Disclaimer
Vocaloid belongs to Yamaha corp
Complicated
Chapter 3
Selama pelajaran kretivitas berlangsung, aku tak dapat berkonsentrasi mengerjakan soal. Bahkan, aku belum sempat mengerjakannya sama sekali. Ugh. Semua hal tentang Shion sensei mendadak membuatku muak.
Untungnya, aku dipanggil oleh Meiko sensei yang kepalanya sudah menyembul dari balik pintu. "Ada Kagamine?"
"Ya, kenapa sensei?" balasku cepat.
"Ng, aku ingin bicara. Kaito, tidak masalah, kan kalau aku meminjam muridmu sebentar?" tanya Meiko sensei. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Shion sensei. Aku tak yakin mengapa, tapi aku ingin melihat reaksi orang itu.
Tanpa ragu, Shion sensei mempersilahkan. "Silahkan saja."
Meiko sensei mengangguk, lalu melangkah ke arah tempatku duduk. Dengan cepat, Meiko sensei menarikku keluar kelas.
"Sensei! Apa yang kau lakukan?" tanyaku setelah berada di luar kelas. Meiko sensei tetap menarikku. Setelah sudah cukup jauh dari kelas, Meiko sensei melepaskan tangannya dari tanganku.
"Kagamine, kau lihat Kaito tadi, tidak? Keren banget ya? Aaaah~" Meiko sensei nyaris berteriak ala fangirling. Aku mengerutkan kening bingung.
"Sensei menyukai Shion sensei...?" tanyaku hati-hati.
"Ah, lupakan yang tadi. Ayo kita ke ruang guru" kata Meiko sensei dengan wajah yang seketika berubah serius. Aku melongo menyadari perubahan sikap Meiko sensei yang begitu cepat. Namun, aku tak peduli dengan hal itu setelah barusan mendengar ajakan Meiko sensei ke ruang guru.
"Untuk apa ke ruang guru?" tanyaku.
"Tentang Watson tadi. Itu lagumu, kan? Aku baru sadar setelah keluar kelas." Jawab Meiko sensei. Ah, akhirnya ada yang ingat!
Kami berjalan dalam diam menuju ruang guru. Hingga akhirnya sampai.
"Duduklah dulu disitu" perintah Meiko sensei menunjuk sebuah kursi yang disebelahnya sudah ada yang menempati.
Aku mendekati kursi itu dan menyadari siapa yang duduk disana. Len. Siapa lagi. Pelaku utama kasus pengklaiman lagu yang bukan miliknya (loh, kok jadi kayak berita gini, ya?).
Aku duduk di kursi sebelah Len itu dan tersenyum penuh kemenangan menatap Len. "Bagaimana rasanya ketahuan?"
Len tetap menatap lurus ke depan. "Biasa saja."
Jawaban macam apa, itu? Tidak merasa bersalah sama sekali! Padahal sudah melakukan kejahatan. Ini baru sekolah, bagaimana kalau dia juga lakukan di masyarakat luar sana? Bukannya aku peduli dengan sikap Len, aku hanya kasihan pada calon korban Len mengingat sikapnya begini.
Tak lama kemudian, Meiko sensei sudah datang kembali tanpa membawa apa-apa. "Kagamine, aku tak menemukan berkas lagumu. Kamu bawa pulang, ya?" tanya Meiko sensei.
"Itu..." aku hendak menjawab, namun sudah terpotong oleh jawaban Len.
"Aku yang mengambilnya saat mendaftar kesini. Sudah jelas aku mencuri lagunya, berkasnya ya pasti kucuri." Jawab Len santai dan...tidak sopan! Aku dan Meiko sensei sudah menatapnya dengan pandangan tak percaya.
"Apa sih maumu?" bentakku. Tak tahan dengan sikapnya yang benar-benar...menyebalkan! "Memangnya apa sih alasanmu sampai mengambil karya orang?"
Meiko sensei memegang lenganku sambil bergumam-gumam tak jelas. Beberapa detik kemudian, aku baru sadar gumaman itu berarti, "sabar Rin, biar aku yang urus"
"Sensei, ini tidak betul. Dia anak baru dan bertindak semena-mena. Benar-benar menyebalkan. Apalagi yang terlibat itu aku! Dan aku tak semudah itu melepaskan penjahat!" jawabku pada Meiko sensei namun lebih menatap tajam ke arah Len.
