Summary : Musim panasmu dihabiskan untuk menolong bocah kecil yang entah muncul dari mana. Tak hanya sekali, tapi 6 kali. Enam pertolongan pada enam bocah warna warni di hari yang berbeda-beda. READER X Child! GoM.
Warning : OOC, gajeh ngepol, gagal unyu.
Rate : K+
Genre : Family? Friendship?
GUE MINTA MAAF PADA SEI-CHAN UNTUK CHAPTER INI! OOC PULA.
NOTE : READER UNTUK SETIAP CHAPTER ADALAH ORANG YANG SAMA.
Help me, Oneesan!
Kuroko no Basuke - Fujimaki Tadatoshi-san
Help me, Oneesan karya tidak bermutu sang Author yang tidak menerima manfaat materil dari fanfic ini
Day 2 : Red-Haired Boy
.
.
Kemarin, aku bermaksud pergi ke perpustakaan umum untuk belajar dan mengerjakan PR, namun tak disangka malah bertemu dengan bocah manis berambut biru yang minta tolong padaku. Akhirnya, aku lupa ke perpustakaan. Rencananya sih hari ini aku mau ke sana karena PR-ku sudah menumpuk.
Hari ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya, karena Ibu menyuruhku untuk pergi ke kotak pos untuk menaruh surat yang ditujukan pada salah satu stasiun televisi. Ya, Ibu kemarin termakan bujuk rayu acara televisi memasak untuk ikut menjawab pertanyaan yang diberikan karena hadiahnya seperangkat alat-alat dapur berkualitas tinggi yang harganya sangat mahal. Terpaksa aku harus menurutinya daripada dimarahi.
Tak disangka jalan raya sudah cukup ramai jam segini. Aku melihat arloji yang bertengger di pergelangan tangan kiriku. Eeeuumm.. masih jam 9. Kotak pos di daerahku cukup jauh dari rumah dan arahnya berlawanan dengan arah jalan menuju perpustakaan. Dengan begini, jadi bertambah jauh perjalananku ke perpus. Hah, ya sudahlah, terima saja nasib.
Ah, kotak posnya sudah terlihat. Letaknya di dekat pinggir jalan. Biasanya sore hari petugas dari kantor pos akan mengambil surat-surat yang sudah dimasukan ke kotak dan akan mulai mengirimnya besok.
Aku mengeluarkan suratnya dari tasku dan memasukkannya perlahan untuk memastikan suratnya benar-benar masuk ke kotak. Sip, saatnya ke perpustakaan. Aku berbalik menuju arah perpustakaan, namun—
JDUK!
Aku merasa menabrak sesuatu.
Aku menoleh ke kanan kiri, tapi tidak terlihat apa-apa. Saat aku memandang jalan yang ada dihadapanku, aku melihat seorang anak jatuh terduduk sembari meringis kesakitan. Ah? Jadi sesuatu yang aku tabrak jangan-jangan anak ini?
"Ssssh.."
Anak itu memejamkan mata sembari mengusap-usap bokongnya yang sakit karena jatuh terduduk. Oh, ya, maaf kalau begitu.
"Oh, maaf adik kecil," aku berjongkok bermaksud membantunya berdiri, "—aku tidak sengaja menabrakmu ya? Maaf ya." Aku menarik kedua lengan anak itu membantunya berdiri dan—
"Lepaskan tanganmu!" APA? Anak itu menepis tanganku?! Lalu, apa-apaan suaranya yang cempreng itu?
Anak ini…sudah aku bantu juga. Baiklah, sabar. Namanya juga menghadapi anak-anak jadi harus bersabar. Lagipula, aku yang menabraknya.
"Iya, maafkan aku."
Ia membuka kelopak mata dan menatapku tajam. Anak sekecil ini bisa juga menatap tajam dan menakutkan seperti itu. Setelah kuperhatikan baik-baik, iris matanya berbeda warna. Sebelah kiri berwarna kuning keemasan sedangkan mata kanannya berwarna merah seperti warna rambutnya. Wah, anak yang unik. Hasil persilangan orang tua seperti apa ya?
