Bokutachi no Akachan
Author: Lynhart Lanscard
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Genre: Romance/Family
Pairing: NaruHina, SasuSaku, SaiIno
Chapter 8 : Tori? Ore wa Tori Janai! (Ayam? Aku bukan ayam!)
Sakura benar-benar menjadi orang yang berbeda sekarang, dia tidak terlihat terlalu menempel lagi dengan Sasuke, baik itu di kelas maupun di ruang klub. Kalau saja Sakura terus seperti ini, sudah pasti dia akan menjadi incaran para siswa di Konoha Gakuen. Tapi kita kesampingkan itu, pasti ada yang bertanya-tanya apa penyebab perubahan sifat Sakura kan? Kita lihat flashbacknya
Flashback
"Nee Ino, apa kau yakin ide ini akan berhasil?" tanya Sakura ragu-ragu.
"Ya kita coba saja, setidaknya kalau gagal kita telah mencoba. Aku akan sebut rencana kali ini 'Operasi Pendekatan Cewek Cuek', bagaimana?" seru Ino berapi-api.
"Tapi apa akan berhasil pada Sasuke?"
"Sakura dengarkan aku, cowok itu tidak suka dengan wanita yang terlalu menempel padanya, kesannya terlalu menjual. Kita harus menjaga image kita dihadapan para cowok dengan agak cuek padanya yang nanti akan membuat rasa penasaran pada si target dan hasilnya dia akan mengejar kita kembali. Cewek itu harus sedikit misterius dan punya harga diri!" ujar Ino sok tahu.
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membuat kesan misterius itu?" tanya Sakura penasaran.
"Jaga jarak dengannya! Usahakan seminimal mungkin bertemu dengannya, dan jika menyapa ucapkan 'hai' saja jangan berlebihan seperti reaksimu yang biasanya," besok aku akan jadi pemantaumu agar kau konsisten dalam rencana ini, mengerti?" perintah Ino layaknya seorang jendral perang dunia dua.
"Ba-baik!" jawab Sakura gugup.
Tiba-tiba telepon genggam Ino berdering di tengah pembahasan rencana pendekatan Sasuke, wajahnya yang semula cemberut karena terganggu dengan bunyi teleponnya langsung berubah cerah layaknya bunga yang baru saja disiram setelah seharian menerima terik matahari.
"Ara Sai-kun, ada apa? Apa kau mau kencan minggu ini? Serius? Lalu dimana tempatnya dan bla...bla...bla..." Ino langsung tenggelam dalam pembicaraannya dengan kekasihnya membuatnya lupa diri dan yang lebih parahnya lagi melupakan masalah Sakura yang tengah dihadapannya.
"Mana kata-kata 'kita harus menjaga image kita dihadapan para cowok'? Dasar Ino!" gerutu Sakura kesal.
"Ah maaf Sakura, aku harus segera pulang untuk menentukan jadwal kencan dnegan Sai-kun. Pokoknya ingat kata-kataku, cuek. Bye-bye!" Ino segera pamit pulang meninggalkan Sakura yang kesal, untung dia cepat kalau tidak bantal sudah mendarat di kepalanya.
Present
Sejauh ini Sakura berhasil melakukan seperti yang Ino sarankan padanya, meskipun dirinya harus menenangkan diri dengan menjedotkan kepalanya ke tembok atau menenggelamkan kepalanya ke dalam wastafel yang penuh air untuk menyadarkan dirinya, namun sampai saat kisah ini ditulis, Sasuke masih belum menunjukkan adanya tanda-tanda ketertarikkan pada Sakura, minat untuk menyapa pun tidak ada.
"Nee Ino, sepertinya rencana kali ini juga gagal deh," keluh Sakura sambil membuka kotak bekalnya.
"Sabar Sakura, baru saja sehari mana mungkin langsung menunjukkan hasilnya!" sahut Ino sambil menyingkirkan beberapa sayuran yang tak ia suka dari kotak bekalnya.
"Rencana apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Hinata yang baru saja bergabung.
"Loh Hinata, kau tidak sedang menjaga Himeka-chan?" tanya Sakura heran.
