Bokutachi no Akachan
Author: Lynhart Lanscard
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Genre: Romance/Family
Pairing: NaruHina, SasuSaku, SaiIno
Chapter 7 : Sakura's Feeling
Sudah sehari berlalu sejak kejadian pengakuan cinta Sai pada Ino, namun entah kenapa Ino masih enggan membeberkan hubungan rahasia mereka. Dia masih ingin merahasiakan hubungan spesial mereka, bahkan teman-teman satu klub pun tidak ada yang tahu, termasuk Sakura sahabat Ino. Sedari tadi Sakura terus memperhatikan wajah Ino yang terus tersenyum berseri-seri dalam perjalanan ke sekolah. Tentu saja Sakura merasa curiga, apakah temannya ini sedang jatuh cinta atau otaknya sedang korslet.
"Hei Ino, daritadi aku memperhatikan kau terus saja tersenyum. Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" tanya Sakura dengan pandangan menyelidik.
"Ti-tidak ada kok Sakura! Mana mungkin aku tersenyum-senyum begitu? Memangnya aku sudah gila apa?" bantah Ino.
"Tapi aku benar-benar melihatmu tersenyum, ayolah katakan rahasiamu padaku! Kita sahabat yang tak pernah ada rahasia kan, kita selalu berbagi suka dan duka bersama kan?" pinta Sakura dengan wajah memelas.
"Aah gomen, benar tidak ada apa-apa kok," elak Ino lagi. Bukannya Ino tidak ingin merahasiakan sesuatu dari Sakura, hanya saja ia tidak mau membuat sahabatnya itu bertambah depresi karena dia dan Hinata sudah maju jauh melangkahi Sakura yang belum ada perkembangan dengan Sasuke.
"Pelit," ejek Sakura sambil menjulurkan lidahnya.
"Ohayou, Ino-san, Sakura-san," ujar Sai yang tiba-tiba saja muncul di belakang mereka, khas dengan senyumannya.
"Ohayou Sai-kun," jawab Ino malu-malu, terlihat semburat merah di pipinya.
"Heh...sejak kapan kalian saling memanggil nama depan seperti itu, aku kok tidak tahu," Sakura melirik mereka dengan tatapan curiga.
"Sudah lama kok, iya kan?" tanya Ino pada Sai.
"Be-benar, lagipula kita kan sudah lama berteman, mau sampai kapan memanggil nama keluarga seperti itu," jawab Sai yang terdengar natural sekali.
Sakura yang tak puas demgan jawaban itu hanya diam saja, dia memperlambat jalannya sampai dia berada di belakang mereka dan terus mengawasi mereka dengan pandangan curiga.
"Mencurigakan," ucapnya.
Bokutachi no Akachan
Di kelas 1-3 telah terjadi perbincangan hebat antara Naruto, Kiba, Chouji, dan Shikamaru, mereka sungguh terpesona dengan kelihaian Naruto yang mampu menghindari hukuman maut dari Hibiki Sensei. Mereka semua duduk melingkar di dekat meja Naruto sambil mendengar tentang penjelasannya.
"Hebat kau Naruto! Bisa selamat dari hukuman itu, setahuku sih cuma kau saja sih yang setelah dipanggil oleh Hibiki masih segar bugar seperti ini," ujar Kiba bersemangat.
"Bagaimana caranya kau bisa menghindari itu Naruto? Beritahu kami," desak Chouji sambil terus mengunyah keripik kentangnya.
"Bagaimana yah, aku sendiri juga terkejut dengan diriku sendiri kemarin," sombong Naruto.
"Sudah jangan banyak bicara, lebih baik cerita atau tidak sama sekali. Mendokusai," kata Shikmaru seperti biasa.
"Baik, baik, akan kuceritakan," ujar Naruto sambil menaruh roti Yakisoba yang sedang dimakannya.
Flashback
Di ruang guru terasa menyeramkan, walaupun sudah terbiasa berada di sini tapi tetap saja, berdiri di depan Hibiki Sensei salah satu guru tergalak yang dimiliki Konoha Gakuen benar-benar menyeramkan. Matanya yang memandang dengan tatapan yang tajam seperti binatang buas yang hendak menerkam mangsanya. Naruto sedari tadi hanya menelan ludahnya, tak berani menatap wajah Sensei yang memanggilnya seraya mengutuki kebodohan dirinya tadi.
"Jadi Namikaze, ceritakan, kenapa kau berani membuat gaduh di kelasku tadi?" ujarnya datar namun disertai pandangan yang mencekam.