"Berani sekali kau menabrakku, Neesan!" katanya lagi-lagi dengan suara super cempreng seperti kaleng kosong dan rombeng. Ia melipat kedua lengannya di depan dada. Apa maksudnya? Mau sok keren kau?
"Aku 'kan sudah minta maaf," ucapku sembari menundukkan kepala.
Anak itu diam tapi tampak sedang berpikir. Sudut matanya kembali menatapku tajam. Eh? apa?
"Tidak cukup ucapan 'Maaf' saja Neesan! Kau harus membayarnya!"
"HAH?"
Anak kecil saja sudah tau hal seperti itu, dididik seperti apa sih anak ini?
Ia merogoh sesuatu di kantung celananya lalu mengacungkannya padaku, eh? OH, NO! GUNTING MERAH?
"Antarkan aku ke suatu tempat, Neesan," ucapnya dengan nada memerintah. Hei, lihat. Siapa disini yang lebih tua? Kenapa anak ini berani sekali mengancamku dengan gunting? Mana pakai perintah segala. Apa ia pikir aku takut pada bocah sepertinya?
"Hei, anak kecil. Jangan mengacungkan gunting pada orang yang lebih tua darimu."
"Jangan panggil aku anak kecil. Namaku Akashi Seijuuro. Cepat antarkan aku!"
Bayangkan. Bayangkanlah! Bayangkanlah! Bagaimana bisa kau merasa takut jika ada bocah kurcaci mengancammu pakai gunting dengan suaranya yang—
Cempreng. Ingat, suara CEMPRENG loh!
"Jangan memerintah begitu. Apa kau pikir aku takut padamu, bocah? Aku 'kan sudah minta maaf. Lagipula, seharusnya kau takut pada yang lebih tua dan menghormati mereka."
"Aku tidak perduli. Perintahku mutlak dan aku tidak takut pada apapun," sahutnya penuh percaya diri. Perintahnya mutlak? Belajar kata-kata seperti itu dari mana anak ini?
GUK GUK GUK!—suara gonggongan anjing. Ada salah satu pejalan kaki lewat dekat kami membawa anjingnya. Uh, anjingnya lucu sekali ya.
Saat aku menoleh kembali pada anak itu, ternyata ia sudah menghilang. "EH? KEMANA ANAK ITU?" Jangan sampai aku mengalami kejadian yang sama dengan Tetsu-chan. Apa anak ini punya kemampuan menghilang tanpa disadari juga? Ini kacau.
Aku merasa ada yang meremas bajuku, siapa? Saat aku menoleh ke belakang ternyata bocah berambut merah itu sedang bersembunyi dibalik tubuhku. Tak lupa, mata heterokromatiknya terus memperhatikan anjing yang lewat tadi dengan tatapan waspada. Heeee….jadi…..begitu.
"Jadi kau tidak takut pada apapun, bocah kepala merah?"
Ia melepaskan genggamannya pada bajuku, "Aku tidak takut pada anjing! Mereka nakal, cuma itu saja." Mata belangnya masih menilik anjing tadi sampai menghilang di balik persimpangan jalan. Tidak takut tapi disebut kata 'anjing' nya, hahahaha.
"Heee…" senandungku dengan nada meledek. Ia mengerutkan wajah.
"Apa Neesan meledekku?"
"Tiiiiidaaaak…" teriakku sembari pura-pura lihat sekeliling jalan.
Aku sedikit melirik anak itu. Gunting masih dipegang tangan mungilnya, "Sudah, antarkan aku, Neesan." Melihatnya yang bersikeras memerintahku untuk mengantarnya, akhirnya aku putuskan membantunya. Hitung-hitung mengisi waktu sebelum jadwal dibukanya perpustakaan. Seingatku, perpustakaan buka jam 10 an. Lagipula, anak sekecil ini mau kemana sih? Paling juga minta diantar ke toko permen atau toko mainan 'kan? Tidak akan menghabisnya banyak waktu.
