"Wow," ucap Emmet ketika kami memasuki ruangan itu. "Sudah selesai."
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Emmet, "Dimana Reneesme dan Ej?" tanyaku.
"Dia mencurinya dariku," sahut Jacob melihat ke bawah dan aku sedikit melirik ke bawah tampaklah Rosalie yang sedang menggendong Reneesme.
"Apakah kau telah mengizinkannya?" tanya Emmet yang diikuti sedikit senyuman dari Jacob.
"Yah bisa dibilang terpaksa, tapi jangan sekarang Emmet," kataku menatap Emmet.
Carlisle dan Emmet sedikit tertawa mendengarnya dan Jacob membuang muka dan kembali melihat Reneesme. Suara telepon genggam menggema diruangan itu, Carlisle menegang begitu juga dengan Edward ketika dia melihat siapa penelepon di layar telepon genggam tersebut aku berjalan mendekati Carlisle.
"Apakah itu Charlie?" tanyaku.
"Dia menelepon dua hari sekali," ucap Jacob. "Dia dalam kondisi buruk saat ini."
"Bukannya dia juga werewolf?" tanyaku pada Jacob.
"Belum tentu, kami belum memeriksanya," jawab Jacob.
"Momma," ucap Ej yang digendong oleh Alice yang baru saja masuk.
"Halo Ej," sapaku pada Ej.
"Aku setengah vampir," kataku kepada Jacob.
"Seperlima," koreksi Jacob.
"Sst," desis Carlisle. Dia mengangkat teleponnya dan berbicara beberapa hal dengan Charlie.
"Baiklah, kau dan Jacob akan pergi menemui Charlie," ucap Carlisle setelah mengakhiri pembicaraanya dengan Charlie.
"Eh, aku disini saja, aku belum sarapan Carlisle," kataku menolak.
"Bella," kata Carlisle.
"Oh, ayolah Carlisle. Nanti kalau Jacob sudah memastikannya aku akan menemui Charlie," pintaku.
"Ta.. ta..," gagap Jacob.
"Tidak ada tapi-tapi Jake, demi Reneesme," ucapku tajam memohon.
Raut wajah Jacob berubah ketika aku menyebutkan Reneesme sebagai rayuannya, gumaman kesal yang kecil terdengar oleh telingaku yang sekarang.
"Atau kau mau aku tidak mengizinkanmu bertemu dengan Reneesme," ancamku.
"Tidak," kata Jacob sedikit ngeri tentang ancamanku itu.
"Bagus, lakukanlah," perintahku.
"Takut mertua Jake," ejek Emmet ketika Jacob keluar dari rumah mengendari Harleynya.
"Kau ini," nyanyi Alice.
"Aku hanya mau makan," ucapku tidak nyambung.
Aku memasuki dapur dan menyiapkan telur yang akan menjadi sarapanku, kepulan asap penggoreng tampak sangat cantik dan beberapa banyak titik minyak yang terciprat keluar hingga mengenai ubin. Aku masih belum terbiasa dengan penglihatan vampirku, penciuman serigalaku, dan pendengaran entah yang mana lebih dominan. Suara auman Harimau dan Puma yang entah datang darimana atau mungkin berasal dari tubuhku entah dimana tempatnya berteriak seperti kelaparan. Kotak telur itu masuk ke dalam tempat sampah tetapi aku masih merasa masih kurang dengan dua puluh butir telur, maka dari itu aku menambahkan sepuluh butir lagi.
"Apa kau sanggup memakan sebanyak ini Bells," kata Edward yang baru saja memasuki dapur dengan mengernyit keheranan.
"Entahlah, aku rasa tubuhku membutuhkan banyak protein baru Ed. Aku rasa ini masih belum cukup," ucapku yang seperti bernyanyi mengalun lembut dari mulutku.
"Jangan berlebihan Bells," ujar Edward.
"Kau tahu Ed, beberapa bulan bersama gerombolan serigala aku tahu bahwa ini tidak berlebihan," kataku pada Edward.
"Maksudmu?" tanya Edward heran.
"Aku cukup kasihan dengan Emily, dia harus banyak membeli persedian untuk para saudara," jawabku yang entah mengapa aku menganggap bahwa gerombolan serigala itu sebagai saudara.
"Kenapa?" tanya Edward lagi.
"Hahaha, Ed." Tawaku. "Kau harus menyediakan dua baskom untuk segerombolan serigala itu makanan."
