Bokutachi no Akachan
Author: Lynhart Lanscard
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Genre: Romance/Humor
Pairing: NaruHina, SasuSaku, SaiIno
Chapter 5 : Toori sugari no Kamen Rider da, Oboitoke!
"Tunggu Sakura! Jangan tinggalkan aku sendirian!" teriak Ino memenuhi ruang klub membuat Himeka dan Sai terheran-heran. Ino yang biasanya tenang dan sering menggoda teman-temannya terlihat panik seperti itu.
"Memangnya kenapa kalau berdua denganku? Maaf saja ya, tapi aku bukan tipe lelaki mesum seperti Naruto-kun asal kau tahu," ujar Sai memecah keheningan yang tercipta.
"Go-gomen! Aku tak bermaksud mengataimu seperti itu, aku hanya..."
"Hanya apa?" sela Sai tak sabar.
"Hanya belum pernah berbelanja sendirian," jawab Ino pelan.
"Hah?"
"Hah? Hah?" Himeka mengikuti Sai sambil memainkan puzzlenya.
"Ke-kenapa memandangku seperti itu?" tanya Ino tergagap.
"Aneh saja, bukannya kau selalu berbelanja keperluan klub? Kenapa harus takut?" Sai bertanya balik.
"Itu karena ada Hinata dan Sakura!" seru Ino.
"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" Sai meletakkan kuasnya dan menghampiri Ino.
"Tentu saja harus ikut denganku membeli perlengkapan untuk Himeka! Mana mungkin aku membawanya sendirian kan?!"
"Heh? Jadi tugasku cuma jadi pengangkut barang?"
"Ya, bukan begitu juga sih, tapi bagaimana kalau ada orang jahat yang ingin menculik Himeka? Aku kan tidak bisa menghadapinya sendirian," sahut Ino tak mau kalah.
"Himeka tidak takut dengan penculik!" seru Himeka
"Jadi tolong Shimura-kun, antarkan aku! Onegai!" pinta Ino dengan wajah memelas.
"Onegai!" Himeka juga tak mau kalah.
"Apa boleh buat, ayo," jawab Sai malas-malasan.
Bokutachi no Akachan
Akhirnya setelah melakukan perjalanan dengan kereta selama hampir 30 menit mereka akhirnya sampai di pusat perbelanjaan terbesar di Konoha, Konoha Great Mall. Sebuah pusat perbelanjaan yang terdiri dari 5 lantai dan berisi hampir semua kebutuhan orang-orang di Konoha baik itu menengah ke bawah maupun ke atas.
"Wah besarnya! Rumah yang besar!" seru Himeka sambil melihat atap Konoha Great Mall yang luas dan dihiasi dengan lukisan langit biru dan tak lupa awan putihnya.
"Sepertinya Himeka senang sekali berada di sini," ujar Ino pada Sai yang terlihat agak kesal.
"Kenapa mukamu jadi seperti itu?"
"Kau tidak melihat aku sedang kesal, Himeka lebih menyukai lukisan itu daripada lukisanku. Dia bilang lukisanku seperti benang kusut, " gerutu Sai.
"Namanya juga anak kecil, kau ini ada-ada saja Shimura-kun," jawab Ino sambil tertawa.
"Yah aku kan hanya bercanda Yamanaka-san, untuk membuatmu tertawa. Habis mukamu dari tadi tegang sekali, persis seperti lukisan abstrak yang kulihat kemarin di pameran," Sai tersenyum sambil melontarkan candaanya.
"Dasar kau ini!"
"Onii-chan! Onee-chan! Cepat kemari!" teriak Himeka tak sabar.
"Ya! Kami akan segera datang Himeka-chan! Ayo ke sana Shimura-kun," Ino segera meraih lengan Sai dan membawanya menuju Himeka
Dan Sai hanya bisa mengikuti sambil berkata,"Ya, ya."
Bokutachi no Akachan
Ino yang terlalu bersemangat dalam berbelanja dengan Himeka terus saja menarik lengan Sai kesana kemari tanpa henti, sementara Sai hanya bisa pasrah diseret-seret seperti itu. Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata tertuju ke arah mereka, mengawasi tingkah laku mereka yang lucu.
"Hei lihat pasangan kekasih muda itu. Sungguh lucu ya, mengingatkanku saat masih muda dulu," ucap seorang ibu-ibu yang sudah agak berumur.
