Naruto : The Legend

Genre : Adventure/Romance

Rating : Teen/PG-17

Pair : NaruHina N SasuSaku

Disclaimer : ©Masashi Kishimoto

First Fiction By Bhie Forsaken

Warning : OOC, Mungkin OC, TYPO(Mungkin), GAJE,

SEMI-CANNON/AU (Banyak perubahan sana-sini), GORE(Mungkin), DLL.

Tidak suka harap klik icon BACK


"Kalimat" Berbicara

'Kalimat' Berfikir

"Kalimat" Monster/Bijuu/Sebangsanya Berbicara and Jutsu

'Kalimat' Monster/Bijuu/Sebangsanya Berfikir

*Suara* SFX (Sound Effect)


Author's Note


Gomen, kalo kemarin ga ada balasan Review. Bhie lupa *Pundung*, jadi sekarang Review Chapie 5. Maaf yang kelewat yah, Gomenasai. Terus Rabu, Bhie kecelakaan, jadi niat update hari Kamis males banget.

Bhie mungkin juga bakal ngaret beberapa minggu. Gomen ya, keadaan Bhie gak terlalu baik. Bhie minta do'a kawan-kawan, do'ain Bhie dapet jalan keluar dari masalah Bhie. Ma'af kalo jadi curhat.

Dan bagi yang mau kirim saran sama kritik PM ja, semoga bisa jadi referensi Chapie nanti.

Arigataou yang udah ngertiin Bhie. ^.^


REVIEW PAGE


For Chaphie 5:

-Guest (1) : Hihi, tersanjung aku.

-Guest (2) : Hu'um, coba kalo Bhie, huaaaaa… *Dikejar Mantan*

-Guest (3) : Jangan sampe telat kk nunggunya. Hihi…

-Soputam : Wah, semoga bisa suka ya, jadi terharu. ^.^

-Guest (4) : Kan ceritanya Naru ma Suke masih unyu. *Cubit-cubit*

-NaruHina AKU : Pasti kk, tunggu terus ya. *Senyum*

-Namikaze Kevin : Masa? *Nangis*

-Nitya-chan : Makasih kk, tunggu terus ya lanjutannya.

-Fizan Darwis : Makasih kk, tapi terlalu ngaco kalo jadi Badass. Jutsu seh emang g bisa aku bahasa jepangnya, jadi terpaksa bahasa inggris. *Pundung*

-Guest (5) : Silahkan baca kk, and terus tunggu lanjutannya ya.

-Musashi : Masih ada kok haremnya, tapi ya kaya tadi kk bilang.


-Chapter Sebelumnya-


"Kalau begitu kita teman." Sakura mengulurkan tangannya dan tersenyum.

'De ja vu, eh?' Sasuke tersenyum, ia menjabat tangan Sakura. "Baiklah kita teman." Ilusi itupun hilang. "Seharusnya kau lari seperti semua perempuan lain." Tambahnya.

Sakura yang melihat wajah Sasuke kembali mulai bingung. "Kenapa?" Lirihnya.

"Karena, aku bosan mendengar suara cempreng kalian." Jawabnya datar.

"Bukannya kau ingin teman, karena itukan kau menyembunyikan wajahmu?" Tanya Sakura, ia tidak mengerti maksud Sasuke.

"Kau bodoh, tadi hanya ilusi. Kau lupa aku seorang Uchiha?" Sasuke tersenyum(?) dan pergi. 'Dia menarik.' Ia pun menghilang.

1

2

3

.

"APA?"

Ditempat lain

"Hinata." Naruto mengejar sosok Hinata.

Hinata yang mendengarnya menghentikan langkahnya. "Na-naruto-kun?" Wajahnya memerah.

"Kita pulang bareng yah." Naruto menggenggam tangan Hinata, dan ketika itu Hinata pingsan.

"Eh?" Naruto kaget, dan memeluknya. "Hinata, hei. Kenapa kau?" Naruto mencoba membangunkannya, saat Hinata bangun rona merah kembali menghias pipinya.

