NB : DX Gomen ne... Karna aku masih baru disini, FF ini jadi kacau dan berserakan(?) Sebenarnya cerita ini udah dipublish sih, tapi.. yah itu tadi... Kacau! Fiuhh... tapi syukur deh ada yang bantuin dan ngasih tau cara buat cerita di chapter lanjutan XD (Makasih Ric-chan) Baiklah, ini adalah chapter lanjutannya~ Selamat membaca bagi yang baru pertama kali baca, dan selamat membaca kembali bagi yang udah baca XDv
10 tahun kemudian…
Rabu, 10 Oktober 2009 (07.15)
"Hei!Tidak bisakah kau lebih cepat lagi? Kita sudah terlambat! Ayo cepat!" seru Naruto yang sudah berada jauh didepan.
"Hoshh..hosshh…Aduhh… Tunggu sebentar, naruto! Tung.. Akkhh!" *gubrak*
Tiba-tiba saja gadis remaja yang berambut lurus sepunggung itu terjatuh.
"Aduh…. Huhu… Hidungku… Huwweee…!"
"Hoi-hoi! Kau baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir, lalu mengulurkan tangannya.
Dengan wajah polos penuh kesengsaraan, Hinata menengadahkan kepalanya menghadap Naruto.
"Ppfftttt…. Bwahahahaha..!" rasa khawatir langsung hilang dan digantikan oleh tawa usil…
"Lihat wajahmu! Aneh sekali..! Wkwkwk" Naruto masih saja tertawa mengejek.
Merasa sangat jelek, Hinata semakin sedih dan matanya mulai mengeluarkan banyak air mata.
"Loh, loh? Kenapa menangis? Aku hanya bercanda kok. Apa sakit sekali ya?"
Tanpa memperdulikan Naruto yang merogoh-rogoh tas nya untuk mencari saputangan, Hinata segera berlari sekencang yang ia bisa… Meninggalkan Naruto dengan ekspresi yang seolah-olah berkata Apa? Ada yang salah dengan yang kulakukan?
Sesampainya di Sekolah, Hinata segera mengeluarkan buku tulisnya dan mulai mencoret-coret untuk mengeluarkan segala isi pikirannya. Dasar bodoh! Hinata, kamu memang bodoh! Kenapa kamu bisa sampai jatuh?! Kenapa kamu mempermalukan dirimu sendiri di hadapan Naruto?! Dasar bodoh, bodoh, bodoh! Tanpa sadar, dia menyuarakan kalimat terakhir yang ditulisnya.
"Siapa yang bodoh, hinata?" tanya Gaara, teman sebangkunya.
"Ha? Eh.. nggak kok. Hehehe…" Hinata mulai cengengesan nggak jelas
"Loh? Hidungmu kenapa? Kok bisa luka seperti itu?"
"Tadi jatuh…" jawab Hinata menundukkan kepalanya.
"Ya ampun… kamu udah besar juga, kenapa bisa jatuh…? Hinata..hinata.." tanya Gaara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tersandung…" Hinata semakin menundukkan kepalanya.
"Aduh… Kasian… Tunggu, ya. Biar aku beli plester dulu." Gaara bangkit berdiri.
"Terima kasih ya. Kamu baik sekali, Gaara…" Gaara hanya tersenyum.
Rabu, 10 Oktober 2009 (14.25)
"Hinata! Hinata! Hei, Hinata!" Terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin dipercepat. "Hei-hei…!" Akhirnya suara langkah kaki itu semakin dekat…dekat..dekat… Dan…
"Hinata!" Naruto menarik pergelangan tangan Hinata saat ia sudah berhasil menyamai langkahnya dengan Hinata.
"Apa lagi sih, Naruto? Kamu mau mengejek aku lagi?" tanya Hinata tepat di depan wajah Naruto.
"Ya ampun… Kau marah karena kejadian tadi pagi? Astaga Hinata… Padahal kau sendiri yang buat dirimu jatuh. Kenapa marah-marah sama aku?" Tanya Naruto dengan perasaan bingung.
"Kamu bilang wajah ku aneh…" Hinata mulai terisak.
"Loh? Itu kan memang benar… Tapi, tapi… itu karena hidungmu yang luka, makanya jadi aneh." tambah Naruto cepat-cepat.
"Hiks..hiks…"
"Aduh… malah makin nangis… Yaudah deh, maaf-maaf…" ucap Naruto lalu menarik tangan Hinata untuk melanjutkan perjalanan pulang mereka.
Rabu, 10 Oktober 2009(19.45) Rumah Hinata
Drap..drap..drap… terdengar suara langkah yang sedang berlari dari arah tangga.
Tiba-tiba saja, Hinata membuka pintu kamar ayahnya yang berada dilantai bawah.
Ketika itu, sang ayah sedang memandang keluar jendela entah apa yang sedang ia pikirkan…
"Ayah..!" Hinata tiba-tiba berteriak histeris, sehingga membuat sang ayah langsung menolehkan kepalanya.
"Astaga, Hinata! K-Kenapa denganmu, nak?" tanya ayahnya cemas.
"Hidungku… Hidungku mimisan lagi… Bagaimana ini? Ini sudah yang ke-5 dalam seminggu terakhir…." Sang ayah langsung mendekati Hinata dan memeluknya erat. "Aku takut… A-aku takut akan seperti ibu… takut… Huhhuhu" Hinata menangis tersedu-sedu dalam dekapan ayahnya.
tap..tap..tap.. terdengar langkah kaki yang berjalan pelan. Ya, saat ini Naruto sedang berjalan menuju sekolahnya. Dan saat ini pula dia juga melewati rumah Hinata. Dia berhenti melangkah, lalu memandang ke rumah itu. Sudah 5 hari sejak kejadian Hinata menangis. Semenjak itu pula, dia tidak pernah bertemu dengan Hinata lagi. Hinata tiba-tiba menghilang, bahkan rumahnya pun kini sudah kosong. Dia pindah tanpa memberitahukannya pada Naruto. Setiap hari Naruto melewati rumahnya dan berharap bahwa Hinata kembali menempati rumah tsb. Sudahlah.. pikir Naruto, lalu melanjutkan langkahnya.
