Disclaimer
Vocaloid belongs to Yamaha corp
Complicated
Chapter 2
Aku sudah siap membentak Len, ketika tiba-tiba anak itu menghentikan nyanyiannya. Aku terdiam, menunggu aksi berikutnya.
"Gomen," ujar Len, mendadak muram. "Ano.. Aku tidak bisa, sensei."
Meiko sensei mengerutkan kening, namun dengan seketika, wajahnya cerah kembali, "tidak masalah, Watson. Intro yang bagus. Gugup karena pertama kalinya bukan masalah kok. Nanti ada kelas kepercayaan diri, maka ikuti baik-baik!"
Anak aneh itu−Len hanya mengangguk, lalu melangkah ke tempatnya. Aku memandangnya heran. Tiba-tiba, rasa kesal karena Len mengklaim laguku buatannya menghilang. Tergantikan oleh pertanyaan. Apakah anak itu baru sadar kalau itu bukan lagu ciptaannya? Lagipula, kalau memang ia baru sadar, lagu buatan murid tidak disebarluaskan sebelum murid itu konser. Jadi, tahu dari mana? Aku berniat bertanya nanti.
Saat aku memikirkan pertanyaan macam apa yang akan kulontarkan (ya, aku tak pandai merangkai kata secara spontan saat berbicara dengan orang baru), Miku menarik ujung bajuku. Kebiasaannya saat ada hal yang sangat ingin ia sampaikan padaku. Aku menengok cepat. Aku mengerutkan kening. Ekspresi Miku benar-benar...aneh! Aku belum pernah melihat ekspresi Miku seperti ini. Wajahnya memerah, namun tersenyum-senyum sendiri.
"Miku kenapa? Kamu demam?" Aku menempelkan tangan di kening Miku. Tidak demam.
"Rin... Kamu lihat Len tadi?" Bisiknya nyaris tak terdengar. Aku mengangguk saja demi membuat Miku senang.
"Sangat imut!" Pekiknya tertahan.
Aku memang melihat Len tadi. Aku tidak tahu, ini karena sebal atau tidak, tapi aku tidak suka cara dia bernyanyi.
"Ah, Miku. Ini pertama kalinya kamu memuji tampang orang yang sedang bernyanyi. Sebagus apa sih tampang Len saat nyanyi tadi...?" Aku memandang Miku dengan terkekeh.
"Hah, apaan? Dia imut bukan saat nyanyi! Kan sudah kubilang, semua orang saat bernyanyi bagiku tidak jujur tampangnya. Dia sangat imut saat tiba-tiba diam tadi. Langsung muram gitu! Imut banget..!" Jawab Miku yang sukses membuatku melongo. Miku yang aneh. Aku hanya mengangguk kecil seakan akan mengatakan iya-aja-supaya-senang.
"Jadi, kamu suka Len?" Tanyaku dengan cepat menyimpulkan.
Wajah Miku langsung memerah. "Rin...! Ssshhh... Jangan bilang siapa-siapa, ya!"
"Cuma karena itu?" Tanyaku lagi.
"Iya. Sepertinya... Ini cinta pandangan pertama.." Mata Miku berbinar-binar. Aku hanya bisa diam. Miku pernah beberapa kali berpacaran, tapi sebelum pacaran, Miku sudah tahu betul cowok seperti apa yang dia pacari. Dan ekspresi muram Len Watson telah membuat Miku tidak memikirkan terlebih dahulu seperti apa cowok itu! Apa sih keimutan cowok itu saat lagi muram? Selera Miku mulai aneh.
"Ya, anak-anak. Pelajaran vokal untuk hari ini, sepertinya cukup. Sampai berjumpa besok!" Suara Meiko sensei membuyarkan pikiranku.
Waktu istirahat. Di VMA, hanya ada dua pelajaran setiap harinya. Sisanya, hal-hal seperti latihan vokal dan alat musik didampingi guru. Ya, semacam itu.
"Rin, kutunggu di kelas berikutnya ya." Ujar Miku seraya bangkit dari duduknya. Aku mengangguk. Aku hendak ke kantin. Miku tak ke kantin, dia lebih menikmati duduk di kursi sambil menulis lirik lagu terbaru untuk album berikutnya. Yaah... Miku kan sudah profesional.