[Satu jam kemudian]
"A—no, Seichan. Kenapa kita kesini?" tanyaku pada anak bersurai merah yang tengah berdiri di sisiku sambil memegangi ujung bajuku.
"Jangan panggil aku Seichan. Yang boleh memanggilku begitu cuma Okaasan," ia mendongak ke arahku.
"Kau ini repot sekali. Biar saja aku mau memanggilmu apa, daripada aku panggil 'bocah'."
"Hmph!" Ia berdecak dan mengalihkan pandangan sembari cemberut.
"Lalu, kenapa kita kesini?" Seichan berjalan mendahuluiku. Biarpun begitu, aku tidak akan tertinggal karena langkah kakinya pendek sekali. Hah, sesuai dengan tubuhnya yang irit tinggi badan.
"Tentu saja untuk main, Neesan. Kau bodoh ya?"
Bodoh, katanya? Seenaknya anak ini. Sudah mengancam sekarang mengataiku bodoh? Aku jitak juga nanti.
Jadi, kita mau main disini? Di taman hiburan, begitu? Lagipula, anak SMP sepertiku apa boleh masuk ke dalam ditambah lagi ada bocah sialan ini. Kenapa harus taman hiburan? Memangnya anak ini tidak pernah ke sini apa? Aduh, tiket masuknya mahal tau. Aku harus mengecek dompet, apa uangku cukup ya untuk tiket dua orang?
"—Tenang saja, Neesan. Kalau tiket aku yang bayar," lanjutnya. Kenapa anak ini bisa tau aku memikirkan masalah tiket?
Ia merogoh sesuatu di saku yang ada dibalik rompi merah yang dipakainya. Apa sih yang mau diambilnya? Momen-momen berharga bagaikan slow motion menghiasi pengambilan barang yang dirogoh bocah itu dibalik rompinya dan muncullah—KARTU KREDIT?!
"Uwaaah, kartu kredit? HEI, SEICHAN! KAU CURI DARI MANA INI?!" lagi-lagi aku berteriak sambil tak lupa merebut kartu kredit yang dipegangnya. Ya, kalau mau jujur, mataku berbinar-binar melihat kartu yang bisa digesek dan masalah kelar ini, kata siapa.
Seichan mengacungkan gunting lagi padaku, "Enak saja mencuri. Itu punyaku. Aku 'kan anak orang kaya." Bangga sekali kau menyebut kata 'kaya'. Tapi, setelah kulihat, anak ini kelihatan sekali didukung finansial yang kuat. Pakaiannya bermerk dan bagus. Celana hitam pendek selutut dan kemeja putih lengan pendek dibalut rompi merah. Hmm..Kalau diperhatikan, anak ini tampan juga. Cocok dengan keluarga kaya. Ahahaha.
"Kenapa kau bisa bawa-bawa ini? bahaya sekali 'kan?"
"Otousan yang memberikannya padaku." Raut wajahnya berubah murung. Hem? Ada apa dengannya?
Hening. Kenapa Seichan diam saja?
"Tidak perlu," Ia menatapku, "—aku saja yang bayar. Hehehehe.." Aku tersenyum padanya.
Kedua alisnya naik. Gestur tubuhnya kembali seperti semula, "Ayo, kita masuk! Cepat beli tiketnya, Neesan!" Hei, bocah! Masih saja berani memerintah. Tapi, sudahlah. Dasar anak-anak.
[Di dalam taman bermain]
"Fuuh, tak disangka aku dan anak ini bisa dengan mudah masuk. Kupikir anak seusiaku tidak diperbolehkan, apa wajahku terlihat lebih tua dari seharusnya? Atau karena—" Aku mengalihkan pandangan pada Seichan yang sedang berdiri di dekat pagar pembatas arena Merry-Go-Round, "—anak itu mengacungkan gunting ke penjual tiketnya?"
