Bokutachi no Akachan
Author: Lynhart Lanscard
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Genre: Romance/Humor
Pairing: NaruHina, SasuSaku, SaiIno
Chapter 2 : The Melancholy of Namikaze Naruto
Di sini, di ruangan keluarga dari kediaman Namikaze, Hinata tengah terbaring di sofa dengan Naruto yang terus mengawasinya. Naruto terus bolak-balik kebingungan melihat gadis yang pingsan ini tak kunjung sadar, sampai akhirnya dia teringat kejadian di film dimana sang tokoh utama memberikan nafas buatan kepada sang wanita untuk menyadarkannya. Mungkin cara itu perlu dicoba pikirnya. Perlahan Naruto mendekatkan wajahnya ke arah Hinata sambil terus menahan gemetaran tubuhnya.
"Tenanglah Naruto, ini bukan ciuman! Kau cuma harus mendekatkan bibirmu ke bibir Hinata dan memberikan nafas buatan, dan ini sama sekali bukan ciuman! Ingat itu!" ujar Naruto meyakinkan dirinya sendiri.
Namun begitu melihat bibir Hinata wajahnya langsung berubah merah dan segera berbalik arah sambil berteriak, "Aah! Tidak mungkin aku bisa melakukan ini!"
"Menurutmu, apa yang harus kulakukan Himeka-chan? Apa aku harus benar-benar melakukannya?" tanyanya sambil melihat Himeka.
"Chu! Chu!" jawab Himeka sambil memajukan mulutnya, seolah memberi tanda untuk segera melakukan apa yang harus dilakukannya.
"Eh! Kau yakin?!"
"Em!" Himeka mengangguk.
"Baiklah, ini untuk menolong mamamu!" Naruto memantapkan hati dan jiwanya untuk melakukan tugas yang mulia itu, membangunkan sang puteri dari pingsannya.
Perlahan dia terus mendekatkan wajahnya dan dia akan mulai melakukan nafas buatannya dalam hitungan 1...2...3...Naruto sudah mendekatkan bibirnya ke arah wajah Hinata yang kini hanya berjarak 5 centimeter dan kemudian...
DUAK! Sebuah suara yang tercipta akibat beradunya dahi Hinata dengan Naruto yang jelas saja membuat Naruto kesakitan setengah mati sambil berteriak dengan keras, "ITTAI!"
"Ittai, kenapa dahiku sakit sekali? Rasanya seperti terantuk sesuatu?" Hinata yang baru saja terbangun dari pingsannya terlihat bingung. "Loh kenapa kau memegangi dahimu Naruto-kun?"
"Tidak apa-apa, aku hanya terantuk sesuatu ketika akan membangunkanmu," Naruto berbohong untuk menutupi rasa malunya.
"Mama baik-baik saja?" Himeka bertanya pelan.
"Benarkan dia memanggilmu mama, kurasa wajah kita mirip seperti orangtuanya," ujar Naruto.
"Ma...Mama?! Apa kau tak salah mengenali orang Himeka-chan?" Hinata nampak terkejut mendengarnya.
Himeka menggeleng cepat lalu berkata sambil menunjuk Naruto dan Hinata, "Ini Papa dan ini Mama."
Bagi Hinata ini adalah mimpi yang selalu dibayangkannya, menikah dengan Naruto lalu punya anak berambut panjang pirang pucat dan mempunyai warna bola mata yang mirip dengannya persis seperti Himeka yang berdiri di depannya saat ini.
Bokutachi no Akachan
Nah sekarang waktunya untuk tidur bagi Himeka, Naruto dan Hinata sudah memutuskan bahwa Hinata dan Himeka akan tidur bersama di kamar tamu sedangkan Naruto tetap tidur di kamarnya. Namun begitu melihat Naruto pergi, Himeka langsung menangis keras.
"Ba...bagaimana i...ini Naruto-kun?" tanya Hinata kebingungan.
"Aku punya ide, bagaimana jika kita menemaninya sampai dia tertidur lalu kemudian aku meninggalkannya," usul Naruto.
"I...ide yang bagus Naruto-kun," sahut Hinata.
"Mama, nina bobo," pinta Himeka.
