Bokutachi no Akachan
Author: Lynhart Lanscard
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Genre: Romance/Family
Pairing: NaruHina, SasuSaku, SaiIno
Chapter 9 : 1...2...3...I will Kiss You!
Sasuke perlahan membuka matanya, penglihatannya yang rabun lama-lama semakin jelas. Yang pertama dilihatnya adalah atap putih yang luas, serta aroma obat yang khas tercium dengan jelas. Kepalanya masih terasa pusing, dia berusaha mengingat apa yang terjadi padanya tadi. Yang diingatnya terakhir kali adalah dia mendorong Sakura dan Himeka agar tak tertabrak mobil, sementara dirinya sendiri akhirnya menjadi korban tabrakan.
"Dimana aku? Apa ini rumah sakit ya?" ujarnya sambil melihat sekeliling, namun pandangannya tiba-tiba berhenti pada pinggir ranjangnya dimana seorang gadis berambut merah muda tengah tertidur pulas di sana.
"Sa...Sakura?! Apa yang dilakukannya di sini?" Sasuke terus bertanya-tanya, tanpa sadar dia menggerakkan kakinya yang membuat Sakura akhirnya terbangun.
"Ara Sasuke-kun, kau sudah bangun rupanya? Apa ada masalah? Dokter bilang kau jangan banyak bergerak dulu, kau masih dalam tahap pemulihan," ujar Sakura yang nampak lega melihat Sasuke yang sudah siuman.
"Apa kau dan Himeka tidak apa-apa?"
"Aku dan Himeka tidak apa-apa kok. Himeka sedari tadi bersikeras menjagamu loh, bahkan sampai dia ketiduran," jawab Sakura sambil menunjuk Himeka yang tengah tertidur sambil memeluk tas beruang miliknya.
"Aah syukurlah kalian apa-apa," ucap Sasuke lega.
"Daripada kami Sasuke-kun, yang harusnya dicemaskan itu kamu sendiri tahu! Kau tahu mobil itu menabrakmu dengan sangat keras, membuat pendarahan ringan di kepalamu. Beruntung seorang dokter wanita lewat dan mengantar kita sampai ke rumah sakit Konoha. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu...aku...aku.." Sakura terisak pelan.
"Baka, yang penting aku selamat kan? Lagipula, kata ibuku ini aku dilahirkan di naungan bintang keberuntungan. Buktinya saja ada yang lewat menolong, dokter pula, jadi jangan cemas lagi. Hehe," ujar Sasuke tertawa, entah kenapa perasaan Sakura menjadi tenang setelah melihat tawa itu.
Pintu kamar perawatan dibuka tiba-tiba, membuat Sakura dan Sasuke terkejut. Setelah itu muncul seorang dokter wanita yang kira-kira berumur 50 tahun, rambutnya berwarna pirang dan dikepang dua.
"Yare, yare, dasar anak muda. Ini rumah sakit bukan taman untuk bermesraan," ujarnya sambil tersenyum pada pasangan muda-mudi tersebut.
"Tsunade-Sensei! Sudah kubilang dia bukan pacarku kan! Kami ini hanya teman!" seru Sakura, rona merah terlihat jelas dari pipinya.
"Aku tahu, aku tahu. Tadi itu hanya bercanda kok, jangan dianggap serius. Lagipula, kalau berteriak terlalu keras bisa membangunkan gadis kecil yang disana loh," tukasnya sambil menunjuk ke arah Himeka yang tertidur pulas.
"Go-gomenasai," permintaan maaf Sakura terdengar gugup.
"Tak apa. Jadi, bagaimana keadaanmu Sasuke-kun? Apa kau merasa sedikit aneh?" suara Tsunade terdengar ramah dan menyenangkan, sepertinya dia dokter yang cukup pengertian pada pasiennya.
"Tidak, hanya merasa sedikit pusing saja Sensei. Ngomong-ngomong, seberapa parah luka yang diderita saya?"