Aku menghela nafas. Kurasa hari ini akan sangat berat. Setidaknya kalau anak itu semanis Tetsuchan mungkin hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Tetsuchan bagaikan malaikat dan Seichan juga bagaikan malaikat—ya, malaikat kematian, lihat saja gunting yang ada di tangannya. Dasar.
Aku menghampiri Seichan. Kelihatan sekali anak ini ingin naik arena Merry-Go-Round. Lihat, mata belangnya berbinar-binar begitu. Ah, ternyata anak aneh seperti dia bisa bersikap manis juga, "Seichan, mau naik itu?" Matanya menajam menatapku, kemudian mengangguk. Haha. Anak-anak memang jujur ya.
Akhirnya, kami berdua naik arena itu. Seichan bilang ia mau naik kuda karena dirinya adalah seorang calon Emperor katanya—terserah padanya deh. Sedangkan aku naik apa saja bolehlah, asalkan ada di dekatnya. Habis aku takut ia jatuh nanti, mau naik kuda saja tadi susah payah bahkan aku harus menggendongnya. Seichan tidak terlalu menunjukkan emosi tapi bisa kulihat ia merasa senang, baguslah.
"Sekarang mau naik apa lagi?"
"Aku mau naik jet coaster."
"HAH? KAU MASIH KECIL, MANA BOLEH!"
Manik heterokromatiknya mendelik tajam membuatku merinding. Kenapa anak-anak sudah punya aura mengerikan seperti ini? hiii..
"Hei, Neesan, kau mau membantahku?"
"Bukan begitu. Lihatlah kenyataan! Tinggi badanmu kurang dari 125 cm, Seichan!" Aku menunjuk papan yang cukup dekat dari tempat kami berdiri. Papan itu adalah papan pemberitahuan untuk para pengunjung mengenai persyaratan minimal agar bisa menaiki arena tertentu. Ya, minimal tinggi badan yang diharuskan adalah 125 cm. Di papan itu ada garis merah yang menunjukkan batas minimalnya dan aku menyamakan dengan tubuh Seichan. Nah, benar kan? Kau pendek sekali ya, pfffft. Sewaktu aku seumuran dengan Seichan sepertinya aku tidak sependek ini.
"Ergh…" Aku mendengar ia meringis tapi bukan meringis kesakitan, eh? Atau ada bagian yang sakit? Jangan-jangan aku sudah melukai hatinya? Oh, tidak, jangan lempar gunting itu padaku!
"Ba-Ba-Baiklah! Cari arena lain yang lebih seru saja ya?" tawarku agak terbata-bata. Anak ini sungguh mengerikan jika sedang marah. "—ah, bagaimana kalau bom-bom-car? Dulu, aku dan Ayah suka sekali main itu. Mengasyikan loh!"
Seichan agak mematung sebentar. Aku tidak bisa melihat matanya yang tertutupi oleh sebagian rambutnya. Apa yang dipikirkannya?
"Yasudah, ayo ke sana, Neesan."
[Arena Bom-Bom-Car]
Arena bom-bom-car tak kusangka akan seberisik ini. Ya, wajar saja sih suara besi-besi yang ditubrukkan tentu saja menimbulkan kebisingan. Aku dan Seichan mengantri untuk dapat giliran. Walaupun sempat tidak tertarik, Seichan mulai sedikit bersemangat setelah melihat arenanya. Sip, giliran kami.
"Neesan, kenapa kau duduk di sampingku?"
"Loh? Kita mainnya berdua, jadi aku duduk disampingmu dong."
"Siapa bilang? Kau cari mobil yang lain Neesan dan lawan aku!" lagi-lagi bicara dengan suara cempreng dan memerintah. Apa kelakuan anak kaya selalu begini ya? Kurasa ada yang salah dengan otaknya. Tapi kalau melihat caranya bicara dan memainkan kata-kata sepertinya anak ini berotak jenius.
