Kemampuan timbul karena adanya usaha…
Usaha timbul karena adanya niat di dalam hati…
Aku bisa melindungi teman-temanku dengan caraku sendiri…
Biarpun nyawa sebagai taruhannya…
FAIRY TAIL
Fairy Tail © Hiro Mashima
Story by Trancy Anafeloz™
2012©
Warning : Alternative Universe, Typo, Out Of Character, etc.
DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
Summary :
Sebuah nama pastilah memiliki kisah tersendiri. Kisah apakah yang ada dibalik nama tersebut? Sedikit kisah-kisah kecil dibalik sebuah nama FAIRY TAIL.
Enjoy Reading~
Chapter 3
I untuk : Iki (Keberanian Hati)
"Kenapa kita harus mengambil misi ini, sih!" sungut Natsu tidak terima atas keputusan ketiga teman setimnya—Lucy, Gray, dan Erza.
"Karena memang hanya ini misi yang tersisa, bodoh!" balas Gray kesal. Lucy yang mendengar penuturan Gray hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya pasrah.
Natsu mendelik tajam ke arah Gray. "Apa? Apa katamu tadi?" pekik Natsu, "bodoh?"
"Ya," jawab Gray santai.
"Kau—" geram Natsu kesal, siap dengan posisi ingin meninju Gray. Tapi niat itu ia urungkan setelah menerima tatapan maut dari Erza. "E-e, a-a, tidak jadi," ucap Natsu terbata-bata setelah merasakan aura buruk yang keluar dari seluruh tubuh Erza.
Lucy dan Happy yang melihat kejadian itu hanya bisa terkekeh pelan. Sedangkan Gray, ia hanya menyerigai.
"Sudahlah, Natsu. Lagipula misi ini mudah," ucap Lucy berusaha menenangkan Natsu. Happy dan Gray menganggukan kepala setuju.
"Justru karena itu! Aku ingin menjalani misi kelas S!" pekik Natsu histeris karena misi ini tidak sesuai dengan misi yang ia harapkan kemarin.
"Walaupun misi ini mudah, tetap saja kita harus mengerjakannya dengan sungguh-sungguh," ucap Erza bijaksana dengan gaya kepemimpinannya, "lagipula misi S yang kemarin kau incar itu sudah diambil oleh Laxus."
Natsu merengut kesal sembari mengacak-acak rambutnya frustasi, "Aaaargh, aku benci Laxus!" teriak Natsu kesal, "Ah? H-hei! Tunggu aku, kalian!"
.
.
.
Hutan selatan kota Magnolia, adalah tempat yang sangat jarang disinggahi oleh manusia lebih tepatnya oleh penduduk kota Magnolia itu sendiri. Beberapa rumor mengatakan bahwa di dalam hutan tersebut tinggal sekelompok penyihir jahat yang tidak akan segan-segan menghabisi siapa saja yang berani memasuki kawasan mereka.
Menurut kesaksian beberapa penduduk Magnolia, siapa saja yang berani memasuki kawasan hutan tersebut, mereka tidak akan pernah bisa kembali lagi ke kota mati lebih tepatnya.
Sungguh sangat ironis…
"Kau yakin kita tidak salah jalan?" tanya Gray pada Lucy yang kini sedang membaca denah perjalanan yang tertera di balik kertas misi mereka.
Lucy mengerutkan alisnya sejenak, "Aku yakin," jawabnya mantap masih terus menatap denah tersebut.
"Sepertinya kita salah jalan," ucap Gray memandang heran tempat di sekeliing mereka, "seharusnya kita lewat jalan kota, bukan?" lanjut Gray memberi sebuah pertanyaan pada Lucy.
Erza mengerutkan alis sejenak saat mendengar pertanyaan Gray. Iris hitam kecokelatannya juga ikut memandang waspada daerah di sekitar mereka. Mungkin apa yang dikatakan oleh Gray ada benarnya. Tapi, ia juga tidak meragukan kepintaran otak dari seorang Lucy Heartfilia.
"Tidak mungkin Luce salah membaca denah," ucap Natsu santai.
"Aye!"
Benar! Hal itu sangat tidak mungkin. Mana mungkin seorang Lucy salah membaca sebuah denah?—Batin Erza membenarkan ucapan Natsu.
Krasak krasak—
Krasak krasak—
Bunyi suara gemerisik yang berasal dari semak-semak yang letaknya ada di samping Lucy membuat semua mata tertuju pada semak-semak itu. Natsu yang berada tepat di depan Lucy siap memasang kuda-kuda dengan pose bertarung. Begitu pula dengan Gray.
Krasak krasak—
"Si-siapa itu?" pekik Lucy takut-takut.
.
.
Semua mata membulat saat melihat sesuatu yang keluar dari dalam semak-semak tersebut. Mulut Erza, Natsu dan Gray menganga dengan tidak elitnya.
Seorang nenek tua tiba-tiba saja menerjang Lucy, sehingga membuat Lucy terjengkang ke belakang. Sedangkan nenek tua tersebut dengan santainya duduk di perut Lucy.
"Apa yang kalian lakukan di tempat ini!" bentak nenek tersebut sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Lucy.
