Yak, lanjut ke chapter 2...makasih yang udah review...untuk kalian yang penasaran sapa dan kenapa yang ditemui Naruto di chapter 1, di sini jawabannya...
(Aq usahain update cepet nih chapter =.=")
.
HERE WE ARE
Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu, Nejigaa, Shikakiba
Genre : Romance, hurt/comfort, action, crime, & angst
Maaf kalo ada kesamaan tema dan kesalahanXD
Gaje, Typo(s), Slash, BL, OOC,,
Don't Like don't read
Enjoy!^^
Naruto, Neji, Gaara, Shikamaru : 18 tahun
Sasuke, Kiba : 17 tahun
.
'mind'
"talk"
Chapter 2 : Alasan
.
Angin malam berhembus pelan. Membelai kedua pemuda yang berdiri berdampingan di beranda mansion lantai dua. Beranda yang mengarah ke pemandangan dari puncak bukit. Di bawah bukit, ada pemandangan kota Tokyo malam hari. Dari kejauhan hanya terlihat lampu kota yang menerangi kota malam itu.
Kedua pemuda itu saling bertatapan satu sama lain dalam diam. Hening. Naruto menatap pemuda berkulit pucat tanpa cela di hadapannya lembut. Berbeda dengan tatapan milik pemuda itu, dia hanya memandang kosong Naruto tanpa ekspresi.
"Apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah malam, kau nggak tidur Sasuke?" Tanya Naruto tersenyum manis pada pemuda yang dikenal bernama Uchiha Sasuke itu.
Sasuke diam. Tidak menjawab pertanyaan barusan. Dia mengalihkan pandangan matanya ke depan kembali. Seolah dia tidak menanggagapi keberadaan Naruto di sampingnya.
"Belum ngantuk, ya." Naruto tersenyum kecil. Ia sudah biasa dengan respon yang diberikan Sasuke.
.
Keadaan Sasuke yang seperti ini sudah berlangsung selama 3 tahun yang lalu. Sejak peristiwa yang menyakitkan dulu, dia berubah drastis. Sasuke menjadi pendiam. Pendiam yang tidak wajar. Dia tidak pernah bersuara atau merespon setiap orang yang mengajaknya bicara. Pandangan matanya kosong. Seolah tidak ada jiwa Sasuke yang menghuni raganya.
Senju Tsunade, dokter yang dipekerjakan khusus oleh Naruto, mengatakan jika Sasuke menutup hatinya. Menolak untuk menerima rangsangan dari luar. Kejadian yang dialaminya membuat trauma berat dan hancur. Tsunade bilang tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu Sasuke kembali dengan sendirinya.
Naruto tahu bagaimana hancurnya Sasuke. Karena ia juga ikut terlibat dalam peristiwa yang menimpa pemuda setahun lebih muda darinya itu. Sama-sama menjadi korban, walau ia tidak separah seperti yang Sasuke alami. Mereka berdua korban dari kegelapan sang 'Raja'. Orang yang menghancurkan hidup dan mimpi mereka di masa lalu. Termasuk Neji, Gaara, Shikamaru, dan Kiba.
'Raja' Mafia yang menguasai dunia belakang bersama prajurit pionnya, Akatsuki.
Itulah yang menjadi dasar alasan Naruto dan yang lainnya menjalani profesi ilegal sebagai Assassin. Mereka mencari untuk menghabisi dalang di balik masa lalu mereka, disamping melenyapkan sampah dunia atas permintaan klien yang kebanyakan dari pihak kepolisian dan pemerintah. Tentu saja dengan imbalan yang setimpal.
.
"Kau belum makan malam, 'kan? Apa kau nggak lapar, Teme?" Tanya Naruto kembali, mencoba bicara pada orang yang menjadi tambatan hatinya.
Lagi, Sasuke diam tidak merespon. Tatapan Onyxnya tetap kosong mengarah ke pemandangan malam.
Naruto membelai rambut halus milik Sasuke. Menatap Sasuke sendu. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup pelipis pemuda yang lebih pendek darinya. Kemudian beralih menyentuhkan dahinya pada Sasuke. Sasuke tetap diam. Tidak terganggu dengan aktivitas yang dilakukan naruto padanya. Naruto melingkarkan satu lengannya di lehernya, memeluknya. Hangat tubuh Sasuke segera dirasakannya.
"Aku merindukanmu, Sasuke."
.
TOK,TOK,TOK!
