Bokutachi no Akachan

Author: Lynhart Lanscard

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance/Family

Pairing: NaruHina, SasuSaku, SaiIno

Chapter 6 : Suki desu!

Hujan badai masih terus mengamuk di luar menerbangkan segala yang ada, mulai dari kertas, kaleng, pot, bahkan papan reklame. Sungguh beruntung orang-orang yang berada di dalam rumah mereka, bersantai dengan tenang dibawah kotatsu yang hangat menunggu badai yang mengerikan lewat. Are? Rupanya ada orang yang tidak senang karena terjebak di dalam rumah, orang itu adalah Shimura Sai. Dia sedari tadi terus mengutuk dan menyumpahi hujan badai yang tengah berlangsung ini. Karena hujan badai inilah dia jadi terperangkap dalam situasi yang rumit.

"Ara, ada apa dengan wajahmu Shimura-kun? Kau kelihatan kesal sekali," tanya Ino yang baru saja kembali dari mengambilkan handuk.

"Tidak ada apa-apa kok Yamanaka-san," jawab Sai berbohong.

"Bohong, Oni-chan dari tadi terus...Mpfh!" mulut Himeka langsung disumpal oleh tangan Sai.

"Himeka-chan, kalau kamu bisa diam sebentar saja Onii-chan akan membelikanmu coklat," bisik Sai yang sogokannya langsung disambut anggukan oleh Himeka. Sai pun akhirmya melepaskan bekapannya.

"Kenapa dengan kalian berdua? Oh aku mengerti, kalian berdua sedang membicarakan hal yang buruk tentangku ya?" Ino menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kecurigaan.

"Bu-bukan kok Yamanaka-san! Iya kan Himeka-chan?" Sai kembali menoleh ke arah Himeka, tapi Himeka masih diam duaribu bahasa.

"Tuh kan, mencurigakan," ujar Ino sambil menyilangkan kedua lengannya di dada.

"Ti-tidak kok, a-aku..."

"Aku hanya bercanda kok, jangan dibawa serius. Ini handuknya Shimura-kun," ujar Ino sambil menyerahkan handuk berwarna biru muda.

"A-arigatou," sahut Sai gugup.

"Lebih baik kau mandi daripada masuk angin, airnya sudah kupanaskan jadi kau tinggal mandi saja. Kamar mandinya ada di ujung lorong ya."

"Tapi bagaimana denganmu? Aku kan hanya tamu, laki-laki lagi, lebih baik kau dan Himeka-chan saja yang mandi terlebih dahulu," jawab Sai.

"Eh? Jangan-jangan kau tipe maniak yang suka dengan bekas rendaman gadis cantik ya?"

"Ti-tidak! Aku hanya..."

"Aku bercanda kok, kenapa kau serius sekali sih? Sudahlah badanmu kan basah kuyup seperti itu, aku khawatir kau sakit," tutur Ino.

"Ta-tapi!"

"Tidak ada tapi-tapian! Ayo ke kamar mandi! Himeka bantu Onee-chan!"

"Hai!"

Bokutachi no Akachan

Dengan paksaan kasar dari Ino, akhirnya Sai berada dalam kamar mandi kediaman Yamanaka, tepatnya di bak untuk berendam. Sai kini hanya berendam sambil melihat sekelilingnya.

"Ini kamar mandi yang sering dipakai Yamanaka-san, ini bak mandi yang sering dipakainya untuk berendam, di sini tempat Yamanaka-san berendam, tanpa busana..." BLUSH! Wajah Sai langsung memerah seperti kepiting yang baru saja matang dari rebusan di panci.

"Baka! Baka! Apa sih yang kupikirkan?! Ini mungkin karena aku terlalu dekat dengan Naruto-kun yang mesum jadi aku berpikir seperti ini, ya pasti begitu. AKU BUKAN ORANG MESUM!" teriak Sai berusaha meyakinkan dirinya, tak sadar bahwa dia sedang berada di rumah orang lain.

"Shimura-kun, ada apa sampai kau berteriak seperti itu?" suara Ino terdengar sedikit panik mendengar teriakan Sai barusan.

