Naruto : The Legend
Genre : Adventure/Romance
Rating : Teen/PG-17
Pair : NaruHina n SasuSaku
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
First Fiction By Bhie Forsaken
Warning : OOC, Mungkin OC, TYPO(Mungkin),
SEMI-CANNON/AU (Banyak perubahan sana-sini), GORE(Mungkin), DLL.
Tidak suka harap klik icon BACK
"Kalimat" Berbicara
'Kalimat' Berfikir
"Kalimat" Monster/Bijuu/Sebangsanya Berbicara and Jutsu
'Kalimat' Monster/Bijuu/Sebangsanya Berfikir
*Suara* SFX (Sound Effect)
Author's Note
Arigatō sudah mau menunggu Fic saya ini, dan Gomenasai bila reader menunggu terlalu lama.
Saya akan konfirmasi lagi tentang jadwal update yaitu Kamis dan Minggu, tapi bukan setiap minggu. Saya mungkin akan sibuk dengan kegiatan di RL, dan juga saya memang kadang malas untuk ngenet.
Jadi bila reader berkenan menunggu dan mensupport Fic saya, saya sungguh-sungguh akan mencoba membuat Fic yang berkualitas dan membuat kalian puas. Saya ucapkan 'Terima kasih yang sebesar-besarnya pada semua reader dan reviewer, serta semua yang memFavorite/Follow Fic saya. Juga bagi para silent reader.' Saya juga merasa bangga karena banyak yang membaca Fic saya ini.
REVIEW PAGE
For Chapie 6:
-uzumaki naryo : Arigato atas pujiannya, jadi tambah semangat nih.
-Guest (1) : Wah untuk itu masih rahasia, di chapter ini ada hint tentang jutsu itu kok. Arigato atas supportnya.
-Nitya-chan : Makasih Nitya-chan, silahkan ini dibaca. (O/./O)
-KouraFukiishi : Wah, masih kurang panjang yah? Tapi nanti ceritanya ga greget #PLAK
-Soputan : SIAP #Hormat, saya laksanakan.
-Guest (2) : Arigato dah nunggu, ini silahkan dibaca.
-Guest (3) : Ah, Arigatogozaimasu. Kk perhatian banget deh. #Garuk-garuk kepala
-Musashi : Terima kasih, silahkan kk ini update. Dibaca yah.
-Guest (4) : (?)
-Chapter Sebelumnya-
"Baik, aku akan membantu." Naruto mengiyakan. "Tapi aku rasa perlu memasang kekkai, latihan kali ini harus serius." Naruto mulai membuat segel. "Gravity Magnet, Kai!" *Shhh* Mulailah terasa beban tubuh bertambah, dan daerah area segel, udaranya menjadi lebih padat.
"Uhk, apa ini tidak berlebihan?" Tanya Sasuke.
"500KG(?), tidak. Kita harus melatih fisik kita mulai sekarang." Naruto mencubit dagunya. "Dan mulai hari ini kita akan berlatih seperti ini.
—
Ditempat Hinata
"Besok, kau berangkat kan?" Tanya Naruto.
"Eh, i-iya. Aku ha-hanya i-istirahat pa-pasca pu-lang dari ru-rumah sakit." Jawab Hinata.
"Jaga diri ya Hime." -Cup- Naruto mengecup pipi Hinata, dan kembali ke tempat latihan.
"Eh?" Wajah Hinata memerah, ia memegang pipinya. 'Dia menciumku?'
—
Akademi Konoha 8:00 AM
"Baiklah, sekarang kita mulai ujian Genin." Iruka memanggil beberapa juri penilai.
Lalu dimulailah ujian Genin.
Semua murid maju sesuai urutan, mereka melakukan beberapa jutsu. Setelah semua murid telah selesai melaksanakan ujiannya, kini mereka hanya menunggu hasil ujian mereka.
Setelah beberapa menit menunggu
Iruka berdiri dan melangkah ke depan murid-muridnya ia mulai membaca hasil ujian. "Maka pemenang gelar R.O.T.Y adalah. Sasuke dan Naruto nilai mereka setara." Iruka mengangkat tangan keduanya.
"Merepotkan" Ucap keduanya.
Chapter - 7
A Test?
Setelah pengumuman gelar Rookie of The Year, semua murid kembali ketempat duduk mereka masing-masing. Lalu Iruka mulai menulis di papan tulis tentang pembagian team dan Mentor.
