Warning : OOC, gajeh ngepol, gagal unyu.
Rate : K+
Genre : Family? Friendship?
Yang jelas abal dan banyak typo mungkin? Gue gak baca lagi. Langsung ketik tanpa ngintip(?) soalnya. Penuh OOC-an.
NOTE : INI GAGAL UNYU! CERITANYA MAKSA! AUTHOR MAKSA UPDATE SOALE! WAHAHA!
Help me, Oneesan!
Kuroko no Basuke - Fujimaki Tadatoshi-san
Help me, Oneesan karya tidak bermutu sang Author yang tidak menerima manfaat materil dari fanfic ini
Day 3 : Green-Haired Boy
.
.
Aku memandangi tanaman kaktus boncel di dekat kaca. Memangku wajah.
Kaktus. Hijau dan berduri. Tapi mungil dan menggemaskan.
Hah. Hari yang membosankan.
Menghela nafas. Capek. Ngantuk. Bosan. Semalam aku harus bergadang untuk mengejar ketertinggalanku mengerjakan PR. Tapi, tetap saja tidak terlalu membantu. Semua ini gara-gara aku tidak jadi ke perpustakaan. Ya, gara-gara bocah-bocah setan itu. Ah, bukan. Satunya malaikat dan satunya baru bocah setan.
Pandanganku beralih ke rak pensil. Disana tertancap (baca : terdapat) gunting berwarna merah, oleh-oleh dari si bocah setan tukang perintah. Ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya? Dia akan menepati janji 'kan? Tidak bawa gunting lagi?
Tak lama sudut mataku menangkap boneka beruang yang ada di ranjangku. Beruang? Ah, Tetsu-chan. Apa mereka suka cangkir beruangnya? Anak manis itu cocok sekali kalau minum pakai cangkir itu.
Apa kami bertemu lagi ya? Semoga saja.
Sekarang, aku membolak-balik halaman kalender—melihat berapa lama lagi waktu tersisa untuk liburan musim panas. Hem. Seminggu lagi. Malas. Ingin terus libur. Mana PR-ku masih banyak. Bagaimana ini. Tapi aku suntuk, butuh udara segar.
Minggu depan teman baikku ulang tahun ya. Sebaiknya aku memberikannya hadiah. Apa yang cocok untuknya? Hm…
Ah, ini kesempatan bagus!
Selagi sedang suntuk, lebih baik aku berjalan-jalan sembari mencari hadiah untuk temanku. Ide bagus!
Aku bersiap untuk pergi jalan-jalan. Mandi dan berpakaian rapi. Membawa tas selempang kecil yang berisi dompet, ponsel dan juga payung. Cuaca di musim panas tidak bersahabat, kadang payung bisa menjadi pelindung hati yang lara. Apa sih yang aku pikirkan? Sudahlah, ayo berangkat.
Sesaat sebelum berangkat, aku sempat dimarahi Ibu karena lagi-lagi malah pergi jalan-jalan bukannya mengerjakan PR. Kau tidak tau, bu! Apa yang dialami anakmu dua hari ini! Aku berusaha sebaik mungkin untuk mengerjakannya tiap malam.
Jadi, hari ini, aku akan pergi kemana? Hadiah apa yang bagus untuknya? Sebaiknya aku pergi mencari hadiahnya di mall saja. Kata salah satu teman sekelasku, disana banyak toko-toko asesoris yang bagus dan murah.
.
.
.
Jalanan selalu saja ramai akan orang banyak. Padahal ini musim panas, tapi orang-orang tetap saja mampu beraktifitas, ya? Uwah, panasnya tidak tertahankan.
Hm? Apa itu? Hijau-hijau? Kenapa diantara kerumunan orang bisa ada pemandangan hijau yang asri nan ramah lingkungan seperti itu? Sesuatu yang hijau itu tidak bisa kulihat jelas karena bergerak maju dan juga tertutupi orang-orang yang sedang lewat. Jadi apa benda hijau yang melayang itu?