"A-aku, seharusnya aku yang bertanya 'apa yang nenek lakukan di tempat ini—di atas perutku?' seperti itu," ucap Lucy sedikit terbata, tidak terima atas perlakuan nenek tersebut.
"Kalian, sebaiknya segera keluar dari hutan ini!" ancam nenek tersebut memandang Lucy, Erza, Natsu, Gray, dan Happy secara bergantian. Mimik wajahnya menampakan keseriusan yang amat sangat mendalam.
"Apa yang kau katakan hei nenek tua!" pekik Natsu membara, tidak terima dengan ucapan nenek tersebut.
"Jangan sebut aku tua!" bentaknya pada Natsu sembari mengeluarkan death glare yang serupa dengan death glare andalan milik Erza. Membuat Natsu dan Gray bergidik ngeri. "Hutan ini sangat berbahaya," lanjutnya sembari berdiri dari posisi duduknya.
Lucy menghela napas lega setelah terbebas sebagai tempat singgah sang nenek.
"Berbahaya?" tanya Gray penasaran.
"Ya."
"Apa maksudnya?" kali ini Erza bertanya dengan nada yang amat sangat datar.
"Di dalam hutan ini terdapat sebuah serikat penyihir jahat," ucap nenek tua itu dengan suara serak, memberikan informasi. "Bagi siapa saja yang memasuki kawasan mereka, mereka tidak akan segan-segan menghabisinya."
"Wow!" pekik Natsu semangat dengan pandangan mata berbinar.
"Pergilah kalian dari sini!" perintah nenek itu tegas, "jika kalian belum ingin mati."
Hening…
1
2
3
"Kita habisi mereka!" pekik Natsu semangat sembari meninju udara ke atas.
Lucy, Gray, dan Erza hanya diam.
"Aye!" pekik Happy semangat.
"Aku rasa misi kali ini tidak akan berjalan semudah yang kita kira." Erza berkata pelan namun tegas. Lucy mengangguk-anggukan kepalanya, dirinya juga berpikir sama seperti Erza.
"Kau benar," ucap Gray ikut menimpali.
Natsu dengan semangat menggebu menolehkan kepalanya ke arah tiga—ah! Maksudnya empat rekan setimnya, termasuk Happy tentunya. "Tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat!" teriak Natsu sambil berlari terlebih dahulu, masuk ke dalam hutan tersebut.
"Aye! Tunggu aku, Natsu!" teriak Happy yang langsung terbang menyusul Natsu.
"Terima kasih atas informasinya," ucap Erza kalem sembari meninggalkan nenek tua tersebut.
"Terima kasih, Nek!" ucap Lucy ceria ikut pergi meninggalkan nenek tua itu mengikuti langkah kaki Erza dan Gray. Sedangkan nenek yang ditinggalkan itu hanya bisa menatap kepergian anak-anak muda yang menurutnya—sangat tidak sopan itu dengan tatapan tidak percaya. Apa mereka memang ingin sekali cepat mati muda?—Batin nenek itu iba.
»»» oOo «««
Bagian dalam Hutan Selatan Magnolia.
Lucy, Natsu, Gray, dan Erza terus melangkahkan kaki-kaki jenjang mereka memasuki kawasan hutan ini. Diikuti Happy yang terbang di atas kepala Natsu. Semakin dalam. Dalam. Dan terus semakin dalam, mereka memasuki kawasan hutan tersebut.
"Gelap," gumam Lucy sembari memeluk dirinya sendiri memakai kedua tangannya. Tidak disangka hutan ini ternyata begitu menyeramkan. Begitu banyak pohon-pohon rindang yang sepertinya sudah berumur ratusan tahun. Dapat dilihat dari bentuk akar-akarnya yang kokoh beserta batang besar yang menjulang tinggi ke atas.
Lucy menelan ludah takut saat dirasakannya suasana berubah menjadi mencekam. Seperti ada aura sihir yang menusuk-nusuk kulit tengkuknya, membuat ia agak sedikit bergidik.
Grep
Sebuah benda hangat tiba-tiba saja menyentuh tangan Lucy. "E-eh?" pekik Lucy kaget.
"Jangan sampai kita terpisah," ucap suara baritone milik seseorang yang sudah sangat Lucy kenal. Lucy hanya mengangguk-angguk kikuk saat dirasakannya jemari tangan Gray semakin menggenggam erat tangannya. Sangat erat…
Menuntunnya di tengah kegelapan…
.
.
"Lihat itu ada cahaya, aye!" seru Happy semangat saat melihat sebuah cahaya yang letaknya sepertinya ada di ujung hutan gelap ini. Membuat Lucy dan yang lainnya menolehkan kepala ke arah cahaya tersebut.
"Mungkin itu jalan keluarnya." Erza ikut menimpali ucapan Happy.
Dengan segera, Lucy dan kawan-kawan berlari ke arah celah dimana cahaya tersebut berada. Natsu berlari ke arah sumber cahaya tersebut dengan penuh semangat diikuti Happy, Erza, serta Lucy dan Gray yang bergandengan tangan.
"Wohoooo!" teriak Natsu menggelegar. "Akhirnya kita keluar juga dari hutan i—eh, lho?" ucapan Natsu terputus saat mengetahui keadaan sekitar di balik cahaya tersebut.