"Tidak, aku dan Naruto-kun memutuskan untuk menitipkan Himeka ke penitipan anak milik kerabat Naruto-kun. Himeka juga terlihat senang di sana, banyak teman-teman sebayanya yang mengajaknya bermain. Dia bahkan tak terlihat rewel saat aku dan Naruto-kun meninggalkannya," tutur Hinata, air mukanya terlihat bahagia layaknya seorang ibu yang baru saja menyaksikan anaknya bersekolah untuk pertama kalinya.
"Sungguh? Wah bagus dong, kalian jadi tak perlu repot untuk membawa Himeka ke sekolah. Tapi kenapa tidak dari kemarin saja melakukan hal itu?" Ino kembali bertanya.
"Itu...itu...gara-gara Naruto-kun lupa, dia bahkan baru ingat ketika kerabatnya itu menelpon malam tadi," jawab Hinata dengan rona merah di pipinya, malu akan kecerobohan orang yang ditaksirnya.
"Dasar dia itu memang bodoh, aku heran kau bisa suka dengan orang seceroboh Naruto. Ok, cukup membahas kecerobohan Naruto, sekarang kita kembali ke rencana pendekatan Sakura dengan Sasuke."
"Kalian merencanakan sesuatu lagi? Kali ini bagaimana?" tanya Hinata, dari nada bicaranya sepertinya dia tertarik dengan pembicaraan ini.
"Kali ini aku mencoba sesuatu yang bertolak belakang Hinata, aku mencoba untuk mengeluarkan sisi misterius Sakura untuk melakukan pendekatan pada Sasuke," jawab Ino penuh percaya diri.
"E...maksudnya?" tanya Hinata bingung.
"Kita akan coba menjadikan Sakura menjadi cewek yang misterius sehingga nanti Sasuke menjadi tertarik kepadanya, seperti yang ada di manga ini," Ino mengeluarkan sebuah manga yang berjudul Nazo no Kanojo X, covernya bergambar seorang gadis berambut pendek yang mengarahkan sebuah gunting kepada seorang lelaki.
"Me-menurutku yang seperti itu tidak akan berhasil pada Sasuke-kun, dia kan kadar kecuekannya melebihi batas normal. Mana mungkin memperhatikan orang yang sama-sama cuek," komentar Hinata.
"Sial kau Ino! Jadi kau menyuruhku melakukan hal yang sia-sia atas nama eksperimen gila dari manga yang kaubaca Ino?!" geram Sakura.
"Sa-sabar dulu Sakura, aku tidak menjadikanmu eksperimen kok. Semua yang ada di sini benar-benar mirip dengan yang ada di dunia nyata kok," balas Ino tak mau kalah.
"Apanya yang mirip? Lihat adegan ini! Mana ada sepasang kekasih yang merekatkan hubungan mereka dengan bertukar air liur seperti itu! Kau mau menyuruhku melakukan hal yang abnormal seperti itu dengan Sasuke-kun? Bisa-bisa aku tambah dibencinya!" omel Sakura dengan kesal menujukkan adegan yang ada di komik itu ke wajah Ino dekat-dekat.
"Tenangkan dirimu Sakura-san! A-aku punya ide yang lebih masuk akal!" Hinata berusaha menghentikannya dengan memeluk tubuh Sakura. Sakura kini berubah menjadi lebih tenang tak seperti anjing galak yang kelaparan lagi.
"Benarkah itu Hinata? Kau tak bohong kan?" tanya Sakura dengan wajah yang penuh harap, dirinya menjadi lebih tenang dan aura ganasnya menghilang
"I-iya," jawab Hinata.
"Jadi apa rencanamu Hinata-sensei?" tanya Sakura dengan mata yang berbinar-binar.
"Begini, nanti sepulang sekolah kalian menjemput Himeka dan menjaganya sampai nanti Naruto-kun dan aku menjemputnya. Nah, gunakan kesempatan berdua itu untuk mempererat hubungan kalian, bagaimana?" Hinata memaparkan rencananya.
"Yah, kurasa itu akan berhasil. Cara itu soalnya berhasil untukku dan Sai-kun, mungkin juga begitu denganmu dan Sasuke-kun," komentar Ino.
"Boleh juga, jadi apa yang akan kulakukan nanti ketika berdua dengan Sasuke-kun?"
