Title : For U It's Separation, To Me It's Waiting

Author : Nickey Jung Rae Suk

Rating : K+

Cast : YunJae, YooSu, Changmin, Kim Soo Eun, Kim Sang Bum aka KimBum, Kwon Boa, etc.

Genre : YAOI, Frendship, Romance, Hurt (?)

Disclaimer : YunHo MILIK JaeJoong, JeJooong MILIK YunHo, Cerita ini ASLI MILIK saya.

Lenght : 2 of 4

Warning : YAOI, BOY x BOY, Boys Love, Typo(s), Ide pasaran, EYD kacau, Judul ga sesuai dg cerita, No Majas, alur lambat-kadang cepet(?), TIDAK SUKA JANGAN BACA, NO BASH.

.

.

~Chapter 2~

Suasana makan malam itu sangat hening, keceriaan yang sempat terjadi tadi, seketika lenyap. Makanan lezat yang mereka makanpun menjadi terasa hambar. Begitupun dengan Changmin, namja food itu terlihat tidak bersemangat, padahal waktu pertama melihat hidangan tadi ia lah yang paling terlihat senang seperti mendapat kupon berhadiah jutaan won. Tapi entah mengapa selera makannya menjadi menyurut.

"Apa makanannya tidak enak? Kenapa kau tak bersemangat begitu Minnie-ah? Seperti bukan kau saja.." tanya Jaejoong yang melihat Changmin hanya mengaduk- aduk makanannya.

"Aniya, makanannya enak, sangat malah...hajiman, aku bingung harus memakan yang mana dulu, karena semuanya terlihat menggoda,heee..." kilah Changmin beralasan, padahal sebenarnya ia memang sedikit kehilangan selera makannya setelah tadi Jaejoong mengenalkan Soo Eun sebagai istrinya. Mungkin karena ia memikirkan perasaan Yunho Hyung-nya.

"Jaejoong Oppa bilang kalian sangat akrab, dan jika sudah berkumpul pasti heboh, katanya kalian juga sangat cerewet. Tapi... Aku tidak melihat seperti itu.. Apa...apa karena ada aku, jadi kalian merasa tidak nyaman?" ujar Soo Eun terlihat sedih.

"Aniyo! Kami merasa nyaman, hajiman... sudah lama kami tidak berkumpul, jadi sedikit canggung, dan lagi semua makanan ini sangat lezat, sehingga kami terlalu fokus pada makanannya, bukan begitu chingudeul?" sanggah Boa panjang lebar seraya tersenyum kikuk.

"Ehem... Apa yang dikatakan Boa benar Soo Eun-ssi.. Justru Kami merasa senang bisa berkenalan denganmu.." timpal Yoochun membenarkan. Padahal sebenarnya namja Park itu tahu kalau Boa hanya beralasan. "Tapi... jika boleh tahu, kapan kalian menikah? Kenapa kau tak memberitahu kami Jae? Um, maksudku kenapa kau tak mengundang kami?" Lanjut Yoochun. Dan pertanyaan itu sontak membuat Yunho menatap Jaejoong dengan tatapan ingin tahu. Namun Jaejoong segera memalingkan wajahnya.

"Kami menikah di Jerman. Aku tak memberitahu kalian karena... awalnya aku tak ingin kembali ke Hanguk, tapi Soo Eun bersikeras ingin melahirkan di sini, dan aku sebagai suami hanya bisa menurutinya." Jawaban Jaejoong membuat kelima orang itu bungkam. Jadi jika Soo Eun tak memaksa Jaejoong kembali ke Korea, Jaejoong tak akan pernah kembali? Pikir mereka.

"Tapi aku senang bisa bertemu kalian lagi." senyum Jaejoong. "Mianhae.. dulu aku pergi tanpa pamit... Karena... Karena aku rasa saat itu aku harus pergi, terlalu sakit jika aku tetap tinggal di sini." sekarang giliran Jaejoong yang menatap dingin Yunho.

DEG!

