Jendela
.
.
.
Genre : —
Chapter : Completed (part 2)
Warning : Boys Love, DLDR, Typo(s)
Rated : T
Author : VanillaLatte
Disclaimer : Saya hanya pinjam nama. All cast disini hanyalah fiksi. Ide cerita seratus persen milik saya sendiri.
Note :
Oooooookkkkaaaayyyy
Gara-gara fics spam ini saya jadi dapat banyak perhatian di PM, thanks a lot guys! Kalian emang bener-bener sahabat yang perhatian :')
Berhubung banyak permintaan, saya akan membuat cerita ini menjadi potongan-potongan one-shoot aja gitu. Gimana?
Well,
ENJOY
.
.
.
Sambil bersenandung ringan setelah menutup pintu rumahnya dan menuruni beberapa anak tangga kecil di teras, ia baru saja akan memasukkan gadget berisik itu ke dalam saku jeansnya kalau saja benda itu tidak berbunyi lagi. Ck, berapa kali sih orang itu harus mengiriminya pesan?
From : Kyuhyun Cho
Message :
Urusanku sudah selesai.
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Bagus. Cepat pulang, istirahat dan jangan main game.
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Baru saja kepikiran. Kau sudah di rumah? Kehujanan?
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Sudah, tapi mau pergi lagi. Sedikit, tapi tidak basah kuyup.
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Mau kemana? Oh. Ya sudah.
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Ke rumah Donghae.
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Tsk. Mengajar privat lagi?
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Yep.
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Perlu diantar?
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Tidak usah, sudah dekat halte.
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Ya sudah. Ngomong-ngomong, sekarang kau menduakanku dengan bocah itu?
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Tidak. Dia sudah punya pacar, dan Donghae itu lebih tua darimu, bocah.
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Syukurlah. Awas kalau kau mendua, mentiga, menempat, menlima dan seterusnya.
Kan aku sudah lulus sekolah, harusnya aku lebih tua dong.
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Posesif.
Terserah kau saja.
.
Ia tersenyum sekilas sebelum akhirnya memasukkan ponsel itu kedalam saku celananya, dan melangkah masuk ke dalam bus. Tempat kosong di bus ini adalah sebaris tempat duduk di belakang, jadi ia tak punya pilihan lain selain mengambil tempat paling pojok—persis disebelah jendela.
Setelah merasa nyaman dengan tempat duduknya, ponsel itu kembali bergetar pelan, membuat si empunya mengeluarkannya dan mengotak-atik kembali benda itu.
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Romatis, Hyung.
Janji?
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Hm. Harusnya aku yang bilang begitu.
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
'Janji?'nya atau mendua-mentiga-mentimun?
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Dua-duanya. Coba ingat-ingat kalau kau sedang bersama laptop atau psp mu itu.
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Astaga. Kenapa aku bisa lupa? Berarti kau itu—hmm, tunggu sebentar. Ke lima? Atau enam? Laptop, computer, psp, gameboy, ponsel…
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Jangan lupa mesin-mesin game center. Sudah sampai rumah?
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Oh iya… playstation ku juga belum dihitung. Belum. Eomma-ku minta dibelikan ddeok(kue beras). Tumben perhatian?
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Sudah sudah hentikan jangan menghitung lagi, awas kepalamu sakit, kau itu gila. Terserah.
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Terimakasih. Ngomong-ngomong kenapa kau tidak mengajar privat dirumahku saja?
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Zzz
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Kalau begitu selesai mengajar kerumahku?
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Untuk apa?
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Entahlah. Membantuku mengepack barang?
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Okay.
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Dijemput?
.
Sent to : Kyuhyun Cho
Message :
Tidak usah, Cho. Kau istirahat saja dirumah. Tidur.
.
From : Kyuhyun Cho
Message :
Deal. Hati-hati dijalan, bocah. Dah.
.