Team 1-6 (Gak tau jadi Skip):
Team 7 - Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Uzumaki Naruto Mentor Hatake Kakashi
Team 8 - Inuzuka Kiba, Aburame Shino, Hyuuga Hinata Mentor Yuuhi Kurenai
Team 10 - Yamanaka Ino, Nara Shikamaru, Akamichi Chouji. Mentor Sarutobi Asuma
Itulah yang ditulisnya di papan tulis.
"Nah, itu adalah pembagian team dan mentor, mulai hari ini kalian akan mendapat bimbingan dari para pembimbing kalian masing-masing. Sensei harap yang terbaik dari kalian." Ucap Iruka, ia memandang seluruh muridnya.
Banyak terdengar keluhan dari para gadis, dan teriakan lantang Sakura.
"Untung benar dia, bersama dua pangeran sekaligus." Cibir beberapa kunoichi.
"Ck, merepotkan." Keluh Shikamaru, karena mendengar keributan itu.
"Diam! Itu sudah menjadi keputusan Hokage-sama, dan para anggota dewan serta tetua desa." Iruka menjeda kalimatnya, setelah yakin semua murid telah tenang. Kembali ia bicara. "Baiklah, ini untuk semua murid. Tunggulah mentor kalian masing-masing, mereka akan menjemput kalian disini." Iruka mulai menyusun dokumen-dokumen di atas mejanya. "Sementara Sensei akan mengurus laporan." Ia melanjutkan kalimatnya. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan ruangan guru dan meninggalkan para muridnya untuk bertemu para pembimbingnya.
Beberapa saat kemudian
Banyak anggota team lain yang telah di jemput oleh pelatih mereka, tapi tidak dengan Team 7 mereka masih menunggu sang Mentor.
Kini bahkan sudah hampir satu jam, dan kelas juga telah lama sunyi, karena para murid semuanya telah dijemput oleh sang pelatih. Team 7 masih setia menunggu.
Setelah lama menunggu
"Haah, lama banget." Entah sudah yang keberapa kalinya Sakura mengeluh tentang hal itu, mereka tengah menunggu di kelas selama tiga jam. Naruto hanya tidur, ia tau pasti kebiasaan mantan gurunya itu. Sedangkan Sasuke, ia sibuk dengan dunianya sendiri.
*Poof* Tiba-tiba. "Ma'af, aku t-"
"Telat, karena makan kebanyakan, terus sakit perut. Atau, liat nenek-nenek terus niat ngebantuin malah dikira perampok?" Naruto langsung memotong alasan tidak jelas tersebut dengan nada malas.
"Hehe, Naruto. Jangan ngambek gitu dong" Jawabnya sambil tersenyum miris dan menggaruk belakang kepalanya.
Sakura yang tadinya ingin marah malah bengong. "Eh? Kalian sudah saling kenal?" Tanyanya sambil memiringkan kepalanya, ia bingung akan keakraban mereka.
"Begitulah." Jawab Kakashi, dan dibalas anggukkan Naruto.
"Baiklah, temui aku di atap gedung." *Poof* Lalu ia pergi.
"Teme, ayo!" Naruto menyadarkan Sasuke yang masih dalam dunia mimpinya.
"Hn." Sasuke membuka mata, dan mengangguk malas.
"Ayo kita pergi bersa-" Saat Sakura melihat ketempat dua pangeran itu, dia tidak melihat keduanya. "-ma? Kemana mereka?" Sakura bingung, lalu ia berjalan menuju atap dengan kesal. 'Tega! Tega! Tega!' Kata itu yang terus terulang dalam benaknya, sebelum-
*Poof* "Mau aku antar?" Sasuke datang mengulurkan tangan.
"A-aa, terima kasih." Wajah Sakura merona, ia menyambut uluran tangan Sasuke. Mereka saling menggenggam tangan masing-masing, dan berjalan menuju atap bersama.
Setibanya mereka di atap, Sakura melihat Naruto tengah berbaring dan mengobrol dengan Mentor mereka.
"Akhirnya, ia datang." Kakashi menghentikan pembicaraan mereka. "Baiklah, sekarang kita berkenalan. Sebutkan saja yang kalian mau." Kakashi berdiri, dan mengeluarkan buku favoritenya
"Sensei duluan, sebagai perkenalan." Sakura mengusulkan, karena mereka belum saling mengenal.
Kakashi mulai berfikir. "Baik. Aku, Hatake Kakashi. Hobi, Umh.. -Geleng-. Cita-cita, Uhm.. -Geleng lagi-. Kesukaan dan hal yang dibenci, aku juga lupa. Sudah itu saja." Kakashi menyelesaikan perkenalannya.
'Apa-apan itu?' Batin Sakura, dan Sasuke. Sedangkan Naruto hanya menghela nafas.
