Disclaimer
Vocaloid belongs to Yamaha Corp

Complicated

Chapter Five
Saat aku hendak membuka halaman selanjutnya, handphoneku berdering mengeluarkan suara bel menandakan SMS masuk. Aku mengambil handphone, dan benar saja. Ada SMS dari Miku. Kenapa lagi anak satu itu?

Dear my sweet orange. Prepare yourself. I am on the way to your home.

Aku merengut. Apa pula Miku ini gaya-gayaan memakai bahasa Inggris. Yahh, sebenarnya itu juga bentuk latihan baginya karena album selanjutnya ia akan menyanyikan lagu bahasa Inggris. Aku iri dengan Miku. Karirnya menjulang dan tinggal selangkah lagi anak itu akan memasuki permusikan Internasional. Ahhhh!

Saat aku mengartikan kalimat pertama, aku hanya bisa terkekeh sendiri. Kalau merajuk, Miku sering mengatakan, 'ayolah jerukku yang maniisss...'. Setelah mengartikan dua kalimat selanjutnya, aku melempar buku Len ke kasur, lalu aku segera turun ke lantai dasar. Sebelum bertemu Miku, aku harus makan. Miku sangat benci kalau dia mendengar bunyi-bunyian dari perutku. Memang, aku sudah mengganjal perut, tapi aku yakin itu tak akan bertahan lama.

Aku melihat menu yang tersaji di meja. Sushi buatan mama yang terlihat menggiurkan itu membuat perutku berbunyi.

Kriiiuuuuuukkkkk.

Aku tak begitu peduli. Karena aku sedang di rumah. Namun ternyata suara itu cukup keras hingga menyita perhatian mama yang sudah keluar dari ruang TV dan sekarang sudah masuk ke ruang makan.

"Kau sangat lapar ya?" goda mama yang sekarang berada didepanku. Aku hanya memutar bola mataku malas dan menarik kursi.

"Mama temani, ya!" ujar mama yang langsung menarik kursi tanpa menunggu dulu jawabanku. Aku langsung melahap makananku dengan lahap. Lalu, aku mendapati mata mama yang terus menatapku. Aku tak begitu peduli, karena mama sering melakukan itu. Tapi... tunggu! Kenapa selalu begitu tiap aku makan, ya?

"Kenapa, ma?" akhirnya aku bertanya dengan mulut penuh dengan makanan.

Mama diam. Aku ikut terdiam lalu melanjutkan makanku yang tinggal beberapa suap lagi.

"Rin sudah besar, ya..." gumam mama. Aku memutar bola mataku malas dan tak memedulikan gumaman mama dengan menyelesaikan makan yang memang tinggal sesuap lagi.

Hening.

Suasana terasa agak canggung. Padahal ini ibuku sendiri. Aku memang malas membuka percakapan. Mama juga hanya menatapku sambil melamun.

Ah, kalau ada papa, semua akan lebih terasa baik.

Entah sejak aku kecil atau kapan, kalau tak ada kerjaan yang berarti (seperti memasak dan menonton acara masak), mama sering melamun. Aku sangat tak betah dengan orang yang melamun. Terlihat kosong pikirannya! Sekalipun ada yang dipikirkan.

Kalau hanya ada mama bersamaku, mama hanya akan melamun menatapku. Aku malas memulai percakapan karena sekalipun lamunan mama pecah, obrolan akan tidak nyambung. Lebih baik tidak. Saat kami berdua saja, maka terciptalah suasana canggung itu. Aku tak suka.

Tapi kalau ada papa, suasana akan terasa cair.

Tepat saat suapan terakhir tertelan, kudengar suara pintu diketuk. Pasti Miku! Aku segera mengelap mulutku dengan tissue yang ada disebelahku, lalu meraih gelas air putih, lantas segera meminumnya.