Ucapan Jaejoong membuat semuanya terhenyak, terlebih Yunho. Namja tampan itu terasa tertampar dengan ucapan Jaejoong, apalagi melihat tatapan dingin Jaejoong padanya. Namun Yunho hanya diam, ia tak tahu harus berbicara apa. Memang kenyataannya seperti itu bukan? Dirinya sudah membuat Jaejoong sangat terluka hingga membuat namja cantik itu pergi.

"Jae Hyung! Makanan ini namanya apa? Woaaa..mashita..." Changmin mencoba mengalihkan pembicaraan. Namja tinggi itu berpikir masalah Yunho dan Jaejoong tak harus dibicarakan saat itu. Biarlah kedua hyungnya itu membicarakan hal itu nanti jika mereka tengah berdua. Pikirnya.

"Aku juga tak tahu, aku tak begitu hapal nama makanan yang pernah ku cicipi.." jawab Jaejoong datar. Dan hal itu sukses membuat Shim Changmin mencebilkan bibirnya. Yeah.. Memang hanya dirinya saja yang mampu menghapal nama berbagai jenis makanan yang ada di dunia ini.*plakk*

"Kenapa kalian tidak menginap saja?" ucap Jaejoong saat kelima temananya itu hendak pulang.

"Aku tak mau mengganggumu, mungkin kau ingin bermesraan dengan istrimu.. Eu kyang kyang~~" sahut Junsu tertawa, dan ucapannya itu berbuah injakan manis dari Yoochun dan sebuah deathglare dari Changmin. Tapi karena Junsu orangnya polos, ia hanya menatap YooMin tak mengerti.

"Kau pikir kami bisa melakukannya? Kandungan Soo Eun sudah 9 bulan.. aku tak mau jika kami melakukan 'itu' malah akan menyakiti anak kami, haha..." Jaejoong menjawab candaan Junsu sambil tertawa. Sedangkan Changmin hanya berdehem canggung, ia melirik ke arah Yunho yang memalingkan wajahnya mendengar gurauan Jaejoong yang cukup menohok itu.

"Jaejoong Oppa benar, sebaiknya kalian menginap saja di sini, pasti akan sangat menyenangkan." sambung Soo Eun tersenyum. Yeoja cantik itu memang selalu tersenyum setiap kali ia berbicara.(terlalu ramah)

"Geundae Oppa, tiba-tiba saja aku ingin memakan sate kambing, sepertinya itu sangat enak, Oppa mau 'kan membelikannya untukku?" rajuk Soo Eun pada Jaejoong.

"Yya, bukankah kau sudah makan eoh?"

"Tapi aku menginginkannya... Jebal... Demi anak kita... Apa oppa mau nanti anak kita 'ngiler' eoh?"

Melihat Soo Eun yang merajuk membuat Yunho jengah. Apalagi Jaejoong seperti sangat perhatian pada yeoja berambut panjang dan lurus itu.

"Ck, jangan sembarangan bicara!"

"Maka dari itu kau harus membelikannya..nde.. Jebal..."

"Sudahlah, Hyung turuti saja.. Orang hamil memang begitu.." sela Changmin.

"Tapi aku tak tahu harus membelinya di mana Min-ah... Aku baru kembali ke Korea, dan bukankah sate itu makanan khas Indonesia? Pasti sangat susah mencarinya.."

"Bagaimana kalau Yunho mengantarmu? Bukankah dia juga bekerja di Restoran? Pasti tahu dimana harus membeli makanan itu." saran Junsu. Sepertinya Junsu tak sepolos yang diduga, namja imut itu sengaja memberi saran seperti itu, karena ia rasa Yunho dan Jaejoong membutuhkan waktu untuk berdua. Junsu pun mengerlingkan matanya pada Yunho.

"Junchan Hyung benar, sebaiknya Yunho Hyung mengantar Jae Hyung saja.." timpal Changmin setuju. 'Tumben pantat bebek itu pintar?' batinnya tertawa.

"Tapi/ Tapi-" koor YunJae hendak menolak.

"Sudah, sana pergi! Tak baik mengabaikan keinginan wanita yang sedang hamil.." sela Boa tersenyum.