Entah kenapa rasanya penasaran dengan benda hijau melayang itu. Aku mencondongkan tubuh ke kanan dan kiri demi dapat bisa melihat benda itu. Alhasil, aku melihatnya. Ternyata… MANUSIA? ANAK MANUSIA? RAMBUTNYA HIJAU?!
Kenapa rambutnya bisa hijau begitu? Seberapa besarkah rasa cinta terhadap lingkungan yang dimiliki orang tuanya? Ini konyol. Dua hari yang lalu, aku bertemu anak berambut biru muda, kemarin warna merah dan sekarang aku melihat warna hijau? Ada apa sih dengan anak jaman sekarang? Apa mereka suka mencat rambut? Atau orang tua mereka yang tidak waras?
Anak itu berjalan terhuyung sembari membawa sesuatu—kotak besar. Sepertinya berat.
Dari arah depan anak itu, ada seorang pria sedang berjalan sembari menelepon dan—
*BRAK!*
*PRANG!*
Menabraknya.
Eh?
Kotaknya jatuh. Kok bunyi 'prang'?
Anak berambut hijau itu menatap kotak yang tergeletak tak berdaya. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Sedangkan pria yang menabraknya berlalu begitu saja melewatinya.
"Hei, paman."
Ah, dia bersuara.
Pria itu terus saja berjalan sembari menelepon. Semakin jauh dari anak itu.
Tiba-tiba saja, anak itu melepaskan salah satu sepatu yang dipakainya. Lalu,
*SYUUUNG!*
Melemparnya—
*BLETAK!*
"ADUH!"
Dan mengenai sasaran. Tepat di kepala pria itu.
Hebat sekali lemparannya! Seperti parabola. Tepat jatuh diatas kepalanya. Keren!
"Hooo!" Aku bertepuk tangan kemudian mengancungkan jempol ke arah anak itu. Nice Shoot!
"HEI, BOCAH! BERANI SEKALI KAU MELEMPARIKU DENGAN SEPATU, HUH?"
"Hei, paman. Kau duluan yang sudah menabrakku! Seenaknya saja, paman pergi tanpa minta maaf nanodayo."
Nanodayo?
Cara bicara anak itu aneh dan…angkuh sekali.
"APA? Anak kecil sudah berani kurang ajar pada yang lebih tua?" Pria itu menggeram kesal. Aku jadi gregetan melihatnya.
Anak berkepala hijau itu mendekati sang pria tanpa takut, "Seharusnya paman yang malu. Paman sudah menabrakku, lucky item-nya jadi pecah nanodayo."
"Lucky item? Hal konyol apa itu? Sudahlah, bocah, aku sibuk," pria itu berbalik dan kembali berjalan. Ponsel yang digenggamnya bertengger lagi di telinganya. Sedangkan si bocah cilik, hanya mengerutkan alisnya—memandangi kotak yang jatuh.
Aku mulai tidak sabaran. Interupsi dimulai!
"Hei, paman."
Aku berdiri menghalangi jalan pria itu.
"Hah? Apa-apaan lagi kau bocah?"
BOCAH KATANYA? Ya, aku memang masih SMP, tapi….
"Kau sudah menabrak anak berkepala hijau itu tadi. Aku melihatnya. Paman harus bertanggung jawab."
"Apa? Bertanggung jawab? Aku tidak merasa melakukan kesalahan."
"Jelas-jelas, paman yang bersalah. Paman harus mengganti barang yang pecah itu."
"APA?" pekiknya nyaring.
Semua orang yang sedang berlalu lalang, sejenak berhenti untuk melihat perdebatan antara aku dan pria itu. Mereka mulai penasaran dengan apa yang terjadi di tengah jalan begini. Huh, disini banyak orang, aku tidak takut. Lagipula, aku punya senjata rahasia.
Aku menyeringai ke arahnya. Pria itu mulai gelisah dilihat banyak orang namun masih berusaha mengelak.
"Hei, paman. Kalau paman tidak menggantinya, aku bisa teriak disini loh. Misalnya, 'Kyaaaa… ada orang mesuuum..' seperti itu.. bagaimana?"
Senjata yang bagus 'kan?