Rumahnya dan rumah Donghae memang tidak terlalu jauh, tapi ia lebih senang naik bus ketimbang harus naik sepeda kesana. Hitung-hitung membantu biaya pembangunan Negara, bukan begitu? Bukannya sombong, tapi ia memang salah satu murid pintar di sekolahnya. Kebetulan, Donghae adalah teman kecilnya, dan orangtua mereka sudah lama saling kenal. Makanya ia menjadi—semacam—guru privat buat bocah satu itu.
Setelah turun di halte, ia berjalan sedikit kedepan dan masuk ke daerah perumahan di sebelah kanan. Rumah Donghae ada di sebelah kanan jalan, bertingkat dua, bercat putih mutiara dan hijau tosca, memiliki teras depan yang mungil, di halamannya penuh dengan tanaman bunga dan bersebrangan dengan rumah pacarnya yang dicat biru laut, Lee Hyukjae—tidak heran prestasi belajarnya menurun.
"Yesung Hyung!"
Ia otomatis menengadah keatas, ke arah sumber suara. Disana ada Donghae yang sedang melambai-lambaikan tangannya sambil melongok keluar jendela kamarnya. Yesung tersenyum kecil sebelum akhirnya membalas lambaian tangannya. Dan melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah itu.
Jendela
A Screenplays Fanfiction
By Vanillalatte
.
.
.
Matahari sudah hampir terbenam dan Ia tak pernah menyangka kakinya bisa tiba disini pada akhirnya. Selama ini hanya Kyuhyun satu-satunya orang yang terkesan aktif dalam hubungan mereka ; main kerumahnya, menginap, membawakan makanan untuk adik dan ibunya. Sekarang, ia yang sudah berdiri didepan rumah megah keluarga Cho malah menjadi ragu. Jujur, ia sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya disini. Sama sekali. Tapi bukan berarti Kyuhyun tidak pernah mengajaknya pergi kemari. Kyuhyun selalu menawarinya untuk menginap, atau mengunjungi ibunya, tapi Yesung selalu tidak mau. Bukan karena apa-apa, tapi bukankah mereka ini tidak se-serius itu? Jadi untuk apa terlalu jauh mencampuri urusan masing-masing? Toh dari awal keduanya setuju untuk saling menjalani apa yang mereka rasa ini, tanpa meng-intervensi urusan yang lain.
Ia jadi ingat saat Kyuhyun pertama kali menginap dirumahnya. Semua itu tentu hanya akal-akalan si iblis. Ia sengaja hujan-hujanan, dan dengan baju basah kuyup mampir di rumah Yesung. Dan karena ibunya yang begitu baik hati, ia diijinkan menginap. Sekamar dengan Yesung. Yesung bahkan sama sekali tak habis pikir kenapa ia bisa terlihat begitu pasif dalam hubungan ini. Setiap kali ia bertanya, "Apa menurutmu kita terlalu serius?" Kyuhyun hanya tersenyum, memeluknya, dan berkata, "Entahlah. Kurasa tidak."
Setelah memantapkan hati dan mengambil nafas panjang, Ia mengetuk pintu rumah itu pelan, dan tak lama kemudian sesosok wanita paruh baya membuka pintu itu. Rambutnya pendek sebahu, memakai apron kuning pucat—sepertinya ia sedang memasak, wajahnya sudah memiliki beberapa keriput disana-sini, dan iris kecokelatan itu persis sekali dengan milik Kyuhyun. Senyumnya yang begitu cerah membuatnya nampak awet muda, "Ya?" wanita itu menyambutnya ramah.
Ia otomatis membungkuk, dan tersenyum, "Annyeonghaseyo, Eommeonim."
Wajah wanita itu menjadi cerah, "Oh! Kau pasti Yesung, benar?"
Ia mengangguk dan membungkuk, "Maaf mengganggu."
Wanita itu membawa Yesung masuk dan mulai bercerita dengan riang, "Kau ini bisa saja. Mengganggu darimana? Kyuhyun sudah dari tadi menunggumu."