Len tak berkata apa-apa. Matanya masih menghadap lurus ke depan. Seakan-akan tak peduli sama sekali apa yang kukatakan. Mungkin yang barusan aku berlebihan, tapi saat itu aku baru sadar kalau Len mengesalkan.
"Apa perlu kujelaskan sekarang?" tanya Len tiba-tiba. Aku tersentak. Akhirnya dia sadar. Sikap berlebihanku tak sia-sia.
"I-iya! Sekarang saja!" perintahku. Namun entah kenapa, aku berdebar menunggu jawaban Len. Ih, kenapa sih aku ini? Selalu aneh di hadapan Len.
Saat Len hendak membuka mulut, suara pintu ruang guru terbuka. Muncullah Shion sensei. Hah? Untuk apa dia kesini?
"Maaf Meiko, boleh kuambil muridku kembali? Pelajaran tinggal 30 menit lagi. Sepertinya persidangan lebih baik ditutup dan dilanjutkan setelah pelajaranku selesai. Bagaimanapun, aku ingin muridku lulus dengan nilai yang memuaskan. Dan caranya adalah murid tersebut mengikuti pelajaranku. Bagaimana?" ujar Shion sensei langsung.
"Uh, aku pulang setelah ini, Kaito. Jadi... Ah, tapi tidak apa-apa! Toh, bisa dilanjutkan besok, kan?" Meiko sensei cengar-cengir sendiri. Jelas terlihat kalau Meiko sensei berkata begitu supaya Shion sensei senang padanya. Apakah kalau sedang jatuh cinta seperti itu? Mengubah keputusan sendiri supaya yang tercinta bisa melakukan yang dikehendaki. Kalau aku suka orang, aku tak mau diberdayakan oleh hal semacam itu.
"Kagamine, Watson. Ayo." Perintah Shion sensei. Len dan aku bangkit dari kursi dan berjalan mengekor Shion sensei meninggalkan ruang guru..
"Aku sudah dengar kasusnya. Bagaimana perasaanmu, Kagamine?" tanya Shion sensei tiba-tiba saat kami dalam perjalanan menuju kelas.
"Ummm... tidak tahu" jawabku sambil memalingkan wajahku dari mata Shion sensei. Aku juga menjawab asal saja supaya tak menarik Len dan Shion sensei. Lagipula, pertanyaan itu akan membuat Len tersinggung. Aku malas membuat masalah lagi dengan Len.
"Ahaha. Kau ini orangnya pemalu, ya Kagamine. Menarik." Komentar Shion sensei yang langsung membuatku menatap ke arahnya. Apa maksud kalimat tadi? Untungnya kelas sudah dekat, jadi aku langsung bisa melepaskan diri dari Shion sensei dan Len.
Setelah sampai di depan kelas, aku menyerobot masuk tak peduli walaupn agak takut dengan Shion sensei. Aku berjalan cepat ke kursiku.
"Halaman berapa?" tanyaku pada Miku yang sedang menekuni tugasnya.
"Apaan?" Miku balik bertanya.
"Tugasnya halaman berapa?" aku memperjelas pertanyaanku. Kalau tugasnya tak cepat selesai, bisa-bisa aku terkurung di kelas bersama Shion sensei dan mungkin Len.
"30. Kenapa sih?" Miku menatapku heran. Namun, aku sibuk mencari halaman dan mulai mengerjakan seperti orang kesurupan.
Saat hendak mengambil penghapus, aku melihat Len yang mulai membuka-buka buku. Anak itu terlihat tenang dan selalu membuatku heran. Apa sih yang ada di kepalanya? 2 menit kepalaku bertanya-tanya soal Len hingga aku lupa mengerjakan tugas. Saat aku sadar, langsung kukerjakan dengan cepat tugas itu dan akhirnya aku menyelesaikannya tepat sebelum bel berdering.
"Bagi yang belum selesai, tidak boleh pulang. Yang sudah, silahkan kumpulkan kedepan." Perintah Shion sensei. Miku bangkit dari tempatnya dan aku sadar aku takut melihat Shion sensei.
"Miku!" panggilku sebelum Miku mulai menjauh.
"Apa?"