"Ya memang pasangan yang cocok, tapi seingatku kau kan ikut perjodohan orangtuamu, mana sempat kau pacaran seperti itu," balas ibu lainnya yang membuat wajah ibu tersebut merah padam.
Ino yang mendengar perkataan kedua ibu tersebut hanya tersenyum kepada mereka berdua dan dengan wajah yang memerah karena malu segera melepaskan pegangannya pada Sai.
"Go-gomen! Aku tidak sadar kalau sudah menyeretmu seperti itu," Ino berkata dengan wajah merah karena menahan malu, sungguh kejadian yang jarang terjadi.
"Tidak apa-apa, aku malah beruntung bisa mendapat kesempatan yang langka ini."
"Maksudmu digandeng oleh gadis tercantik di Konoha Gakuen begitu?" sombong Ino.
"Tidak, aku bisa melihat ekspresi malu-malu dari seorang Yamanaka Ino-san, sang ratu gosip Konoha Gakuen," canda Sai sambil menunjukkan potret wajah Ino yang tadi difotonya diam-diam.
"Kau! Hapus fotonya sekarang!" bentak Ino.
"Tidak akan, ini akan berakhir di mading sekolah besok," ujar Sai sambil menaruh ponselnya.
"Shimura-kun! Kesinikan HP-nya!" teriak Ino kesal.
"Tidak akan, iya kan Himeka-chan?" tanyanya pada Himeka yang ikut berlari.
"Iya!" jawab Himeka yang terus berlari.
Tak kenal lelah Ino terus mengejar Sai yang berlari sambil membawa HP yang ditaruh di sakunya, tampaknya Sai yang bertubuh atletis dan ramping itu mempunyai stamina lumayan yang tak mampu Ino imbangi. Ino nampak sudah kelelahan, melihat hal itu Sai malah terus memanas-manasinya.
"Ayo, apa itu semua sudah kemampuanmu, Yamanaka-san?" tanya Sai sambil tersenyum.
"Pa tu kemamampuanmu?" ulang Himeka dengan perkataan yang berbelit-belit.
"Bukan itu Himeka-chan, yang benar 'ke-mam-puan'," Sai menoleh ke arah Himeka di sampingnya.
"Kesempatan!" teriak Ino bersemangat ssambil menerjang ke arah Sai, namun sayang refleks Sai yang terlalu cepat mampu membuatnya menghindar dan Ino menabrak tumpukan makanan kaleng yang disusun menjadi piramida.
"AAAH! Apa yang kalian lakukan terhadap piramida makanan kalengku!?" teriak seorang lelaki yang nampaknya manajer dari Mall tersebut.
"Ma...maaf pak kami tidak sengaja," ujar Ino panik.
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya kalian harus mengganti kerugian ini!" bentak lelaki itu.
"Ca...caranya?" tanya Ino lagi.
"Bentuk kembali seperti piramida dalam waktu 20 menit! Kalau tidak kalian akan mengepel seluruh ruangan ini! Mengerti kalian?!" bentaknya.
"Ya! Kami mengerti pak!" jawab mereka kompak.
"Siap!" Himeka mengikuti.
Bokutachi no Akachan
"Ehm Shimura-kun, maaf ya. Kau jadi terlibat seperti ini, aku benar-benar menyesal," sesal Ino.
"Tak apa, lagipula aku senang kok," jawab Sai sambil tersenyum.
"Eh? A-apa maksudmu senang?" Ino bertanya dengan wajah malu-malu.
"Senang bisa melihatmu menabrak tumpukan kaleng itu, kalau saja kau melihat rekamannya pasti kau tertawa. Wajah bodohmu terlihat jelas, iya kan Himeka-chan?"
"Wajah bodoh! Hahaha!" tawa Himeka lepas.
"Dasar kau ini! Shimura-kun no baka!" teriak Ino sambil melepar kaleng yang ada di genggamannya. Untung saja Sai bisa menghindar kalau tidak dia bisa menjadi sasaran empuk dari kaleng Ino, tapi lemparannya mengarah ke tumpukan barang lain dan akhirnya malah membuat tambah berantakan.
"Kalian! Cepat pulang sana!" teriak manajer itu.
Bokutachi no Akachan
"Aah, aku sudah tidak bisa berbelanja lagi di sana seumur hidupku," keluh Ino sambil menarik nafas panjang.
