Bokutachi no Akachan

Author: Lynhart Lanscard

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance/Family

Pairing: NaruHina, SasuSaku, SaiIno

Chapter 11 : Choice

Pementasan hari itu sangat sukses, banyak anak yang terus membicarakannya bahkan ketika mereka pulang. Tentu saja hal itu membuat Naruto dan kawan-kawan juga merasa puas, kerja keras mereka terbayarkan sudah dengan senyum anak-anak tersebut. Nagato, Konan, dan Yahiko juga sangat berterimakasih pada mereka, dan mengusulkan agar mereka selalu mengadakan pertunjukkan ini setiap tahunnya. Namun, sepertinya mereka harus berpikir dulu sebelum menjawab tawaran itu, mengingat kesibukan yang mereka alami selama seminggu ketika mempersiapkan pementasan mereka.

Setelah beres-beres dan menucapkan selamat tinggal pada penitipan anak Himawari, mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Sai bersama Ino, Sakura dengan Sasuke, dan Naruto bersama Hinata dan Himeka. Namun, tiba-tiba Naruto teringat barangnya yang tertinggal di penitipan anak Himawari, akhirnya dia menyuruh Hinata dan Himeka untuk pulang terlebih dahulu dan dia akan menyusul nanti setelah mengambil barangnya yang tertinggal. Begitu sampai di persimpangan jalan menuju penitipan anak Himawari, tiba-tiba seseorang menghadang jalannya.

"Yo Namikaze Naruto-kun, senang bertemu denganmu," sapa sosok misterius tersebut.

"Ka-Kau siapa?" tanya Naruto terbata-bata.

"Aku? Aku hanyalah sosok yang tidak begitu penting di zaman ini..."

"Zaman ini? Apa maksudmu?"

"Aku adalah manusia dari masa depan, dan orang yang mengirimkan Himeka ke masa ini," ucapnya santai namun terkesan misterius.

"Manusia masa depan? Jangan bercanda! Dan apa maksudmu mengirim Himeka ke masa ini, siapa kau sebenarnya?!"

"Sudah kubilang kan, aku adalah manusia dari masa depan. Itu adalah sebuah kebenaran dan kau harus menerimanya," jawab orang itu lagi.

"Ya, ya, manusia masa depan, lalu apa yang kau inginkan dariku?" tanya Naruto tak sabaran.

"Perintah terakhirku adalah, aku ingin kau menyerahkan Himeka padaku, waktunya bersama kalian sudah habis. Dia harus kembali bersamaku ke masa depan secepatnya."

"Jangan bercanda! Himeka itu bukan barang yang bisa kaupindahkan seenaknya! Dulu kau menaruhnya di ruang klub agar kami merawatnya, kini kaumau mengambilnya lagi? Takkan aku biarkan!" amarah Naruto mulai tersulut.

"Aku yang harusnya bilang begitu padamu, Himeka bukan milikmu. Sejak awal, tempatnya adalah bersamaku, di masa depan," kata sang manusia masa depan penuh percaya diri. "dan lagi, kalian tidak mempunyai cukup kemampuan untuk merawatnya kan?" lanjutnya.

"Diam! Aku tidak ingin mendengar dari orang yang menelantarkan Himeka! Kau tidak punya hak untuk bicara seperti itu!"

"Kata-kata itu aku kembalikan padamu, Naruto-kun. Kalian itu masih murid SMA, kalian bisa apa untuk membesarkannya? Bagaimana dengan orangtua kalian jika mengetahui kehadiran Himeka?"

"Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk Himeka! Akan kulakukan apa saja untuknya..."

"Jangan membual, kausudah tahu kalau kalian tidak bisa berbuat apa-apa," potongnya.

"Lalu, apa alasanmu memberikan Himeka pada kami?" tanya Naruto.

"Alasanku tidak penting, yang kuinginkan adalah Himeka sekarang. Cepat berikan dia padaku!" paksa lelaki itu.

"Tidak akan!"

"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan untuk berpikir. Pikirkanlah keputusanmu untuk menyerahkan Himeka, akan kuberi waktu dua hari untuk berpikir. Aku juga akan memberimu bukti kalau aku adalah manusia dari masa depan," ucap orang itu penuh percaya diri.

"Baik, sebutkan buktinya," tantang Naruto.

"Dua hari...dua hari dari sekarang, Himeka akan terserang demam tinggi yang tak bisa disembuhkan, bahkan jika kau membawanya ke rumah sakit ternama milik nenekmu itu sekalipun. Saat itu kau yang putus asa akan membawa Himeka padaku, karena hanya aku yang memiliki obatnya..." belum selesai orang itu bicara, Naruto sudah mencengkram kerah bajunya.

"Jangan bercanda! Aku tidak akan pernah menyerahkan Himeka padamu! Tidak akan!"