"Lucu sekali Bells," kata Edward tersenyum dengan nyanyiannya.
"Kau mau menelannya Ed," tawarku dengan memasukinya ke mangkuk yang besar.
"Tidak, kau saja, aku ingin mengenang Bella ku yang memiliki nafsu makan yang sedikit," kata Edward jahil.
"Huh, aku tidak akan gendut karena memakan tiga puluh telur Ed. Metabolisme tubuhku akan mengolahnya dengan cepat Ed," kataku pada Edward. Kami berdua berjalan beriringan menuju ruang televisi yang dipenuhi dengan nyanyian dari Alice kepada Ej yang sangat lembut untuk menidurkan Ej atau mungkin memberinya susu formula. Aku duduk di sebelah Alice dan Edward di sebelahku.
"Ini yang kau sebut 'sarapan' Bells," kata Alice memandang jijik padaku atau tepatnya pada sarapanku ini.
"Tidak usah berlebihan Alice, ini wajar bukan karena aku tertidur selama tiga hari kelelahan dan ditambah," ucapku menggantung sambil melihat Edward, entah Edward kini telah dapat mendengar pikiranku tentang apa yang kami lakukan tadi malam.
"Oh Alice, jangan tanya berapa ronde," ucap Edward tajam. Alice terkekeh geli atas tingkah laku dari Edward, yah bisa di katakan bahwa Edward masih belum bisa membaca pikiranku.
"Sebenarnya Bella, kini aku dapat mendengarmu walaupun samar-samar," ucap Edward menjawab pikiranku.
"Kau menyebalkan, kau tahu Edward," kataku kesal mencomot telurku sambil menatap pertandingan American Football di salah satu channel televisi.
"Kau tahu, kau itu tampak manis seperti itu," ujar Edward membelai rambutku.
Ugh, itu sungguh sangat menyebalkan. Aku berharap bisa memegang Ej sekarang jika saja Alice masih dengan semangatnya menggendong putra kecilku.
...
.
.
.
.
.
Title : Setengah Vampire and ...
Disclaimer : Twilight belong to Stephenie Meyer
Rate : T semi M
Genre : Romance/Family
Warning : Merubah Canon, Typo mungkin, Don't Like Don't Read.
.
.
.
.
.
...
Suara Harley terdengar memasuki pekarangan menandakan Jacob telah datang setelah hampir satu setengah jam dia menjumpai Charlie. Bau serigala seketika menguar ketika Jacob membuka pintu rumah tersebut, bau yang sangat familier.
"Bagaimana?" tanyaku semangat.
"Semangat sekali kau Bells, dia tertawa sambil mengejek bahwa aku cucu langsung Ephraim melakukan hal konyol karena mengira bahwa dirinya akan down karena putrinya telah berubah menjadi lintah," jawab Jacob sedikit tersinggung mengingat kejadian bersama Charlie tadi.
"Jadi dia werewolf," kataku pada Jacob.
"Bisa dibilang seratus persen Bells," ucap Jacob. "Charlie menyuruhku untuk memberitahukan kepadamu bahwa kau harus mengunjunginya hari ini."
"Eh, dia tidak akan suka mencium bauku Jake."
"Dia memaksaku, kau bisa naik Harley jika kau mau," tawar Jacob.
"Jangan mesum Jake," peringat Edward.
"Oh Ed, aku tidak akan merebut istri orang. Lagi pula ini sebagai hitung-hitung membantu mertua," kata Jacob dengan sebuah suara sindiran yang tidak kentara dari mulutnya.
"Tidak, kita tidak akan memakai Harley, lebih baik memakai mobil 'sesudah'ku," kataku.
"Eh," ucap Jacob heran.
"Mobil yang tertutup di sebelah mobil yang kau pakai ke Seattle itu," ujar Edward.
"Ooh, oke. Bells, kau di suruh Charlie untuk membawa anakmu, entah mana yang akan kau bawa."
"Aku membawa Ej saja, Rose sedang senang dengan 'mainan' barunya," kataku.
"Oke kalau begitu," ucap Jacob sebelum dia kembali berbalik menuju garasi.
"Sampai nanti Ed, tidak lama kok," bisikku tertahan pada Edward.
"Aku tidak mengkhawatirkanmu, tetapi pikiran kotor dari otaknya, meskipun sekarang dia telah mendapatkan imprint tetap saja masih berpikiran kotor tentangmu," ucap Edward balas berbisik tertahan.