Ketukan terdengar dari luar pintu kamar Sasuke. Pastilah itu Gaara yang membawa makan malam mereka.
"Masuk." ucap Naruto.
Gaara membuka pintu. Dia masuk serambi membawa kereta dorong tempat makan malam Naruto dan Sasuke. "Aku memasak sup tahu untuk Sasuke. Mungkin dia ingin makanan hangat."
"Arigatou Gaara. Letakkan saja di sana, nanti biar aku yang menyuapinya." Naruto tersenyum tipis menatap Gaara.
Gaara mengangguk, dia memandang Sasuke yang membelakanginya. "Aku pergi Sasuke. Jangan lupa dimakan ya." ujar Gaara tersenyum meski Sasuke tidak melihat dan membalasnya.
Gaara menutup pintu keluar kamar, meninggalkan Naruto dan Sasuke.
Ketika Sasuke berbalik, dia menunjuk makanan yang ada di kereta dorong.
"Kau lapar?" tanya Naruto. Sasuke tidak merespon, tapi pandangannya mengarah ke makanan itu.
"kalau begitu ayo makan."
Naruto menarik tangan Sasuke mengajaknya masuk ke dalam. Ia melepas mantelnya dari Sasuke dan mendudukkan pemuda itu di tepi ranjang. Pemuda berambut pirang jabrik itu mengambil makanan milik Sasuke, lalu menempatkan diri disebelah pemuda raven. Naruto mulai menyuapinya. Agaknya Sasuke terkejut kecil. Matanya mengerjap ketika sendok berisi sup itu didekatkan padanya, tapi dia mulai membuka mulutnya berlahan.
Naruto yang melihat Sasuke memakan sup itu tersenyum lega. Kadang cukup sulit mengajak Sasuke untuk makan, karena Sasuke jarang menunjukkan tanda-tanda lapar. Tapi kalau Sasuke lapar, dia pasti akan menunjuk makanan.
Naruto mengusap air sup yang mengalir dari sudut bibir Sasuke dengan ibu jarinya. "Enak?" tanyanya.
Sasuke hanya diam sambil terus memakan sup yang disuapkan padanya berlahan.
"Masakan Gaara memang enak. Nggak heran jika kau suka." ujar Naruto kembali.
Naruto akan menyuapi Sasuke lagi jika saja handphone miliknya tidak berbunyi. Ia merogoh saku celananya mengambil hp-nya. Mata Shappire-nya melihat layar hp orangenya, tertera gambar amplop pesan baru. Amplop warna hitam. Pesan khusus dari klien yang meminta jasa membunuh.
"Mengganggu saja." gerutu Naruto karena acara suap-menyuap makanan dengan Sasuke terganggu.
Naruto memasukkan kembali hp-nya ke saku, mengabaikan pesan barusan. Ia melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Lebih mementingkan menyuapi Sasuke dulu dibanding membalas pesan itu.
'Biar Shika atau Neji saja yang urus pesan itu nanti.' Batin Naruto.
.
==========Here We Are==========
.
Matahari bersinar cerah pagi ini. Menerangi setiap tempat di salah satu belahan bumi. Hutan pinggir Kota Tokyo itu memperlihatkan warna alaminya. Mansion gaya eropa di tengah hutan yang berdiri di puncak bukit itu terlihat jelas.
Sinar matahari memasuki salah satu kamar melalui jendela besar di mansion itu. Seorang dari dua penghuni kamar itu menggeliat pelan terbangun. Pemuda berkulit tan yang memiliki tanda lahir berupa tiga garis halus di masing-masing pipinya itu membuka matanya berlahan, mengerjapkan matanya yang terkena silau matahari beberapa kali untuk memperjelas pandangannya.
"Huaaah..." Naruto menguap lebar.
Ia melirik seseorang di sebelahnya. Rupanya Naruto tidur bersama Sasuke. Dilihatnya Sasuke masih tertidur pulas. Wajahnya damai dan nafasnya teratur. Naruto tersenyum lembut, lalu mengecup kening Sasuke. Tangannya meraih pinggang Sasuke, memeluknya erat. Tidak ingin melepaskan pemuda itu.
TOK,TOK!
"Naruto! Kau di dalam 'kan? Apa kau sudah bangun?!" Seru Kiba dari luar kamar Sasuke.
Dengan jengkel, Naruto bangkit dari ranjang berlahan. Ia tidak ingin membangunkan Sasuke. Lalu berjalan menghampiri pintu kamar. Membukanya.