Pria itu menoleh khawatir pada lingkungannya. Semua menatapnya curiga. Ia berdecak kesal dan mengeluarkan sesuatu dari celananya. AHAHAHA. DOMPET!
Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas bernominal besar. Sebelum kembali berjalan, si pria pura-pura meminta maaf pada si bocah dan menyerahkan uangnya. Menerima uang secara mendadak sepertinya membuat anak itu bingung. Ia memandangi terus uang yang ada di telapak tangannya.
"Hei, adik kecil," Aku menyapanya. Ia mendongakan wajah dan mengedip sesaat. Berpikir sejenak. Kalau diperhatikan wajahnya tampan untuk ukuran anak-anak. Bulu matanya juga lentik. Bola matanya hijau emerald. Keren.
"Terima kasih, Oneesan," Tiba-tiba ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan angkuh. "—hmpt..tapi, aku tidak minta bantuan Oneesan. Jadi, jangan salah paham, aku cuma tidak enak hati nanodayo," katanya.
Heh? Apa-apaan sikap anehnya itu? Panas lalu dingin.
"Ahaha. Sama-sama."
Anak berambut hijau itu berjongkok untuk merapikan kotak yang sudah jatuh. Saat ia angkat, aku bisa mendengar suara benda pecah belah seperti beling. Aku jadi penasaran apa isinya.
"—ngomong-ngomong, apa isi kotak itu?"
*BRAAK!*
Belum sempat ia menjawab, aku sudah bisa melihat isinya. Kotaknya terbuka saat diangkat dan isinya berhamburan ke jalanan. Apa ini warnanya hijau juga? Pecahan keramik?
"Ini lucky item nanodayo."
Lucky item? Apa lagi itu? Sepertinya, ia tadi menyebutkan itu juga pada pria itu.
"Lucky item? Apa itu?"
Iris mata emeraldnya menatapku. Alisnya naik satu. Apa-apaan pandangannya itu? Seakan mengatakan 'Masa itu saja kau tidak tau, Oneesan?'
"Masa itu saja kau tidak tau, Oneesan?"
"APA?"
Kenapa tepat sekali tebakanku?
Ia mengesah. Wajahnya mendongak angkuh kepadaku. Memperlihatkan bola matanya yang berbinar saat bicara, "Lucky Item adalah benda keberuntungan. Dari bahasanya saja, harusnya Oneesan mengerti nanodayo."
"HA?"
"—Lucky Item paling ampuh adalah lucky item yang diberitahu oleh Oha-Asa. Setiap pagi, Oha-Asa akan mengumumkan lucky item setiap zodiak."
Oha-Asa? Apa itu? Zodiak? Ramalan bintang, begitu?
Ia kembali menatapku. Kali ini aku mengerti arti pandangannya.
"Pasti, Oneesan mau tanya kenapa aku percaya, benar 'kan?"
Tuh benar kan.
"Kenapa kau bisa tau?"
"Kelihatan sekali nanodayo. Setiap orang juga bilang begitu padaku."
"Lalu, kenapa kau percaya?"
"Karena Oha-Asa benar. Apa Oneesan tidak tau kata-kata 'manusia berusaha dan Tuhan menentukan'? Aku menjalani segala yang aku bisa dan mengikuti takdirku nanodayo."
Hah? Aku tidak mengerti maksudnya. Kenapa anak sekecil ini sudah memikirkan hal seperti itu? rumit sekali.
"Haa.. begitukah?" Yasudahlah, biarkan saja ia mau bicara apa. Aku tidak mengerti maksudnya.
"—tapi, lucky item-nya pecah. Bagaimana ini?" Wajahnya tertunduk lemas. Apa? Jadi, karena lucky item-nya pecah ia sedih? Kulihat, tangan mungilnya mengeratkan pegangan pada boneka kecil yang tergantung di celananya.
"Mau bagaimana lagi, sudah pecah. Beli yang baru saja dari uang paman tadi."
Jari-jarinya yang menggenggam uang kertas sekarang menengadah. Ia memandangi uang itu sesaat.