"Kau ini, kau sudah ku imprint tahu," kataku menggoda.
"Eh, benarkah," nyanyi Edward.
"Oh, tentu saja Ed. Semua jagat raya ini berpusat padamu dan kau yang menarikku disini," kataku.
"Jadi itu yang namanya imprint?" tanya Edward padaku.
"Tentu saja Ed, kau seharusnya tahu dari pikiran Jacob tadi," jawabku heran.
"Tidak, aku masih terganggu dengan pikirannya," kata Edward kesal.
"Maafkan aku kalau begitu karena kau harus cemburu padanya, aku akan membawa Ej ke rumah Charlie."
"Kau selalu merasa bersalah begitu," gerutu Edward.
"Eh, maaf," ucapku mengaruk kepalaku.
"Untuk apa, aku masih penasaran dengan pikiranmu itu membuatku frustasi tahu," kata Edward kesal.
"Aku malah bersyukur Ed," sindirku.
"Bells cepat, aku ingin membuat suamimu cemburu," kata Jacob yang baru saja datang membuat Edward menggeram kesal.
"Kau ini Jake, jangan begitu Ed ini hanya ke tempat Charlie," ucapku dan mengecup bibir Edward sekejap setelah itu menarik Ej dari tangan Alice.
"Sampai jumpa nanti malam," kataku kepada Edward.
"Jangan lama-lama Bells, aku ingin menggendong kembali Ej-ku," teriak Alice seperti lonceng kepadaku.
"Aku ingin menggendong kembali Ej-ku," ulang Jacob ketika aku memasuki mobilku.
"Kau tahu Jake, Ed pasti dapat mendengar pikiranmu itu dan menceritakannya kepada Alice," kataku kepada Jacob.
"Bahkan ke tempat Charlie," ucap Jacob. Dia menyetir keluar dari rerimbunan pepohonan.
"Sepertinya iya Jake, tapi semoga saja dia tidak membacanya, aku tidak mencium baunya di sekitar jalan sini," ucapku kepada Jacob.
"Kau mencium bau lebih tajam dari kami Bella," kata Jacob.
"Tentu saja karena kromosomku dua puluh enam," ucapku asal mengenai kromosom.
"Eh benarkah," seru Jacob kaget.
"Tidak tentu saja aku tidak tahu berapa kromosomku," ujarku cekikikan.
"Dasar kau ini," gerutu Jacob.
"Momma," ucap Ej meminta perhatianku.
"Ada apa Ej?" tanyaku menghadap ke ara putra kecilku yang walaupun telah menjadi hampir mirip dengan bayi berusia sembilan bulan bukan empat hari.
"Kau cemburu Ej?" tanya Jacob menggoda Ej.
Ej hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Jacob.
"Tenang saja saudara ipar, aku tidak akan merebut ibumu kok," goda Jacob lagi yang langsung dibalas dengan pelototan mata Ej seperti mengatakan jangan menggodaku lagi.
"Baik saudara ipar," ucap Jacob menggoda lagi dengan kekehannya.
Kami hanya tertawa ketika terbesit sesuatu dipikiranku.
"Jake," mulaiku. "Bagaimana hubungan kawananmu dengan kawanan Sam?" tanyaku takut-takut.
"Kami tidak dapat bergabung dengan Sam lagi, tapi aku dapat terkoneksi pada pikiran Sam jika aku mau karena dia adalah Alfa," jawab Jacob sedikit muram.
"Oooh," aku memutuskan untuk tidak membahas mengenai kawanan lagi selama perjalanan.
Orang-orang memandang penuh perhatian terhadap Ferarriku yang mempunyai kaca gelap itu hingga mobil itu berhenti di depan rumah Charlie dan aku keluar dari mobil itu membuat orang-orang agak sedikit kaget karena aku yang muncul beserta bayi di gendonganku dengan seorang pemuda berbaju gelap dengan tinggi badan sekitar dua meter. Aku berjalan mengabaikan rasa terbakar ditenggorokkanku walaupun itu sedikit, aku berusaha untuk tidak mencabik-cabik seseorang di sini. Jacob membukakan pintunya dan masuk ke dalam rumah sedangkan aku dibelakangnya mendekap Ej dipelukkanku menghitung seberapa cepatnya detak jantung kami berdua. Seorang pria berusia tujuh belas tahun menghampiri kami, Jacob terlihat bingung begitu juga aku dengan Ej yang juga bingung. Pria itu memiliki rambut ikal dengan warna yang sama persis dengan rambutku dan Charlie, di wajah pria muda itu tidak ada apapun yang aneh dan tidak ada semburat merah karena memasuki rumah orang seenaknya.
