Temukan jalan takdirmu dan pilihlah ia yang terbaik untukmu ...

Jika kau diharuskan untuk memilih. Pilihan manakah yang sebaiknya kau pilih?

Jika dia dan dia adalah salah satu dari jalan takdirmu ...


FAIRY TAIL

.

.

Fairy Tail © Hiro Mashima

Story by Trancy Anafeloz™

2013©

Warning : Alternative Universe, Typo, Out Of Character, etc.

DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

Summary :

Sebuah nama pastilah memiliki kisah tersendiri. Kisah apakah yang ada dibalik nama tersebut? Sedikit kisah-kisah kecil dibalik sebuah nama FAIRY TAIL.

Enjoy Reading~


Chapter 4

R untuk : Ringo (Apel)

Masih berlatar di sebuah tempat di salah satu kota bernama Fiore. Dimana semua orang masih bisa hidup dengan damai di sana. Tenang dan nyaman, adalah kesan yang pas saat kita menginjakkan kaki pertama kali di kota ini. Yah, begitulah. Penduduk kota yang ramah dan sangat bersahabat selalu tampak di depan mata.

Fokus terhadap salah satu guild sihir di kota ini. Fairy Tail adalah nama guild tersebut. Salah satu kelompok sihir terbesar di negara Magnolia. Jika ditilik lebih dalam, tak ada kesan tenang di dalamnya. Justru sebaliknya, sangat ramai akan tingkah-tingkah konyol dari para anggotanya. Sepertinya sangat menyenangkan ...

Gadis bermahkotakan blonde itu tersenyum cerah saat kedua kaki jenjangnya telah sampai di ambang pintu masuk gedung guild tersebut. Matanya berbinar, seakan ia telah mendapati sesuatu yang telah membuat hatinya bahagia. Lucy—nama gadis itu pun mulai menyapa seluruh anggota keluarganya. "Ohayou!" ucapnya semangat. Tak lupa dengan senyuman hangat yang selalu terbingkai di wajah manisnya.

Semua orang menoleh, "ah—ohayou, Lucy-chan!" Jawab mereka serempak.

Setelah saling sapa, Lucy pun dengan segera melangkah ke arah meja bar—salah satu tempat favorite-nya ketika ia berada di dalam guild.

Mirajanne dan Levy tersenyum ke arah Lucy, menyambutnya dengan ramah.

"Bagaimana dengan keadaanmu, Lucy-chan?" Tanya Levy sesaat setelah Lucy sudah menyamankan posisi duduknya.

Lucy meringis. Ingatannya berputar cepat, kembali ke masa beberapa hari lalu dimana ia terluka parah akibat pertempurannya dengan wanita yang ia ketahui bernama Minerva. Kedua iris matanya nampak kosong saat mengingat kembali kejadian itu. Dia begitu lemah, tidak seharusnya ia kalah dalam pertempuran tersebut. Rasanya ... ia memang tidak dapat dibanggakan. Sebagai salah satu dari tim Natsu—tim terkuat di Fairy Tail, baginya ia hanyalah seorang penganggu yang selalu merepotkan. Tidak ada kekuatan khusus layaknya Natsu, Gray, dan Erza yang selalu dapat diandalkan oleh seluruh anggota guild.

Menghela napas panjang, Lucy pun menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha mengusir semua pikiran negatifnya.

"Lucy-chan?" Panggil Levy membuat Lucy kembali fokus pada kehidupan nyata. "Kau tidak apa-apa?"

Lucy mengerjap, ia menoleh ke arah Levy cepat. "A-ah, ya, aku tidak apa-apa," jawabnya sembari tertawa hambar.

Levy dan Mirajanne menatap Lucy khawatir. Mengesampingkan akan hal-hal yang membuat hati tidak enak, pada akhirnya, Mirajanne pun menawarkan segelas minuman kesukaan Lucy. "Minumlah, Lucy-chan," tawar Mirajanne seraya tersenyum lembut.

