Bokutachi no Akachan

Author: Lynhart Lanscard

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance/Humor

Pairing: NaruHina, SasuSaku, SaiIno

Chapter 4 : Daijobu sa, ore wa sobani iru yo!

"Ittai! Ino kau bisa pelan-pelan tidak sih!" jerit Naruto ketika Ino menempelkan sebuah plester untuk menutupi lebam di wajahnya.

"Ini aku sudah pelan-pelan BAKA! Kau sendiri yang berkelahi seperti orang gila, harusnya kau sendiri yang mengurus lukamu!" Ino kembali menempelkan plester, tapi kali ini dengan gaya seperti orang yang sedang menampar.

"Ittai! Ino, kau mau membunuhku ya?!" pekik Naruto kesakitan.

"Kalau iya memang kenapa?" balas Ino sengit.

"Su...sudah Ino-san, Naruto-kun kan sudah berusaha keras tadi. Tak baik jika kita mengomelinya, sini biar aku saja yang mengurus lukanya," ujar Hinata sambil meraih kotak obat dari tangan Ino.

"Kau memang terlalu baik Hinata, sayang si bodoh ini tidak sadar-sadar. Kau terlalu baik untuknya," ujar Ino sambil menatap ke arah Naruto.

"Heh? Apa maksudnya itu?" tanya Naruto tak mengerti.

"I...Ino-san!" teriak Hinata panik.

"Maaf Hinata aku keceplosan, tapi lebih baik si bodoh ini tahu sekalian daripada dia tidak pernah menyadarinya," sahut Ino.

"Hei, sebenarnya apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Naruto sekali lagi.

"Naruto, sebenarnya Hinata itu menyu..."

"Ino-saaan!" BWUSH! Kotak obat yang dipegang Hinata terlempar dan melayang indah ke arah wajah Naruto dan sukses membuatnya pingsan.

"Papa tidur," ucap Himeka geli melihat Naruto yang pingsan.

"Na...Naruto-kun! Gomenasai!"

"Aah, kurasa kalian akan jadi pasangan yang cocok," Ino berkata sambil mengambil obat dan perban yang berserakan.

Beberapa menit kemudian, para korban pingsan yang tadi tergeletak di lantai ruang klub akhirnya menunjukkan tanda-tanda siuman. Syukurlah ini hanya fiksi, kalau tidak mungkin mereka bertiga sudah menderita gegar otak yang parah. Sakura, Sai dan Naruto mulai membuka mata mereka.

"Aduh kepalaku sakit, rasanya tadi aku seperti baru bermimpi buruk," ujar Sakura sambil memegang kepalanya yang sakit.

"Benar aku juga," sahut Sai.

"Apa mimpi kalian itu melihat Naruto yang crossdresing?" tanya Ino sambil tersenyum.

"Kok kau tahu Ino? Bagaimana bisa?" tanya Sakura.

"I...Ino! Awas kalau kau memberitahu mereka!" teriak Naruto panik.

"Tenang saja Naruto, cerita kerenmu itu akan kusimpan rapi dan berakhir di mading sekolah," goda Ino.

"Ino! Awas kau!" Naruto kini berlari sambil mengerjar Ino.

Meski Naruto berkata seperti itu, namun akhirnya mereka semua mengetahui kebenaran tentang Naruko-chan. Hasilnya Sakura dan Sai terbahak-bahak mendengar hal itu.

"Sudah hentikan tawa kalian yang menyakitkan itu!" Naruto sepertinya sangat kesal melihat respon teman-temannya. Namun dia tetap tidak bisa bergerak karena sedang diobati Hinata.

"Haha, gomen, gomen. Habisnya lucu sekali sih, aku tak menyangka saja kau mau crossdresing demi Hinata," sahut Sakura.

"Sudah Sakura, jangan menggoda Naruko-chan," goda Ino yang malah menambah emosi Naruto.

"Tapi aku heran," kata Sai tiba-tiba.

"Kenapa?" balas Ino.

"Kenapa tidak menyuruh Yamanaka-san atau Sakura-san untuk menjadi Naruko-chan, bukannya lebih baik ya," kata Sai.