"Ah… benarkah?" ia sama sekali tidak sempat memandang sekeliling rumah seperti yang diharapkannya karena ibu Kyuhyun ini terus-terusan menyeretnya masuk kedalam rumah dan memaksanya duduk di ruang tengah.
"Sejak pulang tadi dia sudah pesan padaku untuk memasak macam-macam. Kau pasti sangat dekat dengan Kyuhyun, bukan begitu?" nyonya Cho duduk diseberang Yesung, cukup aneh juga rasanya mengobrol seperti ini dengan ibunya-orang-yang-tidak-berpacaran-dengannya ini, tapi ia berusaha menjawabnya sebaik yang ia bisa. Ngomong-ngomong berarti bocah itu bohong, ibunya tidak minta dibelikan kue beras ternyata.
"Jadi katakan, apa Kyuhyunku sudah punya pacar?" tanyanya.
Nah.
Astaga.
Sekarang dia harus menjawab apa? Dia-sudah-sering-berciuman-denganku-kami-berpegang an-tangan-juga-di-sekolah? Ia bahkan bukan pacarnya Kyuhyun. Mungkin ibunya yang baik hati ini bisa pingsan mendengar jawabannya, jadi dia memilih menjawab aman, "Kyuhyun tidak pernah bicara soal itu," jawabnya sambil tersenyum.
Wanita itu mendesah kecewa, "Tsk. Sudah kuduga. Anak itu semakin mencurigakan saja akhir-akhir ini. Masa pemuda setampan dia belum punya pacar? Semua ibu pasti khawatir soal itu, bukan begitu Yesung? Aku jadi curiga jangan-jangan dia itu—"
Gay?
"Eomma, berhenti menginterogasi orang sebelum Kyuhyun marah." Merasa hidupnya diperpanjang seratus tahun karena suara yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka, ia menengok ke samping dan mendapati seorang gadis dengan rambut panjang sedang berjalan ke arah mereka, lalu berdiri disamping ibunya.
"Ibu tidak bertanya yang aneh-aneh kok. Iya kan?" Ujarnya. Yesung tersenyum kecil. Gadis ini pasti kakaknya Kyuhyun, Cho Ahra. Kyuhyun sering menceritakan betapa ia sangat menyayangi gadis ini. Terlihat dewasa, mandiri, tapi punya banyak aegyo.
"Oppa, Kyuhyun bilang padaku untuk langsung menyuruhmu naik ke kamarnya kalau kau sudah datang. Kamarnya di lantai dua, pintu pertama di sebelah kanan." Jelasnya singkat diiringi senyum sebelum akhirnya mengecup pipi ibunya.
"Cho Ahra! Mau kemana?" tanya ibunya saat gadis itu mulai berlari kecil ke pintu keluar.
"Aku tidak akan pulang telat! Dah!" ujarnya.
Wanita itu berdecak sebal, "Anak muda sekarang. Astaga masakanku! Aku ke dapur dulu, kau naiklah langsung, anggap saja rumah sendiri, ya." ujarnya. Yesung hanya bisa mengangguk dan tertawa kecil setelah punggung wanita itu berlalu dan menghilang menuju dapur.
Satu masalah selesai, sekarang tinggal mencari Kyuhyun.
Kyuhyunnya.
.
Mengikuti intuisi dan sedikit informasi dari Ahra tadi, sekarang ia sudah berdiri di depan sebuah pintu kayu cokelat—pintu pertama di sebelah kanan di lantai dua. Ia sudah mengetuk beberapa kali dan tetap tidak ada jawaban dari dalam, jadi ia memutuskan untuk membukanya dan melangkahkan kakinya masuk ke kamar itu.
Kamar ini cukup besar jika dibandingkan dengan kamarnya yang benar-benar biasa. Dindingnya memang hanya di diberi warna putih, tapi mungkin penataan barang dan jendela besar-besar disisi ruangan yang menghadap ke balkon itu membuat suasana kamar ini nampak mewah. Ia mulai menjelajah, memperhatikan sekeliling kamar tanpa peduli dimana pemilik kamar berada.
