Too Early

Sebuah SasuSaku fanfiction oleh Green Mkys

Naruto © Kishimoto Masashi

WARNING: OOC, OC, AU, misstypo, aneh, ide pasaran, M(for safe), dll.

.

"Istirahatlah Sakura. Besok kami akan berangkat ke Suna.", ujar ayah Sakura setelah upacara pernikahan Sakura dan Sasuke dilaksanakan.

Acara yang diselenggarakan tidak besar dan ramai tetapi cukup mewah. Hanya dihadiri oleh kerabat dan teman-teman dekat dua keluarga, mengingat Sakura tidak ingin kabar pernikahannya tersebar luas karena ia masih sekolah.

"Baik, Otousan. Kalau begitu aku dan Sasuke akan pergi.", jawab Sakura.

"Kami permisi, Otousan, Okaasan.", ucap Sasuke sambil membungkuk ke orangtuanya dan orangtua Sakura diikuti Sakura.

Sesuai kesepakatan Sakura dan Sasuke di awal, mereka mau menikah bila diperbolehkan tinggal di luar kediaman Uchiha. Awalnya orang tua mereka keberatan membiarkan anak-anak semuda mereka tinggal berjauhan, tetapi Sasuke dan Sakura akhirnya berhasil meyakinkan para orang tua yang kolot itu.

Sasuke berjanji akan selalu menjaga dan mengawasi Sakura, Sakura berjanji akan sering datang ke kediaman Uchiha –Nyonya Uchiha sangat senang punya anak perempuan.

Sasuke dan Sakura langsung menuju kediaman pribadi mereka, sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan tidak kecil terletak agak jauh dari pusat Kota Konoha, jangan tanya siapa yang menginginkannya, sudah pasti itu keinginan Sasuke menempati tempat yang tenang.

"Masuklah Sakura.", ujar Sasuke sembari membukakan pintu, ia menarik sebuah koper berukuran sedang, sedangkan Sakura menenteng tasnya.

Sesampainya di sebuah kamar yang lumayan luas, Sasuke meletakkan koper yang dibawanya di dekat tempat tidur besar di tengah ruangan. "Kau bisa pakai kamar ini, beristirahatlah.", ujar Sasuke seraya beranjak menuju pintu.

"Ung.. tunggu, Sasuke. Kau mau ke mana?", ucap Sakura yang sedari tadi diam.

"Aku akan pakai kamar di samping."

"O..oh.."

"Kenapa? Kau ingin aku tetap di kamar ini? Kau ingin kita tinggal sekamar?", ujar Sasuke dengan nada sedikit jahil.

"Ah.. apa? Tidak mungkin, bodoh! Pergilah, aku ingin berganti pakaian.", jawab Sakura dengan wajah memerah, sebenarnya ia agak kecewa, entah mengapa..

"Mungkin pun tak masalah, kau tahu kau bisa ke kamarku kapanpun, Sakura. Beristirahatlah, selamat malam.", ucap Sasuke masih dengan nada jahilnya dan langsung meninggalkan kamar Sakura.

Apa-apaan dia itu?! Kenapa sifatnya jadi berubah?!

Sakura sedang berusaha melepaskan obi di kimononya yang berlapis-lapis, tapi sepertinya ia tidak bisa melepaskan pengikat yang ada di belakang tubuhnya, Apa aku harus minta bantuan Sasuke?— sepertinya memang itu yang dibutuhkan Sakura sekarang, bantuan seseorang.

"Sasuke, bantu aku melepaskan..", Sakura langsung membuka pintu kamar Sasuke yang tidak dikunci.

"KYAAA! Apa-apaan kau?! Dasar mesum! Cepat pakai bajumu, bodoh!", Sakura berteriak keras dan langsung menutup matanya begitu melihat Sasuke yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya, rambutnya basah—model rambutnya yang melawan gravitasi itu tak terlihat lagi.