"Nde, ppali-ppali!" titah YooSu semangat. Dan dengan sedikit terpaksa, akhirnya Jaejoong dan Yunho pun pergi.

Selagi Yunho mengantar Jaejoong, Yoochun dan ketiga temannya menunggu di rumah Jaejoong, sekalian mengakrabkan diri dengan yeoja hamil yang katanya istri Jaejoong itu.
.

.

.

Sudah 20 menit Yunho dan Jaejoong berkeliling mencari Restoran makanan Indonesia, cukup sulit karena waktu menunjukan hampir pukul 11 malam, selain itu Restoran tersebut masih belum banyak di Seoul.

Selama perjalanan itu tak ada percakapan diantara mereka. Yunho mengemudikan mobilnya dengan tenang, keduanya terlihat canggung, tetapi tak ada yang mau bersuara, mereka seolah tenggelam dengan pikirannya masing-masing.

Dan akhirnya mereka menemukan juga Restoran yang dicari.

Yunho menepikan mobilnya dan dengan segera Jaejoong keluar dari mobil itu tanpa sepatah kata pun, ia masuk meninggalkan Yunho yang menatapnya sendu dari dalam mobil.

Yunho menghela nafasnya, ia masih tak percaya dengan kenyataan yang ia terima, Jaejoong sudah beristri dan bahkan akan mempunyai seorang anak?

Lalu apa artinya penantiannya selama ini?

Apakah memang sudah tak ada kesempatan baginya untuk bersama Jaejoong?

"Maaf membuatmu menunggu lama.." lamunan Yunho terganggu ketika Jaejoong masuk ke mobilnya, namja cantik itu duduk dan memasang kembali seatbelt-nya.

"Gwaenchana.." jawab Yunho singkat. Kemudian namja tampan itu mulai mengemudikan kembali mobilnya.

Masih tak ada yang bersuara. Jaejoong malah asik mencium aroma makanan khas Indonesia itu sambil tersenyum. Entah mengapa ia jadi ingin cepat tiba di rumahnya dan ikut memakan sate yang aromanya sangat menggoda itu. Padahal tadi ia makan cukup banyak.

Lain halnya dengan Yunho, namja tampan itu sedang berpikir keras bagaimana cara ia dan Jaejoong bisa meluruskan masalah mereka, kendati sebenarnya tak ada yang harus diluruskan.

"Waeyo? Mengapa berhenti?" bingung Jaejoong saat tiba-tiba Yunho menepikan mobilnya tepat di tengah jembatan Sungai Han.

Yunho menoleh ke arah Jaejoong yang tengah menatapnya heran.

"Kenapa kau pergi begitu saja Jae?" tanya Yunho to the point.

Jaejoong memalingkan wajahnya menghindari tatapan tajam Yunho. "Karena aku ingin." jawabnya dingin.

"Wae? Apa karena kau marah padaku?"

"Bukankah waktu itu aku menyimpan pesan menyuruhmu untuk datang ke taman?"

"Jawab aku Jae?" bentak Yunho karena sedari tadi Jaejoong hanya terdiam.

"Sebaiknya kita pulang, Soo Eun pasti menungguku."

"Apa kau hanya mempedulikan Soo Eun eoh? Tak bisakah kau melihatku?...ani, aku tahu Jae, kau masih peduli padaku. Aku juga tahu kau masih mencintaiku. Aku tahu-"

"Geuman! Aku lelah Yun! Aku lelah terus mengejarmu yang tak pernah melihatku..." pekik Jaejoong. Hatinya kembali sakit saat ia teringat perjuangannya mendapatkan cinta Yunho yang sia-sia dulu. Di saat ia sudah bisa menata hatinya kembali, mengapa Yunho harus mengungkit lagi hal yang menyakitkan itu? Tak bisakah Yunho bersikap biasa seolah dulu tak pernah terjadi apa-apa pada dia dan dirinya?

"Aku mencintaimu."

DEG

Jaejoong menatap Yunho dengan mata yang sudah memerah menahan tangis.