Di dinding hanya ada dua lukisan abstrak, dan beberapa rumus fisika yang di tulis Kyuhyun di kertas kecil warna-warni dan ditempel mengitari kamar. Tak heran manusia ini bisa ikut kelas akselerasi sampai beberapa kali dan diterima di universitas entah-apa-namanya di Jerman. Untuk tipe orang seperti Kyuhyun, kamar ini jauh diluar perkiraannya. Rapih, walaupun ada playstation yang sedikit berserakan di depan tv.
"Sudah makan?"
Ia otomatis menengok ke belakang, dan tersenyum karena baru menyadari ternyata ada kamar mandi dalam—dan pemilik kamar baru saja keluar dari sana; dengan kaus hitam tipis dan celana rumah putih, rambut basah yang sedang dikeringkan dengan handuk yang melingkar di lehernya, dan satu tangan lagi sedang merapihkan beberapa buku diatas meja dekat sofa. Terlihat cukup tampan untuk terpesona? Dari luar, iya. Dari dalam, well, mungkin hanya Yesung satu-satunya yang maklum dengan tingkah bocah itu.
Saat laki-laki itu menatapnya, ia menggeleng untuk menjawab pertanyaan yang sempat dilontarkan pemuda itu tadi. Ia lalu duduk di pinggiran kasur yang besar itu. Kyuhyun memilih duduk di sofa tak jauh dari kasurnya, merapihkan beberapa buku yang cukup kacau diatas meja persis di depan sofa itu.
Kyuhyun itu manja. Tapi cukup dewasa untuk menjadi orang yang manja.
Yesung menghampirinya, lalu berdiri di belakang sofa itu dan membantu mengeringkan rambut Kyuhyun dengan handuk dari lehernya. Kyuhyun duduk dengan tenang, dan masih menata beberapa buku serta mengarsipkan beberapa kertas di dalam sebuah map merah. "Setelah ini kita turun dan makan, oke? Aku lapar." Ujarnya.
"Hm." Ia menggumam kecil. Setelah merasa rambut itu cukup kering, ia meletakkan handuk itu di meja kecil di sudut ruangan.
"Sepertinya kau belum membereskan apapun, cho." Ujar Yesung sambil kembali melihat-lihat rumus-rumus yang ditempel memanjang mengitari kamar. Rasanya kamar ini akan jadi sepi tanpa Kyuhyun, walaupun ia tidak pernah main kesini sebelumnya.
Kyuhyun terkekeh kecil, "Memang belum." Suara tawa kecil itu yang mungkin paling akan ia rindukan. Yesung kembali duduk di kasur empuk itu, dan berbaring sebentar. Kenapa dadanya tiba-tiba terasa sesak? Ini aneh. Sebentar, ia melirik Kyuhyun yang wajah stoic nya masih sibuk merapihkan ini-itu.
Saat Kyuhyun benar-benar pergi nanti apa ia akan merindukannya? Saat ia sudah tidak bisa lagi ada disampingnya, apa Kyuhyun akan memikirkannya? Apa Kyuhyun bisa hidup nyaman di sana? Apa Kyuhyun akan punya banyak teman? Dan… apa ia akan dilupakan?
"Jangan memandangiku terus—" Kyuhyun mempause sebentar kegiatannya, melirik lawan bicaranya dan tersenyum kecil, "—nanti kau jatuh cinta padaku." Ia bahkan sama sekali tidak tahu kalau Kyuhyun memperhatikannya dari tadi.
Yesung mendengus ringan, mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamar dan menghembuskan nafas panjang. "Sudah terlanjur, bodoh." Gumamnya lirih.
