Chapter 2 : Umi no Yume
Lautan biru yang mencerminkan langit
Ombak putih yang menghias permukaannya
Pasir halus membentang mengelilinginya
Itulah yang kupikirkan saat aku melihat pantai untuk pertama kalinya
Karena Kano-kun berkata "kita harus pergi ke pantai saat musim panas", hari ini semua anggota Mekakushi Dan memutuskan untuk ke pantai. Aku sangat antusias dengan ini karena ini kali pertamanya aku ke pantai! Dulu karena orang tuaku takut aku bisa sakit karena menghirup debu di pantai, kami tidak pernah ke sana. Kira-kira seperti apa pantai itu yah? Shintaro-kun bilang kalau pantai "hanyalah perbatasan antara daratan dan lautan" sedangkan Kano-kun bilang kalau pantai itu adalah "tempat impian para pria"-sepertinya pantai itu adalah tempat yang sangat menarik yah!
"Uwaaaa, Kido kenapa kau menyembunyikan dirimu dengan jaket? Sini~ Biarkan aku membu-hooeeeek."
Kano-kun yang memakai celana renang coklat dengan gambar kucing hitam kecil di ujungnya mendekati Kido-chan dengan tatapan yang aneh, lalu Kido-chan menghantam wajah Kano-kun dengan sangat keras sampai dia terbang.
"Apa yang ingin kau lakukan baka-hentai-neko...!"
Setelah mengatakan itu Kido-chan melepas ret-retan jaketnya dan aku bisa melihat dia memakai two piece ungu dan celana jean pendek. Wajahnya agak merah setelah melakukan itu sih, mungkin dia kelelahan?
Shintaro-kun dan Momo-chan yang melihat itu hanya bisa sweat-drop. Shintaro-kun memakai celana renang merah yang bergambar api yang menyala, sedangkan Momo-chan menggunakan two-piece oren yang bagian dadanya terikat ke leher.
"Oi, Momo, kau tidak apa-apa ke pantai?"
"Mou, onii-chan tumben mengkhawatirkan adikmu yang imut ini~"
"Momo..."
"Tenang saja onii-chan. Aku enggak apa-apa kok! Karena sekarang aku bersama semuanya aku tidak sedih lagi."
"...kalau begitu baguslah."
Mary—chan lalu datang bersama Seto-kun dibelakangnya. Mary-chan memakai two piece frilly putih. Dia mengikat rambutnya menjadi ponytail dan bunga merah menghiasi rambutnya. Seto-kun memakai celana renang hijau dengan strip kuning. Mary-chan berjalan dengan malu sambil mencoba menutup-nutupi badannya.
"Sa-sangat terbuka... terlalu banyak menampilkan kulit..."
"Mary? Kau tidak apa-apa? Kalau kau tidak ingin memakai itu kita bisa ganti baju dan duduk di bawah payung..."
"JA-JANGAN! A-aku sudah sengaja memakai ini untuk Seto! Aku ingin Seto melihatku memakai bikini!"
Saat Seto-kun mendengar itu wajahnya tiba-tiba menjadi merah.
"E-eh?! A-ah be-begitu yah...um...Ka-kau sangat ma-manis me-memakai biki-bikini Mary..."
"Benarkah?! Syukurlah aku memakai ini!"
Mary-chan lalu memeluk Seto-kun yang entah mengapa wajahnya sekarang tambah memerah yang bahkan bisa mengalahkan warna tomat, apakah dia baik-baik saja?
Setelah itu akhirnya muncul Hibiya-kun dan Ayano-chan, Hibiya-kun memakai celana renang biru muda dan mengenakan jaket putih yang dia gantungkan dibadannya, sedangkan Ayano-chan memakai two piece merah dengan bunga merah tertempel di tali branya.
"Dasar dua muda-mudi tukang gombal. Kenapa aku dikelilingi oleh remaja-remaja yang tidak bisa menahan hasrat seksualitas mereka?"
"Hibiya-kun! Itu bukan kata yang baik yang dikatakan oleh anak-anak."
"Tapi, Ayano-nee, apa yang kukatakan adalah kenyataan kan? Bahkan kamu dengan si mantan HikiNEET itu juga."
Mendengar hal itu Ayano-chan lalu memerah dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"A-aku dengan Shintaro tidak seperti itu! Kami hanya...kami hanya..."
"Kami hanya sepasang kekasih yang tidak menunjukkan hal seperti itu di depan publik. Tapi lain cerita jika kami hanya berdua."
Tiba-tiba Shintaro-kun datang dari belakang Ayano-chan dan memeluk Ayano-chan. Itu membuat Ayano-chan terkejut dan berbalik menghadap Shintaro.
"Shi-shintaro! Jangan katakan itu di depan anak kecil."