"Aku mencintaimu..." ulang Yunho. "Saat itu aku berencana mengungkapkan perasaanku padamu.. Aku sadar, aku terlalu pengecut untuk mengakui perasaanku. Mereka benar, aku tak pandai mengekspresikan perasaanku jika aku juga menyukaimu... Kau tahu Jae? Saat kau pergi, aku merasa sangat menyesal. Aku kehilanganmu tanpa sempat menyatakan isi hatiku yang sebenarnya. Aku-"

"Boa!" potong Jaejoong. " Bukannya kau menyukai Boa?" lirih Jaejoong tertunduk menyembunyikan airmatanya.

"Aku memang menyukainya. Tapi aku tak mencintainya."

"Huh?"

"Lagi pula Boa menyukai orang lain..." imbuh Yunho. Dan seketika ia terperanjat. "Ommo, apa kau pergi karena menganggap aku berhubungan dengan Boa?"

Dengan cepat Jaejoong memalingkan wajahnya. Pertanyaan Yunho memang tepat.

"Jae?"

"Sebaiknya kita lupakan masa lalu... Sekarang aku sudah menikah Yun, dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah." sergah Jaejoong.

Yunho terdiam sejenak. Ia tertawa sumbang. "Aku tak percaya jika dia istrimu." cibirnya menyeringai.

"Tapi itu kenyataanya. Soo Eun memang istriku."

"Aku mencintaimu Jae!" Yunho memukul stirnya membuat Jaejoong terhenyak. "Tak bisakah kita bersama? Selama 3 tahun aku selalu mencarimu dan menantimu... Aku, aku sangat terpukul saat kehilanganmu Jae, neon.. moreugesseo?" lirihnya menatap nyalang Jaejoong.

"Jangan egois Yunho-yah! Kau harus bisa menerima kenyataan kalau kit- mpphh..." Dengan cepat Yunho menangkup wajah Jaejoong dan menyambar bibir cherry itu menciumnya lapar. Jaejoong berusaha berontak tapi Yunho semakin mendekap wajahnya dan memperdalam ciumannya.

"Yunhmmph..lephhass..mmpphh..mmpckpckpmh.."

Yunho melepaskan ciumannya. Ia menempelkan keningnya dengan kening Jaejoong. Hembusan nafas keduanya beradu, kedua tangan Yunho masih menangkup pipi Jaejoong.

"Saranghae.. Jeongmal saranghae Kim Jaejoong..." bisik Yunho. Kemudian namja tampan itu kembali mencium bibir Jaejoong, kali ini lebih lembut tak sekasar tadi.

"Mmmppckckppmphh..."

Perlahan Jaejoong mulai membalas ciuman Yunho. Entah karena ia terbuai oleh kata-kata Yunho atau memang karena ia menginginkannya. Yang pasti ia tak bisa berpikir logis lagi. Jujur, dari dulu Ciuman itu sangat diinginkannya. Karena dulu saat mereka tinggal bersama, ia hanya bisa diam-diam merasakan kelembutan bibir hati itu ketika pemiliknya sudah terlelap saja. Diam- diam mencuri ciuman namja yang sangat dicintainya itu selalu menjadi rutinitasnya dulu sebelum ia tidur.

Yunho tersenyum ditengah ciumannya. Ia yakin Jaejoong masih mencintainya, jika tidak, mengapa Jaejoong mau membalas ciumannya?

Yunho menekan tengkuk Jaejoong untuk lebih memperdalam ciumannya, ia tersenyum lagi, akhirnya ia bisa merasakan kembali manisnya bibir cherry yang dulu selalu diam-diam menciumnya itu.

Yeah, saat Jaejoong selalu diam-diam menciumnya dulu, ia memang belum tertidur. Ia selalu sengaja berpura-pura tidur lebih dulu dan membiarkan namja cantik itu mencicipi bibirnya.

Geundae wae?

Mengapa dirinya tak menolak, dan malah terkesan menikmatinya?

Harusnya dari sana juga ia sadar, jika dirinya juga memang menyukai namja cantik itu. Hahh...Penyesalan memang selalu datang terlambat.

.

.

.