Lucy mengangguk. "Arigatou ..."

"Oi! Luce!" Panggil seseorang membuat Lucy menoleh ke belakang.

Lucy tersenyum saat mendapati Natsu dan Happy tengah berlari riang ke arahnya. "Natsu, Happy," sapanya melambaikan tangan ke arah mereka.

"Aye, Lucy!" Balas Happy terbang ke arah Lucy.

Tak lama setelah itu, Gray dan Erza pun muncul dari belakang punggung Natsu. "Gray, Erza!" Sapa Lucy semakin cerah. Ah, hal yang paling menyenangkan adalah saat kau masih bisa bertemu dengan teman-teman kesayanganmu.

"Yo," sapa Gray singkat. Sedangkan Erza hanya mengangguk singkat.

Keributan semakin tercipta saat mereka semua datang. Tak ayal membuat Lucy terkekeh karenanya. Kedua iris cokelatnya menatap penuh syukur atas apa yang telah ia dapatkan hari ini. Hari dimana ia masih dapat berkumpul dan melihat senyum-senyum cerah para sahabat sekaligus keluarganya.

Dengan semangat, Happy pun menghampiri Lucy yang saat ini masih terduduk di salah satu kursi bar. "Lucy, aku punya sesuatu untukmu," ucapnya semangat.

Lucy menatap Happy, didapatinya kedua tangan mungil itu tengah membawa sesuatu yang dirasanya cukup besar dan juga berwarna merah. "Apa?" Tanya Lucy penasaran.

"Ini—" Happy menyodorkan benda itu ke arah Lucy, "—aku tadi menemukan apel ini di hutan sebelum aku dan Natsu kemari," ucapnya riang. Ah, ternyata sebuah apel. Kelihatan sangat segar dan menggugah selera.

Lucy menerima apel itu dengan senang hati.

"Aku pikir kau akan suka, makanya kubawakan ini untukmu," lanjut Happy kepada Lucy.

"Ne, arigatou, Happy!" Balas Lucy tak kalah semangat dari Happy.

Dan hari-hari Lucy pun semakin terasa sangat menyenangkan ketika seluruh teman-temannya dapat membuat ia tertawa lepas. Mungkin, untuk sejenak ia dapat melupakan seluruh rasa kecewa yang ada terhadap dirinya. Ya, mungkin.

.

.

.

Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa, seketika kembali mengantarkan bumi tepat ke peraduannya. Lucy meregangkan otot-ototnya yang dirasanya tegang.

"Ahh—" desahnya merasa lega karena hampir seluruh tubuhnya terdengar mengeluarkan sebuah bunyi. Diliriknya keadaan guild yang nampaknya masih terlihat sangat ramai.

"Sepertinya aku harus pulang," ucap Lucy ketika mendapati warna langit di luar sana telah berganti warna menjadi gelap. Levy menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Lucy.

Erza menatap Lucy, "mau kuantar?" tawarnya pada Lucy.

Mendengar tawaran Erza, dengan cepat Lucy pun menolaknya secara halus. "Tidak usah," ucapnya disertai sebuah gelengan. Jujur, ia tidak mau merepotkan Erza. "Baiklah, kalau begitu aku duluan," lanjutnya kembali setelah beranjak dari tempatnya, "sampai jumpa—"

"BIAR AKU YANG ANTAR LUCE!" Sebuah teriakan menggema di dalam gedung tersebut, membuat semua mata tertuju padanya.

Lucy menghentikkan langkah kakinya kaget. Didapatinya Natsu sedang mengeluarkan cengiran lebar ke arahnya. "Natsu?" Ucapnya tidak percaya.

Dengan gerakan cepat, Natsu pun segera menarik pergelangan tangan Lucy—menariknya keluar dari gedung guild.

"Eh—?"

Semua mata yang melihat kejadian tersebut pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahkan ada juga yang tertawa terbahak-bahak karena melihat tingkah konyol Natsu tersebut.