Kyuhyun nampak sudah selesai dengan buku-buku dan beberapa berkasnya. Ada beberapa buku dan map yang ia masukkan ke dalam sebuah kardus cokelat besar di dekat pintu keluar balkon. Ia melihat handuk basah—yang tadi dipakai Yesung mengeringkan tambutnya—diletakkan di atas meja, lalu mengambilnya dan menatap Yesung, "Kau bukan isteri yang baik kalau begini, sayang."
Yang lebih tua memandangnya jengah, "Aku ini laki-laki, Cho."
Kyuhyun hanya tertawa sambil berlalu ke balkon. Dinding yang memisahkan balkon luar dan kamar memiliki sepasang jendela besar yang dibatasi oleh pintu cokelat—yang menuju ke balkon. Dari sini terlihat Kyuhyun yang sedang menggantungkan handuk basah itu ke gantungan handuk.
Lagi-lagi aku melihatnya dari jendela.
Sejak pertemuan awal mereka, Yesung selalu melihat wajah annoying Kyuhyun itu lewat jendela di kelasnya. Bahkan sampai mereka menjalani hubungan tanpa status seperti ini pun, melihat Kyuhyun dari jendela selalu membangkitkan ingatan tersendiri buatnya.
Sebentar, Yesung memejamkan matanya dan kembali ke masa lalu. Potongan-potongan gambar soal kenangan yang ingin ia buka terpampang jelas dalam memori yang sedang ia mainkan. Bagaimana Kyuhyun tersenyum buatnya pertama kali. Bagaimana Kyuhyun menghiburnya. Bagaimana Kyuhyun menjahilinya. Semua itu terjadi melalui jendela. Apa yang ia lihat, rasa yang pertama kali muncul untuk pemuda itu, jendela kelas itu adalah saksinya.
Tak lama kemudian terdengar suara jatuh yang lembut karena seseorang sudah menjatuhkan diri berbaring disampingnya, memandangi langit-langit kamar yang sama.
"Menurutmu keputusanku tepat? Pindah ke Jerman?" tanya Kyuhyun.
Yesung memejamkan matanya, tiba-tiba merasa lelah, "Kau hanya meraih mimpimu. Apa yang salah?"
Kyuhyun berbaring menyamping, menghadap lawan bicaranya, "Jadi menurutmu keputusanku benar?"
Ia menengok tanpa mengubah posisinya—dan sedikit terkejut mendapati wajah Kyuhyun yang begitu dekat dengannya, "Sepertinya. Aku juga tidak melihat dimana salahnya."
Sesuatu telah membungkus jari-jari tangannya, membuat rasa hangat itu dengan cepat menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tak perlu menengok kebawah untuk mendapati tangan Kyuhyun yang membalutnya, ia sudah hapal bagaimana rasa nyaman seperti ini membuatnya selalu merasa sesak.
"Kalau begitu beritahu aku…" Kyuhyun menahan nafasnya. Caramel itu terlihat begitu sepi tapi ia sendiri tak tahu kenapa. Ekspresi wajah Kyuhyun yang biasanya selalu dipenuhi kejahilan atau kata-kata pedas sekarang berganti menjadi ekspresi yang bukan dirinya. Ekspresi yang tidak pernah ia lihat selama ia bersama-sama dengan laki-laki itu.
"Kenapa aku selalu ragu untuk pergi setiap kali aku melihatmu, Hyung?" Kyuhyun otomatis menyesali ucapannya ketika ia melihat Yesung terdiam. Apakah dia salah bicara? Atau mungkin perasaannya sudah dianggap terlalu serius?
Apa tadi katanya?
Ia hanya bisa memandangi Kyuhyun dalam diam dan mengerjap beberapa kali. Jika maksudnya hanya untuk menggombal, kali ini laki-laki itu akan dimaafkan. Tapi nada bicara itu—terdengar sangat serius, sungguh. Dan apa maksudnya?
Kyuhyun tersenyum, mengerti bahwa lawan orang-yang-bukan-kekasihnya itu nampak kebingungan. Ia beringsut mendekat, mengecup pipi tembam pria itu, membawanya dalam sebuah dekapan dan memejamkan matanya. "Dasar lambat." Cibirnya.