"Kita masih di dalam hutan," ucap Erza datar sembari memperhatikan keadaan sekeliling.
Lucy menghela napas lega, "Untunglah kita bisa keluar dari tempat gelap itu tanpa harus terpisah."
"Kau benar, Luce!" pekik Natsu girang, "Baiklah, ayo kita lanjutkan perjala—E-EH? APA-APAAN ITU?!" teriak Natsu menggelegar sembari menunjuk tangan Gray yang entah sejak kapan -Natsu tidak tahu- menggenggam tangan Lucy dengan erat.
"Lepaskan tanganmu, underware prince!" pekik Natsu membahana sembari menepis tangan Gray yang masih setia menggenggam pergelangan tangan Lucy. Membuat Lucy sedikit kaget.
"Apa yang kau lakukan, hei, flame head?!" balas Gray tak mau kalah.
Natsu mendelik kesal, begitu pula dengan Gray.
"APA?" kata Natsu geram, siap dengan posisi kuda-kuda ingin bertarung.
"APA, HAH?" balas Gray tak mau kalah.
Hal ini membuat Erza geram, "Bisakah kalian berhenti?" tanyanya dengan aura membunuh di antara Natsu dan Gray. Lucy dan Happy pun dibuat bergidik karenannya.
Natsu dan Gray langsung bergerak kikuk, "E-eheheh, ma-maaf!" kata mereka kompak sembari memasang wajah memelas. Ckk… sungguh sangat memalukan, bukan?
Erza hanya mendengus sebal melihat tingkah dua rekan setimnya. Benar-benar bodoh—pikirnya.
.
.
.
"Hutan ini aneh," ucap Erza serius. Membuat Natsu dan Happy yang berjalan di depannya berhenti sesaat dan menolehkan kepalnya ke arah Erza.
"Kau benar," kata Gray setuju dengan ucapan Erza. Natsu mengerutkan alis sejenak. Sejujurnya ia juga dapat merasakan kejanggalan di dalam hutan ini.
"Sepertinya kita sudah melewati tempat ini hampir tiga kali," ucap Erza curiga. Perasaannya mengatakan, bahwa mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama.
"Lucy dimana, aye!" tanya Happy yang menyadari keberadaan Lucy tidak ada di antara mereka. Seketika semua menoleh ke arah dimana Lucy tadi berada.
Mata Gray terbelalak lebar saat mengetahui Lucy sudah tidak ada di sampingnya. "Tadi dia ada di sini!" ucap Gray kalap. Membuat Natsu dan Happy juga ikut kalap.
"Jangan-jangan ia tersesat!" pekik Natsu histeris, "bagaimana ini?! Kita harus mencari Luce sekarang juga!" ucap Natsu panik dan langsung berlari ke arah sebaliknya. Siapa tahu Luce tertinggal—batinnya khawatir.
Dug!
Sebuah penghalang tak kasat mata membentur kepala Natsu dan juga berhasil menghalangi langkahnya. "Arrrgh! Apa-apaan ini!" teriak Natsu menggelegar sambil terus berusaha memukul-mukul penghalang transparan itu.
Dug! Dug! Dug!
Terus. Natsu terus memukul-mukul penghalang itu sekuat tenaga. Bahkan Erza sudah me-requip jubah zirahnya agar bisa menembus penghalang sihir tersebut.
"Cih, sial! Ice mage, Lance!" pekik Gray mengeluarkan sihirnya. Namun hasil nihil. Tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menembus penghalang yang terbuat dari sihir itu. Sepertinya pihak lawan ingin mengincar Lucy. Terbukti karena hanya Lucy-lah yang terpisah, sedangkan mereka terkurung dalam penghalang sihir sialan ini.
"Sial, kita dijebak!" desis Erza tajam.
"LUCEEEEEE!" teriak Natsu hilang kendali memanggil nama Lucy.
»»» oOo «««
Hembusan angin dingin terus menerpa kulit wajah serta tubuh Lucy, membuatnya agak sedikit bergidik karena hawa yang sangat tidak biasa itu. "Teman-teman," ucapnya lirih.
Entah sudah berapa lama -Lucy pun tidak tahu- ia terpisah dari teman-temannya. Pasalnya ia yakin sedari tadi ia terus berjalan di samping Gray. Tapi, entah kenapa tiba-tiba mereka menghilang. 15 menit berlalu dan dalam waktu itu pula, Lucy menghabiskannya dengan cara mencari teman-temannya. Namun hasilnya nihil, ia tidak dapat menemukan teman-teman setimnya itu.
Mungkinkah mereka meninggalkannya?—Pikir Lucy negative. Tidak! Itu tidak mungkin. Mereka tidak akan meninggalkan Lucy sendiri di dalam hutan menyeramkan ini. Lucy segera menepis pikiran-pikiran buruk yang ada di dalam otaknya.
'Oh, Kami-sama apa yang terjadi dengan mereka.' batin Lucy gelisah.
"Terbukalah gerbang roh langit, Plue!" pekik Lucy mengeluarkan salah satu spirit kesayangannya.
"Oeee…," ucap Plue seperti biasa dengan nada dan tubuh yang bergetar.