"Tidak ada yang terlalu parah kok, kepalamu cuma butuh beberapa jahitan dan sedikit darah pengganti. Tapi...itu tadi kejadian yang mengejutkan, gadis ini tiba-tiba saja memberhentikan mobilku dan memaksaku untuk mengantarmu ke rumah sakit. Ia bahkan tidak mau keluar kamar sampai kau sadar. Berterimakasihlah padanya," ujar Tsunade, Sasuke hanya menanggapinya dengan anggukan.
"Sensei!" Sakura wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Te-terimakasih Sakura," kegagapan menguasai Uchiha Sasuke.
"Sebagai tambahan, jadikanlah dia seorang istri. Kalau tidak cepat, nanti dia direbut orang. Sayang gadis semanis dia pergi begitu saja dari hidupmu, kan?" goda Tsunade.
Blush! Wajah keduanya sudah bukan memerah lagi, melainkan terbakar karena rasa malu yang sudah overload.
Bokutachi no Akachan
"Sakura, kau sudah menghubungi keluarganya?" tanya Tsunade setelah memberikan perawatan pada Sasuke.
"Sudah Sensei, kakaknya sudah kuhubungi dan teman-teman juga sudah kuberitahu. Mungkin sebentar lagi mereka sampai di sini," jawab Sakura sambil mengupas apel.
Baru saja Sakura berkata seperti itu, tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan kasar disusul teriakan seseorang yang cukup mengangganggu. Apa orang idiot itu tidak tahu ini rumah sakit?
"Oi Sasuke! Awas kalau Himeka sampai kenapa-kenapa akan kupatahkan lehermu!" suara Naruto ternyata yang berteriak mengganggu itu.
"Na-Naruto-kun! Jangan teriak seperti itu, ini kan di rumah sakit. Bagaimana jika nanti para pasien terganggu dan dokternya marah padamu," Hinata memperingatkan.
"Oi bocah dungu! Pelankan suaramu, kau mengganggu yang lain! Kau pikir tempat ini arena gulat apa! Ini rumah sakit idiot!" bentak Tsunade yang kesal melihat tingkah Naruto. Tak hanya dibentak, dia juga memperoleh bonus berupa lariat yang disarangkan ke lehernya.
Baru saja Naruto ingin membentak sang penyerang, namun langsung diam dan terkejut begitu menyadari siapa sang penyerang yang sebenarnya.
"O-Obaa-chan!? Kenapa bisa ada di sini? Bukannya hari ini jadwal untuk libur?" tanya Naruto gugup.
"Itu terserah aku bocah! Siapa kau yang berani memerintah kapan aku harus bekerja atau tidak?!" balas Tsunade.
"Nee Sakura, siapa dokter kasar ini? Apa kau yakin dia bisa mengobati Sasuke-kun dengan benar?" tanya Ino sambil berbisik.
"Tentu saja nona! Kau pikir aku ini siapa hah? Aku, Namikaze Tsunade, dokter terhebat di seluruh dunia dan Konoha!" sombong Tsunade.
"Padahal itu sebutan untuk dirinya sendiri," ejek Naruto.
Bletak! Satu pukulan mendarat di kepala Naruto, untung saja ini rumah sakit jika tidak kan susah kalau dia tiba-tiba terluka.
"Aduh kejam sekali kau pada cucumu sendiri, Baa-chan," rintih Naruto sambil memegangi kepalanya yang kesakitan.
"EH? Cucu?" semuanya langsung berteriak serempak seperti paduan suara.
"Memangnya kenapa? Kalian kaget nenek sihir jelek seperti ini punya cucu setampan diriku!" kali ini Naruto yang menyombongkan dirinya.
"Cucu kurang ajar! Berani menyebut nenekmu sendiri nenek sihir jelek, akan kuhajar sampai kau tidak berbentuk lagi! Setelah itu baru kukirim kau ke UGD!" kali ini benar-benar tiada ampun bagi Naruto, dia sudah dihajar babak belur oleh neneknya sendiri.