Gray yang melihatnya kejadian tersebut pun mau tak mau hanya bisa berdecih sebal karenanya. Nampaknya ia kecolongan start. Oh, Gray sayang Gray malang.

Natsu berjalan dengan santainya di depan Lucy. Sesekali juga ia nampak bersiul-siul senang dan hal itu membuat Lucy merasa heran. Ada apa gerangan dengan pria salamander ini?

Lucy menatap sosok punggung Natsu dari belakang. "Kau kelihatan senang, Natsu," ucapnya kepada pria salamander itu.

Natsu tertawa. Langkah kakinya semakin lebar, dengan cengiran yang masih terpatri di wajah imutnya. Tentu saja ia merasa senang saat ini. "Aku memang sedang senang, luce!"

Lucy mengernyit, "karena?" Tanyanya pada Natsu.

Natsu menghentikan langkah kakinya sejenak sebelum ia memutar tubuhnya ke arah Lucy. Kedua tangannya ia lipat ke belakang kepala. "Karena kau." Ia kembali melanjutkan langkahnya, berjalan dengan cara mundur, tak lupa juga dengan cengiran lebarnya.

"Eh?"

"Pokoknya aku tidak akan membiarkanmu terluka seperti saat itu!" Ucap Natsu kembali, membuat Lucy membelalakan matanya—nampak sedikit tersentuh.

Ah, jadi karena itu. Lucy pintar. Tidak perlu penjabaran kata-kata secara spesifik untuk bisa memahami maksud arti kalimat yang terlontar dari mulut Natsu. Ia cukup tau maksud arti kalimat itu—ia senang karena Lucy sudah merasa baik.

Bibir Lucy berkedut. Mau tak mau, sebuah sunggingan senyum tipis pun muncul membingkai wajah manisnya. "Arigatou," ucapnya lirih namun masih bisa terdengar oleh Natsu.

Lucy menghentikan langkahnya saat ia sadar ia sudah sampai di depan sebuah gedung bertingkat dua—rumah yang ia sewa. "Terima kasih sudah mengantarku, Natsu," ucap Lucy tulus sebelum ia benar-benar masuk ke dalam rumah tersebut.

"Ya, sampai jumpa besok," balas Natsu singkat.

Dengan segera, Lucy pun masuk ke dalam rumah itu—ke dalam kamar sewa lebih tepatnya karena rumah itu bukanlah miliknya. "Hari yang melelahkan," ucapnya seraya menghela napas panjang.

Teringat akan apel pemberian Happy, Lucy pun segera mengeluarkannya dari dalam tas kecil yang sempat ia bawa. Kebetulan sekali ia sedang lapar.

Ia tersenyum melihat bentuk apel tersebut. Masih terlihat segar. Ah, ia terharu dengan perilaku Happy. Kucing itu sangat manis. "Itadakimasu," ucapnya pelan sebelum ia benar-benar menggigit apel tersebut.

"..."

Hening setelah Lucy menelan satu gigitan apel tersebut.

Dua gigit—sebelum ia benar-benar jatuh tertidur, ah! Pingsan lebih tepatnya, dalam posisi jatuh tersungkur di lantai.

»»»oOo«««

Cicit nyanyian burung gereja di tepi jendela tampak mengusik ketenangan gadis yang saat ini masih terlelap di atas lantai dingin berlapis karpet hangat tersebut. Sesekali kedua belah kelopak matanya bergerak-gerak gelisah, nampak terlihat tidak nyaman. Mungkin karena terpaan sinar matahari yang masuk menerobos bilik-bilik jendela kamarnya.

Ia melenguh pelan. Kedua belah bibirnya sedikit terbuka. Perlahan namun pasti, kelopak mata yang semula terpejam kini mulai bergerak naik, terbuka—sedikit menampakan sepasang iris mata menawan berwarna cokelat.

"Hah?!" Ia sedikit mengerjap-erjapkan matanya bingung. Bingung karena pertanyaan; Mengapa ia bisa tertidur di lantai?

