Hari minggu, adalah hari yang tepat untuk bersantai-ria dan berjalan-jalan. Hari dimana semua orang bisa merasakan kesenangan bersama dengan keluarga, sanak saudara, maupun teman. Hari yang begitu menyenangkan, dimana setiap kota di Negara Fiore akan mengadakan sebuah festival kecil-kecilan, sebagai tanda bahwa kehidupan di kota mereka begitu makmur. Dan yang paling menyenangkan adalah saat melihat segerombolan pawai keliling menghibur para warga dengan atraksi-atraksi yang begitu mengagumkan . Walaupun ini adalah acara rutin setiap minggu, hal itu tidak menyurutkan antusianisme para warga. Sebaliknya, mereka akan menyambut festival ini dengan sangat meriah.

"FAIRY TAIL"

Disclaimmer : Fairy Tail © Hiro Mashima

Story © Trancy Anafeloz

Rate : T

Genre : Romance, Drama, Humor.

Warning : AU , OOC , Typo, alur kecepetan dan sebagainya~

DON'T LIKE? DON'T READ !

.

.

Summary :

Sebuah nama pastilah memiliki kisah tersendiri. Kisah apakah yang ada dibalik nama tersebut? Sedikit kisah-kisah kecil dibalik sebuah nama FAIRY TAIL.

Enjoy Reading ~

Chapter 2

A untuk : Ama (Hujan)

Magnolia, nampak begitu ramai di pagi hari ini. Berhubung hari ini adalah hari minggu dan cuaca pun terlihat sangat cerah, para warga sibuk bergotong-royong untuk mempersiapkan acara festival, siang nanti. Aku rasa festival ini akan berlangsung meriah. Ah— lupakan soal persiapan festival dan para warga Magnolia. Mari kita fokuskan kisah ini pada sang pemeran utama, Lucy Heartfilia.

"Nggh…" desah seorang wanita cantik berambut blonde yang tengah menggeliat nyaman di atas ranjang tempat tidurnya, berusaha merenggangkan otot-ototnya. Kelopak matanya sedikit terbuka saat dirasakannya terpaan sinar matahari masuk ke dalam kamarnya melalui celah-celah jendela yang sedikit banyak telah terbuka.

"Mau tidur sampai kapan, Lucy?" sebuah suara berhasil membuat kelopak mata Lucy terbuka sepenuhnya. Mata cokelatnya membelalak lebar, kaget saat dilihatnya sesosok orang yang tak asing bagi dirinya tengah berdiri santai di samping ranjang tempat tidurnya, kedua tangannya ia lipat di depan dada.

"E-Erza?" pekik Lucy kaget. Lalu Lucy membetulkan posisinya dari berbaring menjadi duduk, "Se-sejak kapan— "

"Sejak sejam yang lalu," jawab Erza sebelum Lucy menyelesaikan ucapannya— atau lebih tepatnya menyelesaikan pertanyaannya. Seolah ia sudah tau pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh Lucy.

Lucy yang mendengar jawaban Erza hanya bisa menautkan kedua alisnya, tanda bahwa ia heran dengan kedatangan Erza yang terlalu tiba-tiba. Lucy memandang Erza dengan tatapan seolah bertanya 'ada perlu apa, Erza?'

Mengerti akan tatapan bertanya Lucy, Erza pun langsung berkata dengan nada tegas, "Aku ingin kau mengantarku."

"Ke-ma-na?" tanya Lucy linglung.

Mendengar pertanyaan Lucy, sontak membuat wajah seorang Erza Scarlet memanas. Rona merah muda nampak di kedua pipi putihnya. "Aa… i-itu, a-aku… ," jawab Erza gugup dan cepat, sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Lucy kaget mendengar ucapan Erza yang tidak jelas itu, ia menatap Erza intens sambil berkata, "Maaf? Bisa kau ulang lagi, Erza?"