Dengan segera, Lucy langsung menggendong Plue ke dalam pelukannya, "Temani aku," ucap Lucy tersenyum.
"Fufufufu, seorang penyihir langit."
Samar-samar, Lucy dapat mendengar sebuah suara kikikan kecil dari balik salah satu pohon yang letaknya mengelilingi dirinya. "Si-siapa itu?!" pekiknya waspada.
"Hallo, gadis pirang." sapa seorang wanita yang muncul dari balik salah satu pohon besar yang menjulang tinggi. Lucy meneguk ludah saat mendapati seseorang yang tidak ia kenal tengah menyunggingkan sebuah seringai sinis ke arahnya.
"Siapa kau?" teriak Lucy tajam.
"Aku?" kata gadis itu, "Pekenalkan, aku Minerva," lanjutnya memperkenalkan diri sembari terus berjalan mendekat ke arah Lucy. Membuat Lucy terus memundurkan langkahnya dan semakin mendekap erat tubuh Plue.
"A-apa maumu?" tanya Lucy dengan nada bergetar namun lantang.
"Mauku?" tanya Minerva dengan nada yang dibuat-buat semanis mungkin. Membuat Lucy mengernyit jijik. Minerva menyeringai saat melihat raut wajah Lucy yang nampak ketakukan.
"Menghabisimu…"
.
.
.
Natsu, masih berkoar-koar tidak jelas. Meneriakan makian-makian serta umpatan-umpatan kotor kepada seseorang yang telah berani menjebaknya—juga teman-teman setimnya. Benar-benar menjengkelkan! Bagaimana mungkin ia bisa membuat sebuah penghalang sihir dengan kekuatan seperti ini? Oh, pastilah dia adalah penyihir yang kuat. Cih, sial! Sebenarnya Natsu enggan mengakuinya, tapi jika dilihat dari sihir yang ia buat, pastilah ia bukan seorang penyihir sembarangan. Benar-benar mengesalkan!
"Brengsek!" desis Gray tajam. Sama seperti Natsu, sedari tadi ia juga mengeluarkan umpatan-umpatan kasar. Sudah berkali-kali ia berusaha mengeluarkan segala jurus ice mage-nya untuk membobol dinding sihir ini, tapi hasilnya tetap nihil. Sedangkan Erza? Ia terlihat sedang serius berpikir. Mungkin ia sedang serius berpikir tentang bagaimana caranya memecahkan pertahan sihir lawan.
'Lucy.' batin Natsu dan Gray bersamaan.
.
.
Lucy menggerang kesakitan saat tiba-tiba gadis di hadapanya—yang ia ketahui bernama Minerva dengan sengaja menyerangnya. Membuat ia jatuh terpental ke belakang sehingga punggung tubuhnya membentur sebuah batang pohon besar.
"Arrggghh!" pekik Lucy menahan sakit akibat hantaman kuat yang menimpa punggung tubuhnya. Plue terlempar jauh dari dekapan Lucy. Spirit itu bergetar ketakutan saat melihat pemiliknya sedang terancam dalam bahaya.
"Hahaahahaha, gadis pirang lemah." Tawa Minerva membahana sembari tersenyum mengejek ke arah Lucy.
Lucy kembali berdiri dengan tegap tanpa memperdulikan rasa sakit yang mendera punggungnya. Ini bukanlah apa-apa dibandingkan rasa sakit sebelumnya pernah Lucy alami—pikir Lucy. "K-kau, apa maumu?!" pekik Lucy kencang sembari mempersiapkan diri dengan kunci-kunci spiritnya.
Minerva menyeringai, "Sudah kubilang, bukan? Aku ingin menghabisimu," jawabnya santai penuh penekanan di akhir kata sembari memandang Lucy dengan tatapan mengejek.
Lucy menggeram kesal.
"Terbukalah, pintu gerbang roh langit! Scorpio!" pekik Lucy membuka salah satu kunci celestial spiritnya. Dan dengan segera Lucy memerintahkan Scorpio agar menyerang balik Minerva.
Scorpio menyerang Minerva dengan jurus pasirnya secara bertubi-tubi, namun dapat dengan mudah di tepis oleh Minerva. Merasa salah satu celestial spiritnya sudah kehabisan tenaga, Lucy pun menutup pintu gerbang roh milik Scorpio.
"Kau boleh juga, gadis pirang," kata Minerva masih dengan nada mengejek. "Tapi kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku," lanjutnya disertai tawa yang membahana.
Minerva menciptakan suatu area sihir di tangan kirinya membuat Lucy terperangah. Pasalnya ia belum pernah melihat sihir semacam itu sebelumnya. "S-sihir macam itu?" ucap Lucy entah kepada siapa.
Iris cokelat milik Lucy membelalak lebar saat mendapati area sihir milik Minerva kini sudah berada di sebelah kirinya. "A-apa ini?" ucap Lucy kaget.
Duaaaaaarrr!
Area sihir itu meledak seakan ada tekanan besar yang mendesaknya dari dalam.
"Kyaaaaa…" erang Lucy kesakitan saat merasakan ledakan itu mengenai sekujur tubuhnya. Lucy merasakan aura panas di sekitar tubuhnya membuat kulitnya seakan-akan ingin terkelupas. Benar-benar menyakitkan…
Duaaaaaarrr!