"Nitip!" pintaku. Miku meraih bukuku dan membawanya kedepan untuk dikumpulkan.
Tak kusangka, Len juga sudah selesai. Sepertinya dia mahir dalam kretivitas membuat lagu. Karena tugas tadi mengukur sejauh mana kretivitas kita dalam membuat lagu. Dan itu tidak mudah. Kalau bisa mengerjakan secepat itu, dia pasti bisa membuat lagu sendiri. Kalau mahir, untuk apa mencuri karya orang? Ah, aku tak sabar bertanya.
Sekembalinya Miku dari depan, Miku bertanya, "Rin, kamu ada acara setelah ini?"
Aku mengingat-ingat kembali jadwalku. Hari Senin tidak ada jadwal latihan. Ya, aku menghindarinya karena benci Senin. "Tidak. Kenapa?"
"Untunglah. Aku ada jadwal rekaman 30 menit lagi. Tapi sebelumnya, aku mau ngobrol gitu sama Len. Temenin ya?" pinta Miku. Aku melongo sesaat. Miku benar-benar tertarik pada Len? Aku bingung (karena Miku suka hanya dari melihat tampang Len yang suram), namun aku mengiyakan saja. Dia sahabatku dan saat Miku rekaman, aku bisa bertanya beberapa hal pada Len. Hal yng dari tadi membuatku penasaran.
Akhirnya, Miku meminta Len mengobrol di taman belakang. Aku mengikuti mereka. Lucu juga sih kalau dilihat dari belakang. Miku lebih tinggi daripada Len. Karena aku terbiasa melihat Miku jalan dengan cowok tinggi, sekarang terlihat unik melihat Miku menyukai orang yang lebih muda 2 tahun darinya.
Di taman, Miku dan Len duduk di bangku taman yang menghadap ke laut. Sementara aku memandang dari jauh sambil bersender di dinding. Daripada bertanya, Miku lebih banyak bicara, tapi lebih ke bercerita. Dia gadis yang semangat. Len sendiri hanya menatap lurus ke depan dan menggumam-gumam saja kalau ditanya Miku. Apakah sikap cuek Len yang disukai Miku? Saat anak itu terlihat cuek, suram, itulah yang membuat wajah Miku memerah gemas.
30 menit berlalu. Miku bangkit dari bangku taman, dan menghampiriku.
"Pasif banget. Cuek. Tapi imut!" komentar Miku. Wajahnya memerah gemas. Benar saja dugaanku. Itulah hal yang disukai Miku.
"Ahahaha. Biasanya kan kamu suka cowok yang care. Dia tidak care sama sekali lho!" godaku.
"Tidak tahu ya, tapi sepertinya hatiku sedang mencoba yang baru. Hahaha." Balas Miku diiringi tawa. Tapi aku dapat mengerti, Miku benar-benar suka Len.
"Rin, aku duluan ya! Mau rekaman di VME. Dianterin Luka, lho! Bye!" Miku pun berlalu dari hadapanku. VME itu Vocaloid Music Entertainment. Ya maklumlah, Miku sudah booming namanya di dunia musik. Jadi dia sering diajak rekaman. Luka sendiri adalah senpai kebanggaan Miku. Alumni VMA. Luka sendiri juga bangga pada Miku sejak debutnya. Dan kalau tidak salah, untuk rekaman kali ini, mereka diminta duet. Aku tak sabar melihat penampilan mereka.
Namun, daripada itu, sekarang aku harus bertanya pada Len Watson tentang beberapa hal. Aku menghampirinya. Saat sudah dekat dengan bangku taman, Len malah bangkit.
"Eh eh! Tunggu dulu! Mau kemana kamu?" tanyaku cepat.
"Pulang." Jawabnya singkat padat dan jelas. Tapi tetap saja, aku mau bertanya!
"Tunggu dulu. Sebelum pulang, jawab aku dulu!" pintaku. Len memutar bola matanya.
"Tadi aku melihatmu sepertinya mengerjakan tugas dengan lancar. Aku yakin kamu bisa membuat lagumu sendiri. Jadi, apa alasanmu mengklaim laguku sebagai lagumu?" tanyaku akhirnya.
"Kau sangat membutuhkan alasanku?" Len balik bertanya.