Wajah Erza semakin memerah. Yang benar saja! Apakah Lucy setuli itu sampai-sampai ia tidak bisa mendengar ucapan Erza barusan! Benar-benar menyebalkan! —umpat Erza kesal, wajahnya benar-benar panas.

.

.

"!" teriak Erza nyaring, membuat Lucy meringis dan harus menutup kedua telingannya.

Tunggu— tunggu sebentar—

Lucy terdiam, berusaha mencerna kata-kata Erza beberapa saat lalu.

Lucy kaget..

Matanya membelalak lebar..

Dia menyeringai..

Erza.. mati kutu..

Ehm! Jadi? Apa yang dikatakan oleh nona Erza beberapa saat lalu? Gaun? Helooo.. bukankah Erza bisa me-requip kostumnya sesuai dengan yang ia inginkan? Lalu? Untuk apa ia harus buang-buang tenaga hanya untuk memebeli sebuah gaun di pusat kota? Apa persediaan kostumnya sudah habis? Hell no! Sulit dipercaya bukan?

"Jadi— kau ingin membeli sebuah gaun di pusat kota, eh, Erza?" tanya Lucy menggoda. "Apa persediaan gaun-gaunmu sudah habis?" lanjut Lucy.

"Umm.. i-itu.." jawab Erza gugup sambil memainkan kedua jari telunjuknya di depan dada, wajahnya benar-benar terasa mendidih saat melihat seringai Lucy yang seakan-akan itu adalah seringai ejekan. Damn!

"Ah! Sudahlah! Jadi, intinya kau mau menemaniku atau tidak?" tanya Erza dengan suara horror, tak lupa ia memasang death-glare andalannya.

Tak ada respon dari Lucy, Erza pun akhirnya berkata, "Oh— ayolah Lucy, a-aku ingin pergi dengan— ehm! Yeah, kau taulah siapa orangnya." Erza membuang pandangannya ke segala arah, yang pasti untuk sekarang ini ia tidak mau melihat ke arah Lucy. "Jadi, kali ini aku ingin tampil beda," lanjut Erza malu-malu. Sangat lucu—

Erza menatap Lucy harap-harap cemas, takut ia akan menolak ajakannya. Sampai akhirnya ia mengeluarkan jurus mautnya— jurus puppy-eyes no requip (?). "Jadi— kau mau 'kan?" tanya Erza lagi, "Kalau tidak— aku akan menghajarmu sampai mati."

Melihat raut wajah Erza yang nampak murka, membuat Lucy sedikit bergidik ngeri, tatapannya berubah menjadi devil-eyes no requip (?), tak lupa pedang armor-nya yang juga ia todongkan ke arah Lucy. Kali ini Lucy benar-benar tidak bisa berkutik.

"E-eh— bisakah kau singkirkan pedangmu, Erza?" tanya Lucy takut-takut sambil berusaha menyingkirkan pedang Erza, "aku akan mengantarmu." lanjut Lucy pasrah, disambut dengan pelukan erat Erza. Saking eratnya sampai membuat tubuh Lucy seakan mengalami patah tulang.

Yah— kalian tau sendiri 'kan? Bagaimana kerasnya baju armor milik Erza yang selalu ia kenakan. Hmm.. malang sekali nasibmu Luce, ckk..

»»» oOo «««

"Jadi, kau ingin gaun yang seperti apa, Erza?" tanya Lucy kepada Erza. Saat ini mereka— maksudku Lucy dan Erza sedang berada di sebuah toko besar yang ada di pusat kota Magnolia. Terlihat di sana-sini, para warga Magnolia tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara festival siang nanti.

"Umm.. aku ingin dress santai. Menurutmu, aku pantas memakai yang seperti apa, Lucy?" tanya Erza malu-malu dengan suaranya yang berat (?), sembari memilah-milah dress yang sekiranya cocok ia pakai.

Ternyata— disaat-saat tertentu Erza nampak seperti gadis-gadis lainnya, ya? Maksudku, di balik sikap keras, calm, and cool-nya itu ternyata dia bisa juga bersikap manis. —Pikir Lucy saat melihat Erza yang sedang asik ber-blushing ria.