"Em...ada apa sih berisik sekali, Himeka kan jadi tidak bisa tidur," Himeka berkata sambil mengucek-ngucek matanya, dia juga menguap lebar tanda ia masih mengantuk.
"Tuh kan dia jadi bangun! Gara-gara kau teriak sih!" bentak Tsunade.
"Apaan sih! Baa-chan juga teriak tadi!" balas Naruto tak mau kalah.
Himeka langsung menoleh ke arah pemilik suara yang dikenalnya itu, berlari dan segera memeluknya dengan sangat erat.
"Papa! Himeka kangen sekali dengan Papa! Kok tadi Papa tidak jemput sih?" ujar Himeka dengan mulut cemberutnya yang biasa.
"Eh, Papa? Naruto ini Papamu Ojou-chan? Lalu Mamamu mana?" tanya Tsunade yang terdengar panik.
"Iya, Papa adalah Papaku dan Mama adalah Mamaku!" Himeka langsung menunjuk Hinata yang berada di samping Naruto, mukanya memerah seperti biasa. Sementara Tsunade, wajahnya terdengar retak saat mendengar cucunya itu mempunya seorang anak perempuan yang manis.
"Aku...punya...cicit...haha...haha," Tsunade sepertinya langsung shok berat.
"Obaa-chan tak apa-apa kan?" tanya Naruto takut-takut.
"Apanya yang tidak apa-apa BAKA!? Apa yang harus kubilang pada Minato dan Kushina nanti ketika mereka tahu kau punya anak!? Apa saja yang kau lakukan pada gadis malang itu sehingga dia mau menjadi ibu dari anakmu?! Apa kau tidak kasihan melihat gadis manis ini punya ayah yang idiot sepertimu!? Berpikirlah sebelum bertindak NARUTO!" omelan Tsunade yang panjang lebar itu membuat Naruto benar-benar tuli, belum lagi setiap tamparan yang menghias indah di tiap kata omelan tersebut yang membuat pipi Naruto menjadi tembem.
Bokutachi no Akachan
Setelah penjelasan panjang lebar dari Hinata dan kawan-kawan yang bersusah payah menjelaskan tentang Himeka, akhirnya Tsunade bisa mengerti keadaannya dan dia sudah bisa memaklumi tindakan mereka. Sekarang dia hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum dan meminta maaf pada Naruto.
"Gomen, gomen. Aku tidak tahu Naruto, lagipula itu reaksi yang wajar bila seorang nenek mendengar cucunya yang masih di bawah umur punya anak," ucap Tsunade tanpa rasa penyesalan sama sekali.
"Apwanya ywang wajwar!? Wjawhku jadwi hancwur swpertwi inwi! Maknywa berpwikwir sebwelum bertwindwak!" ucapan Naruto terdengar tidak jelas karena wajahnya yang sudah babak belur akibat tamparan Tsunade tadi.
"Heh, aku tidak bisa mendengarmu dengan jelas. Bicaralah layaknya manusia," komentar Tsunade dingin yang membuat Naruto langsung marah-marah tak karuan.
"Jadi Sensei, bagaimana keadaan Sasuke-kun? Berapa hari dia harus dirawat di sini?" tanya Sai.
"Tidak terlalu parah kok, mungkin besok siang sudah bisa keluar..."
Pintu ruangan kembali dibuka, yang muncul kali ini adalah Uchiha Itachi. Pakainnya terlihat sangat modis, dengan baju hitam dan celana panjang dengan warna yang serasi.
"Ara Tsunade Sensei, hisashiburi desu! Jadi anda yang merawat Sasuke? Terimakasih telah merawat adikku yang bodoh ini," sapa Itachi sambil bersalaman dengan Tsunade.
"Ah Itachi-kun! Sudah besar kau rupanya... Eh! Tunggu dulu, kalau kau kakaknya...berarti dia ini Uchiha Sasuke-kun? Anak kedua dari Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto?"