~*YunJae*~

Kepercayaan diri Yunho untuk mendapatkan kembali Jaejoong semakin bertambah sejak kejadian malam dimana ia dan Jaejoong kembali berciuman. Bukan tanpa alasan, Yunho yakin jika Jaejoong masih mencintainya. Terbukti namja cantik itu juga membalas ciumannya, walaupun setelah itu Jaejoong memintanya untuk bersikap layaknya teman biasa dengan alasan sekarang Jaejoong sudah memiliki seorang istri yang tengah mengandung anaknya, tapi Yunho tak mengindahkannya. Ia yakin Jaejoong menyembunyikan sesuatu darinya. Dan ia harus mencari tahu sesuatu itu.

"Sampai kapan kau akan terus mengikutiku Jung Yunnie?" tanya Jaejoong jengah, ia terus berjalan di parkiran kampusnya. Jaejoong memang belum lulus kuliah, maka dari itu ia meneruskan study-nya di Seoul pindah dari Jerman.

"Aku ingin mengajakmu makan siang di Restoran tempat kerjaku." sahut Yunho mengikuti langkah Jaejoong. Namja tampan itu sengaja datang ke kampus Jaejoong hanya untuk mengajak Jaejoong makan siang.

Jaejoong menghentikan langkahnya dan menatap Yunho. "Kau tidak bekerja?" selidiknya.

"Hari ini aku bekerja sampai siang." jawab Yunho tersenyum. "Eotte, kau mau 'kan?"

"Mian, siang ini aku harus mengantar Soo Eun ke Rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.. Jadi... Lain kali saja ne, Yunnie.."

"Tapi-"

"Annyeong..." Tak mengindahkan Yunho, Jaejoong kembali meneruskan langkahnya menuju mobilnya. Namja cantik itu masuk, kemudian menjalankan mobilnya pergi setelah sebelumnya tersenyum puas dan menyalakan klakson tanda 'pamit' pada Yunho.

Yunho masih mematung di tempatnya.

"Hahh..." Menghela nafas, Sebegitu susahnya kah meluluhkan hati Jaejoong?

Jaejoong memang tak memperlihatkan kebencian pada dirinya, tapi Yunho yakin Jaejoong kecewa padanya. Menurutnya panggilan 'Yunnie' hanyalah sebuah klise saja. Ia bisa merasakan perbedaan intonasi saat Jaejoong memanggilnya 'Yunnie'. Dulu panggilan itu terdengar manja, namun sekarang panggilan itu terdengar datar dan seperti dipaksakan.
.

.

Dengan hati-hati Jaejoong memapah Soo Eun keluar dari mobil. Mereka baru saja pulang dari Rumah sakit memeriksakan kandungan Soo Eun yang sudah memasuki bulan terakhir itu.

"Hati-hati..."

"Nde Oppa, gomawo... Aku senang uri aegya sehat-sehat." ucap Soo Eun tersenyum bahagia. Jaejoong hanya balas tersenyum. Mereka pun masuk ke dalam rumah.

"Kalian sudah pulang?"

"H-hyung? Kenapa? Bagaimana bisa kau di sini?" kaget Jaejoong yang melihat kakak laki-lakinya yang tinggal di Jerman itu tiba-tiba berada di rumahnya-di Seoul-

"Surprise! Eotte, terkejut kah?" kekeh namja tampan bernama Kim Sang Bum atau lebih akrab dipanggil Kimbum itu.

"Aigoo Jaejoongie... Aku merindukanmu..." ucapnya seraya memeluk erat Jaejoong.

"Kau semakin cantik." Kimbum mengacak-acak rambut almond Jaejoong. Sedangkan Jaejoong masih terpaku tak bergeming. Rupanya ia terlalu terkejut dengan kedatangan kakaknya itu.

"Annyeong Soo Eun-ah..." sapa Kimbum pada Soo Eun seraya tersenyum misterius.

"Aku capek ingin istirahat." ujar Soo Eun dingin tak menjawab sapaan 'kakak iparnya'. Yeoja cantik itu kemudian pergi begitu saja menghiraukan Kimbum yang terkekeh melihat sikapnya.