"Bisakah kau nggak teriak pagi-pagi begini, kau bisa membangunkan Sasuke tau!" kata Naruto kesal ketika melihat pelaku teriakan.
Kiba nyengir, "Kau nggak turun-turun sih. Sarapan 'dah siap, Gaara minta aku bangunin kau dan Sasuke. Lagian ini 'dah jam 7 pagi lo." jelasnya.
"Hn, aku akan turun setelah Sasuke bangun dan bersiap. Kalian tunggu saja bentar lagi." ucap Naruto malas.
"Oke. Jangan lama-lama, soalnya aku 'dah lapar." kata Kiba sambil berjalan menuju tangga.
"Dasar tukang makan." ejek Naruto setelah Kiba pergi.
Naruto menutup pintu kamar. Ketika berbalik, ia melihat Sasuke bangun."Maaf Teme, kau terbangun ya?" Naruto berjalan mendekati Sasuke.
Sasuke hanya menatapnya sayu, masih mengantuk. Dia mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya.
"Gaara sudah menyiapkan sarapan. Dia ingin kita segera turun karena yang lain sudah menunggu." ujar Naruto. "Ayo kita bersiap-siap."
Naruto menuntun Sasuke ke kamar mandi untuk melakukan ritual pagi. Seperti menyiapkan air, membantu mandi, dll. Setelah selesai, mereka berganti pakaian dan segera turun untuk sarapan.
.
"Lamaaa." Keluh Kiba ketika Naruto dan Sasuke memasuki ruang makan."Aku sudah kelaparan tau."
"Harusnya kau tau kalau aku juga membantu Sasuke, Kiba." jawab Naruto kesal sambil mendudukkan Sasuke di salah satu kursi.
"Ohayou Naruto, Sasuke. Jangan dengarkan dia, Kiba. Bocah itu memang selalu kelaparan." sapa Gaara sambil menyiapkan makanan dibantu Neji yang menyiapkan alat makan di meja. Neji mengangguk sekilas.
"Enak saja 'bocah!', umurku 17 tahun tau!" kelah Kiba. "Uwaah, Chickenkatsu 'n Tempura!" teriak Kiba langsung mengabaikan ejekan tadi.
Neji dan Gaara sweatdrop, Naruto hanya mendengus mendengarnya.
"Ohayou Gaara, Neji." sapa Naruto duduk disamping Sasuke, sedang Sasuke hanya menatap mereka.
"Bangun Shika, jangan tidur lagi! Waktunya sarapan!" lanjut Gaara memukul kepala Shikamaru yang tertidur dengan meletakkan kepalanya di atas meja.
"Huaaah..." Shika menguap.
Ruang makan bercat putih ini luas, dengan pintu penghubung ruang dapur di sampingnya. Meja makan berukuran lebar yang cukup diisi 6 orang. Di salah satu dinding tertempel permanen jendela besar yang terbuka lebar. Mengarah langsung ke pemandangan taman belakang. Mereka berenam duduk mengitari meja makan, mulai sarapan.
"Semalam ada black mail, kalian sudah baca?" tanya Neji memulai percakapan di sela-sela sarapan.
"Hum, permintaan untuk melenyapkan walikota, 'kan?" jawab Kiba sambil mengambil tempura di tengah meja.
"Ya. Katanya klien akan mengirim datanya, kau sudah menerimanya Shika?" Neji mengangguk, beralih pada Shikamaru.
"Aku sudah dapat e-mailnya tadi pagi. Isinya cukup mengejutkan untukku." balas Shikamaru.
"memang apa isinya?" Kiba penasaran, sedang Naruto yang menyuapi Sasuke dibantu Gaara mulai menyimak.
"Setelah kutelusuri, email itu berasal dari anak bungsu walikota sendiri. Permintaannya Ia ingin kita membunuh ayahnya. Alasannya karena sang ayah terlibat organisasi gelap yang menjajakan narkoba" terang Shikamaru mengingat data klien.
"Jadi maksudmu walikota Tokyo terlibat dengan bandar narkoba dan menjual narkoba, begitu?" tanya Neji.
"Yah, benar. Nama klien kita Haruno Sakura. Dia mengetahui ayahnya Haruno Khizashi terlibat karena nggak sengaja menemukan surat transaksi narkoba di laci kerja ayahnya. Juga menemukan kenyataan bahwa ayahnyalah yang membunuh ibunya dari buku diary orang itu." Lanjut Shikamaru.
"Hoo, walikota yang licin. Nggak kusangka Orang tua yang baik di mata masyarakat seperti itu." Naruto menyeringai mendengarnya.