"Heh, bocah merah. Kalau aku melawanmu nanti kau jatuh bagaimana? Mobilnya bertabrakkan bisa membuatmu terguncang. Badanmu kecil saja sok sekali sih," kata-kataku tadi sukses membuatku dipelototi lagi olehnya, bahkan gunting saktinya sudah nongol diujung saku. Errrghh, baiklah. "—kalau jatuh dan kalah, jangan nangis ya!"
"Hmph! Aku selalu menang karena aku selalu benar. Jadi aku tidak mungkin kalah. Sebaiknya Neesan berhati-hati jangan sampai nangis."
SETAAAAN KECIL INIIIIII….RASANYA MAU AKU PELUK SAMPAI REMUK! AKU BALAS KAU YA! ADUH, SABAR, SABAAAR LAH! INGAT, LAWANMU ANAK-ANAK!
DEBUM..DUAK…NGIIIING!
[ Sepuluh menit kemudian]
"Tidak bisa dipercaya, setan ini mengalahkanku, aku benar-benar didesak olehnya sampai tidak bisa bergerak. Ha ha ha ha," tawaku sungguh menyakitkan. Kenapa hatiku rasanya sakit begini dikalahkan oleh bocal cebol ini? Coba lihat, ia menyeringai puas padaku! Oh, Tuhan! Facepalm.
"Ayo, pergi ke tempat lain," Seichan berjalan memimpin duluan. Lihat sudah besar hidungnya, segitu saja kau sudah belagu, huh? Lihat saja nanti.
Seichan menoleh ke kanan dan kiri, mengedarkan pandangan mencari arena yang menarik perhatiannya. Hei, kalau jalan tidak bisa pelan-pelan apa? Kenapa harus buru-buru begitu, "Seichan, jangan cepat-cepat, nanti kau jatuh. Disini banyak orang."
Hah, aku tidak didengarkan olehnya. Sudahlah, aku mengawasinya saja dari dekat. Kelihatannya anak ini tidak bisa diperintah tapi sukanya memerintah. Aduh, kenapa rasanya haus sekali ya? Di dekat sini, tidak ada stand penjual minuman dingin, ya?
BRUK!
Seperti ada suara, apa itu? Aku mencari arah datangnya suara tersebut dan mendapati Seichan jatuh tersungkur karena tersandung batu pembatas bahkan wajahnya sudah menyium aspal. Aaah…bagaimana ini? Baru saja aku mengalihkan pandangan, sudah jadi begini. Aku menghampirinya. Menyedihkan sekali caranya jatuh. Coba lihat sekarang? Ia tidak bergerak sama sekali bahkan bersuara saja tidak.
"Seichan baik-baik saja?" Aku mengangkat tubuhnya dan menggendongnya mencari bangku terdekat untuk mendudukinya. "—sudah kubilang, jangan cepat-cepat jalannya 'kan? jadi jatuh."
Uwah, lututnya tergores dan sedikit mengeluarkan darah. Aku tatap wajahnya. Wajahnya tidak berubah, pandangan matanya juga menajam tapi terlihat titik-titik air mengumpul diekor matanya dan ia menggigit ujung bibir. Sepertinya ia menahan rasa sakit dan berusaha tidak menangis. Dasar kau anak setan yang manis.
Aku mengacak-acak helaian rambut merahnya, "Hehe, Seichan anak hebat, tidak sakit 'kan? Fuh..Fuh…" Aku meniup-niup luka dilututnya agar ia merasa lebih baik. "—kalau aku pasti sudah menangis kalau jatuh seperti tadi. Tapi, karena Seichan adalah calon Emperor jadi jangan tunjukkan kelemahanmu pada orang lain ya." Aku membersikan kotoran yang menempel di sepanjang wajah dan rambutnya, tak lupa tersenyum padanya. Ia hanya memandangiku saja.
KRIUUUK..