"Sensei, aku rasa anda tidak usah terkejut sampai heboh begitu," ujar Itachi sweatdrop.
"Jadi Baa-chan kenal dengan keluarga Sasuke?" tanya Naruto.
"Tentu saja, tapi aku masih tidak percaya Sasu-kun yang dulu cengeng dan tukang ngompol itu sudah menjadi laki-laki yang tampan, bahkan sudah menjadi idaman seorang gadis," goda Tsunade sambil melirik Sakura dan Sasuke yang mukanya memerah.
"Haha! Sasuke mengompol! Entah sudah berapa lama aku tidak mendengar kisah konyol itu!" tawa Naruto terbahak-bahak.
"Diam kau!" seru Sasuke sambil melempar bantal ke arah Naruto.
"Sensei anda berlebihan memuji, sekarangpun dia masih bertindak kekanak-kanakan kok," sahut Itachi.
"Nii-san!" Sasuke sudah benar-benar marah sekarang, dia tank ingin sang kakak membocorkan semua rahasaianya.
"Jadi, kapan dia keluar dari sini Sensei?" suara Itachi terdengar serius dan agak khawatir.
"Kau merisaukan biayanya? Tak usah repot-repot memikirkan itu, semuanya aku yang menanggung. Apa yang akan kukatakan pada Mikoto dan Fugaku bila aku menarik biaya dari pengobatan anak mereka?" Tsunade sepertinya bisa membaca pemikiran Itachi.
"Tapi anda..."
"Sudah cukup Itachi-kun!" potong Tsunade tegas lalu kemudian tersenyum dan menepuk kepalanya sambil berkata "Sudah kubilang serahkan saja pada Obaa-san, kan?"
"Baik Obaa-san!" jawab Itachi sambil tersenyum.
"Wah aku tak menyangka Obaa-chan bisa bersikap baik seperti itu, coba saja terus bersikap seperti itu pasti aku takkan bilang Obaa-chan mirip nenek sihir," ujar Naruto berkelakar.
Bletak!
"Istirahatkan dirimu Sasuke-kun, jika tak ada halangan apapun kau bisa keluar besok siang," ujar Tsunade sambil melangkah keluar kamar setelah meninggalkan bekas benjol besar di kepala Naruto.
"Sasuke gomen, aku tidak bisa menemanimu malam ini karena harus jaga rumah," ujar Itachi
"Tak apa, lagipula kalau ada kau nanti tambah ramai dan merepotkan," sahut Sasuke dengan wajah cemberutnya.
"Aku tahu kau tak ingin diganggu saat berduaan dengan Haruno-chan," goda Itachi.
"Nii-san! Cepat pulang sana!" teriak Sasuke sambil melempar bantal ke arah Itachi yang sudah melarikan diri.
"Kalian kenapa masih di sini juga? Pulang sana!" bentak Sasuke kesal.
"Jangan begitu Sasuke, kita kan teman. Mana ada teman yang meninggalkan temannya di saat sakit, kita semua akan menginap di sini untuk menemanimu, iya kan?" tanya Naruto pada seluruh anggota klub yang dijawab dengan anggukan oleh mereka semua.
"Terserah kalian sajalah!" Sasuke memalingkan mukanya, takut terlihat air mukanya yang terharu akibat perbuatan teman-temannya itu.
Beberapa saat yang lalu Sasuke memang terharu dengan perbuatan teman-temannya itu, namun sekarang dia menyesali perkataannya yang membiarkan teman-temannya tinggal disini. Suasana tenang yang harusnya ia nikmati malah berubah menjadi kacau balau tak karuan. Naruto dan Himeka terus-terusan mengganggu ketenangannya, mulai dari tertawa keras-keras, bermain balon, sampai kejar-kejaran menangkap pesawat. Semuanya membuatnya gila.
"Ayo Hime-chan, tangkap pesawat Papa!" seru Naruto sambil menerbangkan pesawat kertas buatannya yang sialnya mengarah ke ranjang Sasuke.