"Ya ampun Sakura, masa begitu saja harus diberitahu! Kau ini bodoh juga ya, lakukan seperti yang pasangan normal lakukan seperti belanja makan malam bersama atau menidurkan Himeka, seperti itu!" omel Ino kesal melihat tingkah sahabatnya itu.
"Jadi itu yang kau lakukan bersama Sai, Ino? Kau sudah dewasa ya rupanya, tidur bersama..." tukas Sakura dengan nada datar, namun wajahnya...
"Heh?! Kenapa kalian malah melirikku dengan tatapan seperti itu?! Aku kan hanya berbagi pengalaman saja!"seru Ino, terlihat mukanya yang merah menahan malu.
Bokutachi no Akachan
Soal menyusun rencana dan melaksanakannya adalah hal yang berbeda, Sakura juga tahu tentang hal itu. Sekarang dia sedang berpikir keras bagaimana caranya agar bisa mengajak Sasuke untuk menjemput Himeka. Apa dia akan memakai cara kekerasan seperti yang biasa dia lakukan atau dengan kelembutan? Dengan langkah yang gugup dia mendekati Sasuke yang tengah bersantai sambil membaca manga di sofa.
"Nee Sasuke-kun, kau ada waktu sepulang sekolah nanti?" tanya Sakura tiba-tiba.
"Tidak, memangnya kenapa? Kau mau mengajakku ke suatu tempat?" balas Sasuke.
"Eh, bagaimana kau tahu?"
"Hanya menebak, jadi kemana?"
"Menemaniku menjemput Himeka-chan di tempat penitipan anak, tepatnya di dekat distrik perbelanjaan, kau mau?" tanya Sakura dengan wajah yang memerah.
"Tentu saja, nanti kita ketemu di gerbang sekolah."
"Eh? Tumben kau menyanggupinya, ada apa sebenarnya?" tanya Sakura.
"Aku hanya tidak mau disuruh-suruh Itachi, kalau aku pulang cepat pasti dia menyuruhku membuatkan makan malam dan kebetulan ada yang ingin aku beli di sekitar situ," jawab Sasuke dingin seperti biasa, lalu ia melanjutkan kegiatannya tanpa melihat wajah Sakura yang berubah kecewa.
"Ternyata bukan untukku ya," gumam Sakura pelan.
"Eh, kau bilang sesuatu Sakura?"
"Ti-tidak! Itu...itu hanya perasaanmu mungkin!" Sakura segera berlari meninggalkan ruang klub sementara Sasuke hanya bisa melongo melihat satu lagi keanehan Sakura.
Bokutachi no Akachan
Di sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam, tak satupun kata-kata meluncur dari mulut mereka. Sebenarnya Sakura sendiri sangat gugup, karena ini pertama kalianya dia berjalan dengan Sasuke.
"Nee..." tanpa disadari mereka berdua bicara secara bersamaan.
"Kau duluan saja..." lagi-lagi mereka timing bicara mereka berdua bersamaan.
"Sasuke-kun saja duluan," ujar Sakura menyudahi acara yang konyol ini.
"Ehem, begini sebenarnya aku ingin bertanya padamu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu, kalau kuperhatikan kau tidak seperti biasanya, apa ada masalah?" tanya Sasuke, terdengar sedikit kegugupan dalam nada bicaranya.
"Eh? Memangnya aku berubah ya?" wajah Sakura langsung berubah merah.
"Ya, kau jadi sedikit agak pendiam sekarang, padahal dulu kau aktif sekali seperti Naruto apalagi jika bertemu denganku."
"Apa kau suka dengan aku yang dulu atau yang sekarang?"
"Aku...aku...Ah lihat itu tempatnya!" ujar Sasuke menunjuk sebuah tempat penitipan anak dengan papan nama yang bertuliskan "Penitipan Anak Himawari".
Sampai di tempat yang dituju, mereka langsung disambut oleh pria dengan rambut merah sebahu, wanita berambut biru yang anggun dan pria lain dengan warna rambut jingga yang mencolok, semuanya tersenyum ramah pada mereka.
"Ko-konnichiwa, kami mau menjemput Himeka-chan," sapa Sakura terdengar gugup.
"Oh, Himeka-chan ya? Kenapa bukan Naruto-kun dan Hinata-san sendiri yang datang menjemput," tanya wanita berambut biru tersebut.