Aku ikut bangkit dari kursi dan bergegas ke kantin sebelum jajanan habis. Biarpun muridnya sedikit, anak VMA kalau jajan nggak kira-kira!
Untungnya, aku mendapatkan yang kumau. Hari ini, entah kenapa kantin tak seramai biasanya. Kenapa ya? Ah bodo amat. Karena hal yang sangat ingin kubeli sudah kudapat. Jus jeruk! Ya, jeruk adalah buah favoritku.
Setelah mendapat jus jeruk langsung dari buah jeruk yang segar, aku meninggalkan kantin berangkat menuju kelas berikutnya. Hm... Pelajaran kreativitas. Maksudnya, di kelas itu kita diajarkan kreatif untuk membuat lirik lagu dan semacamnya. Gurunya Shion sensei. Entah kenapa, aku jadi malas cepat-cepat ke kelas setelah mengingat kalau gurunya Shion sensei.
Kenapa ya? Aku tak tahu. Tapi akhir-akhir ini ada yang membuatku tak betah ada di kelas Shion sensei. Orang itu sering melihatku dengan tatapan aneh yang aku tak mengerti!
Karena malas bertemu Shion sensei, aku memutuskan berjalan menuju kelas lewat rute yang jauh. Yaitu, ke belakang sekolah, lalu masuk lagi di pintu ujung. Kalau masuk ke pintu yang ada di bagian belakang, akan ada lorong yang menyambung ke kelas-kelas. Dan kelas kreativitas posisinya agak depan. Jadi semakin tidak cepat ke kelas deh.
Akhirnya aku berjalan santai menuju belakang sekolah sambil sesekali menyeruput jus jeruk favoritku.
Saat sudah hampir sampai ujung, aku melihat ada seseorang sedang berdiri membelakangiku menghadap ke laut. Oh ya, aku lupa bilang. Di belakang sekolah memang ada taman yang menghadap ke laut. Walaupun jarak laut cukup jauh, tapi masih bisa terlihat lautnya.
Aku mendekati orang itu. Ah, itu murid. Bisa dilihat dari seragam VMA. Aku maju selangkah lagi dan aku sadar itu Len Watson! Dari rambut pirangnya yang mirip betul dengan rambutku membuatku yakin itu dia.
Tiba-tiba, aku tersadar hal-hal yang ingin kutanyakan tentang lagu yang ia nyanyikan tadi.
"Len!" Panggilku. Namun tak ada jawaban. Aku maju beberapa langkah lagi. Namun, saat sudah lebih kedepan, aku terperangah dengan pemandangan yang kulihat. Tak kusangka! Pemandangan laut dari belakang sekolah sangat indah!
"Wah. Indah sekali! Aku baru sadar ada tempat seindah ini di VMA!" Gumamku spontan.
Ternyata perkataanku membuat Len menengok. "Aku juga baru sadar ada tempat seindah ini" komentar Len yang sukses membuatku terlonjak kaget karena sangat tiba-tiba.
"Uh, Len! Yang tadi kau nyanyikan bukan lagu buatanmu, kan!?" Tanyaku langsung. Len terkesiap.
"'Kau tahu dari mana?" Len balik bertanya, namun tanggapannya itu terlalu santai untuk seseorang yang tertangkap basah!
"Te-tentu saja! Itu kan laguku!" Jawabku berharap anak itu memohon maaf padaku.
Namun, jawaban Len membuat harapanku pupus.
"Oh, lagumu. Dari awal aku sih sudah tau itu lagu anak VMA. Aku menemukan berkas lagu itu saat pendaftaran di ruang guru. Karena berkas lagumu sudah berdebu seperti terlupakan, aku mencuri berkas itu dan aku coba saja mengklaim itu laguku. Siapa tahu sudah pada lupa." Jelasnya enteng. Tak ada perasaan bersalah.
"Mana bisa begitu! Masa cuma gara-gara itu?" Tanyaku tak percaya.
"Yah, sebenarnya, aku tertarik mengambil berkas lagu itu karena sesuatu." Akhirnya ia berkata.
"Lalu, karena apa?"
"Memangnya perlu kuberi tahu, hah?" Len menatapku malas yang benar-benar membuatku kesal!
"Tentu! Itu kan laguku! Ada hak ciptanya disitu, Len Watson!" Bentakku. Aku tak dapat menahan emosi kesal dengan anak cuek tak berperasaan ini.