"Ni... nina bobo? Ta...tapi aku tidak tahu caranya menyanyikannya Himeka-chan."
"Nina bobo!" rengek Himeka lagi.
"Sudah nyanyikan saja Himeka nina bobo, lagipula aku jiga ingin mendengar suaramu ketika bernyanyi hehe," kata Naruto sambil tertawa girang.
Setelah bersusah payah menyanyikan lagu nina bobo selama sepuluh menit akhirnya Himeka tetidur dengan pulas. Hinata merasa senang melihat wajah Himeka yang polos.
"Himeka sepertinya sudah tertidur Naruto-kun, sekarang saatnya..." Hinata terkejut melihat Naruto yang juga tertidur pulas di samping Himeka. Nampaknya lagu Hinata tidak hanya berpengaruh pada Himeka namun Naruto juga.
"Na...Naruto-kun! Bangun dong," kata Hinata sambil menggoyang-goyangkan tubuh Naruto.
"Sebentar lagi Kaa-san, aku masih ngantuk," gumam Naruto.
"A..aku Hinata Naruto-kun!"
"Oh Hinata, aku akan segera pindah sampai besok dan selamat..." DUAK! Belum selesai dia mengucapkan kalimatnya dia menabrak dinding.
"Kau tak apa-apa Naruto-kun?!"
"Tidak apa-apa Kaa-san, oyasumi," jawab Naruto sambil mengelus dahinya.
"Aku harap dia benar-benar tidak apa-apa," ujar Hinata cemas.
Bokutachi no Akachan
Setelah melewati hari yang melelahkan, Naruto akhirnya bisa tertidur pulas dia atas ranjangnya yang empuk tanpa memikirkan beban apapun. Tak terasa akhirnya pagi menjelang dan sinar mentari pagi pun memasuki kamarnya membuatnya terbangun.
"Ehmm...sudah pagi ya?...Apa sudah pagi?! I...ini gawat aku harus segera bersiap-siap!" ujar Naruto panik.
"Ara, kau sudah bangun Naruto-kun?"
"Hi...Hinata? Kenapa kau berpakaian seperti itu?" tanya Naruto heran atau lebih tepatnya terkesima melihat Hinata menggunakan celemek yang biasa digunakan ibunya ketika memasak.
"Eh...Me...memangnya ada yang salah Naruto-kun?"
"Ti...tidak, hanya kau terlihat lebih cantik," Naruto sengaja memelankan suaranya dibagian akhir agar Hinata tak mendengarnya, namun entah bagaimana Hinata masih mendengar suaranya dan membuat wajahnya tersipu malu.
Keadaan pun menjadi hening, keduanya tak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka tenggelam dalam keheningan yang mereka ciptakan sendiri. Akhirnya keheningan itu berhenti ketika Himeka berteriak memanggil mereka.
"Papa! Mama! Lapar!" seru Himeka sambil memegangi perutnya.
"Ah iya, sebentar Himeka-chan!" Hinata langsung menuju ke dapur untuk mempersiapkan sarapan untuk Himeka, dirinya dan Naruto.
"Aah...apa sih yang kupikirkan barusan," Naruto menghela nafas panjang seraya beranjak dari tempat tidurnya.
Setelah mandi dan berpakaian Naruto bergabung bersama Hinata dan Himeka di ruang makan dengan segala sarapan yang terhidang lezat di atas meja makan.
"Wah sepertinya enak sekali, kau memang hebat Hinata!" puji Naruto.
"Na...Naruto-kun bisa saja, ini kan hanya nasi goreng biasa," sahut Hinata sambil tersipu malu
"Ah jangan merendahkan kemampuan memasakmu yang hebat itu, lihat daging bulat ini yang dimasak dengan begitu sempurna," Naruto menunjuk potongan ham yang berada di dalam nasi gorengnya.
"Na...Naruto-kun, itu kan hanya ham," Hinata memberi penjelasan.
"Ha...Ham?! Ara ternyata aku salah ya, hehe."
"Hime mau itu," Himeka menunjuk potongan sandwich yang dipegang Naruto.
"Eeh?! Tapi ini makanan yang pedas Himeka-chan nanti kau sakit perut, kau makan bubur saja ya," ujar Hinata sambil menyerahkan bubur yang sudah disiapkannya.
