Too Early

Sebuah SasuSaku fanfiction oleh Green Mkys

Naruto (c) Masashi Kishimoto

WARNING: OOC, OC, AU, typo, aneh, ide pasaran, M(for safe), dll

Chap 3

"Hati-hati ya, bu," ucap Sakura begitu pelukan ibunya terlepas.

Saat ini Sakura dan Sasuke sedang di bandara mengantar kepergian orang tua Sakura ke Suna. Sakura tidak dapat menahan air matanya. Ini bukan pertama kalinya ia akan berpisah jauh dari orang tua, tetapi tidak pernah lama. Hatinya terasa berat melepas kepergian kedua orangtuanya, begitupun pasti mereka, meninggalkan putri satu-satunya untuk menetap di tempat lain.

"Tolong jaga Sakura, Sasuke," ucap Kizashi pada Sasuke setelah melepas pelukan Sakura. Hatinya digelayuti kecemasan yang sangat.

"Pasti, otousan." Jawab Sasuke mantap, membuat Sakura menoleh padanya.

"Terima kasih, Sasuke," ucap Mebuki dengan air mata yang melinang. "Kalian harus rukun, pertengkaran kecil biasa, tetapi apapun yang terjadi kalian harus menjaga dan saling mengerti satu sama lain. Kau harus menjadi istri yang baik, Sakura. Selalu menunggu dan menemani suamimu bagaimanapun keadaannya. Dan untukmu, Sasuke, tidak ada pesanku selain, jaga Sakura kami," Mebuki mengakhiri pesannya karena tangis yang tidak dapat ditahannya lagi.

Sakura memeluk lagi ibunya erat, membenamkan wajahnya di punggung wanita yang melahirkannya, menghirup aroma tubuh yang tidak akan bisa sering-sering ia cium lagi, menyimpannya kuat dalam memorinya. "Sudahlah, bu, kami pasti baik-baik saja di sini, doakan kami selalu. Ibu dan ayah juga akan tetap ke sini kan? Aku juga akan mengunjungi ayah dan ibu nanti."

"Hm, hm." Mebuki melepas pelukan Sakura dan menghapus air mata di wajah Sakura, kemudian ia memeluk Sasuke singkat.

"Salam untuk ayah dan ibumu, Sasuke," ujar Kizashi, kemudian ia dan Mebuki berjalan menjauhi Sakura dan Sasuke.

"Hati-hati," kata Sakura tanpa mengeluarkan suara, tangannya melambai ke arah kedua orangtuanya. Punggungnya terasa hangat karena tangan Sasuke yang memegangi punggungnya.

Sakura dan Sasuke belum bergerak dari tempat mereka berdiri sampai pesawat yang membawa orang tua Sakura lepas landas.

"Sudah, ayo," Sasuke mengusap tangannya di bahu Sakura ringan, ia mendorong Sakura pelan agar berbalik dan berjalan ke luar bandara. "Jangan menangis lagi, wajahmu jelek sekali kalau seperti itu."

"Masa bodoh," ucap Sakura kasar tanpa memedulikan perkataan Sasuke, tetapi tetap saja ia mengusap mata dan hidungnya agak terlalu keras. Sebenarnya ia merasa malu menangis sampai seperti itu di tempat umum. "Sasuke, bawa aku pergi."

"Hn?"

"Ayo ke taman bermain." Sakura langsung menarik tangan Sasuke ke area parkir tanpa menunggu jawaban Sasuke.

"Ayo naik itu," Sakura menunjuk cangkir besar yang bisa berputar dan bergerak.

"Tunggu, Sakura," Sasuke tak kuasa menolak permintaan Sakura karena tangannya sudah ditarik kuat oleh Sakura, setelah sebelumnya Sakura memaksa Sasuke memakai bando dengan telinga panda di kepalanya. Jadilah Sasuke dan Sakura tontonan pengunjung taman bermain yang sebagian besar anak-anak.

.

.

Kini Sasuke dan Sakura sudah berada di dalam cangkir besar yang diputar Sakura dengan kecepatan di atas normal.

"Sakura, kau bisa merusaknya nanti."

"Apa? Kau bilang apa Sasuke? Kau takut ya?" Sakura tertawa keras melihat wajah Sasuke.

"Sekarang aku mau naik umm.. komidi putar saja," ujar Sakura seolah-olah lampu ide baru keluar dari kepalanya.

"Kau saja," Sasuke merasa bulu kuduknya berdiri melihat komidi putar dengan bentuk macam-macam binatang lucu itu.