"Hai Bells, maaf membuatmu menemuiku disini," mulai orang itu dengan suara berat persis Charlie walaupun suaranya lebih riang dan ringan dari pada Charlie.
"Kau bingung, aku Charlie ayahmu," ucap pria itu lagi kepadaku.
"Eh," ucapku dan Jacob kaget. "Benarkaha kau Dad/Charlie."
"Tentu saja aku Charlie, memang inilah aku," kata pria muda dengan tinggi melebihi Charlie ku rasa karena tingginya sama dengan Jacob.
"Tapi, Charlie lebih sedikit pendek dari Jacob," ujarku untuk mengatasi ke kagetanku.
"Kau menghinaku nak, kau sendiri lebih tinggi daripada Leah," ucap pria itu.
"Kalau memang kau Charlie, kenapa wajahmu seperti orang berusia tujuh belas tahun?" tanyaku.
Pria itu terkekeh pelan. "Aku bisa merubah bentuk wajahku Bells, aku shape-shifter tahu," ucap pria itu dengan suara berat Charlie.
"Bagaimana bisa?" tanya Jacob mewakiliku.
"Shape-shifter?" tanya Charlie. "Karena ayah dan ibuku mewariskannya kepadaku," ucap Charlie.
"Bukan, merubah bentuk wajahmu?" tanya Jacob lagi. "Dan apa itu Shape-shifter?"
"Oh, aku telah terkontaminasi darah lintah ketika aku berumur lima belas tahun seribu sembilan ratusan, tetapi racun lintah itu sudah terhisap oleh Ephraim walaupun masih sisa setetes yang telah ditutup tetapi kembali bergerak ketika Edward datang ke rumah ini setiap malam sebelum kalian menikah," helanya membuatku malu. "Ini adalah salah satu bakatku sebagai Shape-shifter yang mempunyai dua bentuk begitu juga dengan ibumu Renee, kami adalah mahluk immortal dan kau juga mahluk immortal tanpa menjadi vampir Bells," ucapnya.
"Kalau begitu berapa umurmu?" tanyaku.
"Seratus delapan," jawab Charlie singkat.
Itu sangat membuatku terkejut mendengarnya begitu juga dengan Jacob. "Dan Renee?" tanyaku lagi.
"Seratus lima tahun, dia terlahir dua tahun setelahku lahir dan masuk ke kelompok Ephraim tiga tahun setelah ku. Kami tidak menyadari bahwa kami immortal hingga kami jauh dari kelompok dan berubah menjadi hewan yang berbeda dan kemudian berpencar untuk mengelilingi dunia, dia telah mendapat imprintnya di Spanyol, namun sayang imprint serigalanya mati terkena peluru disaat perang dunia ke dua, sedangkan anaknya mati karena tidak dapat menahan amarahnya yang akhirnya membuat dia terkena bom atom di Hiroshima ketika anaknya kabur dari dia, anakku dari imprintku juga demikian dia mati bersama imprintku dan menyisakan seorang anakku lagi yang berubah karena marah dan menerkam seorang kulit putih membuat kulit putih itu mati, dia sekarang menjadi beta-ku di sumatera, dia juga immortal," ucap Charlie menjelaskan.
"Imprint kalian, jadi kalian juga saling imprint?" tanyaku.
"Tidak, tapi kami saling mencintai sampai imprintnya datang ketika dia ke Florida, di sanalah aku mengerti bahwa dia telah mengimprint Phil, saat ini dia sedang mengandung adikmu. Apa kau tidak melihat kegilaan yang berlebihan dimatanya?" tanya Charlie yang langsung membuatku lemas.
"Yeah aku melihatnya," jawabku lemas.
"Lalu kenapa kau tidak berubah bentuk menjadi serigala saja?" tanya Jacob.
"Karena jika aku menjadi serigala berarti tampuk Alfa menjadi kepadaku, aku tidak menyukai itu," jawab Charlie.
"Momma," ucap Ej gelisah dipelukanku.
"Oh, maaf Ej, aku tidak mengenalkanmu pada kakekmu," kataku meminta maaf.
"Charlie, ku kira kau mau bertemu dengan salah satu cucumu, aku membawa Ej ke sini," ucapku kepada Charlie.