"Tidak mau!" Himeka menggembungkan pipinya dengan sangat imut.
"Sudahlah Hinata biarkan saja dia merasakannya, ini akan menjadi pengalaman untukknya," sahut Naruto.
"Ta...tapi Naruto-kun..." Hinata nampak cemas.
"Tidak apa-apa, lagi pula ini tidak terlalu pedas kok," Naruto meyakinkan.
Akhirnya dengan berat hati dan perasaan cemas Hinata membiarkan Himeka untuk mencicipi masakan buatannya itu, kedua pasangan itu nampak cemas ketika dia menelan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya, mengunyahnya, lalu menelannya.
"Enyak!" ujar Himeka dengan mulut penuh, sementara Naruto dan Hinata bisa bernafas lega sekarang.
"Anak ini punya keberanian juga, kalau begitu bagaimana jika nanti malam kita memasak ramen super pedas?" usul Naruto.
"Tidak boleh! Aku tidak akan memasak itu!" ucap Hinata tegas.
"Pelit," gerutu Naruto pelan.
Bokutachi no Akachan
"Jadi kita akan membawanya ke sekolah?" tanya Hinata.
"Yah mau bagaimana lagi? Jika ditinggalkan di rumah siapa yang mengawasinya, lagipula disini tidak ada tempat penitipan anak. Jadi tak ada pilihan lain selain membawanya ke sekolah," jelas Naruto.
"Ta...tapi siapa yang akan menjaganya nanti?"
"I..itu belum kupikirkan Hinata, mungkin nanti ada sang malaikat yang turun dari langit yang akan membantu kita," khayal Naruto.
"I...itu tidak mungkin Naruto-kun."
Akhirnya mereka berdua membawa Himeka ke sekolah dan berencana untuk menjaganya di ruang klub. Mungkin anggota klub yang lain sudah tiba dan mereka bisa membicarakan menjaga Himeka nanti, namun begitu ruang klub dibuka yang berada disana bukanlah Sakura, Sasuke, Sai atau Ino melainkan seorang laki-laki berumur 25 tahun bernama Hatake Kakashi, guru pengawas klub mereka.
"Loh Kakashi-sensei ngapain disini?" Naruto terheran-heran melihat pengawasnya yang kini berada di ruang klubnya, biasanya dia sangat jarang memonitori klub yang dibimbingnya, kunjungan ke klub pun bisa dihitung dengan jari.
"Memangnya aneh jika aku berada di ruangan klub yang kubimbing?" Kakashi-sensei berbalik tanya.
"Biasanya kan sensei jarang kesini, memangnya ada apa?"
"Pagi ini harusnya aku mempunyai waktu luang karena tidak ada kegiatan mengajar, tapi Shizune terus mendesakku untuk tetap mengerjakan laporanku, untuk menghindarinya aku kesini agar bisa tenang membaca novel Icha-Icha," terang Kakashi sambil menunjukkan buku yang sering dibawanya.
"Jadi kau menghindari Shizune Nee-san, dia bisa membunuhmu jika tahu kau ada disini. Jangan lupa dia murid nomor satu Tsunade Baa-chan," kata Naruto sambil tersenyum.
"Akan kuingat itu, ngomong-ngomong anak siapa yang kau bawa itu Naruto?" tanya Kakashi sambil menunjuk Himeka yang berada digendongan Hinata.
"I...ini...ini.." Hinata langsung terkejut dan tergagap ditanya seperti itu.
"Dia adalah adik sepupu Hinata, iya kan Hinata?" Naruto bertanya sambil memberikan kode kedipan mata.
"I..iya sensei!" jawab Hinata setelah mengerti kode dari Hinata.
"Lalu kenapa kalian membawanya ke sekolah?"
"Ehm...itu...itu..." kali ini Naruto yang bingung menjawabnya.
"Ka...kami disuruh menjaganya sensei karena di rumahnya tidak ada orang."
"Kenapa tidak dititipkan di tempat penitipan anak?"
"Di tempat kami tidak ada tempat penitipan anak, oh iya sensei bisa menolong kami kan?"
"Apa maksudmu Naruto?"
"Sensei kan punya waktu luang, bagaimana jika membantu kami menjaga Himeka?"