"Itu adalah ucapanmu yang sekarang, bukan dua hari yang akan datang. Akan kuberi bonus kabar masa depan untukmu, besok pada pukul 09.00 di Konoha Channel, duo penyanyi terkenal Chocho, akan memutuskan untuk bubar. Itu saja pesanku hari ini, sampai jumpa lagi Naruto-kun," setelah melepaskan cengkraman Naruto, orang itu langsung pergi begitu saja.

"Sial! Apa-apaan orang itu? Seenaknya saja memutuskan masa depan, dia pikir dia itu siapa? Duo Chocho bubar? Mimpi, jalan mereka itu masih panjang. Aku tidak akan percaya kata-katanya!" Naruto mengatakan itu pada dirinya dan segera beranjak pergi dari tempat itu.

Bokutachi no Akachan

Perasaan Naruto berkecamuk tak karuan, pikirannya tidak tenang dan hatinya menjadi gelisah setelah mendengar pernyataan manusia masa depan tersebut. Di satu sisi dia tidak mau mempercayai perkataan orang tersebut, namun di sisi lain dia takut perkataan orang itu akan menjadi kenyataan. Dia takut...takut kehilangan Himeka...Himeka yang selama ini mengisi harinya, mendekatkan dirinya dengan Hinata, dan masih banyak hal lain yang dilakukan Himeka untuknya. Rasanya, dia tidak bisa rela begitu saja melepaskan Himeka, dia harus mempertahankan Himeka. Harus...

"Tadaima," salam Naruto terdengar lemas ketika dia membuka pintu.

"Okaeriii!" Himeka menjawabnya dengan riang dan penuh semangat, dia berlari menuju Naruto dengan botol susu yang masih digenggamnya. Susunya pun tercecer kemana-mana, membuat sang mama, Hinata kerepotan membereskannya.

"Himeka-chan, jangan lari-larian begitu. Minumlah dengan tenang," Hinata memperingatkan sambil mengepel ceceran susu yang ada di lantai.

"Iya Mama," jawab Himeka terdengar sedih.

"Tak apa Hinata, lagipula Himeka sendiri kan melakukannya dengan tidak sengaja. Iya kan Himeka?" ujar Naruto sambil menggendong Himeka.

"Iya, Himeka tidak sengaja," jawab Himeka mengangguk.

"Nah, kalau begitu, ayo minta maaf pada Mama."

"Gomen Mama. Himeka menyesal."

"Iya, Mama tahu kok," jawab Hinata sambil mencubit pipi Himeka yang chuby.

"Nah, sebagai hadiah karena Himeka sudah jadi anak yang baik, Papa dan Mama akan menemani tidur dan membacakan cerita untukmu, bagaimana? Kamu senang?"

"Iya! Himeka sangaaat senang!" jawab Himeka bersemangat.

"Eh? Tu-tunggu dulu Naruto-kun...aku...aku..." wajah Hinata nampak merah dan kata-katanya menjadi gagap.

"Sudahlah, tak apa. Ini untuk Himeka," ujar Naruto sambil menarik Hinata.

Tak perlu berupaya keras untuk menidurkan Himeka kali ini, hanya butuh cerita pengantar tidur, pelukan dan ciuman hangat dari Papa dan Mamanya sudah membuat gadis kecil itu tertidur manis. Wajah polosnya ketika tertidur sungguh terlihat damai dan menenangkan, rasanya Naruto tak bosan memandang wajah puteri mungilnya itu. Dia kemudian teringat perkataaan orang masa depan tersebut yang membuatnya gusar, dia menarik nafas panjang sambil menatap langit-langit kamar. Hinata yang tahu keadaan Naruto yang tengah gelisah tak bisa diam begitu saja.

"Kamu kenapa Naruto-kun? Kulihat wajahmu murung terus, apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Hinata cemas.

"Tidak ada yang spesial kok, hanya kepikiran sesuatu," dusta Naruto.

"Nee Hinata, aku boleh bertanya padamu?" sambungnya.

"Tentu saja."

"Apa yang akan kaulakukan jika Himeka diambil kembali oleh orang tuanya? Apa kau akan menyerahkannya?"

"Kalau itu terjadi, aku...aku pasti akan bingung. Aku tidak tahu harus melakukan apa," jawab Hinata sekenanya.

"Tapi...ada satu hal yang kuinginkan..." sambung Hinata.

"Hal yang diinginkan? Apa itu?" tanya Naruto.

"Aku ingin bersama Himeka-chan selamanya...seterusnya dan selamanya, itulah yang menjadi jawabanku. Tidak peduli seberapa besar tembok rintangan yang kuhadapi, seberapa sulit jalan yang kulalui, aku akan tetap mempertahankan Himeka," jawab Hinata bersungguh-sungguh.