"K-kan sudah kubilang... Itu laguku. Ada hak cipta disana!" mendadak aku gugup mengatakannya. Kenapa? Kenapa selalu aneh di depan Len? aku tak pernah merasa seaneh ini.
"Saat aku sampai di Jepang setahun yang lalu, aku menemukan kertas jatuh. Isinya aneh seperti puisi. Tapi isinya membuatku kagum−" Len terhenti. Wajahnya menampakkan dia tak suka mengatakan itu di depanku. "aku menyimpannya dan saat mendaftar kesini aku terkejut ternyata itu lagu buatan murid. Ya sudah, aku mencurinya karena penasaran. Ternyata itu milikmu"
Dengan cepat, aku mengambil kesimpulan. "Oh, jadi kamu suka lagu buatanku? Segitu kagumnya sampai mencuri? Aku tersanjung."
Len menatapku dengan aneh. "Ya sudah, kau sudah puas, kan?" kali ini, ia benar-benar melangkah menjauh dariku.
Aku tak mau secepat itu. Itu tak memuaskanku. Banyak yang ingin kutanyakan. Karena memang aku ingat meninggalkan catatan lirik lagu saat mengantar papa ke bandara. Aku menarik lengan Len. lengan Len ada di genggamanku. Aku terpaku. Kaget dengan yang kulakukan. Aku melepasnya.
"Apa lagi?"
"Uh, memangnya dimana tempat asalmu?" tanyaku.
"Australia." Jawab Len. Sama seperti tujuan keberangkatan papaku saat itu.
"Kenapa sangat kebetulan?" pertanyaan itu terlontar dari mulutku tiba-tiba saja.
"Apanya?" Len bertanya balik.
"Kau menemukan kertas lirik laguku di bandara saat aku juga kesana, lalu dengan sangat kebetulan kau sekolah disini. Kenapa sangat kebetulan?"
"Takdir"jawab Len. Aku menatapnya.
"Takdir yang menyusahkan. Kenapa kita dipertemukan sebagai kau anak baru yang menyebalkan?" aku bertanya lagi karena benar-benar tak mengerti. "Bahkan ini hari pertamamu."
"Kita tak bisa menyalahkan takdir, Rin" jawab Len. Aku terkesiap. Ini pertama kalinya Len menyebut namaku. Rasanya aneh. Padahal baru sehari, tapi kenapa sangat rumit?
"Len" gumamku.
"Apa?"
"Ummm... Lupakan."
"Ya sudah, aku mau pulang." Ujar Len. Namun, aku teringat sesuatu.
"Eh, tunggu dulu! Ngomong-ngomong, kenapa tadi kamu berhenti bernyanyi?" tanyaku.
"Karena aku merasakan aura marah yang menyuruhku berhenti" jawab Len. aku terdiam, lalu terkikik sendiri. "Kenapa?"
"Kamu bicara seperti di buku-buku! 'Karena aku merasakan aura marah yang menyeruhku berhenti'. Haha." Aku tertawa sambil meniru gaya bicara Len tadi. "Kau ingin jadi penulis?" aku bertanya iseng.
"Tidak." Jawab Len mendadak dingin. Matanya sayu. Lalu , ia mendekatiku. Aku mundur selangkah, namun dibelakangku pohon. Terpojok.
Len mendekatiku, lalu menyelipkan sebagian rambutku ke belakang telinga secara tiba-tiba. "Kau gadis yang banyak tanya" ujarnya membuatku terpaku. Wajahku memanas. Hatiku berdebar. Lalu, Len membalikkan badannya dan pergi meninggalkanku yang masih terpaku.
Sensasi apa ini?
Apa yang barusan terjadi?
Aku tak mengerti.
...To be continued..
A/N: Hah, akhirnya chapter 3 selesai juga! Diselesaikan dalam sehari karena lagi pingin aja. Semoga bisa memuaskan pembaca. 2 chapter sehari. Lebih cepat datang dari waktu yang dijanjikan. Ahaha. Oke, terimakasih udah baca. Dan author akan senang jika kamu review setelah membaca ini. karena review akan sangat membantu author meningkatkan kualitas cerita dan tentunya menyemangati author :D ahaha. Maaf kalau ada salah-salah dalam fic ini dan maaf kalau ficnya jelek. Ini hanya untuk senang-senang kok. Please REVIEW after READ. Thx