"Tapi, dimana aku bisa menemukan yang sama? Celengan ini sudah tinggal satu-satunya di toko nanodayo, sulit dicari, " wajahnya makin suram. Alisnya bertekuk. Suara angkuhnya pun ikut melemah seiring wajahnya tertunduk. Ia meraih kotak itu dan melirik isinya yang sudah berhamburan.
"Celengan? Jadi, itu celengan?"
Ia mengangguk.
"Aku memecahkan celenganku untuk membeli celengan ini nanodayo."
"APA? Untuk apa kau memecahkan celenganmu hanya untuk membeli celengan lagi?"
Ini benar-benar menggelikan. Sebelumnya, masalah lucky item, lalu sekarang celengan yang sengaja dipecahkan membuahkan hasil sebuah celengan yang tidak sengaja pecah? Kenapa masalah celengan lucky item saja bisa merepotkan begini? Lalu, kenapa wajahnya menyedihkan begitu hanya karena ini? Aku tidak mengerti pikirannya.
"Ini beda nanodayo. Kata Oha-Asa, lucky item-nya adalah celengan kodok besar terbuat dari barang pecah belah."
'-nya'? Apa maksudnya '-nya' itu?
Tapi, melihatnya sedih begitu, aku jadi tidak tega. Baiklah.
"Bagaimana kalau kita cari bersama? Kebetulan aku juga sedang mencari hadiah untuk temanku. Kita mampir ke toko, siapa tau menemukan yang sama."
Bola matanya yang sempat meredup itu kembali berbinar-binar. Tangan mungilnya mengepal boneka kecil di celananya semakin erat. Tubuhnya condong ke arahku.
"Benarkah?"
"Ya. Aku akan menemanimu."
Ia mengedip. Mendadak kembali membuang wajahnya ke arah lain. Sedikit aku bisa melihat garis merah samar-samar di sekitar pipinya.
"A-aku tidak memintanya. Oneesan yang memaksaku. Jadi, boleh saja nanodayo."
Lagi-lagi sikap panas dan dinginnya itu.
"Ba-baiklah. Terserah padamu saja," Aku menunduk untuk melihat wajahnya yang mulai memerah, "—jadi, siapa namamu adik kecil?"
"Mi-midorima.. Shintarou. Enam tahun," jawabnya malu-malu. Suara angkuhnya tadi kemana? Baiklah. Tak lama ia melanjutkan dengan nada tinggi, "—aku memberitahukannya bukan karena aku ingin. Oneesan yang bertanya."
Oke. Oke. Sudah cukup, panas dinginnnya, nanti aku masuk angin.
"Oh. Aku panggil Shin-chan ya?"
Ia menoleh cepat. Diam. Buang pandangan lagi.
"Jangan panggil begitu."
"Kenapa?"
"Eum…itu…" Ia menghentakkan kaki, "—terserah Oneesan saja. Aku sih tidak mau dipanggil begitu nanodayo."
APA-APAAN ANAK INI? SIKAP PANAS DAN DINGINNYA BENAR-BENAR TIDAK TERTAHANKAN! IMUT SIH TAPI.. MENYEBALKAN!
Ah. Aku tau. Anak ini…pasti…
TSUNDERE.
.
.
.
.
Aku dan Shin-chan berjalan bersama menuju mall terdekat. Kotak yang berisi celengan kodok yang pecah sudah kami evakuasi. Aku tidak mau membuangnya sih, jadi aku menitipkannya pada penitipan barang di mall. Entah kenapa, rasanya sayang saja kalau dibuang, apalagi itu hasil kerja keras Shin-chan.
Kami berjalan menyusuri toko-toko yang ada di mall. Kebanyakan toko disana tidak menjual celengan yang dimaksud Shin-chan. Jadi, sebaiknya kami mencari dimana?
Seperti biasa, disini banyak orang. Berapa kali aku harus khawatir kehilangan anak kecil. Mulai dari kasus Tetchan dan kemudian Seichan. Tapi, sepertinya anak ini tidak terlalu banyak tingkah jadi mudah untuk mengawasinya.
"Shin-chan.."
"Jangan memanggilku begitu."
MASA BODOH! Semakin kau menolak, semakin aku ingin panggil begitu. Lagipula, APA-APAAN WAJAHNYA YANG MERONA ITU? SUNGGUH!