"Kyaa!" Hanya itu yang keluar dari mulutnya dan kembali pingsan.

"Merepotkan." Naruto terkekeh. 'Tapi aku rela.' Lanjutnya dalam hati.


Chapter - 6

Rockie of The Year


Setelah bertanya, dan mencari alamat Komplek Hyuuga, sampailah ia didepan Mansion Hyuuga. Naruto mengetuk pintu dan meninggalkan Hinata didepan pintu Mansion.

*Kriet* Saat seseorang membuka pintu ia terkejut.

"Hinata-sama?" Lelaki itu membawanya masuk.

"Hm, aman." Narutopun melakukan Hiraishin pulang.

-Skip Time-

Enam hari kemudian

Naruto dan Sasuke memasuki tempat rahasia keluarga Uchiha. Mereka mengetahui itu, setahun yang lalu. Sasuke bercerita, bahwa ia memimpikan tempat dimana formula kekuatan Sharingan disembunyikan.


-Flashback Start

Setahun yang lalu

Setelah mereka berlatih, Sasuke mengajak Naruto ke danau tempat mereka pertama bertemu.

"Ada apa Teme?" Naruto menyandarkan dirinya di sebuah pohon.

"Aku mendapat mimpi, letak formula Sharingan disembunyikan." Jawab Sasuke, ia memasang pose seriusnya, menopang dagunya dengan kedua tangannya.

"Dimana itu? Aku akan membantumu." Naruto bangun dan menatap intens Sasuke.

"Kuil Naka-" Sasuke menghela nafasnya, ia menengadahkan kepalanya. "-disana ada tempat rahasia pertemuan Clan Uchiha. Batu dengan lambang Sharingan, itulah pintu masuknya." Sasuke berdiri, dan menatap bulan purnama. "Apakah Aniki yang memberitahuku?" Tanyanya entah pada siapa.

"Hn, sepertinya begitu." Narutopun berdiri, dan berjalan pergi.

-Skip Time-

Desa Konoha - Kuil Naka 10:30 AM

Setelah beberapa hari mencari Kuil Naka, akhirnya mereka, menemukannya. Lalu, mereka kembali mencari batu berlambang Sharingan.

"Sasuke, aku menemukannya. Cepat!" Naruto berseru. Sasuke yang mendengarnyapun langsung menghampirinya. "Uh, sepertinya akan sulit. Ini memakai segel." Tambahnya.

"Mungkin, aku harus mendapat tiga tomoe, dan rahasianya akan terpecah." Sasuke melangkah pergi. "Seperti dalam mimpi, tiga titik akan membuka pintu. Itu katanya."

"Siapa Teme?" Tanya Naruto yang mengekor.

"Aku tak tahu, ia tertutup oleh cahaya dari bulan merah." Lalu merekapun meninggalkan tempat itu.

Flashback End-


"Waktunya telah tiba." Sasuke berdiri didepan batu berlambang Sharingan. Lalu ia mengaktifkan Sharingannya dan melakukan sesuatu, setelah beberapa saat, terbukalah batu itu. "Naruto, jaga tempat ini dengan kekkai!" Naruto lalu membuat kekkai.

"Dome of Shadow" Naruto mengira-ngira luasnya, setelah yakin. "KAI!" Terbentuklah barrier itu. Kekkai yang menutup pengelihatan normal, lalu Naruto menambahkan sensor seal. "Hawk Eye, KAI!" Lalu ia masuk kedalam ruang pertemuan rahasia Uchiha. Sasuke berdiri didepan batu, diatas batu itu terdapat banyak scroll. Naruto mulai berjalan mendekatinya.

"Ternyata untuk membangunkan Mangekyo, aku harus mengalami trauma berat." Sasuke menyimpulkan, dan kembali membaca.