"Bu-bukan apa-apa kok, aku...aku hanya sedang berlatih drama!" jawab Sai yang juga panik, tak menyangka suara teriakannya terdengar ke seluruh rumah. Beruntung otaknya cukup cerda memikirkan sebuah alasan, entah alasan apa yang akan dilontarkannya kalau dia memiliki otak seperti Naruto.

"Oh begitu, tapi sekarang sudah malam, lebih baik kau berlatih besok saja. Aku takut para tetangga marah."

"Ya...aku mengerti Yamanaka-san," jawab Sai terdengar lesu.

Sekarang dalam hening, Sai kembali memikirkan akibat dari tindakan konyolnya barusan. Sungguh sangat tidak keren bagi seorang pemuda normal yang berumur 16 tahun berteriak di dalam kamar mandi seorang gadis yang berbaik hati memperbolehkannya menginap di rumahnya.

"Pasti dia mengira aku orang mesum yang memiliki khayalan yang aneh," pikir Sai. Tapi tenang saja Sai, dia mungkin akan berpikir seperti itu dalam keadaan normal, tapi dia tidak akan berpikir seperti itu setelah kau menyelamatkannya dengan keren.

"Ah lebih baik aku keluar sekarang," Sai dengan gontai mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan betapa terkejutnya dia mengetahui seragamnya sudah tidak ada, melainkan berganti dengan sepasang pakaian yang tak dikenalnya.

"Ya-Yamanaka-san, kenapa seragamku tidak ada?" tanya Sai, terdengar kesan panik di dalam perkataanya.

"Ah bajumu kucuci karena basah, besok mungkin sudah kering. Untuk sementara pakailah baju ayahku terlebih dahulu," sahut Ino dari ruang keluarga.

"Celaka! Ini benar-benar persis seperti buku yang kubaca, selanjutnya pasti xxx akan terjadi! Tidaaak! Apa sih yang kupikirkan!?" sepertinya Sai harus sedikit menjauh dari Naruto, atau paling tidak menyingkirkan buku-buku yang sering dibacanya bersama Kakashi-sensei.

"Nah ayo Himeka-chan, saatnya kita mandi!" seru Ino bersemangat.

"Tidak, Himeka tidak mau! Himeka mau mandi bersama Mama!" Himeka memberontak.

"Tapi Himeka harus mandi, kalau tidak nanti Himeka bau dan kuman-kuman menyerang loh," ujar Ino menakut-nakuti.

"Himeka tidak peduli dengan kuman dan bau! Pokoknya Himeka tidak akan mandi selain dengan Mama!" Himeka menyilangkan tangannya di dada tanda dia bersikeras.

"Shimura-kun tolong aku," bisik Ino pada Sai.

"Himeka-chan, kalau kau tidak mandi kau tidak akan mendapat jatah kare yang enak buatan Ino Nee-chan dan nanti Mama dan Papa tidak akan kemari loh. Mereka pasti mengira Himeka-chan anak yang nakal karena tidak mau menurut pada Ino Nee-chan, Himeka mau seperti itu?" bujukan Sai sepertinya berhasil, Himeka mulai terlihat melunak.

"Ho-Hontou? Apa Himeka nanti akan dimarahi oleh Papa dan Mama?" tanya Himeka.

"Nah kalau tidak mau seperti itu mandi bersama Ino Nee-chan sekarang, Himeka anak yang baik kan?" Sai tersenyum sambil mengelus kepala Himeka.

"Iya! Ayo Ino Nee-chan ke kamar mandi sekarang!" seru Himeka bersemangat sambil berlari ke kamar mandi.

"Himeka-chan tunggu! Shimura-kun, ternyata kau pintar membujuk anak kecil ya. Aku tak menyangka kau punya sisi lembut juga," puji Ini tulus.

"Yamanaka-san, yang tadi itu pujian atau sindiran?"

"Keduanya! Hahaa!" Ino kembali berlari menyusul Himeka.