"Himeka siap!" Himeka berlari dengan bersemangat mengejar pesawat itu, tak terasa dirinya telah sampai ke ranjang dan...menginjak perut Sasuke.
"Naruto...kau ingin membunuhku pelan-pelan ya?" rintih Sasuke kesakitan.
Bokutachi no Akachan
Dengan alasan mengganggu ketenangan pasien akhirnya mereka berlima dikeluarkan dari rumah sakit. Sai dan Ino berpisah jalan di persimpangan menuju rumah mereka meninggalkan keluarga kecil Naruto dan Hinata.
"Naruto-kun, aku ada permintaan boleh?" tanya Hinata tiba-tiba.
"Ya tentu saja, katakan Mama Hinata," jawab Naruto sambil tersenyum, akhir-akhir ini Naruto terus memanggilnya seperti itu untuk menggodanya.
"Ke-kenapa masih memanggilku seperti itu?" tanya Hinata tergagap, lengkap dengan rona merah sebagai hiasan di pipinya.
"Kau ini, kita kan orangtua Himeka. Jadi wajar saja bila saling memanggil seperti itu, lagipula ini kan latihan kalau kita sudah menikah nanti dan punya anak sungguhan,"jawab Naruto terus terang, semenjak mereka jadian Naruto terus saja menggoda Hinata seperti ini.
"Mou Naruto-kun! Jangan menggodaku terus!"
"Siapa yang menggodamu? Sudah katakan saja permintaanmu tadi Hinata."
"Begini, aku ingin pulang sebentar ke apartemenku. Kurasa aku meninggalkannya cukup lama, jadi aku ingin beres-beres dan mengambil beberapa barang, bisa kan?"
"Tentu saja, aku juga ingin melihat seperti apa apartemenmu. Himeka juga begitu kan?" tanya Naruto.
"Himeka juga mau!" jawab Himeka bersemangat.
Apartemen Hinata ternyata cukup dekat, hanya butuh waktu lima belas menit untuk mencapainya. Apartemennya tidak bisa dibilang mewah, tapi cukup bersih dan nyaman untuk ditinggali seorang gadis muda. Cat temboknya berwarna lavender, begitu juga dengan hampir seluruh perabotan, Hinata ternyata sangat menyukai warna itu.
"Kalian duduk saja dulu, nanti akan kubuatkan teh," Hinata mempersilahkan para tamunya duduk, mereka sedang mengagumi keindahan apartemen yang dihuni seorang gadis muda.
"Wah apartemen yang cantik, kau mengurus ini seorang diri?" tanya Naruto.
"Iya, sesekali dibantu Inami-san dan Kou-san untuk bersih-bersih dan menyiapkan makanan."
"Siapa mereka?"
"Mereka adalah maid dan buttler yang bekerja di rumahku, aku sudah bersama mereka semenjak aku masih kecil," tukas Hinata sambil terus mengaduk teh buatannya.
"Wah, kau punya yang seperti itu di rumahmu? Kau benar-benar seperti ojou-sama di dorama-dorama yang di televisi saja," puji Naruto.
"Yah, tapi aku merasa tidak bahagia tinggal di rumah seperti itu. Rasanya seperti tinggal di dalam sangkar," air muka Hinata berubah sedih.
"Tak usah berwajah seperti itu, sudah kubilang kan? Aku akan selalu berada di sisimu, menjadi sayap yang siap mengantarkanmu terbang bebas kemanapun kau mau," tukas Naruto sambil tersenyum.
Semenjak Naruto di sisinya dia kini tak terlalu memikirkan lagi soal masalahnya. Ya, asal Naruto ada di sampingnya, ia merasa mampu mengatasi semua masalahnya.
"Arigatou Naruto-kun, ini teh dan kuenya siap," Hinata merasa beruntung dengan kehadiran Himeka dan Naruto yang membawa kecerahan pada hidupnya.