"Hm~ Sudahlah, tidak apa-apa~ Dia yang mempunyai pasangan seperti Momo harusnya lumrah dengan hal ini."
"Aku dan bibi tidak seperti itu!...mungkin."
"Ngomong-ngomong Ayano, baju renangmu cantik juga, merah seperti biasanya huh?"
Shintaro-kun melihat Ayano-chan dari atas sampai bawah. Ayano yang dilihati Shintaro dengan seksama sangat malu-malu.
"A...ah u~"
"Oi, apanya yang tidak menunjukkan hal seperti itu di publik? Kalian sama sa-"
"Hibiya-kun! Menurutmu bagaimana dengan baju renangku~"
Hibiya-kun tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena dia tiba-tiba diserang langsung oleh Momo-chan. Wajahnya terbenam oleh dada Momo-chan yang memeluknya dengan erat, jadi mengingatkanku dengan saat mereka pertama kali mereka bertemu.
"Lpsaknakmm."
"Eh? Apa yang kamu katakan, Hibiya-kun."
Saat Momo-chan akhirnya mengurangi kekuatan pelukannya, Hibiya yang wajahnya sudah merah kehabisan napas berteriak dengan kencang.
"kubilang, LEPASKAN AKU BIBI SAPI GENDUT GILA. Aku hampir mati gara-gara kau tadi!"
"Kamu...kamu kejam sekali Hibiya-kun! Biarpun aku sudah melakukan ini untukmu."
"Maksudmu memelukku sampai mati? Inilah mengapa aku tidak suka perempuan gendut sepertimu."
Hibiya-kun mengatakan itu sambil menunjuk-nunjuk dada Momo-chan dan melototinya, dan sekali lagi, aku teringat dengan bagaimana mereka pertama kali bertemu.
"Ge-gendut...katamu?!"
"Oi, Hibiya, kau sudah keterlaluan, minta maaf sana sama Momo."
"Untuk apa aku minta maaf sama dia? Memangnya apa yang akan dia lakukan kedi-"
"HIBIYA-KUN JAHAAAAT!"
Dan seketika Hibiya-kun terbang setelah Momo-chan berhasil menghome-run dia ke ujung kulon-eh maksudnya ke suatu tempat. Bagaimana nasibnya dan Kano-kun yang juga telah terbang di hantam Kido-chan? Aku tidak ingin tau.
Semuanya terlihat bersenang-senang~ Syukurlah kami ke pantai, tapi, kemana orang itu yah? Kenapa dia tidak muncul-muncul?
"Siapa yang kamu cari, Haruka?"
"Ah! Takane!"
Takane yang datang memakai two piece sport hitam dengan kain kuning yang melingkar dipinggangnya melihatku dengan aneh.
"Kenapa memang? Tidak cocok aku memakai ini?"
"Bu-bukan! Sebenarnya Takane terlihat sangat cantik, tapi...rambutmu..."
"Hm? Aku cuma mengurainya, sesekali seperti ini tidak apa kan?"
Rambut Takane yang biasanya dikuncir dua tiba-tiba dia uraikan. Aku tidak terlalu terbiasa melihatnya seperti itu, maksudku, aku tidak PERNAH melihatnya menguraikan rambutnya. Rambut Takane ternyata cukup panjang juga, rambut hitamnya yang seperti langit malam mengalir sampai sepinggang, mirip seperti Ayano-chan.
"Um~ Bagaimana yah? Takane entah mengapa serasa terlihat lebih dewasa dengan rambut yang terurai, seperti-"
Kasur putih, selimut putih, cat putih, ruangan putih. Semuanya putih. Di tempat ini dimana semuanya terasa hampa, tiada arti untuk tetap disini. Tetapi tidak bisa, tidak bisa pergi dari tempat ini. Kaki yang beku tak bisa berjalan, tangan yang penuh dengan tali tak bisa digerakkan, mata yang tidak bisa dubuka, badan yang ditopang dengan peralatan, membuat hati membatu hilang tanpa mempunyai harapan.
Tetapi, di tempat penuh kekosongan ini ada yang memberinya warna. Setitik hitam yang selalu datang kesini, satu-satunya yang membuat tubuh ini tetap hidup walaupun tidak bisa digunakan. Dia yang selalu bersuara lembut dan mengisahkan hari-harinya, selalu menenangkan hati yang gelisah, selalu memberi harapan. Dia yang semakin lama semakin berubah, dia yang bergerak maju, biarpun begitu dia tidak meninggalkan yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Berkibar ditiup angin dari jendela, rambut hitamnya yang kini telah sangat panjang, mata hitamnya yang melihat kesini, dengan wajah yang terlihat tenang, dia tersenyum dan berkata.
" "
"...ka, Haruka, HARUKA!"