"Menurutku, kau pantas memakai apa saja. Karena pada dasarnya kau memang cantik, Erza" jawab Lucy sambil tersenyum cerah, membuat seorang Erza Scarlet menjadi salah tingkah.

.

.

.

Tak terasa hari sudah semakin siang, matahari pun semakin terik. "Lu-Lucy…" panggil Erza gugup. Lucy hanya menolehkan wajahnya kea rah Erza, tanda bahwa ia mendengar panggilan Erza.

"A-apa benar a-aku… pantas memakai ini?" lanjut Erza member sebuah pertanyaan kepada Lucy. Saat ini wajah Erza benar-benar sudah sangat merah, dia terlihat sangat gugup. Haaah— kalau sudah menyangkut masalah cinta, Erza memang benar-benar out of character, sangat jauh dari karakter utamanya.

Lihatlah… dress yang dipakai Erza itu benar-benar sangat manis. Sebuah summer dress sederhana yang terkesan santai, berwarna biru tua dengan balutan pita merah terang di sekitar daerah pinggangnya. Benar-benar manis.

Lucy hanya terkekeh kecil saat melihat ekspresi dan sikap Erza. Dengan semangat ia menjawab, "Kau pantas mengenakan itu, Erza."

"Mana Erza yang selama ini begitu penuh percaya diri dengan penampilannya?" tanya Lucy penuh semangat.

Mendengar pertanyaan Lucy, sontak membuat mata Erza membelalak lebar, wajahnya tertunduk menatap jalanan setapak yang sedang mereka lewati. Sepertinya Erza sedang berfikir—

Lucy yang melihat wajah Erza tertunduk seperti itu jadi merasa tidak enak atau lebih tepatnya merasa bersalah plus takut. "E-Erza… a-apa aku salah bicara?" tanya Lucy gugup sambil nyegir kaku. Sungguh ia takut.

"…" tak ada jawaban dari Erza.

Oke— sekarang Lucy merasa bulu kuduknya benar-benar meremang, aura kegelapan mulai menguar dari tubuh Erza. Lucy sudah mempersiapkan diri untuk lari, saat ini juga!

1…

2…

3…

"KAU BENAR, LUCY! AKU! ERZA SCARLET, BUKANLAH ORANG YANG LEMAH! AKU CANTIK, PINTAR, KUAT, HEBAT, DAN— SEKSI!" teriak Erza lantang penuh percaya diri seperti orang gila, satu tangannya kini mengepal dan diangkat tinggi-tinggi ke atas udara. Membuat Lucy tersentak kaget, matanya mendelik ke arah Erza dan mulutnya kini menganga lebar. OMG—

Oke— semua mata kini tertuju pada Lucy dan Erza. Benar-benar Lucy tidak menyangka akan reaksi Erza yang sepeti ini, ckk.. bikin malu. Lucy hanya bisa ber-sweatdrop ria.

"Erza?" panggi seseorang yang datang menghampiri Lucy dan Erza. —Umm.. lebih tepatnya Erza.

"Je-Je-Je-Je-Je-Jellal?" ucap Erza gugup, salah tingkah, matanya berputar-putar sepertinya dia shock akan kedatangan Jellal yang terlalu tiba-tiba.

Heloo… bukankah mereka akan pergi nanti sore? Lalu apa yang dilakukan Jellal di sini? Ckk..

Jellal mendekat ke arah Erza, kemudian menyambar— lebih tepatnya menggandeng tangan Erza, menariknya untuk segera pergi. "Syukurlah aku menemukanmu di sini, ikut aku." Tanpa basa-basi lagi Jellal langsung membawa Erza pergi.

"E-eh?" kata Erza kaget. Kemudian ia berlalu meninggalkan Lucy yang masih terbengong-bengong di tempat.