"E...a-apa maksud Sensei? A-aku tak mengerti," jawab Naruto dengan wajah polos tak berdosa.
"JANGAN BERCANDA DENGANKU NAMIKAZE!" BRAK! Dia berteriak sambil memukulkan tangannya ke meja yang berada di depannya. Naruto langsung berubah ciut dan pucat, persis seperti pasien kanker yang diberi tahu akan mati hari ini.
"Hi-Hibiki Sensei, mohon jangan kasar dengan murid. Bagaimana nanti kalau dia stress?" suara lemah lembut milik Shizune Sensei mengingatkan.
"Nice timing Shizune Nee-chan!" batin Naruto girang.
"Apa hakmu menceramahiku Shizune Sensei? Asal kau tahu, Namikaze ini sudah membuat begitu banyak masalah di sekolah ini!" balas Hibiki.
"Ta-tapi bagaimanapun juga..."
"Anda terlalu memanjakannya, lihat akibatnya, dia berbuat keonaran sesukanya! Saya paham tindakan anda sebagai walinya di sekolah tapi tolong berbuat bijak! Anda membiarkannya terlalu bebas, kalau saya yang jadi wali kelasnya pasti dia sudah berubah 100 kali lebih baik dari pada ini!" Hibiki kini berbalik menceramahi Shizune, kini wajah Shizune mulai berurai air mata.
"Nah Shizune-sensei, ada yang ingin kutanyakan tentang laporan ini. Bisa ikut aku sebentar?" ujar Kakashi Sensei yang langsung menarik tangannya meninggalkan Naruto dan Hibiki berdua.
"Kakashi Sensei, Shizune Nee-chan! Jangan tinggalkan aku!" jerit Naruto putus asa dalam hatinya.
"Jadi Namikaze-kun, sampai mana kita tadi?" Hibiki tersenyum menyeramkan.
Naruto benar-benar berpikir keras saat itu untuk menghindari hukuman gila ini, baru kali ini dia merasa beruntung mempunyai otak yang bisa dipakainya. Dia melihat sekeliling, berusaha mengingat apapun, sampai akhirnya sebuah ide terlintas di benaknya.
"Se-sensei, boleh aku bicara sebentar," ujar Naruto dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Silahkan, aku tak melarang perkataan terakhirmu...ups maksudku penyesalanmu," jawab Hibiki Morino masih dengan wajah sangarnya.
"Sensei memang pantas menghukumku karena perbuatanku yang membuat kelas ribut, aku memang pantas mendapatkannya. Namun, saat itu aku sangat rindu dengan sosok ayahku yang aku sangat jarang melihatnya. Beliau orang yang sangat sibuk, setiap hari selalu pulang tengah malam, bahkan di hari libur pun bekerja. Aku jarang mendapat kesempatan untuk bersamanya, jadi..." Naruto sengaja menghentikan perkataannya sambil menunggu reaksi dari Hibiki.
"Jadi kenapa? Lanjutkan Namikaze," ini hanya perasaan Naruto saja atau Hibiki mulai menangis.
"Jadi saat aku menatap keluar jendela, aku melihat seorang anak lelaki bersama ayahnya yang tengah menghabiskan waktu bersama. Tanpa sadar aku menyebut ayah, aku benar-benar...Sensei! Hukumlah aku! Hukum murid bodohmu ini yang membuat keributan di kelas hanya karena menyebut ayahnya! Hukum aku Sensei!" Naruto mulai mengeluarkan isak tangis buatan.
"Na-Namikaze-kun, aku tak menyangka ceritamu begitu menyentuh. Sebenarnya aku juga dulu seperti itu, karena itu Namikaze-kun janganlah ragu untuk bercerita tentang masalahmu padaku. Sensei akan selalu mendengarkan masalahmu!" Hibiki benar-benar terharu dengan cerita buatan Naruto.
"Sensei..." Naruto memeluk Hibiki dan akhirnya hukumannya pada hari itu pun dibatalkan, happy ending.
End of Flashback
"Wah kau lumayan juga Naruto, tumben otakmu itu encer," puji Kiba.
"Hehe, otakku memang selalu encer. Kau saja yang tidak pernah menyadarinya Kiba," balas Naruto menyombongkan dirinya.
"Aku tak menyangka kalau si buas Hibiki itu ternyata sentimental juga," timpal Chouji.
"Itu artinya, jangan menilai orang dari luarnya saja Chouji. Lihat saja si bodoh ini, meski di luar dia nampak bodoh tak ada yang menyangka dia punya ide brilian seperti itu," sahut Shikamaru.