"Memangnya kenapa? Bukannya itu tempat yang menyenangkan, iya kan Himeka-chan? Kita bisa melihat hal-hal yang menarik, seperti wajah Yamanaka-san saat dimarahi manajer, lalu saat menabrak tumpukan kaleng itu," jawab Sai.
"Cerewet, diam kau! Ayo Himeka-chan, Onee-chan akan mengantarmu ke tempat Papa dan Mama!" Ino langsung menggandeng tangan Himeka.
"Ah, tunggu Yamanaka-san! Aku kan cuma bercanda tadi," Sai segera mengejar Ino yang tengah marah. Sepertinya dia merasa bercandanya keterlaluan kali ini.
"Onee-chan, kenapa kita bersama Onii-chan lagi? Apa Onee-chan sedang marah?" tanya Himeka.
"Sst diam Himeka-chan, Onee-chan akan membalas mengerjai Onii-chan. Ayo kita bersembunyi darinya, biar dia kebingungan mencari kita!"
"Jadi kita sedang bermain petak umpet dengan Sai Onii-chan!?" tanya Himeka bersemangat.
"Tentu saja! Jadi sekarang sembunyi dan jangan sampai ketahuan ya, ayo!" Ino menggandeng tangan Himeka lalu berlari menuju gang kecil yang terletak tak jauh dari tempat mereka sekarang.
Namun karena tidak hati-hati mereka menabrak sekumpulan orang yang sedang berkumpul di gang tersebut, nampaknya mereka semua adalah para yankee yang tengah berdiskusi. Sungguh buruk nasib Ino kali ini.
"Oi Teme! Sakit tahu!" bentak salah satu yankee yang ditabrak Ino barusan.
"Go-gomenasai! A-aku tidak sengaja," ujar Ino gugup.
"Pasti kau sengaja kan?! Kau mau membuat patah tulang kan?! Kau harus ganti rugi!" bentaknya lagi.
"Ti-tidak mungkin, masa patah tulang hanya karena tabrakan kecil?" bela Ino.
"Cerewet! Kau harus membayarnya atau paling tidak bayar dengan tubuhmu itu, hehe," tawa mesum keluar dari salah satu yankee yang mencoba mendekati Ino.
"TIDAK! Jauh-jauh dariku!" Ino mendorong yankee itu hingga terjerembap di tanah.
"Oi kawan-kawan, dia ini cari gara-gara! Pegangi dia!" seru yankee tersebut.
Dalam sekejap Ino sudah dikepung oleh yankee yang berjumlah 10 orang, mereka mengelilingnya seperti kumpulan hewan buas yang sedang menyergap mangsanya. Ino memeluk Himeka ketakutan, tak tahu apa yang akan tejadi berikutnya.
Dalam hitungan detik, para yankee tersebut sudah mengunci gerakan Ino, salah satu yankee hendak mencium Ino namun Himeka mendorongnya.
"Pergi sana! Jangan dekati Ino Nee-chan!" seru Himeka marah.
"Cerewet! Anak kecil minggir sana!" dia membalasnya dengan mendorong Himeka hingga jatuh.
"Himeka-chan! Kumohon jangan sakiti dia! Aku akan melakukan apapun!" pinta Ino memelas.
"Baik, adikmu akan selamat karena permintaan Onee-channya, sungguh menyentuh. Aku jadi ingin menangis, iya kan kawan-kawan?" ejek yankee yang memegangi tangan Ino.
"Benar, sungguh menyentuh sekali. HAHA!" para yankee itu tertawa lepas mengejek Ino.
"Tapi simpan tangisan kalian anak-anak, karena saatnya kita gembira sekarang! Hahaha! Nah, sekarang ijinkan aku menciummu, Ojou-san," ujar yankee tersebut dengan wajah yang menjijikan.
"Satu-satunya yang kau cium adalah pukulanku, Hentai no Onii-san!" Buak! Pukulan yang keras baru saja dilayangkan Sai ke wajah pimpinan yankee yang memegangi Ino barusan.
"Teme! Siapa kau yang berani mengganggu kesenanganku?!" bentaknya kasar.
"Aku bukanlah siapa-siapa, hanya Kamen Rider yang kebetulan lewat saja, ingat itu," sahut Sai santai.
"Kamen Rider?! Jangan bercanda denganku brengsek!" pemimpin yankee itu bangkit dan hendak menghajar Sai, namun dengan gerakan yang gesit diam mampu menghindarinya.
