Bokutachi no Akachan

Author: Lynhart Lanscard

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance/Family

Pairing: NaruHina, SasuSaku, SaiIno

Chapter 9.5 : First Date

Waktu pulang sekolah biasanya dimanfaatkan oleh para pasangan muda untuk merencanakan waktu-waktu bersama mereka, alias berkencan. Tak terkecuali pasangan muda kita yang baru saja jadian, Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata yang kini tengah sibuk untuk membicarakan first date mereka sebagai perayaan kecil atas jadian mereka. Beruntung, si kecil himeka sedang tidak ada karena saat ini adalah jadwal dari pasangan Ino dan Sai yang menjaganya. Karena itu menurut Naruto, ini adalah saat yang tepat untuk melakukan kencan pertama mereka. Mereka berdua berjalan dengan sembunyi-sembunyi ke halaman belakang sekolah agar tak terlihat para murid lain, menurut Naruto, dirinya nanti bisa dijadikan bahan ejekan jika ketahuan.

Naruto dengan gugup menggenggam tangan Hinata, dan menariknya menuju pohon besar di halaman belakang. Hinata sendiri juga gugup setengah mati dan hampir pingsan saat tangannya digandeng Naruto, keringat dingin mengucur cukup deras di tubuhnya. Benar-benar pasangan yang lucu, kan?

"Nee Hinata-chan, kau tidak apa-apa? Tanganmu kok dingin sekali?" tanya Naruto yang merasakan kedinginan tangan Hinata.

"Ma-masa sih? A-aku kok bi-biasa saja ya?" jawab Hinata berbohong agar tidak ketahuan gugup, padalah sekali lihat juga sudah tahu kok.

"Ehm...yasudah kalau begitu. Be-begini a-aku ingin membicarakan hal penting, kau ada waktu?" kegugupan kembali menguasai diri Naruto.

"Naruto-kun kan tadi sudah bilang begitu saat mengajakku kesini tadi," Hinata memandangnya dengan tatapan bingung.

"Oh! Aku s-sudah bilang begitu ya? Haha! Aku ini pelupa sekali ya, Hinata?" Naruto tertawa untuk menyembunyikan rasa gugupnya. "Sial! Dia pasti menganggap aku aneh sekarang!" batin Naruto.

"Ja-jadi, apa yang mau Naruto-kun katakan?" sepertinya Hinata sudah tidak sabaran, cepatlah katakan Naruto no baka.

"Be-begini, a-apa kau punya waktu luang pada hari Sabtu? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat untuk perayaan kita, ya secara kecil-kecilan saja. Tapi kalau kau tak ada waktu tidak apa-apa, kita..."

"Aku bisa! Kapan dan dimana kita bisa bertemu?" jawab Hinata memotong, sepertinya dia sudah menanti Naruto untuk mengatakan hal ini.

"Eh!? Benarkah? Hah, aku senang mendengarnya. Yosh! Baiklah kalau begitu besok Sabtu pagi jam 08.00 aku akan menunggumu di taman di depan stasiun. Jangan lupa, Hinata-chan!" ujar Naruto sambil tersenyum girang.

"Ya, aku akan menantikannya!" Hinata menganggukkan kepalanya.

"Kalau begitu ayo pulang bersama, rasanya aku senang sekali hari ini! aku bahkan bisa menghabiskan sepuluh mangkuk ramen Ichiraku!"

"Mou Naruto-kun, ada-ada saja. Ayo pulang," Hinata menggandeng lengan kekasihnya itu dan tersenyum puas sambil membayangkan kencan indah pertama mereka.

~First Date~

Weker sudah berdering berkali-kali, namun sayangnya sang pemilik belum bangun juga dari tidurnya. Dia masih asyik memeluk guling dan tidur dengan air liur yang terus menetes dari mulutnya. Entah mimpi indah seperti apa yang menghalangi Uzumaki Naruto untuk bangun dari tidurnya. Shizune yang ditugasi untuk mengawasi Naruto kesal melihat tingkahnya itu masih belum beranjak dari tempat tidurnya segera mengambil seember air, lalu dengan penuh amarah disiramkannya ke arah Naruto.

"Bangun pemalas! Ini sudah pagi!" teriaknya.

"Hah! Ada banjir besar ya? Ayo Nee-chan, kita harus mengungsi sekarang!" igaunya.

"Jangan mengigau bodoh! Kau pikir ini sudah jam berapa? Cepat bangun atau kau tidak akan dapat sarapan!" omel Shizune.