"Baiklah, sekarang giliran kalian. Hm.. Bagaimana bila dimulai dari kamu nona, ladies first." Ucapnya sambil menunjuk Sakura.
"Namaku, Haruno Sakura. Hobi, belajar. Cita-cita, jadi istri yang baik." Ia mulai melirik kanan dan kirinya. "Kesukaan, belajar memasak. Hal yang dibenci, dijauhi oleh teman-teman." Sakura memperkenalkan diri.
"Namaku, Uzumaki Naruto. Hobi, berlatih. Cita-cita, menjadi seperti harapan Tou-san. Kesukaan, masakan Kyuu-nee dan ramen. Hal yang dibenci menjadi lemah." Ucapnya bersemangat.
"Namaku, Uchiha Sasuke. Hobi, berlatih. Cita-cita, mengungkap sesuatu tentang seseorang. Hal yang disukai, masakan Kyuu-nee -" Ia melihat Naruto mendelik."Apa? Emang enak kok. Hal yang dibenci, tak berdaya saat dibutuhkan." Sasuke berkata, Naruto hanya berguman. "Hei, kita lama bersama. Jadi bukan kebetulan jika kita ada kemiripan." Sasuke membalas tatapan mata Naruto, mereka saling membagi deathglare manis andalan mereka.
'Mereka sudah berubah, baguslah.' Kakashi tersenyum. "Oke, besok kita adakan ujian Genin. Harap jangan sarapan, atau pasti kalian memuntahkan semua isi perut kalian." Lalu ia pergi begitu saja.
Merekapun bubar, Naruto dan Sasuke kembali berlatih sedangkan Sakura pulang kerumah. Sakura masih memikirkan ujian itu, ia merasa aneh tentang itu.
'Bukankah kita telah menyelesaikan ujian, dan lulus dari akademi.' Itulah yang ada dalam benak Sakura.
'Sudahlah, kita butuh istirahat. Tidak perlu memikirkan hal-hal aneh.' Inner Sakura bicara, berusaha menenangkan sang Outer.
'Yah, kau benar Inner. Kita harus beristirahat untuk besok.' Ucapnya, seraya melangkah lebih cepat.
Hutan Kematian 6:00 PM
Naruto dan Sasuke selesai berlatih, kini mereka sedang berjalan keluar hutan untuk kembali kerumah dan beristirahat.
"Haah, aku masih belum dapat mengendalikannya." Keluh Sasuke.
"Hn, bagaimana jika kau melatih elemen petirmu saja ?" Usul Naruto.
"Baiklah, tapi siapa yang akan membantuku. Bukannya kau tidak memiliki elemen petir?" Tanya Sasuke, ia bingung akan usul Naruto.
"Dia." Naruto menunjuk kearah pohon. Sasuke menoleh kearah yang ditunjuk oleh telunjuk Naruto, dan ia merasakan kehadiran seseorang.
"Sensei, sejak kapan?" Sasuke sedikit kesal, karena mereka telah diikuti.
Kakashi menampakkan dirinya . "Ketahuan ya?" Kakashi mulai berjalan menuju mereka. "Aku baru saja sampai disini, hanya jalan-jalan." Tambahnya, mengerti akan tatapan tidak suka mereka padanya.
Naruto dan Sasuke tidak memperdulikan itu, dan terus berjalan. Kini mereka bertiga berjalan bersama.
"Bagaimana Sensei, mau tidak?" Naruto bertanya, ia memecah keheningan.
"Tentang apa Naru-kun?" Ucap Kakashi, ia mengeluarkan bukunya.
"Melatih elemen petirku Sensei." Sasuke masuk dalam pembicaraan.
"Ok, mulai besok aku melatih mu Sasuke." Kakashi tersenyum, ia dengan senang hati melatih muridnya.
"Jangan terlambat, atau kau akan menyesal Sen-sei." Sasuke mengaktifkan MS, sungguh ia sangat membenci kegiatan yang bernama 'menunggu'.
"Sabarlah Teme." Naruto menepuk pundak Sasuke, lalu pergi diikuti dengan Sasuke yang masih memasang wajah iblisnya.
Kakashi yang melihat MS Sasuke, bergidik ngeri. 'Hah, ciri khas Uchiha. Walau banyak perubahan yang sangat besar, ia tetap dingin dan mengerikan.' Batin Kakashi sweatdrop.
Esoknya
Desa Konoha - Tempat latihan Area 7/Team 7 8:00 AM
Team 7 yang mendapat pesan dari Pakkun, anjing Kuchiyose milik Kakashi. Ia berpesan bahwa mereka harus menunggu di tempat latihan Team 7. Disinilah mereka, menunggu Kakashi yang pastinya akan telat lagi.