Bokutachi no Akachan

Saat mereka berdua berada di kamar mandi, jantung Sai tidak bisa berhenti berdebar kencang. Wajahnya berubah merah, dia tidak bisa berpikir jernih. Kenapa bisa seperti itu? Mari kita dengar percakapan Ino dan Himeka saat di dalam kamar mandi.

"Wah punya Ino Nee-chan besar juga tidak kalah dengan punya Mama!" seru Himeka

"Tentu saja punya Onee-chan besar kan?" sahut Ino.

"Wah kelihatannya empuk, Himeka boleh memegangnya?"

"Boleh saja."

Brush! Teh yang sedang diminum Sai langsung berhamburan, menyembur ke luar.

"Sial aku juga ingin kalau begitu, aku jadi iri dengan Himeka-chan!"

"Wah Onee-chan Himeka boleh memilikinya?"

"Nanti kau juga akan punya Himeka-chan, sabarlah sedikit! Yamanaka-san juga tidak boleh memberikan aset berhargamu!"

"Boleh saja, lagipula Onee-chan sudah lama memilikinya. Ini bebek karet yang Onee-chan punya sejak TK."

Duak! Kepala Sai langsung membentur meja kotatsu, rupanya hanya bebek karet. Sepertinya hari ini Sai terlalu banyak berkhayal yang tidak-tidak.

"Bebek karet? Aku pasti sudah tercemar pikiran kotor dari Naruto-kun sehingga berpikir yang tidak-tidak seperti ini!"

"Hi...Himeka-chan, jangan sentuh disitu...Onee-chan geli...," Ino tiba-tiba merintih dengan suara yang sangat seksi.

"Ah tapi kulit Onee-chan halus sekali, Himeka mau punya yang seperti ini," jawab Himeka.

"Sial! Sial! Aku malah jadi penasaran! Apakah aku harus mengintip? Tidak-tidak! Itu perbuatan yang keji! Tapi rasa ingin tahuku sebagai lelaki tidak bisa menahannya, aku harus bagaimana?" batin Sai terasa bergejolak, dia berada dianatar dua pilihan yang sulit, memenuhi hasratnya sebagai lelaki normal atau menjalankan sebuah etika.

Buak! Sekali lagi dia menghantamkan kepalanya ke arah kotatsu sambil berkata,"Tenanglah Sai! Kau pasti bisa mengatasi semua godaan ini! Kau itu bukan manusia rendahan yang suka mengintip gadis yang tengah mandi!"

Setelah berkata seperti itu, tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh suara teriakan dari Ino dari arah kamar mandi. Sai segera bangkit dan berlari dengan sekuat tenaga ke arah sumber teriakan dan dengan secepat kilat membuka pintu kamar mandi.

"Ada apa Yamanaka-san...," dirinya tak bisa berkata apa-apa lagi setelah melihat sebuah surga yang tengah terpampang jelas di depannya.

"Kyaa! Echi! Sukebe! Hentai!" teriakan Ino sangat keras sambil melempar semua peralatan mandi yang berada didekatnya, entah apa yang dilemparnya terakhir kali. Yang jelas itu telak mengenai wajah Sai dan membuatnya pingsan dengan luka memar di dahinya.

Bokutachi no Akachan

Tak berapa lama kemudian Sai telah tersadar dari pingsannya, sungguh tidak menyenangkan dilempar dengan peralatan mandi hanya karena bermaksud menolong Ino. Begitu dia membuka matanya yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Ino yang khawatir dan cemas, Himeka juga ikut menjaga Sai.

"Apa yang ter...Ittai! Kepalaku sakit sekali," rintih Sai saat mencoba bangun tapi kembali ditahab oleh Ino.

"Jangan bergerak dulu nanti kompresnya jatuh. Maafkan aku sudah melempar berbagai macam peralatan mandi padamu ya, aku benar-benar reflek tadi," Ino tampak menyesal sekali karena perbuatannya barusan.

"Sudahlah, itu kan tidak sengaja. Lagipula, apa sih yang membuatmu teriak begitu kencang tadi?" tanya sai penuh dengan rasa penasaran.