Yesung mendengus kesal dan menyikut perut Kyuhyun pelan. Yang disikut hanya terkekeh. Masa bodoh, pikirnya. Selama Yesung ada di sampingnya, selama ia masih bisa mendekapnya, untuk apa mempertanyakan status, bukan begitu?
Ia baru saja akan tertidur saat suara ketukan pintu itu terdengar, "Cho Kyuhyun!" itu suara ibunya. Yesung buru-buru melepaskan pelukan Kyuhyun dan terduduk ngeri. Hampir saja mereka ketahuan berpelukan.
Kyuhyun berdiri dan dengan malas menyeret kakinya menuju pintu, mengganggu saja, pikirnya.
"Eomma berangkat dulu, makan malam sudah siap kau dan temanmu bisa makan nanti. Tinggal dipanaskan di microwave okay?" ujarnya wanita itu lembut. Dari sudut matanya ia bisa melihat Yesung sedang membungkuk dan memberinya salam, ia tersenyum untuk membalas salam pemuda itu.
"Jangan lupa telepon Ahra kalau sudah lewat jam Sembilan, hati-hati di rumah." Tambahnya sembari memberi dua buah minuman kaleng dingin pada Kyuhyun, memeluk puteranya dan mencium pipinya. Yesung tersenyum kecil melihatnya. Mungkin harus ia koreksi lagi kalau bukan ia yang akan menjadi orang yang paling merindukan Kyuhyun nanti, tapi ibunya.
Setelah Ibunya pergi, Kyuhyun segera menutup pintu dan mendapati Yesung yang mulai menyalakan playstation miliknya sambil duduk di lantai. Kyuhyun mengambil tempat di samping pemuda itu dan meraih stick yang satunya lagi. Ia memberikan salah satu minuman kaleng itu pada Yesung.
"Ibumu pergi kemana?" tanyanya sambil berusaha membuka minuman kaleng itu.
Kyuhyun tersenyum—entah untuk yang keberapa kalinya, dan meraih minuman itu membukanya, dan memberikannya pada Yesung. "Ke Jeju. Orangtuaku diundang ke acara perusahaan."
Ia mengangguk mengerti. Setelah menggumamkan terimakasih, meneguk sedikit minuman itu dan meletakkannya kembali.
"Woah. Memangnya kau bisa main Winning Eleven, Hyung?" ejeknya saat mendapati game sepak bola itu terpampang di layar tv. Yesung mempout dan—sebenarnya, tujuan awalnya bertingkah seperti itu hanya untuk menunjukkan rasa kesalnya, tapi pemuda itu dengan cepat mengecup bibirnya dan dengan innocent nya mengembalikan fokusnya ke televisi, mengabaikan orang yang sedang merona hebat disampingnya.
"Ngomong-ngomong, hari ini kau menginap kan, Hyung?"
Yang lebih tua melotot heboh, "Tentu saja tidak, kau ini. Setelah Ahra pulang aku juga akan pulang."
Kyuhyun terkekeh, "Woo… romantis sekali. Ingin menemaniku?"
"Tidak."
"Sekedar informasi, Ahra noona tidak akan pulang sampai besok—setidaknya sampai sesaat sebelum orang tuaku pulang."
"Hah?"
Kyuhyun mengerling nakal, "Kau kira hanya aku yang iblis dirumah ini? Ahra itu kakaknya iblis, asal kau tahu saja. Dia sudah jauh-jauh hari menyogokku supaya aku tutup mulut."
Oh… sepertinya ia sudah salah pilihan berteman dengan keluarga iblis. Jadi itu artinya Ahra tidak akan pulang dan keluyuran entah kemana sampai orangtua Kyuhyun pulang? Dan Kyuhyun akan tutup mulut karena sudah disogok? Wow. Hebat.