"Hey, kenapa kalian membawa bekal?" Sakura bingung melihat kedua temannya mulai memakan bekal mereka. "Sensei berpesan, bahwa kita tidak boleh sarapan kan?" Sakura mengingatkan.
"Kau mau?" Tanya mereka, tidak menanggapi pertanyaan Sakura.
"Tidak, aku tak mau memuntahkan kembali isi perutku." *Kkruuyuk-Kruyuuk* Sakura sungguh merasa malu, perutnya saat ini sungguh tidak bersahabat. 'Uh, disaat begini?'
"Sudah, makan saja. Aku sudah kenyang kok, jangan ikuti saran orang aneh itu." Naruto memberikan bentonya.
"Hn, dia benar. Alasan yang tak masuk akal, melarang kita sarapan." Tambah Sasuke, ia juga menambah beberapa dadar gulung, dan shushi pada bekal yang diberikan Naruto.
Sakura mulai merasa lebih lapar, ia menerima bekal dari mereka. "Arigatou." Ia meresa pipinya mulai memerah, ia sungguh terhanyut melihat kedua pangeran impiannya memperhatikan dirinya. 'Oh, Kami-sama. Aku pasti gadis yang sanga~t beruntung.'
Beberapa jam kemudian
*Poof*
"Ma'af, ak-" *Trang* Kakashi segera menangkis dua kunai yang mengarah kepadanya. 'Uh, sambutan yang hangat.' Batinnya.
"Kali ini, kau akan menyesal." Potong Naruto dan Sasuke, wajah mereka menjadi dingin dan sangat sangar dengan hiasan senyuman iblisnya.
'Uh, apakah aku akan mati?' Batin Kakashi horror, melihat seringai mereka. "Sudahlah, aku kan sudah minta ma'af. Sekarang kita akan mengadakan ujian merebut lonceng." Kakashi mengeluarkan dua buah lonceng. "Jika kalian ingin mengambilnya, kalian harus berniat dan mengeluarkan nafsu untuk membunuh ku." Naruto dan Sasuke kembali menyeringai iblis. 'Sial, aku keceplosan.' Batin Kakashi miris. "Ujian kali ini lebih sulit, karena bila kalian gagal, maka kalian akan kembali ke akademi." Kembali ia menjelaskan, dan berusaha menutup kekhawatirannya.
"Maksud Sensei?" Tanya Sakura, terlihat bulir keringat mulai menetes. Ia sangat shock dengan penuturan Kakashi.
"Dari semua murid yang ikut ujian, hanya 9 orang atau sama saja dengan 3 team yang akan lolos." Jawabnya sambil tersenyum dibalik maskernya.
"NANI?" Sakura benar-benar sangat shock. 'Maka, kita yang akan gugur' Inner Sakura pasrah, aura kehampaan menjadi background Inner Sakura.
Sedangkan, Sasuke dan Naruto hanya bosan mendengar penjelasan Senseinya itu. Karena menurut mereka, itu hanya memperlambat eksekusi mereka terhadap sang Mentor.
"Baiklah, kita mulai." *Poof* Bersamaan dengan itu para lelaki menghilang.
Sakura langsung bersembunyi, sesaat setelah gurunya memulai test. Ia mencoba mencari keberadaan gurunya.
"Sakura." *Deg* Ia mendengar seseorang memanggilnya, ia menoleh kearah sumber suara tersebut.
*Deg* "Sa-su-ke-kun, ken-apa Na-na-ruto-kun berdarah?" Sakura melihat keduanya terluka parah.
"Nah-ru-toh *Uhuk* mati. Ahk, *Uhoek*" Sasuke mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.
"KYAAAA!" Sakura langsung pingsan, ia terlalu shock akan kejadian beruntun yang menimpanya.
"Haah, ternyata ia juga masih belum banyak berubah." Kakashi sweatdrop, melihat Sakura yang dengan mudahnya dibuat pingsan oleh ilusinya.
"Ck, ck, Sensei.. Kau seharusnya jangan berlebihan memberikan ilusi seperti itu pada seorang gadis." Terlihat Sasuke yang sedang bersandar pada pohon didepannya.
'Sial, sejak kapan?' "Haha, ma'af." Ia tersenyum,*Poof* lalu pergi.
"Naruto, kau sudah tau dimana dia?" Sasuke bertanya pada Naruto yang baru saja tiba.
"Ya, bagaimana? Apa kita mulai saja." Ucap Naruto sambil terkekeh.