Tiba-tiba semua langsung berhenti tertawa dan keadaan menjadi sunyi senyap.

"Kadang-kadang laki-laki harus melakukan tugasnya Shimura-kun," ujar Ino pelan.

"Jangan-jangan kau tidak memikirkannya ya Ino?" tanya Sakura.

"Ino! Awas...Ah ITTAI ITTAI! Hinata pelan-pelan dong!"

"Ah maaf Naruto-kun, sakit ya?"

"Ah tidak, tidak apa-apa. Hanya sedikit..."

"Heh, Papa dan Mamamu mesra sekali ya Himeka-chan?" goda Sakura sambil menggendong Himeka.

"Iya! Papa memang seperti itu, kemarin Papa dan Mama..." jawab Himeka yang terlihat senang.

"Himeka-chan, sst!" Hinata memberi isyarat agar Himeka diam.

"Oh aku mencium bau gosip baru nih, hehe," tawa Ino terdengar mengerikan.

"Papa, Himeka juga mau mengobati Papa, boleh?" tanya Himeka antusias.

"Kau memang anak yang baik Himeka-chan, tentu saja boleh," jawab Naruto.

"Himeka akan menyembuhkan Papa! Se~No!" Himeka sekuat tenaga menekan plester ke pipi Naruto yang lebam.

"GYAAA! ITTAI!" dan berakhirlah kegiatan klub pada hari itu

Bokutachi no Akachan

Setelah melewatkan hari yang melelahkan di ruang klub, akhirnya mereka pulang. Hinata memutuskan akan menginap lagi di rumah Naruto, karena tak tega melihat Himeka yang terus merengek kepadanya. Setelah membuatkan makan malam untuk mereka bertiga dan menidurkan Himeka, Hinata akhirnya punya waktu senggang. Dia memutuskan untuk membaca di ruang keluarga Namikaze yang cukup besar.

"Ini teh gandum untukmu," ujar Naruto sambil membawakan segelas teh gandum yang dingin.

"Arigatou Naruto-kun," Hinata menjawab sambil menerima teh tersebut.

"Rajin sekali kau belajar di waktu senggang, kalau aku sih lebih memilih bermain untuk mengisi waktu senggangku," canda Naruto.

"Ah! Aku bukan belajar kok, hanya sedang membaca buku cerita anak-anak," jawab Hinata sambil menunjukkan sampul novel yang tengah dibacanya.

"Hehe," Naruto tertawa pelan sambil melihat Hinata yang wajahnya mulai memerah.

"Ada yang salah kalau aku baca buku anak-anak!" raut wajah Hinata terlihat kesal saat dia mengucapkan kalimatnya.

"Ah tidak, tapi kurasa anaeh saja. Kupikir kau bukan tipe yang membaca buku anak-anak, menurutku kau lebih cocok membaca buku eksak atau minimal novel dengan jalian cerita yang rumit," ujar Naruto mengutarakan pendapatnya.

"Se...sebenarnya buku ini peninggalan dari Kaa-sanku, dulu Kaa-san sering sekali membacakan buku ini saat aku mau tidur, tapi kini aku hanya membacanya untuk mengingat masa lalu saja," jawab Hinata, wajahnya berubah menjadi muram.

"Gomen..., aku tak bermaksud mengingatkanmu pada Kaa-sanmu," sesal Naruto.

"Eem," Hinata menggelengkan kepalanya dan berkata lagi, "Bukan salah Naruto-kun kok."

"Kalau begitu, boleh aku tahu cerita buku itu?"pinta Naruto.

"Tapi Naruto-kun janji tidak akan mentertawakannya ya?"

"Aku janji!"

"Ceritanya tentang seekor burung bul-bul yang dikurung terus untuk menyenangkan hati seorang kaisar dengan suara merdunya, meskipun diberi perawatan yang enak tetap saja sang burung tak nyaman karena terus dikurung di sangkar yang sempit. Sampai akhirnya suatu saat sang kaisar mendapatkan ganti si burung bul-bul, yaitu mesin berbentuk burung yang dapat bernyanyi dengan indah tak kalah merdunya dengan si burung, namun kelebihannya adalah tak kenal lelah. Akhirnya sang burung pun tergantikan, dia pergi dari sangkarnya pada suatu hari saat kandangnya dibersihkan."