"Eh?! Aku?" Kakashi menunjuk dirinya sendiri.
"Iya sensei! Kumohon!" pinta Naruto sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Sensei kumohon!" Hinata juga ikut memohon.
"Mohon!" Himeka juga ikutan.
"Ba...bagaimana ya? Baiklah kalau begitu, aku akan membantu kalian..."
"Terimakasih sensei! Kalau begitu selamat berjuang!" ucap Hinata dan Naruto yang langsung berlari keluar ruangan menuju kelas mereka
"Hei tunggu! Kalian belum memberitahuku cara merawat anak ini!" teriak Kakashi putus asa.
Bokutachi no Akachan
Pelajaran pertama pada hari itu adalah Fisika yang dibawakan oleh Hibiki-sensei yang menurut Naruto adalah guru dengan wajah dan pribadi yang paling menyeramkan di seluruh Konoha Gakuen. Lihat saja dari badannya yang besar dan wajahnya yang dihiasi luka sayatan yang lumayan besar, menurut rumor beliau dulunya adalah seorang tentara yang membantai semua musuhnya dengan hanya sebuah garpu,ada juga yang bilang dia adalah mantan pembunuh berdarah dingin dan masih banyak rumor lain yang beredar. Meski banyak rumor yang beredar tentangnya hanya ada satu persamaan dalam rumor tersebut, dia adalah orang yang menyeramkan.
Naruto merasa tidak tenang dalam mengikuti pelajaran, beberapa kali matanya menatap jam dinding yang terletak di depan kelas seolah berharap waktu cepat berakhir. Beruntung dia tidak ketahuan oleh Hibiki-sensei, entah apa yang menimpanya jika dia ketahuan sedang melamun sambil melihat jam.
Ketika para murid sedang asyik, maaf ralat maksudnya terpaksa mencatat pelajaran yang dijelaskan oleh Hibiki-sensei tiba-tiba terdengar suara, "Papa!"
"Siapa itu yang memanggil PAPA!?" bentak Hibiki-sensei dengan wajah yang bisa dikatakan penuh amarah.
Seluruh kelas nampak hening atau lebih tepatnya terkejut mendengar suaran bentakan Hibiki-sensei yang menakutkan.
"JAWAB!" teriaknya lagi, namun para murid tetap diam sambil menundukkan wajah mereka.
Ketika Naruto menundukkan wajahnya dia bisa melihat Himeka tengah merangkak dari pintu kelas yang terbuka menuju mejanya membuat ekspresi panik di wajah Naruto.
"Apa yang kau lakukan Himeka?! Jangan kesini!" Naruto berusaha memberitahu Himeka agar tidak mendekat.
"Papa!" Himeka memanggil Naruto sekali lagi.
"Siapa itu?!" Hibiki bertanya sekali lagi.
Naruto tiba-tiba mengangkat tangannya dan berkata, "I...itu aku sensei."
"Apa menurutmu ini lelucon Namikaze?!" ujar Hibiki sambil menghancurkan kapur yang dipegangnya.
GLEK! Naruto menelan ludahnya dengan tiba-tiba, dia merasa seperti akan diterkam oleh harimau yang sedang kelaparan. Tiba-tiba bel berbunyi menandakan waktu jam pelajaran Fisika telah berakhir dan saatnya istirahat tepat saat Hibiki berjalan mendekati meja Naruto.
"Kau beruntung kali ini Namikaze tapi aku tidak bisa menjamin apa yang terjadi besok," ucap Hibiki sambil meninggalkan kelas sementara Naruto sudah tergolek lemas di mejanya.
Bokutachi no Akachan
"Sensei kenapa kau membiarkan Himeka ke kelasku?!" tanya Naruto pada Kakashi yang tengah tertidur di atas meja dengan novel icha-icha di tangannya.
"Bicara apa kau Naruto? Anak itu dari tadi berada di sini bersamaku, lihat ini," ujar Kakashi sambil menunjuk kursi kosong yang berada di sampingnya. "Loh kenapa kosong?"
"Sensei lebih baik memeriksakan matamu ke dokter mata secepatnya," sindir Naruto.
"Mataku masih sehat baka! Sudahlah aku mau ke ruang guru dulu sampai nanti."