Hentikanlah, diriku. Kau tidak tau? Tsundere memang menggemaskan tapi tanpa kau sadari ia bisa sangat menyakitkan.
"Hei, Oneesan. Kalau jalan yang benar, nanti menabrak orang. Kasihan orang yang tertabrak oleh Oneesan."
Tuh kan benar.
Tapi, aku mengerti maksud ucapannya. Harus diputar balik kenyataannya.
Sesegera mungkin aku menarik tangan mungilnya. Menggandengnya.
"Hehe, oleh karena itu, Shin-chan akan menjagaku agar tidak menabrak orang," sahutku sembari memperlihatkan tangan kami yang saling bertautan.
Hahahaha! SHIN-CHAN MALU! WAJAHNYA MAKIN MERAH! TIDAK~ DIA IMUT SEKALI!
Ia menepis tanganku, "Hmpt, aku tidak mau bergandengan dengan Oneesan. Memangnya Oneesan anak kecil yang harus dijaga? Oneesan lebih tua jadi bersikaplah yang benar nanodayo."
Suara angkuh itu lagi.
Aku jadi teringat dengan kaktus di rumahku. Shin-chan mirip kaktus itu. Hijau dan berduri. Menusuk sekali kalau sedang 'tsun'. Tapi, imut dan menggemaskan saat 'dere'.
"Baiklah."
Kami memasuki tiap toko-toko disana. Tidak ada barang yang sama. Setiap mendapat respon tidak baik dari penjaga toko, wajah Shin-chan kelihatan sangat murung.
Karena lelah berjalan, kami istirahat sebentar di bangku.
"Shin-chan.."
"Kubilang, jangan panggil aku begitu!"
"Sudahlah. Tidak usah bahas itu!"
"Apa?"
"Sebenarnya untuk apa sih lucky item itu? Memangnya harus kau membelinya?"
"Aku harus membelinya. Pokoknya harus. Benda itu digunakan untuk mencegah kesialan yang terjadi nanodayo."
Anak ini keras kepala juga. Sama dengan Seichan.
"Baiklah, kalau begitu. Jadi, itu lucky item milikmu? Memangnya kau sedang tertimpa kesialan?"
"Bukan," Ia mengambil boneka kecil di celananya, menunjukkannya padaku, "—ini baru lucky item-ku."
"Boneka kelinci?" Ia mengangguk. Mataku berkedip. Jadi, itu kelinci? Kelinci putih. Bentuknya lumayan kecil dan lebih mirip seperti strap ponsel. "—kalau begitu, celengan itu untuk siapa?"
"Adikku."
"Adikmu? Memang ada apa dengan adikmu sampai harus butuh lucky item?"
"Setiap zodiak memang seharusnya membawa lucky item nanodayo. Supaya tidak sial!"
"Baiklah. Baiklah. Anggap begitu."
Ia berdecak pelan. Aku makin bingung. Jadi, kenapa ia berwajah murung begitu? Kenapa ia bersikeras untuk mencarinya? Aku tau, pasti anak ini memang maniak. Tapi, ada batas tertentu yang bisa aku lihat, bahwa ia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Jadi, apa itu?
"Jadi..itu.."
"Oneesan berisik, tanya terus, " Ia berdiri dan berjalan duluan, "—kalau begini, kapan ketemunya. Aku harus cepat menemukannya nanodayo."
Hah. Anak ini. Sungguh menyebalkan saat 'tsun'. Lagi-lagi, tidak terjawab. Jadi, kenapa harus terburu-buru. Siang bolong saja belum.
Kami mencari kira-kira menghabiskan waktu tiga jam. Hasilnya nihil. Ada celengan kodok tapi terbuat dari plastik dan Shin-chan tidak mau, ia mau terbuat dari bahan pecah belah. Sekalinya ada celengan keramik, bentuknya bukan kodok maupun katak. Ia tidak mau. Ah, susah sekali.
"AH!" Aku melihat sesuatu di toko action figure disana. Kodok yang ada di salah satu anime terkenal. Uwah! Itu saja!