"Dasar! Kaisar itu keterlaluan sekali! Hanya karena sudah mendapat barang yang bagus, si burung sudah dilupakan, padahal dia kan terus mengurungnya selama ini!" Naruto mengomel, spertinya dia terlalu terbawa cerita.

"Sabar Naruto-kun, ini kan hanya cerita," ujar Hinata menenangkan.

"Tapi tetap saja aku kesal pada kaisar bodoh itu! Ingin rasanya aku memukul kepalanya!" umapt Naruto kesal.

"Boleh kulanjutkan ceritanya?"

"Silahkan Hime, ah maksudku Hinata. Entah kenapa aku ingin sekali memanggilmu Hime, mungkin kau dulu itu seorang puteri ya?" canda Naruto.

"Bi...bisa saja kau Naruto-kun, aah sampai di mana tadi? Oh iya, kaisar terus menghibur dirinya dengan si burung bulbul tiruan yang terbuat dari mesin, namun entah kenapa lama-lama tersa membosankan. Lagu yang dimainkan selalu sama, bahkan para pelayan pun hafal dengan lagu yang dimainkan burung tiruan tersebut. Lain halnya dengan nyanyian si burung bulbul yang selalu berbeda dan merdu. Suatu ketika saat mendengar burung bulbul melarikan diri, kaisar sangat sedih. Dia menjadi sakit-sakitan dan akhirnya hanya bisa terbaring di ranjangnya, menunggu maut datang menjemputnya. Namun, entah bagaimana datang si burung bulbul yang sudah lama pergi, dia menyanyikan lagu yang begitu indah yang tak pernah didengar sang kaisar sekalipun. Akhirnya perlahan-lahan sang kaisar pun sembuh dari sakitnya dan berterimakasih pada si burung bulbul. Sang kaisar memintanya kembali, namun Burung bulbul menolak dengan halus. Tapi dia berjanji akan selalu datang kepada kaisar untuk menyanyikan lagu untuknya," Hinata mengakhiri ceritanya dengan menutup buku yang dipegangnya.

"Ce...ceritanya sa...sangat mengharukan Hinata!" isak Naruto sambil mengelap air matanya yang terus menetes.

"I...Ini kan hanya dongeng Naruto-kun, kau tak perlu sampai menangis seperti itu."

"Ta...tapi, si burung itu benar-benar tulus menyayangi kaisar, meski dulu dia pernah menyakiti hatinya. Cintanya benar-benar tulus."

"Aku ingin menjadi seperti si burung bulbul," ujar Hinata tiba-tiba.

"Eh maksudmu?"

"Kau tahu, ayahku sangat berharap padaku untuk menjadi penggantinya sebagai pemimpin klan Hyuuga, namun aku tak bisa menjadi seperti yang dia minta, aku tak mau," Hinata mulai menceritakan masalahnya.

"Sebagai pemimpin klan? Bukannya masih ada Neji, kakakmu?"

"Neji Nii-san bukanlah kakak kandungku, dia sebenarnya sepupuku. Lagi pula dia sebenarnya anak dari Hizazhi Ojii-san yang merupakan adik ayah. Menurut adat, yang menjadi penerus adalah keturunan anak pertama," jelas Hinata.

"Memangnya kenapa kau tak mau menjadi pemimpin klan?" tanya Naruto.

"Aku...aku akan pergi dari Konoha, dan kecil kemungkinannya aku akan kembali," jawab Hinata.

"Tu...tunggu dulu! Kenapa harus pergi dari Konoha?!"

"Aku akan belajar di luar negeri..."

"Tapi setelah selesai bisa kembali kan?!"