"Wah asyik kue!" Himeka langsung saja menyerobot kue, membuat tangan Hinata menjadi tak seimbang dan akhirnya menumpahkan teh panas ke arah Naruto yang membuatnya kelabakan sambil berteriak kesakitan.
Bokutachi no Akachan
Sasuke baru saja bangun dari tidur singkatnya, sepertinya dia memang tak cocok tinggal di rumah sakit. Suasananya yang suram dan aroma obat yang tercium dimana-mana membuatnya sulit untuk tertidur lelap. Untunglah besok ia bisa keluar dari tempat ini. Matanya yang tajam terus memperhatikan kamar rawat inapnya, memandang ke seluruh ruangan. Ia terkejut saat melihat Sakura yang masih terbangun sambil mengerjakan origami bangau yang dibuatnya dari tadi.
"Sakura, kau masih terjaga?" suara Sasuke yang terdengar tiba-tiba mengejutkan Sakura, ia menjatuhkan beberapa origami yang telah dibuatnya.
"Ah... maaf gara-gara aku mengganggumu kau bangun ya? Aku akan segera mematikan lampunya."
"Tidak usah, lagipula aku memang tidak bisa tidur di rumah sakit. Kau sedang membuat apa?" tanya Sasuke penasaran.
"Ini,origami seribu bangau. Kata orang kalau membuat seribu origami bangau maka nanti permintaan kita akan terkabul, maka dari itu aku ingin membuatnya untuk kesembuhanmu Sasuke-kun," jawab Sakura, wajahnya yang kelelahan sangat kontras dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
"Aku boleh membantu," tanya Sasuke.
"Eh, tidak usah. Ini kan untuk kesembuhanmu, mana boleh kau ikut membantu. Nanti jadi tidak manjur," Sakura masih bisa mengeluarkan candaanya.
Perkataan Tsunade Sensei dan Itachi benar-benar terngiang di telinganya sekarang, apa dia rela kehilangan gadis sebaik Sakura? Perhatiannya yang tulus, kepeduliannya, dan masih banyak hal lain yang Sakura tunjukkan pada dirinya, membuat hati Sasuke menjadi luluh. Tanpa ia sadari, sebuah perasaan bernama cinta telah tumbuh di hatinya.
Bokutachi no Akachan
Sudah dua hari berlalu sejak kecelakaan yang menimpa Sasuke, kini dia siap kembali beraktivitas seperti biasa, walau sebenarnya dia lebih senang bermalas-malasan di tempat tidurnya. Tetapi ada satu hal yang menjadi pikirannya, sejak dia keluar dari rumah sakit dan pulang kembali ke rumah, ia sama sekali belum bertemu Sakura. Padahal saat di rumah sakit, dia selalu menunjukkan perhatiannya merawat Sasuke. Sasuke memutuskan untuk menanyainya saat di sekolah nanti.
Begitu kembali masuk sekolah, tempat duduknya langsung ramai oleh para fansnya yang sibuk berbasa-basi seperti menanyai keadaannya, bagaimana kronologi kecelakaannya, atau hanya sekadar memberi ucapan semoga cepat sembuh dan lain-lain. Semuanya itu membuatnya dirinya muak, tapi entah kenapa sosok Sakura tidak ada bersama para fansnya itu. Biasanya Sakura selalu menjadi yang nomor satu dalam hal ini, apa telah terjadi sesuatu padanya?
"Nee Sasuke-kun, bagaimana lukamu?" tanya Karin, yang menyebut dirinya sendiri ketua fans club Sasuke.
"Baik-baik saja, ngomong-ngomong apa kau tidak melihat Sakura?" tanya Sasuke yang tidak menghiraukan perhatian Karin.
