Annyeonghaseyo! Masih dengan Minrin disini. Sekarang aku mau bagi-bagi lanjutan ff chapter 2 kemaren ya! Hm, yang "Truth Or Dare" nya kapan-kapan aku lanjutin lagi ya. Oh iya, ff ini masih bergenre Hurt/Comfort kok, wkwk.

Cast:

Cho Kyuhyun

Kim Ryeowook

Lee Sungmin

Dan pemain lain sesuai jalan cerita^^

Pair:

Kyumin

Kyuwook

WARNING!

Typo(s), and transgender/genderswitch. Belum tega ngeliat bias Yaoi soalnya, hwhw.

Don't like, Don't Read ya:D

Summary:

Kyuhyun menyebut dirinya sudah tidak memiliki tujuan hidup ataupun semangat hidup. Namun Kim Ryeowook, memunculkan tujuan hidup Kyuhyun lagi. Namun yeoja itu kini kembali, merenggut kebahagiaan Ryeowook ditengah sakitnya. / Kyuhyun, Ryeowook, Sungmin / Kyumin, Kyuwook

Note:

Judul sama cerita nggak begitu nyambung. Bingung bikin judul apa hwhw.

.

Let's Read!

.

.

.

-Author POV-

Malam ini Ryeowook tengah belajar. Seharian ini ia belum tidur sama sekali. Tugas begitu banyak.

Tadi siang, ia mengalami mimisan di sekolah. Mungkin faktor sangat kelelahan. Untung saja Kyuhyun tak mengetahuinya. Kalau saja Kyuhyun mengetahui itu semua, entahlah apa yang akan Kyuhyun lakukan padanya.

Ryeowook hari ini terlihat pucat. Terlihat tak sehat. Sejak tadi memang ia mengeluh bahwa ia pusing. Namun ia tetap saja mengerjakan tugasnya. Tak lama kemudian setetes cairan merah menetes di atas buku Ryeowook. Darah segar. Dan Ryeowook pun tak sadarkan diri.

.

.

.

"Ottoke yo, uisa? Ryeowook sakit apa?" tanya eomma Ryeowook saat ia dan appa Ryeowook sedang ada di ruangan uisanim.

Uisanim menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kembali melihat hasil pengecekan darah Ryeowook. "Menurut dari gejala-gejala yang diterima Ryeowook-ssi, dan hasil pengecekan darah, dia menderita Leukimia yang sudah parah. Memang dulu tak begitu kentara. Namun penyakit itu saat ini sudah menyebar." Jelas uisa tersebut.

Eomma Ryeowook mendengar pernyataan tersebut. Ia tak percaya, anak semata wayangnya menderita penyakit tersebut. Anak sebaik dan seceria Ryeowook mengalami hal tersebut? Benar-benar tidak adil. Namun bagaimana lagi? Ini sudah keputusan Tuhan, mungkin terdapat sisi baik di balik ini semua, kita tak tahu.

"Bagaimana cara penyembuhannya, uisa?" tanya appa Ryeowook langsung. Eomma Ryeowook sudah tak dapat menahan beban lagi. Tangisannya sudah meledak-ledak sejak tadi. Dan appa Ryeowook lah yang tegar, bertanya pada uisa.

"Kemotherapy." Singkat uisa.

"Bukankah itu dapat membuat rambut Ryeowook menjadi rontok, uisa?" tanya appa Ryeowook.

"Benar. Namun hanya itu yang dapat kami bantu, selain pengobatan secara teratur." Jawab sang uisa. Appa Ryeowook mengusap wajahnya. Ia sudah keberatan untuk menahan beban ini semua. Ia belum siap melihat anak semata wayangnya menjadi, gundul.

.

.

.

"Kemotherapy? Memangnya Ryeowook sakit apa, eomma?" tanya Ryeowook ketika eomma dan appanya memasuki ruang inapnya.

Eomma Ryeowook tersenyum miris. "Eomma tau kau adalah anak yang tegar. Eomma harap kau tak kehilangan semangat hidup. Kamu menderita Leukimia, Wookie…" Jelas eomma dengan menahan air mata menetes.

Perasaan Ryeowook campur aduk. Ia bingung, harus sedih ataupun berpura-pura biasa saja. Perasaannya sesungguhnya, ia sedih. Namun ia akan lebih sedih lagi kalau melihat keluarganya menangis, sedih. Apalagi karenanya.

"Wookie nggak mau di kemotherapy, eomma…" pinta Ryeowook.

"Rasanya benar-benar tidak enak.." kali ini alasan Ryeowook muncul.

Eomma Ryeowook menggeleng, ia mengecup kening anaknya itu. "Eomma tahu, kamu kuat, Wookie… Umma selalu ada di sisimu, kapanpun kamu butuh.." Eomma Ryeowook berbicara dengan menangis. Susah baginya untuk tetap terlihat tegar.

.

.

.

Pagi ini Ryeowook masih diizinkan untuk pergi ke sekolah. Itulah yang ia inginkan sebelum menjalani kemotherapy.

Ketika sampai sekolah ia tidak bertemu dengan Kyuhyun sama sekali. Dan ia memutuskan untuk datang ke tangga menuju ruang musik tersebut. "Haaaaaah" teriak Ryeowook mengeluarkan segala penat dalam fikirannya.

Ia terduduk menyenden tembok tangga tersebut. Dengan segera sekelibat fikiran tentang penyakit Leukimianya kembali terngiang di fikiran Ryeowook. Air mata itu mengalir perlahan dari mata Ryeowook. Kali ini Ryeowook lah yang bertanya-tanya, tujuan hidupnya.

"RYEOWOOK! AKU MENCARIMU KEMANA-MANA TERNYATA KAU DISINI!" seru Kyuhyun senang ketika melihat Ryeowook ada di hadapannya.