"Buka matamu, gadis bodoh! Aku sudah pakai baju.", Sakura menurunkan tangannya perlahan-lahan, takut melihat hal yang berbahaya(?). Benar saja, Sasuke sudah memakai kausnya, tetapi ia masih mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.

"Kau yang masuk tanpa mengetuk pintu, jadi kau yang salah. Lagipula kita sering mandi bersama waktu kecil, jadi seharusnya kau tidak kaget melihat tubuhku, hm?", ujar Sasuke dengan nada jahilnya.

"K..kau! Jangan ucapkan itu! Kita masih sangat kecil waktu itu!", sahut Saske dengan wajah tersipu.

"Kau tahu, kau sangat cantik dengan wajah merahmu yang seperti tomat itu, Sakura. Membuatku ingin memakanmu.", ucap Sasuke sangat dekat dengan telinga Sakura sampai ia bisa menghirup aroma sabun yang baru diapakai Sasuke, tentu saja wajah Sakura semakin memerah.

"Kau ingin aku melepaskan apa? Kau ingin aku melepaskan kimonomu?", lanjut Sasuke masih dengan nada jahilnya, entah mengapa Sasuke jadi jahil di sini.

"A.. tidak usah! Aku bisa melepasnya sendiri!", jawab Sakura cepat langsung menuju pintu keluar kamar yang didominasi warna putih itu.

Sasuke langsung menahan bahu Sakura sebelum Sakura benar-benar keluar, "Aku hanya bercanda, mengapa kau jadi sensitif seperti ini? Apa yang bisa kubantu?".

"Umm, kimono ini berat sekali, dan ikatannya sangat kuat, bisakah kau membantuku melepaskan obinya?", tanya Sakura pelan.

Sasuke langsung membantu melepaskan ikatan obi Sakura dari belakang. Mengapa sepertinya tubuh Sasuke sangat dekat dengan tubuhnya? Sakura bahkan bisa merasakan hawa dari tubuh Sasuke dan napasnya yang berbau mint, segar. Jantungnya berdegup sangat keras sampai ia takut Sasuke bisa mendengarnya karena keheningan yang menyelimuti mereka.

"Ngg, cukup, terimakasih. A.. aku ingin kembali.", ujar Sakura gugup karena gerakan Sasuke yang –sepertinya— membantunya dengan gerakan yang sangat lambat. Entah mengapa Sakura merasakan sesuatu yang berubah di hatinya ketika Sasuke melepaskan tangannya dari kimono Sakura dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Sakura.

GREPP

Ngg, apa ini? Oh, tidak, jangan bilang Sasuke memelukku. Ya Tuhan, apa dia sudah kehilangan akal sehatnya? Ya, Sasuke memeluk Sakura dari belakang sambil membenamkan wajahnya di helaian rambut merah muda Sakura yang terurai bebas. Tubuh mereka yang tanpa jarak semakin membuat Sakura takut Sasuke akan mendengar dan merasakan degupan jantungnya yang semakin kencang tak karuan.

"Sas.. Sasuke, kau tak apa?", oh ayolah Sakura, mengapa kau jadi gugup mengahadapi si bodoh ini, apakah perasaanmu belum benar-benar hilang.

"Aku hanya ingin menghirup aroma tubuh baumu yang berkeringat dan belum mandi ini."

"A.. Apa? Sasuke BAKA!", Sakura langsung melepas tangan Sasuke di kedua bahunya dan keluar dari kamar Sasuke dengan tidak lupa menutup pintunya dengan bantingan keras.

Bodoh sekali kau, Sakura. Merasa berdebar-debar, bahkan gugup, hanya karena Si Bodoh itu! Tapi kau tidak akan memungkiri kalau pelukannya terasa hangat dan lembut, dengan suaranya yang ngebass di telingamu, sapuan nafasnya di lehermu, membuatmu semakin merasa ada sesutu yang mengganjal di hatimu ketika pelukannya lepas dari tubuhmu.

.

.