"Uwah! Takane?! A-ada apa?!"
Aku dikejutkan oleh Takane yang tiba-tiba ada di depan wajahku, dia melototiku dengan tajam, jujur dia terlihat seperti setan saat melakukan itu(tentu saja aku tidakkan pernah mengatakan ini di depan dirinya)
"Kamu baik-baik saja? Kamu bengong dari tadi."
"Eh? Bengong? Hm, sepertinya tadi aku mengingat sesuatu yang aneh saat melihat Takane yang rambutnya berurai."
"Kamu...kamu secara tidak langsung mengatakan kalau gayaku aneh kan?!"
"Bu-bukan seperti itu, ow!"
Takane mencubit pipiku dengan sangat keras, sampai-sampai aku merasa pipiku akan tercabik olehnya. Adu-du-duh, bisakah Takane lebih lembut? Biarpun hal ini yang kusuka darinya sih.
"Mou! Sudahlah, ayo! Semuanya menunggu kita."
Setelah berbagai masalah tadi akhirnya kami bisa bermain bersama. Ternyata banyak permainan yang dilakukan di pantai loh! Seperti memecah semangka!
"Oi Momo! Semangkanya ada dikiri-dikiri!"
"Eeh, benarkah onii-chan? Eto."
Momo-chan lalu bukannya memecahkan semangka malah memukul kepala Kano-kun dengan KERAS. Ouch, kurasa Kano-kun akan gegar otak karena itu. Momo-chan lalu meminta maaf terus menerus kepada Kano-kun yang kepalanya sudah berlumuran darah dan menendang Shintaro-kun dibagian yang tersakit untuk pria karena memberikan arahannya yang salah.
Kido-chan lalu mendatangi Kano-kun sambil membawa kotak P3K dan mengobati kepala Kano-kun yang berdarah. Entah mengapa, biarpun sakit, Kano-kun terlihat senang dirawat oleh Kido-chan yang memarahinya habis-habisan.
Dan juga voli!
"E-e-eh? Bolanya kesini...kyaaa!"
"Mary...kamu harusnya memukulnya bukan menghindarinya..."
Para perempuan yang bermain voli terlihat sangat antusias. Momo-chan yang sangat bersemangat melempar bola voli itu dengan sangat kencang, Mary-chan yang ada tepat di sasaran bola voli itu langsung kabur sambil melindungi kepalanya. Takane yang melihat itu hanya bisa sweat-drop sambil melanjutkan permainan. Pada akhirnya yang menang adalah tim Kido-Momo-Hibiya(dia dimasukkan karena kekurangan pemain perempuan("Bocah belum masuk laki-laki" kata Momo-chan sambil menyeret Hibiya-kun.), tim Ayano-Mary-Takane kalah, sayang yah!
Hmm, tentu saja kalau di pantai kau tidak bisa melupakan berenang!
"Sewewoanglolonaku."
"Kano-saaan, onii-chan tidak bisa berenang! Kenapa kamu dorong dia?!"
"Ups, hehe...he?"
Seto-kun langsung berenang menyelamatkan Shintaro-kun yang sepertinya akan mati. Karena aku panik pada saat itu aku langsung melakukan CPR kepada Shintaro-kun. Anehnya saat aku melakukan CPR Mary terlihat kesenangan, dan saat Shintaro-kun siuman dia lalu memerah malu. Bahkan Takane memukul kepalaku dan Ayano-chan mencubit pipi Shintaro-kun, kira-kira apa salahku dan Shintaro-kun yah?
Es serut juga sangat enak loh!
"Di-di-dingin sekali!"
"Oi, lihat kemana kau melemparkan itu- OI!"
"Gyah! Hibiya-kun?! Kamu tidak apa-apa?!"
Saat Mary-chan memakan es serut bersirup stroberi, dia terlihat seperti ular(?) yang tidak tahan dingin dan langsung melemparkan es tersebut. Dan yang menjadi korban es itu adalah Hibiya-kun, yang ada tepat di depannya pada saat itu. Momo-chan yang melihat itu langsung panik dan menyimbur Hibiya dengan air panas, alhasil Hibiya-kun pingsan karena rangsangan panas-dingin.
"Ki-do, suapi aku dong~"
"Kau mau disuapi huh? Ini"
Kido-chan melemparkan es yang ada ditangannya ke wajah Kano-kun. Dia seperti tak tau-tau apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang menyakitkan...Kano-kun hanya bisa kedinginan sambil tersenyum ala kucing saat dia disiksa oleh Kido-chan.
"Soda memang yang terenak..."
"Shintaro! Minum soda terus tidak baik untuk kesehatanmu!"
"Biarkan saja Master, Ayano, dia memang sudah jatuh cinta dengan soda, bahkan dia lebih cinta soda daripada dirimu Ayano."