'AHA! Aku tahu sekarang, mengapa Itachi-nii memasukkan ilusi itu dulu pada Sasuke.' Naruto membatin. "Sasuke, berarti kau telah membangunkan Mangekyo, kau hanya perlu latihan lagi." Naruto menjelaskan, Sasuke sedikit kaget, namun segera kembali membaca.

"Yah, ini dia! Dikatakan bahwa setelah mengalami trauma, dan rasa kehilangan. Pengguna harus memendam dendam yang dalam, maka kutukan Sosanoo akan bangkit dan membangunkan EMS." Sasuke membaca, dan mencermati isinya.

"Kau harus mendendam? Apakah kau punya dendam?" Ucap Naruto, alisnya bertautan pertanda, ia penasaran.

"Ya, aku punya dendam pada kau." Jawabnya datar, tanpa menoleh kearah Naruto.

"Hah? Kau jangan bercanda Teme." Naruto menjitaknya.

"Ittai, Dobe. Aku sungguh-sungguh, kau selalu lebih kuat, dan aku selalu kalah." Jawabnya dengan mata tajamnya yang menatap Naruto lekat-lekat.

"Perfect, lihat matamu Sasuke." Naruto mengacungkan jempolnya. Sasuke yang penasaran melihat dirinya melalui cermin, dan fiola ia melihat matanya berubah, matanya membentuk delapan bintang. Senyum mengembang diwajahnya.

Setelah itu, mereka kembali mempelajari scroll-scroll tersebut. Sampai saat hari mulai gelap, Naruto mengajak Sasuke untuk pulang.

"Aku akan disini, dan mempelajari beberapa gulungan. Kau pulang saja dulu." Sasuke kembali menuju batu tempat scroll.

"Baiklah, jika kau sudah selesai segera beritahu aku." Naruto meninggalkan Sasuke, dan membiarkan kekkainya, ia berjaga agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

-Skip Time-

Seminggu setelah itu

Desa Konoha - Akademi Konoha 8:00 AM

"Huh, bosan." Naruto memandang malas papan tulis, yang penuh dengan coretan pelajaran Iruka, tentang perubahan chakra.

"Ada pertanyaan minna?" Setelah menunggu, dan tidak ada yang bertanya. "Baiklah, kurasa kalian semua telah mengerti." Iruka menutup bukunya, ia menghela nafas lelah melihat Naruto yang terus melamun beberapa hari ini. "Semua, latihanlah di lapangan. Naruto ikut aku!" Mendengar perintah Senseinya mereka segera keluar kelas, sedangkan Naruto tetap ditempat ia masih bosan.

"Naruto, hei! Kau melamun?" Iruka kembali memanggilnya.

"Ada apa Sensei?" Naruto berkata malas, tanpa menjawab pertanyaan gurunya.

"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau Naruto?" Iruka bingung, tidak biasanya Naruto melamun.

"Aku bosan. Beberapa hari ini Sasuke tidak ada kabar, sedangkan Hinata sakit semenjak dua hari lalu." Keluhnya, iapun menenggelamkan kepalanya dibalik lipatan tangannya.

"Oh, begitu. Baiklah, bagaimana kalau kita sparring? Agar kau tak bosan." Iruka memberi tantangan.

"Kau yakin Sensei?" Naruto tersenyum tipis, ia mungkin bisa terhibur.

Setelah itu mereka menuju lapangan kosong.

"Naruto, aku akan melatihmu menggunakan Taijutsu." Iruka mulai memasang kuda-kuda. Naruto yang mendengarnya merasa tertantang, ia jarang melatih Taijutsu dan hanya mengetahui beberapa jurus.

"Kau benar-benar tahu kelemahanku." Mendengar itu Iruka hanya tersenyum.

Mereka mulai beradu pukulan, beberapa kali Iruka sempat kewalahan karena kecepatan Naruto. *Bugh* Iruka menahan tendangan Naruto lalu ia melakukan high-kick, Naruto yang kaget mencoba menghindar tapi ia terlambat.

*Bugh-Sraak* "Hmp, pasti akan seru. Uzumaki Rage." Kombinasi serangan brutal Naruto membuat beberapa kali Iruka terpukul dan tertendang.