Aku melompat dari kursi meninggalkan mama yang masih melamun. Lalu, aku berlari ke depan pintu dan membukanya saat Miku hendak mengetuk lagi. Tangan gadis itu sudah hampir menyentuh jidatku.

"Heeehh...!" erangku sebelum tangan Miku sempat mengetuk kepalaku. Miku terdiam, lalu terkikik. Tanpa mengatakan apa-apa, ia mendorongku masuk ke rumah seakan rumahku juga rumahnya sendiri. Tapi kami memang sangat akrab, jadi Miku sudah diterima layaknya keluarga sendiri di rumahku. Begitupun aku saat berkunjung ke rumah Miku.

"Kau sudah makan, Rin?" tanya Miku sambil melepas sepatunya.

"Tentu saja! Aku malas kalau diomeli lagi!" jawabku sambil mengekor Miku yang mulai berjalan meninggalkan ruang depan. Miku melirik ke ruang makan dan mendapati mama yang sepertinya sudah pecah lamunannya dan melihat Miku.

"Miku-chan..." gumam mama. Lalu Miku melangkah mendekati mama dan memeluknya erat seperti ibu sendiri. Mereka memang akrab.

Setelah Miku izin untuk pergi ke kamarku, aku dan Miku berjalan menaiki tangga menuju kamarku berbarengan.

Sesampainya dikamarku, Miku langsung merebahkan tubuhnya di kasurku tanpa izin. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku dan duduk di ujung kasur.

"Jadi," ujarku, "bagaimana rekaman bersama Luka-senpai? Pasti menyenangkan ya..."

"Rekaman apaan...?" Miku mengerutkan kening sesaat, lalu ekspresinya berubah kesal. "Rin, kamu tahu tidak, tadi tak ada rekaman! Manager Luka-senpai salah menaruh jadwal di notesnya! Jadi saat kita datang ke VME, resepsionisnya bilang rekamanku dan senpai masih minggu depan...! Menyebalkan banget, kan... VME jauh banget dari rumah, lagi! Luka-senpai juga ada janji dengan Gakupo secepatnya. Akhirnya aku sendirian naik kereta ke rumahmu, Rin... Aku capek kalau harus meneruskan sampai rumah sekarang juga..."

Aku mendengarkan keluh kesah Miku dengan sabar. Memang, rumahku dekat dengan stasiun. Untuk sampai ke rumah Miku dari stasiun membutuhkan 15 menit jalan kaki. Cukup jauh, maklumlah.

Miku masih cemberut sehabis bercerita. Kelihatannya dia malah tambah kesal sehabis mengingat kejadian itu lagi. "Luka-senpai lebih sayang Gakupo daripada aku... Katanya aku seperti adik sendiri..."

Aku hanya menepuk-nepuk pundak Miku malas. Miku mempunyai saudara kembar dirumahnya. Namanya Mikuo. Tapi Mikuo bersekolah di luar negeri, sehingga Miku sendirian saja. Saat bertemu Luka-senpai, sosok saudara yang dirindukan Miku seakan tergantikan dengan datangnya Luka-senpai. Tapi, Luka-senpai sedang dekat dengan seorang cowok bernama Gakupo sehingga perhatiannya ke Miku terbelah.

Aku bangkit dari kasur, "kau sudah makan siang?"

"Belum," jawab Miku singkat. Sepertinya anak itu kelelahan, jadi aku memutuskan membawakan makanan untuknya.

Sesampainya di ruang makan, aku langsung mengambil dua sushi dan sebotol jus jeruk yang aku simpan di kulkas. Sebenarnya, itu persediaanku. Tapi tak apalah, Miku kelihatan capek dan butuh yang segar-segar.

Aku langsung melangkahkan kakiku ke lantai atas, lalu membuka pintu kamarku.

"Miku,, ini ada makan siang untuk..." kalimatku terpotong ketika melihat Miku sedang duduk di kasur sambil... sambil membaca notes cokelat Len!