• • • • •

Butuh waktu beberapa detik bagi Lucy untuk mencerna kejadian yang baru saja berlangsung.

"Apa?" gumam Lucy linglung.

"APAAA— ? HEI, KENAPA AKU DITINGGAL SENDIRI?" teriak Lucy lantang, menggema, membuat beberapa pasang mata menoleh ke arahnya.

Seketika Lucy langsung menutup mulutnya karena merasa perhatian orang-orang kini tertuju padanya. 'sial, kenapa jadi aku yang ditinggal sendirian!' umpat Lucy dalam hati. Kesal— ia hentak-hentakan kedua kakinya dengan kasar, tak peduli dengan orang-orang yang menatapnya aneh.

»»» oOo «««

"Haaah— menyebalkan sekali, lebih baik aku panggil Plue." Lucy mengeluarkan salah satu spirit key-nya, kemudian ia memanggil salah satu spirit-nya, Plue. "Plue— temani aku~" kata Lucy girang sambil memeluk-meluk Plue. Plue hanya mengangguk-angguk gemetar.

Yaah— setidaknya ada Plue yang selalu setia menemani Lucy dikala ia kesepian. Huuft.. sedihnya jadi manusia jomblo…

.

.

.

Hari sudah semakin siang dan sepertinya acara festival sudah dimulai sejak tadi. Lucy melangkahkan kaki jenjangnya menuju tempat dimana festival itu berlangsung, tak lupa bersama Plue yang sekarang ada di dalam dekapannya.

"Oi— Luce!" panggil seseorang dari arah belakang Lucy. Lucy menolehkan kepalanya ke arah sumber suara tersebut. Dilihatnya sesosok pria berambut merah muda tengah berlari-lari kecil sambil melambai-lambaikan tangannya ke arahnya.

"Natsu?" gumam Lucy pelan. "NATSU!" balas Lucy dengan cengirannya yang lebar, ia lambaikan juga satu tangannya ke arah Natsu.

Tak lama setelah itu, Natsu pun sudah berada dihadapan Lucy. "Mau kemana?" tanyanya pada Lucy.

"Pergi, lihat festival," jawab Lucy sumringah, "Kau sendirian, Natsu? Mana Happy?"

Natsu mendengus sebal saat mendengar nama 'Happy' keluar dari mulut Lucy. Membuat Lucy sedikit mengernyit heran. "Happy— pergi bersama Charla dan Wendy," gerutu Natsu sambil mendengus sebal, sebal karena ditinggal oleh patner-nya.

"Tapi— sudahlah, untung aku bertemu denganmu di sini," lanjut Natsu sambil mengeluarkan cengirannya yang super duper lebar. "Ayo, Luce!" Natsu menarik tangan Lucy, membawanya ke tengah keramaian festival.

Yeah, sejenak kekesalan Lucy terhadap kejadian beberapa waktu lalu kini menguap terlupakan begitu saja. Digantikan sebuah senyuman manis. Terima kasih untuk si salamander yang satu ini..

"Lihat itu, Luce!" teriak Natsu sembari menunjuk beberapa stand permainan yang dibuat oleh warga Magnolia. Lucy menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjuk oleh Natsu. Sebuah stand permainan tembak. "Ayo, kita ke sana!" pekik Natsu sambil menarik pergelangan tangan Lucy penuh semangat.

"Pelan-pelan, Natsu!" ketus Lucy.

"Lihat, aku akan menembak tepat pada sasaran!" celetuk Natsu riang gembira sembari terus membidik sasaran-sasaran yang ada. "Kau ingin hadiah yang mana, Luce?"

Lucy menoleh ke arah Natsu, sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Natsu bukanlah penembak yang hebat, tidak sehebat Bisca dan Alzack maksudnya— tapi lumayan bisa di andalkan dalam masalah ini.

"Luce!" seketika Lucy tersadar dari lamunannya saat Natsu memanggilnya, "E-eh? ya, aku pilih boneka kelinci itu saja," jawab Lucy cepat.