*Sraak* "Heh, pastinya seru Naruto." Iruka mulai mengimbangi Naruto, ia melakukan beberapa side-kick dan low-punch. Naruto mulai terdesak. 'Uh, sial.' Ternyata ia sudah terpojok, Iruka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan "Tornado Combo." *Duagh* Ia memukul Naruto hingga melayang. "Belum." *Duagh-Dagh-Buagh* Beberapa serangan pukulan dan tendangan menghantam Naruto.

*Sraaakh-Bugh* Naruto terbentur pohon, dan keluar arena. "Uhk, sial. Bagaimana jika tanding ulang." Naruto bangun dan kembali ingin menyerang sebelum.

"Naruto, cukup. Berlatih lagi tekhnik Taijutsu, maka kau pasti kuat." Iruka tersenyum, dan melangkah pergi. "Lagipula, kelas telah usai." Tambahnya.

"Huh, coba sparing bebas aku pasti menang." Naruto mengeluh.

'Hey, kau seharusnya sadar. Senseimu itu memberitahumu bahwa kau lemah dalam Taijutsu, jangan malah ngambek gitu Naru.' Kyuu memperingati.

"Aku hanya... Ah, sudah aku ingin pulang." Naruto pergi, Kyuu mengerti Naru pasti lagi Bad Mood.

'Hah, Naru-chan. Kau tetap saja kekanakan.' Kyuu mengeluh.

Esoknya

Desa Konoha - Hutan Kematian 6:00 AM

"Hei, apa yang kau ingin tunjukkan padaku?" Tanya Naruto, tidak biasanya Sasuke memanggilnya pagi-pagi. "Apa kau sudah selesai dengan itu?"

"Iya, kau tau. Sekarang aku sudah dapat memakai Sosanoo, walau tak sempurna." Sasuke mengaktifkan Sharingan. "Tapi bukan itu yang penting, aku hanya ingin menepati janji."

"Oh, maksudmu Kamui?" Naruto menebak.

"Yah, aku sudah dapat melakukannya." Sasuke memegang pundak Naruto dan mereka terhisap lubang hitam.

"Ini dimensiku, bagaima- Uhk?" Sasuke merasa matanya panas, dan mereka kembali kedunia nyata.

"Hey, kenapa ma-" Naruto melihat mata Sasuke mengeluarkan air mata darah. "-tamu?" Segera membuka scroll P3Knya, lalu mengobati mata Sasuke.

'Tak ku sangka, efeknya separah ini.' Sasuke merutuki dirinya yang tidak mengindahkan larangan, agar tidak memakai kekuatannya secara yang berlebihan. "Ma'af Dobe, seharusnya aku berlatih." Naruto tetap diam dan memapah Sasuke, ia membawanya kerumah sakit. Setelah mengantar Sasuke, ia kembali kerumahnya.

-Skip Time-

Akademi Konoha 8:00 AM

"Naruto." Iruka sedang mengabsen kelasnya.

"Ma'af, aku telat." Naruto membuka pintu kelas, nafasnya terengah.

"Kau ini, cepat duduk." Iruka segera kembali mengabsen.

"Naruto-kun, kau tau dimana Sasuke-kun?" Tanya Sakura, ia merasa cemas. Sudah satu minggu Sasuke tidak masuk.

"Dirumah sakit." Jawab Naruto datar.

"Maksudmu?" Sakura bertambah cemas, takut bila terjadi sesuatu pada Sasuke.

"Sudahlah, bila kau mau, kita bisa menengoknya." Ucap Naruto sebelum pembicaraan menjadi panjang. Saat ia kembali melihat bangku Hinata. 'Ck, masih sakit ya?' Ia melihat bangku itu selama beberapa menit.

-Skip Time-

R.S Konoha 4:00 PM

Setelah mengantar Sakura menjenguk Sasuke, Naruto duduk di bangku taman R.S.