"Nee-chan, kenapa bisa masuk?" tanya Naruto yang masih setengah tertidur.

"Baka, aku kan disuruh mengawasimu oleh Minato-san dan Kushina-san! Apa yang akan mereka berdua katakan kalau masih melihat putra mereka masih asyik di tempat tidurnya!?" omel Shizune lagi.

"Memangnya ini jam berapa sih?" tanya Naruto masih dengan mata yang mengantuk.

"Masih tanya lagi, ini sudah 07.30!" bentak Shizune lagi.

"Apa?! Kenapa tidak membangunkanku daritadi? Aku harus buru-buru!" Naruto segera berlari ke arah kamar mandi dengan secepat mungkin meninggalkan Shizune yang masih terbengong-bengong melihat tingkahnya itu.

Sudah beberapa menit berlalu tapi, Naruto masih belum memutuskan pakaian yang akan dipakainya untuk kencan. Dia masih terus saja memandangi pakaian yang masih tergantung rapi di lemarinya sambil menggumam tak jelas.

"Yosh! Aku akan janken saja, kalau tangan kanan yang menang aku akan pakai yang ini dan kalau tangan kiri yang menang aku akan pakai yang itu!" ujarnya pada diri sendiri.

Walau sudah berkali-kali janken, tapi tetap saja dia tidak bisa memutuskan pakaian yang dipakainya karena hasilnya selalu berakhir seri. Tanpa sadar dia menengok ke arah jam wekernya yang masih tergeletak di atas tempat tidurnya yang sudah menunjukkan pukul 07.50

Tanpa ambil pusing lagi, dia langsung mengambil beberapa pasang pakaian acak dari lemarinya , memakainya dan bergegas pergi ke tempat yang dijanjikannya tanpa pamitan kepada Shizune.

"Bocah itu kenapa sih? Dari tadi tingkahnya aneh terus!" gumam Shizune kesal, padahal dia sudah susah-susah memasakkan masakan untuk Naruto, tapi bocah itu malah tidak menyentuhnya sedikitpun dan malah berlari seperti Usain Bolt entah kemana.

"Ya sudahlah, lebih baik kumakan sendiri setelah itu pergi kencan!" serunya riang sambil melahap roti bakarnya.

~First Date~

Naruto yang sudah berlari mati-matian meniru Usain Bolt akhirnya mampu mencapai garis finishnya, taman kota, di depan stasiun, tempat janjiannya dengan Hinata. Dia langsung menuju patung kodok yang berada di tengah taman sambil melihat ke arah jam yang tengah dipakainya. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.20, telat 20 menit dari waktu yang dijanjikan, wajah Naruto berubah cemas. Bagaimana kalau Hinata sudah pulang dan kecewa terhadap dirinya, hubungannya yang masih seumur jagung itu sudah kandas ditelan badai kehidupan. Dia langsung berjongkok terpuruk meratapi kehidupannya. Tak sadar seseorang mendekatinya dan menepuk pundaknya pelan.

"Kamu sedang apa di situ Naruto-kun?" tanya Hinata pelan hampir sepeerti berbisik.

"Hinata! Aku senang sekali melihatmu! Aku sangka kamu sudah pulang sedari tadi! Maafkan aku yang telat pada hari pertama kencan kita!" Naruto langsung mencerocos tak karuan.

"Na-Naruto-kun, malu dilihat banyak orang," bisik Hinata pada kekasihnya.

"Ara,ara manisnya pasangan ini," ujar salah seorang ibu muda yang lewat.

"Jangan kecewakan pacarmu nak, masa telat di kencan pertama," sambung seorang bapak.

"Suit! Suit! Mesranya!" teriak beberapa anak tak mau kalah.

Sorak sorai riuh dari para penonton yang tak lelah menggoda pasangan muda yang serasi ini, Hinata sudah memerah mukanya menahan malu sedangkan Naruto hanya senyum-senyum sambil menggaruk-garuk kepalanya persis seperti orang idiot. Hinata yang tak kuat lagi, langsung menariknya ke arah kafe yang tak jauh dari sana.

"Ojou-chan! Jangan terlalu keras pada kekasihmu itu ya!" itulah godaan terakhir yang didengar Hinata.

~First Date~

"Nee Naruto-kun bagaimana sih? Katanya aku disuruh menunggu pukul 08.00, tapi kenapa malah telat? Hampir saja aku pulang!" omel Hinata kesal.

"Gomen, gomen! Aku takkan mengulanginya lagi kok," ujar Naruto dengan tatapan memelas.