"Oke!" balas Natsu semangat. Dibidiknya salah satu boneka yang terpajang di sana. Dan—

Dorr!

Tepat sasaran.

1.. 2.. 3..

"Wuaah! Tepat sasaran!" pekik Natsu dan Lucy berbarengan. Sungguh heboh mereka berdua. Dan benar saja, sekarang boneka kelinci yang dipilih Lucy sudah ada ditangannya.

"Terima kasih, Natsu."

"Yeah."

»»» oOo «««

Semakin sore, festival di kota Magnolia semakin ramai. Terbukti dari antusianisme para warga yang kini tengah berbondong-bondong mengelilingi area festival.

Lucy menghela nafas berat, "Huuuh— ramai sekali," dengus Lucy lelah sambil membawa Plue dan juga boneka kelinci yang baru saja diberikan oleh Natsu. "Natsu, bagaimana kalau kita istira— " kata-kata Lucy terputus saat tersadar bahwa Natsu sudah tidak ada lagi disampingnya. Oh, good! Sekarang ia terpisah dengan Natsu di tengah keramaian ini.

"Lho? Na-Natsu?" ucap Lucy panik.

"AH? NATSUUU!" teriak Lucy sembari meratapi kesialannya hari ini. Segera Lucy mengembalikan Plue ke alamnya dan bergegas mencari Natsu.

[NATSU POV]

Aku memang hebat hahahah… lihat itu tembakanku jitu sekali, aku yakin saat ini Lucy sedang terkagum-kagum pada kemampuanku.. wah sepertinya aku harus berterima kasih pada Bisca dan Alzack, karena mereka aku jadi bisa memberikan sesuatu untuk Luce-ku

Luce-ku? Sejak kapan dia jadi milikku? Oh— hebat, kenapa aku bisa berfikiran begitu?

Yasudah, lupakan soal itu. Pokoknya hari ini aku benar-benar bangga dengan diriku hahaha.

"Luce?" aku panggil Luce yang kini tengah berjalan beriringan disampingku. Tak ada jawaban sama sekali, kucoba tolehkan kepalaku ke arahnya. Dan—

TIDAK ADA!

LUCE, TIDAK ADA!

Damn! Sekarang aku terpisah dengan dia! Ini karena tempatnya ramai sekali. Ah! Bodoh, bodoh, bodoh.

Yang jelas aku harus menemukan Luce secepatnya.

[END NATSU POV]

Lucy terus berjalan di area kawasan festival, tak henti-hentinya ia mengedarkan pandangan keseluruh tempat yang sedari ia lewati. Siapa tau ia bisa menemukan Natsu? Namun, hasilnya nihil. Ia tak bisa menemukan Natsu dimana-mana. Benar-benar menyusahkan.

BRUUK—

Ah! Kesialan apa lagi yang kini menimpaku, huh? Batin Lucy kesal.

Saat ini Lucy tengah menabrak seseorang, seseorang yang lebih tinggi dari dia, sepertinya. Lucy merutuki kebodohannya karena sedari tadi pandangannya tidak fokus ke depan, sedari tadi ia terus mencari-cari keberadaan si salamander berambut merah muda yang menyusahkan itu.

"Ma-maaf," gumam Lucy dan orang itu bersamaan.

"E-eh?" gumam Lucy tertahan, lalu ia dongakan kepalanya. Dan—

"Gray?"

"Lucy?"

Lagi— mereka bicara bersamaan namun beda kata. Apa ini yang dinamakan jodoh? Siapa tahu…

Kedua mata itu— mata Gray dan mata Lucy, saling bersirobok, saling berpandangan satu sama lain. Kedua pandangan mata dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.

Lucy terkesiap saat melihat pandangan mata Gray yang lurus itu, tepat menatap ke kedua manik cokelat miliknya, membuat ia jadi sedikit salah tingkah. "Gray? Sedang apa kau di sini?" tanya Lucy memecah keheningan diantara keduannya.