"...benarkah itu Shintaro...?"
"Ti-tidak kok! Mana mungkin aku lebih menyukai soda daripada dirimu, iyakan Haruka?!"
"Eh? Kupikir asalnya kau itu pacaran sama soda Shintaro-kun."
"Geh?!"
Aura yang menakutkan lalu keluar dari badan Ayano-chan, setelah itu dia menyeret Shintaro-kun pergi ke suatu tempat. Yang aku bisa dengar sisanya hanyalah suara teriakkan menyedihkan seperti kucing yang habis terlindas truk.
Malam pun tiba. Kami menginap di sebuah villa yang di sewa oleh Momo-chan. Dia bahkan telah menyewa seluruh villa untuk kami, dia benar-benar dermawan! Saat Shintaro-kun kembali dari entah-apapun-yang-dilakukan-Ayano-chan-padanya dia terlihat sangat babak belur, Ayano-chan yang datang bersamanya hanya tersenyum tanpa dosa dan menyapa semuanya seperti tidak ada yang salah.
Aku bahkan mendengar Kano-kun berbisik kepada Kido-chan "Ayano-nee lebih mengerikan daripada kau Kido." Dimana Kido-chan yang mendengar itu hanya mengangguk dan lalu setelah sadar apa yang dikatakan Kano-kun selanjutnya, dia menghantam Kano-kun dengan kekuatan ogre(?).
"Haruka, apa yang kau lakukan disni?"
Aku yang sedang berpikir memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar pantai. Airnya sangat dingin saat kusentuh, sangat berbeda dengan siang tadi, dan juga sangat sunyi disini. Tiba-tiba Takane datang dan berdiri disampingku. Dia mengikat rambutnya menjadi kuncir dua lagi.
"Ah, tidak, aku hanya banyak pikiran jadi aku ingin merasakan angin laut."
"Pikiran? Pikiran apa?"
"Um, tadi siang, saat aku merasa melihat sesuatu yang sangat aneh."
"Huh?"
Aku lalu menceritakan kepada Takane apa yang kurasakan saat aku melihat rambut Takane yang diurai. Bagaimana aku melihat kekosongan ruangan putih itu, sang wanita berambut hitam itu, dan bagaimana dia mengatakan sesuatu kepadaku namun aku tidak bisa mengingatnya. Ini benar-benar aneh...aku berharap Takane tidak menganggapku gila.
"...telah dimulai kah...?"
"he?"
"Ah, tidak ada apa-apa Haruka. Menurutmu kira-kira apa itu yah?"
"Aku tidak tau sih, yang kutau menurutku entah mengapa itu serasa...sangat...familiar..."
"Begitu yah? Memang agak aneh sih. Baiklah! Kalau kamu mempunyai penglihatan aneh seperti lagi beritaukan kepadaku! Tidak baik memendam hal di dalam diri sendiri!"
"Benar juga, terima kasih Takane! Aku akan memberitaukanmu kala ada hal seperti itu lagi!"
"Umu!"
Aku dan Takane lalu duduk bersama, angin laut yang dingin menghembus ke arah kami, Takane lalu menyandarkan kepalanya ke pundakku. Kami tidak berbicara apa-apa, kami hanya menikmati kehadiran masing-masing, dan selama malam itu, kami terus berdua.
Author Note
Yosh~! Akhirnya chappie ini keluar juga!
Maaf yah, soalnya Kaori punya kebiasaan untuk rencana di otak, nulis kapan-kapan(kebiasaan luar biasa buruk)
Belum lagi sekarang banyak UL dan tugas...padahal banyak banget yang pengen Kaori tulis buat fic Kaori...
Ah, dan satu lagi delima yang dialami Kaori...
OTP KAORI SHINAYA KENAPA MALAH KEBANYAKAN BUAT FIC HARUTAKA?!
Padahal, padahal...aaaarg, kenapa?! Oke HaruTaka emang imut, Kaori juga suka, tetapi, tetapi,...KENAPA MALAH SUSAH NULIS SHINAYA?! HUEEEEEE
Oh iya, review yah! Buat komen typo atau gaya tulis atau apalah! Saya menerima kritik dan saran(kecuali flame tanpa alasan). belum lagi membaca review itu membuat Kaori sangat senang dan mungkin menambahkan ide Kaori untuk buat fic, seperti ini!
Kemanakah cerita ini akan tertuju?
Kaori juga belum tau~ yang pasti, kalian mungkin akan terkejut dengan kemana cerita ini akan terhubung (udah mikirin endingnya tapi belum mikirin isinya~)
Yang tau ini bakal terhubung dengan apa atau berjalan kemana Kaori kasih spoiler buat rencana chappie selanjutnya~
Sore de wa, Mata ne~