"Cih, kenapa malah mencari si Haruno itu sih? Dia kan yang membuatmu celaka, buat apa kau berurusan dengan gadis pembawa sial seperti dirinya? Kalau terlalu sering berada di dekatnya kau bisa celaka loh, lebih baik keluar dari klub aneh itu dan bergabung saja dengan klub milikku," celotehnya dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Tarik kembali ucapanmu!" Sasuke menatapnya dengan tatapan tajam, persis seperti elang yang mengincar mangsanya.
"Eh? Ke...kenapa? Memang benar kan, kalau si Haruno itu gadis pembawa sial. Buktinya saja..."
Sasuke langsung mencengkram kerah seragam Karin, menatapnya dengan tatapan emosi yang luar biasa.
"Sekali lagi kudengar kau menjelek-jelekkan Sakura, aku tak segan menutup mulutmu yang cerewet itu! Kau mengerti?!" Sasuke lengsung melepaskan cengkramannya dan beranjak pergi ke luar kelas, sementara Karin hanya bisa melongo melihat tingkah Sasuke yang seperti itu.
Saat hendak pergi ke ruang klub dia berpapasan dengan pasangan Ino dan Sai yang baru saja kembali dari ruang melukis. Tanpa basa-basi dia langsung meminta informasi mengenai Sakura.
"Yamanaka! Kau lihat Sakura?" tanya Sasuke terengah-engah karena kelelahan berlari.
"Ya, dia ada di atap kalau kau mencarinya..." belum selesai Ino mengucapkan kalimatnya Sasuke langsung berlari menuju atap sekolah.
"Kenapa dia? Salah makan obat?" tanya Sai setengah bercanda.
"Masa kau tidak tahu Sai-kun, itu mata orang yang sedang jatuh cinta! Lihat saja sebentar lagi pasti akan ada pernyataan cinta!" jawab Ino bersemangat.
"Kurasa kamu terlalu banyak membaca shoujo manga dan nonton dorama romatis Ino-san, lebih baik besok kita nonton film bergenre action saja," goda Sai.
"Sai-kun pelit! Kalau aku tidak romantis begitu nanti kau yang susah sendiri!" ancam Ino.
"Bercanda, lagipula aku menykai sifatmu yang seperti itu kok," pujian Sai sukses membuat Ino memerah karena menahan malu.
Kita tinggalkan pasangany yang sedang dimabuk cinta itu dan beralih pada Sasuke yang kini sedang berusaha mengejar cintanya sampai ke atap sekolah. Sasuke langsung saja membuka pintu yang menuju atap dan matanya langsung mencari keberadaan sosok Sakura. Begitu dia melihat targetnya dan sasaran telah dikunci, rudal cinta Sasuke langsung maju mengarah ke sasaran dengan kecepatan tinggi.
"Sakura!" panggil Sasuke dari kejauhan.
"Sssa-Sas-Sasuke-kun!" Sakura terkejut melihat sang pujaan hatinya datang, dengan gerakan refleks dia segera berlari...menjauhi Sasuke.
"Kenapa kau berlari baka!" teriak Sasuke yang masih setia mengejarnya.
"Karena kau mengejarku!" balas Sakura.
Akhirnya setelah beberapa detik barulah keduanya menyadari tindakan tolol mereka yang hampir meniru adegan-adengan romantis seperti film India. Keduanya masih terdiam malu mengingat atas hal bodoh yang mereka lakukan. Tak ingin berlama-lama seperti ini, akhirnya Sasuke memberanikan diri mengucapkan beberapa patah kata.
"Ke-kenapa kau tidak menjengukku saat aku keluar dari rumah sakit?"
"Aku ingin tapi aku tidak mau menimbulkan kesialan lagi bagimu, jadi aku..."
"Baka, jangan bilang kau percaya dengan perkataan anak-anak perempuan di kelas."
"Tapi memang benar kan? Selama aku berada di sisimu aku selalu menimbulkan hal-hal buruk padamu? Karena kau melindungiku kau tertabrak seperti itu, kalau aku terus bersamamu aku takut kejadian yang lebih buruk akan menimpamu! Aku tidak..." bibir Sakura langsung dibungkam tangan Sasuke.