"Aku tidak bercanda kok, aku memang Kamen Rider yang akan menghukum orang-orang jahat seperti kalian, iya kan Himeka-chan?" Sai tersenyum pada Himeka yang tadi hampir saja menangis karena perbuatan para yankee barusan.
"Sai Nii-chan kakoi!" seru Himeka yang terpesona oleh kerennya penampilan Sai barusan.
"Jangan sok pahlawan kau brengsek!" salah satu yankee menyerang Sai dengan pisau ditangannya.
"Oops, itu bahaya, kan?" Sai nampak santai, menikmati pertarungan ini. Padahal jumlahnya tidak seimbang, satu melawan sepuluh.
"Cerewet! Makan ini!" serunya sambil menyerang Sai dengan pisaunya, namun Sai malah maju menghampirinya, mencengkram lehernya dan membantingnya ke tanah dalam hitungan detik.
"Ayo, siapa lagi yang mau maju?" tanyanya dengan wajah tersenyum "akan kupastikan kalian pulang dengan cedera parah."
Satu persatu para yankee itu melarikan diri dari Sai, sepertinya mereka lebih sayang terhadap nyawa mereka daripada harga diri mereka. Semuanya lari tunggang langgang, berebut menyelamatkan leher mereka.
"Ara ara, kenapa lari? Padahal aku baru saja akan memulai hal yang seru..."
"Jangan bergerak atau nyawa gadis melayang!" ancam pimpinan para yankee tersebut yang melingkarkan sebuah pisau di leher Ino, sepertinya dia baru saja pulih akibat pukulan Sai barusan.
"Shimura-kun..." Ino menangis ketakutan.
"Lepaskan tangan kotormu itu darinya!" suara Sai terdengar serius, sepertinya dia tidak main-main kali ini.
"Jangan mendekat!" teriak pimpinan yankee itu panik, namun Sai masih saja mendekat.
"Kuperingatkan sekali lagi, lepaskan atau kau mati," ancamannya terdengar serius.
"Sekali lagi kau mendekat akan kusayat lehernya!"
"Jangan sakiti Ino Nee-chan!" teriak Himeka sambil menggigit kaki yankee tersebut sampai dia menjerit kesakitan.
"Ah ITTAI! Dasar brengsek kau bocah! Akan kubunuh kau!" makinya kasar.
"Coba saja kalau kau berani!" Sai langsung mengambil kesempatan saat yankee tersebut lengah dan melayangkan pukulan telak ke wajahnya, namun sayang wajah Sai terkena sayatan pisau akibat melindungi Ino dari sayatan yang dilayangkan yankee tersebut ketika dia terjatuh akibat pukulan tadi. Setelah Ino aman, Sai segera berlari dan melayangkan tendangan mautnya ke arah perut yankee yang sudah babak belur tersebut, dia menabrak dinding dan pingsan seketika.
"Wah sugoi! Rider Kick Sai Onii-chan sugoi!" Himeka menjerit kesenangan.
"Terimakasih atas pujiannya Himeka-chan," balas Sai sambil tersenyum ramah, wajah marahnya yang tadi hilang seketika, berganti dengan wajahnya yang selalu senyum seperti biasa.
"A...arigatou Shimura-kun, aku tak tahu apa yang terjadi kalau kau tak ada barusan, a...aku...aku..."
"Sudahlah, yang penting kau dan Himeka-chan selamat kan?" sela Sai.
"Tapi karena aku kau jadi terlibat hal seperti ini, kau bahkan terluka...aku sungguh bodoh!" Ino terus menyalahkan dirinya sendiri atas insiden barusan.
"Yamanaka-san, kau memang bodoh!" ujar Sai sambil memegang pundak Ino.
Ino hanya bisa diam tertegun mendengar perkataan Sai barusan, Sai baru saja mengakui kalau dia itu bodoh. Apa kupingnya salah dengar atau bagaimana, Ino segera menghentikan tangisannya dan menatap wajah Sai.
"Kau bodoh karena terus menyalahkan dirimu sendiri, apa kau menganggapku sebagai umpan, agar kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri?" tanya Sai dan Ino hanya menjawab dengan gelengan.
"Apa aku terluka karena kau memaksaku berkelahi dengan mereka?" kembali Sai bertanya dan Ino menjawabnya lagi dengan hanya gelengan.