"Ehm...itu...anoo...eetoo..." Ino hanya bergumam tak jelas.

"Yasudah kalau kau tak mau memberitahuku...EH?!" tiba-tiba Sai berteriak dan tersadar akan posisinya saat ini.

"Ka-kau kenapa Shimura-kun? Membuatku kaget saja, lihat Himeka juga sampai terkejut begitu. Kemari Himeka-chan," Ino menjulurkan tangannya pada Himeka yang sedang berada di pojok ruangan karena teriakan Sai barusan.

"Ke-kenapa aku di pangkuanmu, Yamanaka-san?" tanya Sai bingung.

"Ya, ka-karena tidak ada bantal lagi. A-apa kau tidak suka?" Ino balik bertanya.

"Bu-bukan begitu, hanya saja..." Sai tak bisa kembali melanjutkan kata-katanya, wajahnya memerah. Ino pun sama, dia tak bisa memandang wajah Sai yang membuatnya berdebar-debar. Keduanya kembali menciptakan keheningan, Ino menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya, sepertinya momen romantis akan terjadi sebentar lagi.

KRIUK...! Tiba-tiba terdengar bunyi perut yang menganggu momen romantis mereka berdua

"Onee-chan, Himeka lapar. Karenya belum siap?" Himeka bertanya sambil memegangi perutnya, sepertinya dia sangat lapar.

"Go-gomen Himeka-chan sudah membuatmu menunggu seperti itu, Onee-chan akan membawakannya untukmu, duduk yang manis ya. Shimura-kun, kau sudah baikan?" Ino bertanya pada Sai yang masih berada di pangkuannya.

"Ya, tidak apa-apa. Aku sudah bisa bangun sekarang, arigatou Yamanaka-san," Sai sudah beranjak bangun dan membiarkan Ino ke dapur untuk mempersiapkan kare buatannya yang sudah matang.

Dalam beberapa menit kare yang lezat sudah tersaji di atas meja, aroma lezat pun mulai tercium, membuat Himeka ingin segera menyantapnya. Wajahnya kelihatan sudah tak sabar lagi.

"Nee Onee-chan! Himeka boleh memakan ini semua?"

"Tentu saja boleh, Onee-chan kan membuatnya khusus untukmu. Lagipula di belakang masih ada kok, jadi jangan sungkan untuk tambah ya. Shimura-kun, ayo kau juga makan," suara Ino terdengar manis sekali saat menyuruhnya makan.

"I-iya," Sai tersenyum sambil mengangguk pelan, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. Ino yang tak sengaja melihatnya menjadi khawatir dan memutuskan untuk bertanya.

"Apa kau menangis Shimura-kun? Apa karenya tidak enak?" Ino bertanya dengan hati-hati, takut melukai perasaan Sai.

"Ah... tidak kok! Karenya sangat enak, iya kan Himeka-chan?"

"Em!" sahut Himeka sambil mengunyah karenya.

"Lalu kenapa kau menangis? Apa ini mengingatkanmu tentang sesuatu yang menyedihkan?" Ino kembali bertanya.

"Yah, aku hanya rindu momen-momen seperti ini. Biasanya Kaa-san selalu memasak kare ketika akhir pekan dan Tou-san yang libur esok harinya, selalu menjanjikan berkreasi. Kakakku dan aku selalu bertengkar tentang tempat yang kami kunjungi," sesudah mengatakan hal itu Sai kembali menyeka air matanya.

"Shimura-kun..."

"Sudahlah, aku malah membuat atmosfirnya jadi tidak enak. Ayo kita habiskan kare lezat ini Himeka-chan!" seru sai bersemangat, namun kesedihan tetap terpancar dari wajahnya sebaik apapun dia menyembunyikannya dan Ino menyadari akan hal itu.

Bokutachi no Akachan

Waktu sudah semakin malam dan saatnya bagi Himeka untuk tidur, namun anak ini masih bersikeras tidak tidur. Sedari tadi dia hanya menanyakan tentang Naruto dan Hinata yang tak kunjung menjemputnya.