"Hhh..." Len menghela napas, namun tak menjawab. Hingga akhirnya, hp ku berbunyi.
Telepon. Dari Miku.
Aku mengangkatnya, "halo, Miku."
"Rin! Datang ke kelas, cepat! Aku mau cerita!" Pinta Miku dari seberang. Aku mengiyakan, lalu menutup telepon.
"Ugh, aku harus ke kelas. Pokoknya, setelah pelajaran selesai, aku ingin kau beri tahu alasannya, ya! Kalau tidak, kulaporkan pada guru! Oke, Len?" Pintaku. Len tak lekas menjawab, anak itu malah bersender di pohon. Aku merengut, namun daripada membuang waktu menunggu Len menjawab, aku memutuskan berjalan ke kelas. Masuk lewat pintu belakang sekolah.
Selagi berjalan di lorong, aku mendengar suara bel. Aku menengok ke belakang. Karena belum jauh, aku penasaran, apakah Len juga ikut berjalan ke kelas? Namun, tak ada yang masuk dari pintu belakang. Jadi, kuputuskan mempercepat langkahku menuju kelas.
Sesampainya di kelas, aku disambut dengan lambaian tangan Miku. Ia mengisyaratkan untuk cepat-cepat menghampirinya. Jadi, kuhampiri saja.
"Ada apa, Miku?" Tanyaku sambil menarik kursi, lalu duduk.
"Eh, kamu ingat SMS dari Kaito yang minta balikan denganku?" Miku bertanya cepat.
Ya, Miku pernah berpacaran dengan Shion sensei. Mereka sudah putus, tapi 3 hari yang lalu, Shion sensei meminta Miku kembali menjadi kekasihnya. Miku mengatakan kalau jawabannya akan dipikir-pikir selama 3 hari (dasar cewek!).
"Ya, memang kamu terima?" Aku menjawab sekaligus bertanya lagi.
"Tidak. Aku mengatakan kalau aku sudah suka dengan orang lain. Kau tahulah..." Jawab Miku.
Aku memutar bola mataku mengetahui maksud Miku. Len.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Miku.
"Tidak tau, ya. Tunggu saja reaksinya nanti!" jawabku
Tiba-tiba, Shion sensei sudah datang ke kelas. Panjang umur, baru diomongin.
"Selamat pagi menjelang siang, anak-anak! Silahkan kerjakan halaman 30." Perintah Shion sensei. Ia memang begitu. Langsung menyuruh murid mengerjakan soal adalah ke-khas-annya. Menyebalkan, memang.
Lalu, sesuatu terjadi. Shion sensei menatapku dengan pandangan itu lagi! Aku benar-benar risih dibuatnya. Aku mencoba memalingkan muka, lalu melihat ke depan lagi. Shion sensei sudah beralih ke layar hp nya dan mengetik.
Tiba-tiba, Miku menyadarkanku. "Rin, aku baru dapat balasan dari Kaito, nih!"
Aku terkejut, karena timingnya pas sekali. Saat Miku menerima balasan, Shion sensei sudah selesai dengan hp nya. Apa tadi Shion sensei mengirim sms ke Miku? Baru saja tadi?
"Apa balasannya?" Tanyaku.
"Biar kubacakan, 'Tidak apa-apa. Aku juga sudah menemukan orang lain yang kusuka.' Ah, aku penasaran. Siapa orang yang disukai Kaito!" Jawab Miku.
Aku menatap ke meja guru. Shion sensei langsung menatapku lagi. Lalu ke Miku.
Firasatku buruk.
Mendadak, aku penasaran, siapa yang disukai Shion sensei.
...To be continued...
A/N: Minna! Akhirnya chapter 2 diterbitkan lebih cepat dari jadwal! Haha. Author ada kesempatan, jadinya langsung dimanfaatkan untuk bikin fanfic ini deh. Karena dibikin dengan terburu2, author sadar, chapter ini buruk dan abal. Dan juga author tak berkesempatan membalas review (reviewnya juga dikit, kan).Maafkan author. Chapter 3 akan author usahakan terbit tidak lama setelah yang kedua. Tapi author berharap review dari pembaca... Karena review sangat membantu author untuk meningkatkan kualitas cerita, dan tentunya nyemangati author. Oke, please REVIEW after READ. Thx :D