Dengan segera Ryeowook menghapus air matanya. Ia belum ingin Kyuhyun mengetahui segalanya. Semua tentang penyakitnya. "Ada apa?" tanya Ryeowook dengan tersenyum.

Wajah Kyuhyun yang berawal senang berubah menjadi bingung. Kyuhyun mengerutkan dahinya serta kedua tangannya mengusap pipi Ryeowook. "Kau sakit, hn?" tanyanya dengan menatap Ryeowook lebih dalam.

Ryeowook ikut mengerutkan dahi, seakan tak terjadi apa-apa. "Sakit apa? Tidak.." jawabnya dengan tersenyum mengalihkan pandangannya dari mata Kyuhyun. Namun bibir Ryeowook tak dapat diajak kompromi. Bibirnya terlihat pucat.

"Jinjja?" tanya Kyuhyun dengan menghadapkan wajah Ryeowook tepat melihat matanya. Ia tahu kelemahan Ryeowook, ia tak dapat berbohong jika terdapat orang menatap tepat matanya.

Ryeowook hanya tersenyum dan berdiri dari duduknya. "Ada apa kau mencariku? Tak biasanya…"

"Kau terlihat lemas dan pucat, kau sakit?" tanya Kyuhyun lagi. Saat ini mereka sudah saling berdiri.

Seperti sebelumnya, Ryeowook justru berdiri menghadap pemandangan disitu. Ia lebih memilih tak menjawab pertanyaan Kyuhyun daripada harus berbohong.

"Ada apa kau mencariku?"

Kyuhyun menatap Ryeowook iba. "Tadi malam Sungmin datang ke apartemenku. Dia memutuskan untuk menolak perjodohannya, Wook! Aku sangat senang!" Serunya yang dengan cepat mengubah ekspresi pedulinya tadi menjadi senang. Sangat senang.

"Benarkah? Lalu kalian akan menikah bersama 'kan?" tanya Ryeowook ikut bahagia—sok bahagia.

"Sepertinya. Rencanaku sih seperti itu." Jawab Kyuhyun dengan senyumannya.

Ryeowook tersenyum kecil mendengar pernyataan Kyuhyun. Ternyata beberapa hari ini yang ia lalui dengan Kyuhyun, hanya dirinyalah yang menganggap spesial Kyuhyun. Namun Kyuhyun? Hanya Sungmin yang spesial di hidup Kyuhyun.

Tatapan Kyuhyun kembali iba. "Oh Wookie, tenanglah, aku takkan melupakanmu. Kau adalah satu-satunya orang yang mampu mengembalikan semangat hidupku lagi." Kali ini dengan mengusap lembut kepala Ryeowook. Dan Kyuhyun menenggelamkan Ryeowook dalam pelukannya. Kyuhyun mengecup lembut rambut Ryeowook.

Dengan segera Ryeowook melepas dekapan itu. Ia tak mau terus-menerus terjerumus dalam cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan, hanya Ryeowook yang merasakan. Ia benci akan hal itu.

"Aku harus pergi." Singkat Ryeowook menghindari Kyuhyun.

Dengan sigap Kyuhyun menarik lengan Kyuhyun. "Wookie, kau kenapa? Kau banyak berubah… Ceritakan padaku…" kali ini masih dengan tatapan iba.

Ryeowook kembali tersenyum pada Kyuhyun. "Gwaenchana.." dan Ryeowookpun meninggalkan Kyuhyun.

Di tangga lantai dua, Ryeowook terduduk. Dan menangis. Menangis sejadi-jadinya. Sudah cukup untuk penyakitnya. Namun Kyuhyun, namja yang ia harap akan mengangkat semangat hidupnya lagi, malah seakan menyuruhnya untuk tak hidup lagi. Seakan dilupakan.

.

.

.

"Selama ini aku menelponmu, kenapa tidak bisa?" tanya Sungmin saat ia berkunjung ke apartemen Kyuhyun.

"Ohhh itu… aku mengganti nomor telponku. Sekarang, coba kau hubungi aku?"

Sungmin tertawa. "Untuk apa? Toh kau sudah di sampingku sekarang.." ucap Sungmin dengan tawanya.

Kyuhyunpun ikut tertawa. "Minnie-ah…"

"Ne Kyu?"

"Tolong jangan tinggalkan aku lagi, ne?"

Sungmin tersenyum dengan mengusap rambut Kyuhyun. "Tentu saja.." Kyuhyun memeluk Sungmin.

.

.

.

Pagi hari datang. Kemarin Ryeowook menyetujui untuk menjalani kemotherapy. Dan hari inilah hari dimana Ryeowook menjalani kemotherapy.

Sebelum kemotherapy, Ryeowook mengirim pesan untuk Kyuhyun,

Hari pertama kemotherapy. Doakan aku agar berhasil ne…. Katakan hwaiting untukku, Kyu!:D

Setelah mengirim pesan tersebut, Ryeowook baru mau melaksanakan kemotherapy.

Kemotherapy baru saja usai. Hal pertama yang Ryeowook lakukan adalah mengambil handphonenya. Ia penasaran bagaimana respons Kyuhyun. Apa balasan dari Kyuhyun. Ryeowook segera melihat handphonenya.

YAP!

Tak ada balasan dari Kyuhyun. Handphone itu diam saja. Tak ada pemberitahuan apapun. Benar-benar mengesalkan. Tapi bukankah lebih baik seperti ini? Seharusnya malah Kyuhyun tak boleh tahu tentang penyakitnya. Sedikitpun.

-Author POV end-

.

~TBC~

.

.

.

Nah sekarang, udah agak keliatan nih, bakal Kyumin or Kyuwook. Baca terus deh makanya!

Mind to review? Thanks!^^