"Shin-chan! Itu saja!" Aku menunjuk ke arah figure katak yang dipajang di etalase toko.
"Gamabunta? Tapi, kecil nanodayo"
"Iya," aku mengangguk semangat. "—tidak apa-apa. Ayo coba kita tanya."
Aku menarik paksa tangannya memasuki toko itu. Kami bertanya pada sang penjaga toko sekaligus pemilik. Tetapi, ia bilang itu bukan terbuat dari keramik tapi dari kaca yang dicat. Padahal salah satu fungsinya bisa dijadikan celengan sekaligus pajangan. What an absurd thing!
Shin-chan tidak mau pada awalnya, tapi aku berusaha menyakinkannya kalau itu sama-sama pecah belah. Dan, harganya membuat mulutku menganga lebar. Mahal sekali. Bahkan uang yang diberikan oleh pria sialan itu tidak cukup. Bagaimana ini?
Ah, Shin-chan. Wajahnya murung lagi. Mana sikap angkuh dan panas dinginmu, huh?
Aku merogoh tas dan melihat isi dompetku. Hah. Bodoh. Kemarin aku baru saja memakai uangku untuk masuk ke taman hiburan bersama Seichan. Ah, apa aku pakai uang untuk membeli hadiah temanku? Tapi..
"Hei, owner. Ini cukup untuk membelinya kan? Aku tambahkan," aku menyerahkan uangku pada sang owner. Ia mengangguk pelan. Sang gamabunta pun siap dibungkus.
"Oneesan.."
Aku berbalik menghadap si bocah tsundere, "Hehe, Shin-chan. Aku tidak tau alasannya kenapa kau bersikap begitu tapi.. tidak apa-apa."
Si rambut hijau menunduk. Kembali memeras boneka kelinci lucky item miliknya.
Setelah membelinya, kami pergi dan mengambil barang titipan tadi—kotak dengan celengan kodok yang sudah pecah.
"Sayang sekali ya. Padahal kodok yang pecah ini lebih imut daripada Gamabunta."
Diam. Kenapa sejak tadi anak ini diam saja?
"Shin-chan.."
Ia berhenti berjalan, iris emeraldnya menatapku lurus, "Oneesan, mau bertemu dengan adikku?"
"Eh?"
.
.
.
Kami berada di sebuah kamar serba putih. Bau obat menyuak masuk hidungku. Sangat menyengat.
Dihadapanku ada seorang gadis kecil sedang berbaring tak berdaya. Rambutnya hijau panjang terurai sampai bahu. Bola matanya sepadan warna dengan rambutnya. Wajahnya mirip dengan Shin-chan. Aku memandangnya tanpa berkedip. Ia tersenyum memandangku.
Shin-chan mengeluarkan gamabunta dan menempatkannya di meja samping ranjang.
"Ini lucky item untukmu hari ini. Semoga cepat sembuh."
"Terima kasih, Oniichan," jawab sang gadis kecil lemah.
Shin-chan berbalik dan berdiri di depanku. Aku menundukkan kepala.
"Adikku sakit nanodayo. Sudah dua minggu ia tidak bisa bergerak karena kakinya patah. Padahal sebentar lagi ada pentas drama dan adikku tokoh utamanya. Ia ingin sekali memainkan peran itu. Supaya cepat sembuh, kesialannya harus dihilangkan."
Hah. Menghela nafas.
Aku mengerti sekarang. Kau anak yang manis, ya? Aku mengerti kalau kau sangat menyayangi adikmu. Bahkan rela memecahkan celengan berhargamu demi sebuah celengan lagi. Mencarinya susah payah dan malah pecah. Tapi, caranya… baiklah, aku akan berusaha mengerti cara pandang polosnya. Kau kakak yang baik ya, Shin-chan.
Aku mengusap helaian rambut hijaunya, ia mendongak, "Aku mengerti. Semoga adikmu cepat sembuh." Aku menatap sang gadis kecil yang sudah tersenyum lebar. Beruntung sekali punya kakak yang perhatian.