"Baiklah, cukup 30 saja Naruto. Itu sudah lebih dari cukup."
"Yah aku tau, karena kurasa ia hanya memakai 60% kekuatannya, meremehkan kita, eh?" Naruto Hiraishin ketengah lapangan. Ternyata disana sudah ada Kakashi.
"Kita mulai, Wind Release : Wind Breaktrough." Angin kencang menerpa Kakashi, dan menerbangkannya.
"Boleh juga." Ia memasukkan lagi bukunya. 'Aku harus serius.' Ia mendarat dan. "Fire Release : Great Fireball."
"Wind Release : Wind Armor." Api itu mulai menerjang Naruto, dan semakin besar karena efek armor anginya.
'Apa dia bodoh?' Batin Kakashi yang melihatnya.
"Ck, Fire Release : Fire Armor." Sasuke menyerap api itu, dan terbentuklah baju zirah api yang menyelimutinya.
'Apa itu?.' Kakashi kembali waspada saat melihat mereka terselimuti api dan angin. 'Aku harus lebih berhati-hati.'
"Ninja Art : Thousand Shadow Clone Technique." *Poof* Seluruh arena terkepung ratusan Naruto. "Thousand Rasengan."
"Fire Release : Meteorite." Sasuke mengeluarkan api besar keatas, dan mulai jatuh ratusan meteor kecil.
'Apa mereka benar-benar ingin membunuhku?' Kakashi shock, ia melihat ratusan Naruto dan Rasengannya juga banyaknya api meteor kecil yang mengarah padanya. "Earth Release : Earth Dome." Kubah itu menutup Kakashi, tapi sayang tidak dapat menahan serangan maut itu. Tapi, saat asap hilang disana hanya ada potongan serpihan kayu.
"Kau siap?" Naruto bersiap, ia merangkai handseal. 'Wind Release : Zero Air.'
"Hn." Sasukepun bersiap, dan merangkai handseal. 'Fire Release : Burning Great Dragon King.'
"Combination Technique : Eternal Fire Dragon." Mereka membentuk Naga api yang besar, Naga itu menuju sungai.
'Sial, Water Release : Great Water Dragon.' Air dimana tempat Naga api akan terjang, kini membentuk Naga api yang sama besarnya.
"Kalian hebat." Kakashi muncul, tapi ia terkaget. Naga api itu terus menujunya setelah menebas Naga air miliknya. 'Kuat, mereka sangat kuat. Kombinasi dan kerjasama mereka sangat bagus.' Saat Naga itu hampir menghajarnya. "Water Release : Waterfall Stronghold." Terbentuk dinding air besar yang melindungi Kakashi, tapi Naga itu tetap dapat menerobosnya dan saat ingin melilitnya-
*Poof* Naga itu berubah menjadi Sasuke. "Dapat!" Serunya, ia telah merebut lonceng itu dari Kakashi.
Kakashi masih terpana, ia tak mengira dirinya masih hidup. "Kalian hebat, benar-benar kerjasama team yang bagus." Kakashi memuji, ia masih tidak menyangka jurus tersebut adalah Henge.
"Kau tau Sensei, itu akan benar-benar membakarmu bila kau telat lagi." Sasuke menyeringai.
*Glek* "Ha-ha. Ma'af, a-aku ta-u aku sa-salah." Kakashi mulai gugup. 'Kami-sama, tolong aku.'
Setelah itu
-Sakura P.O.V
Aku merasa sesak, dan dan pusing. "Dimana aku?" Aku membuka mata.
"Kau akhirnya sadar." Seseorang berkata, aku masih belum dapat melihatnya dengan jelas.
Aku mengerjapkan mataku beberapa saat. Kini kulihat Naruto dan Sasuke sedang makan bersama Kakashi-sensei di depan ku.
1
2
3
"AAAA.. HANTUUU." Reflek aku berteriak mengingat kembali kejadian sebelumnya.
Mereka menutup kuping dan menatap tajam padaku.
"Hei, maksudmu?" Tanya Naruto, sedangkan Sasuke hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuanku.
"Bukannya kalian telah terbunuh?" Tanyaku polos. 'Ia aku setuju denganmu.' Tambah Inner Sakura.
"Tadi itu hanya genjutsu." Ucap Sasuke datar tanpa melihat kearah ku.
"Iya itu benar, dan kau kuhukum karena lengah hanya karena ilusi seperti itu." Kakashi berdiri. "Siapapun yang memberinya makan siang. Kunyatakan GU-GUR, dan selamanya tetap di Akademi." Ia menekankan kata gugur, lalu pergi meninggalkan mereka.