"Nee Onee-chan! Kenapa Papa dan Mama tidak kesini? Kapan mereka kesini?" tanya Himeka kesekian kalinya.

"Sabar Himeka-chan, lagipula di luar masih hujan badai. Wajar saja bila Papa dan Mamamu kesulitan kesini. Lebih baik Himeka-chan tidur dulu nanti akan Onee-chan bangunkan kalau Papa dan Mama sudah datang," janji Ino.

"Tidak! Himeka tidak akan tidur sampai bertemu Papa dan Mama!" Himeka masih saja bersikeras, Ino dibuat bingung melihat sikap keras kepala Himeka, dia hanya menatap Sai mengaharapkan bantuan.

"Himeka-chan, kalau Papa dan Mama melihatmu masih bangun jam segini nanti apa yang mereka katakan? Mereka pasti khawatir kan? Himeka-chan mau membuat Papa dan Mama khawatir?" Sai mencoba membujuk Himeka.

"Tidak, Himeka hanya mau melihat Papa dan Mama! Himeka tidak mau jadi anak nakal!" isak Himeka.

"Nah, kalau begitu jadi anak baik Himeka-chan. Himeka tidak mau membuat Papa dan Mama khawatir kan?"

"Iya, Himeka akan tidur sekarang, tapi biasanya Himeka dibacakan cerita oleh Mama baru bisa tidur. Onii-chan dan Onee-chan bisa bacakan?" pinta Himeka dengan wajahnya yang sangat imut sampai mereka berdua tidak bisa menolak permintaan malaikat kecil itu.

"Baiklah, akan Onii-chan ceritakan kisah terseru yang bisa membuatmu bermimpi indah!" seru Sai bersemangat.

Akhirnya setelah melalui perjuangan keras selama 30 menit, mereka berdua bisa membuat Himeka tertidur nyenyak. Setelah mengecup dahi Himeka dengan lembut dan menutupinya dengan selimut mereka berdua meninggalkan Himeka yang kini sudah tertidur, tak lupa sebelumnya mengucapkan selamat malam.

"Akhirnya anak itu tidur juga, susah sekali membuatnya tertidur," tutur Sai sambil mengelap keringatnya.

"Kau saja yang aneh, kalau kau tidak menceritakan kisah tentang Kuchisake no Onna padanya pasti dia sudah tidur dari tadi. Kasihan sekali Himeka-chan, dia ketakutan tadi," sahut Ino geli.

"Yah, aku kan tidak tahu cerita anak-anak. Kebetulan aku sedang membaca buku cerita seram jadi kuceritakan salah satu kisahnya," jawab Sai tak mau kalah.

"Darimana bisa bermimpi indah kalau ceritanya seseram itu, Shimura-kun? Kau ini aneh sekali, tapi ngomong-ngomong kau hebat sekali, seharian ini bisa membujuk Himeka-chan. Kau hebat sekali dalam mengurus anak kecil," Ino memuji dengan tulus, namun wajah Sai langsung berubah murung.

"Aku...hanya teringat saat aku kecil dulu..."

"Kalau kau tak mau menceritakannya tak apa, lagipula sepertinya menyakitkan untukmu..." belum selesai Ino berbicara Sai sudah menyelanya.

"Ah itu bukan sesuatu yang begitu menyedihkan kok, Yamanaka-san mau mendengarnya?"

"Kalau kau berkenan, lebih baik kita bicara disana aku takut Himeka-chan terbangun saat kita mengobrol," Ino menunjuk ke arah ruang keluarga.

Mereka berdua duduk sambil menghangatkan diri di dalam kotatsu, sambil menarik nafas panjang Sai memulai ceritanya,"Aku kehilangan keluargaku pada saataku duduk di kelas 4."

"Shimura-kun...lebih baik..."

"Tidak apa-apa, mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil dan dari kecelakaan itu hanya aku yang selamat. Ketika ditemukan, jasad Kaa-san sedang memeluk erat diriku dan Tou-san berusaha melindungi kami berdua. Aku yang saat itu masih belum mengerti terus bertanya pada Jii-san tentang orangtuaku, seperti kemana mereka pergi atau kapan mereka kembali."