Hari sudah menjelang sore. Jam kunjungan juga sudah mau habis. Aku pamit diri, padahal aku ingin sekali berbincang lebih lama dengan anak tsundere dan adiknya itu. Saat aku pamit, Shin-chan hanya diam saja dan pura-pura tidak perduli. Tapi sudahlah. Waktunya pulang.
Aku berjalan melewati koridor rumah sakit dan akhirnya mencapai ambang pintu masuk utama rumah sakit. Berhenti sejenak di depan rumah sakit. Memandangi lantai tempat adik Shin-chan dirawat.
"Semoga kita bertemu lagi, Shin-chan."
Belum sempat berbalik, aku melihat sosok anak kecil yang sedang terengah-engah berdiri di ambang pintu. Ia menghampiriku perlahan.
"Shin-chan, kenapa kau disini? Ada apa?"
"Te-terima kasih, Oneesan, sudah membantuku," katanya. Aku sempat bengong dan tak lama tersenyum padanya sambil mengacak rambutnya. Aku bisa melihat adanya semburat merah di wajahnya. Dasar tsundere. "—aku kesini karena adikku yang menyuruhku, bukan karena aku ingin nanodayo."
Yah, mulai lagi panas dinginnya.
"Iya. Iya," aku acak-acak terus rambut hijau uniknya. Dasar kau kaktus!
Ia merogoh saku celananya—mengambil sesuatu. Boneka kelinci lucky item. Ia meremasnya pelan kemudian menyodorkannya padaku. Tangannya menyundul lenganku, seperti memaksaku untuk mengambil benda itu. Kenapa tidak bilang langsung saja sih?
"Ini untuk Oneesan, ambil!" teriaknya keras sekali sembari memejamkan mata. Wajahnya malu-malu. "—kata Oha-Asa tadi pagi, aku harus memberikan lucky item-ku hari ini untuk orang yang sudah menolongku. Supaya orang itu tidak sial."
Jadi, aku orang itu? Supaya tidak sial, katanya? Ahaha.
Tangan mungilnya memaksaku untuk mengambil boneka itu. Tapi wajahnya…malu-malu. Manisnya.
"Ya, terima kasih," sahutku sembari senyum ke arahnya. Ia berbalik dan berjalan perlahan kembali masuk ke dalam rumah sakit itu. Aku memandangi boneka mungil kelinci putih yang ada di telapak tanganku. Dasar, anak tsundere ramah lingkungan yang manis!
"Shin-chan!"
Aku memanggilnya. Ia menoleh.
"Aku sekolah di Teikou. Disana ada klub basket yang sangat hebat, dan aku managernya. Kurasa, Shin-chan bisa menjadi shooter yang hebat. Aku lihat lemparan sepatumu tadi."
Shin-chan terdiam sesaat kemudian kembali berjalan. Beberapa langkah ia sempat melirik lagi ke belakang kemudian berjalan lagi. Anak yang menggemaskan.
Ngomong-ngomong, bagaimana dengan hadiah ulang tahun temanku? Argh!
Ahaha. Apaan coba ini? gue gak mau aja bikin terlalu angst kek sei-chan tapi malah jadi bapuk kek gini. Maaf yak. Saya benar-benar minta maaf. Ahahaha! Kalo kurang unyu ya inget Author-nya aja! *kedip maut* Yg jelas sih kurang mantap dibandingkan chapter Seichan *bagi gue*
Oia, gue gak ngejelasin midorima pake kacamata apa gak disini, krn emg sengaja karena dia masih 6 tahun jadi gue pikir dia belom pake kacamata. AHAHAHA!
Btw, gue ngebut ngetiknya, karena gue gak punya waktu ngetik minggu ini karena mau maen ke AFAID! YEY! Reika-samaaaa tunggu akuuuuu! *kesono cuma buat liat reika* ehem.
Well, makasih buat review, favs, dan follownya…! Maafkan daku yg gak sempet ngebales review karena ya… pulsa inet ane abis men! Ini Cuma cukup buat update story! *nangis sesegukan*
See you next chapter! And don't forget to review, fav and follow! *wink*
NEXT CHAPTER : LITTLE RYOUTA-SSU!