"Me-mereka sedang ada perlu di ruang klub, ja-jadi kami disuruh menjaga Himeka-chan sampai mereka menjemutnya," jawab Sakura.
"Tak usah tegang begitu, ojou-san. Kami tidak akan menggigit kok. Oh iya perkenalkan, namaku Yahiko, dan wanita cantik disampingku ini bernama Konan, dan yang berambut merah itu Nagato?" ujar si pria dengan warna jingga sambil tersenyum ke arah Sakura.
"Dasar si Naruto itu, masa dia tidak perhatian pada anak asuhnya sendiri. Ngomong-ngomong kalian siapanya Naruto?" tanya pria berambut merah yang ternyata bernama Nagato.
"Kami teman sekolahnya, namaku Haruno Sakura dan dia Uchiha Sasuke, yoroshiku onegaishimasu."
"Sudahlah Nagato, namanya juga anak muda. Pasti ada saatnya mereka ingin berdua saja tanpa diganggu siapapun kan?" ujar Yahiko sambil menepuk-nepuk pundak Nagato.
"Jangan berkata seperti itu, kau dan Konan kan juga sama," balas Nagato yang kali ini membuat Konan tersipu-sipu.
"A-aku akan ke dalam memanggil Himeka-chan," langkahnya terlihat terburu-buru, sepertinya dia menahan malu.
"Kau ini! Jangan menggoda kami dihadapan anak-anak yang masih polos!"
"Ya, ya. aku mengerti."
"Kalian berdua juga begitu kan? Pasti tidak ingin ditanyai tentang hubungan kalian, ya kan?" sambung Yahiko lagi yang sukses membuat wajah Sakura memerah, sementara Sasuke langsung memalingkan mukanya.
"Ka-kami tidak seperti itu kok, ka-kami bukan pasangan...hanya...teman dekat," jawab Sakura dengan wajah tersipu-sipu, "meskipun ingin sih," gumamnya pelan.
"Kau bilang sesuatu?" tanya Nagato.
"Ti-tidak, aku tidak bilang apa-apa!" bantah Sakura, masih dengan rona merah di pipinya.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya sang bintang kecil kita akhirnya datang juga, Himeka berjalan keluar sambil bersenandung kecil, senyum merekah lebar di mulutnya yang mungil.
"Halo Himeka-chan, Onee-chan dan Onii-chan datang menjemputmu," sapa Sakura sambil tersenyum.
"Loh kok yang datang Saku Onee-chan dan Tori no Onii-chan? Mana Papa dan Mama?" tanya Himeka yang wajahnya langsung berubah cemberut. Sementara Sasuke langsung shok berat karena mendengar anak kecil memanggilnya tori.
"Papa dan Mama sedang sibuk jadi kami yang menjemput, lagipula nanti mereka juga akan menjemputmu kok. Papa dan Mama sedang menyiapkan sesuatu yang spesial buat Himeka-chan," ujar Sakura.
"Hontou?! Yatta!" seru Himeka dengan gembira sambil melonjak-lonjak riang.
"Syukurlah Himeka-chan, kamu pasti senang ya?" kata Konan sambil berjongkok di sisinya.
"Tentu saja Konan-Sensei! Himeka sangat super senang!"
"Apa dia merepotkan selama di sini?" tanya Sakura
"Tidak kok, dia anak yang pintar dan penurut, meskipun sedikit terlalu aktif sih. Bahkan dia memberi julukan kepada teman-temannya, yah dia anak yang baik kok," ujar Nagato sambil mengelus-elus kepala Himeka.
"Tentu saja! Himeka kan anak Papa dan Mama!" ucapnya sambil menggembungkan pipinya.
"Ya kalau begitu kami permisi dulu, ayo Himeka ucapkan salam pada sensei semua," ujar Sakura.
"Selamat tinggal Sensei! Sampai jumpa besok!" seru Himeka bersemangat, bahkan dia terus melambaikan tangan sampai "Penitipan Anak Himawari" tak terlihat lagi.
Bokutachi no Akachan
"Hei bocah! Aku mau bertanya kepadamu, kenapa kau memanggilku tori?!" tegur Sasuke sambil berjalan disampingnya.