"Ah, ayolah, Sasuke. Kau tidak akan mati naik ini, hanya sedikit pusing, kok," Sakura menaik-naikkan alisnya berusaha merayu Sasuke.

"Tidak, kau saja." Nada suara Sasuke sudah final.

"Ya sudah, aku sendiri saja," Sakura mengerucutkan bibirnya, ia berjalan sendiri ke arah antrean sambil bersungut-sungut.

"Yuhhuuu.." Sakura merentangkan tangannya ketika ia sudah menaiki salah satu bangku komidi yang berbentuk jerapah, ia tidak dapat menghilangkan senyum lebarnya.

Begitu ia berputar melewati Sasuke di luar pagar, Sakura melihat Sasuke mengeluarkan ponselnya, dengan refleks Sakura menunjukkan ibu jari dan jari tengahnya, "Cheese."

Dan Sasuke berhasil mendapat foto Sakura yang tersenyum lebar ke arahnya, Sasuke pun tidak menyembunyikan pergerakan dua sisi bibirnya. Sakura persis anak-anak di sekitarnya.

Hari sudah menjelang sore. Setelah masuk ke rumah hantu, menaiki roller coaster, dan mencoba beberapa wahana lain kini Sasuke dan Sakura sedang duduk di salah satu kursi di pinggir taman.

"Aku beli minum dulu. Kau tunggulah di sini," perintah Sasuke seraya beranjak dari samping Sakura.

"Hm," jawab Sakura, ia terlalu lelah bahkan untuk menjawab Sasuke setelah berteriak di setiap wahana yang dicobanya, terutama saat menaiki roller coaster, tenggorokan Sakura terasa sakit karenanya.

Sambil mengamati orang-orang di sekitarnya, Sakura kembali teringat kedua orangtuanya ketika ia sedang sendirian seperti ini. Bila tidak ada Sasuke Sakura benar-benar sebatang kara di Konoha.

Matanya bertumpu pada seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun yang memegang balon hijau sedang berjalan sendirian, kepalanya menoleh ke segala arah. Sakura segera menghampiri anak kecil berwajah lucu itu.

"Hai, adik kecil, kau hanya sendiri? Mana ibumu?" Sakura bertanya lembut agar tidak membuat anak itu takut.

Wajah bingung anak itu berubah menjadi wajah ingin menangis, pipinya memerah, matanya digenangi air mata. "Hiks, ibuku hilang," ucapannya tertahan isakan.

"Baiklah, ayo kita cari bersama saja. Nama kakak Sakura, siapa namamu manis?"

"Namaku Kira."

"Sudah, jangan menangis ya, sayang. Ayo kita cari ibumu sekarang," Sakura mengusap wajah anak itu dan meraih tangannya yang bebas.

"Sakura, ada apa?" baru beberapa langkah Sakura dan Kira berjalan, Sasuke menepuk bahu Sakura pelan dari belakang.

"Ah? Sasuke, kau mengagetkanku. Adik ini terpisah dari ibunya, kita cari dulu ya?" Sakura melihat wajah Sasuke yang memerah dan napasnya yang tersengal, "Kau kenapa? Wajahmu merah."

"Ada seseorang yang membuatku khawatir."

"Huh? Siapa?"

"Kau, bodoh," jawab Sasuke sambil mendorong dahi Sakura pelan dengan telunjuknya, "sudah, ayo kita cari ibu anak ini."

"Namanya Kira," ujar Sakura sambil bersungut atas perlakuan Sasuke.

"Hn," Sasuke langsung mengambil Kira dan mendudukkannya di atas bahunya, "begini lebih tinggi, kau bisa lebih mudah mencari ibumu."

Wajah Kira langsung berubah cerah. "Waah, tinggi, tinggi," katanya sambil merentangkan tangannya.

Sambil berjalan bersama Sakura tersenyum melihat Sasuke, ternyata bisa juga dia menghadapi anak kecil.

"Kalau tidak ketemu kita ke pusat informasi saja ya?" tanya Sakura setelah beberapa lama berjalan tetapi tidak juga menemukan seorang ibu yang kehilangan anaknya, ia merasa lelah mengelilingi taman bermain ini, apalagi Sasuke.

"Ibu, itu ibu!" tunjuk Kira heboh ke arah seorang wanita yang sedang berjalan limbung.

"Di mana?" Sakura ikut menolehkan wajahnya ke segala arah, ia berdiri di atas jari kakinya untuk meninggikan penglihatannya.