Ah, suara perut ya? Jangan bilang—
"Bagaimana kalau kita cari makanan sambil mengobati lukamu, Seichan?" Ia mengangguk. Aku khawatir ia sulit berjalan karena sakit jadi aku menggendongnya di punggungku. Tangan mungilnya sudah melingkari leherku. Untung saja guntingnya sudah masuk ke kantung kalau tidak….aku seperti jadi tawanan, ahahaha.
Kami mencari café terdekat yang menjual makanan di dalam area taman bermain, untung saja masih sempat mendapatkan satu tempat duduk kosong walaupun aku harus berjuang melawan sepasang kekasih ngotot, tapi berkat ancungan gunting Seichan semua masalah beres.
Selama ia makan, aku mengobati lukanya. Aku membersihkan lukanya pakai tisu basah dan menempelkan plester yang aku beli untuk menutupi lukanya. Sesekali ia merintih kesakitan saat diobati, dan ngomel-ngomel karena ia pikir aku tidak becus. Selesai mengobatinya, aku pun ikut memakan makanan yang sudah kami pesan.
Aku lihat Seichan makan dengan lahap, mungkin memang benar-benar lapar. Haha. Lihat pipi dan mulutnya belepotan saus tomat! Imutnya. Mau semengerikan apapun, anak kecil tetap saja anak kecil ya. Aku membersihkan wajahnya dengan sisa tisu basahku. Seichan cuek saja dan lanjut makan. Momen yang paling lucu sih saat Seichan kepedasan saat tak sengaja memakan saus sambal punyaku.
Ah, ini saat yang tepat untuk menanyakan identitas dirinya. Sejak tadi, aku tidak bisa bertanya karena ia selalu mendesakku dengan gunting dan memerintah ini dan itu. Tak disangka, Seichan mau bicara setelah perjuangan panjangku bercerita tentang identitas diriku sendiri padanya—ah, ini mengingatkanku saat aku bercerita pada Tetsu-chan. Ia bercerita Otousan-nya berjanji akan mengajaknya ke sini hari ini tapi tidak bisa karena ada pekerjaan mendadak. Saat aku tanya kenapa ia bersikeras pergi sendiri, ia tidak menjawab dan malah memelototiku. Padahal tinggal menunggu waktu yang tepat dimana Otousannya bisa meluangkan waktu lagi, kenapa tidak begitu saja? kenapa harus memaksa hari ini?
"Pokoknya aku harus pergi hari ini, Neesan."
"Kenapa?"
"Bukan urusan Neesan."
Apa? Lagi-lagi suara cempreng angkuhnya membuatku kesal. Tidak ada urusan denganku? Tapi, jelas-jelas kau melibatkan aku! Dasar anak kecil!
"Jadi, Neesan bisa main basket?" Aku mengangguk. Ia memperhatikanku dalam-dalam. "—jangan suka berbohong, Neesan."
UAPAAA? Aku dibilang bohong? Aku memang bisa main basket, yaaa maksudku, hanya tau sih tapi tidak jago. Aku kan hanya seorang manager, apa yang kau harapkan?
"Aku tidak bohong, Seichan. Kalau tidak tau, jangan berkomentar."
"Aku tau. Neesan adalah manager yang ditugaskan untuk mengatur menu latihan 'kan?"
"Hah?"
Apa? Dari mana anak ini tau masalah itu? Seingatku, aku tidak menceritakan tentang itu tadi. Kemampuannya menilik orang sangat luar biasa mengerikan.
Seichan meneguk habis jus buahnya dan kemudian, "Ayo, Neesan, " Ia lompat dari tempat duduknya, mulai berdiri tegap lagi. Telapak tangan kecilnya menarik lengan bajuku, "—aku mau naik bianglala."
[Di dalam bilik Bianglala]
Seichan menempelkan kedua tangannya di dekat jendela. Iris mata kuning-merah miliknya memperhatikan setiap detil pemandangan yang terjadi sepanjang naiknya posisi bianglala.
"Neesan," Ia menoleh padaku. Raut wajahnya sulit dijelaskan, kedua alisnya menaut. "—Okaasan pernah mengajakku naik ini tahun lalu tepat di tanggal yang sama dengan hari ini."