"Pasti berat saat itu ya?" Ino berusaha sedikit meringankan beban Sai saat bercerita.

"Ya begitulah, aku tidak ingin menceritakannya pada Jii-san karena takut membuatnya khawatir. Dulu sepulang sekolah aku selalu duduk di pinggir sungai menanti Kaa-san memanggilku dan pulang menyantap makan malam. Namun sampai akhir tidak ada seorangpun yang memanggilku. Semua temanku saat itu hanya bisa berbisik dan memandangku penuh dengan rasa iba saat itu."

Tak bisa berkata apa-apa, Ino hanya bisa tertegun mendengar cerita Sai yang begitu sedihnya. Kehilangan orangtua dan saudara begitu cepat di saat dirinya masih kecil, ditambah perlakuan dari teman-temanyanya itu. Ingin sekali Ino menghibur lelaki malang yang di depannya ini.

"Saat itu aku juga hampir menyerah dengan melukis, karena melukis hanya mengingatkanku pada keluargaku. Kaa-san yang mengajarkanku melukis, Tou-san yang memberikanku buku sketsa dan Nii-san yang memberikan seperangkat alat melukis dari tabungannya, ketika akan melukis tanganku menjadi berat, air mataku terus mengalir mengingat mereka. Aku pernah berniat membuang semua kenangan mereka, untung saja saat itu ada seseorang yang mencegahku," wajah Sai tiba-tiba berubah menjadi cerah dan tersenyum ke arah Ino.

"Si...siapa orang itu?" tanya Ino penasaran, dia ingin tahu siapa orang yang bisa membuat Sai tersenyum seperti ini, sedikit rasa cemburu membakar dirinya.

"Orang itu...Yamanaka-san sendiri, ketika aku membuang semua benda kenangan itu kau menghentikanku," ujar Sai sambil tersenyum.

"Eh? Aku? Kapan aku melakukannya Shimura-kun?" sepertinya ingatan Sai yang salah atau Ino yang benar-benar lupa.

"Waktu itu, ketika aku mau membuangnya kau mengatakan itu adalah kenangan dari keluargaku, jika aku membuangnya berari aku juga ikut membuang mereka."

"Etoo...ehmm," kelihatannya Ino berpikir keras, mencoba mengingat sesuatu,"Ah! Aku ingat! Kau bocah pelukis yang waktu itu ya!" seru Ino tiba-tiba.

"Bocah pelukis? Jadi kau memangggilku seperti itu? Aneh sekali," komentar Sai.

"Ha-habis aku tidak tahu namamu saat itu. Lalu bagaimana kau tahu kalau itu aku? Coba ceritakan?"

"Saat melihatmu pada upacara penerimaan murid baru aku langsung sadar kalau itu kau, aku mencoba mendekatimu tapi karena kau selalu bersama teman-temanmu aku jadai susah. Jadi kuputuskan untuk bergabung di klub yang sama denganmu, meski begitu aku memang tak bisa langsung akrab. Begitu aku mencoba untuk berbicara yang terlontar malah kata-kata ejekan. Sebenarnya aku...aku..."

"Aku...apa?" tanya Ino penasaran.

"Aah sudahlah, lupakan saja!"

"Kau malah membuat penasaran kalau begitu! Ayo katakan saja, aku tidak akan mentertawakanmu walau itu memalukan!" desak Ino.

"Aku...aku...AKU MENYUKAI YAMANAKA-SAN!" teriak Sai.

"E...EH!" wajah Ino berubah menjadi merah, perasaannya bercampur aduk antara bingung, kaget dan senang.

"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, yang jelas aku sudah mengutarakan perasaanku padamu. Soal dibalas atau tidak itu urusan nanti, jadi santai saja, bersikap seperti biasa saja."

"Aku...aku hanya bingung...tidak tahu harus mengatakan apa," ucap Ino terbata-bata, kegugupan masih menguasai hatinya.