Dengan langkah gontai, ia pun segera bangkit dan bergegas menuju kamar mandi. Berendam di pagi hari dengan air hangat mungkin dapat menyegarkan pikiran dan juga tubuhnya.

Diambilnya handuk yang menggantung di salah satu paku di sudut kamarnya.

"..."

Ada yang aneh.

"..."

Hening beberapa saat sebelum Lucy menyadari keadaan anehnya saat ini. Dengan gerakan cepat, ia pun segera berlari ke arah cermin kaca yang letaknya tidak jauh dari tempatnya sekarang.

"..."

Kedua iris matanya melebar, mulutnya menganga lebar. Apa yang terjadi?

Tubuhnya, bentuk wajahnya? Ah—-bahkan ia tidak sanggup berkata-kata dengan keadaannya yang sekarang.

Kembali hening.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"TIDAAAAAAK!" Pekiknya menggelegar di pagi hari membuat burung-burung gereja yang bertengger manis di jendela kamarnya berterbangan ke segala arah.

Wajah Lucy berubah horror. Tidak pernah sekalipun ia bermimpi seburuk ini di pagi hari, di saat ia terbangun.

Ditepuk-tepuknya pipi chubby itu dengan keras. Sakit! Dan ini bukanlah mimpi.

Sekali lagi, Lucy pun berteriak. "TUBUHKUUUUU!"

.

.

.

Tidak peduli dengan tatapan-tatapan heran dari seluruh penduduk Fiore yang ia lewati, Lucy terus berusaha berlari menerobos mereka semua. Yang terpenting baginya saat ini adalah agar ia bisa cepat sampai di guild Fairy Tail menemui teman-teman dan juga masternya. Ia harus memberitahukan perihal ini pada mereka semua mengenai apa yang terjadi padanya.

'Apa yang terjadi padaku?' Pertanyaan itulah yang selalu terngiang di dalam otak pintar Lucy. Sepintar-pintarnya ia, ia juga pasti mempunyai kelemahan. Terlebih untuk menganalisis kejadian yang baru saja ia alami.

Napasnya memburu, bulir-bulir keringat juga nampak turun deras dari sudut-sudut pelipisnya. Langkah kakinya terus melaju konstan dengan bentuk dan ukuran tubuhnya sekarang. Sial. Ini melelahkan—batinya merutuki.

Lucy mendesah disela-sela kegiatan berlarinya. Ia ingin segera cepat-cepat sampai ke tempat tujuannya. Namun, sayang seribu sayang, hal itu belum bisa secepatnya tercapai karena seseorang tiba-tiba menghalangi langkahnya sehingga Lucy tidak dapat mengelak. Dan—

BRUUK!

—ia pun terjatuh karenanya. Ugh, sial sekali nasibnya.

"Ah, maaf ..." gumam Lucy meringis seraya memegangi bokongnya yang terasa berdenyut. Mungkin salahnya karena ia berlari tapi tidak sekalipun ia melihat keadaan sekitar.

Orang itu menoleh ke arah Lucy, menatap Lucy heran. Alisnya mengernyit menatap sosok tubuh kecil yang saat ini tengah duduk terjatuh tepat di hadapannya. "Kau tidak apa?" Tanyanya stoic seraya mengulurkan salah satu tangannya guna membantu gadis kecil itu berdiri.

Lucy mendongak mendengar suara tersebut. Kedua bola matanya membulat sempurna ketika melihat siapakah gerangan orang yang telah ia tabrak. "Gray!" Pekiknya langsung terlonjak dari duduknya—tidak memperdulikan tangan Gray yang masih terulur ke arahnya.

Gray tersentak saat mendapati sesosok anak kecil berusia sekitar 5-6 tahun itu dengan lancar memanggil nama kecilnya.

"Kau tidak mengenaliku?" Tanya Lucy dengan wajah berkaca-kaca.

"..."

Lucy menatap Gray penuh harap. Sedangkan Gray menatap Lucy dengan intens, kedua alisnya saling bertaut—pertanda ia sedang berpikir. Apakah ia mengenali anak ini?