"Huah, sepertinya disini tenang." Ia mencoba untuk tidur sebentar, tapi ia melihat Hinata. "Eh, Hinata. Kenapa kau disini?"

Hinata yang mendengar namanya dipanggil menengok kearah Naruto. "Eh, Na-naruto-kun. A-ano aku te-ter-lalu me-me-maksa u-untuk ber-latih." Jawab Hinata gugup, menundukkan kepalanya, dan memainkan jarinya.

"Oh, begitu?" Naruto duduk disebelahnya. "Bagaimana bila berlatih denganku? Ya, agar kau bisa lebih kuat." Tawarnya.

"Eh, ah, emh." Hinata merona. 'Aduh, aku gugup menjawabnya.' Ia semakin menundukkan kepalanya.

"Jika kau menolakpun, aku tak akan marah." Naruto mulai berdiri, tapi sesuatu menahannya.

"A-a-aku ma-mau." Ternyata Hinata menarik vest Naruto.

"Ok, besok aku akan kesini. Pegang ini ya." Naruto memberikan kunainya. "Jika kau siap goyangkan saja kunainya. Aku pasti datang menjemput." Naruto lalu pergi.

"Terima kasih Naruto-kun" Ucap Hinata setelah Naruto pergi.

Naruto kembali ketempat Sasuke, dia mencari Sakura.

"Dia sudah pergi."

"Eh, kau sudah sadar?" Naruto mendekati Sasuke.

"Hn. Besok, aku sudah bisa keluar dari sini." Sasuke lalu beranjak dari kasurnya, ia menatap keluar jendela.

"Baguslah, jangan kau paksakan dulu. Kita akan berlatih lagi." Naruto memegang pundaknya. "Kau pasti, akan lebih kuat." Lalu Naruto pulang memakai Hiraishin.

"Hn." Sasuke termenung. 'Aku pasti akan lebih kuat darimu, Dobe." Ia tersenyum.

-Skip Time-

Hutan Kematian 8:00 PM

Naruto kini tengah membaca Prototype dari Teleport.

'Walau aku sudah bisa memakai Fuuin, dan Hiraishin. Aku masih saja sulit membuat pecahan dimensi... ?' Naruto mencoba berfikir. "Ya dimensi, mungkinkan?" Ia mulai merangkai handseal. *Poof* Muncul clone Naruto, dan mulai membuat handseal. 'Wind Release : Worm Hole' Muncul lubang hitam kecil, kembali clone itu merangkai handseal 'Space Art : Black Hole.' Dua lubang hitam itu bersatu dan terjadi pecahan dimensi. "Kau masuk!" Perintah Naruto kepada clonenya, clone Narutopun masuk kedalam dan hilang bersama lubang hitam.

Setelah beberapa saat. "Yeah, dugaanku benar -ttebayo." Kembali Naruto mempelajarinya. 'Membuat lubang dimensi dan menggabungkannya dengan dimensi yang sama, tapi tempat yang berbeda tanpa perbedaan waktu.' Naruto mulai menulis pemikirannya pada scroll itu.

'Naru, jangan terlalu memaksa. Istirahatlah.' Kyuu mengingatkan melalui telepati.

'Eh, ma'af Kyuu-nee. Aku mungkin terlalu bersemangat.' Kemudian Naruto membereskan peralatannya, dan pulang.

Sesampainya dirumah.

"Tadaima!" Seru Naruto.

"Okaeri Naru-chan/Dobe"

"Eh, Sasuke? Ada apa?" Tanya Naruto, ia merebahkan dirinya di sofa.

"Aku mencarimu. Setelah kau pergi dokter membolehkanku pulang." Jelasnya.

"Oh, lalu?" Naruto mengganti posisinya menjadi duduk.

"Besok kita mulai latihan." Sasuke meminum jus tomatnya.

"Naru, minum dulu! Kau pasti lelah kan?" Kyuu menaruh jus jeruk dimeja, lalu duduk disebelah Naruto.