"Tidak bisa Naruto-kun, setelah selesai aku akan dinikahkan dengan pemimpin klan Juuso untuk menguatkan kedudukan klan. Karena itu aku tak mau menjadi pemimpin klan, aku tak mau meninggalkan kota ini, aku tak bisa meninggalkan orang-orang yang kucintai...," Hinata kini menangis terisak dalam pelukan Naruto.

"A...aku tidak bisa berbuat apa-apa Naruto-kun! Tou-san mengusirku setelah aku menolak permintaanya, sekarang aku hanya menumpang di rumah keluarga Kou-san, salah seorang pelayanku. Aku seperti berada didalam sangkar yang Tou-san ciptakan Naruto-kun!"

Ima watashi no negai koto ga

Kanau naraba tsubasa ga hoshii

Kono senaka ni tori no youni

Shiroi tsubasa tsukete wo kudasai

Kono oozora ni tsubasa wo hiroge

Tonde yukitai yo

Kanashimi no nai jiyuu no sora e

Tsubasa hatamekase yukitai

"Apa kau tahu arti lagu itu Hinata?" tanya Naruto setelah menyanyikan sepenggal lagu tersebut.

"Ya, memangnya kenapa?" Hinata balik bertanya.

"Aku... aku yang akan memberimu sayap putih. Sayap putih untuk terbang menuju langit yang penuh kebebasan dan tanpa rasa sedih yang kau dambakan! Aku akan selalu bersamamu!" janji Naruto.

"Naruto-kun..." tangis Hinata akhirnya tak bisa terbendung lagi, dia menangis dalam pelukan Naruto.

"Tidak apa-apa, aku akan selalu berada di sisimu, karena itu jangan menangis lagi," ujar Naruto sambil mengelus kepala Hinata.

"Bisakah...untuk sebentar saja, biarkan aku seperti ini, dipelukanmu," pinta Hinata.

"Tentu saja," jawab Naruto pelan.

Mereka berdua kini larut ke dalam suasana romantis yang mereka ciptakan, keduanya saling mengeratkan pelukan masing-masing sekaan tak mau saling melepaskan. Tapi tiba-tiba...

"Papa dan Mama sedang apa? Himeka juga mau!" pekik Himeka yang kini langsung berlari menuju ke arah Naruto dan Hinata.

"Waa! Himeka-chan ini urusan orang dewasa!" ujar Naruto yang panik.

"Curang! Himeka juga mau pelukan bersama Papa dan Mama!" jawab Himeka yang langsung menghambur ke arah mereka berdua.

"Mungkin inilah yang kuinginkan sebenarnya, kebahagiaanku adalah bersamamu Naruto-kun. Arigatou...," batin Hinata yang kini tersenyum bersama keluarga yang selama ini didambakannya.

Bokutachi no Akachan

Keesokan harinya di ruang klub berjalan seperti biasa, Naruto yang sibuk bermain dengan console game kesayangannya, Sai yang asik membaca buku tentang seni, Sasuke yang tidur siang, Sakura yang mengamati Sasuke tidur siang, dan Hinata dan Ino yang asyik bermain dengan Himeka. Tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari speaker yang terpasang di dinding klub.

"Perhatian! Namikaze Naruto harap melapor ke ruang guru sekarang juga!" sepertinya suara Hibiki Sensei yang memanggil Naruto barusan. Naruto yang baru saja mendengarnya wajahnya tiba-tiba berubah pucat.

"Apa yang kau lakukan kali ini Naruto?" tanya Sakura.

"Sumpah! Aku belum melakukan apapun Sakura-chan! Mana kutahu sebabku dipanggil!" sahut Naruto.

"Tabah saja menerima siksaanmu itu Naruto, kudengar si Hibiki itu suka menyiksa orang. Mungkin saja nanti kau digantung sambil dikuliti," timpal Ino asal.

"Wah itu bisa menjadi inspirasi untuk karyaku yang berikutnya, berjuanglah Naruto-kun!" ujar Sai memberi semangat.

"Semangat kepalamu! Aku mau mati nih!"

"Mama, apa itu dikuliti?" tanya Himeka.