"..."

Gray terlonjak kaget saat menyadari siapakah sosok gadis kecil itu.

Sepuluh menit. Ya, sepuluh menit adalah waktu yang Gray butuhkan untuk menyadari sosok Lucy yang entah bagaimana caranya bisa mengecil seperti itu. Gray bodoh.

"LUCY?!" Teriaknya kencang dengan ekspresi wajah super bodoh, membuat Lucy menggerutu pelan. "KAU KENAPA BISA JADI SEPERTI INI?!" Semprotnya tepat di depan wajah Lucy membuat Lucy harus menutup mata dan telinga karenanya.

"Bisakah kau tenang? Apa kau tidak malu?" Tanya Lucy melihat keadaan sekitar. Keadaan dimana semua orang menoleh ke arah mereka berdua—Gray dan Lucy.

Gray membatu.

Mengesampingkan tatapan orang-orang, Gray pun segera mengangkat tubuh kecil Lucy, menggendongnya, membuat Lucy tersentak kaget.

"E-eh?" Lucy membelalakan matanya tidak percaya.

"Bagaimana kau bisa jadi seperti ini?" Tanya Gray serius, tidak peduli dengan sikap Lucy yang saat ini tengah ada di dalam gendongannya.

Lucy memandang Gray sejenak sebelum ia benar-benar menjawab pertanyaan tersebut. "Tidak tahu," gerutunya menggembungkan pipi, "semalam setelah aku makan apel pemberian Happy, aku jatuh tertidur. Dan saat bangun aku sudah mendapati tubuhku seperti ini," lanjutnya dengan suara dan nada terkesan kanak-kanak.

Gray mengernyitkan alisnya bingung. "Kau bawa apelnya? Aku curiga ada sebuah sihir di dalamnya," ucap Gray pada Lucy. Lucy pun mengangguk cepat sebagai sebuah jawaban sebelum Gray benar-benar membawanya dari tempat ramai itu.

Gray semakin mengeratkan gendongannya terhadap tubuh Lucy—dengan dalih; ia takut Lucy terjatuh. Dan hal tersebut membuat tubuh kecil milik Lucy menjadi semakin menempel ketat dengan dada bidang milik Gray. Sedikit sadar, Lucy dapat merasakan suhu tubuhnya kini memanas, wajahnya sedikit merona karenanya. Lain hal dengan Gray yang nampak cuek dan masih tetap tenang berjalan.

Tidak ada satu pun di antara mereka yang hendak membuka pembicaraan, keduanya terlalu fokus agar mereka sampai di guild dengan cepat.

"..."

Tidak buruk. Ah—maksudnya, lihatlah mereka berdua. Nampak seperti kakak adik yang rukun.

»»»oOo«««

Debaman keras suara pintu terbuka membuat semua mata tertoleh ke arah sumber suara. Seakan menjadi objek fokus mereka semua, Gray pun memandang keadaan guild dengan raut wajah horror.

"Kalian ..." ucap Gray pelan.

"Yo, Gray," sapa Macao seraya mengangkat salah satu tanganya. Tak lupa disusul dengan sapaan-sapaan dari yang lainnya.

"Are, siapa gadis kecil yang kau bawa itu, Gray?" Tanya Lisanna menyadari keberadaan gadis kecil berambut blonde di dalam gendongan Gray.

Hening.

Hening.

Hening.

Semua yang menatap Gray pun bertanya-tanya mengenai perihal siapa gadis kecil itu?

"Oi, Gray! Tumben kau datang sepagi in—LUCY?!" Teriak Natsu yang baru saja muncul dari balik punggung Gray. Kedua matanya terbelalak kaget, mulutnya menganga lebar saat mendapati Lucy tengah berada dalam dekapan Gray.

Happy yang datang bersama Natsu pun terlihat begitu shock melihat kejadian itu. "LUCY?!" Ucap Happy sama tidak percayanya dengan Natsu.