"Oh, Rin. Kenapa kau punya notes milik Len ini?" tanya Miku dengan kerutan curiga diwajahnya. Duhhh... Aku harus ngomong apa ke Miku? Sudah mengambil tanpa izin, dan sekarang tak tau harus bicara apa karena Miku suka Len. Pantas saja dicurigai.

"Ano... Itu... Notes Len ya... Aku tadi ke caffe, lalu aku melihat Len juga di caffe itu... Dia tak menyadari keberadaanku... Lalu saat ia pulang, notesnya ketinggalan... Aku ambil saja untuk dikembalikan besok... Begitu..." jelasku takut-takut. Aku meletakkan nampan makanan di meja belajarku, lalu berdiri menatap Miku. Menunggu reaksinya.

"Mmmm... Kalau begitu, ya sudah. Dan mumpung dikembalikannya baru besok, kita cek dulu sajaa! Yay!" pekik Miku. Miku sama penasarannya, kan, seperti aku. Dia memang sangat ingin tahu semua hal tentang orang yang ia sukai. Eh, ngomong-ngomong, aku bersyukur Miku tak bertanya-tanya soal caffe. Sebelumnya, aku memang tak pernah ke caffe.

"Itu pakai bahasa Inggris lho..." ujarku mengingatkan.

"Kursus bahasa Inggris 2 bulan sudah lebih dari cukup bagiku untuk mengerti tulisan bahasa Inggris." ujar Miku bangga. Oh, Rin baka. Karir Miku sebentar lagi memang akan menapaki dunia. Aku bahkan tak tahu Miku ikut kursus bahasa Inggris.

"Ya sudah, kukira kamu sudah baca dari tadi," ujarku sambil ikut duduk di kasur.

"Aku baru membukanya saat kamu datang, lalu baru sampai nama dan halaman pertama. Kalau dari halaman pertama sudah seperti ini, mungkin ini sebuah buku harian." tebak Miku. Mungkin juga sih. Aku bahkan berharap itu buku harian. Entah mengapa (bilang saja kamu kepo tentang Len, Rinbaka!).

Miku membuka halaman selanjutnya dan mulai membacanya. Karena aku tak mengerti, aku memutuskan diam saja menunggu Miku mengartikan untukku.

"Errr... Kok begini sih?" Miku langsung membuka halaman berikutnya tanpa mengartikannya untukku. Dia terus membaca halaman demi halaman sambil mengeluh. Tapi artikan untukku juga dong!

"Hei, Miku! Artikan juga dong! Jangan curang kamu saja yang baca notes Len!" protesku. Betapapun aku melihat halaman-halaman itu, tak ada satupun yang dapat kumengerti! Aku buta bahasa selain Jepang. Rin memang baka. Yeah, aku tahu kok.

"Rin, ini bukan buku harian! Ini buku resep!" kata Miku yang sukses membuatku cengok. Buku resep?

"Hah? Buku resep apaan sih? Masa' itu buku resep dengan halaman pertama seperti buku harian..." ujarku bingung.

"Tidak tahu, ya! Aku juga tak mengerti jalan pikiran anak itu. Tadi ada resep kare, sushi, onigiri, ramen, takoyaki... pokoknya makanan-makanan dari Jepang ia tulis resepnya dengan bahasa Inggris!" jelas Miku.

"Tidak kusangka... Orang seperti Len bisa memasak..." gumamku tak percaya. Saat kulihat Miku, matanya malah sudah berbinar-binar.

"Rin! Satu lagi kelebihan Len! Suka memasak! Ya ampun... Tak ada yang lebih keren dibanding cowok yang suka masak. Jadi, tujuannya ke caffe untuk mencari resep?" tanya Miku penasaran. Matanya masih berbinar-binar.

"Tidak tahu, ya... Caffe yang kudatangi sepertinya lebih ke menyediakan dessert dan minuman sejenisnya." jawabku sambil mengingat-ingat daftar menu. Menu di caffe tadi memang menu caffe. Tak ada makanan berat. Apalagi khas Jepang.