"Walaupun begitu Bells, jangan panggil aku dengan Charlie saja aku mau kau panggil seperti biasanya saja," gerutu Charlie yang dengan sekejap wajahnya kembali menjadi yang ku ingat terakhir kalinya. "Halo Boyman, siapa namamu?" sapanya pada Ej.
"Halo Grandpa, namaku Edward Jacob, Grandpa bisa memanggilku dengan Ej," sapa Ej dengan suara meleking membuatku kaget.
Charlie terkekeh mendengarnya. "Kau sangat mirip denganku dan ibumu, ayo kita pergi menemui saudarimu," ajak Charlie menggendong Ej.
"Bells, kau cantik dan mengerikan dengan mata merahmu itu," ujar Charlie kepadaku sebelum kami beranjak pergi ke rumah Carlisle.
"Eh, benarkah?" tanyaku tak percaya.
"Tentu saja, kau kan sudah terkontaminasi racun dari Edward," jawab Charlie.
"Maksudnya?" tanyaku lagi.
"Bella, walaupun dia berhati-hati ketika kalian berbulan madu satu bulan yang lalu, ada beberapa celah ketika dia emosi membuat racunnya berada di sekitar kulitmu dan bibirmu, racun itu akan terserap walaupun tidak akan terasa terbakar tetapi karena kau mengandung dua anak vampir dalam tubuhmu selama satu bulan ini, racun itu semakin banyak keluar ketika putramu Ej keluar dari tubuhmu membuat racun itu menyebar walaupun tidak terasa sakit," jelas Charlie.
"Anakmu itu mempunyai bakat yang sangat bagus tidak ada yang sama persis bakatnya bahkan aku," sambung Charlie lagi.
"Apa bakatmu?" tanyaku. "Dan apa bakat Ej?"
"Aku tidak tahu dan juga aku tidak tahu bakatnya Ej," jawabnya lagi.
"Oh ya sudah tidak usah dipikirkan, ayo kita berangkat," ajakku.
"Tapi sebelum itu," kata Charlie. "Bisakah kau ubah dulu penampilanmu itu, itu membuatku takut tahu," gerutu Charlie.
"Yah tentu saja, tapi bagaimana cara merubahnya?" tanyaku pada Charlie.
"Berkonsentrasi tentang wujud serigalamu atau dengan penampilan matamu yang lama," jawab Charlie tenang.
"Eh."
"Oh maaf belum ku jelaskan yah," ucap Charlie menggaruk rambutnya.
"Baiklah akan ku praktekan," kata Charlie sebelum dia berubah kembali dengan wajah tujuh belas tahunnya. "Intinya kau hanya membayangkan wajamu yang lebih muda atau matamu berwarna cokelat, karena itu akan menjadikan dirimu dalam bentuk yang berbeda."
Aku membayangkan mataku dulu yang berwarna cokelat, perlahan-lahan mataku mulai berkedut dan setelah kedutan itu tidak terasa aku membuka mataku, tidak ada yang aneh selain raut muka terkejut pada wajah Jacob dan wajah Charlie yang tenang dan berseri-seri begitu juga dengan Ej yang menatapku tersenyum dengan binar ke dewasaannya serta seringaiannya yang beracun. Aku berlari menuju cermin dan memandang ke dalam cermin itu dengan terkejut, dicermin itu seorang wanita yang memiliki tinggi badan sereatus delan puluhan senti meter yang memiliki mata cokelat, kulit yang halus, dan wajah tanpa emosi serta sedikit air mata di dekat pelupuk matanya. Sunguh sangat anggun wanita tersebut.
"Nah ayo pergi, aku tidak ingin suamimu itu datang ke rumahku dengan wajah putus asa seperti itu," ucap Charlie mengagetkanku yang masih menatap cermin.
"Ayo grandpa," kata Ej semangat.
...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
...
A/N: Bagaimana nih bagus gak yah, Thanks yang udah ngereview fic ini. Maaf banget yah atas keterlambatan apdet Ficnya.
...
Balasan Review :
Rhie: Hai, thanks telah mereview ficku, ini telah dilanjutkan kok.
Bella Swan: Iya akan saya perbaiki.
NaruHina: udah apdet nih.
Nabilaesa44: sudah saya lanjutkan nih.
Nandya: ini udah lanjut, wih, akan saya lihat dulu chapternya.
Ksatriabawangmerah: terima kasih atas reviewnya ya, bisa jadi Ej punya kekuatan penyembuhnya.