"Eh?" Aku baru menyadari bahwa aku sedang terikat, di salah satu tiang latihan. 'Sial, kenapa harus aku?' Aku menyesal, telah lengah juga ceroboh.
Sakura P.O.V End-
-Normal P.O.V-
Setelah yakinn Sensei mereka telah pergi, Sasuke berjalan mendekati Sakura. "Makanlah, kau nanti sakit bila tidak makan." Ucapnya, ia hendak menyuapi Sakura. Sakura menggeleng, ia takut mereka dinyatakan gugur karena dirinya.
"Benar." Sambung Naruto. "Lagipula bila kau tak makan lalu sakit, kami yang repot nanti." Naruto menambahkan.
Sakura sangat bersyukur. "Arigatou, ma'af merepotkan." Ia menerima suapan dari Sasuke, mukanya memerah menerima perlakuan yang menurutnya romantis itu.
*Poof* "KENAPA KALIAN MEMBERINYA MAKAN!?" Kakashi mulai mengaktifkan Sharingan, Sakura yang menatapnya menjadi takut.
'Celaka, kita pasti gugur.' Batin Sakura, ia sangat-sangat terkejut.
"Hn, memang salah?" Jawab Sasuke datar, dan masih mencoba menyuapi Sakura. Tapi Sakura berusaha menolak.
"Kau seharusnya lebih tau, Sensei." Naruto menimpali, dan merebahkan badannya.
"Haah, kalian tidak seru. Baiklah, kalian LULUS!" Kakashi kecewa karena kedua anak itu memang sudah mengerti, dan bahagia karena mereka juga sangat mengerti maksudnya.
"Haah?" Sakura hanya bisa cengo, karena ia belum mengerti apa yang terjadi.
"Begini, orang yang melanggar perintah adalah sampah. Tapi, orang yang menelantarkan temannya itu lebih dari sampah. Aku senang kalian mengerti." Kakashi tersenyum.
"Jadi kami lulus?" Tanya Sakura, sungguh ia masih belum dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Begitulah." Jawab Sensei mereka, sambil mengangguk dan memberikan senyumannya.
1, Loading.
2, Connecting.
3, Finnish.
"Yey, kami lulus!" Sakura segera memeluk Sasuke yang telah melepaskan ikatan Sakura. "Ma'af." Dia menunduk malu, Sasuke hanya tersenyum.
"Tapi kau butuh latihan." Seringai Naruto, seketika itu Sakura menundukkan kepalanya. Lagi.
"Sakura, kau pasti dapat menjadi lebih kuat." Sasuke menepuk pundak Sakura, mencoba memberinya semangat.
"Kau mungkin mau berlatih bersama denganku dan Hinata-chan nanti?" Ucap Naruto, sembari memasang senyuman khasnya.
"Eh, kau berlatih dengan Hinata?" Sakura kaget, seraya menatap Naruto.
"Ya, hanya kadang-kadang." Naruto tersenyum lagi, dan mengangguk.
"Kenapa Sasuke-kun tidak ikut?" Tanyanya lagi.
"Dia akan dilatih oleh Kakashi-sensei." Jawab Naruto saraya pergi meninggalkan mereka.
"Itu benar." Kakashi hanya tersenyum lalu pergi dengan Sunshin.
"Sakura, ayo pulang!" Ajak Sasuke.
"Baik!" Serunya.
Merekapun berjalan bersama dibelakang Naruto yang berada didepannya
Sorenya
Hutan Kematian 15:00 PM
Naruto kini sedang melatih Hinata, karena ia tidak mengerti jurus dan Kekkei Genkai Clan Hyuuga. Naruto hanya melatih stamina, reflek, dan fisik Hinata saja. Selebihnya adalah usaha dari sang Heirres Hyuuga itu sendiri.
"Hinata-chan, perkembanganmu sangat pesat." Puji Naruto, sembari memberikan senyuman andalannya.
"Te-terima ka-kasih, Na-ruto-kun." Hinata tersenyum, wajahnya memerah.
"Bagaimana kalau kita duel?" Ajak Naruto.
"Eh?" Hinata tersentak. "A-aku ta-takut." Ia terkaget akan ajakan Naruto, dirinya belum cukup kuat.
"Kau pasti bisa." Naruto meyakinkan.
"Ta-tapi, Naruto-kun. Aku masih belum yakin akan itu." Jawab Hinata lirih, ia kini menundukkan kepalanya dan menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Baiklah, aku hanya akan melihat perkembangan mu Hime." Sadar akan kekurangan Hinata, Naruto hanya pasrah.