Kembali. Minerva melancarkan serangannya tepat di belakang punggung Lucy. Membuat Lucy jatuh terpental ke depan.
"Aarrrrrgggh!" pekik Lucy kesakitan. Tubuhnya benar-benar terasa semakin sulit untuk digerakan.
"T-teman-teman," ucap Lucy Lirih.
.
.
Sementara itu, di tempat Natsu, Gray, dan Erza.
"SIAAAAAL!" geram Natsu marah, masih terus memukul-mukul penghalang sihir itu dengan sekuat tenaga. Hal yang sama pun dilakukan oleh Gray. Mereka benar-benar marah, marah karena mereka harus terjebak di tempat terkutuk ini. Marah karena mereka tidak bisa menemukan Lucy. Dan marah karena mereka takut akan terjadi hal-hal yang tidak baik pada Lucy.
"Tenanglah kalian berdua," ucap Erza dengan suara berat, kedua telapak tangannya mengepal kuat—menandakan bahwa ia juga khawatir akan keadaan Lucy.
"Bagaimana aku bisa tenang kalau Luce ada di luar sana tanpa kita!" pekik Natsu menggelegar. "Dia dalam bahaya!" lanjut Natsu dengan nada geram.
Rahang Gray mengeras saat mendengar ucapan Natsu. Benar apa yang dikatakan oleh Natsu. Lucy sendirian di luar sana, biarpun ia seorang penyihir Fairy Tail, hal itu tidak dapat dijadikan sebagai acuan bahwa ia baik-baik saja.
"Kyaaaaa..."
Sebuah suara teriakan seseorang terdengar jelas di dalam indera pendengaran Natsu, Gray, dan Erza. Sebuah suara yang amat sangat mereka kenal. Sontak mereka menolehkan kepala ke arah sumber suara tersebut.
"Luce!" pekik Natsu pertama kali saat menyadari suara tersebut adalah suara milik Lucy.
Dug! Dug! Dug!
"LUCEEEEE!" teriak Natsu sambil terus memukul-mukul penghalang sihir yang menjebaknya. Erza kembali mengubah armor-nya saat dirasakannya Lucy sekarang benar-benar sedang dalam keadaan bahaya.
Happy yang juga mengkhawatirkan keadaan Lucy hanya bisa menangis sambil menyebut-nyebut nama Lucy.
"Kalian berdua, minggir!" perintah Erza pada Natsu dan Gray. "Bantu aku!" lanjutnya dengan nada tegas dan serius.
Natsu dan Gray langsung mengangguk kemudian berdiri di sisi kanan dan kiri Erza. Memposisikan diri dengan kuda-kuda siap tempur—siap mengeluarkan jurus sihir.
3…
2…
1…
"Roar of The Fire Dragon!"
"Ice Mage, Lance!"
"Hyaaaaaah!"
—Dalam sekejap, mereka mengeluarkan jurus sihir secara bersamaan. Membentuk suatu perpaduan sihir yang amat sangat mengagumkan, dengan api Natsu sebagai intinya. Sihir es milik Gray serta sihir armor milik Erza ikut mengelilingi sihir api Natsu.
Blaaaaarrr!
Dan dalam sekejap pula, sebuah ledakan yang amat sangat dahsyat terjadi di tempat Natsu dan kawan-kawan.
»»» oOo «««
Lucy berdiri dengan kaki yang terhuyung-huyung. Sihir Minerva benar-benar membuat sekujur tubuhnya sakit. Rasanya benar-benar panas dan perih, membuat Lucy harus ekstra mengeluarkan tenaga hanya untuk berdiri dengan kedua kakinya.
"Fufufufu… hebat juga kau, pirang. Masih bisa berdiri setelah menerima seranganku," ucap Minerva dengan nada merendahkan. "Aku pikir penyihir langit sepertimu itu hebat, ternyata dugaanku salah," ejek Minerva, "aku jadi kasian pada teman-temanmu. Jangan-jangan mereka merasa terbebani karena kau lemah hahahah."
"Oh, atau jangan-jangan teman-temanmu juga sama lemahnya dengan dirimu? Hm?" lanjut Minerva sembari tertawa terbahak-bahak.
Lucy geram saat mendengar penuturan-penuturan yang terlontar dari mulut Minerva. Tangannya mengepal kuat, memegang kunci-kunci spiritnya.
"KAU SALAH!" teriak Lucy lantang, membuat Minerva menaikkan sebelah alisnya. "Kau boleh saja mengejek aku lemah! Tapi tidak dengan teman-temanku! Mereka kuat!" lanjut Lucy dengan nada suara yang tajam.
Minerva menyeringai, "Benarkah?" tanya Minerva dengan raut wajah yang dibuat seolah-olah ia takut. Membuat Lucy semakin muak.
Lucy sadar akan kekuatannya. Ia tahu, ia tidak sehebat Natsu, Erza, ataupun Gray. Ia lemah, tapi ia mau berusaha, berusaha untuk menjadi kuat. Demi teman-temannya ia rela mempertaruhkan nyawanya. Lucy tidak akan pernah memaafkan siapa saja yang berani merendahkan teman-temannya. Siapa pun boleh merendahkannya, tapi tidak untuk teman-temannya! Karena mereka sangatlah berharga.