"Ra.. Sakura", engg, sepertinya ada tangan yang menepuk-nepuk pipi Sakura, mencoba membangunkan Sakura di tengah tidurnya yang tidak nyaman, terlihat dari kerutan diantara kedua alisnya, sepertinya ia sedang bermimpi buruk.

"Sakura, kau harus bangun atau kau tidak akan melihat ayah dan ibumu pergi ke Suna. ", suara yang mulai terdengar jelas dan tangan yang dingin itu..

"KYAA.. Sasuke! Sedang apa kau di rumahku? Di kamarku?!", ucap Sakura keras sampai membuat gendang telinga Sasuke berdenging sambil menarik diri bangun dari tidurnya dan menutup tubuhnya dengan selimut. Oh, Kami. Apakah aku masih suci?

"Ini rumahku juga, kau lupa? Atau kau juga lupa kita sudah menikah kemarin?"

"Hah! Apa? Kita menikah?"

"Hn, dan perlu kau ingat, aku tidak tertarik dengan tubuhmu."

"Apa?! Kau! Kau pikir aku tertarik denganmu?!", sepertinya Sakura sudah ingat bahwa kehidupannya sudah berubah drastis sekarang, sejak ia dan Sasuke mengucap janji suci pernikahan kemarin.

"Benarkah? Kita lihat saja nanti.", ucap Sasuke, Sakura hanya mengerutkan keningnya.

"Sudahlah, jam berapa sekarang?"

"Jam 8. Bergegaslah atau kau akan terlambat melihat kepergian orangtuamu.", ujar Sasuke mengingatkan Sakura lagi.

"Orangtuaku akan pergi jam 9 kan? Masih lama."

"Buang kebiasaan santaimu itu. Kau lupa sekarang kita tinggal di mana?", ujar Sasuke dengan nada –yang sepertinya— bosan.

"Oh.. oh, iya. Aku benar-benar belum terbiasa. Aku akan bersiap, kau tunggulah di luar.", Sasuke pun keluar dan Sakura segera bersiap untuk mengantar kepergian orangtuanya ke Suna untuk waktu yang lama sampai bandara.

.

.

Sepertinya kehidupan Sakura dan Sasuke tidak akan mudah, menikah di usia muda, Sakura baru berusia 18 tahun sedangkan Sasuke baru menginjak 20 tahun. Sakura yang masih sekolah dan sudah harus mengurus rumah tangga kecil mereka, belum lagi ia yang sudah kelas tiga dan harus menempuh ujian untuk memasuki bangku universitas. Sasuke yang menjadi kepala keluarga di tengah masa perkuliahannya ditambah kewajibannya untuk mempelajari kerajaan bisnis keluarga. Menyatukan dua kepribadian dan kebiasaan yang tidak sama, menjadikannya keharmonisan. Mungkinkah Sakura dan Sasuke mengatasi permasalahan-permasalahan yang akan timbul tidak hanya dari dalam diri masing-masing tetapi juga dari orang-orang dan lingkungan di sekitar mereka...

.

TBC

Terimakasih banyak pada: Kembang Cherry, Sky pea-chan, , jung hana cassie (aku juga cassie loh), me, miyank, Kaede Kunikida (terimakasih ya, sampe review 2x), uchihana rin, aozora ara, Momo kuro, rikha-chan, fs, Karasu Uchiha

masih kependekkan kan? iya saya tahu, maaf ya readers-san..

Terimakasih banyak buat yang udah baca & review, review anda sangat berharga untuk kelangsungan hidup kami (?), maksudnya kelangsungan fic ini.

Seperti biasa, saya mohon maaf atas misstypo yang mungkin bertebaran, dan cerita yang gaje ini. Kalo ada pertanyaan bisa langsung dilayangkan(?) ke kotak review. Kritik, saran, & masukkan juga sangat diharapkan, hehe..

mohon maaf juga saya belum bisa update cepet, kalo alur kecepetan itu kelemahan saya, hehe ^^a

mohon sabar ya, & tetep RnR