Mataku membulat mendengar ucapannya. Entah kenapa ada rasa pilu di dadaku saat melihat ekspresi wajahnya, apa ini? Seichan kembali memandangi pemandangan di luar jendela. Aku berpikir sejenak, apakah mungkin ia memaksa datang hari ini karena ingin datang di hari yang sama dengan hari kedatangan dulu bersama Okaasan-nya? Kalau begitu, kenapa tidak ada ajak Okaasan-nya saja? kenapa harus pergi sendirian?
"Seichan—"
"Neesan, bisa tolong temani aku ke suatu tempat lagi?" pintanya. Ini kata-kata pertamanya yang menginsyaratkan sebuah permohonan yang sesungguhnya. Bahkan ia tidak mengancam dengan gunting sembari memerintah.
"Boleh. Kemana?"
"Bertemu dengan Okaasan."
.
.
.
Mataku terbelalak sesampainya di tempat yang ingin di tuju oleh Seichan. Ya, sebuah kompleks pemakaman elit yang berada di tengah kota.
"Seichan—"
"Okaasan ada disana," Ia menunjuk papan batu besar bertuliskan 'Akashi Family Grave'. Ah, benar dugaanku, Okaasan Seichan sudah tiada.
Seichan berlari menghampiri batu besar itu. Ia menangkupkan kedua tangan mungilnya dan memejamkan mata. Aku pun ikut melakukan hal yang sama dan berdoa untuk Ibu Seichan. Entah kenapa ada suatu perasaan bersyukur, setidaknya keluargaku masih lengkap tidak seperti Seichan.
"Okaasan, hari ini aku datang ke taman bermain waktu itu bersama dengan Neesan. Hari ini sangat menyenangkan," ujarnya dengan wajah berseri-seri. Di saat seperti ini, masih bisa berwajah seperti itu, kau anak yang hebat Seichan.
Saat Seichan mengatakan itu entah kenapa rasanya sedih sekali. Aku kira anak ini kerjanya mengancam orang tetapi tak disangka ia menikmati jalan-jalan kita hari ini. Bahkan aku sudah berkali-kali kesal padanya, kalau saja aku tau lebih awal, aku akan membuat hari ini adalah hari yang tidak akan kau lupakan Seichan. Jadi menyesal.
"Seichan, maafkan aku, seandainya—"
Seichan menatapku. Ia berjalan mendekat padaku dan menarik bajuku menyuruhku untuk menunduk. Aku kembali berjongkok untuk bisa memandang wajahnya lebih jelas. Helaian rambut merahnya tertiup angin di hari senja menambah kesan menyedihkan. Tidak, tidak boleh seperti itu. Ini tidak menyedihkan. Ini hari yang menyenangkan, benar! Aku mengacak-acak lagi rambutnya sedangkan Seichan hanya terdiam.
Seichan melingkarkan kedua lengan mungilnya di leherku sekali lagi. Menyembunyikan wajahnya di pundakku.
"Terima kasih Neesan sudah menemaniku hari ini."
Aku menepuk-nepuk kepalanya, "Sama-sama, Seichan. Lain kali, kalau kita bertemu lagi, ayo main ke taman bermain bersama." Aku bisa merasakan ia mengangguk pelan. "—dan jangan bawa gunting lagi ya!"
Ia melepaskan pelukannya dan kembali merogoh kantung celana tempat ia menyimpan gunting merah teman setianya.
"Ini untuk Neesan," Ia menyerahkan guntingnya padaku. Apa maksudnya? Seichan memberikannya padaku?
"Untuk apa?"
"Jaga gunting itu ya Neesan. Itu gunting kesayanganku! Kalau kau menghilangkannya, kau akan tau akibatnya Neesan," Nada bicaranya kembali seperti semula. Memerintah dan menakutkan. Aku hanya bisa tersenyum canggung meratapi nasibku dimana aku diberikan hadiah kenangan sebuah gunting merah keramat oleh seorang bocah berambut merah dan berkelakuan seperti raja.