"Hinata..." Naruto terkesan mendengar perkataan Hinata barusan.

"Bukankah itu arti keluarga yang sebenarnya, mereka tidak meninggalkan satu sama lain melainkan ingin bersama dan melindungi. Aku tidak akan pernah menyerahkan Himeka pada orang seperti itu."

"Kau benar Hinata, terimakasih."

Cup! Sebuah kecupan terimakasih mendarat di dahi Hinata, membuat wajahnya merah.

"Na-Naruto-kun! A-apa sih maksudmu tiba-tiba?"

"Tidak apa-apa, oyasumi!" jawab Naruto tersenyum jahil lalu menutupi dirinya dengan selimut.

"Jangan tidur di sini!" teriak Hinata masih dengan wajah merahnya.

Bokutachi no Akachan

Keesokan harinya, sinar matahari yang masuk dan menyorot ke arah matanya tak kunjung membuat Naruto terbangun. Dia baru terbangun ketika sesuatu yang besar dan berat menduduki perutnya, hampir membuat seluruh isi perutnya keluar.

"Hi...Himeka...jangan tiba-tiba melompat seperti itu...Nanti Papa bisa mati..." ucap Naruto dengan terbata-bata karena sesak.

"Habisnya Papa tidak mau bangun sih! Jadi Himeka langsung melompat deh," jawab Himeka memberi alasan.

"Iya, tapi membangunkannya jangan begini dong. Lagipula ini kan hari libur, pasti Papa akan menemanimu bermain kapanpun."

"Asiik! Janji loh ya!" seru Himeka bersemangat.

"Iya, iya. Jadi, sekarang tolong bangun dan pergi keluar, Papa masih ingin tidur sebentar lagi," Naruto mengayunkan tangannya seperti mengusir seekor kucing liar.

"Hmmpf! Papa!" Himeka yang marah menggembungkan pipinya lalu menarik paksa Naruto turun dari tempat tidurnya yang nyaman menuju ruang keluarga.

"Iya, sabar dong Himeka. Papa bangun kok," ujar Naruto dengan malas berjalan mengikuti arah tarikan Himeka.

Samar-samar terdengar suara dari televisi yang telah dinyalakan, rupanya Hinata yang telah menyalakannya. Dia terlihat serius menonton televisi, matanya sama sekali tidak berkedip memandang apa yang tengah disajikan di hadapannya itu. Penasaran, membuat Naruto juga ingin menyaksikan apa yang sedang ditonton Hinata.

"Pemirsa sekalian marilah kita saksikan konser live dari Duo Chocho, mereka telah membuat keajaiban musik dengan menyihir para penggemar musik di seluruh negeri. Nah, mari kita saksikan sihir mereka secara live kali ini," suara sang MC terdengar bersemangat membawakan acara konser ini.

"Maaf, sebelum memulai konser ini...ada yang ingin kami sampaikan kepada semua penggemar kami di seluruh negeri. Kami memutuskan untuk berpisah dan berjalan di jalur masing-masing, jadi ini akan menjadi konser kami yang terakhir. Kami sangat menyesal menyampaikan ini, tapi ini adalah keputusan kami. Kami mohon saksikan pertunjukkan terakhir kami," ucap mereka berdua sambil menundukkan kepala.

"Tidak mungkin...ini tidak mungkin...ini benar-benar terjadi...," Naruto tak bisa mempercayainya, ramalan orang itu benar-benar menjadi sebuah kenyataan.

"Apa maksudmu Naruto-kun? Apa yang benar-benar terjadi?" tanya Hinata terlihat bingung.

"Perkataan orang itu...benar-benar menjadi kenyataan..."

"Perkataan siapa?"

"Aku harus menemuinya!" seru Naruto bergegas meninggalkan Hinata yang masih kebingungan dan juga cemas akan dirinya.

Naruto segera berlari menuju tempat di mana dia dan orang dari masa depan itu bertemu kemarin, mencarinya ke sana kemari, menoleh ke kanan dan kiri, namun tak ada hasilnya. Orang dari masa depan itu tetap tak bisa ditemukan dimana pun, tak ada dimanapun. Setelah beberapa lama mencari dan hampir menyerah, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.

"Merindukanku?"

"Kau? Bagaimana kau tahu itu semua akan terjadi? Katakan padaku!"

"Itu semua adalah kehendak Tuhan, kau tak bisa mengubahnya. Semua sudah tertulis di jalur waktu, begitu juga dengan takdir Himeka. Kalau kau mengerti, kembalikan gadis kecil itu padaku, Naruto-kun."

"Yang benar saja! Aku tidak akan mnyerahkan dia pada orang sepertimu, tidak akan!"