"Jangan mengejekku Shikamaru! Aku ini orang yang hebat tahu!" balas Naruto sengit.
"Haha, kau ini bergurau atau apa sih? Sejak kapan kau jadi orang yang hebat begitu Naruto?" gurau Kiba.
Saat asyik-asyiknya bergurau, tiba-tiba pintu kelas terbuka dan munculah orang yang sedang dibicarakan, Hibiki Sensei dengan wajah garangnya yang biasa membuat semua murid menelan ludah mereka.
"Naruto-kun! Aku sudah lama mencarimu, sekarang biarkan Sensei mendegarkan suara hatimu yang terluka itu! Sensei akan mendengarkan semua ceritamu Naruto-kun!" ujar Hibiki dengan gayanya yang berlebihan.
"Se-Sensei!?" Naruto nampak kebingungan.
"Ayo! Jangan malu-malu Naruto-kun! Menangislah di dada Sensei!" sepertinya Guy Sensei punya saingan baru.
"Aku tidak akan malu, tapi...huek!" leher Naruto sudah dicengkaram Hibiki yang entah mau membawanya ke arah mana.
"Sensei tolong jaga Naruto," ujar Shikamaru.
"Aku serahkan kepadamu Sensei," sahut Chouji juga.
"Biarakan jiwanya tenang di alam sana," timpal Kiba.
"Brengsek kalian semua! Kalian pikir aku sudah mati apa!? Tidak!" teriakan Naruto makin lama makin menjauh seiring dengan jauhnya Hibiki membawanya.
Bokutachi no Akachan
Sementara itu di ruang klub terdengar ramai seperti biasa oleh suara Himeka yang sibuk bertanya ini itu dan bermain dengan semuanya, kecuali Sasuke yang tengah tertidur di sofa ruang klub, entah apa yang diimpikannya.
"Aku sudah tak kuat lagi, gantikan aku Sakura," ujar Ino sambil menarik nafas dalam-dalam karena lelah diajak bermain kejar-kejaran dengan Himeka.
"Uuh...Tidak seru, masa Ino Nee-chan sudah capek? Kita kan baru bermain sebentar," Himeka langsung memasang wajah cemberutnya, khas anak kecil yang tidak dituruti.
"Jangan begitu Himeka-chan, kasihan kan Ino Nee-chan. Ayo main dengan Onee-chan yuk," bujuk Sakura.
"Nggak! Himeka Cuma mau main dengan Ino Nee-chan, so...soalnya O...Onee-chan sudah janji," Himeka mulai menangis terisak.
"Cup...cup, Himeka-chan main bareng Mama saja. Kasihan Ino Nee-chan sudah menemani dari tadi," kali ini Hinata yang membujuknya dan rupanya langsung berhasil, Himeka langsung melompat ke arah Hinata dan tidak jadi menangis.
"Kau benar-benar seperti Mamanya Hinata, sugoi," puji Sakura terjagum-kagum.
"Kau tidak apa-apa Ino-san, sepertinya kau kelelahan sekali. Ini minum dulu," Sai menyodorkan segelas air putih kepada Ino.
"Arigatou Sai-kun," Ino segera meminumnya dengan cepat.
"Mencurigakan, kenapa tindakan kalian seperti sepasang kekasih begitu? Sudah begitu saling memanggil nama kecil lagi. Hayoo mengaku, pasti ada sesuatu di antara kalian kan?!" teriak Sakura menghakimi.
"Ti-tidak kok, ka-kami tidak ada apa-apa," jawab Ino gugup.
"Jangan bohong!"
Brak! Pintu ruang klub terbuka dengan kasar dan munculah Naruto dengan nafas yang terengah-engah layaknya seorang pelari yang baru saja menyelesaikan marathon.
"Yey! Papa datang!" teriak Himeka senang.
"Sembunyikan aku cepat! Dan kalau Hibiki datang, bilang aku tidak ada," Naruto langsung bersembunyi di bawah meja dambil memberi isyarat agar Himeka tetap diam.
Brak! Kali ini Hibiki yang membuka pintu, dan persis yang dikatakan Naruto tadi, dia langsung menanyakan keberadaan Naruto.
"Dimana Naruto-kun?" tanyanya.
"Kami tidak tahu Sensei, dari tadi dia tidak kemari," jawab mereka serempak dan membuat Hibiki langsung mencarinya di tempat lain.
"Kau tidak apa-apa Naruto-kun," tanya Hinata cemas dan menyodorkannya segelas air putih.
"Ti...tidak...aku...baik...saja..." jawabannya masih terengah-engah, sepertinya kelelahan belum pergi dari dirinya.
