Rabu, 24 Desember 2011 (16.50) Rumah Naruto

"Naruto…"
"Mmm.." Hinata terkejut mendengar jawaban yang sangat singkat itu dari Naruto. Spontan dia jadi melihat ke arah Naruto yang saat itu sedang memakai sepatunya.
"Apa kamu mau pergi bernatal bersama Sakura?" tiba-tiba saja kalimat itu terlontar dari mulut Hinata. Buru-buru dia menutup mulut dengan kedua tangannya ketika dia sadar akan kebodohannya.
Naruto langsung memandang ke arahnya, tampak ada pandangan kesal di mata itu.
Tapi kali ini Hinata tidak menundukkan kepalanya.
Dia malah berani menatap mata biru itu dan berkata, "Bisakah kamu… Aku janji, hanya malam ini saja. Bisakah kamu merayakan natal bersamaku malam ini?" ucapnya cepat-cepat.

" Aku serius, hanya sampai malam ini saja. Karena besok… pagi-pagi sekali, aku akan dijemput ayah dan pergi dari Konoha. Ini adalah kunjungan terakhirku ke Konoha. Ini kunjungan terakhir ku ke rumah teman masa kecilku…" tambahnya lagi, lalu menundukkan kepalanya.
"Maaf.." kata Naruto. "Malam ini tidak bisa…" tambahnya. Spontan, Hinata memandang Naruto lekat. Pandangan sedih & putus asa itu dia lemparkan pada Naruto yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Sedetik kemudian Naruto pergi…

Malamnya pukul 19.45 di Rumah Naruto

Aku harap dia merubah pikirannya, dan segera datang kemari batin Hinata sambil memandang makanan yang sudah ia sajikan di meja.
Aku sudah menyiapkan semuanya, termasuk hadiah dan kartu natal. Semoga dia cepat pulang… aku akan terus menunggunya disini…. Cepatlah pulang Naruto,cepat pulang…..

Pukul 23.32 Rumah Sakura
"Hei Naruto…" sapa Sakura sambil menepuk pundak Naruto.
"Hmm…"
"Mmm… apa kamu tidak kasihan membiarkan Hinata sendiri dirumah? Kenapa kamu tidak mengajaknya kemari?"
"Hah… lebih baik memang begini." Ucap Naruto dan kembali menerawang langit malam.
"Lihat, salju turun.." tambahnya lagi.
"Hei… Kamu menyukai Hinata kan? Iyakan? Aku tahu, kok." ucap Sakura tepat sasaran. Lalu dia juga ikut memandang ke langit. Yang ditanya malah tidak menjawab.
"Naruto, sudahlah… akui saja. Jika kamu menyukainya, kenapa kamu menghindarinya? Membuatnya kecewa… Kasihan Hinata." kata Sakura lalu menatap Naruto.
"Aku juga perempuan, sama seperti Hinata. Aku tahu apa yang dia rasakan saat ada orang yang selalu membuatnya kecewa, tidak menepati janjinya. Aku juga tahu bagaimana rasanya ketika seorang teman kecilnya, sahabatnya sendiri… tiba-tiba menjauhi dirinya." Imbunya lagi. Kali ini Naruto membalas tatapan Sakura.
"Pulanglah… Bukankah tadi kamu bilang bahwa Hinata memintamu menemani malam natal terakhirnya di Konoha? Ayo cepat… Masih ada waktu. Nyatakan perasaanmu…" Sakura menatap mata biru itu lekat-lekat, lalu tersenyum.
"Terima kasih" Cuma itu yang Naruto ucapkan, lalu segera berlari pulang.

Rumah Naruto pukul 23.56

"Apa ini? Kenapa darahnya tidak berhenti dari tadi? Aku.. aku harus bagaiamana? Dan lagi… rasa sakit ini…. Sakit sekali… Awww! Akkhhh! Sakittt…!" erang Hinata kuat sambil meremas jari-jari tangannya sampai memutih.

Teng! Teng! Teng! Teng! Teng! Teng! Teng! Teng!Teng! Teng! Teng! Teng!

Ah! Sial! Aku terlambat!

Batin Naruto sambil membuka pintu rumahnya.
"Aku pulang!"
"Hinata. maaf aku berubah pikiran. Hinata…" ucap Naruto mencari-cari Hinata.
Dimana dia? Apa sudah tidur?
Cklek!

Ho… sudah tidur ternyata… Naruto perlahan mendekati Hinata yang tidur membelakangi pintu

"Maaf…" ucapnya lembut sambil mengelus rambut Hinata.
"Aku selalu membuat mu kecewa… Aku menyukai mu Hinata…" ucap Naruto pelan tepat di telinga Hinata.
"Terima kasih…" sebuah jawaban terlontar pelan dari mulut Hinata.
Hinata berbalik menghadap Naruto. Naruto terkejut melihatnya.
"K-kau… ada apa denganmu?" tanya Naruto khawatir. "Astaga. Mimisan mu banyak sekali!"
"Biarkan saja… Sudah tidak ada waktu lagi."
"Hei-hei.. jangan ngawur. Sini biar aku bersihkan. Aku rasa kamu kecapekan…"
"Tidak… bukan… Memang selalu begini…Biarkan saja…" ucap Hinata sambil tersenyum lemah.
"Aku memang sakit… sa..sakit parah…" tambahnya.
"Tapi…"
"Ssttt… Jangan memotongku… Biarkan aku yang bicara…. Aku juga menyukaimu Naruto.. Suka…. Sangat sukaaa… Hahhh… " ucap Hinata lemah.
"Terima kasihhh… buat… s-semua,,nya…" tambahnya lagi sambil tersenyum bahagia.

"Hei! Tunggu…! Kenapa kau tidak memberitahuku?! Hinata! Hinata..!" Naruto berteriak penuh amarah. Tidak, bukan hanya amarah saja. Dia juga merasa sedih dan putus asa. Dia memeluk erat Hinata yang kini sudah tidur dengan tenang.

15 tahun kemudian….

"Ayahh..! Boleh tidak Patung Mi Ramen ini untukku? Aku ingin itu, ayah…" pinta seorang anak lelaki berambut kuning bermata hijau itu.
"Ohh… Kamu menyukainya? Ya, tentu saja… Jaga hadiah ini baik-baik ya.. Jangan sampai pecah." Naruto mengambil patung mi ramen itu dan memberikannya pada anak tersebut.
"Kamu yakin ingin memberikannya?" tiba-tiba saja muncul seorang wanita berambut merah jambu.
"Itukan hadiah natal dari Hinata…" imbunya lagi.
"Tidak apa-apa. Biarkan anak kita menyimpan hadiah itu, Sakura…" ucap Naruto lalu melingkarkan sebelah tangannya di bahu sang istri.

FIN

: Mohon reviews nya kembali ^^ hehe *diserang massa* *kaburrrr*