"Arigatou Nee-chan.. Ahh, perfect. Aku juga ingin berlatih Teleport." Naruto berkata setelah meminum jusnya.

"Hn, sekarang aku menginap disini." Sasuke mulai merebahkan dirinya di sofa.

"Ok, dan besok mungkin Hinata akan ikut. Kau tak keberatan kan?" Naruto mulai berdiri, diikuti Kyuu.

"Hn." Setelah menjawab, Sasukepun tertidur.

Naruto masuk kedalam kamarnya, Kyuu sudah masuk lebih dulu kekamarnya.

Esoknya

Akademi Konoha 2:00 PM

"Minggu depan akan diadakan ujian Genin, jadi sensei harap kalian bersiap." Iruka mulai keluar kelas. "Dan satu lagi, besok akan diumumkan siapa yang menjadi Rockie Of The Year -R.O.T.Y-." Lalu ia pergi.

Kelas mulai ramai, mereka membicarakan tentang berita itu. Naruto, Sasuke, dan Shikamaru hanya bisa bergumam. "Merepotkan." Buat apa status R.O.T.Y, toh itu bukan gelar untuk dibanggakan.

Naruto merasa kunainya bergetar. "Hn.. Sasuke, aku mau menjemput Hinata. Kau tunggu ditempat biasa." Setelah melihat anggukkan Sasuke, Naruto menuju belakang sekolah untuk melakukan Hiraishin.

Ditempat Hinata

"Benarkah, ia akan datang? Atau mungkin, ia hanya mencoba menggodaku." Keluh Hinata. "Huuh, kenapa aku bisa jatuh cinta dengan dia? PEMBOHONG!" Hinata kesal.

"Aku tidak bohong kok." Naruto memeluk Hinata dari belakang, kunai yang ia pegang terjatuh. Sebenarnya ia telah datang dari sebelum Hinata mengeluh. "Bagaimana?" Goda Naruto.

"Eh, a-a-ano, ano. Bi-bi-ssa t-to-tolong le-passkaan?" Hinata yang sadarpun mencoba berucap.

Naruto melepas pelukannya, dan tersenyum lebar. Hinata hanya menunduk malu.

'Oh, aku pasti akan pingsan. Kami-sama kuatkan aku.' Batin Hinata, ia memandang Naruto. "Ehm, j-jaddi apa-kah ka-. Kyaa!"

"Ya, aku menjemputmu." Naruto menggendong Hinata a la bridal, ia melakukan Hiraishin ke tempat latihan.

Hutan Kematian

Sasuke mulai berlatih, sembari menunggu Naruto.

"Hai, Teme." Naruto menurunkan Hinata.

"Cih, dasar Dobe. Lihat hasil perbuatanmu." Sasuke menunjuk Hinata.

"Apa? Eh, Hinata?" Naruto kaget, ternyata Hinata pingsan.

Setelah berusaha membangunkan Hinata selama beberapa menit, akhirnya dia bangun.

"Eh, Na-naruto-kun? Ma'af." Hinata merasa malu, ia sudah pingsan dua kali dihadapan Naruto.

"Tak apa, mari kita latihan." Naruto mengulurkan tangannya.

Setelah itu Naruto membuat bunshin, lalu berlatih bersama Sasuke.

"Nah, ayo kita latihan." Ajak clone Naruto.

"Ba-baik." Hinata menunduk.

Hinata lalu berlatih bersama clone Naruto.

Ditempat lain

"Naruto, bantu aku melatih mataku. Aku masih belum bisa menstabilkannya." Sasuke langsung memulai pembicaraan.

"Baik, aku akan membantu." Naruto mengiyakan. "Tapi aku rasa perlu memasang kekkai, latihan kali ini harus serius." Naruto mulai membuat segel. "Gravity Magnet. Kai!" *Shhh* Mulailah terasa beban tubuh bertambah, dan daerah area segel, udaranya menjadi lebih padat.

"Uhk, apa ini tidak berlebihan?" Tanya Sasuke.