"Kau—" geram Lucy semakin mencengkram erat kunci-kunci spiritnya.
"Buka gerbang, Gemini!" teriak Lucy membuka gerbang salah satu celestial spirit andalannya.
Gemini pun muncul dengan sosok Lucy yang lain, siap untuk membantu Lucy. "Melihat surga dan membukanya lebih lebar. Biarkan bintang bersinar di surga, mereka semua mengenal diriku. O tetrabiblos, aku yang menguasai bintang. Memanggil aspekmu dalam gerbang kedengkian." ucap Lucy merapal mantra bersama Gemini.
"E-eh?" Minerva sedikit tersentak kaget saat tiba-tiba aura sihir di sekitar Lucy menjadi meningkat drastis.
"—88 tanda langit, bersinarlah!" pekik Lucy lantang.
"A-apa yang terjadi?" tanya Minerva entah pada siapa.
"—URANO METRIA!" dalam sekejap, lingkungan di sekitar Lucy berubah menjadi seperti layaknya langit luas yang di penuhi oleh taburan-taburan bintang beserta sinar cahayanya. Sangat menyilaukan…
Minerva terpental jauh ke belakang. Pakaian yang ia kenakan tercabik-cabik akibat serangan yang dilakukan oleh Lucy. "Kyaaaa…" teriak Minerva saat tubuhnya jauh terhempas membentur sebuah pohon.
"Hah… Hah… Hah…" Lucy terengah-engah. Tenaganya sudah sampai pada batasnya. Memakai sihir dengan tingkat level yang lebih tinggi memang membutuhkan tenaga yang sangat besar. Setidaknya di detik-detik terakhir sisa tenaganya ia bisa mengalahkan Minerva—pikirnya lega.
Salah!
Salah!
Pemikiran Lucy kali ini salah total!
Minerva kembali berdiri dan berjalan ke arah Lucy dengan langkah yang terhuyung-huyung. Iris cokelat Lucy membelalak lebar dan mulutnya setengah terbuka. Bagaimana mungkin Minerva masih bisa bangkit setelah menerima serangan urano metria dari Lucy? itu mustahil! Sangat mustahil!
"Cih, gadis pirang sialan." Minerva menggeram marah.
Lucy memundurkan langkahnya perlahan. Minerva kembali mengeluarkan sihirnya, membuat sebuah area sihir kembali di tangan kirinya. Lucy meneguk ludahnya dengan susah payah karena memang saat ini tenaganya sudah mencapai pada batasnya.
Minerva menyeringai ke arah Lucy, "Dengan ini kau akan berakhir, pirang," desisnya menatap Lucy tajam. Dan dalam waktu sekejap, area sihir yang berada di tangan kiri Minerva berubah menjadi semakin besar.
"E-eh?" Lucy hanya bisa terperangah saat melihat kekuatan sihir Minerva semakin membesar dan terus membesar.
Dhuaaaarrr!
Ledakan dahsyat menghantam seluruh tubuh Lucy.
"Aaaaarggh…" erang Lucy melengking keras, menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Minerva terus menerus meledakkan area-area sihir yang ia ciptakan ke arah Lucy. "Dasar gadis pirang bodoh! Aku yakin teman-teman sekarang sudah pergi meninggalkanmu! Hahaha." Kata Minerva masih terus menyiksa tubuh Lucy dengan ledakan-ledakan sihir yang ia ciptakan.
"Kyaaaaa…" pekik Lucy keras saat dirasakannya kini tubuhnya sudah melayang terpental jauh.
boofttt—
Dan dalam sekejap mata, tubuh Lucy kini sudah berada di dalam genggaman tangan Minerva. Sepertinya Minerva menggunakan sihirnya untuk memindahkan tubuh Lucy. Tangan kiri Minerva mencengkram leher jenjang Lucy begitu erat, membuat Lucy kesulitan bernapas.
Kedua tangan Lucy hanya terkulai lemas tak berdaya. Beginikah akhir hidupnya? Begitu menyedihkan dan memalukan—pikir Lucy saat ini sambil menatap mata milik Minerva.
Minerva menatap tajam mata Lucy, sedetik kemudian dia menyeringai, "Mati kau, pirang."
Tangan kanan Minerva menghantam perut Lucy dengan sekuat tenaga, membuat Lucy harus memuntahkan beberapa cairan liquid kental berwarna merah pekat dari mulutnya. Rasanya seperti tertohok oleh besi. Lucy semakin sulit bernapas, seluruh tubuhnya benar-benar lemas. Ia hanya bisa pasrah menerima serangan-serangan yang dilancarkan oleh Minerva secara bertubi-tubi.
Ledakan-ledakan sihir terus Minerva lancarkan pada punggung serta kaki Lucy. Minerva pun semakin mencekik leher jenjang milik Lucy kuat.
Lucy hanya dapat memandang wajah Minerva dengan tatapan sayu. Perlahan, kesadarannya mulai menghilang. Hanya tawa Minerva yang depat Lucy dengar sebelum semuanya—berubah menjadi gelap.
gelap—
.
.
.