"Ba-baik." Hinata mengangguk, dan tetap menundukkan wajahnya yang memerah.
Mereka mulai bersiap. "Jangan menahan diri Hianata-chan, serang aku."
"Ha'i, Gentle Fist : 8 Tiagram 64 Palm." Mulai ia memasang kuda-kudanya, ia menyerang Naruto. Serangan demi serangan terlepas, Naruto sesaat kagum melihat Hinata yang terlihat seperti menari. Dan karena kecerobohan itu, ia terkena beberapa pukulan terakhir dengan telak. Ia tersungkur, tapi ia tersenyum.
"Kau hebat, Sealed Technique : Kunai Bank, Kai!." Ia telah mempersiapkan beberapa segel. "Tahan ini, Hinata-chan!" Serunya, dan puluhan, tidak mungkin ratusan kunai keluar dari beberapa segel yang telah terpasang disekitar Hinata, dan mulai mengarah kearahnya.
"Gentle Fist : Perotection of 8 Tiagram 64 Palm." Ia mulai menahan ratusan kunai yang keluar dari segel dengan membentuk kubah chakra, ia bertahan dalam posisinya selama lima menit.
"Cukup! Kai!" Segel itu berhenti menyerang. "Kau masih kuat?" Naruto memegang tangannya, dan menahan Hinata agar tidak jatuh.
"I-iya, ak-akuh ma-masih kuath." Hinata tersenyum. 'Dia sungguh sangat perhatian. Kami-sama, dia sungguh lembut padaku.'
"Oke, pegang ini." Naruto memberi kertas chakra, Hinata memegangnya. "Aliri chakra!" Seru Naruto.
"Ha'i." Hinata mengaliri kertas chakra itu, dan kertas itu kusut.
'Hm.. Aku yakin ada dua, kenapa satu?' Naruto mengamati. "Cukup, sepertinya kau memiliki elemen petir." Naruto menjelaskan.
"Eh? Benarkah?" Tanya Hinata.
"Yosh! Karena itu nanti Hinata-chan, berlatih dengan Sasuke. Itu juga kalau dia sudah bisa memakai elemen petirnya." Naruto mulai berbaring.
Hinata duduk disebelahnya. "Arigatou, Naruto-kun."
"Hn." Naruto terlelap. "Sebentar lagi Nee-chan datang." Ucapnya sesaat sebelum ia tertidur.
Hinata terus menatap wajah Naruto. 'Betapa polosnya dia saat tertidur.' Fikirnya, dan *Poof* "Hina-chan, jangan mesum ya!" Seru seseorang.
"Eh? K-Kyuu-nee-chan, ti-ti-dak kok." Hinata menunduk malu, ia menautkan telunjuknya.
Kyuu hanya tertawa, dan menawarkan berlatih bersama, meninggalkan Naruto yang kecapekan.
Malamnya
Hutan Kematian 8:00 PM
Naruto terbangun, ia melihat Nee-chan sedang tidur dipangkuannya. 'Hah, pantas dari tadi terasa berat.' Lalu ia membetulkan posisi tidur Kyuu, dan bangun dari posisinya.
"Saatnya penyempurnaan Teleport." Ia mulai berlatih.
Ia melangkah, dan menenangkan diri.
Setelah beberapa saat, ia menghilang tanpa kunai dan. "Ahk, kepalaku serasa pecah." Dia terhuyung di lompatan pertama. "Mengatur laju dimensi memang sulit, tapi aku puas bisa menahan alur waktunya." Ia tersenyum, latihan itu terus berlanjut.
Kyuu menggeliat karena kehilangan bantalnya -Paha Naruto-. "Eh? Mana dia?" Kyuu mulai terbangun. 'Haah, berlatih lagi.' Ia mulai khawatir, jurus itu berbahaya bila kurang dalam konsentrasi, karena pengguna dapat terdampar dalam dimensi ruang dan waktu yang entah dimana. "Tapi kurasa Naru-chan akan baik-baik saja." Ia tersenyum, saat melihat kilatan-kilatan cahaya di atas pohon.
Esoknya
Hutan Kematian 2:00 PM
Setelah selesai Akademi, Sakura dan Hinata menuju tempat latihan bersama Naruto
"Naruto-kun, kita berlatih disini?" Tanya Sakura sedikit ngeri, saat akan memasuki hutan.
"Hn." Jawab Naruto ambigu, dan terus melangkah.
"Ti-tidak a-apa-apa kok Sakura-chan." Hinata menenangkan Sakura, dan mengikuti Naruto.
"Ba-baik." Sakura mengekor, walau ia merasa takut akan hutan itu.