"Hmph! Bohong! Aku tak percaya!"

"Baik, baik! Nah sekarang sebagai permintaan maafnya, bagaimana kalau kamu yang memilih tempat kencannya?" tawar Naruto.

"Begitu saja?"

"Baik, aku mengerti! Bagaimana kalau makan siangnya di restoran favoritmu?"

"Mau menyogok ya?" tanya Hinata dengan tatapan yang menusuk.

"Eh? Tidak kok, aku jujur menawarkan hal ini padamu!"

"Aku tidak akan memaafkan dengan permintaan maafmu yang tidak tulus barusan!"

"Baiklah! Aku akan menuruti segala permintaanmu, Hime-sama!"

"Nah, begitu baru bagus! Aku maafkan, tapi jangan telat lagi ya."

"Ternyata kau ini orang yang sadis ya Hinata."

"Eh, apa katamu barusan?"

"Ma-Maksudku, kemana kita pergi sekarang sayang?" tanya Naruto dengan senyuman yang dibuat-buat.

"Bagaimana kalau ke toko buku? Aku ingin membeli beberapa buku dan bacaan untuk Himeka-chan," jawab Hinata.

"Hah? Masa kencan ke toko buku? Lebih baik ke bioskop atau...

"Katanya mau menuruti perintahku, ternyata hanya bohongan ya?" potong Hinata dengan nada pura-pura sedih.

"Baiklah Hime-sama, Naruto akan mengantarmu kemana saja!"

~First Date~

Hanya beberapa menit di toko buku sudah membuat Naruto menguap beberapa kali, sepertinya atmosfer di sini sangat tidak cocok untuknya. Namun, apaboleh buat, demi menyenangkan hati sang pacar walaupun medan perang akan tetap di tempuhnya. Di lain pihak, Hinata sangat menikmati kencannya ini, dia sibuk melihat tumpukan buku anak-anak, sesekali berbicara pada Naruto tentang bagus tidaknya buku tersebut yang membuat Naruto bosan setengah mati. Ketika tengah menguap untuk yang kesekian kalinya, dia tak sengaja melihat Sai, Ino dan juga Himeka yang berjalan ke arah mereka. Tak ingin kencannya diganggu, Naruto langsung berlari menarik tangan Hinata.

"A-ada apa sih Naruto-kun? A-aku belum selesai memilih buku..."

"Nanti saja penjelasannya! Aku sudah tidak tahan, temani aku ke Ichiraku!" potong Naruto yang tentu saja menambah kebingungan Hinata.

"Sial! Kenapa ada mereka sih? Mengganggu kencanku saja!" batin Naruto kesal.

Hinata masih menarik nafas akibat dipaksa berlari Naruto, mungkin inilah lari marathon pertama sepanjang hidupnya. Naruto sendiri masih mengamati di sekitar toko, takut ada gangguan lain yang berpotensi merusak kencan mereka.

"Mou! Naruto-kun kenapa sih menarikku seperti itu? Padahal kan jam makan siang masih lama, lagipula aku masih belum memilih buku yang akan kubeli," protes Hinata.

"Aah, gomen, gomen. Aku habisnya kelaparan sih, lagipula nanti kita bisa mampir lagi ke toko buku. Teuchi Ji-chan, pesan tonkotsu ramen ya!" seru Naruto.

"A-aku miso ramen," ucap Hinata .

"Siap! Pesanan akan matang dalam beberapa menit, silahkan tunggu para pasangan muda, hehe," goda Teuchi.

"Kau beruntung Naruto-kun, bisa mendapatkan gadis semanis Hinata-chan. kau harus menjaganya baik-baik loh," Ayame tak mau kalah.

Beberapa menit kemudian akhirnya pesanan mereka pun tiba, bau kuah ramen yang nikmat menyebar di seluruh ruangan membuat tak sabar untuk dicicipi. Air liur Naruto pun sudah menetes dari tadi, tak sabar menyantap semangkuk ramen yang ada di hadapannya.

"Ittadakimasu!" seru Naruto yang langsung melahap ramen yang di hadapannya.

"I-Ittadakimasu," Hinata meminum kuah sup ramen terlebih dahulu, baru memakan mienya.

"Kakashi-san, kenapa malah ke Ichiraku? Saat kau bilang akan mentraktirku, kukira tempatnya di restoran bintang 5 atau restoran perancis. Dasar payah!" suara seorang perempuan muda terdengar kesal dari luar kedai.