Yesung masih melongo. Kyuhyun sepertinya benar-benar tidak tahan punya lawan bicara seperti ini. Ia merangkul Yesung dan memitingnya, "Kau mau menginap atau tidak?"
"Yah Cho Kyuhyun!"
"Menginap atau tidak?!"
"Tidaaaak."
Mereka berdua tertawa lama sekali, sampai akhirnya Kyuhyun melepaskan Yesung dan keduanya berusaha menyelaraskan nafas mereka masing-masing. Kyuhyun mendekatkan wajahnya, dan mengecup lembut bibir orang kesayangannya itu. Detik berikutnya berbubah menjadi lumatan-lumatan halus yang terlihat polos. Dan setelah lama berselang, Kyuhyun menjadi orang pertama yang melepaskan pagutannya.
Kali ini, ketika ciuman itu terlepas keduanya tampak sangat salah tingkah—seperti yang barusan itu adalah ciuman pertama mereka. Yesung mengalihkan pandangannya ke arah lain, seperti gadis muda yang mendapat ciuman pertama. Dan Kyuhyun, yang seratus persen sama sekali tidak kelihatan polos itu juga mengalihkan pandangan dan menggarung tengkuknya yang tidak gatal.
Yesung menatap wajah itu, lama… entah kenapa perasaannnya jadi seperti ini setiap kali melihat Kyuhyun. Sudah sejak beberapa hari ini, atau lebih tepatnya saat Kyuhyun memberi tahunya soal kepindahannya ke Jerman. Bagaimana kalau ia benar-benar akan merindukannya?
Kyuhyun meneguk sedikit minumannya, dengan suara yang sedikit gugup atau— mungkin—dibuat-buat gugup itu berkata, "Kalau begitu kita taruhan."
"Apa?" tanyanya singkat.
Caramel itu bersinar lembut, "Kita bertanding game. Kalau kau yang menang, Hyung, kau boleh pulang. Tapi kalau aku yang menang, kau harus menginap dan tidur di kamarku. Bagaimana?"
Merasa ini cukup adil, tanpa pikir panjang ia menjawab, "Oke. Aku setuju."
Oh, Yesung.
Kau lupa Kyuhyun sering disebut Gaemkyu?
.
.
.
END
Balasan Review pt.1
Love Clouds : makasih banyak :) saya memang bener-bener sempet down waktu itu… ini sudah dilanjut, terimakasih banyak sudah review~
Sayangsemuamembersuju : makasih banyak! :3 ini update-annya buat kamuu hehe
Gaemcloud : sudaaah dilanjutt cintakuu~ terimakasih banyak sudah review~
Yesunghyunggue90 : putus asa nya ya gitu deh, sulit dijabarkan(?) selamat menikmatiii~
Aku suka ff : terimakasih banyak sudah review~
Guest : terimakasih banyak sudah review~
Biya-kyuke : terimakasih banyak sudah review~ hehe, makasih ya pujiannya :)
Srelf567 : hehehe, iya, ditunggu aja ya :) terimakasih~
Szaszaharnis : ini sudah dilanjut, hehe okay, ditunggu ya cinta, terimakasih banyak sudah review~
ermagyu : iya kyusung emang dasar-_- hehe terimakasih banyak sudah review~
KrystalCloudsJaejoongie : maaf waktu itu salah hehe, okesip ditunggu ya, terimakasih banyak sudah review~
Nin nina : donghae kan emang polos kaya authornya sayang :3 ini sudah dilanjut, terimakasih banyak sudah review~
24 : terimakasih banyak! :3 sabar menunggu yaa hehe~
Adette : whassup yo~ saranghae saranghae saranghae
Guest :iya, iya sayang ini sudah dilanjutt, hehe terimakasih banyak sudah review~
Merry : makasih sayang! Anak kecil yang usil?._. ini sudah dilanjut hehe, terimakasih banyak sudah review~
Yesungismine : Yeeaaah I'm back babe hehehehe, maaf ya buat kamu nunggu, but im really not in the mood for updating that one yet, sorry :( this update was specially made for you! Bisakah kamu buat acc saja di FFn? Supaya saya bisa berterimakasih ke kamuu :3
Won : Cuma satu kata juga, Terimakasih!