"Kau sendiri?" tanya balik Gray.

Lucy menggeram kesal saat mendapat pertanyaan dari Gray, pertanyaannya saja belum di jawab, kenapa dia malah balik tanya? Ckk.. "Aku? Aku tadi pergi dengan Natsu, tapi kita malah terpisah."

"Hah? Si hothead itu?" tanya Gray dengan nada tidak percaya. Lucy hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanda sebuah jawaban. "Kau sendiri?" tanya Lucy kemudian.

"Aa…" belum sempat Gray menjawab, kata-katanya sudah dipotong oleh seseorang yang memanggil namanya.

"Tuan Gray— " teriak orang itu.

"Oh— shit! Ayo!" ucap Gray langsung menarik tangan Lucy. Lucy tersentak kaget karena ia sudah ditarik menjauh dari kerumunan orang-orang oleh Gray.

"Tuan Gray~ Juvia disini~~" rengek Juvia sambil menggigit sapu tangan biru mudanya, matanya nampak berkaca-kaca karena sedari tadi ia terpisah dengan Gray— atau lebih tepatnya Gray-lah yang memisahkan diri dari Juvia.

.

.

.

"He-hei— kau ini kenapa sih?" tanya Lucy agak kesal karena Gray sudah menarik-narik tangannya seenaknya.

Gray yang tersadar akan kata-kata Lucy langsung menghentikan langkahnya, "Ah! Maaf."

"Kenapa aku harus ikut lari-lari denganmu, huh?" tanya Lucy.

"Ehehehe refleks," balas Gray nyengir sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Mendengar jawaban Gray, Lucy hanya bisa ber-sweatdrop ria.

"Oi— Luce!" teriak seseorang sambil berlari ke arah Lucy.

"NATSU!" teriak Lucy sumringah saat dilihatnya Natsu sedang berlari ke arahnya. "Dari mana saja kau?" tanya Lucy sebal.

"Kau yang dari mana saja? Dari tadi aku mencarimu tau!" balas Natsu tak mau kalah.

Lucy hanya merengut kesal, "Aku juga mencarimu." Lalu ia terkekeh pelan. Merasa terasing, Gray pun berdehem keras, "Ehm!"

"Eh? sedang apa kau disini, Gray?" tanya Natsu sewot.

"Harusnya aku yang tanya begitu hothead," balas Gray tak kalah berang.

"APA KAU BILANG?" pekik Natsu emosi. Siap untuk membakar Gray dengan jurus sihirnya.

Gray yang tak mau kalah juga ikut mendelik tajam ke arah Natsu, sambil memasang kuda-kudanya. "APA?" tantangnya. Lucy yang melihat kejadian ini hanya terkekeh pelan, selalu saja seperti ini kalau mereka berdua bertemu. Padahal mereka satu tim , ckk.

"Sudah, sudah kalian berdua— hei! Hentikan," cegah Lucy yang kini sudah berada di tengah-tengah mereka. Akhirnya Gray dan Natsu pun hanya memandang satu sama lain, memberikan sebuah deathglare masing-masing. Sedangkan Lucy hanya bisa menghela nafas panjang.

»»» oOo «««

Tess.. Tess.. Tess..

Rintik-rintik hujan kini mulai turun membasahi Kota Magnolia. Entah apa yang menyebabkan cuaca menjadi tak bersahabat seperti ini, padahal sedari tadi pagi hingga menjelang sore ini cuaca terlihat cerah-cerah saja. Oh— cuaca dan iklim saat ini memang sulit untuk ditebak.

"Wah, hujan!" pekik Natsu saat dirasakannya butiran-butiran air dingin jatuh tepat mengenai seluruh kulitnya.

"Kau benar, Natsu! Sebaiknya kita segera cari tempat untuk berteduh," ucap Lucy sembari melindungi kepalanya dengan satu lengan tangannya. Gray dan Natsu mengangguk setuju. Kemudian mereka bertiga segera berlari, mencari tempat berteduh sebelum hujan turun deras.