"Jangan pernah berhenti berada di sisiku Sakura, aku mohon. Karena justru saat berada di sisimulah aku merasa aman dan nyaman."
"Sasuke-kun..."
"Coba pikirkan lagi, kalau kau tak ada siapa yang akan menghentikan mobil Tsunade-sensei dan membawaku ke rumah sakit? Himeka? Jangan konyol Sakura."
"Tapi...mereka..."
"Kau lebih percaya pada perkataan mereka atau aku? Aku mohon jangan menjauh dari kehidupanku Sakura, aku tak bisa hidup tanpamu."
"Eh? Ma...maksudmu?" eksperesi Sakura langsung berubah.
"Mak-maksudku...aku...aku...ingin bilang...kalau...aku...su...su..." Sasuke tak bisa lagi meneruskan kata-katanya.
"Su, apa?"
"Su-su-suka padamu!" teriak Sasuke keras-keras.
"Kau bercanda kan Sasuke-kun?" tanya Sakura yang tak percaya.
"Apa mataku ini kelihatan seperti bercanda? Apa kau tak menyadari keseriusanku saat mengucapkan kata-kata itu?!" Sasuke terlihat kesal, melihat keraguan Sakura.
"Aku masih belum percaya kalau kau belum menciumku," ujar Sakura sambil tersenyum girang.
"Ba-baiklah! Akan kubuktikan keseriusanku dalam hal ini! Tutup matamu dan dalam hitungan ketiga aku akan menciummu!"
"Baiklah, aku tunggu," Sakura menutup matanya.
"Sa-satu...Du-dua...T-Tiga...Aku akan me-menciummu sekarang!" Sasuke memajukan bibirnya ke arah bibir Sakura, bersiap melakukan first kiss mereka.
Brak! Pintu atap dibuka tiba-tiba, mengagetkan pasangan kita yang baru saja hendak melakukan first kiss mereka yang sakral. Siapakah orang idiot yang tidak tahu malu ini?
"Omeideto! Sasuke! Sakura-chan! Selamat menempuh hidup baru!" teriak Naruto memberi ucapan selamat. Tidak hanya Naruto, tetapi Hinata, Ino dan Sai juga ada di sana sambil memberi ucapan selamat dan tepuk tangan.
"Siapa yang memberitahu kami sudah jadian?" tanya Sakura heran.
"Ino," dengan tanpa dosa Naruto menunjuk Ino yang di sampingnya melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Memangnya kalian tidak jadian?" tanya Naruto lagi.
"Memang! Tapi gara-gara kau ada hal yang terganggu! Dasar sial kau Naruto! Sini kau, biar kuhajar dan kulempar kau!" teriak Sasuke yang sepertinya benar-benar akan melaksanakan ancamannya.
"EH! Apa salahku! Aku kan hanya memberi ucapan selamat!" Naruto berlari menyelamatkan dirinya.
Chapter 9 End
Hehe, bagaimana dengan chapter spesial yang lumayan lebih panjang dari biasanya readers? #Readers : Biasa aja! Apanya yang spesial!?
Mudah-mudahan aja suka (^^). Sebenernya ga ada yang spesial sih, cuma ga kerasa aja udah beraktivitas selama setahun di FF ini. Oh iya nanti ada chapter spesial loh, penasaran? Tungguin aja (^^). Yosh! Segitu aja, yoroshiku onegaishimasu! Jangan lupa reviewnya! Matta ne!
Note:
Overload : keadaan dimana mesin sudah mencapai batasnya.
Lariat : suatu gerakan gulat, dimana sang penyerang menghantamkan lengannya ke leher lawan (sekali lagi, don't try this!)
Hisashiburi : Lama tidak bertemu
Ojou-sama : panggilan untuk nona kaya
Ojou-chan : panggilan untuk anak kecil (perempuan)
Shoujo manga : komik dengan cerita yang dikhususkan untuk pembaca wanita