Sesaat setelah sampai, mereka mulai berlatih. Naruto membuat satu clone dan melatih Hinata. Sedangkan clone Naruto melatih Sakura tehknik dasar.
Mulai saat itu mereka sering berlatih bersama, dan perkembangan Hinata dan Sakura maju pesat, Hinata mulai terbiasa dan lebih percaya diri -Tapi kenapa depan Naruto tetap jadi pemalu?- -Hinata: Biarin, dia kan beda*Blush*-. Kini Sakura tahu bahwa elemennya adalah tanah, dan mulai menguasai beberapa jurus elemen tanah, karena Naruto telah memberi beberapa scroll Jutsu elemen tanah padanya.
-Skip Time-
Satu bulan kemudian
Desa Konoha - Taman 8:00 AM
"Roger, sepertinya itu sasaran kita." Ucap seseorang.
"Apa kalian yakin?" Jawab suara berat seseorang.
"Hn, ciri-cirinya sangat cocok." Ucap suara lain.
"Naruto, bersiap!" Ucap suara yang lebih berat itu.
"Sensei, biar aku saja. Kalian cukup melihat saja." Naruto menguap.
"Baklah." Kakashi setuju. 'Apa dia bisa?' "Baiklah, sasaran terdeteksi di ujung gang tersebut." Ucapnya sembari menunjuk salah satu gang.
Setelah menunggu 5 menit, datang Naruto bersama kucing di gendongannya.
"Ah, lucunya." Naruto membelai kucing itu.
"Hn." Gumam Sasuke.
"Kawai!" Sakura juga ikut membelai kucing itu.
"Kenapa dia jadi penurut ya?" Tanya Kakashi heran.
"Ra-ha-si-a." Seru Naruto, ia memperlihatkan senyuman rubahnya.
"Baiklah, kita lapor pada Hokage." Kakashi dan Team 7 melangkah kembali ke kantor Hokage untuk melapor.
Ruang Hokage 8:19 AM
*Tok-Tok-Tok*
"Mereka sudah datang." Ucap Hiruzen.
Team 7 memasuki ruangan.
"Tora!" Ibu itu memeluk, -ralat- menggencet kucing itu.
"Ibu, jangan seperti itu. Nanti kabur loh!" Naruto mendekat lalu mengelusnya, kucing itu sepertinya menurut pada Naruto. Lalu Naruto mulai menjelaskan cara merawat kucing.
"Eh? Begitu ya?" Ibu itu ikut meniru dan mendengarkan penjelasan dari Naruto. "Hokage-sama, bayarannya akan kunaikan karena anak itu telah memberitahuku cara merawat Tora." Ibu itu tersenyum. "Arigatou.. Hm?"
"Naruto, Uzumaki Naruto" Ucap Naruto.
"Naruto." Ibu itu lalu pergi, dan kini kucing itu malah mengikutinya.
"Bagaimana bisa?" Kakashi tertegun.
"Hehe, Kyuu-nee. Dia punya kucing dan rubah dirumah, dan aku sering mengurusnya." Jawab Naruto sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
Mereka semua -Kecuali Sasuke- hanya ber'Oh' ria.
"Baiklah, sekarang kalian akan kuberi misi C-Rank pertama." Ucap Hiruzen.
Sakura, Naruto dan Sasuke hanya mengangguk.
"Baiklah, silahkan masuk Tazuna-san." Hiruzen memanggil seorang klien.
"Hei, kenapa cuma anak kecil?" Seseorang masuk kedalam ruangan Hokage.
T.B.C
Bagaimana sudah terobati belum rasa penasaran kalian? Dan maaf kalau sang Typo(s)/Miss Typo(s) masih muncul.
Ma'af bila bagi kalian saya lama update, karena saya hanya mau update pada hari Kamis atau Minggu saja. Jadi, biar sudah dari hari Jum'at saya selesai menyusun naskah cerita, tapi tetap menunggu hari ini (Minggu).
Bagi yang telah menunggu Fic saya, saya ucapkan 'Arigatogozaimasu, semoga karya saya dapat menghibur anda sebagai pembaca.'
Dan mungkin saya mau buat Fic lain, bagi yang setuju boleh PM. Lagipula saya belum punya ide, jadi siapa yang mau nyumbang.
Mohon Reviewnya ya minna, kritik, saran, sanjungan*Maunya*, dan terima kasih sudah membaca Fic saya ini. Semoga saran dan kritik atau ide dan pengarahan dari para pembaca dapat menjadi referensi saya yang masih NUBIE.
At last~
ARIGATOU MINNA