ZRAAASH…

Lihat, hujan semakin turun deras. Membuat festival kali ini harus berakhir dengan kekecewaan. Semua warga Magnolia nampak sibuk berlari-lari ke sana-sini hanya untuk mendapatkan sebuah tempat berteduh. Untungnya saat ini Lucy, Natsu, dan juga Gray sudah mendapatkan tempat berteduh yang cukup untuk mereka bertiga. Yaaah— walaupun hanya di bawah sebuah pohon oak yang rindang, hal itu cukup bagi mereka agar tidak terguyur langsung oleh derasnya hujan. Pohon ini tidak terlalu tinggi namun cukup rindang, setidaknya petir tidak akan menyambar pohon ini mengingat masih banyak pohon-pohon yang lebih tinggi.

"Haaah— kenapa harus hujan disaat seperti ini sih," gerutu Lucy sambil memandangi bulir-bulir air yang terus berjatuhan membasahi Kota Magnolia. Penampilannya saat ini benar-benar buruk— yaah, walaupun tidak seburuk saat harus bertarung dalam menjalankan sebuah misi, tetap saja baginya ini buruk. Baju dan rok yang basah, rambutnya yang juga terlihat lepek. Benar-benar tidak enak dipandang.

Hal yang sama pun terjadi pada dua pria sosok yang kini tengah berdiri di samping kanan dan kiri Lucy. Natsu dan Gray, menampilan mereka juga terihat sama buruknya, namun bedanya rambut mereka tidak selepek rambut Lucy. Mungkin karena rambut mereka lebih pendek, eh?

Yaaah pokoknya hari ini adalah hari yang menyebalkan bagi Lucy, walaupun tidak sepenuhnya menyebalkan tapi tetap saja menyebalkan (?)

"Sepertinya hujannya awet sekali," gumam Gray sesekali, matanya menatap lurus ke depan.

"Yeah, kau benar," balas Natsu bosan sembari meregangkan kedua otot-otot tangannya yang sudah mulai pegal.

Sudah hampir satu jam mereka— Natsu, Lucy, dan Gray terjebak dalam hujan. Dan selama itu pula mereka harus terus berdiri di bawah pohon oak itu. Rasa pegal mulai menjalar di seluruh otot tubuh mereka khususnya otot-otot kaki. Sesekali mereka mengeluh bosan karena hujan yang tak juga reda. Benar-benar merepotkan..

Lucy semakin mendekapkan pelukannya pada boneka kelinci yang sedari tadi ia pegang. Hawa dingin kini mulai menjalar di seluruh tubuhnya yang kini sudah basah kuyub akibat terpaan air hujan yang terbawa oleh angin. Kalau begini terus dia sakit nanti, hmm.

"Luce, kau kedinginan?" tanya Natsu memecah keheningan diantara ketiganya.

Lucy yang merasa terpanggil langsung menolehkan kepalanya ke arah Natsu. "Tidak," dustanya pada Natsu. Padahal sedari tadi giginya bergemelutuk kencang, bibirnya bergetar hebat, dan tubuhnya sedikit gemetar akibat menahan semua rasa dingin yang ada. Helooo siapa sih yang tidak kedinginan di tengah hujan dan angin kencang begini? Ditambah dengan baju yang basah? Oh— akan kupastikan setelah kau pulang nanti kau harus berendam dengan air hangat, Luce!

"Bohong," balas Natsu sembari memperhatikan Lucy, "tanganmu dingin sekali, Luce!" lanjutnya agak kaget setelah menyentuh tangan Lucy yang dirasa cukup dingin.

Gray yang sedari tadi memperhatikan Lucy, mulai khawatir juga dengan keadaannya. "Hei— kau tak apa?" akhirnya Gray membuka suara. Lucy hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

Melihat keadaan Lucy yang cukup memprihatinkan— maksudku karena kedinginan. Natsu dan Gray ber-inisiatif mendekatkan diri mereka pada Lucy.