"Ibuuu," Kira melambaikan tangannya penuh semangat.

Seorang wanita menghampiri mereka bertiga dan memeluk Kira begitu Sasuke menurunkannya, "Oh, syukurlah, anakku."

Sakura tersenyum melihat kebahagiaan dua orang di depannya, ia dapat melihat ibu Kira yang wajahnya memerah karena menangis dan lelah. Begitu sayangnya seorang ibu pada anaknya, mengingatkan Sakura pada ibunya lagi.

Dirasanya tangan Sasuke menyentuh punggungnya hangat, hanya berdiam di situ, memberinya ketenangan.

"Ibu, kakak-kakak ini yang menolongku, Sakura-neesan dan Sasuke-niisan," tutur Kira yang masih di dalam dekapan ibunya.

"Oh, maaf, aku hampir lupa," ibu Kira berdiri kemudian membungkuk dalam. "Terima kasih banyak telah menolong anakku."

Sakura buru-buru membungkukkan badannya juga, "Sama-sama, sudah seharusnya kita saling menolong." Ia merasa tidak enak atas ucapan terima kasih yang terlalu dalam menurutnya.

"Sekali lagi terima kasih," kata sang ibu sebelum ia dan Kira pergi.

"Dadaah, Kak Sakura, Kak Sasuke," ucap Kira sambil membalikkan badannya dan melambai dengan tangannya yang bebas dari genggaman erat ibunya.

Sakura membalas lambaian tangan Kira sambil tersenyum.

"Ayo," Sasuke menarik tangan Sakura tanpa diduganya.

"Mau ke mana, Sasuke?" Sakura merasa Sasuke berjalan terlalu cepat.

"Pulang, aku lelah," jawab Sasuke tanpa melihat wajah Sakura.

.

.

"Haah, akhirnya sampai juga. Tiduuur," Sakura sangat lelah sampai meninggalkan Sasuke di belakangnya dan masuk tanpa memedulikan lampu-lampu yang belum nyala.

"Sakura," Sasuke menarik tangan Sakura lembut.

"Hm? Ada apa? Aku lelah," jawab Sakura tidak jelas, berusaha menutupi kegugupannya karena tangan Sasuke di tangannya, begitu hangat, Sakura sangat menyukainya.

"Makan dulu, kita sama sekali belum makan apa-apa hari ini."

"Huh? Aku lupa. Bagaimana ini Sasuke? Aku kan belum masak apa-apa," Sakura berujar bingung, ia tidak ingin Sasuke kelaparan atau sakit karena kelalaiannya.

"Urusanku, kau mandi saja dulu," Sasuke melepaskan tangan Sakura.

"Eh, tapi,"

"Mandi! Kau bau, atau aku yang harus memandikanmu?" Sasuke memotong ucapan Sakura dengan serius, membuat Sakura takut Sasuke akan benar-benar melakukan apa yang diucapkannya.

"Iya, iya," Sakura naik menuju kamarnya dengan bersungut-sungut. Mandi dan segera turun lagi ke ruang makan.

Di sana sudah ada Sasuke dan meja makan dengan piring-piring di atasnya yang sudah terisi, "Ini kau yang buat?"

"Ibu, aku cuma memanaskan," jawab Sasuke sambil memberikan mangkuk berisi penuh nasi.

"Ibumu ke sini? Kapan?" Sakura semakin merasa tidak enak sudah membuat Mikoto jauh ke rumahnya hanya untuk mengantarkan makanan.

"Sebelum kita pulang, aku yang memintanya," jawab Sasuke sebelum mulai makan, "selamat makan."

"Selamat makan," balas Sakura kemudian, "Sasuke, kau tidak harus melakukan ini kan? Kita sudah berpisah, seharusnya kita lebih mandiri kan." Ujar Sakura di tengah acara makan mereka.

"Tidak kusangka kau bisa berpikir seperti itu."

"Ikh, Sasuke, kau menghinaku!" Sakura kesal dengan ucapan Sasuke.

"Tidak, tapi tadi siapa yang menangis seperti anak kecil ketika berpisah dengan orang tuanya?"

Wajah Sakura memerah mendengar perkataan Sasuke, "Itu kan karena akan berpisah lama, wajar dong aku nangis."

"Hn," Sakura mengangkat wajahnya mendengar tanggapan tidak berperasaan Sasuke, yang ia lihat adalah Sasuke yang menaikkan kedua sudut bibirnya tipis. Ah, sudahlah..