"Ya...lebih baik kita tidur saja sekarang aku mengantuk. Aku tidur duluan Yamanaka-san," Sai berdiri dan melangkah melalui Ino ke kamar tamu, namun tiba-tiba Ino memeganginya.

"Tunggu, aku akan memberikan jawabannya padamu sekarang," Ino memantapkan diri, dia tiba-tiba berdiri memeluk Sai dan mencium bibirnya.

"Ya-Yamanaka-san?"

"Inilah jawaban dariku, Sai-kun!" ujar Ino sambil tersenyum.

"Yamanaka-san...aku..."

"Bukan Yamanaka-san lagi, tapi panggil aku Ino," Ino mengatakannya dengan kalimat termanis yang pernah didengar oleh Sai.

"Ino-san..."

"Onee-chan dan Onii-chan sedang apa malam-malam begini?" tanya Himeka yang sambil mengucek-ngucek matanya.

"Anoo...etoo...kami...sedang...merayakan kalau kami sudah menjadi teman dekat," tiba-tiba saja sebuah ide telintas di benak Sai. Beruntung bel tiba-tiba berbunyi, menyelamatkan mereka berdua.

"Ino-san, apa kau masih bangun?" terdengar suara Hinata memanggil mereka dari luar, suara badai tak terdengar lagi hanya hujan rintik yang terdengar.

"Mama! Itu suara Mama!" seru Himeka senang, dia langsung berlari ke pintu depan.

"Masuk saja Hinata, pintunya tidak dikunci kok," balas Ino yang juga berlari meyusul Himeka tak lupa menggandeng Sai yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya.

"Himeka, kau tidak membuat repot Sai dan Ino kan?" tanya Naruto pada Himeka yang kini berada dalam pelukannya.

"Tidak dong, malah Himeka membantu Onii-chan dan Onee-chan menjadi teman dekat," jawab Himeka sambil memamerkan giginya.

"Teman dekat? Apa maksudnya itu?" tanya Naruto bingung.

"Tidak usah dipikirkan lebih baik kalian pulang saja," sahut Ino.

"Mencurigakan, sejak kapan kalian menjadi dekat? Bergandengan tangan lagi, ini aneh?" komentar Naruto membuat mereka langsung bersikap aneh.

"Sudahlah Naruto-kun, Himeka kelihatannya capek, ayo pulang," ajak Hinata yang sudah menggandeng lengan Naruto.

"Tapi Hinata..."

"Sudahlah, ayo!" Hinata mulai agak memaksa.

Setelah Naruto, Hinata dan Himeka pulang keadaan kembali menjadi sunyi senyap, tak ada kata-kata lagi yang terlontar dari mulut mereka. Namun mereka tahu bahwa hati mereka telah terhubung dan telah terjalin suatu hubungan yang baru diantara mereka. Di tengah dinginnya malam, Sai kembali mengecup bibir Ino dengan lembut.

Chapter 6 End

Omake

"Echi, sukebe, Hentai!" maki Ino sambil terus melempari Sai dengan semua peralatan mandi di dekatnya, bahkan ember pun ikut melayang ke arah kepala Sai dan sukses membuatnya pingsan.

"Onii-chan pingsan, bagaimana ini Onee-chan?" tanya Himeka kebingungan.

"Ke-kenapa bisa pingsan ya? Padahal aku hanya melemparnya dengan sampo, sabun dan...ember?! Pantas saja dia pingsan," Ino baru saja menyadari kesalahannya yang telah melempar ember kayu ke kepala Sai yang malang. Semoga Sai tidak pernah menyadari kekhilafan Ino yang telah melemparnya dengan sebuah ember.

Author Note

Konnichiwa minna-san, bagaimana dengan chapter kali ini? Apa sudah memuaskan kalian semua? Hehe, berikutnya mungkin giliran SasuSaku yang tampil atau mungkin NaruHina lagi. Ya pokoknya nantikan sajalah. Yasudah sampai jumpa di next chapter, jangan lupa reviewnya! Matta nee!