Mendengar kata 'Lucy' semua orang pun sontak membelalakan matanya tidak percaya secara serempak.

"Apa dia bilang tadi?" Tanya Freed datar pada Evergreen. Evergreen yang mendengar pertanyaan Freed hanya bisa mengendikkan bahu tidak yakin. Siapa tahu indera pendengarannya tuli—batinnya mencoba mencerna kembali maksud arti kata-kata Natsu dan Happy.

Sedetik kemudian, terdengarlah teriakan gemuruh seluruh anggota Fairy Tail yang menyebutkan kata 'Lucy' dengan nada tidak percaya. Sontak, Lucy melihat kejadian itu hanya bisa menghela napas panjang. 'Ini tidaklah mudah,' batinnya mendengus.

.

.

.

"Jadi? Bagaimana ini bisa terjadi padamu, Lu-chan?" Tanya Levy pada sosok kecil Lucy yang saat ini tengah duduk di salah satu meja tempat Levy, Natsu, Gray, Erza, dan Wendy singgah.

Lucy menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak tahu. Tapi—" Lucy menggantung kalimatnya sejenak sebelum ia mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya, "—bisakah kau periksa apel ini?" Lanjut Lucy bertanya seraya menyodorkan sebuah apel dengan bekas gigitan pada Levy.

Levy menautkan salah satu alisnya ke atas. Begitu pula dengan Natsu, Erza, dan juga Happy.

"Aku rasa penyebabku seperti ini adalah karena aku memakan apel itu," jelas Lucy dengan suara anak-anaknya, membuat beberapa orang yang mendengarnya menjadi sedikit gemas padanya.

Happy dan Natsu tersentak. "APA?!" ucap mereka bersamaan. Bagaimana bisa sebuah apel yang mereka temukan di tengah hutan dapat membuat sosok Lucy mengecil? Apel macam apa itu?!

"Mungkin apel itu mengandung sihir," ucap Erza seraya mengusap-usap dagunya, nampak berpikir. Lucy dan Gray yang mendengar itu hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya.

Lucy menghela napas. Sungguh, ini adalah mimpi buruk. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan misi dengan tubuh kecil seperti ini? Bagaimana ia bisa membayar sewa kamar untuk ke depannya? Bagaimana kalau ia ingin membeli sesuatu? Bagaimana ia bisa menggunakan dapur atau sesuatu lainnya yang kemungkinan letaknya tinggi? Dan yang paling parah, bagaimana kalau ia tidak bisa kembali ke wujud semula?!

Pikiran-pikiran negatif terus berputar di dalam otak Lucy. Memikirkan segala kemungkinan yang terjadi membuat otaknya depresi.

"Tenanglah, Lucy-chan," ucap Levy seakan mengerti akan permasalahan Lucy. "Aku akan coba cari sihir penawarnya."

Mata Lucy berbinar-binar saat mendengar ucapan Levy. Kedua tangan mungilnya pun terkatup rapat di depan dada. "B-benarkah, Levy-chan?" Tanyanya memastikan penuh harap.

Levy mengangguk dan Lucy pun tersenyum senang. Refleks, ia pun langsung menerjang tubuh Levy—memeluk lehernya erat bagaikan seorang anak yang baru saja menemukan ibunya. "Arigatou," ucapnya berkali-kali.

.

.

.

Untuk yang kesekian kalinya, di hari yang melelahkan ini, Lucy Heartfilia seorang penyihir celestial spirit kembali menghela napas panjang. Pasalnya, sedari tadi ia tidak sekali pun melakukan apa-apa. Hanya bisa melihat sebuah perdebatan yang menurutnya tidak penting yang dilakukan oleh Natsu, Erza, dan Gray.

"Aku yang akan tidur di rumah Luce! Aku yang akan membantu dan menjaganya!" Natsu berteriak tepat di depan wajah Gray.