"Besok kau sekolah?" Sasuke bertanya memecah keheningan di antara mereka.

"Hm, kau juga kuliah?"

"Hn, agak siang," kemudian, "ingat, bangun lebih pagi."

"Iya, kau seperti orangtuaku saja Sasuke."

"Aku pengganti mereka sekarang," Sasuke menatap tepat ke mata Sakura, membuat Sakura bisa melihat kesungguhan di mata gelap Sasuke.

Sakura tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya menganggukkan kepalanya, dan melanjutkan makannya tentu saja.

"Aku sudah selesai, terima kasih."

"Aku kira kau akan makan lebih banyak, Sakura,"

Sakura mendelikkan matanya ke arah Sasuke, "Kau yang memberiku nasi sangat banyak, sudah tidak ada tempat untuk porsi tambahan di perutku."

"Hn," Sasuke menaikkan sebelah alisnya seolah ia tidak percaya perkataan Sakura. "Ya sudah, kau tidur saja, aku yang membereskan."

"Tidak. Kali ini aku yang akan bereskan, kau yang tidur saja." Sakura tidak akan mengalah pada Sasuke kali ini.

"Tidur! Kau sekolah besok." Ucap Sasuke tegas.

"Tidak! Kau juga kuliah besok, jadi aku saja," Sakura tidak akan terintimidasi, jadi ia langsung mengambil piring-piring yang sudah kosong, termasuk mangkuk Sasuke, ke bak cuci piring.

Sakura mencuci peralatan-peralatan makan itu kemudian membilasnya. Tanpa disadari, Sasuke sudah ada di sampingnya dan mengambil piring-piring yang masih basah itu kemudian mengeringkannya dan meletakkan kembali di tempatnya. Ia harap wajahnya tidak memerah yang akan membuat Sasuke menyadari apa yang dipikirkannya, kami seperti pasangan pengantin baru.

"Kita seperti pasangan pengantin baru," Sasuke tiba-tiba memecah keheningan, membuat Sakura kaget setengah mati karena Sasuke mengucapkan apa yang ada dipikarannya.

"Aku menebak isi pikiranmu," hhh, Sakura berharap terlalu tinggi dengan mengaharapkan Sasuke juga memikirkan hal yang sama dengannya, ternyata hanya tebaakan.

"Bukankah kita memang pengantin baru, hm?" pertanyaan Sasuke membuat wajah Sakura memanas.

"Masa bodoh, kau saja yang teruskan." Sakura meletakkan spons cuci piringnya dan meninggalkan Sasuke yang, membingungkannya, suka sekali menggodanya.

Masuk ke kamarnya, Sakura merebahkan diri di kasurnya dan memeluk bantal. Sambil melihat langit-langit ia mengingat kejadian-kejadian hari ini. Berpisah dengan orangtuanya, baru beberapa belas jam tetapi ia sudah merasa rindu. Hari ini ia melihat Sasuke yang mengangkat seorang anak kecil, entah sasuke menyadarinya atau tidak, Sasuke terlihat sangat pas dengan anak kecil.

Sakura tertidur dengan mimpi-mimpi indahnya, sampai-sampai ia bermimpi seseorang mencium keningnya dengan sangat lembut, mungkin ibunya.

TBC

Hola minnaaa ^^

Mohon maaf sebesar-besarnya saya lama banget ga apdet, malah sebenernya saya udah agak lupa ini terusannya gimana, saya males banget sih buat nulis konsep dan alurnya secara garis besar. Ada yang mau bantu?

Sasunya OOC ya? Begitulah adanya

Lemon/lime pasti ada, tapi kapan? Kapan kapaa~an, hehe

Masih kependekkan kan? Iya, saya tahu. Saya kurang ahli bikin cerita panjang-panjang. Maaf ya semuaa, terima kasih banyak yang udah baca & review: Nina317Elf, Cecilia Khael Haruno, Anka-Chan, Rizuka Sasusaku Hanayuuki, Ichikawa soma, Vanille Yacchan, KuroNeko Hime-chan, Karasu Izaya, Konoha Girls, jung hana cassie, Ucucubi, CN Bluetory, anneira, MizuRaiNa, endless night, GwendyMary, panda-chan, Putri, cheryxsasuke, HazukiFujimaru (ada yg namanya belum disebut?)

Review lagi yaaa, review readers-san saaaangat berarti buat saya dan kelangsungan fic ini