"Eh? Memangnya tidak boleh ya menjuluki orang dari penampilannya, Saku Onee-chan?" tanya Himeka polos.
"Tidak boleh Himeka-chan, itu tidak sopan," jawab Sakura sambil terkikik geli.
"Kenapa kau memanggil Sakura dengan sebutan "Saku Onee-chan" sedangkan aku dapat panggilan seperti itu?!" seru Sasuke lagi.
"Habis rambut Onii-chan seperti buntut ayam sih, Onii-chan suka dengan ayam ya? Terus potong rambutnya dimana, supaya mirip kayak gitu?" Himeka terkikik geli.
"BUKAN! Gaya rambutku dari lahir memang seperti ini! Bukan meniru ayam!" bentak Sasuke.
"Hihi! Onii-chan kalau marah nanti bisa berubah menjadi monyet besar seperti Goku-san di Dragon Ball loh, tapi kalau bisa mengendalikannya pasti bisa jadi Super Saiyajin," tutur Himeka yang masih belum berhenti dari tawanya.
"Hei bocah, kau tahu tentang Dragon Ball juga ya?" tanya Sasuke yang tertarik.
"Iya, setiap malam Papa dan aku selalu menontonnya. Tapi sayang Mama kurang suka, padahal itu kan anime yang seru," ujar Himeka bersemangat.
"Iya benar, apalagi saat pertarungan di Planet Namek, aku rasa itu bagian yang paling seru!" balas Sasuke tak kalah bersemangat.
"Kalau aku suka saat pertarungan Goku-san melawan Vegeta-san! Kakkoi! Aku sampai tidak mengedipkan mata karena terlalu kerennya!"
"Ke-kenapa jadi perbincangan antar otaku seperti ini sih? Kalau begini aku kan jadi tidak bisa bergabung, tapi tak apalah, senang bisa melihat Sasuke-kun dan Himeka-chan sudah akrab," batin Sakura senang, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
Mereka berdua berbicara dengan semangat tentang anime kesukaan mereka, membahas ini dan itu. Sasuke bahkan bisa tertawa lepas, tawa yang tidak pernah ditunjukkannya pada siapapun, Sakura tentu saja merasa senang karena bisa melihat sosok Sasuke yang lain. Entah kenapa sosok Sasuke yang dingin seperti biasanya, berganti menjadi sosok yang hangat.
Tanpa mereka sadari, dari arah belakang terlihat sebuah mobil yang tengah melaju kencang, entah karena pengemudinya mabuk atau apa, yang jelas laju mobil itu terlihat ugal-ugalan. Mobil itu semakin mendekati mereka dengan kecepatan tinggi, bahkan menembus pembatas jalan dan naik ke arah trotoar. Beruntung Sasuke yang saat itu kebetulan menoleh ke belakang, menyadari kehadiran mobil tersebut. Dengan sebuah gerakan yang gesit, ia segera mendorong Himeka dan Sakura menjauhi trotoar. Namun sayang dirinya sendiri tidak sempat menghindari tabrakan maut tersebut. Tubuhnya terlempar keras ke tanah, sementara pengendara yang panik itu langsung melarikan diri begitu mengatahui mereka menabrak seseorang.
"Sasuke-kun!" teriak Sakura panik, dia langsung menghampiri wajah Sasuke yang berlumuran darah, tak sadarkan diri.
"Onii-chan...bangun...katanya mau mengajak Himeka nonton..." isak Himeka sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sasuke yang masih tak sadarkan diri.
"Siapa saja tolong panggilkan ambulans! Sasuke-kun!" teriak Sakura histeris.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah nyawa Sasuke terselamatkan? Saksikan si chapter depan ya!
Chapter 8 End
Yohoho, iseng-iseng di waktu luang. Daripada gak ada kerjaan lebih baik update chapter baru. Oh iya, ini pengetahuan buat para reader, manga yang dibawa Ino itu beneran ada loh. Menurut saya bakalan seru kalo ada anime atau manga yang jadi bahan referensi di fic ini. Akhir kata, maafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan yang kurang berkenan. Sampai jumpa di chapter depan dan jangan lupa reviewnya.
Note
Tori: bahasa Jepang untuk unggas.
Konnichiwa: selamat siang.
Otaku: sebutan bagi para penggemar berat anime/manga.