"Aah Shizune, kau tahu kan? Gajiku bulan ini hampir habis, lagipula aku sudah bersusah payah mengajakmu kemari tapi kau malah protes seperti ini," balas suara lain yang terdengar seperti suara laki-laki.

"Huh, kalau begitu tak usah janji mengajakku makan di restoran berkelas dan jangan boros menggunakan gajimu!"

"Maaf, maaf. Lain kali deh," balas suara satunya

Rasanya Naruto sudah familiar dengan suara tersebut, dan lagi namanya juga familiar. Tidak mungkin kan Shizune dan Kakashi berkencan lalu makan di Ichiraku? Begitu isi pikiran Naruto, namun begitu pasangan itu masuk ramen yang ada di mulutnya keluar. Ternyata benar seperti dugaan Naruto, ternyata kedua orang itu yang muncul.

"Eh, kenapa ada Naruto dan Hyuuga-san? Kalian sedang berken..." belum selesai Kakashi menucapkan kalimatnya Naruto langsung menarik lengan Hinata dan membawanya kabur sambil berkata

"Maaf, kalian salah orang!"

"Hoi tunggu Naruto! Kau belum bayar ramennya!" teriak Teuchi.

~First Date~

"Kali ini apalagi sih Naruto-kun!?" tanya Hinata kesal, dirinya ditarik kesana kemari tanpa ada penjelasan yang jelas dari kekasihnya itu.

"Anoo...etoo...a-aku juga tidak tahu..."

"Kenapa tidak jujur saja? Katakan padaku, aku tidak akan marah atau benci kok. Aku..." omongan Hinata terhenti oleh bunyi HP Naruto.

"Moshi-moshi," jawab Naruto.

"Oi Naruto, ini aku, Kiba! Kalau tidak ada urusan bagaimana kalau menemaniku bermain game di rumahku? Kutunggu ya!" seru Kiba dari telepon.

"Gomen Kiba, aku sedang ada urusan. Lain kali mungkin," jawab Naruto langsung menutup telpon. Belum lama, telponnya berdering kembali.

"Urusan apa? Sok sibuk sekali kau ini, padahal aku sudah susah payah mengajakmu!"

"Cerewet ini urusan yang penting!" sahut Naruto sambil menutup telponnya lagi. Lagi-lagi teleponnya berdering.

"Jangan-jangan kau sedang kencan ya? Dengan siapa?" tanya Kiba lagi.

"Cerewet kubunuh kau kalau bertanya lagi!" lagi, Naruto menutup telponnya dan kembali telponnya berdering.

"Kubunuh kau!" lalu Naruto menutup dan mematikan telponnya tanpa mengetahui identitas si penelpon yang tak lain adalah Sara.

"Okaa-san, Naruto Nii-san ingin membunuhku. Apa aku begitu semenyebalkannya?" tanya Sara dengan wajah sedih.

Naruto menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, Hinata mengawasi kekasihnya itu dengan pandangan cemas. Dia memutuskan untuk bertanya sekali lagi.

"Naruto-kun, kenapa selama ini bertingkah aneh? Apa sebenarnya kamu tidak berminat pada kencan ini?"

"Tentu saja tidak! Ah, maksudku bukan begitu Hinata!" seru Naruto gugup.

"La-lalu."

"Aku sebenarnya tidak ingin ada yang mengganggu kencan kita, makanya aku dari tadi menarikmu ke sana ke mari agar tidak ada orang yang mengganggu. Tapi hasilnya, kencan kita malah berantakan, aku minta maaf Hinata. Aku benar-benar pacar yang bodoh!" sesal Naruto.

"Hehehe, benar-benar bodoh, ya? Kamu pikir aku akan merasa terganggu dengan kehadiran orang lain? Tentu saja tidak, aku merasa senang apa adanya kok dengan dirimu. Kamu tak perlu melakukan apapun untuk membuatku senang, karena hanya bersama dirimu saja aku sudah merasa senang. Arigatou Naruto-kun," Hinata mengecup dahi Naruto.

"Hinata...gomen,"

"Sudah ah minta maafnya, ayo lanjutkan kencannya," ajak Hinata sambil tersenyum.

"Ayo," Naruto menggenggam tangan Hinata kembali.

Chapter 9.5 The End

Yoo Minna, maafnya updatenya lama. Soalnya kemarin lagi sibuk sama UTS sih, gomen-gomen. Selanjutnya saya akan usahakan update cepat deh. Maaf ya, nikmati saja chapter spesial ini sebagai permintaan maaf saya . Jaa!