"Kalau begitu terima saja apa yang masa depan sajikan untukmu, sampai jumpa," orang itu segera pergi dari hadapan Naruto.

"Aku pasti akan menghentikkannya, pasti akan kuhentikan!"

"Ah iya, kuberi kau bonus berita dari masa depan karena kau sudah datang ke sini menemuiku. Penyakit Himeka akan muncul setelah kau sampai di rumah, Hinata akan menjerit memanggilmu, dan Himeka akan pingsan," tiba-tiba dia berbalik ke arah Naruto.

"Apa maksudmu? Bukankah itu akan terjadi besok?"

"Besok adalah hari dimana kau menyerahkan dia padaku, kali ini benar-benar sampai jumpa. Segeralah pulang kalau kau ingin membuktikannya," kali pria misterius itu benar-benar pergi dari hadapannya.

"Keparat! Jangan bercanda denganku!" Naruto berlari ke arah pria tersebut, sayang sang pria sudah menghilang di kerumunan banyak orang.

Bokutachi no Akachan

Tanpa pikir panjang lagi Naruto segera berlari menuju rumahnya, berharap tidak ada kejadian buruk yang terjadi seperti yang pria masa depan itu katakan. Sebelum dirinya membuka pintu Hinata sudah duluan membukanya, wajahnya tampak cemas dan hampir menangis.

"Ada apa Hinata? Kenapa wajahmu jadi seperti itu?" tanya Naruto.

"Himeka...Himeka..." Hinata hanya mengucap nama itu berulang-ulang.

"Apa yang terjadi pada Himeka?"

"Himeka...pingsan Naruto-kun...Dia tiba-tiba saja terjatuh setelah kau berlari ke luar tadi...Dahinya juga panas sekali...dan...dan detak jantungya...tidak beraturan...aku...aku..." Hinata mulai menangis.

"Bukan salahmu Hinata, sekarang aku akan menelpon Baa-chan untuk membawanya ke rumah sakit dan kau jaga agar suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi."

"Ba-baik...lalu bagimana dengan teman-teman? Apa mereka juga perlu diberitahu tentang hal ini?"

"Aku rasa tidak perlu, aku tidak ingin membuat mereka cemas. Ayolah, jangan bersikap murung dan berlebihan seperti itu. Aku yakin Himeka akan baik-baik saja," Naruto mencoba menenangkan Hinata walau dalam hatinya dia juga sama cemasnya dengan Hinata.

Tak perlu waktu lama lagi, Himeka segera dibawa ke rumah sakit Konoha dengan bantuan Tsunade. Tentu saja Naruto dan Hinata juga turut ikut. Kini, Himeka sudah ditempatkan di ruang khusus perawatan, Tsunade sendiri yang turun tangan dalam masalah ini. Setelah satu jam berlalu, akhirnya Tsunade keluar dari ruangan.

"Bagaimana keadaannya Baa-chan? Dia sebenarnya kena penyakit apa?" tanya Naruto cemas

"Apa anda bisa menyembuhkannya?" Hinata juga tak mau kalah.

"Ya, kurasa kita hanya bisa berharap. Aku belum pernah menemui gejala penyakit seperti ini, tapi kalian tenang saja, aku akan berusaha yang terbaik untuk menyembuhkan Himeka-chan. Lebih baik kalian tenangkan diri kalian dulu, teman-teman yang lain sudah dikabari?"

"Be-belum, kami tidak ingin membuat mereka khawatir dengan keadaan Himeka yang sekarang. Kalau keadaannya sudah membaik, baru kami akan memberitahu mereka," ujar Hinata.

"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Aku akan menghubungi semua kolegaku, siapa tahu mereka punya data yang lengkap tentang penyakit baru ini. Naruto, kau jaga Hinata ya," ujar Tsunade sebelum dia melangkah ke kantornya.

"Baik Baa-chan," sahut Naruto lemas.

Hinata benar-benar cemas sekarang, dirinya tak bisa berhenti barang sekejap saja. Dia terus mondar-mandir di sekitar ruang tunggu, sekali-kali melongok ke dalam ruang rawat berharap Himeka segera siuman dan memanggilnya. Namun apa daya, Himeka masih diam tak bergerak di tempat tidur. Naruto tentu saja juga merasa tak tenang, dia memutuskan untuk menemui pria itu sekali lagi.

"Kau mau kemana Naruto-kun?" tanya Hinata yang melihat Naruto tengah bersiap-siap.

"Aku pergi sebentar, tolong jaga Himeka sebentar ya Mama," ujar Naruto sambil tersenyum.

"Tapi..."

"Jangan cemas...aku akan kembali dan pasti akan menyembuhkan Himeka, aku janji," Naruto pergi setelah mengucapkan kata-kata itu.

Chapter 11 EnD