengan dirinya yang kerap terlibat masalah dan membuat ibunya dengan terpaksa memarahinya.
Changmin mengangkat kepalanya perlahan dan kemudian menatap wajah cnatik yang berada dibawah himpitan tubuhnya. Dia bisa melihat gambaran dirinya mementul dimata yang sehitam arang itu.
Sisa air mata masih membekas diwajah keduanya.
"Apa kau memikirkan hal yang sama denganku." ucap Changmin serak.
Kibum Diam untuk sesaat sebelum kemudian menganggup. "Satukan kembali Kim Jaejoong dan Jung Yunho."
Changmin mengangguk. "Dan untuk itu kita harus singkirkan para penghalang." sambungnya.
So, keep continue or delete?
A.N : banyak yang bertanya mengapa kalau tidak ada NC, lantas kenapa diletakkan di rated M?
jawabannya gampang. karena aku suka, juga untuk mencegah yang dibawah membacanya.
terlalu banyak kata-kata kasar yang tidak pantas.
hanya untuk sekedar keamanan saja.
Jadi, bagian mana yang paling kalian sukai?