"Eh? Kalau begitu jangan berikan padaku."
"Neesan bodoh ya. Tadi Neesan bilang kalau kita bertemu lagi akan main ke taman bermain bersama dan aku tidak boleh bawa gunting, jadi Neesan yang membawanya sampai kita bertemu lagi."
Aku dikatai bodoh lagi. Sudahlah, capek. Tapi, yang dikatakan Seichan ada benarnya juga. Lagipula, kalau gunting ini ada padaku, sudah pasti anak ini tidak akan membawa gunting kemana-mana.
"Botchan!"
Terdengar suara laki-laki dari arah tempat kami datang. Aku melihat pria paruh baya menghampiri kami. Siapa dia? Lalu, botchan? Apa maksudnya Seichan?
"Nakano.."
"Nakano?"
Aku berdiri menghadap pria itu. Ia menundukkan kepala sebagai penghormatan, begitu pula yang aku lakukan. Seichan masih berdiri disisiku sembari menggenggam telapak tanganku.
"Botchan, kenapa anda pergi diam-diam? Tuan besar khawatir."
"Kalau begitu, kenapa Otousan tidak datang kesini?" balasnya ketus. Mata herokromatiknya mendingin.
"Karena Tuan Besar pergi ke taman hiburan mencari Botchan. Katanya Tuan Besar tidak menemukan anda jadi saya pikir anda ada disini dan syukurlah anda baik-baik saja," ujar pria itu. Sepertinya, pria itu ada hubungan dengan keluarga Seichan. Kalau dilihat dari caranya bicara mungkin pria itu adalah pelayan di keluarganya.
Saat mendengar itu, mata tajamnya melemah. Aku merasa genggaman tangannya mengendur, "Seichan, pulanglah. Otousan khawatir. Ayo, cepat."
Selang beberapa menit, akhirnya Seichan melepaskan tanganku dan mendekati pria itu. Aku tersenyum pada pria itu. Pria itu pun mengucapkan terima kasih karena aku sudah menjaga Seichan. Aku melambaikan tangan seiring dengan perginya pria itu bersama Seichan. Melihat Seichan semakin jauh mengingatkanku pada perpisahanku dengan Tetsuchan. Seichan memang menakutkan tapi aku akui ia sangat menarik perhatian dan tak disangka bisa menjadi anak yang sangat manis.
"Neesan!" Seichan berteriak, "—awas kalau guntingnya hilang! Jangan lupa janji Neesan!" Sekilas aku bisa melihat seulas senyum tipis di wajahnya. Ahaha. Aku tau, tak usah diingatkan. Kalau tidak, suatu hari kita bertemu kau akan mengancamku lagi 'kan? Dasar bocah cebol merah! Semoga kita bertemu lagi dan hari ini adalah hari yang menyenangkan, ya? Tapi..
"AAAAAAH! AKU LUPA DENGAN PERPUSTAKAANNYA LAGIIII‼"
Hari yang menyenangkan namun menyesakkan karena PR-ku bertumpuk lagi.
Untuk chapter ini jika ada yang tidak suka, mohon maafkan saya. Tapi, hanya ini yang bisa gue lakukan. Fuh.. kenapa yang berhubungan dengan keluarga Seichan selalu begini? Maaf ya. Gue gak suka ma bapaknya. *gorok si bapak*
Sip, sebelumnya gue mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Jikalau saya ada salah pada kalian semua mohon dimaafkan. Hehe.
Terima kasih untuk semua pihak yang sudah bersedia mensupport fic saya. Maaf, gue belum sempat bales review kalian karena waktu saya yang sempit *lebay* Sankyuu na!
Untuk Followers cerita gue, kalian bisa lihat profil gue kalo penasaran Fic apa yg selanjutnya bakal gue publish. Udah gue buat daftarnya.
NEXT CHAPTER : LITTLE SHINTAROU NANODAYOOO~! Mattete ne!