"Pembicaraan ini terlalu dewasa untukmu Himeka-chan, ayo kita main saja," Hinata berusaha mengalihkan Himeka.

"Hinata kalau aku lama, kau pergi saja dulu untuk membeli perlengkapan Himeka di supermarket ya," kata Naruto sebelum dia beranjak pergi meninggalkan ruang klub.

"Eeh, sejak kapan kalian menjadi begitu akrab hah?" tanya Ino dengan pandangan menyelidiki.

"Ka...kami memang berjanji untuk berbelanja bersama kok, Ino-san," bantah Hinata dengan wajah yang tersipu malu.

"Kau sudah mengatakan perasaanmu padanya belum?" tanya Sakura.

"Belum, tapi tadi malam..." ucapan Hinata terpotong oleh ketukan kecil di pintu.

"Sumimasen, apa Hinata ada?" tanya Neji sopan.

"Aah! Ada apa Nii-san?" sahut Hinata.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, mungkin ini agak lama tapi ini penting. Kau bisa?" tanya Neji, sementara wajah Hinata nampak bingung karena memikirkan Himeka.

"Sudah pergi saja, urusan Himeka biar aku dan Sakura yang mengatasinya," kata Ino penuh percaya diri.

"Gomenasai! Kalau aku lama bisa kalian gantikan aku untuk membeli perlengkapan Himeka dan mengantarnya ke rumah Naruto-kun? Daftarnya akan kuberikan," pinta Hinata.

"Serahkan saja pada kami!"

Akhirnya Hinata dengan berat hati pergi meninggalkan ruang klub, untung Himeka mengerti. Dia tak lagi merengek ketika Hinata pergi dari sisinya. Kini dia sibuk menyusun puzzle yang Ino berikan untuknya.

"Nah Himeka-chan, asyik kan permainan yang Onee-chan berikan?" tanya Ino yang tak melepas perhatiannya pada Himeka.

"Em!" Himeka menjawabnya dengan sebuah anggukan yang bersemangat.

Tok! Tok! Kali ini pintu kembali diketuk dari luar, namun yang mucul bukanlah salah seorang murid ataupun guru dari Konoha Gakuen, melainkan seorang pemuda berumur 20-an. Dia memakai almamater Konoha Daigaku, salah satu kampus elit di Konoha yang hanya bisa dimasuki oleh orang pintar dan orang kaya.

"Sumimasen, Sasuke ada?" tanya pemuda itu.

"Itachi-san? Sedang apa di sini?" tanya Sakura.

"Aku sedang mencari Sasuke, Haruno-chan, apa dia ada?" tanya Itachi satu-satunya kakak lelaki Uchiha Sasuke.

"Di..dia sedang tidur," jawab Sakura ragu-ragu.

"Dasar anak itu! Padahal aku sudah menyuruhnya cepat pulang! Sasuke bangun kau! kita pulang sekarang!" Itachi yang marah berteriak sambil menarik paksa Sasuke.

"Hah!? Kenapa Nii-san ada di sini!?"

"Berisik! Kau kan sudah janji akan membuat makan malam hari ini! Jangan lari dari tugasmu hari ini Sasuke!"

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian! Selama Tou-san dan Kaa-san tidak ada, akulah penguasa di rumah! Jadi turuti perintahku!" potong Itachi sambil menyeret Sasuke.

"Jangan Nii-san! Aku anti kekerasan! Aku tidak mau pulang!" teriak Sasuke membahana.

"Kurasa sebaiknya aku ikut. Gomen Ino, masalah Himeka kuserahkan padamu dan Sai-kun ya," ujar Sakura yang berlari mengejar pasangan bersaudara itu. Ino hanya terdiam dan selang beberapa detik kemudia dia berteriak.

"Celaka! Jangan tinggalkan aku Sakuraaaaa!"

Chapter 4 EnD

Yo, it's showtime! Gimana minna-san chapter kali ini apa sudah membuat kalian puas? Kalau belum silhakan baca ulang sampai puas :P. Haha bercanda kok, maksudnya silahkan tunggu di chapter depan. Oh iya, jangan lupa reviewnya. Matta ne!