"Papa habis main petak umpet ya?" tanya Himeka polos.
"Bukan!"
Melihat suasana kehangatan masing-masing pasangan membuat Sakura tak enak, kedua sahabatnya kini sudah mendapatkan pria yang mereka inginkan, sementara dia sedikitpun tak bisa membuat Sasuke berpaling ke arahnya. Hanya dia yang tak ada kemajuan, itu membuat dirinya terus murung.
Sepulang sekolah, Ino memutuskan untuk pulang bersama Sakura, tak enak melihat sahabatnya yang satu ini murung terus.
"Yo Sakura! Kau ini murung terus, kenapa sih? Ceria dong seperti biasa, nanti Sasuke tak mau mendekatimu loh," canda Ino.
"Sudahlah Ino tak usah menyemangatiku, aku sudah tahu kau dan Sai pacaran. Jujur saja, aku takkan marah kok," sahut Sakura.
"Kau sudah tahu ya?"
"Terlihat jelas dari sikap kalian tahu, mulai kapan?"
"Baru saja kemarin."
"Wah selamat ya, aku senang selain Hinata kau juga mendapatkan pria yang kau suka sedangkan aku tak bergerak sedikitpun. Nee Ino, apa aku lebih baik melupakan Sasuke-kun saja ya?"
"Hah? Kau ini bicara apa Sakura? Bukankah kau sudah menyukai Sasuke-kun sejak lama, kenapa malah baru menyerah sekarang?"
"Tapi, sedikitpun dia tidak melirikku. Entah apa yang ada dipikirannya, semua caraku tak berhasil menarik perhatiannya. Mungkin benar yang kau bilang waktu itu, Sasuke-kun memang bukan pasanganku."
"Ta-tapi waktu itu aku kan cuma bercanda, jangan terlalu serius ah. Mungkin di dalam hatinya dia menyukaimu. Jangan menyerah Sakura," Ino terus memberi semangat.
"Tapi..."
"Begini saja aku punya rencana bagus untukmu dan Sasuke-kun, jika ini tidak berhasil juga kau boleh melakukaan apapun setelahnya. Setidaknya kita sudah mencoba, bagaimana?" tawar Ino.
"Boleh juga," sahut Sakura terdengar ceria seperti biasa.
Bokutachi no Akachan
Keesokan harinya, sang idola Konoha Gakuen, Sasuke Uchiha tengah berjalan menuju sekolahnya. Dengan wajah yang masih mengantuk dan selembar roti tawar yang dibawanya sebagai sarapan dia memulai harinya di sekolah. Satu tangannya diletakkan di dalam saku celananya, gaya khas seorang Uchiha. Sekali dua kali mulutnya menguap, walaupun dia tidur cukup semalam entah mengapa dia masih saja mengantuk. Deg! Tiba-tiba dia merasakan hawa yang tak enak dari sekitarnya, benar saja Haruno Sakura, salah satu gadis yang tergila-gila olehnya dan teman satu klubnya tengah menghampiri sambil berlari dari arah belakang.
"Ohayou Sasuke-kun," sapa Sakura sambil menepuk punggungnya.
"Eh?" reaksi Sasuke karena ternyata tindakan Sakura jauh dari salamnya yang biasa. Biasanya Sakura memeluknya dari belakang dan melakukan german supplex kepadanya.
"Hei, kenapa tidak membalas salamku? Apa kau sakit?" tanya Sakura.
"Tidak, hanya saja aku heran kau ini tidak seperti biasanya," Sasuke malah balik bertanya.
"Ah masa? Eh itu Naruto dan Hinata! Hei Naruto! Hinata! Ohayou!" Sakura langsung menghampiri mereka berdua meninggalkan Sasuke yang masih terheran-heran. Entah apa yang ada dipikiran Sakura, apa dia benar-benar ingin melupakan Sasuke? Lalu, apa yang sebenarnya direncanakan oleh Ino?
Chapter 7 End
Yo minna bagaimana kabar kalian, masih setiakah menunggu updatenya fic ini? Hehehe, maaf ya minna kalau updatenya lama. Terimakasih atas penantiannya, semoga puas dengan chapter kali ini. Oh iya, yang lagi kena banjir sabar ya, dan sambil nunggu airnya surut mending baca fic ini, hehe. Jangan lupa reviewnya, matta ne!
Note:
german supplex : sebuah gerakan gulat yang terkenal dan sering diperlihatkan di anime dan dorama jepang. Caranya dengan memeluk tubuh lawan dari belakang dan lalu membantingnya (don't try this! :D)