"Apalagi sampai nggak tercium oleh kepolisian, hebat juga." Dukung Kiba.
"Kasus istri walikota itu terjadi 5 tahun lalu. Tewas karena bunuh diri dengan meminum racun serangga." Gaara mengingat. "Ternyata itu pembunuhan, ya."
"Kabarnya Anak sulung mereka juga menghilang tanpa jejak 6 tahun lalu." ucap Neji.
"Ya. Tapi itu nggak ada hubungannya sekarang." Naruto menjawab.
"Imbalannya, sertifikat sebuah mansion di Kyoto beserta isinya. Kita bisa melakukannya malam ini." tungkas pemuda beriris kuaci itu.
"Ayo kita lakukan. Biar aku yang melenyapkannya." pinta Kiba, mata coklatnya berbinar.
"Tergantung." kata Neji melirik Naruto.
"Baiklah. Kita terima. Aku pasif saja kali ini. Strategi biar Shika yang atur." Naruto memandang Shikamaru. Yang dipandang mengangguk.
"Biar aku menjaga Sasuke, aku akan mengajaknya jalan-jalan sebentar." ujar Gaara sambil tersenyum pada Sasuke. Sasuke hanya diam memakan sarapannya.
"Hati-hatilah, jangan terlalu jauh." Neji menatap Gaara dan Sasuke bergantian. Gaara tersenyum membalasnya.
"Kalau gitu, ayo cepat kita susun rencananya. Biar kita bisa liburan ke Kyoto, Sasuke pasti suka!" seru Kiba antusias.
"Habiskan sarapanmu dulu baru kau boleh lakukan sesukamu!" perintah Gaara menatap tajam bocah hiperaktif itu. Kiba nyengir polos.
Naruto menatap dalam Sasuke yang sedang meminum jus tomat yang disiapkan Gaara khusus untuknya. "Tolong ya, Gaara." Naruto memandang Gaara. Gaara mengangguk tersenyum mengerti.
.
==========Here We Are==========
.
"Hiks, hiks, huuhuuuu..."
Suara tangis itu terdengar dari salah satu ruangan yang ada di mansion pusat kota Tokyo. Gadis berambut Bubble Gum menangis sambil menekuk kedua lututnya duduk di atas ranjang kamarnya. Dia menenggelamkan wajahnya diatas lipatan tangannya. Haruno Sakura.
'Kenapa, Tou-san?! Setelah Nii-san pergi, kenapa kau bunuh Kaa-san? Kenapa?!' Sakura frustasi. Dia menjabak rambutnya kuat-kuat. Mata Emerald-nya memerah karena terlalu banyak menangis. 'Atau jangan-jangan Nii-san dibunuh olehnya karena dia tau apa yang disembunyikan ayah selama ini?' batinnya.
"TIIIDDAAAKKK!" teriak Sakura frustasi.
"Sakura, sakura-chan! Kau kenapa?!" dari luar suara berat seseorang memanggil Sakura sambil beberapa kali mengetuk pintu kamarnya.
"Diamlah, jangan ganggu aku!" Sakura menjawab dengan teriakan pada orang yang ternyata adalah ayahnya itu, Haruno Kizashi.
"Haaah ada apa dengan anak itu?" Kizashi mendesah heran melihat kelakuan Sakura. "Kalau begitu, Tou-san berangkat dulu. Jangan diam saja di kamar. Kau ada kuliah 'kan?"
Tidak ada jawaban dari Sakura dari dalam. "Baiklah aku pergi." Kizashi tak ambil pusing. Dia melangkah pergi meninggalkan kamar itu.
Setelah suara langkah kaki tak terdengar lagi Sakura meringsut turun dari kasur. Menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Beberapa menit setelahnya, keluar kamar menuju kamar ayahnya.
Saat Sakura masuk ke dalam, kamar itu kosong tanpa penghuni. Dia berjalan ke arah jendela. Dilihatnya Ayahnya tengah masuk mobil, dan akhirnya pergi menjauh dari mansion. Sakura berbalik melihat sekeliling kamar. Mata Emerald-nya mencari sesuatu. Dia mulai membuka laci meja besar. Ketemu. Buku bersampul kulit coklat tua agak tebal, buku diary sang ayah.
Dibukanya lembar demi lembar buku itu. Ketika matanya sampai di bagian yang dia cari, dia baca perlahan. Meresap tiap kata yang tertulis. Kembali matanya berair ketika membacanya.