"Kalian tidak akan bisa lari kemana-mana, hahaha." tawa lengking seseorang membahana saat Natsu, Gray, serta Erza telah berhasil menghancurkan penghalang sihir yang sempat mengurung mereka beberapa saat lalu. "Teman kalian sudah mati," lanjutnya dengan seringai yang amat sangat memuakkan—menurut Natsu, Gray, Erza, serta Happy.
"Apa maksudmu?" desis Gray tajam.
"Ah, kalian tidak tahu?" tanya orang itu dengan nada meremehkan, "Gadis pirang yang bersama kalian itu kini sudah mati."
Gray dan yang lainnya pun membelalakan mata tidak percaya. Rahang Natsu mengeras, tangannya terkepal kuat saat mendengar penuturan dari orang yang kini tepat ada di hadapannya.
"Kau—" geram Erza marah, "…jangan bercanda!" pekik Erza menggelegar dengan aura membunuh yang sangat kuat.
"Aku tidak bercanda," kata orang itu santai. "Memang kenyataan kalau gadis pirang itu kalah melawan Minerva, hahaha."
"Oh—ya, perkenalkan, aku Orga Nanagear." orang yang bernama Orga itu tersenyum menyeringai ke arah Natsu dan kawan-kawan.
"Jangan bercanda kau, brengsek!" teriak Natsu marah, siap memukul Orga dengan Fire Dragon-nya. Namun suara Erza menghentikan langkahnya, membuat Natsu semakin menggeram emosi.
"Kenapa kau menghentikanku?!" teriak Natsu menggelegar.
"Biar aku yang melawannya," jawab Erza dengan nada tajam, "Kalian, pergi dan selamatkan Lucy!" perintah Erza tegas syarat akan emosi.
Natsu tertegun saat mendengar ucapan Erza hingga akhirnya ia menganggukan kepala mantap. Kemudian ia berlari diikuti Happy yang terbang di belakangnya.
"Kalahkan dia," ucap Gray pada Erza sebelum ia pergi untuk menyusul Natsu.
"Pasti." Balas Erza dengan aura amarah yang memuncak.
Gray tersenyum…
.
.
"LUCEEEEE!" teriak Natsu kencang sembari terus berlari mencari Lucy.
"Luuuuuucy!" Happy ikut berteriak memanggil-manggil nama Lucy. Sedangkan Gray hanya mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Pikirannya tidak henti-hentinya tertuju pada gadis blonde salah satu teman setimnya. Bagaimana dengan keadaannya sekarang? Apakah ia terluka? Atau lebih dari yang ia pikirkan?—Batin Gray gundah.
Natsu memicingkan matanya saat dilihatnya sesosok makhluk kecil yang sudah sangat amat dia kenal. "Plue?!" teriak Natsu mengaggetkan Happy dan Gray. Dan seketika itu pula, Plue berjalan ke arah Natsu dan kawan-kawan dengan tubuh yang bergetar. Eskpresinya nampak ketakutan.
"Dimana Luce?" tanpa basa-basi Natsu langung memberikan pertanyaan itu pada Plue.
Mengerti akan pertanyaan Natsu, Plue pun akhirnya berjalan ke arah depan, membuat Natsu—yang notabane-nya bodoh hanya bisa mengerutkan alis tidak mengerti.
"Aku rasa, dia menyuruh kita untuk mengikutinya," ucap Gray tepat! Gray pun langsung melesat pergi mengikuti Plue diikuti oleh Natsu dan Happy.
»»» oOo «««
[Lucy POV]
Gelap. Semua gelap. Aku tidak bisa lihat apa-apa.
Kami-sama apakah aku sudah tiada? Tubuhku nampak mati rasa. Aku tidak bisa lagi merasakan kesakitan seperti saat Minerva menyerangku.
Terakhir yang kudengar adalah suara tawanya yang begitu puas saat melihat keadaan tubuhku. Kejam sekali dia…
Teman-teman? Bagaimana dengan keadaan kalian, Natsu, Happy, Gray, Erza? Aku harap kalian baik-baik saja. Aku benar-benar takut tidak bisa bertemu lagi dengan mereka.
'LUCEEEEE'
Sayup-sayup, aku dapat mendengar suara seseorang memanggilku. Aku tau suara ini. Suara ini sangat familiar di dalam indera pendengaranku.
'LUCEEEEE'
Lagi. Aku dapat mendengarnya.
Natsu…
Ya, itu suara Natsu. Syukurlah dia baik-baik saja.
Tu-tunggu, itu suara Natsu! Dia memanggil-manggil namaku. Kami-sama! kumohon beri aku sedikit kekuatan lagi agar aku bisa melihat dirinya dan yang lainnya. Aku tidak ingin kalah dengan cara memalukan seperti ini.
Sedikit lagi…
Sedikit lagi aku bisa membuka mataku dan menggerakan tanganku.
Aku harus bisa, aku harus bisa jadi lebih kuat.
Teman-teman selalu bersamaku. Para roh sihir pun bersamaku. Hatiku dengan hati mereka bersatu.
Aku tidak akan kalah!
[End Lucy POV]
Perlahan namun pasti, Lucy kembali dapat membuka matanya dan sedikit menggerakan tangannya. Hal pertama kali yang ia lihat saat membuka mata adalah wajah Minerva yang tertawa penuh kemenangan. Kembali, Lucy merasakan rasa sakit akibat cekikan yang dilakukan oleh Minerva.