"Tidak bisa! Aku yang akan tidur di rumahnya malam ini!" Balas Gray tidak terima membuat Natsu semakin panas. Ditambah dengan panasnya hati Juvia yang merasa cemburu dengan Lucy.

Lucy yang mendengar hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. Oh, ayolah, beberapa saat lalu mereka selalu berdebat mengenai topik yang sama karena mereka semua khawatir akan keadaan Lucy yang mengenaskan seperti ini.

Sedetik kemudian, Erza pun muncul di tengah-tengah Natsu dan Gray dengan aura dan raut wajah mengintimidasi, membuat Natsu dan Gray terpekik takut. "Aku yang akan menjaga Lucy," katanya dengan pandangan mata menusuk, membuat kedua pria bodoh itu bergidik, begitu pula dengan Lucy.

"H-ha?! Apa?! Tidak bisa!" Balas Natsu dan Gray bersamaan, membuat aura kelam Erza semakin menguar.

Oh, ayolah, Lucy bukan sebuah barang yang bisa kalian perebutkan seperti itu kawan.

Lucy menatap ketigannya dengan pandangan kaku. "A-ano ... kalian bertiga tidak harus menginap di kamarku," ucap Lucy dengan ekspresi seperti orang ingin mati. Sedikit banyak, Lucy berharap agar mereka tidur di tempatnya karena Lucy yakin sesuatu yang buruk pasti akan terjadi pada kamarnya. Tidak! Ia tidak mau! Kamarnya yang indah akan rusak berantakan akibat ulah mereka. Membayangkannya saja Lucy tidak sanggup!

Erza memicingkan matanya ke arah Lucy ketika mendengar kalimat tersebut. "Ide bagus!" Ucapnya menggebu-gebu, membuat Lucu tersentak kaget. Tak lupa dengan senyum cerah menghiasi wajahnya.

"Kita semua akan menginap di kamar Lucy!" Lanjut Erza mutlak dengan senyum yakin.

Eh?

Lucy membatu.

Apa katanya tadi?

"IDE BAGUS!" Dan teriakan kompak Natsu dan Gray pun kembali menyadarkan Lucy pada keadaan nyata.

Oh tidak. Ini buruk. Lucy kembali memasang ekspresi seperti mayat hidup.

Levy berteriak kencang saat dirasanya ia telah menemukan sebuah penawar yang cocok untuk sebuah sihir kutukan yang telah menyerang Lucy. Semua orang di dalam guild itu serempak menoleh ke arah Levy bangga, begitu pula dengan Lucy. "Levy-chan!" Seru mereka pada Levy.

Levy tersenyum bangga setelah berjam-jam ia berkutat pada semua buku tebal di hadapannya, akhirnya ia menemukan cara terampuh untuk menghilangkan sihir kutukan apel itu!

"Aku dapat!" Pekiknya membuat Lucy loncat kegirangan.

"Benarkah? Bagaimana? Bagaimana?" Tanya Lucy tidak sabar. Ia ingin cepat-cepat terbebas dari sihir kutukan ini!

Levy terlihat berpikir sejenak sebelum ia benar-benar mengatakan caranya kepada Lucy. Kedua alisnya saling bertaut, "tapi aku tidak yakin," ucapnya pelan, membuat semua orang menatapnya bingung.

"Tidak yakin?" Lucy kembali mengulang kata-kata Levy.

Levy mengangguk.

Erza berdehem. "Kita tidak akan tahu hasilnya kalau tidak dicoba, bukan?" Tanyanya dengan suara berat, membuat Lucy, Gray, Natsu, dan Wendy menoleh ke arahnya.

"Ya! Itu benar! Aku juga akan membantu Lucy jikalau memang aku dibutuhkan nantinya," ucap Natsu disetujui oleh anggota yang lainnya.

"Tapi—"

"Katakan saja," potong Gray cepat sebelum Levy sempat menyelesaikan kalimatnya. "Bagaimana cara mematahkan sihir apel tersebut?" Gray lanjut bertanya.

"..."