"Hah? Apa yang kalian lakukan?" tanya Lucy kaget saat tersadar, kini tubuh Gray dan Natsu sudah mengapitnya. Berusaha menyalurkan rasa hangat melalui tubuh mereka, walaupun tidak sepenuhnya berhasil karena baju mereka sama-sama basah. Tapi toh— Lucy merasa aman dan nyaman. Yah lumayan selimut gratis (?)

"Hanya ingin berbagi kehangatan," ucap Gray dan Natsu bersamaan. Membuat mereka bertiga tersentak kaget, khususnya Gray dan Natsu. Bagaimana bisa kata-kata itu sama persis dengan apa yang mereka ucapkan? Agrrrh… apakah ini yang dinamakan jodoh? Tidak! Tidak! Ini hanya kebetulan. Ku tekankan lagi! Ini hanya kebetulan!

Mereka, kecuali Lucy, saling memberikan tatapan deathglare satu sama lain.

Lucy yang mendengar ucapan dan melihat tingkah Gray dan Natsu hanya terkekeh pelan, ya.. ya.. untuk sementara waktu sampai hujan reda, tak apalah mereka dalam posisi seperti ini. Toh— mereka 'kan teman setim, jadi mereka harus berbagi suka dan duka bukan?

ah— sayangnya tidak ada Erza disini, mungkin kalau ada dia suasana bisa lebih hangat lagi.

Ngomong-ngomong soal Erza, sekarang dia dan Jellal sedang apa ya? di tengah hujan begini? Apa mereka juga berbagi kehangatan? Wah mungkin bukan hangat, tapi panas…

"Kurasa hujan sebentar lagi akan reda," gumam Lucy pelan.

»»» oOo «««

Sementara di tempat lain..

"Tuan Gray~ sebenarnya kau ada dimana?"

"Sedari tadi Juvia tidak bisa menemukanmu." rengek Juvia sambil sesekali mengelap ingus yang mengalir dari kedua lubang hidungnya.

"Uuuhhh… entah kenapa pikiran Juvia jadi tidak enak."

"Pikiran Juvia selalu tertuju pada Lucy."

"Pokoknya Juvia akan mengutuk Lucy, kalau sampai Juvia tau kalau saat ini Tuan Gray sedang bersamanya, huh."

To Be Continued

Author note: astagaaa… cerita macam apa ini? Lirik-lirik cerita di atas u,u *pundung* aduh maaf yaa minna-san kalau cerita ini jelek dan kurang memuaskan, updatenya telat pula. Jujur saya sempat bingung menentukan alur ceritanya walaupun udah kepikiran sama judulnya. Yah tetep aja inspirasi itu susah dicari. Dan pada akhirnya jadilah fict abal binti ancur bin gak jelas ini =w=v.

Jujur saya sendiri kurang puas dengan fict ini *gelundungan* tapi saya harap kalian tidak bosan untuk membaca fict ini. Sungguh-sungguh saya sangat berterima kasih pada kalian yang mau menanggapi fict jelek ini dengan respon dan juga review-review yang benar-benar membuat saya semangat! Yeahh review itu jamu paling ampuh buat para author biar tetep semangat ngelanjutin fict-nya wkwkwkwkwk (lebay, banyak cincong, dibekep)

Nah akhir kata..

Mind To Review and Concrit ?

"berharap gak ada silent riders, biar daku tambah semangat ._." *digiles*

Special thanks for :

Bebeldragneel, bjtatihowo, Adellecia Evans, petitewinsy, Lucia Heartbuster, NekoMimiMyawMyaw, hafiza uzumaki, Lucy-chan, Konno Michiyo, agus cool, Lucy Uchino, NaLu, Dragon Slayer, FairyLucyka, snowypon, Luce Dragennel, azhelic, RaFa LLight S.N, Shiho Dragneel, and Saika Tsuruhime

Thanks for your flames :

Chaos Seth