"Kalau begitu dimana letak kesalahanmu Yamanaka-san? Kalau kau terus menyalahkan dirimu sendiri tentang yang terjadi barusan berarti kau memang seorang yang bodoh, apa kau puas sekarang?" kembali Sai tersenyum pada Ino, namun anehnya sekarang Ino merasa berdebar akibat senyuman barusan dan wajahnya pun memerah. Apa dia menyukai Shimura Sai? Apa dia sudah jatuh cinta kepadanya?
"Wah muka Ino Onee-chan memerah seperti Mama saat dipuji Papa!" seru Himeka mengagetkan mereka berdua.
Wajah mereka berdua langsung memerah, Sai segera melepaskan pegangannya pada pundak Ino dan mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah go-gomen! Aku tidak bermaksud membuatmu marah atau sedih!" Sai langsung berubah canggung, sepertinya dia merasa tidak enak hati karena perbuatannya barusan.
"A..aku tidak merasa marah atau sedih kok, aku merasa senang," kini malah Ino yang tersenyum, jujur senyuman Ino adalah senyuman termanis yang pernah dilihat oleh Sai.
"Wah seperti di dorama-dorama saja! Asyik! Pasti sebentar lagi ciuman!" Himeka bersorak gembira melihat kedua pasangan itu. Sementara mereka berdua sudah berubah seperti kepiting rebus karena malunya.
Bokutachi no Akachan
Setelah melewati kecanggungan yang mereka buat tadi, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Sai menawari untuk mengantar Ino sampai rumahnya karena takut hal yang serupa terulang. Selama perjalanan mereka berdua terdiam, hanya Himeka yang terus menyanyi riang tanpa henti.
"Nee, kenapa Onii-chan dan Onee-chan diam saja dari tadi? Himeka kan kesepian, seperti jalan dengan patung saja!" Himeka cemberut sambil menggembungkan pipinya.
"Ah maaf Himeka-chan, karena tidak ada topik bagus jadi kami berdua diam saja, iya kan Yamanaka-san?" jawab Sai yang segera melemparkan tanggung jawab ke arah Ino.
"Be-benar Himeka-chan!" jawab Ino.
"Hontou ni?" tanya Himeka tak percaya.
"Hontou desu! Oh iya bagaimana jika nanti Onee-chan masakan kare untukmu? Kamu suka kare kan?" tanya Ino yang berusaha mengalihkan perhatian Himeka.
"Aku suka! Sangat suka! Kedua setelah ramen!" ujarnya bersemangat.
"Baiklah kalau begitu akan kumasakkan untukmu sebagai balasan karena menolongku tadi, Himeka-chan arigatou," puji Ino sambil mengelus kepala Himeka yang membuatnya tersenyum lebar.
Setelah berjalan melewati beberapa blok akhirnya mereka sampai ke rumah Ino atau lebih tepatnya Yamanaka Flower Shop. Keluarga Ino telah menjalankan toko ini selama beberapa generasi, jadi wajar saja kalau toko ini sangat terkenal. Kecintaan Ino pada bunga juga diturunkan dari keluarganya.
"Akhirnya sampai rumah juga, kau mau masuk sebentar Shimura-kun?" tawar Ino.
"Ah tidak, lebih baik kau pulang saja..."
"Tidak boleh! Aku harus mengobati lukamu, kalau dibiarkan bisa infeksi!" potong Ino.
"Tapi lebih baik..."
"Tidak ada tapi-tapian! Ini harus segera diobati!" potong Ino lagi yang kini langsung menyeret Sai menuju rumahnya.
"Tadaima!" Ino mengucapkan salam saat membuka pintu masuk kediaman Yamanaka, pintu tersebut terletak di samping toko bunga.
"Ojamasimasu," ucap Sai malu-malu, sepertinya dia baru sekali ini berada di kediaman seorang gadis.
"Wah rumahnya besar dan wangi bunga! Rasanya seperti taman bunga disini!" ujar Himeka sambil melompat-lompat.
"Tentu saja Himeka-chan, ini kan toko bunga jadi wajar saja kalau wangi bunga. Kau mau melihat bunga-bunga yang sedang berkembang?" ajakan Ino langsung disambut anggukan cepat dari Himeka.
"Ano...Yamanaka-san, orangtuamu dimana?" tanya Sai yang nampak nervous sekali dari tadi, keringatnya terus mengucur deras.
"Ah! Go-gomen karena mengacuhkanmu, orangtuaku sedang pergi mungkin besok sore baru kembali. Oh iya tunggu sebentar aku akan mengambilkan kotak obat untuk mengobati lukamu, Himeka-chan tunggu sebentar ya," ujar Ino yang segera berlari mengambi kotak obat meninggalkan Himeka yang kembali cemberut sambil menggerutu dan Sai yang masih nervous.