Ayahnya membunuh ibunya karena sang ibu membongkar rahasia yang diperbuatnya selama ini. Kizashi haus kekuasaan. Dia membantu penyeludupan narkoba dan menutupi penjualannya agar mendapat untung besar. Kizashi bahkan memakai uang rakyat untuk kepentingannya sendiri. Rupanya selama ini ayahnya menikahi ibunya untuk memanfaat wanita itu. Dia menginginkan harta keluarga dari mediang ibu.
"Kau kejam, menjijikan pak tua. Aku pasti akan membunuhmu!" Geram Sakura marah.
.
==========Here We Are==========
.
Ketika malam menjelang, para Assassin menyiapkan diri untuk menjalankan misi. Di halaman depan terlihat mobil Lamborghini Reventon hitam dan Ferrari merah terparkir. Naruto, Neji, Shikamaru dan Kiba berpakaian serba hitam. Mereka menyiapkan senjata dan keperluan lain yang akan digunakannya. Sedang Gaara dan Sasuke berdiri di depan pintu mengantar kepergian mereka.
"Target ada di rumahnya. Klien memberitahu titik-titik tempat di mana para pengawal yang berjaga berada jika kita mulai beraksi. Sayangnya dia nggak tau kode keamanan rumahnya karena sudah diganti oleh ayahnya seminggu lalu." kata Shikamaru sambil memperlihatkan kertas Blue Print mansion target. Naruto, Neji dan Kiba menyimak. "Jadi kita akan masuk melalui pintu belakang yang sedikit penjagaannya. Aku dan Neji akan mematikan sistem keamanannya. Setelah mati, kalian berdua masuk dan cari target. Nanti kami menyusul." terangnya lagi menjelaskan strateginya pada ketiga kawannya.
"Lalu dimana target berada?" tanya Kiba sambil membenarkan topi kupluk hitamnya.
"Dia ada di lantai 2, tepatnya di ruang kerjanya." jawab Shikamaru menunjuk titik warna merah di kertas itu. "Aku akan memandu kalian nanti."
Mereka mulai memakai headset yang disematkan di telinga dan kacamata hitam khususnya masing-masing.
"Baiklah. kalo sudah siap, kita berangkat sekarang. Aku nggak mau bangun kesiangan besok pagi. Sudah janji kencan soalnya." Kata Neji mengumbar janjinya. Gaara yang mendengarnya sontak wajahnya memerah.
"Waah, enaknya punya kekasih romantis. Sayangnya aku nggak bisa begitu." Kiba iri, melirik Shikamaru yang memasukkan tas perlengkapan dalam mobil.
"Ya ya. Kalau kau mau kita bisa kencan besok." ujar Shikamaru mendengus. Kiba nyengir, keinginannya terkabul.
"Dasar." Neji sweatdrop.
Naruto menghampiri Sasuke yang berdiri di samping Gaara.
"Akan kuusahakan pulang cepat. Jadi kita bisa makan malam bersama." Naruto tersenyum kecil. Tapi Sasuke tidak merespon. Hanya menatap kosong ke sembarang arah.
Naruto memandang Sasuke lekat. Ia menyentuh wajah Sasuke dan mengecup keningnya.
"Jika kau lapar makanlah duluan, jangan menungguku." Lanjutnya. "Aku pergi, Teme." pamit Naruto tersenyum sambil berjalan menuju mobilnya.
Keempat pemuda itu masuk ke dalam mobil. Naruto dengan Neji di Lamborghini Reventon hitam, Kiba dengan Shikamaru di Ferrari merah. Kedua mobil itu mulai berjalan pergi meninggalkan mansion. Melewati gerbang yang terbuka dan mengunci otomatis.
"Ayo kita masuk, Sasuke." ajak Gaara pada Sasuke setelah Kedua mobil itu tidak tampak lagi. Sasuke diam sesaat, menatap kosong jalan yang dilewati kedua mobil tadi. Kemudian mengikuti Gaara masuk ke dalam mansion.
.
==========TBC==========
.
Chickenkatsu : Daging ayam goreng dilapisi tepung roti setebal satu-dua centi.
Ohayou : Selamat pagi
Tempura : Udang goreng tepung
Tou-san : ayah
Kaa-san : ibu
Nii-san : kakak laki-laki
NyeheheheXD...chapter 2 selesai...nanggung ya...
Tapi akan q usahain update cepet buat chapter 3 nanti...
Arigatou..
Review please...^^