"Kenapa Hyung tak memberitahuku jika akan pulang?" tanya Jaejoong setelah sadar dari keterkejutannya.

"Bukankah aku sudah bilang ini kejutan eoh? Ck, aku sudah datang dari tadi, tapi kalian baru pulang, kalian darimana saja eoh?" dengus Kimbum.

"Aku tadi mengantar Soo- YUNHO!?" pekik Jaejoong terperanjat melihat seseorang yang tadi siang mengikutinya itu kini berada di rumahnya.

"Hi, Jae?" sapa Yunho polos. Namja tampan itu melambaikan tangannya tersenyum.

"Kau? Sedang apa di sini?"

"Aishh Jaejoongie..tak baik membentak tamu seperti itu." tukas Kimbum. Namja tampan itu duduk kembali di hadapan Yunho.

"Kalau tidak ada temanmu ini, aku sudah mati bosan menunggu kalian, jadi kau tak seharusnya membentak penolong kakakmu.."

"Kau berlebihan Hyung.." tukas Yunho terkekeh.

"Aku tak peduli, untuk apa kau ke mari Yunho-ssi?" tatap Jaejoong pada Yunho. Entah mengapa Ia sedikit tak tenang melihat Yunho berada di rumahnya bersama kakaknya.

"Waeyo? Apa tak boleh seorang teman berkunjung ke rumah temannya?" seringai manis Yunho.

"Bukan begitu maksudku, tapi-"

"Stop! Jangan bicara lagi. Sebaiknya kau mengambil lagi minuman untuk kami.. Lihat minuman kami habis, kita terlalu serius mengobrol tadi." sela Kimbum.

"Memangnya kalian... Kalian membicarakan a-apa?" tanya Jaejoong ragu. Ekor matanya melirik Yunho yang masih menyeringai manis ke arahnya.

"Kenapa kau sangat ingin tahu um? Sudah cepat sana pergi, hyung haus!" titah Kimbum. Namja tampan itu terkekeh melihat bibir adiknya yang mengerucut. Ia tahu Jaejoong kesal. Tapi tak ayal namja cantik itu pergi, ia memang tak pernah mampu menolak perintah Hyung-nya itu.

"Jaejoong itu jangan terlalu di manja. Kalau tidak, dia bisa bersikap seenaknya." ujar Kimbum, sedangkan Yunho hanya tersenyum menganggukan kepalanya menanggapi ucapan namja yang usianya terpaut lima tahun darinya itu.

Sementara itu di dapur, Jaejoong masih menggerutu kesal. Kakaknya itu memang selalu senang mengerjainya.

"Kim Sang Bum bodoh! Untuk apa dokter bodoh itu pulang? Mengacaukan saja!" gerutunya seraya mengaduk-aduk jus yang dibuatnya. Sebenarnya ia bisa saja menyuruh maid untuk membuatkan minuman itu. Tapi ia tahu, kakaknya itu tak bisa dibohongi. Entah mengapa Kimbum selalu bisa membedakan mana pekerjaan yang dilakukan Jaejoong dan mana yang bukan. Ck, kakaknya itu memang Jenius, beda dengannya yang hanya mempunyai otak pas-pasan.

"Ommo! Bukankah tadi Kimbum Hyung bilang lama mengobrol dengan Yunho? Apa jangan-jangan... Andwee! Yunho tak boleh tahu!" panik Jaejoong berbicara sendiri. Namja cantik itu menggigit kukunya resah. Pikirannya berkecamuk.

"Eotteohkaji?" lirih Jaejoong menyandarkan tubuhnya ke lemari pendingin. 'Semoga saja Kimbum Hyung tak berkata yang macam-macam pada Yunho..' harapnya menghela nafas. Lemas.

.

.

.

.

.

TBC

FF ini ga bnyk konflik n alur'y mudah ketebak, saya Cuma pengen bikin cerita yg ringan saja

Seperti biasa, klo yg respon banyak, saya usahain post lanjutannya cepet ;)

YUNJAE IS REAL...!
Always Keep The Faith...^^