BRAK! Wajah Kakashi dihantam oleh pintu yang tiba-tiba terbuka, pelakunya tak lain tak bukan adalah Yamanaka Ino yang nampak histeris melihat Himeka yang berada di ruang klub.
"Kyaa Himeka-chan! Kenapa kau ada di sini? Onee-chan senang sekali melihatmu!" seru Ino bersemangat.
"Kalau kau senang melihatnya, kenapa tidak membawanya ke rumahmu?" Naruto menyindirnya dengan sebuah pertanyaan.
"Baka kalau bisa dia sudah kubawa kerumah, tapi nanti apa yang akan ayahku katakan jika tiba-tiba aku datang dengan seorang bayi? Kau mau bertanggung jawab?!" Ino langsung menghujani Naruto dengan ucapan yang beruntun itu.
"Aku kan cuma bercanda Ino, jangan dianggap serius."
"Yamanaka-san bukannya lebih baik jika kau membuka pintu pelan-pelan agar tidak memakan korban," ucap Kakashi sambil memegangi dahinya yang terhantam pintu.
"Ara, memangnya kenapa sensei?" tanya Ino dengan wajah tak berdosa.
"Sudahlah! Aku pergi!"
"Kenapa dia Naruto?"
"Mana kutahu!"
"Ah sudahlah yang pentinga adalah saatnya bermain dengan onee-chan, iya kan Himeka-chan?" tanya Ino yang mendekati Himeka.
"Papa takut..." Himeka terlihat seperti akan menangis melihat Ino yang terlalu dekat dengannya.
"Jangan takut Himeka-chan onee-chan tidak akan...Tunggu dulu! Dia tadi memanggilmu papa?" Ino bertanya dengan eksperesi orang yang terkena serangan jantung.
"Iya dan juga dia memanggil Hinata mama, memangnya ada masalah?"
"Tentu saja iya bodoh! Aku tidak bisa membiarkan Himekaku memanggilmu papa!"
"Hei! Hei! Sejak kapan Himeka itu milikmu? Himeka memanggilku dan Hinata seperti itu mungkin karena wajah kami mirip seperti kedua orangtuanya," jelas Naruto.
"Kalau dilihat-lihat memang mirip sih antara kau dan Himeka terutama dibagian rambut dan hidungnya tapi matanya dan mulutnya mirip Hinata. Naruto jangan-jangan Himeka..."
"Yang benar saja baka! Aku belum melakukan apa-apa dengan Hinata?! Mana mungkin bisa punya anak!" teriak Naruto memotong perkataan Ino.
"Oooh...jadi belum ya? Berarti di masa depan kau mau melakukannya?" goda Ino.
"I...itu...itu..."
Brak! Kali ini pintu kembali dibuka kasar tapi yang membuat heran karena yang membuka pintu adalah Hinata, tak biasanya dia membuka pintu dengan kasar. Biasanya Hinata melakukannya dengan pelan dan lemah lembut seperti membuat adonan kue.
"Naruto-kun kau bisa membantuku?!" tanya Hinata yang kedengarannya panik.
"Ya...ya bisa sih tapi membantu apa nih?"
"Tolong berpakaianlah seperti wanita!" pinta Hinata sambil mengatupkan kedua tangannya.
"EH?!" Naruto tak bisa mempercayai kata-kata Hinata yang didengarnya.
Chapter 2 EnD
Minna-san gimana kabarnya, udah pada karatan ya nunggu update fic ini? Hehe maklumin aja karena saya orang yang malas dan sibuk (kebanyakan malasnya sih :P). Kemarin pada banyak yang nanya muka Himeka ya? Tuh sudah saya berikan ciri-cirinya di atas kalau masih kurang lihat aja shion waktu kecil di movie naruto shippuden yang pertama. Sekian dulu chapter kali ini semoga menghibur reader semua dan jangan lupa reviewnya. See you in next chapter :D.
Thanks to...
Nurul Uzumaki, Kurinesasoku, Arakida Amane, Natsu Hiru Chan, Syeren, Hina chan, fajar, al-afraa, Divine Emission, Delfiana Days, Putri Hyuuga Uzumaki, Hyuna toki