"Mungkin sehabis dari caffe, Len berniat mencari restoran tradisional. Makanya dia membawa notes itu." Miku mulai mengira-ngira dengan tampang sok detektif.

"Yaah... Lama di luar negeri membuatnya penasaran dengan makanan Jepang, mungkin." ujarku yang dibalas anggukan Miku.

"Ngomong-ngomong, tumben Rin ke caffe... Ngapain?" pertanyaan yang dari tadi kutakuti akhirnya keluar juga.

"Mengganjal perut saja." jawabku.

"Memang mau bepergian sampai perlu mengganjal perut? Biasanya kau langsung ke rumah, kan..." selidik Miku.

"Itu... Bukan apa-apa. Kata orang, orange parfait disana enak, jadi aku jalan kesana deh!" jawabku lancar. Kebohongan yang lancar. Bukan masalah besar...

"Ng... Rin. Itu makanan di meja punya siapa? Aku lapar..." ujar Miku sambil menyengir.

"Oh, itu untukmu, kok. Makan saja!" jawabku sambil tersenyum lega karena ternyata Miku tak melanjutkan pertanyaan tentang caffe bodoh itu.

Tanpa basa-basi, Miku melahap makanannya. Setelah selesai makan, Miku izin pamit. Dasar Miku. Kalau energinya sudah terisi penuh, langsung pergi. Tak lama kemudian, Miku pulang meninggalkanku sendirian di kamar.

Karena bosan, aku membolak-balikkan notes Len. Saat aku membuka halaman terakhir, aku mendapati tulisan dalam bahasa Jepang.

Bagi yang menemukan buku ini, harap segera kembalikan ke Len Watson: 080-xxx-xxx-xx0

Lalu, terlintas ide di pikiranku untuk mengatakan pada Len bahwa notesnya ada di aku. Nanti, saat ia minta notes itu, aku bisa bertanya maksud halaman pertama dan menyangkut hobi memasaknya. Entahlah, ini licik atau bukan.

"Maaf Len, aku memang gadis yang banyak tanya." Gumamku sambil meraih handphone dan mengetik SMS untuk Len.

Notes cokelatmu ada di aku, Len Watson.

Sent.

Tak perlu waktu lama, hingga handphoneku berdering menandakan SMS masuk. Dengan sekejap, aku membuka SMS itu yang kupikir dari Len.

Siapa kau?

Ahaha, aku lupa memberi tahu namaku. Tapi tak akan kuberi tahu sekarang! Aku memilih tombol 'balas' dan mulai mengetik balasannya.

Kau tak perlu tahu siapa aku. Yang penting kau perlu notes ini atau tidak?

Tepat 2 menit setelah balasanku terkirim, balasan dari Len sudah sampai.

Butuh. Siapapun kau, temui aku di halaman belakang Vocaloid Music Academy. Alamatnya jalan G nomor 2 sebelah toko buku. Kalau tidak jelas, hubungi aku. Sekarang juga.

Ya ampun, kelihatannya Len benar-benar membutuhkan notes itu sampai minta dikembalikan sekarang. Kenapa dia memilih sekolah sebagai tempat pertemuan? Ah, nanti kutanyakan. Aku langsung mengambil tas dan memasukkan notes Len kedalamnya. Aku segera turun kebawah dan langsung pergi tanpa pamit. Sambil berjalan, aku membalas lagi SMS terakhir Len.

Aku tahu tempat itu. Sedang dalam perjalanan.

Aku berjalan sambil memikirkan apa yang harus kutanyakan pada Len. Oh, tentang maksud halaman pertama, hobi memasak, yang dia lakukan di caffe, dan kenapa tempat yang dipilihnya sekolah.