Hening beberapa saat. Levy menelan ludah gugup, membuat semua matanya yang menatapnya pun ikut harap-harap cemas.

Tegang, itulah suasana yang tergambar saat ini. Entah sihir apa yang kelak akan mereka gunakan nanti untuk mengembalikan Lucy ke dalam wujud aslinya. Tapi, dilihat dari ekspresi Levy, sepertinya sihir itu akan sangat sulit dilakukan. Mungkin.

Lucy meneguk ludahnya gugup saat mendapati kedua belah bibir Levy mulai bergerak lambat.

"Lucy harus—"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"—mendapatkan sebuah ciuman dari seseorang yang telah ditakdirkan untuknya."

Hening.

Hening.

Hening.

Hening berkepanjangan membuat semua mata membelalakan mata tidak percaya atas apa yang baru saja Levy katakan.

Apa katanya tadi? Ciuman? Orang yang ditakdirkan? —batin mereka semua dengan wajah memerah.

"APAAAAA?!" Teriak semua pria para anggota guild serempak, tak terkecuali Lucy yang nampak begitu sangat shock. Wajahnya benar-benar sangat merah sekarang. Halo? Sihir penawar macam apa itu? Ia baru dengar ada penawar kutukan sihir semacam itu.

"TIDAK MUNGKIN!" Teriak seluruh pria serempak termasuk Gray dan Natsu yang merasa tidak terima. Ya, mereka tidak terima. Bagaimana kalau bukan merekalah yang ditakdirkan untuk Lucy? Bagaimana? Bagaimana? Tentu saja mereka tidak akan rela melihat Lucy dicium oleh pria lain.

"AAAAAAA!" Teriak Gray dan Natsu bersamaan

Sepertinya, kehidupan melelahkan Lucy belum sepenuhnya berakhir pada hari ini.

Jalani takdirmu, dan pilihlah yang terbaik. Untukmu Lucy Heartfilia.

To Be Continued


Omake :

Tegang, itulah suasana yang tergambar saat ini. Entah sihir apa yang kelak akan mereka gunakan nanti untuk mengembalikan Lucy ke dalam wujud aslinya. Tapi, dilihat dari ekspresi Levy, sepertinya sihir itu akan sangat sulit dilakukan. Mungkin.

Lucy meneguk ludahnya gugup saat mendapati kedua belah bibir Levy mulai bergerak lambat.

"Lucy harus—"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"—berpose bugil di hadapan umum."

Seketika, seluruh anggota pria di dalam gedung itu pun nosebleed, tak terkecuali dengan Master Makarov yang juga ikut mendengarnya.

Inilah surga dunia!

*ditoyor rame-rame*


Author Note: Hai... ada yang masih ingat dengan fic ini? Akhirnya setelah sekian lama bisa juga saya update chap 4 buat ini fic. Jujur aja WB yang menyerang saya itu cukup extream sehingga buat saya lupa sama fic-fic saya wahaha salah dunia RPW yang membuat saya beralih dari dunia FFN /dor

Semoga chapter ini tidak mengecewakan. Karena saya bikin cerita ini lepas dari chapter sebelumnya. Terima kasih juga buat para reader yang sudah berkenan untuk me-riview ataupun sekedar membaca fic ini. Terakhir sempet dapet dua riview susulan dan itu kembali buat saya semangat untuk melanjutkan cerita ini. Kesan kalian adalah semangat buat saya. Terima kasih sebesar-besarnya /ketjup satu-satu/

Next, I hope you're enjoy with this chapter.

See ya in next chappie~

Akhir kata, Mind to Review and Concrit?

Special thanks for :

Day-chan Arusuki, sykisan, wijnark11, fathiyah, bjtatihowo, Nalu, NekoMimiMyawMyaw, Guest, IzuYume SaitouKanagaki, No name, Guest, FairyLucyka, MisakiDreyarTheSilentDemon, amuto, Kiki RyuEunTeuk, viiona chhinciinkchuinkz, Guest, and minna sasusaku