"Bu-buka, gerbang, Capricorn…" ucap Lucy lirih sembari menggenggam erat kunci roh langit milik Capricron.
Mata Minerva membulat sempurna saat tiba-tiba tangan Lucy mengeluarkan sebuah cahaya yang sangat menyilaukan. "A-apa?" ucap Minerva tidak percaya.
"Apa yang kau lakukan pada nona Lucy, meh?!" geram Capricorn marah saat mengetahui pemiliknya sedang dalam keadaan yang mengenaskan.
'Ba-bagaimana bisa dia mengeluarkan salah satu spirit dalam keadaan seperti ini?' batin Minerva tidak percaya.
"Kau akan kubunuh, meh!" desis Capricorn mengeluarkan jurusnya, menghantam perut Minerva sehingga membuat Lucy jatuh terpental.
"LUUUUUCY!" tiba-tiba suara Natsu dan Gray menyeruak masuk ke dalam indera pendengarannya. Tubuhnya sudah tidak bisa ia gerakan lagi. Dia akan jatuh…
Natsu dan Gray berlari sekuat tenaga menerjang tubuh Lucy, menangkapnya agar tidak terjatuh. Dalam sekali sentakan Natsu dan Gray berhasil menangkap tubuh Lucy, memeluknya erat. Sedangkan Lucy? ia sudah sepenuhnya tidak sadarkan diri.
Natsu dan Gray menggeram marah pada orang yang telah membuat Lucy terluka. Tapi, saat Natsu ingin menghabisi orang yang telah mem buat Lucy terluka, orang itu sudah terkapar tidak berdaya akibat serangan Capricorn—spirit milik Lucy.
"Tolong jaga nona Lucy, meh." Capricorn mengucapkan kata-kata tersebut kepada Natsu dan Gray sebelum dirinya benar-benar menghilang.
Gray menggendong Lucy dengan gaya bridal style. Sedangkan Natsu? Dia hanya menggeram marah pada sosok gadis lainnya di tempat itu. "Brengsek," desisnya tajam.
"Kita harus membawa Lucy kembali," ucap Gray berlalu meninggalkan Natsu yang masih menggeram emosi. Happy yang sejak tadi berada di dekat Natsu hanya bisa menatap Natsu takut-takut.
"Ayo, Natsu!" ajak Happy ikut berlalu meninggalkan Natsu—mengejar Gray dan Lucy.
'Tak akan kubiarkan siapa pun menyakiti Lucy seperti tadi,' batin Natsu dan Gray bersamaan di lain tempat.
To Be Continued
Omake :
Bunyi suara gemerisik yang berasal dari semak-semak yang letaknya ada di samping Lucy membuat semua mata tertuju pada semak-semak itu. Natsu yang berada tepat di depan Lucy siap memasang kuda-kuda dengan pose bertarung. Begitu pula dengan Gray.
Krasak krasak—
"Si-siapa itu?" pekik Lucy takut-takut.
.
.
Semua mata membulat saat melihat sesuatu yang keluar dari dalam semak-semak tersebut. Mulut Erza, Natsu dan Gray menganga dengan tidak elitnya.
Master Makarov sedang buang hajad di balik semak-semak tersebut.
/plakkk…
Author note: Hai semuanya… haha akhirnya setelah sekian lama saya bisa update fic ini juga. Maaf bagi kalian semua yang udah nunggu-nunggu fic ini :D
Sejujurnya saya ini sedang terjangkit virus WB -.- makanya gak update-update ini fic #curhat. Tapi karena ada seseorang yang nerror saya di facebook dan twitter *lirik Day-chan* /plakplak jadi ya saya usahakan untuk melanjutkan fic ini walaupun dalam waktu sebulan saya ngetiknya -.-;
Berkat dia juga yang ngetag-ngetag gambar NaLuGra saya jadi punya niat nulis fic ini lagi haha.
Maaf ya kalau bagian chapie ini mengecewakan. Di fic ini saya gak terlalu terpaku sama genre aja. Untuk chapie kali ini saya kasih sedikit action-nya Lucy. mungkin gaje tapi apa daya -,- otak saya lagi mentok sih wkwkw
Untuk nasib Erza? Anggep aja dia menang ngelawan si Orga itu wkakka *disepak* kalo saya jabarin pertarungannya juga, bakal panjang nih cerita -.- hehe
Sesuai ide awal, fic ini emang fokus ke Lucy jadi yaa bagi kalian penggemar Erza jangan kecewa TwT huuhu. Saya terima request fic tapi yang one shot aja :D haha
Nah sekian bacotan dari author :D
akhir kata..
Mind To Review and Concrit ?
Yang punya ide jangan takut-takut buat sumbangin ide kalian ke saya ^0^/ lol.
Special thanks for :
NekoMimiMyawMyaw, petitewinsy, bjtatihowo, Day-chan Dragneel, RaFa LLight S N, Lucia Heartbuster, Saika Tsuruhime males login, hafiza uzumaki, Lucy-chan, NaLu, FairyLucyka, snowypon, Lily White, Lala, Guest, and fathiyah.