Tanpa sadar, aku sudah sampai di depan gerbang VMA. Diatas jam 12 siang sekolah masih dibuka untuk anak-anak yang masih mengikuti kelas privat mereka. Semua murid harus mengambil kelas privat. Aku juga ada kelas, yang jelas bukan hari Senin. Aku kan benci hari Senin. Ya ampun! Sekarang masih hari Senin! Kenapa rasanya lama sekali?

Sesampainya di halaman belakang sekolah, ternyata Len belum datang. Aku memutuskan duduk di bangku taman sambil menatap laut. Ternyata melihat pemandangan seperti ini mampu menyejukkan pikiran. Birunya laut... Dan pegunungan yang samar-samar terlihat. Ini masih siang, tapi entah mengapa rasanya sangat sejuk...?

Saat sedang sibuk menikmati keindahan alam, aku mendengar suara langkah kaki mendekati. Ah, pasti Len. Aku menengok.

Benar saja, Len Watson berdiri canggung mengenakan baju yang sama saat di caffe.

"Hai, Len." sapaku. Len menyapukan pandangannya, lalu terdiam.

"Apa kau lihat orang yang mencariku?" tanyanya. Ah, aku tahu maksudnya. Pasti yang menemukan notes itu.

"Maksudmu yang menemukan notes cokelatmu?" tanyaku. Mata Len seketika membulat.

"Jangan-jangan... Kau, ya?" tanya Len dengan tatapan tak percaya. Aku tak mengerti kenapa, tapi itu cukup menghibur. Tatapannya benar-benar lucu!

Aku merogoh tasku dan mengambil notes cokelat Len, lalu mengacungkannya. "Benar, ini kan, yang kau cari?"

"Kenapa ada di.. kamu?" tanya Len lagi sambil mendekatiku dan mencoba meraih notes ditanganku.

Tiba-tiba terlintas dipikiranku untuk sedikit menjahili Len. Saat ia mencoba meraih notesnya, aku menarik tanganku menjauhkannya dari Len. "Untuk itu, aku ada beberapa pertanyaan."

"Kau..." Len terlihat kesal dan tangannya terkepal seperti hendak memukul, tapi pasti niat itu tak bisa dilakukannya.

"Maaf, Len," ujarku sambil berpura-pura menunjukkan rasa bersalah, "aku memang gadis yang banyak tanya."

To be continued...

A/N: Halo! Akhirnya chapter 5 datang juga. Maaf ya, author agak malas, jadi baru dibuat sekarang. Author nggak yakin sih, chapter selanjutnya bakalan update cepet. Soalnya, author harus sekolah. Mungkin 4 bulan lagi...? Tapi author janji kalau ada waktu luang, author bakalan update. Tapi kalau ada waktu yaa... Author akan sangat sibuk, nggak yakin bakalan buka laptop atau nggak. Oke, daripada nggak jelas, saya bakalan balas review~

Namikaze Kyoko: Yaa... Sifat mereka yang kepo itu seperti tak bisa terhapuskan, terutama Rin.. Sayangnya, notes Len bukan diary. Rin dan Miku juga berpikir begitu kok. Oke, ini update-annya...!

akanemori: Menurut author juga begitu... Kaito dan Len itu... hehe. Untuk kelanjutan hubungan Miku, lanjut baca aja ya. Nanti kamu akan nemuin sendir jawabannya xD(bilang aja author belom tau mau gimana Mikunya.. -,-). Oke, sudah dilanjutkan, kok!

TsubomiLin-chan1224: Makasih yaa... xD Ini update dari author spesial untuk kamuu.. xD ahaha

Kirina Fujisaki: Hai! Iya, ini lanjutannyaa. Iya, disini Kaito emang agak gimana gitu... Sabar ya! Suka Kaito ya? Terimakasih lho untuk fave nya :D

Nah, terimakasih untuk 4 review yang sangat mendukung author melanjutkan fanfic ini. Untuk selanjutnya, author minta review yaa... Untuk meningkatkan kualitas cerita author dan tentunya nyemangatin :D Oke, after READ don't forget to REVIEW. Thx~:D