Veeclouds : wah asik dong ya semanis madu asli hehehe makasih banyak! Ini kan sudah di update~
Tinker : heyooo girl~ hehe, jangan kaget-kaget sayang, sayangi jantungmu :3 makasih banyak ya~ kenapa Hae jadi uke? Hmmm… saya, memang lebih suka Hae jadi uke… hehehe terimakasih banyak sudah review~
Idda Kyusung : lagi sibuk sayaang, lagi unmood juga hehehe selamat menikmati yang ini yaa~
Chelsea wilkin : makasih banyak! Ini sudah di update yaa~
Tety sinaga : ati-ati diabetes._. hehehe terimakasih banyak sudah review~
Nakazawa Ryu : ati-ati jatoh._. ini sudah ya sudah ya sudah yaaaa hehehe makasih!
Cloudhy3424 : makasih banyak yaaaaaaa :) selamat menikmati update-annya~
Cloudyeye : itu… soalnya harus begitu supaya ceritanya nyambung hehe :3 lirikan matamu menarik hati ee aa ini sudah dilanjut ya sayangg, makasih banyak dukungannyaa!
: makasiiih banyaak! Ini sudah di update~
Hera3424 : hai sayaang :) makasih banyaak ya dukungannyaa hihi emotnya lucu 0.09
Cha2lovekorean : emang, dasar KyuSung xD makasih banyak ya sayangkuuu~ kamu bisa langsung PM saya kok /kedip kedip/
Cheftyclouds : iya kasian ya hehe makasiiih banyak!
TrinCloudSparkyu : Makasih banyaaaaaaaaak sayang! :3
Dewi CloudSparkyu : iya gimana :( hehehe makasih banyak!
Cloudy clouds : waduh jangan jauh-jauh melayangnya ntar kamu ilang sayaang hehehe iyaa, ini sudah dilanjut yaa~
Cloud3024 : setuju! Friendship are last and relationship are start to fucked up things, right? Hehehe makasiih yaaaaa
.
.
.
Dari Author :
Kyuhyun, you really are a pervert.
Awalnya saya mau buat Kyuhyun jadi gentle disini, tapi yah, jadinya malah keliatan pervertnya-_-
Well, saya mau bilang apa?
TERIMAKASIH BANYAK BANYAK BANYAK
Untuk kalian semua yang sudah review, saran, kritik, saya bener-bener nggatau gimana jadinya hidup ini tanpa kalian! Terimakasih! /sobs
Terutama saya ucapkan terimakasih banyak ; Buat kalian semua yang sudah PM saya, menanyakan kabar saya, mendukung saya, dan beberapa orang juga serius mau jadi temen curhat saya, banyak-banyak-banyak terimakasih saya ucapkan! /cipokin satusatu/
Hmmm… kalau fict ini di restui dan di dukung terus, saya akan post part tiga-nya, tapi, hanya kalau tanggapannya baik.
Oh iya, sekalian mau ngasih tahu.
Seperti yang sudah saya kasih tahu di awal, fic ini sebenarnya hanya spam, tapi karena cinta kalian, fict ini bisa jadi cerita yang—semoga—bermutu.
Fict ini sebenernya sudah "selesai" di setiap Chap, kalau ada waktu, saya akan tambahkan terus cerita soal kehidupan mereka. Jadi konsepnya adalah : Fict yang di update kalo lagi kosong ea ea ea ea :))
Makasih banyak! *bow*
Untuk kelanjutan fanfict-fanfict saya yang lainnya, saya minta maaf untuk mengulur waktu, tapi saya sedang tidak dalam mood dan kondisi yang fit/? Dan bagus untuk posting chap selanjutnya, jadi toloooong dukungannya ya~
See ya!
Warm hug,
Vanillalatte
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