"500KG(?), tidak. Kita harus melatih fisik kita mulai sekarang." Naruto mencubit dagunya. "Dan mulai hari ini kita akan berlatih seperti ini."

"Hn. Aku mengerti." Sasuke mulai bersiap. "Fire Release : -"

"STOOP! Kita melatih fisik, bukan Jutsu. Dan kau masih belum pulih." Naruto menghentikan Sasuke.

"Cih. Kau tau, kita tak pandai Taijutsu?" Tanya Sasuke sarkastis.

"Karena itu kita akan menutupnya." Senyum Naruto mengembang.

"Kau pintar, D-O-B-E." Sasuke meledek dan mulai menyerang.

*Dagh* Tendangan Sasuke ditahan. "Biasa saja, T-E-M-E." Naruto mulai melakukan serangan, diantara keduanya terlihat seperti melakukan slow motion.

"Sial, berat sekali." Sasuke mencoba melompat, tapi sangat sulit dalam pengaruh area segel.

"Haha, kau tau. Ini memang sulit." Narutopun sangat sulit dalam bergerak.

Selama beberapa jam mereka berlatih, mereka telah bermandi keringat. Mereka berhenti ketika badan mereka mulai terasa kram. Naruto melepas segel dan merebahkan diri ditanah, sedangkan Sasuke meminum habis airnya. Beberapa saat kemudian datang Hinata.

"A-ano Na-naru-to-kun, bi-bisa kau a-antar aku pu-pulang?" Hinata merasa terlalu lama pergi.

"Baiklah." Naruto memegang Hinata dan melakukan Hiraishin kekamarnya.

Ditempat Hinata

"Besok, kau berangkat kan?" Tanya Naruto.

"Eh, i-iya. Aku ha-hanya i-istirahat pa-pasca pu-lang dari ru-rumah sakit." Jawab Hinata.

"Jaga diri ya Hime." -Cup- Naruto mengecup pipi Hinata, dan kembali ke tempat latihan.

"Eh?" Wajah Hinata memerah, ia memegang pipinya. 'Dia menciumku?'

-Skip Time-

Akademi Konoha 8:00 AM

"Baiklah, sekarang kita mulai ujian Genin." Iruka memanggil beberapa juri penilai.

Lalu dimulailah ujian Genin.

Pertama, Kiba dengan Beast Transformation.

Kedua, Shikamaru dengan Shadow Possesion Technique.

Ketiga, Chouji dengan Body Manipulation.

Keempat, Sakura dengan Kawarimi juga Henge.

Kelima, Ino juga Kawarimi dan Henge.

Keenam, Shino dengan Swarm Baricade.

Ketujuh, Hinata dengan Byakugan.

Kedelapan, Sasuke dengan Fire Release : Fire Armor dan Sharingan -Tiga tomoe-.

Kesembilan, Naruto juga dengan Wind Release : Wind Armor dan Rasengan.

Setelah beberapa menit menunggu hasil

"Maka pemenang gelar R.O.T.Y adalah. Sasuke dan Naruto nilai mereka setara." Iruka mengangkat tangan keduanya.

Dan yang diperlakukan seperti itu hanya berucap "Memalukan." Sambil menutup telinga mereka dengan tangan satunya yang bebas, karena teriakan para calon kunoichi.


T.B.C


Semoga yang baca gak bosen, ceritanya kepanjangan. Dan untuk beberapa minggu jadwal update dirubah, jadi 2 minggu 1x.

Mohon pengertiannya ya minna. T-T

And ma'af kalo masih ada Typo(s), ato Miss Typo(s) ya.

Nah bagi yang udah kasih saran, and mantau terus kelanjutan cerita ini.

Bagi para Reader, mohon bantuannya dalam mengoreksi cerita saya yang sederhana ini.

Mohon Reviewnya ya minna, kritik, saran, sanjungan*Maunya*, dan juga flamenya. Moga bisa jadi referensi saya yang masih NUBIE.

At last~

ARIGATOU MINNA