"Ini gawat! Ini benar-benar gawat! Menurut buku yang kubaca jika seorang gadis mengundang seorang pria ke rumahnya saat orangtuanya tidak ada, itu berarti akan terjadi hal xxx...Tidak! Tidak! Apa sih yang sedang kupikirkan!?" teriak Sai panik, apa sih buku yang kau baca Sai sampai pikiranmu itu berjalan jauh ke sana?
"Aku harus menghentikan ini sebelum semuanya terlambat! Aku akan pulang setelah menerima Yamanaka-san mengobatiku! Ya, itu ide yang bagus!" ucapnya menyakinkan dirinya sendiri.
"Huh, semuanya ga asik! Onee-chan tidak mau menunjukkan bunganya padaku sedangkan Onii-chan berteriak kayak orang gila!" gerutu Himeka.
Bokutachi no Akachan
Selagi menunggu Ino mengambilkan kotak obat, Sai terus berupaya menghilangkan nervousnya dan mencoba rileks namun sayangnya itu malah membuatnya tambah parah. Detak jantungnya malah bertambah semakin cepat tak menentu.
"Maaf menunggu lama, aku memasak air dulu tadi. Shimura-kun bisa kau tunjukkan lukamu itu?" pinta Ino sambil membasuhkan kain ke air hangat untuk membersihkan luka sayatan tadi.
Dengan gemetar Ino membersihkan luka Sai, setelah itu dia mulai memberi antiseptik pada lukanya dan terakhir menutupnya dengan perban. Beruntung dia tidak melakukan hal yang sama saat mengobati Naruto. Sementara Himeka terus menutup matanya sampai selesai, tidak tahan melihat luka Sai.
"Su...sudah selesai Shimura-kun," ujar Ino sambil membereskan isi kotak obat.
"A..arigatou Yamanaka-san, kalau begitu aku pulang dulu," pamit Sai seperti yang sudah direncanakannya barusan.
"Apa kau tidak tinggal untuk makan malam dulu? Atau sampai Hinata dan Naruto datang kemari?" tawar Ino.
"Tidak terimakasih, aku harus segera pulang atau nanti kakekku marah. Beliau orang yang sangat disiplin tentang waktu, kalau begitu aku permisi," tolak Sai halus, dia baru melangkahkan kakinya ke pintu depan namun tiba-tiba terdengar suara rintik hujan.
"Ah gerimis rupanya, apa kau tidak tinggal sebentar menunggu hujan reda?"
"Iya itu benar Onii-chan! Lebih baik menonton TV saja dengan Himeka," timpal Himeka yang asyik menonton acara TV.
"Gerimis saja kok, lagipula rumahku tidak jauh. Aku pulang dulu!" begitu Sai membuka pintu tiba-tiba hujan badai dan membuatnya basah kuyup seketika, sungguh mustahil pulang ditenga cuaca yang berbadai seperti ini.
"Maaf, sepertinya aku menunggu hingga badai reda saja deh," Sai kembali masuk dengan pakaiannya yang basah.
"Akan kuambilkan handuk untukmu," segera Ino berlari ke dalam untuk mengambil handuk.
"Sial apa takdir sedang mempermainkanku atau bagaimana!? Baiklah akan kutunggu hingga badai reda!" batin Sai kesal.
Tiba-tiba acara anak-anak yang ditonton Himeka berganti dengan breaking news,"Maaf menyela acara anda, tim kami melaporkan bahwa hujan badai yang sedang menerjang Konoha saat ini akan berlangsung sampai pagi. Oleh karena itu kami menyarankan anda untuk tetap dirumah dan jnagan pergi kemanapun. Sekian breaking news kali ini."
"Tidak!" Benar Shimura Sai, takdir sedang mempermainkanmu.
Yankee = Preman
Chapter 5 EnD
Author's Note
Hai Minna-san, maaf karena update yang lama karena saya sibuk banget akhir-akhir ini. Masih setia dengan fanfic yang satu ini? Yah moga-moga chapter kali ini bisa menghibur kalian semua. Oh iya, saya masukin quote Kamen Rider Decade, ada yang tahu? Alah kenapa jadi ngelantur gini sih! Udah dulu deh, jangan lupa reviewnya ya, matta nee! (^^)
